Beranda blog Halaman 89

Umat Islam dan Indonesia Emas 2045

0

NARASI Indonesia Emas 2045 bukan milik segelintir elite. Ia menjadi milik semua komponen bangsa, termasuk—dan seharusnya terutama—umat Islam yang secara demografis menjadi mayoritas.

Namun di tengah gegap gempita diskursus ini, muncul pertanyaan tajam, siapa yang sedang merancang wajah umat Islam Indonesia 2045? Sejauh ini, wacana tersebut nyaris tenggelam oleh retorika pembangunan fisik dan ekonomi semata.

Jika belajar dari sejarah umat manusia, satu pola mencolok muncul berulang, selalu ada momen lahirnya pemimpin besar yang membawa umat atau bangsa ke puncak kejayaan.

Akan tetapi, sering kali setelah sang pemimpin pergi, terjadi kekosongan generasi yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan tersebut.

Mengapa fenomena ini terus terulang? Apakah ini sekadar siklus sejarah atau cerminan kegagalan peradaban menyiapkan generasi berikutnya?

Lihatlah sejarah Islam ketika Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menaklukkan Baitul Maqdis. Dunia Islam bersuka cita.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Seusai wafatnya Shalahuddin, Dinasti Ayyubiyah terjebak dalam pertikaian internal, perebutan kekuasaan, dan konflik kepentingan yang melemahkan kekuatan Islam dari dalam.

Akibatnya fatal: kekuatan musuh kembali bangkit, dengan strategi lebih canggih dan terencana. Kemenangan besar ternyata tak diikuti kesiapan generasi pelanjut.

Kisah ini relevan untuk Indonesia hari ini. Indonesia tengah lantang menyuarakan dukungan bagi Palestina, simbol komitmen internasional kaum Muslimin.

Namun, di balik suara lantang itu, siapa menyiapkan para pemimpin masa depan yang kelak memimpin Indonesia dalam peta kekuatan global tahun 2045? Jangan-jangan, sejarah akan kembali mengulangi kegagalan melahirkan penerus peradaban?

Melahirkan Pemimpin Unggul

Umat Islam harus kembali pada soal pokok berkenaan dengan bagaimana melahirkan pemimpin unggul? Bukan sekadar kapasitas leadership, cerdas intelektual, melainkan juga matang spiritual, tajam pemikiran global, kuat moral pribadi.

Tetapi satu hal pasti: upaya inu tidak bisa instan. Tak ada pemimpin hebat yang lahir “besok pagi” hanya karena keinginan mendadak. Diperlukan proses sistematis, terencana, kolaboratif, lintas generasi.

Sayangnya, di tengah demokrasi pasar bebas, kecenderungan umat justru melahirkan pemimpin instan: bermodal popularitas, kapital, atau pencitraan digital. Bukan buah dari proses panjang penyemaian nilai, pengasahan akhlak, atau penggodokan kepemimpinan akar rumput.

Akibatnya apa? Kita menuai para pemimpin “besar di tampilan, kecil di visi”. Indonesia pun lebih sering menjadi ladang eksperimen kepentingan global ketimbang subyek penggerak perubahan dunia.

Padahal sejatinya, pemimpin besar lahir dari perjalanan panjang—bukan dari menara gading gelar akademik, bukan dari viralitas jagat maya, apalagi dari jejaring sponsor politik. Ia tumbuh dari realitas umat: teras masjid, ruang diskusi kampus, bilik-bilik pesantren, forum pemuda kampung.

Tanpa pola ekosistem semacam itu, jangan bermimpi umat Islam Indonesia 2045 punya generasi Shalahuddin baru.

Tragedi Umat Penonton Sejarah

Jika krisis kepemimpinan ini dibiarkan, besar kemungkinan umat Islam Indonesia akan menjadi penonton pasif dalam sejarah baru 2045, bukan pemain utama.

Lihat gejala hari ini: anak muda Muslim larut dalam game online, judi digital, pinjaman instan, konsumsi konten hampa makna. Ada alienasi nilai. Siapa yang bisa membenahi semua ini?

Jawabannya: diri sendiri. Seperti pesan Nabi SAW: “Mulailah dari dirimu sendiri”. Ibda’ binafsik!

Umat Islam tak bisa menunggu penyelamat eksternal. Tak perlu menuntut dari luar. Setiap individu Muslim harus tumbuh, bangkit, sadar sebagai bidan sejarah umatnya.

Dimulai dari pertanyaan mendasar, seperti apa wajah umat Islam 2045? Apakah mayoritas umat ini sekadar angka statistik? Atau mayoritas yang memancarkan keunggulan moral, intelektual, dan sosial?

Wajah umat Islam Indonesia 2045 idealnya adalah wajah uswah, contoh kemajuan dan peradaban, bukan sekadar jumlah besar tanpa kualitas.

Jika umat Islam gagal menampilkan wajah cerdas, kredibel, progresif, jangan salahkan dunia luar bila mereka menilai Islam identik dengan ketertinggalan.

Kebangkitan ini tak harus gemerlap. Bahkan perubahan besar kerap berawal dari gerakan kecil, sunyi, namun konsisten. Seperti pohon besar yang tumbuh dari tunas rapuh: akar iman yang kuat, batang akhlak yang kokoh, ranting ilmu yang lebat.

Menanam Fondasi Menuju 2045

Di titik inilah semua kembali ke orientasi dasar, yaitu pendidikan, pengaderan, pembudayaan nilai luhur. Ini bukan proyek lima tahunan, melainkan gerakan lintas generasi.

Semua elemen umat wajib terlibat, baik di rumah tangga, masjid, sekolah, kampus, organisasi sosial-keagamaan, dunia usaha.

