Beranda blog Halaman 82

Paradigma Sistematika Wahyu Kontribusi Penting Bagi Sosiologi Pengetahuan Islam

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Irfan Yahya mengatakan paradigma Sistematika Wahyu (SW) merupakan kontribusi penting bagi sosiologi pengetahuan Islam.

Paradigma SW, menurut Irfan, memperlihatkan bahwa pengetahuan adalah hasil dialektika antara wahyu dan sistem sosial, bersifat transenden sekaligus historis, spiritual sekaligus empiris.

Dengan berpijak pada kerangka Kuntowijoyo tentang Islam sebagai paradigma aksi dan Masri Muadz tentang berpikir sistem, Paradigma SW menghadirkan sintesis antara epistemologi dan praksis sosial.

Irfan menjelaskan, di tengah krisis ilmu modern yang memisahkan fakta dari nilai, paradigma ini mengembalikan keterpaduan bahwa pengetahuan sejati berakar pada tauhid dan bermuara pada keadilan sosial.

Karena itu, jelas Irfan, Munas IV Hidayatullah menjadi momentum strategis untuk merefleksikan dan mengaktualisasikan Paradigma Sistematika Wahyu sebagai panduan berpikir, berorganisasi, dan berperadaban, sebagai ikhtiar profetik untuk menegakkan ilmu yang memerdekakan manusia dan memuliakan kehidupan.

Menurut Irfan, Paradigma SW hadir sebagai upaya membaca ulang orientasi perjuangan Hidayatullah. Dalam opininya di harian Tribun Timur, Jumat, 18 Rabi’ul Akhir 1447 (10/10/2025), ia menjelaskan bahwa gerakan ini tidak dimaknai hanya sebagai dakwah dan tarbiyah, tetapi juga sebagai sistem sosial yang telah berproses selama setengah abad dan kini bersiap memasuki lima puluh tahun kedua.

Paradigma ini menempatkan wahyu bukan semata sebagai sumber nilai keagamaan, melainkan juga sebagai dasar epistemologi dan kerangka sosial bagi pembangunan peradaban.

Paradigma, dalam konteks ini, tidak sekadar kerangka berpikir ilmiah, tetapi juga sistem nilai yang mengatur orientasi tindakan sosial. Secara teoritis, istilah paradigma awalnya diperkenalkan oleh Thomas S. Kuhn untuk menjelaskan pergeseran cara berpikir dalam ilmu pengetahuan. Namun, dari perspektif sosiologi pengetahuan, paradigma mencakup dimensi yang lebih luas.

Dijelaskan akademisi dan peneliti pada Puslit Opini Publik LPPM Unhas ini, cara manusia mengetahui dan bertindak selalu berhubungan erat dengan struktur sosial tempat pengetahuan itu dihidupi. Dengan demikian, wahyu bukan hanya teks transenden, tetapi juga struktur sosial yang hidup dan terus menuntun perubahan peradaban Islam.

Menurut irfan, Paradigma Sistematika Wahyu mengintegrasikan nilai-nilai wahyu dengan realitas sosial. Ia berfungsi sebagai sumber epistemik dan etis bagi perubahan masyarakat. Paradigma ini bersandar pada urutan turunnya wahyu (tartib nuzuli) yang dijadikan fondasi epistemologis dan metodologis sosial.

Lima tahapan awal menjadi dasar pembentukan struktur pengetahuan dan masyarakat: Tauhid (Al-‘Alaq), Fikrah dan Akhlak (Al-Qalam), Tarbiyah dan Spiritualitas (Al-Muzzammil), Dakwah dan Aksi Sosial (Al-Muddatsir), serta Integrasi Islam Kaffah (Al-Fatihah). Setiap fase berhubungan satu sama lain dan membentuk proses berkesinambungan dari kesadaran spiritual menuju sistem sosial yang nyata.

Pola ini, menurut Irfan, sejalan dengan teori sosiologi pengetahuan yang dikemukakan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann tentang eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi.

“Kesadaran wahyu diekspresikan melalui ajaran dan amal, menjadi obyektif dalam bentuk lembaga dan norma sosial, lalu diinternalisasi kembali dalam kesadaran moral individu,” urai Irfan. Paradigma SW menggambarkan proses ini secara integral: dari kesadaran transenden menuju realitas sosial yang hidup dan berfungsi.

Dalam tradisi pemikiran Islam modern, gagasan Paradigma SW juga menemukan kesetaraan dengan pemikiran Kuntowijoyo. Dalam karyanya Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Kuntowijoyo menegaskan perlunya pergeseran dari Islam normatif menuju Islam historis, dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial.

Ia menyebut tiga prinsip utama: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Paradigma SW menerjemahkan ketiga prinsip tersebut ke dalam mekanisme epistemologis konkret dengan menjadikan kesadaran tauhid dan penguatan moral sebagai landasan bagi setiap perubahan sosial.

Dalam dimensi sistemik, Paradigma SW juga beririsan dengan pemikiran Masri Muadz tentang Paradigma Al-Fatihah yang menempatkan berpikir sistem sebagai cara memahami keterpaduan ajaran Islam.

Masri menggambarkan Al-Fatihah sebagai totalitas sistem nilai, pengetahuan, dan amal. Menurut Irfan, Paradigma SW mengadopsi semangat itu dengan memandang tartib nuzuli sebagai sistem dinamis, di mana setiap fase menjadi prasyarat bagi fase berikutnya.

