Beranda blog Halaman 80

KH Abdurrahman Muhammad: Menjaga Lingkungan adalah Amanah Syariat

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam peringatan 1 Muharram 1447 H dan semarak pesan pesan kebaikan menjelang Musyawarah Nasional VI Hidayatullah, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad kembali mengingatkan peran strategis kaum muslimin dalam meneguhkan nilai-nilai maqashid syariah, yakni tujuan utama diturunkannya hukum Islam demi menjaga kemaslahatan dan mencegah kerusakan.

Dalam taushiyahnya yang disampaikan dari Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, ia menyebutkan lima prinsip maqashid syariah, yaitu hifdz ad-din (menjaga agama), hifdz an-nafs (menjaga jiwa), hifdz al-‘aql (menjaga akal), hifdz an-nasl (menjaga keturunan), dan hifdz al-mal (menjaga harta).

Namun yang menjadi titik tekan penting dalam tausiyah tersebut adalah penambahan satu maqashid baru yang selama ini jarang diarusutamakan dalam wacana keislaman kontemporer yakni hifdz al-bi’ah, atau penjagaan terhadap lingkungan hidup.

“Lingkungan alam semesta ini harus kita jaga. Hifzul bi’ah, menjaga lingkungan. Seperti Allah menjaga keindahan, bagaimana alam ini dipercantik oleh Allah. Ini tugas kepemimpinan,” tegas KH Abdurrahman.

Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa ekologi bukan sekadar isu teknis, melainkan termasuk dalam mandat syariah yang bersifat kulliyah (universal).

Krisis iklim, kerusakan ekosistem, dan degradasi moral telah berkelindan menjadi satu wajah modern dari “kerusakan di muka bumi” (al-fasād fī al-arḍ). Dalam konteks ini, peran umat Islam harus menjadi garda depan pelindung lingkungan dengan spirit maqashid syariah.

Menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menjaga agama dan nyawa. Maka, dalam pandangan KH Abdurrahman, menjadi pemimpin berarti memikul amanah semesta.

Baginya, maqashid syariah adalah panggilan nurani yang menuntut tanggung jawab etis yang emban oleh setiap muslim sebagai pemimpin.

“Berat itu menjadi pemimpin. Pemimpin itu paling terakhir tidurnya, bahkan tidak tidur sama sekali,” katanya.

Apresiasi Tema

Keterkaitan antara iman, ukhuwah, dan keberlangsungan bumi tergambar dalam tema acara yang diangkat: “Meneguhkan Iman, Menyatukan Ukhuwah, Menyempurnakan Sehat Jiwa dan Raga.”

Tema ini menurut KH Abdurrahman, sangat tepat karena menggambarkan integrasi antara spiritualitas dan aksi sosial.

Lebih lanjut, beliau merumuskan empat gerakan inti dalam menguatkan peradaban Islam, yaitu gerakan ruhiyah, gerakan ilmu, gerakan dakwah, dan gerakan pemakmuran bumi. Keempatnya menjadi kompas perjuangan agar umat tidak sekadar berjalan di tempat, tetapi mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Menariknya, ia memberi penekanan khusus pada ukhuwah sebagai fondasi dakwah. Ukhuwah bukan sekadar solidaritas horizontal, melainkan jalinan batin yang terikat oleh nilai-nilai transendental.

“Ada perubahan yang harus diwaspadai, yaitu berubahnya hati karena hati itu selalu berubah-ubah,” ujar beliau, mengingatkan pentingnya menjaga kebeningan niat dalam perjuangan.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, yang memberikan sambutan dan pengarahan strategis sebagai bagian dari konsolidasi organisasi menjelang Munas VI.*/

Mengapa Guru adalah Sumbu Akhlak dan Masa Depan Bangsa

0
ist – guru-murid

PEKAN lalu, penulis saat jogging di seputaran alun-alun Kota Depok, menyaksikan sekumpulan pelajar—kemungkinan besar baru selesai berolahraga—berjalan bergerombol sambil makan dan minum.

Menariknya, para pelajar putri itu semuanya mengenakan jilbab, yang menandakan mereka berasal dari sekolah Islam. Seharusnya, mereka telah mendapat pembelajaran adab makan dan minum.

Dalam Islam, salah satu adab makan dan minum yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah tidak makan atau minum sambil berdiri.

Diriwayatkan oleh Muslim, Anas bin Malik berkata bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri. Ketika Qatadah bertanya, “Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?” Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.”

Kejadian sepele itu memantik pertanyaan mendasar: bagaimana posisi guru dalam mentransformasikan ilmu, sehingga nilai-nilai yang diajarkan benar-benar tertanam dan diamalkan oleh murid-muridnya?

Dalam dunia pendidikan, guru tidak sekadar menjadi penyampai ilmu pengetahuan. Ia adalah pembentuk akhlak anak didik—peran yang bahkan lebih mendasar.

Akhlak baik bukanlah sesuatu yang instan. Ia dibentuk oleh pembiasaan, keteladanan, dan bimbingan yang konsisten. Di sinilah letak strategis seorang guru dalam membentuk manusia seutuhnya.

Menurut Zainuddin Lubis, dalam kolomnya, profesi guru dalam Islam sangatlah mulia. Ibnu Mubarak, dalam Tahzib al-Kamal (jilid XVI, hlm. 20), menyatakan bahwa setelah kenabian, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada menyebarkan ilmu.