Tanpa bekal ini, Indonesia hanya menunggu giliran menjadi seperti pasca-Shalahuddin: rapuh setelah kemenangan, pecah setelah kejayaan.

Dunia baru 2045 tidak menunggu bangsa yang bimbang. Ia butuh pemain kuat—atau menjadi korban baru dalam pusaran perubahan global.

Karena itu, umat Islam tak boleh sekadar ikut arus besar proyek Indonesia Emas. Mereka harus menjadi motor peradaban, penggerak nilai, pelahir pemimpin unggul. Sejak kini, bukan nanti.

Dan, tugas ini bukan wacana kosong. Ia menuntut persiapan serius. Perlu kurikulum pendidikan Islam berbasis akidah dan sains mutakhir.

Perlu pemuda Muslim yang tak takut masuk ruang-ruang teknologi baru, diplomasi internasional, serta ekonomi digital. Perlu ulama dan intelektual yang berani menafsirkan Islam untuk tantangan zaman baru—bukan nostalgia kejayaan masa silam.

Jika persiapan ini gagal dilakukan hari ini, impian Indonesia Emas 2045 hanyalah utopia. Namun jika umat Islam bangkit sebagai subyek sejarah, dengan visi dan daya saing global, maka 2045 bukan sekadar mimpi. Ia akan menjadi kenyataan.

Dan untuk itu semua, umat Islam Indonesia wajib menyiapkan diri, lahir-batin, menuju 2045. Agar sejarah tidak mengulang kisah tragis umat yang kehilangan momentum kejayaannya. Agar bangsa ini benar-benar mencapai apa yang diimpikan bersama.*/

*) Adam Sukiman, penulis Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jakarta. Naskah ditranskrip dari pemaparan Mas Imam Nawawi dalam diskusi Kopi Literasi bertajuk “Kita Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Jakarta, Sabtu (21/6/2025).

Hidayatullah Tarakan Menguatkan Dakwah Lewat Munasabah Lima Surah Al-Qur’an

0

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Aula MI Al-Fatah Hidayatullah Karungan, Tarakan, Kalimantan Utara, menjadi saksi sebuah upaya serius dalam memperkuat pemahaman Al-Qur’an di kalangan dai muda untuk selanjutnya ditransformasikan kepada umat secara luas, Ahad, 26 Dzulhijah 1446 (22/6/2025).

Sebanyak 25 dai tangguh mengikuti kegiatan “Pembelajaran Tadabbur Ayat Al-Qur’an Munasabah 5 Surah” yang dihelat oleh BMH – Hidayatullah Tarakan. Program yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.30 WITA ini dipandu langsung oleh Ustadz Muhammad Randi, Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Kalimantan Utara.

“Alhamdulillah, kegiatan hari ini sejak pagi sampai sore berjalan lancar. Peserta mengikuti dengan saksama dan memahami, mulai dari pemaparan materi, praktik kelompok, sampai praktik perorangan,” ujar Ustadz Randi penuh syukur.

Kekuatan Dakwah Masa Kini

Tujuan utama pelatihan ini bukan hanya menambah hafalan atau pengetahuan teknis, tetapi membangun kemampuan para dai untuk mentadabburi dan mengkorelasikan lima surah penting dalam Al-Qur’an: Al-Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatsir, dan Al-Fatihah.

“Tujuannya agar peserta mampu mentadabburi ayat Al-Qur’an dengan mengkorelasikan munasabah 5 surah tersebut,” jelas Ustadz Randi. “Dengan pemahaman ini, para dai diharapkan bisa membangun kerangka dakwah yang utuh dan mudah dicerna umat.”

Keterpaduan pesan lima surah ini memang menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir Qur’ani, agar umat tak hanya memahami teks, tetapi juga konteks zaman yang tengah mereka jalani.

Di tengah derasnya arus informasi dan problematika hidup modern, kemampuan ini menjadi kebutuhan mendesak bagi para pendakwah.

Membangun Kekuatan Jiwa, Akal, dan Spiritualitas

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses penguatan akal dan jiwa umat. Masyarakat saat ini memerlukan pegangan kokoh agar tidak terombang-ambing oleh nilai-nilai asing yang kerap mengikis spiritualitas.

“Penguatan spiritual melalui pemahaman Al-Qur’an yang mendalam adalah investasi berharga bagi masyarakat,” tegas M. Nor Komara, Kepala Divisi Program Pemberdayaan BMH Kaltara.

“Semoga inisiatif seperti ini terus berlanjut dan menyentuh lebih banyak hati, sehingga kita semua bisa memiliki fondasi jiwa, akal, dan spiritual yang lebih kuat,” tambahnya.

Kekuatan spiritual yang terbangun melalui tadabbur Al-Qur’an akan melahirkan insan-insan tangguh yang mampu membaca realitas hidup dengan bijak, tidak mudah goyah oleh godaan dunia, dan tetap teguh dalam prinsip kebenaran.

Apresiasi untuk Para Dai dan Pendukung Kebaikan

Ketua DPD Hidayatullah Kota Tarakan, Muhammad Almi, turut menyampaikan apresiasinya.

“Kami ucapkan terima kasih kepada para peserta yang tetap bertahan hingga selesai, meski cuaca tak mendukung karena hujan,” ungkapnya.

Ia juga menaruh penghargaan kepada para donatur dan BMH yang telah membersamai program keumatan ini.

“Semoga Allah membalas dengan balasan terbaik,” tutupnya penuh harap.*/

KH Samsuddin Ingatkan Hafalan Al-Qur’an sebagai Ikatan Hati Seumur Hidup

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi Qur’ani yang unggul melalui acara “Wisuda Tahfidz dan Tasyakuran Kelulusan” yang berlangsung di Gedung Luqman Al-Hakim lantai 3, Kampus Pesantren Hidayatullah Surabaya, Sabtu, 25 Dzulhijjah 1446 (21/6/2025).

