Beranda blog Halaman 79

KHUTBAH JUM’AT Lima Pesan Utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk Generasi Muslim

0

الحمد لله الذي أمر بالاعتصام بحبله المتين، ونهى عن التفرق والاختلاف، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الصادق الأمين، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين
أوصيكم ونفسي أولاً بتقوى الله، فاتقوا الله رحمكم الله، فقد فاز المتقون

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tema khutbah kita hari ini adalah “5 Pesan Utama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah”. Tema ini sangat relevan bagi kita, khususnya sebagai pelajar dan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan.

Ahlus Sunnah wal Jama‘ah adalah jalan yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta dijaga oleh para ulama dari generasi ke generasi.

Dalam konteks akademis, memahami pesan-pesan ini adalah kunci untuk membangun karakter dan integritas dalam diri kita sebagai calon pemimpin masa depan.

Ada lima pesan penting yang perlu kita pegang:

Pertama, Tauhid sebagai inti agama. Ahlus Sunnah menegaskan bahwa awal dan akhir agama adalah tauhid. Inilah makna syahadat lā ilāha illallāh, Muhammad rasūlullāh.

Semua nabi diutus dengan risalah ini, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surah Al Anbiya ayat 25:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.”

Sebagai seorang muslim, kita harus memahami bahwa tauhid bukan hanya sekadar teori, tetapi juga harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Kedua, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka adalah generasi teladan. Ahlus Sunnah berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat.

Dalam dunia akademis, kita perlu meneladani sikap kritis dan integritas yang ditunjukkan oleh para sahabat dalam mencari kebenaran.

Ketiga, menjaga keseimbangan antara ilmu dan amal. Ilmu adalah cahaya, amal adalah buahnya. Ahlus Sunnah tidak cukup dengan wacana, tetapi menuntut pengamalan nyata dalam ibadah, muamalah, dan akhlak.

Kita sebagai muslim harus mengintegrasikan ilmu yang kita peroleh dengan tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Keempat, menjaga persatuan kaum muslimin. Persatuan di atas kebenaran adalah prinsip utama. Perbedaan tidak boleh menjerumuskan kepada perpecahan.

Allah berfirman dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 103 yang menyerukan kita untuk berpegang teguh pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai.

Dalam konteks akademik, kita harus menghargai perbedaan pendapat dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.

Kelima, mengutamakan keikhlasan dan memperbaiki hati. Ahlus Sunnah menekankan bahwa amal tidak bernilai tanpa ikhlas. Ibn Taimiyyah menyebut: “Awal dan akhir agama adalah ikhlas kepada Allah.”

Dalam setiap langkah kita, niatkanlah untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar untuk mencapai gelar atau prestasi.

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kelima pesan ini sangat penting bagi kita, khususnya sebagai pembelajar. Ilmu tinggi tidak akan bermanfaat jika tidak diiringi dengan tauhid, sunnah, amal, persatuan, dan keikhlasan.

Mari kita jadikan pesan-pesan ini sebagai pedoman dalam menuntut ilmu dan berkontribusi kepada masyarakat.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين المسلمات ، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له رب الأرض والسماوات، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله سيد البريات وصلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعده

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita berpegang teguh dengan 5 pesan utama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah:
Menguatkan tauhid,
Mengikuti sunnah,
Menyatukan ilmu dan amal,
Menjaga persatuan,
Dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah.

Semoga Allah memberi kita taufiq untuk istiqamah di atas jalan ini, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات، اللهم وفق ولاة أمورنا لما تحب وترضى، واجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون

*) Ditulis oleh Ustadz Muhammad Hasan, pemenang lomba khutbah yang digelar Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dalam ajang Hidayatullah Festival Spesial (HI-FESS) Pra Munas VI Hidayatullah. Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF.

KH Naspi Arsyad Sampaikan Doa untuk Kepemimpinan Baru DDII

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana kebangsaan yang menegaskan kembali pentingnya sinergi dakwah dan pendidikan bagi kemajuan umat, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menyampaikan doa dan apresiasinya atas pelantikan pengurus pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) periode 2025–2030.

Acara pelantikan tersebut digelar di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta, pada Selasa, 6 Jumadil Awal 1447 (28/10/2025), dengan suasana khidmat yang dipimpin oleh Ketua Pembina DDII, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Dalam keterangannya, KH. Naspi Arsyad mendoakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan keberkahan dan keteguhan kepada DDII dalam menjalankan amanah dakwah pada periode baru ini.