Irfan dalam opininya menyebutkan bahwa kesadaran tauhid melahirkan akhlak, akhlak membentuk spiritualitas, spiritualitas menuntun dakwah, dan dakwah memuncak dalam pembentukan masyarakat kaffah. Pendekatan sistemik ini menjadikan wahyu bukan sekadar sumber normatif, tetapi konstruksi sosial bagi tegaknya peradaban.

Dari sudut pandang sosiologi pengetahuan, Paradigma SW memperlihatkan bagaimana pengetahuan ilahiah dapat diinstitusionalisasi menjadi struktur sosial. Peter L. Berger menegaskan bahwa setiap sistem pengetahuan memperoleh legitimasi sosial melalui institusi dan simbol yang menopangnya.

Paradigma SW memberikan pedoman tentang bagaimana kesadaran religius bergerak dari ranah ide menuju obyektivasi sosial yang nyata. Fase tauhid melahirkan orientasi nilai, fase tarbiyah menghasilkan lembaga pendidikan dan spiritual, fase dakwah membentuk struktur komunikasi dan mobilisasi sosial, sedangkan Islam kaffah menegaskan lahirnya sistem sosial yang berkeadilan.

Paradigma ini juga menjadi upaya menghindari dua ekstrem epistemologis: positivisme yang memisahkan fakta dari nilai, serta reduksionisme teologis yang menutup ruang rasionalitas. Dalam kerangka Berger dan Luckmann, Paradigma SW dapat dipahami sebagai usaha membentuk kembali pengetahuan kolektif umat agar berpijak pada wahyu.

Internalisasi wahyu melalui dakwah dan tarbiyah melahirkan kesadaran kolektif baru yang menumbuhkan struktur sosial Islami. Dalam pandangan Max Scheler, agama berfungsi sebagai sumber makna dan orientasi tindakan sosial. Paradigma SW menghidupkan fungsi ini sebagai energi moral yang menstrukturkan kesadaran dan mendorong tindakan kolektif.

Paradigma SW bekerja dalam empat lapisan epistemik: ontologis (tauhid), epistemologis (fikrah dan akhlak), aksiologis (tarbiyah dan dakwah), dan teleologis (Islam kaffah). Setiap lapisan berkorespondensi dengan struktur sosial, mulai dari individu, komunitas, lembaga, hingga peradaban.

Dengan demikian, jelas Irfan, Paradigma SW bukan sekadar model pemikiran keagamaan, tetapi juga kerangka praksis bagi pembangunan masyarakat yang berakar pada wahyu. Ia menawarkan peta konseptual bagi integrasi pengetahuan, iman, dan amal.

Dari perspektif sejarah sosial Islam, jelas Irfan, Paradigma SW dapat dibaca sebagai aktualisasi manhaj nubuwwah, yaitu metode kenabian dalam membangun masyarakat. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa kekuatan spiritual dan solidaritas sosial (asabiyyah) merupakan dua pilar utama peradaban.

Paradigma SW menghidupkan sintesis tersebut dengan menjadikan wahyu sebagai energi spiritual dan rasionalitas sosial. Melalui pendekatan sistemik yang berpijak pada wahyu, Irfan menegaskan, paradigma ini menyediakan kerangka untuk membangun masyarakat berilmu dan berkeadilan tanpa memisahkan iman dan institusi.

Iqra’ Jalan Kehidupan Menuju Pemahaman dan Kepemimpinan Sejati

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Akib Junaid Kahar menyampaikan pesan tentang hakikat ilmu pengetahuan dan relevansinya terhadap kepemimpinan serta kehidupan sosial. Melalui penjelasan bernuansa tafsir dan refleksi sejarah keislaman, ia mengajak untuk merenungi kembali makna perintah pertama dalam Al-Qur’an.

Menurutnya, wahyu pertama yang disampaikan kepada Rasulullah SAW merupakan titik awal dari peradaban ilmu dan pengetahuan dalam Islam.

“Kalimat pertama sekaligus perintah pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an melalui Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW adalah ‘Iqra’’. Sebuah isyarat yang sangat jelas tentang urgensi ilmu pengetahuan,” ujar Akib yang dikutip dalam notes-nya, pada Jumat, 18 Rabi’ul Akhir 1447 (10/10/2025).

Ustadz Akib menekankan bahwa makna iqra’ tidak semata berarti membaca teks tertulis, tetapi mencakup seluruh upaya manusia dalam memahami realitas kehidupan. Perintah ini adalah panggilan universal untuk mengembangkan potensi akal dan rasa melalui berbagai cara memperoleh pengetahuan.

“Sebab, makna hakiki dari iqra’ adalah segala bentuk ikhtiar untuk mengetahui dan memahami sesuatu, baik secara lisan, tulisan, pengamatan, maupun pengalaman,” lanjutnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa ada tiga objek utama yang menjadi fokus dari proses pencarian ilmu sebagaimana terkandung dalam konsep iqra’.

“Tiga hal utama yang menjadi objek penting dari proses iqra’ adalah: Allah (Rabb), alam semesta (makhluk), dan manusia itu sendiri,” terangnya.

Dalam pandangannya, keseimbangan dalam memahami ketiga objek itu menjadi fondasi moral dan intelektual bagi setiap insan. Ketidakseimbangan atau kekeliruan dalam memahami salah satunya dapat menimbulkan kesalahan dalam bertindak dan bersikap.

“Memahami ketiganya secara benar menjadi kunci agar seseorang tidak salah dalam bersikap dan bertindak. Sebab kurangnya pengetahuan akan berdampak langsung pada cara berinteraksi, baik dengan Tuhan, sesama, maupun lingkungan,” katanya menambahkan.