Ketua Badan Pengurus Pesantren Hidayatullah Surabaya, KH. Samsuddin, MM., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta wisuda, baik santri penghafal Qur’an maupun para lulusan tingkat SMP.

Ia menegaskan bahwa proses menghafal Al-Qur’an bukanlah sekadar prestasi intelektual semata, tetapi juga merupakan proses pematangan iman dan pembentukan karakter yang menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan di masa depan.

“Anak-anak kita bukan hanya sedang menapaki jalan ilmu, tetapi juga sedang mengokohkan pijakan iman yang akan menjadi bekal hidup mereka,” kata Ketua Departemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini.

Kyai asal Pamekasan, Pulau Madura, ini mengingatkan, capaian hafalan Al-Qur’an para santri bukanlah sekadar target akademik belaka, tetapi lebih dari itu merupakan sebuah ikatan hati yang harus dijaga seumur hidup.

“Hafalan Al-Qur’an bukan hanya capaian akademik, tetapi ikatan hati yang harus dijaga seumur hidup,” ujarnya menegaskan.

Kegiatan ini mencakup dua agenda utama: pertama, Wisuda Tahfidz untuk santri kelas 7, 8, dan 9 yang telah berhasil menyelesaikan target hafalan Al-Qur’an; kedua, prosesi tasyakuran kelulusan untuk santri kelas 9 yang menandai selesainya pendidikan formal tingkat menengah di pesantren ini.

Suasana haru dan bangga mewarnai momen tersebut, dihadiri oleh jajaran Badan Pengurus Hidayatullah Surabaya, para guru, wali santri, serta seluruh santri lulusan.

Dalam kesempatan itu, KH. Samsuddin juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam menjaga semangat menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an, terutama setelah santri menyelesaikan pendidikan formal.

Ia menegaskan bahwa proses pendidikan tidak selesai di ruang kelas, melainkan berlanjut di lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Peran orang tua, keluarga besar, dan lingkungan sekitar sangat menentukan apakah hafalan itu tetap terjaga dan memberi manfaat dalam kehidupan mereka. Jangan biarkan hafalan ini menjadi sekadar memori, tetapi harus hidup dalam tindakan sehari-hari,” pesannya kepada seluruh wali santri yang hadir.

Lebih lanjut, KH. Samsuddin menegaskan bahwa kegiatan ini sebagai upaya meneguhkan pesan pesan kebaikan dari komitmen Hidayatullah Surabaya dalam menyiapkan generasi masa depan yang unggul dalam ilmu dan kokoh dalam iman.

Pesantren ini terang dia tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademis dan hafalan Al-Qur’an semata, tetapi juga menanamkan karakter Islami yang kuat.

“Dengan mengintegrasikan pendidikan formal, tahfidzul Qur’an, dan pembentukan karakter Islami, Hidayatullah Surabaya berikhtiar mencetak generasi Qur’ani yang siap menghadapi tantangan zaman dengan akhlak dan nilai-nilai Islam yang kuat,” katanya.

Proses tahfidzul Qur’an yang dijalani para santri selama menempuh pendidikan di pesantren ini diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika zaman yang terus berubah.

Dia berharap, dukungan penuh dari para guru, orang tua, dan lingkungan sekitar akan menjadi kunci utama agar hafalan Al-Qur’an ini tidak hanya melekat di kepala, tetapi juga terimplementasi dalam sikap, perilaku, dan keputusan hidup para santri di masa depan.*/

Tanggung Jawab Pemuda Selamatkan Napas Bumi di Tengah Krisis Ekologi

0

BUMI sedang berduka di tengah gemerlap modernitas dan ambisi pembangunan. Hutan-hutan yang menjadi napas kehidupan terus terkikis, keanekaragaman hayati terancam, dan ekosistem rapuh di ambang kehancuran.

Isu deforestasi, khususnya yang dipicu oleh aktivitas penambangan liar, kembali mencuat dengan sorotan tajam pada Raja Ampat, sebuah surga biodiversitas di Papua Barat Daya yang kini terancam oleh keserakahan industri ekstraktif.

Di tengah krisis ini, pemuda muncul sebagai harapan sekaligus kekuatan kritis untuk mengembalikan keseimbangan ekologi.

Namun, pertanyaannya, seberapa besar peran pemuda dalam menjaga lingkungan hidup tetap lestari, dan bagaimana mereka dapat mengguncang kesadaran kolektif untuk menghentikan laju kerusakan bumi?

Dalam hal ini, tentu kita tidak menolak tambang selama ia dikelola sebaik baiknya, sehormat hormatnya, sesuai regulasi dan nyata dampaknya seluas luasnya untuk rakyat.

Kita tahu, penambangan yang brutal tidak hanya menghancurkan tutupan hutan primer yang menyimpan cadangan karbon besar, tetapi juga merusak ekosistem keranekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada alam.

Sorotan publik terhadap isu ini, menunjukkan betapa mendesaknya tindakan kolektif untuk menghentikan eksploitasi. Namun, di balik narasi kemarahan dan keprihatinan, ada celah harapan kepada pemuda. Dengan energinya, idealisme, dan keberaniannya, dapat menjadi agen perubahan yang signifikan.

Pemuda dan Lingkungan

Pemuda memiliki posisi strategis dalam perjuangan lingkungan. Mereka adalah generasi yang akan mewarisi bumi—entah dalam keadaan lestari atau hancur.

Sebagai digital native, pemuda memiliki akses luas ke informasi dan teknologi, yang memungkinkan mereka untuk menyebarkan kesadaran, mengorganisir gerakan, dan menekan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.