Ia menegaskan pentingnya melanjutkan jejak perjuangan para pendiri DDII yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemerdekaan, pendidikan, dan pencerahan umat.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberkahi dan meneguhkan langkah DDII pada periode baru ini dalam memimpin lembaga dakwah warisan para pejuang Islam terdahulu yang telah berkontribusi besar bagi kemerdekaan, pendidikan, dan pencerahan umat,” ujar KH. Naspi Arsyad.

Ia menambahkan, kepemimpinan KH. Dr. Adian Husaini diyakini akan membawa DDII semakin kokoh dan berpengaruh dalam menjaga kemurnian akidah serta memperkuat peran dakwah yang berperadaban di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

“Kami meyakini, dengan keilmuan, keteladanan, dan semangat keumatan yang dimiliki Dr. Adian Husaini, Dewan Dakwah akan semakin kokoh dalam menjaga kemurnian akidah, memperkuat dakwah yang berperadaban, serta membina generasi muda yang berilmu dan berakhlak,” ungkapnya.

KH. Naspi juga menekankan pentingnya mempererat kerja sama dan kolaborasi antarorganisasi Islam dalam membangun peradaban bangsa yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, sinergi antara DDII dan Hidayatullah harus terus diperkuat, terutama dalam bidang dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat.

“Hidayatullah berharap sinergi antara ormas-ormas Islam, khususnya antara Dewan Dakwah dan Hidayatullah, semakin erat dalam mengemban misi dakwah dan pendidikan umat menuju terwujudnya masyarakat yang beriman, berilmu, dan beradab,” tutur Naspi Arsyad.

Pelantikan kepengurusan DDII periode 2025–2030 ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan, Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, serta sejumlah tokoh dan pimpinan ormas Islam tingkat pusat.[]

Alfarobi Nurkarim Enta Pimpin SAR Hidayatullah 2025–2030

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Forum Musyawarah Besar (Mubes) VI Search and Rescue (SAR) Hidayatullah yang digelar pada 25–26 Oktober 2025 di Jakarta menetapkan Alfarobi Nurkarim Enta sebagai Ketua SAR Hidayatullah periode 2025–2030.

SAR Hidayatullah adalah badan pendukung ormas Hidayatullah yang bertugas mengkoordinasi dan memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini dan rehabilitasi pasca bencana.

Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Divisi Diklat ini menggantikan Irwan Harun yang telah menuntaskan masa tugasnya selama satu periode kepemimpinan.

Pergantian ini menandai fase baru dalam arah penguatan kapasitas dan profesionalisme lembaga SAR Hidayatullah sebagai unit siaga kebencanaan yang berlandaskan nilai-nilai dakwah dan kemanusiaan.

Penetapan kepengurusan baru berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh musyawarah. Seluruh peserta Mubes VI yang terdiri atas perwakilan wilayah dan daerah memberikan apresiasi terhadap kiprah kepemimpinan sebelumnya yang dinilai berhasil memperluas jaringan dan meningkatkan kemampuan operasional tim SAR Hidayatullah di berbagai daerah.

Dalam laporan pertanggungjawaban yang disampaikan, kepemimpinan Irwan Harun juga menekankan pentingnya kesinambungan visi organisasi agar tetap berakar pada nilai keikhlasan, profesionalitas, dan ketanggapan terhadap situasi darurat di tengah masyarakat.

Usai terpilih, Alfarobi Nurkarim Enta menyampaikan harapan dukungan sekaligus komitmennya untuk membawa SAR Hidayatullah ke arah yang lebih progresif dan berdaya guna.

Dia menegaskan, amanah ini bukan sekadar tanggung jawab organisasi, tetapi juga panggilan kemanusiaan yang membutuhkan kerja bersama.

“Kami ingin memastikan SAR Hidayatullah terus menjadi garda terdepan dalam pencarian dan pertolongan, baik pada situasi bencana alam maupun kedaruratan sosial yang menimpa umat,” ujarnya.

Menurut Alfarobi, arah kebijakan SAR Hidayatullah ke depan akan fokus pada dua pilar utama, yaitu penguatan kapasitas pencarian dan pertolongan (search and rescue) serta peningkatan kualitas pendidikan dan latihan (diklat) kader relawan.

