JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperkuat kemandirian ekonomi umat, Hidayatullah mengadakan kegiatan bertajuk “Pendampingan dan Pelatihan Ekonomi Jamaah, Pesantren, dan Organisasi Hidayatullah” secara daring melalui platform Zoom.
Kegiatan ini diikuti oleh pengelola pesantren, kader penggerak ekonomi, serta perwakilan organisasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Dua narasumber utama dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dihadirkan dalam pelatihan ini. Ustadz Wahyu Rahman, Ketua Bidang Perekonomian, pemateri pertama, menekankan urgensi revitalisasi semangat kemandirian umat melalui aktivitas ekonomi terorganisir dan berkelanjutan.
“Ekonomi jamaah bukan sekadar soal menambah penghasilan individu, tetapi juga soal membangun solidaritas dan kesadaran kolektif sebagai kekuatan umat,” katanya dalam keterangannya, Kamis, 23 Dzulhijjah 1446 (19/6/2025).
Sementara itu, Ketua Departemen Ekonomi Keumatan DPP Hidayatullah Ruhyadi paparkan berbagai model pemberdayaan ekonomi yang aplikatif di lingkungan pesantren dan struktur organisasi. Ia menekankan pentingnya pengelolaan data, koordinasi antarlembaga, serta kolaborasi lintas wilayah.
“Usaha produktif harus tumbuh dari akar ke pusat, bukan sebaliknya. Ini kunci keberlangsungan ekonomi kolektif,” ungkapnya.
Diskusi berlangsung dinamis, mencerminkan antusiasme peserta untuk menerapkan strategi yang disampaikan.
Beberapa peserta bahkan menyatakan komitmen untuk segera merancang aksi nyata di lapangan pascapelatihan.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program jangka panjang DPP Hidayatullah dalam membangun ekosistem usaha produktif yang mandiri dan berdaya saing.
Kegiatan serupa akan terus digelar secara berkala dengan pendekatan berbasis kebutuhan lapangan dan tematik.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Duta Besar Türkiye untuk Indonesia Prof. Dr. Talip Küçükcan menyebut Indonesia dan Turki memiliki banyak nilai bersama (common values) yang mendasari hubungan bilateral mereka.
Hal itu disampailkan Talip Küçükcan saat menjadi pembicara dalam pertemuan Hidayatullah Global Forum 2025 di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 22 Dzulhijah 1446 (18/6/2025).
Acara yang dihadiri oleh tokoh dari berbagai organisasi dan pimpinan lembaga ini mengangkat tema “Masa Depan Persahabatan Türkiye-Indonesia Dalam Dinamika Global”.
Secara geografis, Türkiye dan Indonesia menempati dua ujung strategis benua Asia—Türkiye di Barat, Indonesia di Timur—sehingga keduanya menjadi simpul perlintasan penting arus budaya dan peradaban dunia.
Türkiye adalah titik temu Eropa, Afrika, kawasan Para Nabi, dan Asia Tengah; sementara Indonesia menjadi pertemuan Australia, Pasifik, Asia Selatan, Timur, dan Tenggara.
Dalam bentuk Republik, relasi persahabatan Türkiye-Indonesia telah terjalin selama 75 tahun. Namun sebagai bangsa berperadaban—terlebih lagi sebagai sesama umat Muslim—kedekatan keduanya telah terpatri sekurangnya sejak 546 tahun silam.
“Kami melihat Indonesia sebagai negara muslim terbesar, ekonomi yang terus bertumbuh, dan dengan masa depan yang menjanjikan. Tahun ini kita merayakan 75 tahun hubungan diplomasi kita, seperti disampaikan oleh ketua umum tadi, hubungan kita bahkan sudah sangat lama yaitu 546 tahun,” katanya.
Dia menjelaskan, diantara nilai bersama kedua negara adalah negara mayoritas Muslim yang modern dan demokratis, yang juga memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya. Selain itu, ada kesamaan dalam pandangan tentang isu-isu global, seperti pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas termasuk dalam masalah Palestina, serta kerjasama ekonomi dan pembangunan.
Selain itu, Indonesia dan Turki sama-sama aktif dalam forum-forum internasional dan berusaha berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas dunia. Kedekatan itu bahkan ditandai dengan intensnya kedua pemimpin negara ini bertemu.