Dalam konteks isu yang belakangan hangat, aksi lembaga swadaya Indonesia dan koalisi masyarakat sipil yang menyuarakan penolakan terhadap tambang nikel menunjukkan bagaimana pemuda dapat memanfaatkan platform digital untuk menggalang dukungan global.

Kampanye ini bukan sekadar protes, tetapi juga panggilan untuk mengubah paradigma pembangunan yang mengorbankan alam demi keuntungan jangka pendek.

Namun, peran pemuda tidak hanya terbatas pada aksi demonstrasi atau kampanye daring. Pendidikan lingkungan sejak dini menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang peduli terhadap keberlanjutan.

Melalui pendidikan, pemuda dapat memahami kompleksitas ekosistem, dampak deforestasi, dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Lebih jauh, pemuda dapat berperan sebagai inovator, menciptakan solusi teknologi ramah lingkungan atau model bisnis berkelanjutan yang mendukung pelestarian hutan tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kritik tajam perlu dialamatkan kepada pemerintah dan pemilik modal yang sering kali menjadi aktor utama di balik kerusakan lingkungan.

Pemerintah, sebagai pengatur kebijakan, memiliki tanggung jawab untuk menegakkan regulasi yang ketat terhadap aktivitas penambangan dan mendorong praktik pengelolaan hutan lestari.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan kelemahan dalam penegakan hukum. Hal ini menunjukkan inkonsistensi kebijakan yang memprioritaskan kepentingan korporasi di atas kelestarian lingkungan.

Sementara itu, pemilik modal, khususnya perusahaan tambang, sering kali mengabaikan dampak jangka panjang dari aktivitas mereka.

Keuntungan finansial yang mereka kejar mengorbankan hutan primer, sumber penghidupan masyarakat adat, dan cadangan karbon yang krusial untuk mitigasi perubahan iklim.

Pemerintah dan korporasi harus menyadari bahwa eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali bukanlah kemenangan ekonomi, melainkan bom waktu ekologis.

Deforestasi di banyak tempat berpotensi melepaskan lebih banyak lagi emisi karbon dioksida ekuivalen ke atmosfer. Ini jelas merupakan peringatan bahwa kita sedang menghabiskan modal alam yang tak tergantikan.

Pemerintah perlu memperkuat komitmen terhadap Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yang menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pengelolaan hutan lestari.

Sementara itu, korporasi harus mengadopsi praktik bisnis yang bertanggung jawab, seperti reklamasi lahan bekas tambang dan penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Membangun Kolaborasi Lintas Sektor

Pemuda, dengan idealismenya, dapat menjadi pengawas moral bagi kedua pihak tersebut. Mereka dapat menekan pemerintah melalui advokasi kebijakan dan memobilisasi opini publik untuk meminta pertanggungjawaban korporasi.

Gerakan seperti yang dilakukan oleh koalisi masyarakat sipil di Konferensi Nikel Internasional 2025 adalah bukti bahwa suara pemuda tidak bisa diabaikan.

Namun, untuk mencapai dampak yang berkelanjutan, pemuda juga perlu membangun kolaborasi lintas generasi dan sektor, termasuk dengan masyarakat adat, LSM, dan akademisi, untuk menciptakan solusi holistik.

Krisis deforestasi, sebagaimana terlihat di banyak tempat di negeri ini, adalah cerminan dari kegagalan kolektif kita dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

Pemuda bukan hanya harapan, tetapi juga kekuatan nyata yang dapat mengubah arah masa depan bumi. Mereka harus terus didorong untuk menjadi pelopor kesadaran lingkungan, inovator solusi berkelanjutan, dan pengawas bagi pemerintah serta korporasi.

Tetapi, sekali lagi, perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah harus menunjukkan komitmen nyata dengan memperketat regulasi terhadap penambangan liar dan mendorong program reboisasi. Pemilik modal harus beralih ke praktik bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memprioritaskan keberlanjutan.

Sudah saatnya mengevaluasi ulang izin-izin tambang yang merusak dan memperluas kawasan konservasi. Bagi korporasi, investasi pada teknologi hijau dan tanggung jawab sosial harus menjadi prioritas, bukan sekadar formalitas.

Hutan adalah napas bumi. Jika kita gagal menjaganya, kita bukan hanya kehilangan keindahan, tetapi juga masa depan.

Pemuda, dengan semangat dan keberaniannya, harus menjadi pelopor dalam pertarungan ini—karena bumi bukan warisan, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.*/

*) Deden Sugianto Darwin, penulis Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah

Hidayatullah Life Fest 2025 Ruang Silaturahim dan Edukasi Keummatan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menyongsong datangnya tahun baru Islam 1447 Hijriyah, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Balikpapan menyelenggarakan event akbar bertajuk Hidayatullah Life Fest (HiFest) di Graha Dhomber, Jl. Mulawarman, Sepinggan, Balikpapan.

Kegiatan yang digelar Sabtu, 25 Dzulhijjah 1446 (21/6/2025) ini berlangsung dari pagi hingga sore hari, menggandeng PD Muslimat Hidayatullah (Mushida) Mushida dan PD Pemuda Hidayatullah Kota Balikpapan sebagai mitra penyelenggara.

Ajang ini menjadi salah satu pembuka semangat menjelang Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah dan berhasil menyedot ratusan pengunjung dari berbagai penjuru Kalimantan Timur.

Tak hanya warga Balikpapan, pengunjung datang dari Kabupaten Paser, Kota Samarinda, hingga dari luar pulau Kalimantan. Suasana festival kental dengan nuansa silaturahim dan syiar dakwah Islamiyah, sebagaimana dituturkan banyak peserta.

Salah satu momen menarik datang dari kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan, H Masrivani.

Bukan hanya sekali, Masrivani tercatat dua kali menyambangi HiFest di hari yang sama.