“Kekuatan utama lembaga ini terletak pada kesiapsiagaan dan kompetensi relawannya. Karena itu, program diklat akan kami mantapkan agar melahirkan kader-kader tangguh yang memiliki kemampuan teknis sekaligus nilai spiritual yang kuat,” jelasnya.

Alfarobi juga memaparkan agenda strategis lima tahun ke depan yang meliputi pembentukan pusat-pusat pelatihan SAR di wilayah-wilayah rawan bencana, penguatan sistem komunikasi dan logistik, serta digitalisasi data kebencanaan untuk mempercepat respons lapangan.

Ia menilai transformasi ini penting agar SAR Hidayatullah dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan dinamika kebencanaan yang semakin kompleks.

“Teknologi harus menjadi instrumen dakwah dan kemanusiaan. Kita ingin memastikan setiap relawan mampu memanfaatkan sistem informasi dengan baik, mulai dari pelaporan bencana hingga koordinasi lapangan. Efisiensi waktu dan akurasi data bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa,” kata Alfarobi.

Pengurus dan Pengawas BTH Lulus Jalani Uji Kepatutan dan Kelayakan Kemenkop RI

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seluruh pengurus dan pengawas Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baituttamwil Hidayatullah (BTH) dinyatakan lulus dalam Uji Kepatutan dan Kelayakan (UKK) yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia.

SK hasil kelulusan diserahkan langsung oleh Ketua Tim Penguji, Budi Suharto, kepada Saiful Anwar, selaku Ketua KSPPS BTH, pada Senin, 5 Jumadil Awal 1447 (27/10/2025) di Gedung Kementerian Koperasi RI, Jakarta.

Uji kepatutan dan kelayakan ini dilakukan sebagai bagian dari pemenuhan regulasi perundang-undangan yang berlaku, mengingat BTH merupakan lembaga keuangan syariah berbadan hukum koperasi.

Sesuai ketentuan, UKK wajib diikuti oleh seluruh pengurus dan pengawas koperasi di Indonesia untuk memastikan kompetensi, integritas, dan kepatuhan terhadap tata kelola kelembagaan.

Dalam kesempatan tersebut, Saiful Anwar yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan DPP Hidayatullah, menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya atas terselenggaranya proses panjang UKK yang berjalan lancar dan profesional.

“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada tim penguji dan Kementerian Koperasi atas proses yang sangat baik. Hasil ini menjadi bukti bahwa BTH berkomitmen penuh terhadap kepatuhan regulasi dan prinsip-prinsip syariah,” ujar Saiful.

Selain penyerahan SK UKK, kunjungan ini juga menjadi ajang audiensi dan silaturahmi antara Departemen Koperasi dan Kewirausahaan DPP Hidayatullah dengan jajaran Kementerian Koperasi dan UKM RI. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala Bidang Perencanaan Pembinaan Anggota, Ibnu, beserta tim.

Dalam pertemuan itu, Saiful Anwar turut memperkenalkan koperasi-koperasi Hidayatullah yang telah tumbuh di berbagai jaringan pesantren di Indonesia, serta membahas peluang kolaborasi dalam pembinaan dan penguatan koperasi pesantren.

Turut mendampingi dalam kegiatan ini, Abdul Chadjib selaku Sekretaris dan Ruhyadi sebagai Pengawas KSPPS BTH.

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan penegasan komitmen untuk terus memperkuat tata kelola koperasi yang sehat, amanah, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Reporter: Qoim Biamrillau
Editor: Yacong B. Halike

Sako Pramuka Hidayatullah Ternate Teguhkan Komitmen Kepemimpinan Berkarakter

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat membangun generasi muda yang berkarakter dan cinta tanah air, Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah Kota Ternate menggelar pelantikan dan serah terima jabatan (sertijab) Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) dan Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH).

Acara yang berlangsung khidmat di halaman Kampus Putri Hidayatullah Ternate, Senin, 5 Jumadil Awal 1447 (27/10/2025), menjadi momentum penting untuk memperkuat kepemimpinan berbasis nilai-nilai kepramukaan, dakwah, dan pendidikan karakter Islami.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pimpinan wilayah Hidayatullah, pengurus yayasan, para guru, serta ratusan anggota pramuka dari MI-SMP-MAS Ulul Albaab dan SMP-SMA Lukmanul Hakim.