Ustadz Akib juga menyoroti bahwa banyak persoalan sosial dan bencana kemanusiaan di dunia ini berakar dari kesalahan dalam berinteraksi akibat ketidaktahuan. Ketika manusia gagal memahami relasinya dengan Tuhan, sesama, dan alam, maka muncul krisis spiritual dan sosial yang berdampak luas.

“Dalam kehidupan nyata, berbagai teguran atau hukuman dari Allah—termasuk bencana alam, konflik sosial, kemarahan, kebencian, dan permusuhan antar manusia—sering kali bermula dari kesalahan dalam interaksi. Dan kesalahan itu umumnya berakar dari ketidaktahuan,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pesan tersebut, ia mengutip kisah Nabi Adam AS sebagai refleksi tentang keunggulan ilmu pengetahuan dibanding sekadar status penciptaan. Dalam peristiwa itu, malaikat yang semula mempertanyakan pengangkatan Adam sebagai khalifah akhirnya tunduk setelah Allah menunjukkan ilmu yang dimiliki Adam.

“Kisah Nabi Adam AS menjadi pelajaran penting. Meski awalnya para malaikat mempertanyakan pengangkatan Adam sebagai khalifah, akhirnya mereka tunduk dan mengakui keunggulannya. Kenapa? Karena Adam memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Kompetensi itulah yang mengangkat derajatnya,” jelasnya.

Dari kisah tersebut, Ustadz Akib menyimpulkan prinsip penting dalam kepemimpinan dan tanggung jawab sosial, yakni, amanah harus diberikan kepada mereka yang memiliki kompetensi, bukan sekadar karena usia, sejarah, atau senioritas.

“Pesan ini menegaskan pentingnya memberi amanah kepada yang berkompeten, bukan sekadar kepada yang senior. Bahkan jika seseorang tergolong ‘pendatang baru’, selama ia memiliki kapasitas dan kualitas, maka sudah semestinya ia mendapat tempat. Di sisi lain, para senior pun harus berlapang dada menerima kenyataan, jika memang sudah saatnya tongkat estafet berpindah tangan,” tuturnya.

Ia mengingatkan tentang bahaya besar yang muncul bila manusia terjebak pada glorifikasi masa lalu dan menolak kenyataan perubahan. Sikap demikian, katanya, mencerminkan keangkuhan iblis yang merasa lebih mulia hanya karena lebih dulu diciptakan.

“Bahaya besar mengintai ketika seseorang lebih mengandalkan status, sejarah panjang, atau jasa masa lalu, lalu menutup mata terhadap perkembangan zaman. Itulah ciri penyakit iblis: menolak realita karena merasa lebih dulu, lebih senior, atau lebih mulia. Padahal, sikap semacam itu bisa menggugurkan seluruh amal dan pengabdian,” tegasnya.

Dalam bagian akhir catatannya, Ustadz Akib menekankan karakter seorang pemimpin sejati yang tidak berhenti belajar dan memperbaiki diri. Kepemimpinan, menurutnya, bukan sekadar soal posisi, tetapi tentang tanggung jawab untuk terus beradaptasi dengan perubahan agar tetap bermanfaat.

“Seorang pemimpin sejati adalah mereka yang memiliki rasa tanggung jawab, dan tak pernah berhenti memperbaiki diri. Ia tak larut dalam nostalgia masa lalu, tapi terus meng-upgrade kapasitas agar tetap relevan dan bisa memberi kontribusi terbaik di masa kini dan masa depan,” ujarnya menutup catatan hikmah tersebut.

Ustadz Akib menegaskan bahwa Islam menempatkan ilmu sebagai pondasi utama dalam membangun peradaban. Melalui pemahaman mendalam terhadap makna iqra’, manusia diingatkan agar tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca diri, alam, dan realitas sosialnya.[]

DPP Hidayatullah Minta Pemerintah Larang Atlet Israel Datang ke Indonesia

0

JAKARTA (Hiudayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan penolakan atas keikutsertaan atlet Israel dalam ajang olah raga internasional yang akan diselenggarakan di Indonesia. Penolakan ini disampaikan secara tegas oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq di Jakarta pada Kamis, 17 Rabi’ul Akhir 1447 (9/10/2025).

“Kami dengan tegas menolak rencana kehadiran atlet Israel ke Indonesia dengan alasan apapun. Mereka telah melakukan kebiadaban terhadap warga Gaza dan Palestina melalui penjajahan, perampasan wilayah, pembantaian, genosida, dan pelaparan hingga saat ini. Pemerintah dan seluruh elemen bangsa harus bersikap tegas menolak rencana kehadiran atlet Israel ke Indonesia,” jelas Nashirul.

Menurut Nashirul, Israel adalah negara penjajah. Bukti dan fakta hal tersebut sudah sangat nyata, baik dari catatan sejarah bagaimana mereka merebut wilayah Palestina, maupun kekejaman yang mereka lakukan kepada masyarakat Palestina hingga hari ini.

Di sisi lain, Indonesia secara tegas telah menyatakan dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945 bahwa segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena itu, menolak kedatangan atlet Israel telah sesuai dengan dasar negara, karakter bangsa, bahkan kehendak para pendahulu kita. “Penolakan ini merupakan sikap sesuai amanat konstitusi dan dilandasi panggilan keimanan dan kemanusiaan,” tegas Nashirul.