Ia pertama hadir dalam acara Seremonial Haflah Akhirussanah di pagi hari, lalu kembali datang di siang harinya untuk mengikuti talkshow inspiratif bertajuk “Menapaktilasi Warisan Hijrah Para Nabi Meraih Kesempurnaan Hidayah Ilahi”.

“Saya lihat acara Life Fest ini luar biasa, isinya penuh gizi! Semua ada manfaatnya. Rugi kalau tidak datang ke Life Fest,” ujar Masrivani.

Keakraban dan suasana kebersamaan juga dirasakan pengunjung dari luar kota. Abidin, warga Kabupaten Paser, mengungkapkan kesan positifnya.

“Yang penting silaturahimnya, bisa ketemu teman-teman lama. Ada syiar dakwahnya, terutama lewat penampilan anak-anak di panggung. Ini jadi ajang temu alumni juga,” ungkapnya.

Dalam penjelasannya, Project Manager HiFest, Ustadz Ahmad Fauzan, menegaskan bahwa acara ini memang diniatkan untuk menjadi ruang silaturahim akbar.

“Festival ini memfasilitasi pertemuan antar unit di bawah Hidayatullah, antar alumni dari berbagai jenjang dan daerah. Ada alumni MTs, MARAMA, putra-putri, bahkan dari pesantren cabang lain di luar Balikpapan,” jelasnya dalam keterangannya, Senin, 27 Dzulhijjah 1446 (23/6/2025).

Fauzan menambahkan bahwa HiFest juga menjadi ajang pelayanan sosial dan dakwah kolaboratif. “Kami ingin HiFest ini melayani umat lewat forum positif, kreatif, dan bermanfaat,” terangnya.

Semarak dengan Beragam Kegiatan

Rangkaian kegiatan HiFest pun terbilang lengkap dan beragam. Dimulai dari pembukaan pukul 08.30 WITA, acara dilanjutkan dengan Haflah Akhirussanah untuk 300 santri tahfidz dari Rumah Qur’an Hidayatullah.

Dalam sesi ini, para santri menunjukkan capaian hafalan mulai dari 1 juz, 3 juz, 5 juz, hingga 30 juz.

“Semua santri yang mulai menuntaskan hafalannya kami kumpulkan, untuk memberi motivasi dan apresiasi atas jerih payah mereka dalam menjaga kalamullah,” ujar Fauzan.

Di sesi berikutnya, digelar Sekolah Orang Tua bertema “Dengan Keteladanan Kita Mendidik, Dengan Hijrah Kita Bergerak”.

Forum tersebut diisi oleh Ust. H. Khalish Mukhlis, Lc, Imam Besar Masjid Istiqamah Pertamina Balikpapan, serta Ust. H. Muhammad Dinul Haq, Lc, Mudir Pendidikan Ulama Zuama STIS Hidayatullah Balikpapan.

Siang harinya, dua mubaligh kondang Kalimantan Timur, Ust. H. Ahmad Syahrin Tahriq, Lc., M.A. dan Ustadz Habib Lukman Hakim Alaththas, Lc., M.A., berbagi inspirasi dalam talkshow bertajuk hijrah para nabi, membangun visi kesempurnaan hidayah ilahi di tengah tantangan kekinian.

Selain itu, berbagai perlombaan seperti mewarnai, tahfidz, dan azan turut memeriahkan acara, memberi ruang ekspresi religius sejak usia dini.

Tidak ketinggalan, expo produk-produk UMKM juga digelar, menampilkan aneka barang kreatif hasil karya warga dan santri.

Sebagai penutup, acara sore hari diisi dengan pembagian hadiah lomba, menandai selesainya perhelatan HiFest yang sarat makna ini.

Dengan semangat silaturahim dan kolaborasi, Fauzan menambahkan, Hidayatullah Life Fest 1447 H berupaya mengukuhkan perannya sebagai ruang sinergi, dakwah, dan edukasi umat Islam di Kalimantan Timur.*/

Tutup Kursus Mubaligh Profesional Angkatan ke-V, KH Nashirul Haq Tekankan Dua Kunci Sukses Dakwah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kursus Mubaligh Profesional Angkatan ke-V dari Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, resmi ditutup pada Sabtu, 25 Dzulhijjah 1446 (21/6/2025).

Acara penutupan ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, yang dalam sambutannya memberikan bekal penting bagi 19 peserta yang telah menyelesaikan kursus.

Para peserta kursus ini menunjukkan keberagaman yang luar biasa, meliputi dosen, lulusan Mesir, pensiunan perusahaan, hingga pengurus masjid.

Keberagaman latar belakang ini diharapkan mampu memperkaya khazanah dakwah di berbagai lini masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Dr. Nashirul Haq menyoroti dua bekal utama dan kunci sukses dakwah yang wajib dimiliki oleh setiap da berdasarkan ayat ke-108 Surah Yusufi.

“Kunci pertama adalah ilmu,” tegasnya.

Menurutnya, ilmu dalam dakwah tidak hanya sebatas penguasaan materi keislaman, tetapi juga ilmu metodologi dakwah.

“Keduanya harus berimbang,” tegas Nashirul Haq. Ia menjelaskan bahwa banyak dai yang mumpuni dalam ilmu-ilmu Islam, namun kurang menguasai metode penyampaian yang efektif.

Padahal, efektivitas dakwah sangat didukung oleh penerapan metodologi yang tepat dan sesuai dengan kondisi audiens.

Dengan metodologi yang pas, pesan dakwah dapat tersampaikan dengan lebih mudah dan menyentuh hati.

Kunci kedua yang ditekankan adalah pentingnya dakwah secara berjamaah. Mengutip ungkapan Nabi SAW “Aku bersama orang-orang yang mengikutiku”.

Nashirul Haq menegaskan bahwa dakwah akan lemah jika dilakukan sendiri-sendiri.