Kehadiran berbagai elemen pendidikan tersebut meneguhkan sinergi kuat antara lembaga pendidikan Islam dengan gerakan kepramukaan dalam membangun karakter bangsa yang tangguh dan berintegritas.

Ketua Sako Pramuka Hidayatullah Maluku Utara, M. Nashirul Haq, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran Mabigus sebagai elemen strategis dalam mendukung keberhasilan seluruh program kepramukaan.

Ia mengingatkan bahwa keberadaan Mabigus tidak hanya bersifat administratif, melainkan menjadi ruh pembinaan yang menuntun arah kegiatan pramuka agar berdaya guna dan mendidik.

“Saya ingin menegaskan bahwa peran Mabigus sangat strategis dalam mendukung seluruh program kepramukaan,” katanya.

Ia berharap Mabigus selalu hadir sebagai pembimbing, motivator, dan pengawas kegiatan pramuka, serta memberikan dukungan penuh. “Agar setiap kegiatan berjalan lancar dan bermanfaat bagi peserta didik,” ujar Nashirul Haq dalam arahannya.

Ia juga menekankan pentingnya integritas dan visi yang jelas bagi setiap kader Gerakan Pandu Hidayatullah. Menurutnya, seorang kader sejati harus memahami visi gerakan, mampu membaca arah strategis program, serta mengeksekusi amanah dengan keselarasan dan tanggung jawab.

Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah pengurus baru dipimpin oleh Ketua Sako Pramuka Hidayatullah Cabang Ternate, Kak Muhammad. Yunus. Para pengurus berdiri tegak saat mengucapkan sumpah jabatan sebagai simbol kesiapan menjalankan amanah dengan integritas.

Serah terima map laporan pertanggungjawaban (LPJ) dan penandatanganan surat keputusan menjadi tanda sah peralihan kepemimpinan dalam struktur organisasi kepramukaan tersebut.

Acara dilanjutkan dengan tausiah penutup dari Ustadz Saleh Syukur, Dewan Murabbi Wilayah Malut, yang mengingatkan pentingnya menanamkan nilai keimanan dan disiplin beribadah dalam setiap kegiatan pramuka.

“Disiplin dalam ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga cerminan karakter seorang pramuka yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia,” pesannya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dia terjalin sinergi yang lebih kuat antara MABIGUS, GPH, dan seluruh unsur kepramukaan di Kota Ternate.

Kolaborasi ini, lanjut Saleh, menjadi fondasi dalam membentuk generasi muda yang tangguh, berjiwa pemimpin, dan siap melanjutkan perjuangan membangun bangsa dengan nilai-nilai moral dan spiritual yang kokoh.

Koperasi Jadi Pilar Kemandirian Umat, Hidayatullah Jalin Sinergi dengan Kemenkop UKM

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: WhatsApp-Image-2025-10-28-at-10.39.15.jpeg

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat ekonomi umat dan meneguhkan peran kelembagaan pesantren dalam pembangunan nasional, Hidayatullah terus mendorong kemandirian ekonomi berbasis koperasi. Langkah ini sejalan dengan semangat keindonesiaan yang menempatkan gotong royong sebagai fondasi kesejahteraan bersama.

Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Saiful Anwar, menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar sarana ekonomi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam penguatan dakwah dan pendidikan.

“Koperasi menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat, sekaligus pilar penggerak dakwah dan pendidikan di lingkungan Hidayatullah,” ujarnya dalam kunjungan resmi ke Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia (Kemenkop UKM), Senin, 5 Jumadil Awal 1447 (27/10/2025).

Kunjungan tersebut menjadi audiensi perdana Saiful Anwar setelah dilantik dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah.

Ia bersama timnya diterima oleh Kepala Bidang Perencanaan Pembinaan Anggota Kemenkop RI, Ibnu, beserta jajaran pejabat kementerian di Gedung Kemenkop, Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Saiful memperkenalkan koperasi-koperasi Hidayatullah yang tersebar di jaringan pesantren di seluruh Indonesia. Ia menegaskan tekad lembaganya untuk menjadikan koperasi Hidayatullah sebagai model ekonomi pesantren yang mandiri, profesional, dan berdaya saing.

“Sinergi dengan Kementerian Koperasi menjadi langkah strategis untuk penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha koperasi di seluruh jaringan kami,” tambahnya.

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) hasil Uji Kepatutan dan Kelayakan (Fit and Proper Test) bagi pengurus dan pengawas Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH).