Ilmu adalah sumber segala kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia menjadi jalan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, serta membimbing umat menuju ridha Allah.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menyampaikan prinsip emas: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Artinya, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Guru adalah panutan; akhlak yang baik terbentuk bukan hanya dari kata-kata, tapi dari tindakan nyata.

Peran ideal guru—berdasarkan pandangan para pemerhati pendidikan—setidaknya mencakup tiga hal:

Pertama, guru adalah teladan. Kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan adab sehari-hari jauh lebih ampuh ditularkan lewat perilaku nyata ketimbang ceramah moral semata.

Kedua, guru menjadi mediator dalam konflik sosial. Dalam interaksi antarsiswa yang penuh dinamika, guru berperan sebagai penengah yang adil. Dari sini, siswa belajar bagaimana bersikap dewasa, menyelesaikan masalah dengan empati dan kepala dingin.

Ketiga, guru menumbuhkan kesadaran moral. Nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan kepedulian sosial harus terintegrasi dalam proses pembelajaran. Hasil akhirnya adalah siswa yang tak hanya cerdas, tapi juga beretika dan berempati.

Albert Einstein bahkan mengatakan, “Seni tertinggi guru adalah membangkitkan kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”

Guru sejati tidak hanya menyampaikan materi, tapi juga menginspirasi semangat belajar yang menyenangkan dan bermakna.

Selain itu, guru juga merupakan pembimbing pribadi. Ia mendampingi siswa menghadapi tantangan akademik maupun non-akademik.

Dengan pendekatan humanis dan empatik, guru membantu siswa membangun kepercayaan diri, ketangguhan mental, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Lebih dari itu, guru adalah agen perubahan budaya. Ia membentuk ekosistem sekolah yang positif dan mendukung tumbuhnya karakter secara menyeluruh. Sekolah pun bukan hanya ruang belajar, tapi tempat pembentukan nilai-nilai hidup.

Charles Bradford “Brad” Henry, mantan Gubernur Oklahoma, pernah berkata bahwa guru yang baik adalah “muasal harapan, pemantik imajinasi, dan sekaligus pembelajar seumur hidup.” Ia menggambarkan betapa idealnya figur seorang guru—seakan dituntut untuk menjadi nyaris sempurna.

Ekspektasi tinggi terhadap guru bukan tanpa alasan. Pendidikan anak bangsa yang berkualitas bergantung pada kualitas guru yang mendidiknya.

Karena itu, profesionalisme, dedikasi, dan integritas sangat diperlukan. Di sinilah pentingnya pelatihan berkala (in house training), terutama bagi guru yang bukan lulusan pendidikan keguruan.

Akhirnya, melalui guru yang baik akhlaknya, akan lahir generasi yang bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Di tengah tantangan zaman, peran guru sebagai penjaga nurani bangsa menjadi sangat menentukan arah masa depan.*/

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah praktisi dan pemerhati pendidikan

Nyala Cahaya Harapan dari ‘Rumah Qur’an Nurul Bahri’ Pulau Malahing

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah riuh angin laut dan debur ombak yang mengelilingi Pulau Malahing, Bontang, satu titik terang sedang menyala.

Sebuah bangunan sederhana berdiri perlahan, namun kokoh dalam tujuannya untuk menjadi pusat pembinaan generasi Qur’ani di kawasan pesisir.

Pada Selasa, 24 Juni 2025, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menyalurkan bantuan tahap keenam untuk menyelesaikan pembangunan Rumah Qur’an Nurul Bahri.

Bantuan kali ini meliputi 25 lembar kalsiboard dan dua kusen pintu yang dikirim dari daratan Bontang, menempuh satu jam perjalanan laut menembus Selat Makassar.

Bagi sebagian orang, itu mungkin tampak seperti langkah kecil. Namun, bagi warga Pulau Malahing, ini adalah bagian dari sejarah untuk lahirnya ruang belajar agama yang selama ini hanya menjadi harapan.

“Alhamdulillah, progres pembangunan telah mencapai 90 persen,” kata Agus Suwandi, Kepala Unit Layanan BMH Bontang. “Tahap berikutnya adalah pemasangan plafon triplek. Dukungan para donatur benar-benar krusial agar tempat ini segera bisa digunakan oleh masyarakat”.

Rumah Qur’an ini ditargetkan akan menjadi tempat belajar bagi sedikitnya 200 santri, dari anak-anak hingga orang dewasa. Bagi warga, khususnya di daerah terpencil seperti Malahing, keberadaan fasilitas pendidikan keagamaan bukan sekadar kebutuhan, tapi mendesak.

“Selama ini kami belum punya tempat khusus untuk anak-anak belajar mengaji,” ungkap Pak Nasir, Ketua RT setempat. “Kalau pun belajar, ya seadanya saja di rumah. Tapi suasana dan kedisiplinannya tentu beda.”

Menyentuh Pinggiran, Membangun Peradaban

Pembangunan Rumah Qur’an Nurul Bahri adalah contoh konkret bagaimana inisiatif berbasis komunitas—dengan sokongan lembaga zakat dan infak—mampu menjawab kebutuhan mendasar masyarakat.