“Kekuatan dakwah terletak pada kebersamaan dan sinergi antar sesama pengemban dakwah. Dengan berjamaah, tantangan dakwah dapat dihadapi bersama, dan dampaknya pun akan semakin luas serta terasa,” jelasnya.

Penutupan kursus ini diharapkan menjadi momentum bagi para peserta untuk mengaplikasikan ilmu dan bekal yang telah didapatkan.

Dengan perpaduan ilmu yang mendalam dan metodologi yang tepat, serta semangat kebersamaan dalam berdakwah, diharapkan mereka dapat menjadi ujung tombak perubahan yang positif di tengah masyarakat, membawa cahaya Islam yang menyejukkan dan mencerahkan.*/

Masa Depan Persahabatan Türkiye-Indonesia Dalam Dinamika Global

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hubungan diplomatik Türkiye dan Indonesia memasuki fase baru yang lebih strategis dan bermakna. Hal ini ditegaskan Prof. Talip Küçükcan, Duta Besar Türkiye untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, dalam Hidayatullah Global Forum bertajuk “Masa Depan Persahabatan Türkiye-Indonesia Dalam Dinamika Global”, di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 22 Dzulhijah 1446 (18/6/2025).

Dubes Küçükcan menyampaikan bahwa kedatangannya ke Indonesia adalah mandat langsung Presiden Recep Tayyip Erdoğan. “Saya utus kamu kepada bangsa Muslim terbesar di dunia,” demikian pesan Presiden Erdoğan.

Fondasi Diplomasi Baru

Menurutnya, hubungan pribadi Erdoğan dengan Presiden Prabowo sangat erat. Mereka telah bertemu empat kali dalam setahun, bahkan sebelum Prabowo dilantik.

Dari pertemuan di Ankara, Jakarta, hingga Antalya Diplomacy Forum, terang Talip, hubungan ini menciptakan energi baru kerja sama bilateral. Bahkan, Prabowo dikabarkan akan kembali ke Ankara usai lawatan ke Rusia pekan ini.

Kunjungan Erdoğan ke Jakarta menghasilkan 16 nota kesepakatan di sektor pertahanan, perdagangan, ekonomi, dan budaya—mencerminkan komitmen kedua negara untuk kemitraan menyeluruh.

500 Tahun Jejak Historis Nusantara–Utsmaniyah

Hubungan Türkiye-Indonesia sesungguhnya melampaui batas 75 tahun diplomatik resmi. Hubungan ini sudah berlangsung lebih dari 500 tahun, seperti disebut Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, dalam sambutannya membuka forum ini.

Dubes Küçükcan mengungkapkan, dokumen arsip Konsulat Utsmaniyah di Batavia (1881–1924) masih tersimpan rapi di Istanbul dan menjadi sumber sejarah berharga. “Bahkan semua Konsul Jenderal Utsmaniyah di Batavia sempat di-persona non grata karena interaksi mereka yang intens dengan umat Islam Nusantara,” jelasnya.

Sebelum muncul konsep negara-bangsa (nation state), kesultanan-kesultanan Indonesia telah terhubung erat dengan Daulah Utsmaniyah.

Türkiye Baru

Berbeda dengan pemimpin Türkiye sebelumnya yang berorientasi Barat, Erdoğan memprioritaskan dunia Islam. Indonesia, bersama Mesir, Saudi Arabia, dan Malaysia, disebut Türkiye sebagai “heavyweight Muslim countries” yang jadi fokus diplomasi.

Ada empat pilar kebijakan luar negeri Türkiye: menjadi bagian solusi setiap persoalan, diplomasi damai, prinsip netralitas (seperti dalam konflik Rusia-Ukraina dan Somalia), serta keberpihakan pada pihak lemah dan tertindas.

Türkiye pun menjadi rumah bagi lebih dari 6 juta pengungsi dalam 14 tahun terakhir. “Mereka adalah Muhajirun, kami Anshar,” ucap Erdoğan sejak awal krisis Suriah—membangun narasi nasional yang menekan sentimen anti-pengungsi.

Pemerintah Türkiye telah menggelontorkan lebih dari USD 7 miliar untuk kebutuhan pengungsi, termasuk pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Lebih dari 700 ribu bayi pengungsi Suriah lahir di Türkiye, membuat janji oposisi untuk memulangkan mereka menjadi tak realistis.

Per 8 Desember 2024, rezim Assad dianggap de facto berakhir, namun baru 250 ribu pengungsi yang pulang. Erdoğan menegaskan: “Tidak boleh ada pemaksaan bagi pengungsi untuk pulang. Jika mereka patuh hukum Türkiye, mereka boleh tetap tinggal.”

Peran Strategis Think Tank SETA

Prof. Küçükcan memaparkan peran think tank SETA yang ia dirikan sebagai pengumpul dan penganalisis data berbasis riset mendalam, sekolah kader kepemimpinan (seperti Ibrahim Kalın, kini Kepala Intelijen Türkiye), dan pembuat kertas kebijakan bagi pemimpin Türkiye.

“Think tank harus pro-rakyat,” tegasnya. Kekayaan ide untuk rakyat menguatkan politik, militer, dan kedaulatan negara.

Ia pun membuka pintu bagi pemuda Indonesia untuk magang di SETA, termasuk dari Hidayatullah. “SETA sudah menyelesaikan misi besarnya, kini waktunya generasi baru berperan,” ujarnya.

Transfer Teknologi dan Bonus Demografi

Dubes Küçükcan menyoroti pentingnya transfer teknologi dalam kerja sama industri. “Negara-negara lain belum melakukan transfer teknologi secara tulus kepada Indonesia. Türkiye berkomitmen untuk itu,” katanya.