SK diserahkan langsung oleh Ketua Tim Penguji, Budi Suharto, kepada Saiful Anwar selaku Ketua KSPPS BTH.

Menurut Budi Suharto, proses uji kepatutan dan kelayakan ini merupakan bagian dari mekanisme penguatan tata kelola koperasi.

“Uji kepatutan dan kelayakan bertujuan memastikan koperasi dijalankan secara akuntabel dan profesional, sesuai regulasi yang berlaku,” jelasnya.

Hasil penilaian menunjukkan bahwa seluruh pengurus dan pengawas KSPPS BTH dinyatakan lulus dan memenuhi syarat untuk melanjutkan amanah kepengurusan.

Dalam audiensi tersebut, Saiful Anwar didampingi oleh Abdul Chadjib selaku Sekretaris KSPPS BTH dan Ruhyadi sebagai Pengawas.

Pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama dan penegasan komitmen antara Hidayatullah dan Kemenkop UKM untuk memperkuat kerja sama dalam pembinaan, pendampingan, serta pengembangan koperasi pesantren ke depan.

Langkah ini, lanjut Saiful, menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Hidayatullah dalam membangun ekosistem ekonomi yang selaras antara dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.

Melalui penguatan koperasi, terangnya, Hidayatullah berharap dapat menghadirkan kemandirian ekonomi yang berakar pada nilai-nilai kebersamaan dan keadilan sosial — nilai-nilai yang sejak lama menjadi jiwa bangsa Indonesia.

Rais ‘Aam Lantik Kepengurusan Pusat Hidayatullah Periode 2025-2030 di Forum Munas ke-VI

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — KH Naspi Arsyad, Lc., resmi dilantik oleh Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah periode 2025–2030 dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Rabu (22/10/2025).

Penetapan ini menandai babak baru dalam perjalanan organisasi dakwah dan pendidikan Islam tersebut yang telah berkiprah lebih dari setengah abad di Indonesia.

Munas VI Hidayatullah, yang berlangsung sejak awal pekan, menjadi forum strategis lima tahunan bagi konsolidasi arah perjuangan gerakan. Selain membahas rekomendasi strategis dan arah kebijakan dakwah ke depan, forum ini juga menjadi momentum pergantian kepemimpinan nasional Hidayatullah.

Dalam suasana khidmat, para peserta Munas menetapkan KH Naspi Arsyad sebagai nahkoda baru untuk memimpin organisasi selama lima tahun mendatang.

Profil Naspi Arsyad

KH Naspi Arsyad lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, pada 5 Maret 1976. Ia menempuh pendidikan dasar di SD 02 Watampone, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Muallimin Muhammadiyah Ujung Pandang.

Pendidikan menengah atasnya diselesaikan di Madrasah Aliyah Radhiyatan Mardhiyah (Marama) Hidayatullah Balikpapan — lembaga pendidikan yang dikenal sebagai salah satu pusat pembinaan kader Hidayatullah.

Setelah menamatkan studi menengahnya, KH Naspi melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, dan menyelesaikan program sarjana dengan gelar Licentiate of Arts (Lc) dalam bidang studi Islam.

KH Naspi memiliki pengalaman panjang dalam kepemimpinan dan pembinaan kader serta keterlibatannya dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah XI periode 2006–2011.

Pada periode yang sama, ia juga menjadi anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan, di mana ia berperan dalam pengkajian isu-isu keagamaan kontemporer.

Karier organisasinya di lingkungan Hidayatullah, KH Naspi pernah dipercaya sebagai Ketua Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah (2010–2013), di mana ia berperan menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai lembaga internasional.

Ia kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Pemuda Hidayatullah periode 2013–2016, memimpin gerakan kader muda dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Saat ini, selain aktif dalam kepengurusan pusat, Naspi juga menjadi pembina di Rumah Muslimah Kamaliyyatul Mu’minah, lembaga yang bergerak dalam pembinaan perempuan dan keluarga Islami.

Penetapan Arah Kebijakan

Media Center Munas VI Hidayatullah dalam keteranganya terima media ini menyebutkan forum ini tidak hanya menetapkan pengurus pusat, tetapi juga forum penetapan arah kebijakan dan pembaruan struktur kelembagaan organisasi.