Budaya kedua negara, jelas Talip, juga menganut common values kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat dijunjung tinggi yang tercermin dalam hubungan sosial dan interaksi antar individu.
Atas semangat itu pula kedua negara menempatkan pentingnya pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci kemajuan serta sama-sama memiliki ketertarikan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan di antara mereka.
Hubungan antara Turki dan Indonesia di bidang pertahanan, khususnya dalam aspek military defense, menunjukkan perkembangan yang signifikan dan saling menguntungkan.
Kedua negara sepakat untuk menjalin kerja sama teknologi secara komprehensif dan tuntas, meliputi pertukaran pengetahuan strategis sebagai inti dari kolaborasi ini.
Model kerja sama ini menjadi sesuatu yang istimewa karena belum pernah diterapkan bersama negara lain sebelumnya, mencerminkan tingkat kepercayaan dan komitmen tinggi di antara kedua pihak dalam membangun kemitraan pertahanan yang setara dan berkelanjutan.*/
BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menebar pesan kebaikan menuju Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-VI, Islamic Medical Service (IMS) bersama Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Bakti Sosial Kesehatan dan Seminar Kesehatan bertema “Pengaruh Al-Qur’an Terhadap Kesehatan Lansia dan Pralansia”.
Acara ini berlangsung pada Ahad, 19 Dzulhijah 1446 (15/6/2025), di Majelis Quran Lansia Bahagia Bumi Anggrek, Bekasi Timur, Tambun Utara, diikuti 200 peserta lansia dan pralansia perempuan, warga binaan Hidayatullah.
Program ini mencakup pengobatan gratis dan seminar kesehatan yang disampaikan oleh DR. dr. Agus Rahmadi, M.Biomed., MA, Ph.D., ahli herbal dan pengamat Thibbun Nabawi.
Dalam paparannya, dr. Agus menekankan pendekatan holistik untuk kesehatan lansia. Ia menjelaskan bahwa kesehatan lansia memerlukan keseimbangan fisik, mental, dan spiritual.
Membaca Al-Qur’an secara rutin dapat memberikan ketenangan jiwa, yang mendukung kesehatan secara menyeluruh, di samping pola hidup sehat.
“Kesehatan tidak cukup hanya dengan mengonsumsi obat-obatan, tetapi juga harus diiringi dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an dan pola hidup yang baik setiap harinya,” ujar dr. Agus Rahmadi.
Ustadzah Sudaryani, perwakilan Muslimat Hidayatullah dan pengurus Majelis Quran Lansia Bahagia, menyatakan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap lansia dan pralansia.
Ustadzah Yani menegaskan bahwa Hidayatullah tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga kesehatan fisik, sebagai wujud pelayanan menyeluruh bagi warga binaan.
“Program ini diselenggarakan sebagai bentuk perhatian kami kepada para lansia dan pralansia. Selain memberikan ilmu agama, kami juga ingin memberikan manfaat dari sisi kesehatan,” ungkapnya.
Utar Rahmat Wijaya, Direktur IMS, menambahkan bahwa edukasi kesehatan merupakan prioritas lembaganya.
“Program ini dilandasi oleh urgensi kami sebagai lembaga kemanusiaan di bidang kesehatan untuk membina masyarakat agar hidup sehat, baik melalui layanan medis maupun edukasi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari syiar kebaikan di bidang kesehatan dalam menyemarakkan Munas Hidayatullah ke-6,” jelasnya.
IMS, terang Utar menambahkan, berkomitmen meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat melalui layanan langsung dan edukasi, sekaligus mendukung agenda Munas Hidayatullah.
Respon Peserta
Peserta merespons kegiatan ini dengan antusias. Ibu Nina, salah satu peserta, mengungkapkan manfaat yang dirasakannya.
“Alhamdulillah, dengan adanya program ini, saya menjadi lebih aware terhadap kondisi kesehatan. Keluhan bisa dikonsultasikan dengan baik, dan seminar kesehatannya sangat bermanfaat dengan tema yang menarik,” tuturnya dengan senyum.
Testimoni Ibu Nina mencerminkan dampak positif acara, baik dari segi layanan medis maupun edukasi, yang meningkatkan kesadaran kesehatan peserta.*/
Hidayatullah Global Forum 2025 (Foto: Gagah Rafi Hidayatullah/hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, menegaskan kembali komitmen Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam global melalui kerja sama lintas bangsa. Hal itu disampaikannya saat membuka Hidayatullah Global Forum 2025 di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 22 Dzulhijah 1446 (18/6/2025).
Acara yang dihadiri oleh Duta Besar Türkiye untuk Indonesia Prof. Dr. Talip Küçükcan tersebut mengangkat tema “Masa Depan Persahabatan Türkiye-Indonesia Dalam Dinamika Global”.
Dalam sambutannya, Dr. Nashirul Haq menekankan arti penting hubungan kedua bangsa, bukan hanya dalam kerangka diplomatik modern, melainkan juga dalam ikatan sejarah dan peradaban Islam yang telah berlangsung lebih dari lima abad.
“Selamat datang di Pusat Dakwah Hidayatullah. Gedung ini adalah amanah dari umat Islam di pundak kami. Karenanya kami selalu menunggu kehadiran Anda semua ke sini kapan pun, untuk bersama-sama membangun peradaban manusia yang dituntun Al-Qur’an dan teladan Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di sektor pendidikan, dakwah, kebajikan sosial, dan lain-lain,” ujar Nashirul Haq mengawali sambutannya.
Hidayatullah Global Forum 2025 (Foto: Ismatullah Achmad/hidayatullah.or.id)
Ia menyebutkan bahwa gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta ini merupakan simpul utama gerakan Hidayatullah yang kini tersebar di 38 provinsi dan hampir 500 kabupaten/kota di Indonesia, bahkan telah menjangkau delapan negara di berbagai belahan dunia.
Dalam pandangan Nashirul Haq, Indonesia dan Türkiye secara geografis memiliki posisi strategis di ujung benua Asia. Türkiye di Barat, menjadi simpang temu Eropa, Afrika, dan Asia Tengah; sementara Indonesia di Timur, menjadi titik temu Australia, Pasifik, Asia Selatan, Timur, dan Tenggara.
“Kedua bangsa ini adalah simpang peradaban dunia. Maka persahabatan keduanya sangat relevan untuk melahirkan sumbangsih bagi perdamaian dan kemajuan global,” ujarnya.
Ia juga menyinggung akar sejarah hubungan Islam antara Türkiye dan Indonesia yang telah terjalin jauh sebelum republik modern berdiri.
Nashirul mengutip pernyataan Sultan Hamengku Buwono X pada Kongres Umat Islam V tahun 2015 di Yogyakarta, yang mengungkapkan bahwa Raden Fatah, pendiri Kesultanan Islam pertama di Jawa, telah berbaiat kepada Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1479.
“Sebagai bangsa Muslim, Indonesia dan Türkiye sudah bersaudara sekurangnya 546 tahun lamanya,” tegas Nashirul. “Hidayatullah yang baru berumur 52 tahun, sangat bergairah untuk ikut serta terus mengokohkan persaudaraan ini.”
Dalam konteks pendidikan, Nashirul mengungkapkan bahwa saat ini Hidayatullah mengelola lebih dari 600 sekolah dan pesantren di seluruh Indonesia yang setiap tahunnya meluluskan hampir 3.000 siswa.
Ia mencatat bahwa minat lulusan Hidayatullah untuk melanjutkan studi ke Türkiye semakin meningkat, sejalan dengan bertambahnya jumlah pelajar Indonesia di Türkiye yang kini mencapai lebih dari 4.000 orang.
“Kita berharap semakin banyak lulusan sekolah dan pesantren Hidayatullah yang belajar ke mancanegara termasuk Türkiye. Pak Duta Besar, ke mana pun Anda pergi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Hidayatullah in syaa Allah ada di dekat Anda,” katanya.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq dan Duta Besar Türkiye untuk Indonesia Prof. Dr. Talip Küçükcan di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 18 Juni 2025 (Foto: Muhammad Zuhri Fadhlullah/ Hidayatullah.or.id)
Nashirul juga membuka peluang kerja sama di bidang ekonomi, sosial, dan teknologi. Ia mengajak lembaga pendidikan dan bisnis Türkiye untuk bersama-sama mengelola aset wakaf di berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya kerja sama dalam bidang kepemudaan, kemanusiaan, pengembangan teknologi, bahkan perdagangan.
“Sejak tahun 2015, Hidayatullah telah menjalin hubungan baik dengan masyarakat madani Türkiye seperti iMH, iHH, iGiAD, Hamidiye Vakfi, dan lainnya. In syaa Allah, juga dengan Institut Yunus Emre. Hubungan ini harus terus diperkuat untuk peradaban Islam yang lebih baik,” tambahnya.
Menutup sambutan, Nashirul menyampaikan harapan agar Hidayatullah Global Forum ini dapat menjadi tonggak penting dalam mengokohkan masa depan persaudaraan Türkiye-Indonesia.
“Semoga Allah jadikan forum ini dan kehadiran Anda semua sebagai sumbangan penting bagi peradaban manusia yang lebih diridhai Allah,” pungkasnya.*/
KUTIM (Hidayatullah.or.id) — Wujudkan tata kelola pertanian modern dan terintegrasi, Pertanian Berkelanjutan Terpadu (PKT) Hidayatullah melakukan inovasi dalam membangun ketahanan pangan berbasis komunitas yang dikembangkan pada program Smart Green House yang berlokasi di Pesantren Hidayatullah, Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Inisiatif ini dimulai dan dikembangkan bersama dengan dukungan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) dalam menunjang aktifitas Pertanian Berkelanjutan Terpadu Hidayatullah.
Langkah tersebut sebagai salah satu upaya mewujudkan tata kelola pertanian modern dan terintegrasi. Upaya itu ditandai penanaman perdana bibit melon Inthanon yang dikembangkan secara hidroponik, melalui sistem irigasi tetes (drip irrigation) yang mendukung efisiensi air dan nutrisi tanaman, Selasa (3/6/2025).
Ketua Kelompok Tani Qoryah Mubarokah yang mengelola proyek hijau ini, Syamsuddin, mengatakan pembinaan Pupuk Kaltim bagi kelompok taninya membawa perubahan signifikan dalam pengelolaan lahan dan tanaman.
Mulai dari awal sangat kesulitan mengembangkan potensi komoditas, kini para petani mampu memahami dengan baik tata kelola pertanian yang benar sesuai karakteristik lahan.
Hasilnya mulai dirasakan para petani, utamanya dari sisi ekonomi dan kesejahteraan. Dalam dua tahun terakhir, panen komoditas yang dikembangkan mampu mencapai hasil optimal dengan harga jual yang kompetitif di pasaran.
Syamsuddin berujar, petani Qoryah Mubarokah sudah merasakan manfaat program ini, khususnya ekonomi yang mulai bisa ditopang dari hasil panen.
“Karenanya kami optimis selalu mengembangkan potensi komoditas ke depannya,” imbuh Syamsuddin.
Ia memastikan komitmen untuk menjalankan smart green house secara maksimal, sehingga komoditas melon hingga jenis hortikultura lainnya bisa dikembangkan untuk memberi manfaat lebih besar.
Terlebih program PKT Hidayatullah telah mengubah pola pikir petani terkait tata kelola pertanian, sehingga lahan yang sebelumnya kurang produktif mampu diolah untuk menghasilkan komoditas pertanian berkualitas.
Pihaknya berharap pendampingan berkelanjutan Pupuk Kaltim, utamanya dari sisi penjualan hasil panen kepada off taker. “Sebab kami masih lemah di bidang itu, agar ke depan manfaat program makin dirasakan petani,” harap Syamsuddin.
Wujudkan Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan
Sementara itu, Pgs VP TJSL Pupuk Kaltim Lendl Wibisana, menyampaikan Smart Green House adalah sebuah gagasan dalam mendorong terwujudnya pertanian terpadu dan berkelanjutan. Melalui implementasi pertanian presisi dengan pendampingan optimal.
Program ini telah berjalan sejak tahun 2022, diawali pembentukan sawah surjan oleh Kelompok Tani Qoryah Mubarokah sebagai binaan perusahaan. Yakni, dengan pemanfaatan lahan di kawasan Pondok Pesantren Hidayatullah Suka Rahmat.
Dalam perjalanannya, lahan pertanian yang dikelola menunjukkan hasil signifikan untuk komoditas pangan dan hortikultura yang dikembangkan. Sehingga realisasi Smart Green House dilakukan untuk optimalisasi program dengan pendampingan menyeluruh.
Salah satu tujuannya, memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Lendl menilai, penanaman perdana bibit melon ini menjadi simbol dimulainya pemanfaatan Smart Green House untuk budidaya hortikultura yang lebih modern, efisien dan ramah lingkungan.
“Targetnya dua hingga tiga bulan sudah menunjukkan hasil yang bisa dipanen para petani,” papar Lendl.
Selain tanam perdana melon, Pupuk Kaltim turut melakukan panen bersama komoditas cabai rawit dan cabai merah keriting yang sebelumnya telah dibudidayakan di lahan seluas 1,5 hektar.
Hasil Panen Meningkat
Hasil panen meningkat konsisten sejak Februari 2025, bahkan dalam satu kali panen cabai rawit bisa mencapai 55 Kilogram, adapun cabai merah keriting sebanyak 67 Kilogram.
Menurutnya, hal ini menunjukkan jika pengelolaan program PKT Hidayatullah berhasil dengan hasil signifikan, sebagai upaya memperkuat kapasitas dan produktivitas sektor pertanian di tingkat lokal.
“Karena itu, Smart Green House jadi pengembangan melalui penerapan teknologi pertanian presisi,” terang Lendl.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim Teguh Ismartono, menyampaikan inisiatif Smart Green House PKT Hidayatullah dikonsep sebagai role model pertanian cerdas dalam mendukung ketahanan pangan di Kalimantan Timur.
Hal ini mengingat keberhasilan sektor pertanian masa depan, sangat ditentukan sejauh mana petani mampu beradaptasi dengan teknologi dan pengetahuan baru.
Inisiatif ini diharap menjadi ruang pembelajaran yang terus hidup, agar petani hingga generasi muda makin mengenal pertanian dari sisi yang lebih ilmiah, produktif dan berdaya saing tinggi.
Selain juga bentuk dukungan Pupuk Kaltim terhadap ekosistem pertanian yang menjadi leading sector pembangunan berkelanjutan, utamanya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
“Hal ini diharap tak hanya mampu mendorong tata kelola pertanian secara optimal, tapi juga memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat sekitar,” jelas Teguh.
Melihat keberhasilan PKT Hidayatullah dalam tiga tahun perjalanan, Pupuk Kaltim memastikan untuk terus memperkuat program agar petani binaan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi, membimbing serta menularkan pengetahuan kepada petani lainnya.
Tumbuhkan Ekosistem Pertanian
Mengingat ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak, sehingga inisiatif yang dikembangkan perusahaan menjadi upaya bersama menumbuhkan ekosistem pertanian secara menyeluruh.
Ia menilai jika pertanian dikelola dengan benar melalui kemitraan strategis, hasilnya tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga membentuk karakter petani yang mandiri dan tangguh.
“Ini bisa kita lihat dari program PKT Hidayatullah,” tambah Teguh.*/
BURU (Hidayatullah.or.id) — Bupati Kabupaten Buru, Ikram Umasugi, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buru, melakukan kunjungan resmi ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Desa Savanajaya, Kecamatan Waeapo, belum lama ini.
Kegiatan ini menandai wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pendidikan berbasis nilai keislaman sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul di wilayah Buru.
Didampingi sejumlah pejabat dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Bupati disambut langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Buru, Ustadz Muhammad Hidayatullah, beserta jajaran guru dan para santri.
Dalam suasana penuh kehangatan, pertemuan ini menjadi ajang dialog terbuka mengenai peran strategis pesantren dalam memajukan kualitas pendidikan daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Ikram Umasugi menggarisbawahi peran pesantren yang tak sekadar mencetak generasi berilmu, tetapi juga membentuk insan berkarakter.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan Islam dalam menghadirkan SDM yang tangguh menghadapi tantangan zaman.
“Kami sangat mengapresiasi kiprah Pondok Pesantren Hidayatullah yang telah turut mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya di Kabupaten Buru. Pendidikan di pesantren menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia,” ujar Bupati.
Ia menegaskan arah pembangunan strategis pemerintah daerah bahwa investasi pada pendidikan akhlak dan moral sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik.
Dalam konteks pembangunan daerah, terang Bupati, lembaga pesantren menurutnya mampu menjembatani kebutuhan masyarakat akan pendidikan holistik, yang mengintegrasikan aspek keilmuan dan nilai spiritual.
Lebih lanjut, Bupati menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan berkelanjutan kepada lembaga pendidikan Islam.
Dukungan tersebut meliputi peningkatan fasilitas belajar mengajar, pengembangan infrastruktur, hingga program peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Muhammad Hidayatullah, menyambut baik perhatian yang diberikan oleh pemerintah daerah. Ia berharap sinergi ini terus dipererat demi kemajuan pendidikan di Buru.
“Kami berterima kasih atas perhatian Bapak Bupati. Semoga silaturahmi ini menjadi awal kolaborasi yang lebih erat demi kemajuan dunia pendidikan di Buru,” tuturnya dalam keterangannya, Selasa, 21 Dzulhijjah 1446 (17/6/2025).
Sebagai wujud kepedulian langsung, Bupati juga menyerahkan bantuan bahan kebutuhan pokok berupa beras, mie instan, dan telur kepada pesantren.
Selain itu, pemerintah daerah memberikan dukungan pembangunan dua unit asrama santri, yang dibiayai melalui dana resmi Pemerintah Kabupaten Buru.
Kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan antara pemerintah dan pesantren, tetapi juga menegaskan bahwa pembangunan SDM berkarakter adalah prioritas strategis bagi Kabupaten Buru.
Langkah ini, Hidayatullah menambahkan, diharapkan menjadi model kolaborasi positif antara pemerintah dan lembaga keagamaan di daerah-daerah lain.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kementerian Pertanian, Perikanan dan Reforma Agraria – Daerah Otonomi Bangsamoro di Mindanao Muslim (MAFAR-BARMM) Republik Filipina melakukan kunjungan silaturrahim ke Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Kamis, 6 Dzulhijjah 1446 (12/6/2025).
Rombongan dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian, Perikanan, dan Reformasi Agraria (MAFAR) Bangsamoro Abunawas L. Maslamama. Turut bersamanya sejumlah akademisi serta pengusaha lokal dari daerah otonomi di Filipina tersebut.
Kedatangan rombongan yang juga sempat mengikuti acara Kick Off Munas VI Hidayatullah diterima oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq.
Sebelum mamasuki gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, rombongan disambut dengan pementasan budaya palang pintu yang dimainkan oleh seniman dari Sanggar Ciganjur, Jagakarsa.
Tampak rombongan juga disambut langsung oleh jajaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dan Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, beserta jajarannya.
Pertemuan diawali dengan pemaparan umum mengenai organisasi Hidayatullah sebelum diskusi halal dimulai, mulai dari sejarah pendirian, sistem perkaderan, hingga kontribusinya dalam dakwah, pendidikan, ekonomi, budaya serta pengembangan masyarakat di Indonesia.
Sebanyak 21 orang rombongan berkunjung dalam rangka memperkuat pemahaman sekaligus kerja sama di bidang sistem jaminan produk halal. Menjadi bagian dari upaya Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) untuk mengembangkan infrastruktur halal di wilayah mereka.
Dalam pertemuan tersebut, para tamu belajar langsung tentang sistem pemeriksaan halal yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia secara umum melalui LPH Hidayatullah, mulai dari sejarah, regulasi, prosedur audit halal, fatwa hingga sertifikasi auditor dan pengembangan SDM halal yang menjadi bagian dari misi dakwah LPH Hidayatullah.
Delegasi menyampaikan apresiasi atas keseriusan pemerintah Indonesia serta komitmen LPH Hidayatullah dalam membangun ekosistem halal berbasis keummatan.
“LPH Hidayatullah bukan hanya menjalankan fungsi pemeriksaan halal, tapi juga melakukan pembinaan UMKM halal dan edukasi masyarakat. Ini sangat inspiratif bagi kami di Bangsamoro,” ujar Abunawas.
Ketua LPH Hidayatullah menegaskan komitmennya dalam mendukung kerja sama antarbangsa Muslim dalam isu-isu strategis, termasuk industri halal global.
“Kami terbuka untuk kolaborasi, pendampingan, dan pelatihan bersama. Halal adalah isu peradaban yang menyatukan umat Islam di berbagai belahan dunia,” tegasnya.
Kunjungan ini diharapkan menjadi awal kerja sama yang lebih luas antara LPH Hidayatullah dan institusi halal di Bangsamoro dalam membangun ekosistem halal yang kredibel dan bermanfaat bagi umat.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menandai dimulainya rangkaian kegiatan menuju Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, secara resmi membuka Kick Off Munas VI Hidayatullah. Acara puncak Munas sendiri dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Oktober 2025 mendatang di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Dalam sambutannya, Nashirul menekankan bahwa momentum Munas keenam ini harus menjadi pendorong bagi seluruh elemen organisasi untuk benar-benar hadir di tengah masyarakat melalui program-program yang nyata, terukur, dan relevan.
Ia menyebut bahwa dakwah dan tarbiyah sebagai arus utama (mainstream) gerakan Hidayatullah harus semakin mendapatkan penguatan di level praksis.
“Munas keenam ini harus menjadi motivasi bagi kita untuk harus benar-benar hadir secara ril di tengah masyarakat dengan program yang nyata, khususnya program mainstream,” ungkap Nashirul saat membuka Kick Off Munas VI Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 6 Dzulhijjah 1446 (12/6/2025).
Selain penegasan atas penguatan program utama tersebut, Nashirul juga mengingatkan pentingnya optimalisasi kinerja para kader dan pengurus, terlebih mengingat Munas kali ini berlangsung di penghujung periode kepengurusan. Semarak Munas diharapkan dia menjadi pemantik semangat untuk memperkuat capaian akhir program-program organisasi.
“Semarak Munas ini juga diharapkan menjadi pembangkit para kader dan pengurus untuk mengoptimalkan kinerjanya di akhir-akhir periode ini,” lanjutnya.
Dalam kerangka ini, Nashirul menegaskan bahwa Munas Hidayatullah bukan semata-mata forum transisi kepemimpinan lima tahunan, melainkan juga merupakan medium peneguhan nilai dan orientasi gerakan. Ia menepis anggapan bahwa Munas menjadi ruang spekulasi soal siapa yang akan melanjutkan jabatan struktural organisasi.
“Ndak usah pikir apakah nanti lanjut atau tidak, pokoknya di Hidayatullah itu tidak ada pensiun. Tidak ada istilah lanjut tidak lanjut, semuanya lanjut. Ada yang lanjut di struktural, ada yang di profesional, dan ada yang kultural. Jadi, tidak ada masalah,” tegas Nashirul, menggambarkan tradisi pengabdian yang melampaui sekadar jabatan formal.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula tamu istimewa dari luar negeri, yakni Menteri Pertanian, Perikanan, dan Reformasi Agraria (MAFAR) Bangsamoro, Abunawas Maslamama, beserta rombongan yang berjumlah 20 orang.
Kehadiran delegasi ini bertujuan untuk menjajaki potensi kerja sama dengan Hidayatullah dalam pengembangan industri halal.
HARI ini, kita berkumpul dalam suasana penuh semangat dan harapan untuk menandai dimulainya rangkaian besar menuju Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-6 yang, insyaAllah, akan digelar pada akhir Oktober 2025.
Acara kick off ini bukan sekadar seremoni pembuka, melainkan deklarasi tekad: bahwa kita siap menyongsong masa depan dakwah dan peradaban Islam dengan langkah-langkah nyata, terukur, dan berdampak luas.
Munas ke-6 ini mengusung semangat konsolidasi, transformasi, dan akselerasi gerakan dakwah kita. Dan salah satu poros penting dari agenda besar ini adalah penguatan kemandirian ekonomi.
Mengapa kemandirian ekonomi menjadi prioritas? Karena sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa dakwah yang besar memerlukan daya dukung yang kokoh.
Rasulullah ﷺ membangun fondasi peradaban Islam bukan hanya melalui majelis ilmu, tetapi juga lewat penguatan pasar dan aktivitas ekonomi umat.
Para sahabat bukan hanya ahli ibadah yang taat, tetapi juga para saudagar tangguh yang menopang keberlangsungan misi dakwah.
Maka, pada titik inilah, kemandirian ekonomi bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keniscayaan. Ia adalah diantara fondasi utama untuk menjaga keberlangsungan perjuangan, memelihara izzah dakwah, serta mewujudkan kehidupan umat yang bermartabat, sejahtera, dan berdaya saing.
Melalui kick off ini, kita membuka gerbang semarak menuju rangkaian agenda Munas VI yang seluruhnya diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai perjuangan, membangun kesadaran kolektif, serta meneguhkan kembali peran setiap kader sebagai pelopor dakwah, penggerak umat, dan pionir dalam membangun kemandirian ekonomi.
Momentum Munas VI ini harus menjadi titik evaluasi sekaligus lompatan besar menuju gerakan kolosal yang semakin kuat secara ruhiyah, matang secara fikrah, dan mapan secara ekonomi.
Sinergi ketiga aspek ini mutlak diperlukan untuk menyiapkan umat menyongsong Indonesia Emas 2045—sebuah cita-cita besar di mana peran umat Islam dalam membangun bangsa harus nyata, terhormat, dan memberi kontribusi solutif bagi persoalan-persoalan kebangsaan.
Tema besar Munas kali ini, “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”, adalah panggilan bagi kita semua untuk tidak hanya berorientasi ke dalam, tetapi juga tampil ke tengah kancah pembangunan nasional dan global.
Dakwah harus berbicara dengan bahasa solusi, tarbiyah harus melahirkan kader-kader pemimpin, dan kemandirian ekonomi harus menjadi pilar ketahanan umat di tengah pusaran zaman.
Semoga Allah ﷻ melimpahkan keberkahan di setiap langkah kita, dan menjadikan Munas VI ini sebagai tonggak kemajuan dakwah, tarbiyah, dan ekonomi menuju kejayaan Islam serta kemaslahatan kaum Muslimin, di negeri kita tercinta ini dan di seluruh dunia.*/
*) Drs Wahyu Rahman, ME, penulis Pengurus Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Hidayatullah memulai rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI berupa seremoni Kick Off Munas VI bertajuk Semarak Munas Hidayatullah Berkhidmat dan dengan tema besar “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”, Kamis (12/6/2025).
Simbolis pembukaan ini menjadi penanda resmi dimulainya rentetan kegiatan pemikiran, dakwah, dan pengabdian yang akan berpuncak pada penyelenggaraan Munas VI Hidayatullah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada 20–23 Oktober 2025 mendatang.
Kick off ini menjadi titik awal bagi pelaksanaan beragam hajatan dalam rangkaian Munas VI Hidayatullah yang akan mencakup pesan pesan kebaikan di bidang lingkungan, kesehatan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan.
Ketua Organizing Committee Munas VI Hidayatullah Marwan Mujahidin mengatakan tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” sebagai respon atas tantangan strategis nasional.
Visi Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan pemerintah, jelas dia, merupakan cita-cita kolektif menuju negara maju yang berdaulat, adil, dan makmur pada seabad kemerdekaan Republik Indonesia.
“Namun capaian ini meniscayakan sinergi seluruh komponen anak bangsa tanpa kecuali,” katanya seperti dalam keterangannya kepada media ini.
Karena itu, sinergi dalam tema ini mencerminkan kesadaran kolektif untuk memadukan berbagai potensi, keahlian, dan sumber daya masyarakat Indonesia baik dari kalangan umat Islam, dan semua komponen bangsa baik rakyat jelata, akademisi, profesional, pebisnis, maupun generasi muda untuk bersama-sama berangkulan membangun bangsa yang bermartabat.
“Sinergi bukan semata kolaborasi mekanistik, tetapi perpaduan organik antar unsur bangsa dalam satu visi peradaban,” katanya.
Sementara itu, frasa Anak Bangsa menegaskan inklusivitas perjuangan Hidayatullah yang tidak terbatas pada komunitas internal semata, melainkan terbuka untuk segenap elemen bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan keluarga besar umat manusia.
Dia menambahkan, menyongsong Indonesia Emas 2045 merefleksikan kesadaran waktu atas pentingnya proyeksi peradaban jangka panjang.
Sejalan dengan pemikiran peradaban Islam klasik hingga kontemporer, visi ini, imbuhnya, menuntut ikhtiar serius dalam penguatan spiritual, pembangunan karakter, peningkatan mutu pendidikan, penguatan ekonomi umat, dan ketahanan budaya bangsa.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula tamu istimewa dari luar negeri, yakni Menteri Pertanian, Perikanan, dan Reformasi Agraria (MAFAR) Bangsamoro, Abunawas Maslamama, beserta rombongan yang berjumlah 20 orang.
Kehadiran delegasi yang disambut dengan prosesi palang pintu Betawi ini bertujuan untuk menjajaki potensi kerja sama dengan Hidayatullah dalam pengembangan industri halal.
Kick off ini juga diisi dengan penampilan budaya pencak silat, parade Quran, dan pembacaan puisi bertema lingkungan.