Indonesia, dengan demografi muda rata-rata usia 30 tahun, harus mengubah potensi ini menjadi kekuatan. Türkiye siap mendukung pengembangan kapasitas SDM Indonesia.

“Kalau tidak dikelola dengan pendidikan dan peningkatan kualitas SDM, bonus demografi ini bisa menjadi beban,” pungkasnya.*/

Bidpropam Polda Sumut Gelar Bakti Sosial di Pondok Pesantren Hidayatullah

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Kepolisian Daerah Sumatera Utara menggelar kegiatan bakti sosial sebagai wujud nyata kepedulian Polri terhadap masyarakat.

Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 23 Dzulhijah 1446 (19/6/2025), sekitar pukul 11.00 WIB di Pondok Pesantren Hidayatullah, yang berlokasi di Jalan Pesantren Bandar Labuhan Bawah, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

Dipimpin langsung oleh Kepala Bidpropam Polda Sumut, Kombes Pol Julihan Muntaha, S.I.K., aksi sosial ini melibatkan 13 personel Bidpropam.

Dalam kesempatan tersebut, rombongan menyerahkan paket bantuan sembako kepada pengurus pondok pesantren yang diwakili oleh Ahmad Fahrozi.

Kombes Pol Julihan Muntaha menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar bentuk seremonial dalam memperingati Hari Bhayangkara, melainkan cerminan komitmen Polri untuk senantiasa hadir di tengah masyarakat sebagai sahabat dan mitra yang peduli.

“Melalui momentum Hari Bhayangkara ke-79 ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai sahabat masyarakat yang peduli dan siap membantu kapan pun dibutuhkan,” ungkap Kombes Pol Julihan dalam keterangannya, Kamis (19/6/2025).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kegiatan sosial semacam ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan akan terus dilakukan secara berkesinambungan sebagai bagian dari strategi institusi dalam menumbuhkan semangat kebersamaan serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri.

“Kami berkomitmen untuk terus melaksanakan kegiatan kemasyarakatan seperti ini. Tujuannya adalah mempererat hubungan antara Polri dengan masyarakat, khususnya lembaga-lembaga keagamaan seperti pondok pesantren yang menjadi pilar penting pendidikan moral generasi bangsa,” tambahnya.

Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust Ahmad Fahrozi, bersama Ust Fiman Hadait Munthe dari DPW Hidayatullah Sumut menyambut baik kehadiran jajaran Bidpropam Polda Sumut. Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas perhatian dan bantuan yang diberikan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan kepedulian dari keluarga besar Bidpropam Polda Sumut. Semoga sinergi ini membawa keberkahan bagi semuanya, serta terus terjalin dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan religius,” ujar Ahmad Fahrozi.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat ini ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antara personel Bidpropam dan para santri serta pengurus pesantren. Momen ini menjadi bukti bahwa peran Polri tidak sebatas sebagai penjaga keamanan, tetapi juga mitra dalam membangun harmoni sosial.

Kegiatan berjalan dengan aman, lancar, serta penuh rasa kekeluargaan, mencerminkan sinergi antara institusi negara dan masyarakat yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial di tengah dinamika zaman.*/

Wakil Walikota Ingatkan Pendidikan Harus Mengantar Anak Selamat Dunia Akhirat

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, membuka Rapat Kerja Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Bontang di Aula Perpustakaan Daerah Kota Bontang (Foto: Hasan/ Prokompim Pemkot Bontang)

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, secara resmi membuka Rapat Kerja Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Bontang di Aula Perpustakaan Daerah Kota Bontang, Senin, 20 Dzulhijah 1446 (16/6/2025).

Acara ini mengangkat tema “Standarisasi dan Ekspansi: Meningkatkan Mutu Layanan Pendidikan dan Kepesantrenan” dan dihadiri oleh Anggota DPRD Heri Keswanto, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang Ustadz Firdaus Darwin beserta jajaran, Kepala LPIH Ustad Rhozikin, serta para guru.

Dalam sambutannya, Agus Haris menegaskan bahwa orientasi utama pendidikan harus berlandaskan ketundukan kepada Allah SWT, bukan semata-mata administratif.

“Orientasi kita tidak semata-mata administratif, melainkan tanggung jawab moral dan akhirat. Pendidikan harus mengantar anak-anak kita menjadi insan yang selamat dunia akhirat,” tegasnya.

Ia mengapresiasi konsistensi LPIH Bontang dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah arus perubahan zaman.

Agus Haris menekankan pentingnya penguatan ketahanan nilai, khususnya dalam menghadapi pengaruh budaya luar melalui gawai.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris,berfoto bersama dengan peserta Rapat Kerja Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Bontang di Aula Perpustakaan Daerah Kota Bontang (Foto: Hasan/ Prokompim Pemkot Bontang)

“Program budaya belajar malam di Hidayatullah sangat positif, karena membentuk disiplin dan fokus dalam proses pendidikan,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bontang, tambahnya, berkomitmen mendorong mutu pendidikan melalui insentif guru, penggratisan seragam, hingga beasiswa penuh bagi mahasiswa asal Bontang.

Mengaitkan hal ini dengan visi Indonesia Emas 2045, Agus Haris menegaskan pembangunan bangsa tak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga karakter, nilai, dan spiritualitas.

“Anak-anak kita harus dikenalkan pada nilai tauhid sejak dini. Islam bukan hanya identitas, tetapi harus menjadi gerakan aktif dalam kehidupan,” tegasnya.