BMH dan para donatur, melalui program ini, tidak hanya membangun dinding dan atap, tetapi juga membentuk pondasi karakter masyarakat yang beradab dan berakhlak.

Di tengah tantangan global dan krisis moral yang menghantui generasi muda, pendidikan agama yang merakyat dan mudah diakses menjadi pilar penting bagi visi besar Indonesia Emas 2045.

Ini adalah visi strategis bangsa menuju satu abad kemerdekaan, yang berfokus pada penciptaan sumber daya manusia unggul, cerdas secara intelektual dan tangguh secara moral.

“Terima kasih kepada BMH dan para sahabat donatur, semoga ini menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi kita semua,” tutur Pak Suardi, guru Qur’an yang akan membina para santri di Rumah Qur’an ini.

Menakar Nilai Strategis Rumah Qur’an

Rumah Qur’an Nurul Bahri memiliki nilai strategis dalam pembangunan sosial-keagamaan Indonesia. Di kawasan seperti Pulau Malahing, pendidikan formal sering kali terkendala akses dan fasilitas.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan nonformal yang berbasis keagamaan mengambil peran penting dalam menjaga nalar, moral, dan solidaritas sosial masyarakat.

Menghidupkan pusat belajar agama berarti membangun ketahanan dari bawah. Generasi muda yang dibekali ilmu dan akhlak memiliki ketangguhan menghadapi tantangan zaman.

“Harapan kami, pembangunan Rumah Qur’an bukan sekadar proyek sosial, melainkan bagian dari upaya besar membangun ketahanan budaya dan moral bangsa,” tandas Agus Suwandi.

Rumah Qur’an Nurul Bahri adalah simbol jembatan antara pusat dan pinggiran. Ia mengingatkan kita bahwa kemajuan bangsa bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan kemegahan kota-kota besar, tetapi dari seberapa jauh negara dan masyarakat peduli pada pinggiran: pada pulau kecil seperti Malahing, yang tetap memiliki hak atas pendidikan, cahaya, dan masa depan.

Dan kini, di ujung timur Kalimantan, cahaya itu mulai menyala.

KH Muhammad Arif Marzuki, Ulama Teladan itu Berpulang ke Rahmatullah

PADA Kamis dini hari, 30 Dzulhijjah 1446/ 26 Juni 2025 sekitar pukul 03.20 Wita, dunia pesantren Sulawesi Selatan kehilangan salah satu panutannya.

KH Muhammad Arif Marzuki Hasan, pelanjut pemimpin Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros, malam dini hari itu hembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah (Unismuh) setelah mengalami sesak saat hendak menunaikan salat tahajud, tepatnya usai berwudhu di kediaman pesantrennya di Gowa.

Kabar ini menyayat hati ribuan santri dan keluarga besar pesantren, yang menyaksikan secara langsung dedikasi tak pernah padam dari sang ulama hingga detik terakhir.

KH Arif berpulang ke Rahmatullah di usia 83 tahun, kilau kiprahnya menembus hampir enam dekade pengabdian.

Keponakan Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) ini lahir pada 1942 dari keluarga ulama—putra KH Marzuki Hasan—yang mewariskan kecintaannya terhadap ilmu dan dakwah.

Bersama sang ayah, pada 1970 ia mendirikan Darul Istiqamah, yang tumbuh menjadi salah satu jaringan pesantren terbesar di timur Indonesia, dengan ratusan cabang dan ribuan santri aktif.

Kesederhanaan dan ketegasan menjadi ciri khas kepemimpinannya. Beliau dikenal sebagai sosok kharismatik yang lembut, disiplin, tetapi tegas dalam mendidik.

Santri-santri mengenang beliau sebagai “ayah spiritual” yang selalu hadir dalam keseharian pondok, bahkan dalam dialog dan kerjasama keumatan dengan berbagai pihak.

Dedikasinya dalam pengembangan pendidikan Islam tak pernah surut. Meski jadwalnya padat, ia selalu menyediakan waktu mengajar dan menjadi pembimbing hapalan para santri.

Kepeduliannya terhadap generasi muda membuat ia terus membentuk kader dakwah yang siap mengabdi pada umat dan bangsa.

Wafat Ketika Hendak Berwudhu

Dalam kondisi sesak pada dini hari itu, pancaran husnul khatimah seakan terukir secara nyata. Ia wafat saat hendak menunaikan tahajud, di saat ruh suci masih tertambat pada ibadah dan niat lirihnya untuk terus mengabdi.

Kepergiannya adalah pengingat akan betapa seorang ulama mampu pergi dalam keadaan mulia—tegak dalam iman dan pengabdian.

Setelah wafat, jenazah dibawa ke Maccopa untuk dimakamkan di pesantren yang dicintainya. Pemakaman dilaksanakan setelah salat Asar, diiringi doa, isak tangis santri, dan harapan agar segala amal beliau mendapat tempat paling mulia di sisi-Nya .

Kini, kursi kosong di mimbar pagi, derap kaki santri yang kelak menjadi penggantinya, dan suara lembutnya dalam pengajian tersisa sebagai gema kenangan. Gema yang menyuarakan pesan luhur: ajarkan ilmu, hidupkan dakwah, dan bangun pesantren sebagai komunitas rahmatan lil al-‘alamin.