Lebih jauh Nashirul mengingatkan bahwa atlet Israel yang rencananya bakal datang ke Indonesia tidak sekadar membawa dirinya, namun juga membawa nama bangsa dan negaranya. Ia datang dengan membawa segala atributnya seperti bendera, lagu kebangsaan, dan simbol-simbol nasional lainnya.

“Jika kita menerima mereka, sama saja seperti kita telah mengakui Israel sebagai negara yang sah. Padahal, mereka masih menjajah Palestina dan kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan mereka,” tegas Nashirul.

Ia juga mengingatkan bahwa jika delegasi olah raga Israel benar-benar datang maka hal tersebut bakal melukai perasaan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Sebab, selama ini, masyarakat Indonesia sangat mendukung upaya Palestina membebaskan diri dari penjajahan Israel. Bentuk-bentuk dukungan tersebut sudah sangat jelas dari banyaknya aksi yang dilakukan, mulai dari penggalangan dana hingga aksi demo sebagai bentuk protes atas kekejaman Israel.

Sebetulnya, Indonesia memiliki rekam jejak yang panjang dalam upaya menolak partisipasi Israel di setiap ajang olah raga internasional. Mulai dari perhelatan SEA Games 1962 di mana Indonesia tidak mengundang atlet Israel, hingga tahun 2023 di mana Indonesia menolak keikutsertaan tim Israel dalam Piala Dunia U-20. Penolakan terakhir ini menyebabkan FIFA memindahkan lokasi pertandingan ke Argentina. (Mahladi/Biro Humas DPP Hidayatullah)

Wali Kota Rahmad Mas’ud Apresiasi Komitmen Hidayatullah Bentuk Generasi Berkarakter

0
Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas’ud menghadiri pernikahan mubarak santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Hidayatullah pada Sabtu, 4 Oktober 2025 (Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Suasana khidmat mewarnai acara pernikahan mubarak santriwan dan santriwati di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Sabtu, 12 Rabi’ul Akhir 1447 (4/10/2025).

Dalam momentum penuh makna tersebut, Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas’ud menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Hidayatullah yang dinilainya berperan besar dalam membentuk generasi bangsa yang berakhlak mulia dan tangguh.

“Atas nama Pemerintah Kota Balikpapan, saya menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Hidayatullah yang terus berkomitmen membina para santri, bukan hanya dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam membentuk akhlak dan karakter tangguh bagi masa depan bangsa,” ujar Rahmad.

Menurutnya, pendidikan pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun fondasi moral dan spiritual generasi muda. Ia menilai komitmen Hidayatullah tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu keislaman, melainkan juga pada pembentukan karakter yang siap menghadapi tantangan zaman.

Dalam kesempatan itu, Rahmad juga memberikan pesan khusus kepada 11 pasangan pengantin santri yang baru saja menikah. Ia menekankan pentingnya komunikasi dan kesabaran sebagai kunci utama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

“Satu kunci saya dalam menjalani pernikahan hingga saat ini dan selamanya adalah komunikasi yang baik,” ucapnya. “Laki-laki dan perempuan sudah ditakdirkan berbeda pandangan. Karena itu perlu kesabaran dan keimanan yang kuat, karena cobaan itu pasti ada,” tambahnya.

Rahmad berbicara tidak hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga berdasarkan pengalaman pribadi. Ia menuturkan bahwa selama 26 tahun membina rumah tangga bersama sang istri, perjalanan itu diwarnai suka dan duka yang dijalani dengan keikhlasan.

Pengalaman tersebut, kata Rahmad, menjadi bukti bahwa pernikahan membutuhkan kesungguhan dalam menjaga komitmen dan saling menghargai.

Lebih lanjut, Rahmad menegaskan bahwa pernikahan adalah sunnah Rasulullah SAW yang sangat mulia. Ia menggambarkan pernikahan bukan sekadar ikatan lahiriah, tetapi juga bentuk ibadah dan penyempurna separuh agama.

“Saya yakin dan percaya, pasangan-pasangan yang hari ini dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan akan menjadi keluarga yang taat dan melahirkan generasi Qur’ani,” ungkapnya di hadapan para hadirin.

Kepada para mempelai, Rahmad berpesan agar menjadikan rumah tangga sebagai tempat ibadah dan ladang pahala. Ia mengingatkan agar setiap pasangan senantiasa menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW sebagai pedoman hidup.

“Bagi mempelai pria, pelajarilah sifat Rasulullah dalam memimpin rumah tangga. Begitu juga mempelai wanita, teladanilah sifat istri Rasulullah agar tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah,” pesannya.

Acara pernikahan mubarak tersebut menjadi momen penting yang tidak hanya mempertemukan dua insan dalam ikatan suci, tetapi juga memperkuat nilai-nilai pendidikan karakter yang selama ini ditanamkan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Rahmad menutup sambutannya dengan doa agar seluruh pasangan diberkahi Allah SWT, dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah, serta menjadi keluarga yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

Pondok Tahfidz Putri Hidayatullah Polman Tekankan Implementasi Nilai Qur’an dalam Kehidupan

0

POLMAN (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal, tetapi harus berlanjut pada pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu disampaikan oleh Ketua Pondok Tahfidz Putri Hidayatullah Polman, Ali Imran, SH.I., dalam pelaksanaan ujian terbuka hafalan Al-Qur’an yang digelar di aula pondok yang berlokasi di Dusun Tibakan, Desa Basarang, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), pada Senin, 14 Rabi’ul Akhir 1447 (6/10/2025).