Hadir juga pada kesempatan tersebut Ketia Dewan Pembina Yayasan Hidayatullah Bontang KH. Jamaluddin Ibrahim yang menyerahkan cinderamata kepada Wakil Walikota berupa buku biografi pendiri Hidayatullah “Mencetak Kader”.*/

Membangun Peradaban Islam, Menggali Akar Menjawab Zaman

0

PROF. Dr. Talip Küçükcan, Duta Besar Turkiye untuk Indonesia, dalam Hidayatullah Global Forum bertajuk “Masa Depan Persahabatan Turkiye-Indonesia Dalam Dinamika Global” yang berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah Cipinang, Rabu, 22 Dzulhijah 1446 (18/6/ 2025) menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci utama kemajuan peradaban.

Pesan ini mengandung makna mendalam, khususnya bagi gerakan dakwah seperti Hidayatullah yang menjadikan pembangunan peradaban Islam sebagai visi besarnya.

Sejarah mencatat bahwa membangun peradaban Islam bukanlah utopia belaka. Dalam rentang perjalanan umat manusia, Islam pernah menorehkan tinta emas sebagai peradaban besar yang memadukan spiritualitas, ilmu pengetahuan, keseimbangan lingkungan, dan keadilan sosial.

Hingga kini, jejak kontribusi Islam tetap terpatri dalam membentuk lanskap intelektual dunia.

Namun, di abad ke-21 ini, umat Islam, khususnya Hidayatullah, dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana membangun kembali peradaban Islam yang kontekstual, berakar pada wahyu, dan mampu menjawab persoalan zaman?

Al-Qur’an telah memberikan fondasi visi peradaban yang kokoh. Allah SWT berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

Ayat ini bukan sekadar seruan moral, melainkan panggilan untuk membangun masyarakat beradab yang menegakkan keadilan, ilmu, dan kebajikan universal.

Ketika ayat ini gagal terinternalisasi dalam diri kader, dampaknya adalah melemahnya semangat rekrutmen anggota, padahal hal ini merupakan kewajiban asasi setiap kader dakwah.

Rasulullah SAW adalah arsitek peradaban Madinah—sebuah masyarakat multikultural yang dibangun di atas nilai akhlak, hukum, dan kesetaraan.

Pegiat Hidayatullah hendaknya memahami realitas historis ini: bahwa peradaban Islam tegak di atas masyarakat majemuk, rahmatan lil ‘alamin. Maka, kesadaran multikultural bukan sekadar retorika, melainkan niscaya bagi umat Islam untuk relevan di panggung dunia modern.

Perlu diingat bahwa peradaban tidak lahir dari mimpi atau nostalgia masa silam. Ia dibangun melalui transformasi pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta penguatan identitas budaya.

Pendidikan menjadi kunci utama. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan, “Tidak ada perbaikan di dunia tanpa perbaikan ilmu.”Artinya, kebangkitan Islam harus dimulai dari reformasi pendidikan yang memadukan ilmu naqli (wahyu) dan aqli (rasionalitas).

Karena itulah, kebutuhan akan sekolah kader dalam gerakan Hidayatullah menjadi mutlak. Sekolah ini bukan untuk meniadakan peran sekolah umum, tetapi melengkapinya, menghasilkan kader dakwah yang utuh—beriman, berpikir kritis, berjiwa pengabdi, dan merdeka secara intelektual. Sebab tugas kader bukan hanya mengisi pasar tenaga kerja, melainkan membentuk peradaban.

Peran IPTEK dalam peradaban Islam pun tak bisa dinafikan. Para ilmuwan Muslim terdahulu memandang ilmu sebagai manifestasi tauhid.

Tidak ada dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”. Ibnu Sina, misalnya, mengajarkan bahwa agama dan pengetahuan saling melengkapi dalam mencari kebenaran dan memahami hakikat alam semesta. Inilah warisan intelektual Islam yang harus dibangkitkan kembali.

Namun, tantangan kontemporer menanti di depan mata: krisis lingkungan, intoleransi, degradasi moralitas, ketimpangan ekonomi global. Semuanya menuntut jawaban peradaban.

Islam, sebagai rahmat bagi semesta alam, menawarkan etika multikultural yang menyeimbangkan hak individu, masyarakat, dan alam.

Hadis Nabi SAW berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Ahmad).

Inilah fondasi moral peradaban Islam: kemajuan bukan hanya soal digitalisasi atau teknologi, tetapi juga soal kesalehan sosial dan ketahanan lingkungan.

Pemikir besar seperti Muhammad Iqbal pernah berkata, “Bangsa-bangsa hidup dan mati karena ide-ide mereka.”

Maka, pembangunan peradaban Islam hari ini menuntut penanaman ide-ide besar tentang keadilan, kebebasan, dan perdamaian—ide yang berpijak pada wahyu Ilahi dan bergerak menjawab kebutuhan zaman.

Pembangunan peradaban Islam bukan tugas elit politik atau intelektual semata. Ini adalah amanah kolektif umat, dari keluarga, sekolah, masjid, hingga komunitas sosial.

Umat Islam tidak memerlukan imitasi terhadap Barat, tetapi juga tidak cukup hanya dengan romantisme kejayaan masa lalu. Yang dibutuhkan adalah pembaruan visi dan aksi nyata: dalam ruang kelas, kebijakan publik, pengelolaan lingkungan, hingga ekspresi seni dan budaya.

Di tengah dunia yang dilanda kebisingan informasi dan krisis makna, peradaban Islam hadir untuk menyinari seperti cahaya mentari; hangat, menyejukkan, dan penuh harapan.

Cahaya ini menuntut kesadaran kolektif, sebagaimana ditegaskan Prof. Talip Küçükcan, bahwa pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia adalah kunci keberhasilan pembangunan peradaban Islam.

Bagi Hidayatullah, tugas ini bermakna mengajak, melibatkan, dan mengonsolidasikan seluruh elemen umat dalam proyek peradaban ini—menjadikannya amanah kolektif umat Islam, sebagaimana warisan Rasulullah dan generasi emas Islam terdahulu.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah