Beranda blog Halaman 88

Dolan Bareng dan Mabit Pemuda Bekal Soliditas Menuju Munas Hidayatullah

0

NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Ngawi menggelar kegiatan kebersamaan yang dikemas dalam bentuk Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) serta Dolan Bareng pada 12-13 Rabi’ul Awal 1447 (5–6/9/2025).

Acara tersebut bukan sekadar ajang rekreasi, melainkan wadah memperkuat ikatan persaudaraan antar kader sekaligus menyiapkan diri menyongsong agenda nasional organisasi. Ketua panitia, Muhammad Fadlillah, menegaskan bahwa esensi kegiatan ini terletak pada kebersamaan.

“Dolan bareng ini mengajarkan arti memegang erat tali ukhuwah dan menyatukan hati antar kader Hidayatullah Ngawi agar semakin solid dalam kegiatan kelembagaan, serta untuk bersiap menyongsong Munas keenam Hidayatullah. Semoga semangat kebersamaan ini terbawa hingga pelaksanaan Munas,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat malam, 5 September 2025, di Kampus 1 Hidayatullah Ngawi. Peserta terdiri atas 20 kader dari berbagai unit amal usaha, meliputi pengurus yayasan, kepala sekolah, guru, hingga karyawan lembaga.

Dengan dukungan penuh dari Pengurus DPD Hidayatullah Ngawi, malam pertama diisi dengan wirid, tausiyah, dan diskusi program kelembagaan. Salah satu hasil diskusi adalah rihlah kebersamaan bertajuk Dolan Bareng.

Usai berdiskusi, para peserta beristirahat dan bangun kembali pada pukul 01.30 WIB untuk menunaikan shalat tahajud. Tepat pukul 02.00 WIB, rombongan bertolak menuju Yogyakarta dengan penuh semangat.

Pantai Sadranan di Gunung Kidul menjadi tujuan pertama. Gelombang laut yang besar tidak menyurutkan antusiasme peserta. Mereka bermain air, berlari dikejar ombak, dan saling bercanda, sehingga suasana penuh keakraban tercipta.

Dengan terselenggaranya Mabit dan Dolan Bareng ini, Pemuda Hidayatullah Ngawi berharap terwujud kader yang kokoh dalam iman, solid dalam kerja kelembagaan, serta siap memberi kontribusi dalam skala nasional.

“Agenda ini sebagai langkah penting membangun solidaritas kader menjelang Musyawarah Nasional VI Hidayatullah,” kata Muhammad.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Hutan Pinus Mangunan, Bantul. Suasana sejuk di bawah pepohonan menjadi tempat yang ideal untuk mempererat kebersamaan.

Duduk bersama sambil menikmati kopi, para kader berbagi cerita tentang pengalaman sehari-hari di unit kerja masing-masing. Kehangatan inilah yang diyakini akan menjadi modal penting menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah.

Menjelang malam, rombongan singgah di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Meski lelah mulai terasa, mereka tetap bersemangat menikmati suasana kota.

Berjalan bersama di sepanjang jalan ikonik tersebut, mencicipi kuliner khas seperti wedang ronde dan sate kaki lima, menjadi penutup perjalanan.

Momen sederhana itu meneguhkan tekad untuk menjaga kebersamaan di tengah dinamika aktivitas kelembagaan.

Ketua DPD Hidayatullah Ngawi, Maskur Hidayat, yang turut mendampingi rombongan, menilai kegiatan ini sebagai ruang silaturahmi yang akan terus dikembangkan.

Dalam suasana penuh semangat kebersamaan, seluruh kader berkolaborasi menggelar kegiatan rihlah dan rekreasi bersama.

“Momen ini menjadi ruang untuk melebur batas-batas formalitas, menguatkan silaturahmi, serta merajut ukhuwah yang hangat dalam suasana santai dan rileks,” katanya.

Bimtek Literasi Al-Qur’an Perkuat Peran Guru Pendidikan Agama Islam

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menjadi pusat penyelenggaraan Bimbingan Teknis Literasi Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG-PAI) Kecamatan Mulyorejo dan Tambaksari pada Kamis, 11 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Kegiatan ini berlangsung di Aula Rahmad Rahman dan dihadiri oleh 70 guru PAI dari dua kecamatan tersebut.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat kapasitas guru dalam memahami, mengajarkan, dan menginternalisasikan nilai-nilai Al-Qur’an secara kontekstual di dunia pendidikan.

Para guru diharapkan mampu menjadikan Al-Qur’an tidak hanya sebagai materi ajar, tetapi juga sebagai panduan dalam membangun karakter dan akhlak peserta didik.

Dalam forum tersebut, Pengawas PAI Kota Surabaya, Ustadz Didik Purwanto, M.Pd., memberikan pengarahan yang menekankan pentingnya integritas seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an.

Didik memaparkan, guru PAI tidak hanya dituntut mengajar dengan baik, tetapi juga dengan benar. Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an akan dimuliakan oleh Allah.

“Maka, tugas kita adalah menjaga kemurnian ajarannya sekaligus menghadirkannya dengan metode yang relevan bagi anak didik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kualitas pengajaran tidak semata ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan guru menghadirkan nilai keotentikan Al-Qur’an sesuai tuntutan zaman.

Sebagai penyelenggara sekaligus tuan rumah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya memandang kegiatan ini sebagai bagian dari sinergi yang produktif antara lembaga pendidikan Islam dan tenaga pendidik di Surabaya.

Komitmen tersebut disampaikan dalam bentuk dukungan penuh terhadap kolaborasi yang memperkuat literasi Al-Qur’an di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

“Melalui kesempatan ini, Hidayatullah Surabaya juga menegaskan visi besarnya untuk menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi Qur’ani,” kata Ketua Yayasan Hidayatullah Surabaya, Ust. H. Syamsuddin, dalam keterangannya.

Upaya tersebut, jelas dia, diwujudkan melalui program-program yang mengedepankan penguatan literasi, praktik pengamalan, serta pembangunan karakter berbasis nilai Al-Qur’an.

Dengan demikian, tambahnya, kegiatan bimbingan teknis ini bukan hanya sebatas forum pelatihan, tetapi juga momentum untuk memperkokoh peran guru PAI dalam menjaga kesinambungan pendidikan Islami di Kota Surabaya.

Mushida Baubau Gelar Berbagi Hijab Gratis pada Hari Solidaritas Jilbab 2025

0
Foto: Noer Akbar/ Hidayatullah.or.id

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan kegiatan sosial berupa pembagian hijab gratis kepada masyarakat. Aksi ini menjadi bagian dari peringatan Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia (HSJD) atau International Hijab Solidarity Day (IHSD).

Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia pertama kali digagas pada 4 September 2013. Momentum tersebut lahir sebagai bentuk penolakan terhadap pelarangan penggunaan hijab di sejumlah negara, khususnya di kawasan Barat.

Sejak saat itu, HSJD diperingati setiap tahun oleh komunitas muslim internasional sebagai wujud dukungan atas kebebasan perempuan muslimah dalam mengenakan hijab.

Dalam konteks global, HSJD kerap ditandai dengan berbagai bentuk kegiatan. Masyarakat internasional menggunakan media sosial untuk menyebarkan poster, twibbon, maupun pesan-pesan solidaritas.

Selain itu, forum diskusi dan kegiatan edukatif di sekolah dan universitas digelar untuk memperluas pemahaman tentang isu hak asasi manusia, kebebasan beragama, serta pentingnya toleransi dalam penggunaan simbol-simbol keagamaan.

Di Kota Baubau, Mushida menjadikan momen ini sebagai sarana berbagi. Kegiatan berlangsung di dua lokasi, yaitu Kelurahan Kadolokatapi, Kecamatan Wolio, dan Kelurahan Kampeonaho, Kecamatan Bungi.

Acara ini turut didukung oleh Yayasan Pesantren Hidayatullah Baubau, wali santri, serta donatur Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Baubau.

Ketua PD Mushida Kota Baubau, Ustadzah Hamsiah Kholidah, S.HI., menjelaskan bahwa pembagian hijab telah menjadi agenda rutin organisasi.

“Syukur alhamdulillah… tahun ini merupakan tahun ke tiga pelaksanaan IHSD di Kota Baubau dan dari hasil donasi berbagai pihak kali ini terkumpul 100 paket hijab yang berisi jilbab, gamis, dan sepasang kaos kaki,” kata Hamsiah dalam keterangannya, Senin, 15 Rabi’ul Awal 1447 (8/9/2025).

Paket-paket tersebut dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama kaum perempuan muslimah. Salah seorang penerima manfaat, Nenek Fifi, menyampaikan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada ibu-ibu Mushida, hari ini kami dapat jilbab gratis yang bisa dipakai untuk kegiatan majelis taklim. Semoga dimurahkan rezeki dan berkah selalu,” ucapnya.

Tidak hanya berhenti pada pembagian hijab, acara juga dirangkaikan dengan program rutin Departemen Sosial Mushida, yaitu Sedekah Jum’at. Pada kesempatan tersebut, masyarakat menerima bantuan berupa sembako dan makanan siap saji.

Kegiatan sosial ini dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya mendukung kebebasan beragama. Hijab dipandang tidak semata simbol pakaian, tetapi juga representasi identitas dan ekspresi keagamaan.

Melalui kegiatan ini, terang Hamsiah, Mushida berharap tercipta pemahaman kolektif tentang pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan muslimah untuk mengenakan hijab tanpa diskriminasi.

“Dengan demikian, peringatan Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia 2025 di Baubau berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksi sosial yang langsung menyentuh kebutuhan warga,” tukasnya memungkasi.

Kejujuran dan Keberanian Warisan Nabi untuk Generasi Harapan Bangsa

0
Foto: Muhammad Zuhri Fadhlullah/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kejujuran menjadi pondasi yang tak tergantikan dalam kepemimpinan. Amanah itu, menurut Ust. H. Zainuddin Musaddad, M.A., adalah titipan agung yang tidak mampu dipikul oleh langit, bumi, dan gunung, namun disanggupi oleh manusia.

“Kejujuran menjadi amanah yang harus dijaga, sebab manusia ditugaskan memikul amanah yang ditolak langit, bumi, dan gunung. Dengan kejujuran, lahirlah generasi jawaban dan harapan bagi bangsa,” kata pria yang karib disapa Abah Zain ini.

Abah Zain menyampaikan refleksi itu dalam ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jakarta, Jl. Ampera Raya, Jakarta Selatan, Sabtu, 13 Rabi’ul Awal 1447 (6/9/2025).

Acara ini mengangkat tema “Spirit Maulid Nabi Muhammad SAW: Kejujuran & Keberanian” dan dihadiri oleh seluruh civitas akademika. Kegiatan juga dirangkai dengan pergantian Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Atta’lim Kampus IPDN.

Abah Zain membuka ceramah dengan menekankan pentingnya sholawat sebagai energi spiritual. Menurutnya, sholawat menghadirkan ketenangan, mengurangi stres, serta menjadikan ibadah, interaksi sosial, dan kehidupan keluarga terasa lebih nikmat.

“Sholawat adalah sumber energi yang menumbuhkan cinta kepada sunnah Rasulullah,” jelasnya.

Ia kemudian menguraikan teladan para sahabat Nabi sebagai contoh kejujuran yang membentuk pribadi mulia. Bilal bin Rabah, misalnya, dari seorang budak miskin dipercaya menjadi gubernur Mesir.

“Bilal membangun masyarakat dengan kejujuran,” ucapnya. Teladan lain adalah Saad al-Anshari, sahabat miskin yang diutus ke Suriah dan dikenal dengan gelar nuruz zaman atau cahaya zaman.

Kejujuran juga mengubah Umar bin Khattab dari pribadi keras menjadi sahabat mulia setelah tersentuh ayat Al-Qur’an.

Sedangkan Umar bin Abdul Aziz, hanya dalam tiga tahun kepemimpinan, berhasil membersihkan praktik korupsi dan menegakkan keadilan. “Semua itu berkat keberanian dan kejujuran,” tambahnya.

Menurut Abah Zain, kejujuran adalah pondasi yang lebih utama daripada kecerdasan. Kebiasaan sederhana untuk tidak berbohong, lanjutnya, akan membentuk pribadi yang berani, berwibawa, dan penuh berkah.

Foto: Muhammad Zuhri Fadhlullah/ Hidayatullah.or.id

Tanpa kejujuran, tegasnya, kepintaran justru dapat menjadi bencana. “Seribu orang pintar tidak berarti jika tanpa kejujuran,” terang Abah Zain yang juga Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah ini.

Pada kesempatan itu pesan khusus disampaikan kepada mahasiswa dan generasi muda agar tidak hanya berfokus pada kepintaran.

Ia menekankan bahwa kejujuran adalah energi yang menghidupkan, sementara keberanian adalah kekuatan yang menggerakkan. Pemimpin sejati, tegasnya, lahir dari kejujuran, bukan dari kepintaran semata.

“Jadilah generasi jujur dan berani, bukan hanya pintar,” pesannya.

Taushiyah Maulid Nabi tersebut ditutup Abah Zain dengan doa dan harapan agar Indonesia melahirkan pemimpin-pemimpin yang jujur dan berani.

Ia menegaskan, peringatan Maulid Nabi di IPDN ini tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga pengingat pentingnya nilai kejujuran dan keberanian sebagai dasar membangun bangsa serta relevan dalam membentuk generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dengan integritas dan keberanian moral.

“Warisan terbesar Rasulullah SAW adalah kejujuran. Kejujuran yang dipadukan dengan keberanian akan melahirkan pemimpin yang adil, berwibawa, dan membawa keberkahan,” pungkasnya.

Audit Halal di Empat Kota Korea, LPH Hidayatullah Tegaskan Peran Strategis

0

KOREA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah memperluas kiprahnya di tingkat internasional melalui rangkaian pemeriksaan halal di Korea Selatan. Langkah in didukung oleh peran HIDAKO sebagai jembatan komunikasi dan budaya.

Kehadiran keduanya memfasilitasi koordinasi hingga penyesuaian regulasi antarnegara. Inisiatif ini menegaskan peran strategis Indonesia dalam ekosistem halal dunia.

Selama empat hari, 1–4 September, tim melakukan audit di empat lokasi berbeda yaitu Seosan, Gimcheon, Nonsan, dan Hongcheon.

Kegiatan ini melibatkan pelaku usaha internasional untuk memastikan pemenuhan standar halal yang diakui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) maupun standar halal global.

Pemeriksaan dilakukan auditor senior LPH Hidayatullah, Gunardi Indrawan, dengan kehadiran Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal Thamrin, serta perwakilan resmi LPH Hidayatullah di Korea, HIDAKO (Hidayatullah Korea), Mr. Kangjae Lee. Sinergi lintas negara ini disebut sebagai bukti penting dalam membangun kepercayaan dunia terhadap produk halal.

Proses pemeriksaan mencakup pengecekan bahan baku, alur produksi, serta kelengkapan dokumen halal.

Dalam keterangannya, Muhammad Faisal menjelaskan, pemeriksaan di Korea ini merupakan bagian dari upaya LPH Hidayatullah untuk memperluas jaringan global dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat sertifikasi halal yang terpercaya.

“Kami ingin memastikan bahwa produk yang memasuki pasar halal Indonesia memiliki kualitas terbaik dan memenuhi standar yang berlaku,” kata Faisal.

Dukungan senada datang dari HIDAKO. Menurut Mr. Kangjae Lee, kerja sama dengan LPH Hidayatullah memberikan keyakinan tambahan bagi pelaku usaha Korea bahwa produk mereka telah memenuhi standar halal internasional.

“Kehadiran tim auditor dan pemeriksaan langsung ini memperkuat kepercayaan konsumen global terhadap kualitas produk,” ujar Mr. Kangjae Lee.

Gunardi Indrawan menambahkan apresiasi terhadap kesiapan pelaku usaha di Korea. Menurutnya, perusahaan-perusahaan di Korea menunjukkan kesigapan luar biasa dalam menyiapkan seluruh bahan, proses produksi, dan dokumen pendukung.

“Hal ini memudahkan tim kami memastikan terpenuhinya standar halal internasional,” ujarnya.

Pesantren Hidayatullah Sambut Hangat Kehadiran Kepala Kejaksaan Negeri Muaro Jambi

0

MUARO JAMBI (Hidayatullah.or.id) — Kejaksaan Negeri Muaro Jambi melaksanakan kegiatan bakti sosial di Pondok Pesantren Hidayatullah, sebuah agenda yang bertujuan mempererat hubungan silaturahmi antara institusi penegak hukum dan lembaga pendidikan keagamaan, Kamis, 12 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Muaro Jambi, Heru Anggoro, S.H., M.H., beserta istri dan jajaran pegawai kejaksaan. Turut hadir pula Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jambi, Ustaz Arif Abidin, yang menyambut rombongan dengan penuh kehangatan.

Dalam sambutannya, Heru Anggoro menekankan pentingnya hubungan berkesinambungan antara lembaga pesantren dengan kejaksaan. “Semoga terjalin silaturahmi yang berkelanjutan antara pesantren dan kejaksaan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan dorongan moral kepada para santri agar terus mengembangkan diri melalui pendidikan.

“Kami berharap para santri lebih giat dalam belajar, sehingga kelak mampu menjadi generasi yang berkontribusi positif bagi bangsa,” tambahnya.

Sementara itu, Ustaz Arif Abidin menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan Kejaksaan Negeri Muaro Jambi. Ia menegaskan bahwa kehadiran aparat negara di tengah-tengah santri memberikan semangat tersendiri bagi mereka.

“Kami berterima kasih atas kehadiran Bapak Kepala Kejaksaan Negeri Muaro Jambi beserta rombongan yang juga meluangkan waktu menyapa para santri binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Jambi,” ujarnya, dikutip laman Hidayatullahjambi.com.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Arif juga menyampaikan doa untuk keluarga besar Kejaksaan Negeri Muaro Jambi.

“Semoga keluarga Kejaksaan Negeri Jambi senantiasa dalam kesehatan, keberkahan, serta selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah dalam setiap menjalankan tugas sebagai abdi negara,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan bakti sosial ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh seluruh peserta. Sebagai wujud nyata kepedulian sosial, rombongan Kejaksaan Negeri Muaro Jambi menyerahkan sembako dan bingkisan kepada para santri. Penyerahan ini menjadi simbol perhatian sekaligus penguatan nilai kebersamaan antara masyarakat pesantren dan institusi kejaksaan.

Melalui agenda ini, kedua pihak menegaskan komitmen pentingnya membangun jembatan silaturahmi antara lembaga negara dan lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Keharmonisan tersebut diyakini dapat memberikan dampak positif dalam pembinaan generasi muda yang berkarakter dan berdaya saing.

Kerja Sama Hidayatullah–Korea Teguhkan Indonesia sebagai Pusat Halal Global

0

SEOUL (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah dan HIDAKO (Hidayatullah Korea) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah strategis memperkuat layanan pemeriksaan halal bagi produk-produk asal Korea yang diperjualbelikan di Indonesia, Kamis, 11 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, dan Direktur HIDAKO, Kangjae Lee, yang menegaskan komitmen bersama mendukung peningkatan jaminan produk halal di Indonesia.

Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, menekankan bahwa kerja sama ini menjadi jembatan penting dalam memastikan produk Korea memenuhi standar halal yang ditetapkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

“Produk Korea saat ini semakin diminati masyarakat Indonesia, mulai dari makanan, minuman, hingga kosmetik. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan kepastian halal kepada konsumen Muslim di Indonesia sehingga mereka merasa aman dan tenang,” ujarnya.

Direktur HIDAKO, Kangjae Lee, menyatakan MoU ini membuka peluang besar bagi produsen Korea untuk lebih mudah memasuki pasar Indonesia dengan nilai tambah berupa sertifikasi halal.

“Kami siap mendampingi produsen Korea dalam proses sertifikasi halal bersama LPH Hidayatullah. Dengan begitu, produk Korea dapat lebih dipercaya dan diterima oleh konsumen Indonesia,” jelasnya.

Salah satu poin penting kerja sama ini adalah keberadaan HIDAKO sebagai perwakilan resmi di Korea.

Lembaga tersebut berperan sebagai jembatan komunikasi antara produsen Korea dan LPH Hidayatullah, sehingga mampu mempercepat pelayanan serta meminimalisir kendala bahasa maupun budaya dalam proses sertifikasi halal.

Penandatanganan MoU ini juga sejalan dengan misi besar LPH Hidayatullah dalam mendukung target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat halal global. Melalui kerja sama internasional ini, Indonesia diharapkan semakin kuat sebagai rujukan utama dalam ekosistem halal dunia.

Sedekah Pohon dan Musyawarah Dai Terima Dukungan Donasi Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyalurkan bantuan donasi untuk dua program strategis sekaligus, yakni Sedekah Pohon dan Musyawarah Dai. Total dana yang terkumpul mencapai Rp83 juta hingga 3 September 2025 melalui kanal crowdfunding berbagikebaikan.or.id. Penyerahan simbolis dilakukan di Jakarta pada Kamis, 12 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Kepala Humas BMH Pusat, Mas Imam Nawawi, menyatakan bahwa dukungan masyarakat terhadap program ini memiliki arti penting bagi keberlanjutan dakwah dan kelestarian lingkungan.

“Tentu kita berharap bantuan ini bisa mendorong gerakan hijaukan bumi dan kuatkan dakwah di seluruh Nusantara,” ujarnya.

Program Sedekah Pohon dirancang sebagai langkah nyata dalam merespons isu lingkungan. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penghijauan kembali lahan-lahan gersang, tetapi juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian alam.

Selain itu, Musyawarah Dai diarahkan untuk memperkuat peran para dai di tengah masyarakat. Kehadiran dai dinilai strategis dalam membangun kesadaran umat, baik di bidang spiritualitas maupun sosial.

Sekretaris Panitia Musyawarah Nasional Hidayatullah, Adam Sukiman Langgu, mengapresiasi dukungan donatur.

“Terimakasih kepada segenap orang baik, para dermawan dan donatur. Donasi ini akan menjadi penguat aliran kebaikan di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Dengan adanya sinergi ini, program penghijauan dan penguatan dakwah diharapkan dapat terus berkembang. Dukungan masyarakat melalui donasi terbukti menjadi modal penting untuk menciptakan perubahan positif dan berkelanjutan.

Kolaborasi Keumatan Hidayatullah dan PLN Rencanakan Program Pemberdayaan

Foto: Sumaryadi/ Hidayatullahsulsel.or.id

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan melakukan pertemuan resmi dengan General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar), Ediansyah, di kantor PLN UID Sulselrabar, Makassar, Selasa, 9 Rabi’ul Awal 1447 (2/9/2025).

Pertemuan tersebut juga dihadiri Ketua YBM UID Sulselrabar dan Manager Unit Pelaksana Proyek Kelistrikan (UP2K) Sulselrabar.

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua lembaga untuk membangun kolaborasi yang berfokus pada peningkatan kualitas layanan masyarakat dan penguatan program keumatan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Nasri Bohari, menjelaskan bahwa audiensi ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama dalam program-program keumatan.

Dengan langkah awal ini, lanjut Nasri, diharapkan tercipta model kerja sama antara organisasi keagamaan dan institusi publik yang dapat diikuti di wilayah lain.

“Kami berharap dapat bersinergi dengan PLN, khususnya dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan sumber daya manusia,” ujarnya seperti dinukil dari laman resmi DPW Sulsel.

Ediansyah, GM PLN UID Sulselrabar, menyambut positif niat kerja sama tersebut. Ia mengungkapkan pengenalannya terhadap kiprah Hidayatullah telah berlangsung lama.

“Saya lahir di Balikpapan dan pernah menjadi pembaca setia majalah Hidayatullah. Saya sangat mengapresiasi kontribusi Hidayatullah, terutama dalam bidang dakwah di wilayah 3T,” kata Ediansyah.

Dalam rangka memastikan kelancaran kolaborasi, Ediansyah menghadirkan Ketua YBM UID Sulselrabar serta Manager UP2K. Ia menegaskan pentingnya membahas langkah konkret yang bisa dijalankan bersama.

“Kami ingin langsung membicarakan apa saja yang dapat kita kolaborasikan bersama, terutama untuk mendukung program keumatan,” jelasnya.

Diskusi antara kedua pihak menyoroti salah satu isu penting, yakni kebutuhan akses listrik di sejumlah cabang Hidayatullah yang belum teraliri listrik.

Menyikapi hal tersebut, Ediansyah menawarkan solusi pemanfaatan energi terbarukan. “PLN dapat menyediakan opsi solar panel dengan kapasitas minimum 900 KWh untuk menopang kebutuhan listrik di cabang-cabang tersebut,” ujarnya.

Pertemuan ini menghasilkan kesepahaman awal untuk menindaklanjuti kemitraan konkret. Bentuk kerja sama yang direncanakan mencakup dukungan terhadap program dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Kesepakatan ini menunjukkan komitmen kedua lembaga untuk menciptakan sinergi yang bermanfaat bagi publik.

Rombongan DPW Hidayatullah Sulsel yang hadir terdiri dari Ketua Ustadz Nasri Bohari, Sekretaris Ustadz Sumariadi, Bendahara Ustadz Kadir, perwakilan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ustadz Khairun, serta Ketua Departemen Perkaderan Ustadz Nashrullah.

Iri dan Dengki Penyakit Hati yang Hancurkan Amal Manusia

0

DARI Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اِياَّ كُم وَالحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَاْ كُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاْ كُلُ النَّارُ الحَطَبَ

“Jauhilah kalian akan hasad, karena sesungguhnya hasad itu bisa memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” (dalam lafadz lain: sebagaimana api membakar rumput kering) (HR. Abu Dawud).

Hasad atau dengki adalah dosa pertama kali yang terjadi pada kehidupan jin dan manusia. Awal ketika itu, Iblis diperintah Allah agar sujud kepada Adam.

Namun kedengkiannya mencegah dia mentaati perintah Allah karena menganggap dirinya yang tercipta dari api lebih mulia daripada Adam yang tercipta dari tanah.

Padahal yang benar; tanah lebih baik daripada api. Tanah adalah medium utama kehidupan makhluk. Kehidupan hewani dan nabati sangat bergantung darinya.

Tanah tempat munculnya mata air, tumbuhnya tanaman, tersedianya makanan binatang, dan tempat resapan kotoran. Semua berawal dari tanah dan kembali menjadi tanah. Tanah jelas lebih baik bahkan mahal, sedangkan api kadang bahaya, kadang gratis.

Pada awal kehidupan manusia, kejahatan pembunuhan yang dilakukan Qobil putra Adam alaihissalam terhadap Habil karena iri.

Qobil iri pada Habil yang istrinya lebih cantik dan persembahan qurbannya selalu diterima Allah.

Kasus kriminalitas awal timbul dari sifat iri. Maka perilaku hasad Iblis menjadi awal sumber fitnah dan kejahatan di kalangan manusia berikutnya. Siapa yang suka iri berarti persis Iblis.

Kaum yang dikenal pendengki sejak dulu hingga kini adalah Yahudi. Mereka iri karena Nabi akhir tidak dari Bani Isroil, tetapi dari Arab. Kedengkian mereka melahirkan dendam yang sulit padam.

Mereka iri melihat kaum muslimin mendapatkan hidayah, tunduk pada syari’at, sehingga enggan menerima dakwah Islam.

Sebaliknya, mereka membantai muslimin di Palestina, Afganistan, Iraq, dan lainnya, ingin menghilangkan keimanan dari dada kaum muslimin.

“Ataukah mereka iri kepada manusia yang Allah berikan kepada mereka sebagian karunia-Nya?” (An-Nisa’: 54)

Apa itu Hasad?

asad (iri, dengki) adalah kebencian melihat nikmat orang lain dan ingin nikmat itu lenyap lalu berpindah kepadanya.

Hasad adalah penyakit hati termasuk dosa besar, karena biasanya hanya menginginkan kenikmatan dunia semata, sebagaimana generasi iri terhadap Qorun. Iri adalah virus mematikan dan hanya bisa dihindari dengan menjauhinya.

Dengki berawal dari keburukan, berjalan pada kejahatan, dan berakhir penderitaan.

Orang pendengki sengsara, benci melihat orang lain senang, tersiksa mendengar sukses kawannya, jengkel melihat kompetitornya unggul.

Dengki menjadi penyakit manusia modern, memicu iri terhadap gaji tetangga, mobil baru, pangkat, atau rejeki orang lain.

Ibnu Rojab berkata: “Sifat dengki ada pada setiap manusia, yakni tidak ingin disaingi orang, ingin lebih dari orang lain. Namun orang terpuji tidak menampakkan atau membenarkan kedengkiannya. Orang tercela menampakkan irinya dengan usaha jahat.”

Bahaya Hasad

Hadits ini menunjukkan bahayanya hasad yang bisa menggunduli amal dan wajib dijauhi. Lafadz hadits menggunakan Majaz Isti’aroh, seolah menghidupkan api yang mati. Hasad merusak, melibas habis kebaikan hamba, seperti api melahap kayu hingga menjadi abu dan debu.

Tiga kelompok pendengki:

  1. Pendengki ingin menghilangkan nikmat orang lain dengan trik jahat: mulai dari raut kecut, ghibah, desas-desus fitnah, adu domba, provokasi, hingga mencelakai, santet, atau membunuh.
  2. Pendengki tanpa niat menghilangkan nikmat, hanya meratapi diri sendiri, sakit hati melihat rejeki orang lain. Tercela karena menyalahkan kehendak Allah.
  3. Iri namun mendorong diri berbuat baik: melawan hasad dengan cinta, sombong dengan tawadhu’, cela dengan nasehat, kedholiman dengan keadilan.

Golongan ini langka dan ada pada mukmin sejati. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah sempurna iman seorang di antara kalian sehingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Golongan manusia sebagai obyek iri dengki:

  1. Iri pada orang berbuat baik dengan hartanya, ingin bisa berbuat baik jika memiliki harta. Sama dengan kelompok pertama.
  2. Iri pada orang berbuat buruk dengan hartanya, ingin bermaksiat jika diberi harta. Sama buruknya.
  3. Iri pada orang berbuat baik meski hartanya minim, ingin berbuat baik juga. Sama baiknya.
  4. Celaka: tidak punya harta, iri ingin berbuat jahat pada sesama melarat.
Tashfiyyah dari Hasad

Seorang cerdas menghilangkan kejelekan akhlak sebelum menghiasi diri dengan kebaikan. Percuma mengisi gelas kotor dengan minuman lezat. Salah satu tashfiyah adalah menjauhi hasad. Percuma amal ibadah banyak jika dilahap sifat dengki.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Ada tiga hal yang seorang pun tidak bisa selamat darinya; thiyaroh, persangkaan, dan dengki.” Sahabat bertanya: “Siapa yang bisa selamat ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Jika engkau menganggap sial jangan kembali, jika berprasangka jangan kau benarkan, jika iri jangan melanggar.” (HR. Abdur Rozaq)

“Setiap anak Adam itu mempunyai sifat hasad, dan tidaklah kedengkiannya membahayakannya selama tidak ia ucapkan dengan lisan dan tidak dilakukan dengan tangan.” (HR. Abu Nu’aim)

Hasad berbeda dengan ghibtoh: hasad ingin hilangnya nikmat orang lain, sedangkan ghibtoh ingin memiliki kebaikan sama seperti orang lain. Misal ingin menjadi ulama, hartawan, atau naik haji seperti orang lain.

Iri yang dibolehkan hanya dalam ilmu dan ibadah:

“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua perkara; seorang yang Allah beri ilmu Al-Qur’an lalu melaksanakannya, dan seseorang yang Allah beri harta lalu ia infaqkan.” (HR. Bukhari-Muslim)