Menurut Ali Imran, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengukur kemampuan hafalan para santri, tetapi membentuk pribadi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

“Al-Qur’an tidak sekedar dibaca, dihafalkan, dan dipelajari kandungan maknanya, tetapi juga harus dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa semangat menghidupkan Al-Qur’an di tengah masyarakat menjadi misi utama pondok yang dipimpinnya.

Dalam pelaksanaan ujian terbuka tersebut, sebanyak sebelas santri mengikuti evaluasi hafalan untuk juz 1, 2, 3, 28, 29, dan 30. Proses ujian dimulai sejak pukul delapan pagi hingga sore hari.

Para peserta diuji langsung oleh tim penguji yang terdiri dari ustadzah-ustadzah pengampu tahfidz pondok tersebut. “Agar para santri bersemangat dan semakin cinta terhadap Al-Qur’an,” tutur Ali Imran menjelaskan semangat di balik penyelenggaraan kegiatan itu.

Selain menguji kemampuan hafalan, panitia juga melakukan evaluasi terhadap santriwati guna mengklasifikasikan peserta dalam halaqah Al-Qur’an.

Evaluasi ini dimaksudkan untuk memetakan kemampuan para penghafal agar pembinaan selanjutnya dapat berjalan lebih terarah dan sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.

Kabupaten Polewali Mandar sendiri, dengan jumlah penduduk sekitar 490.029 jiwa dan sekitar 98,5 persen di antaranya beragama Islam, menjadi lahan strategis untuk penguatan pendidikan Al-Qur’an di tingkat akar rumput. Dalam konteks ini, Pondok Tahfidz Putri Hidayatullah Polman berperan penting dalam melahirkan generasi penghafal yang tidak hanya fasih melafalkan ayat, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sosial.

Program penguatan pembelajaran Al-Qur’an juga tidak hanya difokuskan di pondok. Ali Imran menjelaskan bahwa pihaknya terus memperkuat jaringan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) di sejumlah kecamatan di wilayah Polman.

Upaya ini dilakukan agar masyarakat luas dapat lebih mudah mengakses pembelajaran Al-Qur’an tanpa harus menempuh jarak jauh ke pusat pondok. “Kami ingin pembelajaran Al-Qur’an bisa menjangkau masyarakat lebih luas, agar nilai-nilainya benar-benar hidup di tengah umat,” katanya.

Melalui ujian terbuka dan kegiatan pembinaan berkelanjutan, tambah Ali Imran, Pondok Tahfidz Putri Hidayatullah Polman menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi Qur’ani yang tidak hanya mencintai hafalan, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman moral dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.[]

Hidayatullah Gelar Pernikahan Mubarak, Wali Kota Balikpapan Beri Nasihat Berharga

0
Kolase foto suasana Pernikahan Mubarak 1447 H di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu, 12 Rabiul Akhir 1447 H (4/10/2025). [Foto: SKR/@AyoNikahMubarak]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana yang penuh kebahagiaan, Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud memberikan pesan mendalam kepada para pasangan pengantin baru dalam kegiatan walimatul urs di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Sabtu, 12 Rabi’ul Akhir 1447 (4/10/2025).

Ia menegaskan, rumah tangga yang baik akan terwujud jika dipimpin dengan teladan dari sosok yang ber-Qur’an, yakni Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

“Pelajari sifat Rasulullah,” pesannya singkat.

Dia menekankan, jika seseorang ingin menjadi pemimpin rumah tangga yang baik, maka contohlah sosok yang ber-Qur’an yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Pesan tersebut disampaikan dalam acara pernikahan massal bertajuk Pernikahan Mubarak 1447 H, yang mempertemukan 11 pasang santri dan santriwati dari berbagai daerah di Indonesia. Prosesi berlangsung khidmat di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Acara yang digelar pada 12 Rabiul Akhir 1447 H itu terbagi di dua lokasi. Untuk pengantin dan tamu putra dilaksanakan di Masjid Ar-Riyadh, sementara pengantin dan tamu putri ditempatkan secara terpisah di Masjid Nurul Mukhlisin. Meskipun hujan rintik-rintik sempat turun di kawasan Gunung Tembak, suasana tetap semarak dan penuh rasa syukur.

Kehadiran sejumlah tokoh turut menambah nilai spiritual dan kekhidmatan acara. Di antara yang hadir adalah Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Pengurus MUI Kota Balikpapan Ustadz Irwan Budiana, perwakilan Kepala Kantor Kemenag Balikpapan, serta lima penghulu dari berbagai Kantor Urusan Agama (KUA) perwakilan kecamatan se-Kota Balikpapan. Selain itu, turut hadir para pembimbing, pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH), warga, dan santri.

Pernikahan massal tersebut menjadi momen sakral bagi para santri yang telah menempuh proses panjang pembinaan di pesantren.

Masing-masing pasangan datang dari daerah yang berbeda, mencerminkan keberagaman yang menyatu dalam semangat dakwah dan pendidikan Islam. Salah satunya, Muhammad Syabab, pemuda asal Garut, Jawa Barat, yang menikahi Ainun Jariah, santriwati asal Tarakan, Kalimantan Utara.

Suasana bahagia terpancar dari wajah para pengantin yang mengenakan busana serba putih. Keluarga, pengasuh, dan sesama santri turut menyampaikan doa agar rumah tangga yang mereka bangun senantiasa dipenuhi keberkahan dan kasih sayang.*/

Sapa Santri Pesantren Hidayatullah, Wakapolda Bengkulu Ajak Bentengi Diri dari Pengaruh Negatif

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam menjaga masa depan generasi muda dari ancaman narkoba, judi online, dan pornografi. Ancaman tersebut tidak hanya merusak individu, tetapi juga berpotensi melemahkan ketahanan bangsa di masa depan.