Selain menetapkan Ketua Umum DPP, forum ini juga mengesahkan ketua dan jajaran Majelis Penasehat, Anggota Pimpinan Majelis Syura, Dewan Mudzakarah, serta Dewan Murabbi Pusat.

Salah satu keputusan penting yang diambil adalah perubahan nomenklatur jabatan tertinggi dari Pemimpin Umum menjadi Rais ‘Aam.

Adapun ketua ketua dari strukur tersebut adalah sebagai berikut:

Rais ‘Aam: KH Abdurrahman Muhammad
Majelis Penasehat: KH Abdul Latief Usman
Anggota Pimpinan Majelis Syura: KH Hamim Thohari
Dewan Mudzakarah: KH Ir Marimin Abu A’la Abdullah
Dewan Murabbi Pusat: KH Dr Tasyrif Amin
Dewan Pengurus Pusat: KH Naspi Arsyad

“Perubahan tersebut menandai penguatan aspek kelembagaan dan penyelarasan sistem kepemimpinan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar perjuangan Hidayatullah sejak berdiri,” tandas Media Center Munas VI Hidayatullah.

Pemimpin Umum Hidayatullah: Pemimpin Adalah Penanggung Jawab Kemanusiaan dan Alam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana bangsa yang tengah menatap cita-cita Indonesia Emas 2045, isu kepemimpinan menjadi tema yang terus mengemuka. Di tengah arus globalisasi dan tantangan moral, nilai-nilai spiritual dan keadaban sering kali terpinggirkan.

Dalam kerangka dinamka itu, Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengingatkan kembali hakikat kepemimpinan dari perspektif Islam yang bersifat ilahiyah dan ruhaniyah.

“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah ilahiyah dan rohaniyah, warisan kenabian dan kerasulan,” ujar KH Abdurrahman dalam taujih Subuh di arena Musyawarah Nasional ke-6 Hidayatullah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1447 (21/10/2025).

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar urusan organisasi atau kekuasaan duniawi, tetapi tanggung jawab spiritual yang menuntut keikhlasan dan pengabdian kepada Allah.

“Pemimpin adalah penanggung jawab bagi kemanusiaan dan alam semesta,” lanjutnya menegaskan.

Dalam taujihnya, KH Abdurrahman mengajak para kader Hidayatullah untuk memahami keindahan ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah (fenomena alam) maupun qauliyah (wahyu). Ia mencontohkan, sebagaimana Rasulullah SAW memperdalam dzikir di malam hari sebagai bentuk penghayatan terhadap kebesaran Ilahi.

“Sesungguhnya puncak dari spiritual adalah cinta,” cetusnya.

“Zikir yang menunjukkan penghambaan sejati kepada Allah adalah mengujinya dengan ‘Alhamdulillah’. Begitu pula puncak moral adalah cinta, cinta yang melahirkan kesatuan hati dan keteguhan dalam jihad menuju Allah,” paparnya melanjutkan.

Menurut KH Abdurrahman, perlombaan menuju puncak spiritual dan moral adalah jalan para pemimpin sejati. Mereka harus meneladani para nabi yang memimpin dengan cinta, kesabaran, dan keikhlasan.

“Semoga kita menjadi orang-orang yang istiqamah dalam perlombaan menuju puncak spiritual dan puncak moral,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menekankan pentingnya mujahadah dan kesabaran sebagai landasan perjalanan moral dan spiritual. Mengutip firman Allah, “Wabtaghu ilaihi al-wasilah, wajahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun,” ia mengingatkan bahwa perjuangan mendekat kepada Allah adalah inti dari keberuntungan sejati.

Kiai Abdurrahman juga menguraikan bagaimana para nabi menjadi teladan kepemimpinan yang membimbing umat manusia dengan wahyu dan keteladanan.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing roh para nabi dengan firman-firman-Nya,” ujarnya, mengutip ayat, “Wa kadzālika awḥainā ilaika rūḥan min amrinā.” Para nabi, katanya, hadir di tengah kegelapan zaman untuk membawa cahaya kebenaran.

“Ketika manusia sudah tidak mengenal Tuhannya, maka disitulah puncak kegelapan. Diperlukan hadirnya sosok pemimpin dan pencerah,” tegasnya.

Dalam penutup tausiyahnya, KH Abdurrahman menyinggung pelajaran dari pengalaman spiritual Nabi Muhammad di Gua Hira.