Berbagai media menggambarkan sosoknya. Portal berita online Fajar.co menyebut “ulama kharismatik yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan Islam”. Matamaros.com menambahkan, beliau terus aktif hingga akhir hayatnya, tetap menjaga sifat sederhana dan kedekatannya dengan santri.

Bagi dunia pendidikan Islam, kepergian beliau adalah kehilangan luar biasa. Guru, pendakwah, pemimpin pesantren—semuanya berpadu dalam satu wujud yang jarang ditemukan.

Warisan beliau kini berada pada tangan santri dan keluarga pesantren. Ribuan alumni yang pernah merasakan didikannya, ribuan generasi yang mengamalkan ilmunya—mereka adalah pelanjut estafet yang harus dijaga.

Cahaya nilai dan dedikasi yang dipancarkannya tidak akan padam. Ia telah menjadi simbol keteladanan: hidup untuk ilmu, mati dalam ibadah, dan terkenal dalam tauladan.

Pesantren Darul Istiqamah meski kehilangan sosok utamanya, tetap berdiri tegak—karena ia menanam benih keikhlasan dan pengabdian yang tak akan lekang oleh waktu.

Semoga segala amal beliau diterima, dan jejaknya menjadi suluh bagi generasi muslim yang datang, Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.[]

Ketika Kepedulian Menyapa Penjaga Kalamullah di tepian Sungai Belengkong

0

PASER (Hidayatullah.or.id) — Di tepian Sungai Desa Suliliran, Paser Belengkong, Kabupaten Paser, berdiri sebuah pondok kecil bernama Rumah Qur’an Ahlus Suffah.

Di tempat sederhana ini, 54 santri dan enam guru pendamping menapaki hari-hari mereka dengan satu cita besar: menghafal Al-Qur’an. Dalam keterbatasan sarana, semangat mereka justru kian menguat.

Dan pada Rabu pagi (18/6), semangat itu seolah mendapatkan suntikan baru. Sebanyak 350 kilogram beras tiba, diantar oleh tim Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebagai bagian dari program “Beras untuk Santri”. Bukan hanya logistik yang mereka bawa, tetapi juga harapan, perhatian, dan kepedulian.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas bantuan beras ini. Anak-anak santri tentu sangat terbantu. Semoga menjadi amal jariyah untuk para donatur yang telah berbagi,” ujar Ustaz Abdul Rahim, Pembina RQ Ahlus Suffah, dalam keterangannya, Kamis 30 Dzulhijjah 1446 (26/6/2025)..

Lebih dari Sekadar Bantuan

Beras mungkin terlihat sepele di mata sebagian orang. Namun di sini, di ujung sungai yang jauh dari hiruk pikuk kota, ia adalah simbol kelangsungan belajar. Ia menjaga agar hafalan tetap lancar, agar mimpi tetap menyala, agar anak-anak tak perlu risau pada suara perut saat malam tiba.

Setiap karung beras menjadi perpanjangan tangan dari orang-orang baik yang tak pernah mereka temui. Dan itu cukup untuk membuat para santri tahu, mereka tidak sendiri.

Program “Beras untuk Santri” bukan sekadar proyek bantuan sekali jalan. Ini adalah bagian dari misi besar BMH Kalimantan Timur dalam mendukung 30 pondok pesantren binaan mereka, yang menampung hampir 6.000 santri.

Ali Ridho, Kepala Unit Layanan BMH Paser, menegaskan pentingnya kontribusi kolektif. “Hari ini, telah kami salurkan amanah dari para donatur. Alhamdulillah, semoga menjadi berkah dan amal jariyah bagi semua yang terlibat,” ungkapnya.

Menurut data internal BMH, kebutuhan beras untuk para santri binaan mereka mencapai angka fantastis: 64 ton per bulan. Angka yang mungkin tak terbayangkan oleh publik kota, namun menjadi kenyataan logistik yang harus dihadapi setiap bulan oleh jaringan relawan dan pendukung.

Metodologi Dakwah sebagai Fondasi Perubahan di Era Informasi

0

BULUNGAN (Hidayatullah.or.id) — Di tengah arus deras informasi dan opini yang mengaburkan nilai, pemahaman metodologi (manhaj) dakwah yang benar menjadi kebutuhan mendesak. Bukan hanya bagi kalangan da’i, tapi juga bagi siapa saja yang ingin menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai arah hidup dan arah perubahan sosial.

Inilah yang menjadi semangat utama dalam Dauroh Marhala Ula yang digelar oleh Hidayatullah Bulungan bersama Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Utara.

Kegiatan yang berlangsung belum lama ini diadakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Jelarai, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Sebanyak 27 peserta mengikuti kegiatan selama dua hari tersebut dengan antusias.

Daniati Lamahoda, perwakilan panitia pelaksana, menjelaskan secara singkat namun padat tujuan dari kegiatan ini.

“Tujuan dari kegiatan dua hari ini adalah agar para peserta mampu memahami manhaj sistematika wahyu sukses tarbiyah dan dakwah,” ujarnya dalam keterangannya diterima media ini, Kamis 30 Dzulhijjah 1446 (26/6/2025).

Ia menegaskan bahwa inti dari kegiatan ini bukan semata pengajaran, tapi pembentukan kerangka berpikir dan bertindak.

Manhaj yang dimaksud merujuk pada sistematika dakwah yang berakar dari Al-Qur’an dan sunah, dengan menekankan bahwa setiap upaya perbaikan harus berlandaskan pada wahyu.

Ketika masyarakat dihadapkan pada banjir informasi tanpa arah, terang Daniati, kegiatan seperti Dauroh Marhala Ula menjadi mercusuar yang tidak hanya menyinari, tapi juga menunjukkan arah.

“Karena dakwah yang benar bukan sekadar semangat, tapi juga strategi—bermanhaj, berpijak pada wahyu, dan berpacu dengan tantangan zaman,” katanya.

Menjawab Tantangan Zaman

Salah satu peserta, Nur Fauziah dari Tanjung Selor, mengaku merasakan relevansi langsung antara materi yang disampaikan dan kondisi sosial kekinian.

“Materi yang disampaikan pemateri sangat relevan dengan kondisi saat ini. Bagaimana kita harus memiliki pemahaman manhaj yang benar agar tarbiyah dan dakwah menjadi sukses,” ungkapnya.

Di tengah kebingungan nilai dan ideologi yang berseliweran di ruang publik, kebutuhan akan pemahaman yang lurus dan sistematis menjadi semakin mendesak.

Kegiatan seperti ini menjadi oase yang menawarkan kejelasan arah bagi mereka yang ingin berkontribusi secara bermakna dalam masyarakat.

Namun bukan hanya pemahaman yang ditekankan. Pengamalan juga menjadi tujuan yang tidak kalah penting.

“Alhamdulillah materi yang disampaikan mudah dipahami, menjadi bekal dan semoga kami dapat istiqomah dalam pengamalannya,” imbuh Fauziah.

Kata “istiqomah” menjadi kunci dalam setiap gerakan dakwah. Ia bukan hanya berarti konsistensi, tapi juga keteguhan dalam menjaga nilai dan arah di tengah tantangan zaman.

Dakwah sebagai Gerakan Transformasi

Kegiatan Dauroh Marhala Ula ini turut mendapat dukungan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Dukungan ini bukan sekadar administratif, melainkan mencerminkan keseriusan lembaga-lembaga keislaman dalam membentuk kader yang tangguh secara spiritual dan sosial.

Menurut Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara, kegiatan ini adalah bagian dari proses kaderisasi strategis.

“Mereka adalah agen perubahan yang siap menyebarkan nilai-nilai kebaikan, dimulai dari diri sendiri, lalu ke lingkungan sekitar,” ujarnya.

Di tengah masyarakat yang cepat berubah, keberadaan agen perubahan yang memiliki dasar keilmuan dan spiritual yang kuat menjadi kebutuhan mendesak.

Kata dia, pelatih ini tidak hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga arena pembentukan mentalitas. Mentalitas untuk bergerak, bukan sekadar berbicara. Untuk membina, bukan hanya mengkritik.

“Dalam konteks inilah, kegiatan ini menjadi simbol kecil dari gerakan besar yaitu mencetak generasi Muslim yang memahami jalan hidupnya, serta mampu mengajak dan membimbing orang lain dalam kebaikan yang sistematis,” tandasnya.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Menuju Kesatuan Umat dan Peradaban Bermartabat

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dari atas mimbar ini, izinkan khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada kita semua untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan seluruh kewajiban dengan kesungguhan hati dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesabaran.

Alhamdulillah, hari ini kita diberi nikmat usia dan kesempatan untuk memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah dengan harapan baru, keimanan yang lebih dalam, dan semangat takwa yang lebih kuat.

Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa cahaya peradaban Islam yang menuntun umat manusia dari kegelapan menuju terang benderang.

Jamaah Jumat yang dimuliakan,

Tahun Baru Hijriah bukan sekadar peristiwa penanggalan, melainkan momen reflektif untuk menengok kembali arah perjalanan hidup kita.

Peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah adalah sebuah langkah strategis, bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi pembentukan peradaban Islam.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan sejati harus dimulai dari diri sendiri. Hijrah spiritual dan sosial menjadi keharusan.

Hijrah dari kemalasan menuju produktivitas, dari egoisme menuju kepedulian sosial, dari hidup yang tanpa arah menuju kehidupan yang penuh visi kebermanfaatan.

Nabi ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hijrah sejati bukan soal fisik, tapi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Mari kita berhijrah. Berhijrah dari lalai menuju ketaatan. Dari budaya konsumtif menuju produktif.

Hijrah dari sikap individualistik menuju solidaritas umat. Dari gaya hidup hedonis menuju kesederhanaan yang bermartabat.

Kita juga perlu membangun kekuatan umat dengan memberdayakan UMKM dan ekonomi umat, menguatkan pendidikan anak-anak dengan ilmu dan akhlak, dan menggerakkan zakat, infaq, dan wakaf untuk kesejahteraan bersama.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Saff: 4)

Ayat ini menggambarkan pentingnya hidup berjamaah, hidup yang terpimpin, agar kebangkitan umat terjadi secara kolektif, bukan parsial.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Semangat hijrah juga menuntun kita untuk membangun kesatuan umat. Salah satu ikhtiarnya adalah wacana Kalender Hijriah Global Tunggal yang menunjukkan bahwa Islam mendorong keteraturan dan sinergi berbasis ilmu pengetahuan global.

Mari jadikan Tahun Baru Hijriah ini sebagai awal hijrah kolektif umat. Hijrah dari stagnasi menuju kemajuan. Dari perpecahan menuju persatuan. Dari hidup egoistik menuju hidup yang memperjuangkan maslahat rakyat.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100)

Akhirnya, mari kita berdoa agar di tahun baru ini kita semua diberikan kekuatan untuk menjadi pribadi dan umat yang berhijrah—bukan hanya dalam ucapan, tapi dalam tindakan nyata.

Semoga kita menjadi umat yang bermartabat, berwibawa, dan siap memimpin dunia dengan keadilan serta nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Menghidupkan Kalam Ilahi, Pelatihan Menulis Al-Qur’an Metode Qolami di Karanganyar

0

SOLO (Hidayatullah.or.id) — Ma’had Aly Menara Al-Qur’an Hidayatullah Karanganyar, Solo, menjadi tuan rumah digelarnya pelatihan pendalaman ilmu Al Qur’an bertajuk “Pelatihan Menulis Al-Qur’an Surah Al-Fatihah Metode Qolami”, Senin, 27 Dzulhijjah 1446 (23/6/2025).

Kegiatan ini menghadirkan suasana intelektual sekaligus spiritual yang kuat, menyentuh relung hati para peserta yang rindu menyatu dengan keindahan kaligrafi Kalam Ilahi.

Sebanyak 57 peserta dari berbagai penjuru Nusantara mengikuti program ini dengan antusiasme tinggi. Mereka terdiri dari 25 mahasiswa, 25 mahasiswi, serta 7 ustadzah.

Keberagaman asal peserta—mulai dari Jawa, Kalimantan Timur, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur—menggambarkan besarnya animo generasi muda muslim Indonesia terhadap seni menulis Al-Qur’an secara manual, sebuah warisan budaya yang nyaris terlupakan di tengah era digital.

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Rumah Al-Qur’an 9 Dimensi dan DPD Hidayatullah Surabaya. Kehadiran Ustadz Drs. Mohamad Nur Fuad, MA, sebagai narasumber utama memberikan makna lebih dalam.

Dosen STAIL Surabaya sekaligus penulis buku metode Qolami ini tampil tak hanya sebagai pengajar teknik menulis mushaf, namun juga sebagai pembimbing ruhani yang mengajak peserta merenungkan makna tiap huruf suci yang mereka goreskan.

“Menulis Al-Qur’an bukan semata perkara tangan, melainkan juga soal hati. Setiap tarikan pena adalah zikir, setiap garis adalah doa,” ungkap Ustadz Mohamad Nur Fuad dalam salah satu sesi pelatihan, mengingatkan peserta bahwa kaligrafi Qur’an bukan hanya keindahan visual, tetapi juga laku spiritual.

Menggali Makna di Balik Kaligrafi

Pelatihan ini bukan sekadar membekali peserta dengan keterampilan teknis menulis mushaf. Lebih dari itu, program ini menjadi wahana untuk menumbuhkan kesadaran ruhiyah dalam menekuni Al-Qur’an secara langsung.

Menurut Nur Fuad, pelatihan ini didesain agar para peserta tidak hanya piawai menulis indah, tetapi juga memahami adab dan etika penulisan mushaf sebagaimana diwariskan para ulama terdahulu.

Filosofi metode Qolami yang dikembangkan Ustadz Mohamad Nur Fuad ini menekankan tiga dimensi: akurasi tulisan, keserasian bentuk, dan kesucian niat. Ketiganya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam tradisi kaligrafi Islam yang mengakar sejak zaman Abbasiyah hingga Ottoman.

Jembatan Antargenerasi dan Antarwilayah

Kegiatan di Karanganyar ini merupakan bagian dari rangkaian tur pelatihan menulis mushaf Al-Qur’an yang digelar di beberapa kota besar seperti Semarang, Malang, dan Mojokerto sepanjang 21–27 Juni 2025.

Program ini menjadi jembatan antargenerasi, mempertemukan santri muda dari berbagai daerah yang selama ini mungkin terpisah jarak geografis namun dipersatukan oleh kecintaan yang sama: Al-Qur’an.

“Ini adalah gerakan menyemai cinta Qur’an di hati para pemuda Indonesia,” tegas salah satu panitia dari DPD Hidayatullah Surabaya.

Dengan program semacam ini, diharapkan tradisi tulis mushaf Al-Qur’an yang sempat redup di era modern diharapkan kembali menyala, bahkan melahirkan generasi baru penulis mushaf Indonesia yang tak hanya menguasai teknik menulis, tetapi juga memahami nilai-nilai spiritual di balik tiap baris ayat suci.

Meski dunia bergerak cepat menuju serba digital, kebutuhan manusia akan kehadiran fisik, sentuhan tangan, dan keheningan batin dalam berinteraksi dengan wahyu Ilahi tetap tak tergantikan.*/

Umat Islam dan Indonesia Emas 2045

0

NARASI Indonesia Emas 2045 bukan milik segelintir elite. Ia menjadi milik semua komponen bangsa, termasuk—dan seharusnya terutama—umat Islam yang secara demografis menjadi mayoritas.

Namun di tengah gegap gempita diskursus ini, muncul pertanyaan tajam, siapa yang sedang merancang wajah umat Islam Indonesia 2045? Sejauh ini, wacana tersebut nyaris tenggelam oleh retorika pembangunan fisik dan ekonomi semata.

Jika belajar dari sejarah umat manusia, satu pola mencolok muncul berulang, selalu ada momen lahirnya pemimpin besar yang membawa umat atau bangsa ke puncak kejayaan.

Akan tetapi, sering kali setelah sang pemimpin pergi, terjadi kekosongan generasi yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan tersebut.

Mengapa fenomena ini terus terulang? Apakah ini sekadar siklus sejarah atau cerminan kegagalan peradaban menyiapkan generasi berikutnya?

Lihatlah sejarah Islam ketika Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menaklukkan Baitul Maqdis. Dunia Islam bersuka cita.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Seusai wafatnya Shalahuddin, Dinasti Ayyubiyah terjebak dalam pertikaian internal, perebutan kekuasaan, dan konflik kepentingan yang melemahkan kekuatan Islam dari dalam.

Akibatnya fatal: kekuatan musuh kembali bangkit, dengan strategi lebih canggih dan terencana. Kemenangan besar ternyata tak diikuti kesiapan generasi pelanjut.

Kisah ini relevan untuk Indonesia hari ini. Indonesia tengah lantang menyuarakan dukungan bagi Palestina, simbol komitmen internasional kaum Muslimin.

Namun, di balik suara lantang itu, siapa menyiapkan para pemimpin masa depan yang kelak memimpin Indonesia dalam peta kekuatan global tahun 2045? Jangan-jangan, sejarah akan kembali mengulangi kegagalan melahirkan penerus peradaban?

Melahirkan Pemimpin Unggul

Umat Islam harus kembali pada soal pokok berkenaan dengan bagaimana melahirkan pemimpin unggul? Bukan sekadar kapasitas leadership, cerdas intelektual, melainkan juga matang spiritual, tajam pemikiran global, kuat moral pribadi.

Tetapi satu hal pasti: upaya inu tidak bisa instan. Tak ada pemimpin hebat yang lahir “besok pagi” hanya karena keinginan mendadak. Diperlukan proses sistematis, terencana, kolaboratif, lintas generasi.

Sayangnya, di tengah demokrasi pasar bebas, kecenderungan umat justru melahirkan pemimpin instan: bermodal popularitas, kapital, atau pencitraan digital. Bukan buah dari proses panjang penyemaian nilai, pengasahan akhlak, atau penggodokan kepemimpinan akar rumput.

Akibatnya apa? Kita menuai para pemimpin “besar di tampilan, kecil di visi”. Indonesia pun lebih sering menjadi ladang eksperimen kepentingan global ketimbang subyek penggerak perubahan dunia.

Padahal sejatinya, pemimpin besar lahir dari perjalanan panjang—bukan dari menara gading gelar akademik, bukan dari viralitas jagat maya, apalagi dari jejaring sponsor politik. Ia tumbuh dari realitas umat: teras masjid, ruang diskusi kampus, bilik-bilik pesantren, forum pemuda kampung.

Tanpa pola ekosistem semacam itu, jangan bermimpi umat Islam Indonesia 2045 punya generasi Shalahuddin baru.

Tragedi Umat Penonton Sejarah

Jika krisis kepemimpinan ini dibiarkan, besar kemungkinan umat Islam Indonesia akan menjadi penonton pasif dalam sejarah baru 2045, bukan pemain utama.

Lihat gejala hari ini: anak muda Muslim larut dalam game online, judi digital, pinjaman instan, konsumsi konten hampa makna. Ada alienasi nilai. Siapa yang bisa membenahi semua ini?

Jawabannya: diri sendiri. Seperti pesan Nabi SAW: “Mulailah dari dirimu sendiri”. Ibda’ binafsik!

Umat Islam tak bisa menunggu penyelamat eksternal. Tak perlu menuntut dari luar. Setiap individu Muslim harus tumbuh, bangkit, sadar sebagai bidan sejarah umatnya.

Dimulai dari pertanyaan mendasar, seperti apa wajah umat Islam 2045? Apakah mayoritas umat ini sekadar angka statistik? Atau mayoritas yang memancarkan keunggulan moral, intelektual, dan sosial?

Wajah umat Islam Indonesia 2045 idealnya adalah wajah uswah, contoh kemajuan dan peradaban, bukan sekadar jumlah besar tanpa kualitas.

Jika umat Islam gagal menampilkan wajah cerdas, kredibel, progresif, jangan salahkan dunia luar bila mereka menilai Islam identik dengan ketertinggalan.

Kebangkitan ini tak harus gemerlap. Bahkan perubahan besar kerap berawal dari gerakan kecil, sunyi, namun konsisten. Seperti pohon besar yang tumbuh dari tunas rapuh: akar iman yang kuat, batang akhlak yang kokoh, ranting ilmu yang lebat.

Menanam Fondasi Menuju 2045

Di titik inilah semua kembali ke orientasi dasar, yaitu pendidikan, pengaderan, pembudayaan nilai luhur. Ini bukan proyek lima tahunan, melainkan gerakan lintas generasi.

Semua elemen umat wajib terlibat, baik di rumah tangga, masjid, sekolah, kampus, organisasi sosial-keagamaan, dunia usaha.

Tanpa bekal ini, Indonesia hanya menunggu giliran menjadi seperti pasca-Shalahuddin: rapuh setelah kemenangan, pecah setelah kejayaan.

Dunia baru 2045 tidak menunggu bangsa yang bimbang. Ia butuh pemain kuat—atau menjadi korban baru dalam pusaran perubahan global.

Karena itu, umat Islam tak boleh sekadar ikut arus besar proyek Indonesia Emas. Mereka harus menjadi motor peradaban, penggerak nilai, pelahir pemimpin unggul. Sejak kini, bukan nanti.

Dan, tugas ini bukan wacana kosong. Ia menuntut persiapan serius. Perlu kurikulum pendidikan Islam berbasis akidah dan sains mutakhir.

Perlu pemuda Muslim yang tak takut masuk ruang-ruang teknologi baru, diplomasi internasional, serta ekonomi digital. Perlu ulama dan intelektual yang berani menafsirkan Islam untuk tantangan zaman baru—bukan nostalgia kejayaan masa silam.

Jika persiapan ini gagal dilakukan hari ini, impian Indonesia Emas 2045 hanyalah utopia. Namun jika umat Islam bangkit sebagai subyek sejarah, dengan visi dan daya saing global, maka 2045 bukan sekadar mimpi. Ia akan menjadi kenyataan.

Dan untuk itu semua, umat Islam Indonesia wajib menyiapkan diri, lahir-batin, menuju 2045. Agar sejarah tidak mengulang kisah tragis umat yang kehilangan momentum kejayaannya. Agar bangsa ini benar-benar mencapai apa yang diimpikan bersama.*/

*) Adam Sukiman, penulis Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jakarta. Naskah ditranskrip dari pemaparan Mas Imam Nawawi dalam diskusi Kopi Literasi bertajuk “Kita Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Jakarta, Sabtu (21/6/2025).

Hidayatullah Tarakan Menguatkan Dakwah Lewat Munasabah Lima Surah Al-Qur’an

0

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Aula MI Al-Fatah Hidayatullah Karungan, Tarakan, Kalimantan Utara, menjadi saksi sebuah upaya serius dalam memperkuat pemahaman Al-Qur’an di kalangan dai muda untuk selanjutnya ditransformasikan kepada umat secara luas, Ahad, 26 Dzulhijah 1446 (22/6/2025).

Sebanyak 25 dai tangguh mengikuti kegiatan “Pembelajaran Tadabbur Ayat Al-Qur’an Munasabah 5 Surah” yang dihelat oleh BMH – Hidayatullah Tarakan. Program yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.30 WITA ini dipandu langsung oleh Ustadz Muhammad Randi, Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Kalimantan Utara.

“Alhamdulillah, kegiatan hari ini sejak pagi sampai sore berjalan lancar. Peserta mengikuti dengan saksama dan memahami, mulai dari pemaparan materi, praktik kelompok, sampai praktik perorangan,” ujar Ustadz Randi penuh syukur.

Kekuatan Dakwah Masa Kini

Tujuan utama pelatihan ini bukan hanya menambah hafalan atau pengetahuan teknis, tetapi membangun kemampuan para dai untuk mentadabburi dan mengkorelasikan lima surah penting dalam Al-Qur’an: Al-Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatsir, dan Al-Fatihah.

“Tujuannya agar peserta mampu mentadabburi ayat Al-Qur’an dengan mengkorelasikan munasabah 5 surah tersebut,” jelas Ustadz Randi. “Dengan pemahaman ini, para dai diharapkan bisa membangun kerangka dakwah yang utuh dan mudah dicerna umat.”

Keterpaduan pesan lima surah ini memang menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir Qur’ani, agar umat tak hanya memahami teks, tetapi juga konteks zaman yang tengah mereka jalani.

Di tengah derasnya arus informasi dan problematika hidup modern, kemampuan ini menjadi kebutuhan mendesak bagi para pendakwah.

Membangun Kekuatan Jiwa, Akal, dan Spiritualitas

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses penguatan akal dan jiwa umat. Masyarakat saat ini memerlukan pegangan kokoh agar tidak terombang-ambing oleh nilai-nilai asing yang kerap mengikis spiritualitas.

“Penguatan spiritual melalui pemahaman Al-Qur’an yang mendalam adalah investasi berharga bagi masyarakat,” tegas M. Nor Komara, Kepala Divisi Program Pemberdayaan BMH Kaltara.

“Semoga inisiatif seperti ini terus berlanjut dan menyentuh lebih banyak hati, sehingga kita semua bisa memiliki fondasi jiwa, akal, dan spiritual yang lebih kuat,” tambahnya.

Kekuatan spiritual yang terbangun melalui tadabbur Al-Qur’an akan melahirkan insan-insan tangguh yang mampu membaca realitas hidup dengan bijak, tidak mudah goyah oleh godaan dunia, dan tetap teguh dalam prinsip kebenaran.

Apresiasi untuk Para Dai dan Pendukung Kebaikan

Ketua DPD Hidayatullah Kota Tarakan, Muhammad Almi, turut menyampaikan apresiasinya.

“Kami ucapkan terima kasih kepada para peserta yang tetap bertahan hingga selesai, meski cuaca tak mendukung karena hujan,” ungkapnya.

Ia juga menaruh penghargaan kepada para donatur dan BMH yang telah membersamai program keumatan ini.

“Semoga Allah membalas dengan balasan terbaik,” tutupnya penuh harap.*/