Dalam semangat membangun keindonesiaan yang kuat dan berdaya, aparat kepolisian pun turun langsung ke tengah masyarakat, termasuk ke pondok pesantren yang menjadi benteng moral dan pendidikan.

Wakapolda Bengkulu Brigjen Pol. Dicky Sondani, S.I.K., M.H., hadir dalam program Police Goes to Pesantren di Pondok Pesantren Hidayatullah, Bengkulu, pada Jumat, 11 Rabi’ul Akhir 1447 (3/10/2025).

Kehadirannya disambut hangat oleh para santriwan dan santriwati yang memenuhi aula pesantren. Dengan gaya yang hangat, ia menekankan pentingnya membentengi diri dari bahaya yang dapat meruntuhkan harapan masa depan.

“Saya ingatkan adik-adik semua, jangan pernah mendekati narkoba, karena narkoba hanya akan menghancurkan masa depan dan merusak harapan keluarga,” ujar Brigjen Pol. Dicky Sondani dengan tegas. Pesannya menggaung di ruangan, menegaskan bahwa benteng diri yang paling kokoh harus dimulai dari kesadaran pribadi.

Tidak hanya narkoba, ia juga menyoroti fenomena judi online (judol) dan pornografi yang kian meresahkan. “Judi online bisa menimbulkan kecanduan, sementara film porno dapat merusak pola pikir dan memicu hawa nafsu. Jauhi semuanya agar kalian tetap fokus meraih cita-cita,” tambahnya.

Peringatan ini relevan dengan realitas sehari-hari, ketika gawai dan internet kerap menjadi pintu masuk ke jebakan digital yang menggerogoti moral generasi muda.

Acara tersebut turut dihadiri Kapolresta Bengkulu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Kasat Lantas, Kasat Intel, Kapolsek Teluk Segara, perwira remaja Polda Bengkulu, serta ratusan santri.

Kehangatan suasana semakin terasa ketika Wakapolda memperkenalkan kendaraan taktis Brimob serta kendaraan kepolisian lain kepada para santri. Tak sedikit yang terlihat antusias, bahkan menjadikannya inspirasi untuk kelak bergabung menjadi anggota Polri.

Brigjen Dicky juga mendorong santri untuk mengisi masa muda dengan hal positif. Ia mengajak mereka untuk rajin belajar, mengembangkan bakat, dan menyalurkan hobi ke arah yang bermanfaat. Menurutnya, cara terbaik menjaga diri dari pengaruh buruk adalah dengan mengisi hari-hari dengan aktivitas yang membangun.[]

Mindset Kewirausahaan Dorong Insan Menjadi Solusi dan Hadirkan Nilai Tambah

0

JAKARTA (Hiadyatullah.or.id) – Diskusi Kamisan yang digelar oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 10 Rabi’ul Akhir 1447 (2/10/2025) menghadirkan “Dakwah dan Kemandirian Finansial: Membangun Bisnis Tanpa Melupakan Misi”.

Dalam kesempatan itu, narasumber Mazz Reza Pranata menyampaikan pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan sebagai kunci menuju kemandirian, baik secara individu maupun organisasi.

Sejak awal pemaparannya, Mazz Reza menegaskan bahwa kemandirian dalam karir tidak dapat dilepaskan dari jiwa wirausaha. Ia menekankan bahwa membangun karir yang berkelanjutan menuntut adanya pola pikir kewirausahaan.

“Satu kaca kunci dalam membangun karir adalah entrepreneurship,” ungkap pengusaha muda ini.

Ia kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa kewirausahaan bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan cara berpikir. Menurutnya, pola pikir kewirausahaan menjadi fondasi utama untuk menghadapi tantangan dan menciptakan nilai tambah di tengah masyarakat.

Entrepreneurship is a mindset. Artinya, yang pertama diubah untuk menjadi entrepreneur adalah pola pikir untuk keluar dari masalah dan menciptakan nilai tambah,” jelas bos PT Indo Ananta Development ini.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kemampuan bersaing di era modern tidak mungkin dicapai tanpa keterampilan. Skil, menurutnya, adalah bagian integral dari kemandirian. Tanpa peningkatan kemampuan yang berkelanjutan, seseorang akan sulit menghadirkan solusi yang bernilai.

“Seorang yang ingin membangun kemandirian harus selalu berusaha meningkatkan skilnya, tanpa skil maka tidak akan bisa bersaing dan menciptakan nilai tambah,” tambahnya.

Mazz Reza juga menggarisbawahi bahwa mindset kewirausahaan tidak terbatas pada profesi tertentu. Ia menekankan bahwa semua kalangan, apapun bidangnya, membutuhkan pola pikir kewirausahaan untuk berkembang.

“Siapapun dan profesi apapun harus mempunyai mindset entrepreneurship,” tegasnya.

Menurutnya, perubahan pola pikir tidak bisa terjadi secara instan. Perlu pembiasaan sejak dini agar setiap individu terbiasa memandang masalah bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi.

Mindset merubah sikap itu tidak bisa tiba-tiba, ia harus diasah sejak dini untuk bagaimana kita menjadi solve problem. Kita harus menjadi bagian dari solusi,” papar Mazz Reza.

Ia melanjutkan bahwa setelah pola pikir kewirausahaan berhasil ditanamkan, langkah berikutnya adalah menghubungkannya dengan keterampilan dan kemampuan membaca peluang. Dia menegaskan, kewirausahaan bukan hanya tentang ide, tetapi juga tentang kemampuan memanfaatkan kesempatan yang ada.

“Setelah mindset berhasil di-install, lalu di-connecting dengan kemampuan kita, di samping kita harus cerdas membaca opportunity,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia memberikan contoh sederhana bagaimana melatih pola pikir kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setiap individu bisa memulai dari hal kecil dengan merefleksikan diri di awal hari.

“Cara pertama untuk memperbaiki mindset, yang paling sederhana adalah ketika setiap pagi ketika bangun selalu bertanya dalam diri apakah saya adalah bagian dari masalah atau sebagai solusi,” jelasnya.

Dalam konteks dakwah, Mazz Reza menekankan bahwa kader Hidayatullah memiliki tanggung jawab lebih besar untuk tampil sebagai agen solusi di tengah masyarakat. Potensi besar yang dimiliki organisasi, menurutnya, harus dioptimalkan untuk menghadirkan nilai tambah yang bermanfaat luas.

“Kader Hidayatullah mampu tampil menjadi solusi dan menghadirkan nilai tambah yang bermanfaat untuk masyarakat di mana ia berada. Potensi itu ada dan Hidayatullah saya kira bisa melakukan lebih dari apa yang ada sekarang untuk kebaikan umat dan bangsa,” tandasnya.

Diskusi yang berlangsung tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus motivasi bagi peserta untuk menata kembali cara pandang terhadap dakwah dan ekonomi. Mazz Reza menekankan bahwa kemandirian finansial bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen yang mendukung misi dakwah agar lebih luas manfaatnya bagi kehidupan.

Dengan menekankan pada pentingnya pola pikir kewirausahaan, peningkatan keterampilan, serta keberanian membaca peluang, Mazz Reza menutup pemaparannya dengan ajakan agar setiap kader tidak hanya berfokus pada tantangan, tetapi juga mampu hadir sebagai bagian dari solusi nyata.

Tindakan Israel pada Aktivis Kemanusiaan Global Sumud Flotilla Adalah Terorisme

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah menyatakan kecaman keras menyikapi peristiwa terbaru yang mengguncang dunia internasional mengenai pencegatan dan penangkapan lebih dari 200 aktivis kemanusiaan peserta misi Global Sumud Flotilla oleh militer Israel di perairan internasional.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, menegaskan bahwa tindakan Israel tersebut adalah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi.

“Apa yang dilakukan Israel merupakan tindakan biadab, pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, serta bentuk terorisme yang tidak bisa ditoleransi,” ujarnya dalam keterangannya diterima di Jakarta, Kamis, 10 Rabi’ul Akhir 1447(2/10/2025).

Flotilla kemanusiaan itu sejatinya membawa misi damaimengirimkan bantuan pangan dan obat-obatan ke Jalur Gaza. Namun, perjalanan mereka dihentikan secara paksa oleh angkatan laut Israel. Bagi Rasfiuddin, insiden ini bukan sekadar pelanggaran hukum laut internasional, melainkan simbol arogansi rezim yang menutup akses kemanusiaan.

“Menghadang kapal kemanusiaan di perairan internasional adalah bukti arogansi Israel. Mereka bukan hanya menutup akses bantuan untuk rakyat Gaza, tetapi juga mengkriminalisasi para pejuang kemanusiaan dunia. Ini jelas kejahatan kemanusiaan,” tegasnya.

Dalam keterangan lebih lanjut, ia menyebut bahwa tindakan Israel telah melabrak prinsip hak asasi manusia yang dijunjung tinggi oleh komunitas internasional. Para aktivis dari berbagai negara yang ditangkap tidak membawa senjata dan hanya menjalankan misi solidaritas.

“Israel dengan sengaja menggunakan kekuatan militer untuk menutup ruang kemanusiaan. Dunia tidak boleh diam. Jika aktivis internasional saja diperlakukan seperti ini, bagaimana nasib warga Gaza yang setiap hari hidup dalam kepungan blokade,” lanjut Rasfiuddin.

PP Pemuda Hidayatullah pun menyerukan serangkaian sikap. Pertama, mendesak komunitas internasional, khususnya PBB, Uni Eropa, OKI, dan ASEAN agar segera menekan Israel untuk membebaskan seluruh aktivis yang ditahan.

Kedua, mengingatkan negara-negara sahabat agar tidak berhenti bersuara lantang membela nilai-nilai kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk normalisasi dengan rezim penjajah. Ketiga, mengajak kaum muda Indonesia untuk menggalang solidaritas, doa, dan aksi nyata mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Sebagai organisasi pemuda Islam, Pemuda Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk tetap berada di garda terdepan dalam membela nilai-nilai kemanusiaan. Rasfiuddin mengingatkan bahwa Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan amanah sejarah dan agenda kemanusiaan global.

“Palestina adalah amanah sejarah dan isu kemanusiaan global. Israel harus dihadapkan pada hukum internasional atas kejahatan yang terus mereka lakukan. Diam sama artinya dengan menjadi bagian dari kezaliman,” pungkasnya.

[KHUTBAH JUM’AT] Menjadi Sahabat di Dunia dan Sahabat di Syurga

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di dalam surat Ash-Shaffat ayat 50, Allah SWT menceritakan sebuah situasi yang terjadi pada penduduk syurga ketika mereka berbincang satu sama lain:

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

“Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap”

Lalu salah seorang di antara penduduk syurga ini berkata:

قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَانَ لِيْ قَرِيْنٌۙ

“Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman.”

Perhatikan ayat ini. Salah seorang penduduk syurga menceritakan bahwa ia pernah memiliki seorang teman, bahkan teman dekat, dengan penggunaan diksi قَرِيْنٌۙ yang juga berarti sahabat.

Kemudian Allah melanjutkan pada ayat 52:

يَّقُوْلُ اَءِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ

“Yang berkata, “Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari kebangkitan)?”

Sayangnya, sahabat yang diceritakan oleh salah satu penghuni syurga ini selalu menanyakan hal-hal yang menggugat akidah. Ia bertanya, apakah temannya benar-benar meyakini adanya hari kebangkitan?

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ ۝٥٣

“Apabila kami telah mati (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar (akan dibangkitkan untuk) diberi balasan?”

Pertanyaan ini sesungguhnya bukan sekadar butuh jawaban, tetapi merupakan perang pemikiran (ghazwul fikr) untuk memengaruhi temannya ketika masih di dunia.

Ia selalu merongrong dengan pertanyaan-pertanyaan anti ketuhanan yang bertentangan dengan keyakinan orang beriman.

Dalam bahasa kita hari ini, sahabat dunia tersebut selalu mengajak untuk mengingkari Tuhan.

Saat hendak salat, ia ajak sibuk dengan urusan duniawi; ketika ingin mengikuti majelis taklim, ia bujuk agar memilih kesenangan lain. Setiap interaksi, ia berusaha menjauhkan dari mengingat Allah SWT.

Ikhwani kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Penghuni syurga itu lalu bertanya kepada orang-orang di sekitarnya:

قَالَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ ۝٥٤

Dia berkata, “Maukah kamu menengok (temanku itu)?”

Mereka lalu beramai-ramai mencari di mana sahabat dunia si penghuni syurga itu.

فَاطَّلَعَ فَرَاٰهُ فِيْ سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِ ۝٥٥

“Maka dia menengoknya. Lalu dia melihat (temannya) itu di tengah-tengah (neraka) Jahim”

Ternyata sahabatnya berada di dalam neraka Jahim, menerima siksa akibat keyakinan yang ia anut di dunia.

قَالَ تَاللّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَتُرْدِيْنِۙ ۝٥٦

Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.”

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ ۝٥٧

“Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)”

Penghuni syurga itu lalu bersyukur, karena atas nikmat petunjuk dari Allah, ia mampu bertahan dari rayuan sahabatnya di dunia. Seandainya ia menuruti, niscaya ikut terjerumus ke dalam api neraka.

Ikhwani kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Situasi di atas mengingatkan kita agar berhati-hati dalam memilih sahabat. Sahabat sejati adalah yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Sebaliknya, sahabat yang buruk adalah yang justru menghalangi kita dari jalan-Nya.

Indikator sederhana bisa kita lihat: ketika sedang berbincang, berolahraga, atau memancing bersama, lalu adzan berkumandang, apakah kita mudah bergegas menunaikan salat, atau justru merasa berat meninggalkan aktivitas duniawi itu?

Hasan al-Bashri rahimahullah menafsirkan keadaan sahabat penghuni neraka dengan mengutip ayat Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 100–101:

فَمَا لَنَا مِنْ شٰفِعِيْنَۙ ۝١٠٠

“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat (penolong)”

وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ ۝١٠١

“Dan tidak pula mempunyai teman akrab”

Mereka menyesal karena tidak memiliki sahabat yang mampu menyelamatkan dari siksa api neraka.

Inilah pentingnya memiliki sahabat yang bukan hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga memberi syafaat di akhirat.

Sahabat yang mengulurkan tangan saat kita ditimpa musibah, memberi bantuan saat kesulitan ekonomi, atau mengingatkan kita agar segera bertaubat ketika tergelincir dalam maksiat.

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa makna sahabat adalah: Fid-dunya yanfa‘, wa fil-akhirati yasyfa‘, “Di dunia memberi manfaat, dan di akhirat memberi syafaat”.

Ikhwani kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Kata sahabat dalam Al-Qur’an menggambarkan keakraban yang sangat dekat. Sampai-sampai istilah ini digunakan untuk memperlakukan orang tua dengan baik:

وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”

Kata sahabat juga dipakai untuk istri atau pasangan:

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ۝٣٦

“Serta (dari) istri dan anak-anaknya”

Rasulullah SAW memberi teladan persahabatan bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Saat turun perintah hijrah, Abu Bakar bertanya: Fas suhbah yaa Rasulallah? (Bagaimana dengan sahabatmu ini, ya Rasulullah?). Rasulullah menjawab: Was suhbah yaa Aba Bakr (Engkau akan menemaniku).

Mendengar hal itu, Abu Bakar menangis terharu. Ia bahagia bisa menemani perjalanan hijrah, meski penuh risiko dan ancaman nyawa.

Persahabatan itu kembali dipertegas ketika mereka bersembunyi di Gua Tsur, sementara pasukan Quraisy berada tepat di depan pintu gua.

اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

Ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Inilah persahabatan sejati: sahabat yang meyakinkan kita bahwa apa pun ujian kehidupan, sesungguhnya اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ (Allah bersama kita). Persahabatan yang bukan hanya indah di dunia, tetapi juga abadi hingga ke syurga.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)