Perintah “Iqra’” (bacalah), menurutnya, bukan sekadar perintah intelektual, tetapi perintah peradaban untuk membaca fenomena alam, kemanusiaan, dan sejarah untuk melakukan perubahan.

“Ilmu yang dibangun dari wahyu bukanlah ilmu untuk ilmu, tapi ilmu untuk perubahan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa setiap langkah kepemimpinan harus dimulai dengan “Bismillah”, karena hanya dengan nama Allah, seorang pemimpin mampu melihat dan menuntaskan persoalan umat dengan benar.

“Jangan menjadikan diri sebagai Tuhan,” pesannya. “Karena akal dan kekuasaan semata tidak akan mampu menyelesaikan persoalan ketuhanan dan kemanusiaan,” sambungnya menegaskan.

Menteri Agama Tekankan Dakwah di Era Post-Truth Butuh Seni dan Metodologi Khusus

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah resmi digelar sebagai ruang silaturahmi dan refleksi dakwah umat. Acara yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menilai forum tersebut mencerminkan semangat khaira ummah.

Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasinya terhadap dinamika Munas Hidayatullah yang dinilainya menggambarkan kematangan organisasi Islam dalam memadukan nilai keislaman dan keindonesiaan.

“Saya melihat Hidayatullah tumbuh begitu pesat dan kini mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia dalam waktu yang relatif singkat. Ini menunjukkan semangat khaira ummah yang patut diapresiasi,” ujarnya dalam sambutannya membuka acara itu, Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1447 (21/10/2025).

Ia kemudian menyoroti tantangan besar dakwah di era post-truth, di mana kebenaran sering kali dipelintir oleh kepentingan politik dan persepsi sosial.

Menurutnya, jika dahulu masyarakat mudah menerima kebenaran berdasarkan ayat, hadis, dan undang-undang dengan sikap sami‘na wa atha‘na, kini ketiganya dapat direlatifkan oleh wacana publik.

“Dalam era post-truth seperti sekarang ini, kebenaran yang bersumber dari ayat, hadis, dan undang-undang ternyata bisa direlatifkan oleh politik,” tegasnya.

Menag menilai, kondisi ini menuntut para dai dan ormas Islam mengembangkan seni dalam berdakwah.

“Diperlukan bukan hanya penyampaian kebenaran itu sendiri, tapi juga metodologi yang lebih khusus lagi—diperlukan seni di dalam berdakwah,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Dalam arahannya, Nasaruddin Umar juga menguraikan pentingnya membedakan antara konsep al-khair (kebajikan) dan al-ma‘ruf (prinsip kebajikan). Menurutnya, al-khair menuntut pendekatan induktif dari bawah ke atas sebagai wujud ajakan atau da‘wah yang menghargai pluralitas masyarakat.

Sedangkan al-ma‘ruf, sambungnya, menuntut pendekatan deduktif dari atas ke bawah yang menjadi landasan ketegasan prinsip dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa dakwah tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan seragam. Masyarakat Indonesia yang sangat majemuk menuntut strategi yang beragam, sensitif terhadap konteks sosial, budaya, dan tingkat pengetahuan umat.

“Ormas Islam perlu memahami secara mikro keragaman masyarakat Indonesia,” pesannya.

Pada bagian akhir pidatonya, Nasaruddin Umar menyinggung filosofi Ummah sebagai komunitas ideal yang berpijak pada cinta kasih sejati. Dari akar kata yang sama, lahir istilah seperti ummi (ibu, pencinta sejati), imam (pemimpin), dan makmum (pengikut santun)—semuanya menggambarkan keterikatan sosial yang dilandasi kasih dan kepemimpinan moral. “Komunitas yang diikat oleh kasih sayang mendalam, itulah Ummah,” ungkapnya.

Menutup arahannya, ia berpesan agar Hidayatullah terus meneguhkan jati dirinya sebagai pembawa petunjuk bagi umat. “Jadilah Irsyadul Ibad, jadilah Hidayatullah, dan jadilah pemimpin umat,” pungkas Menag.

Pembukaan Munas ke-6 Hidayatullah ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Agama, disusul penyerahan plakat penghargaan dari Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, M.A., sebagai simbol persaudaraan dan komitmen bersama dalam menegakkan dakwah berkeadaban.

BMH dan Nano Bank Syariah Perkuat Peran Perempuan dalam Pembangunan Indonesia Emas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam arus perubahan zaman yang cepat, peran perempuan dan ibu semakin strategis dalam menjaga keseimbangan moral dan sosial bangsa. Hal ini menjadi sorotan penting dalam Kajian Akbar bertema “Membangun Keluarga Berkah, Melahirkan Generasi Emas yang Amanah” yang diselenggarakan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Aula Serbaguna 2 Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1447 (21/10/2025), sebagai bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah.

Kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi umat, khususnya kaum ibu dan perempuan, untuk meneguhkan kembali perannya sebagai pendidik utama generasi dan penjaga nilai keindonesiaan.

Ratusan jamaah dari berbagai daerah hadir, membawa semangat kebersamaan untuk memperkuat pondasi keluarga yang berkeadaban.

Muballigh nasional, Ustadz Munawir Ngacir, dalam ceramahnya menegaskan bahwa perempuan adalah pilar utama dalam membangun bangsa yang bermoral.

“Di balik setiap generasi yang kuat, selalu ada ibu yang sabar dan berjiwa besar. Dari tangan merekalah lahir insan-insan yang membawa cahaya bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan moral yang tumbuh di rumah tangga. Menurutnya, seorang ibu bukan hanya pengasuh anak, tetapi juga pendidik akhlak dan penjaga nilai.

Keluarga yang harmonis dan berlandaskan iman, lanjutnya, akan melahirkan generasi amanah yang berjiwa nasionalis dan berkeadilan sosial.

Kisah inspiratif yang menggugah dalam acara ini datang dari Kayla Nur Syahwa Syakhila, seorang hafidzah muda, dan ibundanya. Mereka berbagi pengalaman menghafal Al-Qur’an di tengah keterbatasan ekonomi dan waktu. Dengan suara bergetar, sang ibu menuturkan perjuangan mereka.

“Kami hanya berpegang pada keyakinan bahwa Allah menolong siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh,” ujarnya haru.

Kisah tersebut menjadi cermin keikhlasan dan keteguhan seorang ibu dalam membimbing anaknya menapaki jalan kebaikan. Nilai spiritual yang tercermin dari perjuangan mereka sejalan dengan karakter bangsa Indonesia: religius, tangguh, dan penuh kasih.

Di tengah kemajuan teknologi, kisah seperti ini mengingatkan pentingnya peran ibu dalam menanamkan nilai moral dan cinta Tanah Air sejak dini.

Tak kalah menarik, akademisi dan pendiri Ausomethink, Maharani Dian Permanasari, S.Ds., M.Ds., M.Phil., Ph.D., turut berbagi pengalaman mendidik anak dengan kebutuhan khusus. Baginya, peran ibu adalah wujud nyata kasih Tuhan dalam kehidupan manusia.

“Seorang ibu adalah jantung keluarga. Ia tidak hanya memberi kehidupan secara biologis, tetapi juga spiritual,” ujarnya penuh makna.

Maharani menilai bahwa perempuan Indonesia memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi agen perubahan sosial. Dengan ketulusan dan kecerdasannya, perempuan mampu berkontribusi di berbagai bidang tanpa kehilangan nilai keibuan.

“Keluarga yang berdaya akan melahirkan masyarakat yang beradab. Dan perempuan adalah penentu arah peradaban itu sendiri,” tambahnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan Nano Bank Syariah yang bersinergi bersama BMH untuk memperluas jangkauan dakwah dan pemberdayaan perempuan.

Kolaborasi ini menegaskan bahwa peran perempuan bukan hanya urusan domestik, melainkan bagian integral dari pembangunan bangsa.

Sinergi antara lembaga sosial, pendidikan, dan ekonomi syariah diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam mempersiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Humas Laznas BMH Imam Nawawi menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam visi dakwah lembaganya.

“Kami berkomitmen memperkuat peran ibu dan perempuan sebagai pendidik umat. Karena dari rahim merekalah lahir generasi yang membawa keberkahan bagi bangsa,” ungkapnya.

Kajian Akbar ini, terangnya, menjadi ruang penghormatan terhadap perempuan Indonesia sebagai penjaga moral dan penggerak kebangkitan bangsa.

“Dengan semangat Munas ke-6 Hidayatullah, kegiatan ini meneguhkan kembali bahwa keluarga berkah tidak hanya lahir dari cinta, tetapi juga dari kesungguhan perempuan dalam menjaga nilai keislaman dan keindonesiaan,” tandasnya.