Beranda blog Halaman 87

Spirit Maulid Nabi Meneladani Rasulullah untuk Ketahanan Keluarga di Era Fitnah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menjadi saksi terselenggaranya Tabligh Akbar bertema “Keteledanan Nabi Muhammad SAW, Panduan Keluarga di Era Fitnah Akhir Zaman” pada Sabtu, 20 Rabi’ul Awal 1447 (13/9/2025).

Acara yang dipusatkan di Masjid Ummul Quraa ini berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 11.30 WIB, diikuti kurang lebih 700 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, santri SMP hingga MA, serta karyawan pesantren.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk refleksi atas pentingnya menjaga ketahanan keluarga dengan meneladani sosok Rasulullah SAW.

Ketua panitia, Ust. Najibullah, M.M., menegaskan dalam sambutannya bahwa acara ini telah direncanakan cukup lama. Acara ini, kata dia, sebenarnya sudah direncanakan sejak bulan Muharram, namun karena banyak rintangan, acara ini diundur hingga Bulan Rabiul Awal.

“Yang, Alhamdulillah-nya, akhirnya digelar bertepatan dengan Bulan Rabiul Awal,” ungkapnya. Ia menambahkan, tema acara ini diangkat, karena sangat pentingnya untuk membentengi keluarga dari fitnah akhir zaman dengan meneladani sosok Rasulullah SAW.

Melalui Tabligh Akbar ini, jelasnya, peserta diajak untuk memahami bahwa keteladanan Rasulullah SAW adalah kunci dalam membentengi keluarga dari berbagai fitnah di akhir zaman.

Tabligh Akbar dibuka dengan lantunan hadroh dari santri SMP-MA Hidayatullah Depok. Nasyid yang dilantunkan seluruhnya berisi pujian kepada Rasulullah SAW, menambah kemeriahan suasana.

Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Aufa, santri kelas IX SMP Integral Hidayatullah Depok yang juga pernah mewakili Kota Depok dalam Musabaqah Hifdzil Qur’an tingkat provinsi. Ia membacakan Surah Al-Ahzab ayat 21 tentang keteladanan Rasulullah sebagai suri tauladan, dengan bacaan yang menyentuh hati para peserta.

Pesan Penting tentang Shalat

Sesi berikutnya diisi oleh KH. Abu A’la Abdullah, M.H.I., sebagai keynote speaker. Dalam pengantarnya, ia menekankan urgensi shalat sebagai tiang agama.

“Shalat itu penting, karena shalat menjadi penentu kita di akhirat kelak,” ujarnya. Ia menambahkan pesan Rasulullah: “Shalatlah kalian seperti shalatku.”

KH. Abu A’la mengingatkan bahwa mendidik anak dengan ajaran shalat yang benar sesuai sunnah adalah kewajiban mendasar keluarga muslim.

Ia juga menyinggung berbagai problem sosial yang menimpa generasi muda, termasuk penyimpangan perilaku akibat lemahnya iman dan jauhnya dari ibadah.

“Bukan masalah IQ dan kecerdasan, tak ada apa-apanya gelar S3 atau profesor, tapi kalau mengenai ibadah saja masih dikuasai hawa nafsu,” tegasnya.

Menurutnya, fondasi umat Islam haruslah bertumpu pada tauhid dan berhukum pada Al-Qur’an serta berakhlak Qur’ani.

Dengan menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, umat diharapkan mampu menjaga iman, memperkuat keluarga, dan membangun peradaban yang beradab di tengah arus globalisasi dan tantangan akhir zaman.

“Warisan Rasulullah hanya ada dua kepada umat muslim, Quran dan Sunnah. Kalian yang berpegang pada sunnah, tidak akan tersesat selama-lamanya,” pesannya menutup materi pengantar.

Mengupas Zaman Fitnah

Materi inti disampaikan oleh Ust. Ihsan Tanjung, Lc., pakar kajian akhir zaman, dengan dimoderatori oleh Ust. Suhardi Sukiman, S.Th.I.

Ia menjelaskan bahwa tanda kecil kiamat sudah dimulai sejak diutusnya Rasulullah SAW sebagai nabi penutup. “Akhir zaman dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Ust. Ihsan menggambarkan kondisi dunia saat ini yang ditandai dengan hegemoni global, krisis ekonomi, konflik dagang, hingga derasnya arus teknologi.

Di sisi lain, peradaban Islam menghadapi tantangan serius seperti perang pemikiran (ghazwul fikri), disorientasi tujuan hidup umat, dan pelemahan akidah.

“Kita sekarang masuk fase yang paling kelam dalam sejarah Islam, yaitu fase mulkan jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendaknya),” paparnya.

Ia menambahkan bahwa dalam menghadapi era fitnah, umat Islam perlu kembali kepada petunjuk Nabi. Di antaranya adalah menjaga lisan, fokus pada keluarga, serta tidak mudah terseret dalam urusan yang tidak bermanfaat.

“Tetaplah engkau di rumah, kuasailah lisanmu, ambillah apa saja yang kamu ketahui, tinggalkan apa yang tidak kamu ketahui, dan perhatikanlah urusan khusus dirimu,” kata Ust. Ihsan mengutip hadis Rasulullah SAW.

Tiga Program Keluarga Muslim

Dalam kesempatan itu, Ust. Ihsan Tanjung juga memberikan arahan praktis berupa tiga program penting yang dapat dijalankan oleh keluarga muslim di tengah derasnya fitnah akhir zaman.

Pertama, ia menekankan pentingnya pembinaan pribadi muslim melalui thalabul ‘ilm, yaitu menuntut ilmu secara konsisten. Menurutnya, seorang muslim tidak boleh berhenti belajar karena ilmu merupakan cahaya yang akan membimbing seseorang dalam setiap langkah hidup.

Dengan ilmu yang benar, seorang hamba akan mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta menjaga dirinya dari godaan hawa nafsu dan arus pemikiran yang menyesatkan.

Kedua, ia mendorong pentingnya membangun lingkungan islami yang kondusif dengan mempererat persahabatan bersama orang-orang saleh. Ust. Ihsan menegaskan bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang.

Ketika seorang muslim berada dalam lingkaran pertemanan yang baik, maka ia akan terdorong untuk semakin dekat dengan Allah, menjaga akhlak, dan bersemangat menjalankan syariat Islam.

Lingkungan yang saleh, meski dalam lingkup kecil, akan menjadi benteng yang kuat bagi keluarga muslim dalam menghadapi gempuran budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga, ia mengingatkan perlunya menghidupkan semangat persaudaraan Islam melalui tiga nilai utama, yakni tawaashau bil haq, tawaashau bish shabr, dan tawaashau bil marhamah. Dengan semangat saling menasihati dalam kebenaran, umat Islam akan selalu terjaga pada jalan yang lurus.

Dengan menumbuhkan kesabaran, seorang muslim tidak mudah goyah menghadapi ujian kehidupan. Dan dengan menanamkan kasih sayang, persaudaraan akan semakin kokoh, melahirkan solidaritas yang hangat di tengah masyarakat.

Melalui tiga program ini, keluarga muslim diharapkan tidak hanya mampu menjaga ketahanan diri, tetapi juga dapat berkontribusi memperkuat umat secara kolektif. Pesan ini menjadi inti dari refleksi Tabligh Akbar untuk membangun keluarga yang kokoh dengan meneladani Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan.

Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. “Marilah kita berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah, karena zaman semakin lama semakin parah. Mulailah mendekat diri kepada Allah,” serunya.

Tabligh Akbar ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ust. Hafid Bahar, M.M. Suasana khidmat terasa ketika ratusan peserta menundukkan kepala seraya memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Sebagai penutup acara, panitia juga membagikan doorprize berupa sayuran, minyak, hingga bingkisan lainnya, yang menambah keceriaan peserta.

Penyelenggara berharap kegiatan ini mampu menjadi bekal nyata bagi keluarga muslim dalam menghadapi tantangan zaman.

(Laporan naskah oleh Mercyvano Ihsan dan foto oleh Munif Achmad Musyafir, santri Kelas X peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

Dari Teras Rumah Qur’an As Shamad Tebar Cahaya Harapan dari Pinggiran Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam denyut kehidupan ibu kota yang serba cepat, masih ada ruang kecil yang menyimpan harapan akan lahirnya generasi Qur’ani. Di tengah kesibukan warga Jakarta yang tiada henti, muncul inisiatif pendidikan berbasis Al-Qur’an yang berangkat dari realitas sosial.

Usut punya usut, ternyata kendala utama bukanlah kemalasan, melainkan beban biaya hidup. Sebagian besar warga di pinggiran Jakarta tak sanggup menyisihkan uang untuk membiayai anak mereka belajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) yang berbayar.

Keterbatasan ekonomi menjadi tembok tebal yang menghalangi mereka dari pendidikan agama. Berangkat dari kondisi itulah, para dai memutuskan untuk bertindak. Mereka tidak ingin melihat “bibit-bibit” generasi muda layu sebelum berkembang.

Dari keprihatinan tersebut lahirlah gagasan mendirikan Rumah Qur’an, sebuah gerakan pendidikan Al-Qur’an gratis yang terbuka bagi anak-anak dari keluarga sederhana.

Nama ini dipilih untuk menggambarkan cita-cita membumikan Al-Qur’an di setiap permukiman. Sejak awal 2018, Rumah Qur’an As Shamad berdiri di Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, sebagai jawaban nyata atas kebutuhan masyarakat.

Banyak anak-anak usia sekolah dasar tenggelam dalam permainan. Padahal, menurut mereka, waktu sore hingga malam bisa menjadi kesempatan berharga untuk menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an.

Seiring waktu, Rumah Qur’an As Shamad menjelma menjadi oase pendidikan yang memberi harapan. Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena mampu memecahkan masalah yang selama ini membelenggu seperti akses terbatas anak-anak terhadap pendidikan agama.

“Keberadaan Rumah Qur’an ibarat jawaban doa banyak orang tua,” kata salah satu pengajar. Saat ini, lembaga ini telah melahirkan lebih dari 50 santri yang menempuh jalan Qur’an.

Dua guru menjadi penggerak utama yang setia mendampingi anak-anak. Mereka adalah Ustadz Adam Sukiman dan Ustadzah Deuis Nur Aprianti. Dengan bimbingan penuh kesungguhan, sejumlah santri berhasil menorehkan capaian menghafal. Ada yang menamatkan satu juz, bahkan ada pula yang menyelesaikan dua juz Al-Qur’an.

“Saat ini, ada 23 santri dari berbagai usia—dari SD hingga SMP—yang aktif belajar,” terang Ustadz Adam. Aktivitas belajar biasanya berlangsung di teras rumah warga atau balai pertemuan yang disulap menjadi ruang belajar sederhana, namun penuh semangat.

Metode pengajaran yang diterapkan bersifat sederhana, namun hasilnya nyata. “Semua ini berkat dukungan penuh Laznas BMH Jakarta,” ujarnya.

Dukungan tersebut tidak hanya berupa motivasi, melainkan juga bantuan nyata. BMH menyalurkan sembako, kafalah dai, serta wakaf Al-Qur’an. Bantuan tersebut meringankan beban sekaligus meningkatkan motivasi para santri.

Selain sebagai wadah pendidikan, Rumah Qur’an As Shamad hadir juga sebagai cermin solidaritas umat. Dari sini terlihat bagaimana keterbatasan dapat diatasi melalui kepedulian kolektif.

Di tengah keterhimpitan biaya hidup masyarakat pinggiran kota, program ini menegaskan bahwa akses terhadap pendidikan Al-Qur’an adalah hak setiap anak, bukan hanya mereka yang mampu secara finansial.

Dengan langkah sederhana, Rumah Qur’an As Shamad telah menanamkan benih harapan. Dari teras rumah dan balai warga, lahir generasi baru yang tumbuh dengan cahaya Al-Qur’an.

Daurah Wustha Sultanbatara Teguhkan Peran Kader Hidayatullah di Tengah Umat

0

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Daurah Marhalah Wustha (DMW) Se-Sultanbatara yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Kota Parepare pada 11–14 September 2025 menjadi momentum penting penguatan kaderisasi.

Dalam kesempatan itu Muhammad Shaleh Utsman, Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, menegaskan harapan besar agar para peserta semakin teguh dalam membawa risalah dakwah di tengah kompleksitas tantangan umat.

“Setelah mengikuti daurah ini, kami berharap para kader wustha semakin mantap dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Tantangan umat semakin kompleks, dan kader Hidayatullah harus hadir sebagai solusi,” ujar Shaleh Utsman dikutip dari laman hidayatullahsulsel.or.id, Jum’at, 19 Rabiul Awal 1447 (12/9/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Sulsel ini menghadirkan peserta dari tiga provinsi kawasan Sulawesi bagian selatan-tenggara. Tercatat 25 orang dari Sulawesi Selatan, 4 orang dari Sulawesi Tenggara, dan 1 orang dari Sulawesi Barat.

Di tengah padatnya agenda persiapan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, penyelenggaraan daurah tetap mendapat prioritas. Shaleh Utsman menyebut kegiatan tersebut sebagai ruang penting bagi penguatan ruhiyah dan intelektual kader.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan emas bagi peserta untuk meneguhkan komitmen dakwah,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Nasri Bohari, menekankan arti penting pelaksanaan daurah, terlebih menjelang akhir periode kepengurusan 2021–2025.

“Agenda ini diharapkan melahirkan kader-kader unggul yang siap mengemban amanah dakwah di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa terlaksananya kegiatan tersebut merupakan hasil kerja kolektif. Terlaksananya DMW ini, jelas Nasri, merupakan hasil kolaborasi kuat berbagai pihak, termasuk DPP, DPW, DMW, DPD Parepare, Yayasan Al Mubarak Hidayatullah Parepare, BMH, dan Sekolah Dai Hidayatullah (SDH).

“Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kaderisasi adalah kerja bersama, bukan kerja individual,” tegas Nasri Bohari dalam sambutannya.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi intensif yang meliputi manhaj tarbiyah Hidayatullah, strategi dakwah komunitas, penguatan fikrah Islamiyah, serta manajemen organisasi. Selain itu, acara turut diisi dengan agenda penguatan spiritual dan akhlak seperti shalat lail, muhasabah, dan tausyiah umum.

Kegiatan DMW Sultanbatara di Parepare tidak hanya menghadirkan pengayaan materi, tetapi juga diharapkan memperkokoh jaringan kaderisasi di tiga provinsi wilayah selatan, barat, dan tenggara Sulawesi.

“Dengan fondasi itu, diharapkan lahir kader dakwah yang konsisten mengemban amanah demi terwujudnya Peradaban Islam,” imbuh Nasri.

Jejak Kehidupan Nabi Sebelum Kenabian, Refleksi atas Lima Fase Pra-Wahyu

0

NABI Muhammad ﷺ adalah sosok yang Allah tetapkan sebagai teladan utama bagi umat manusia. Dalam diri beliau terpancar kecerdasan yang luar biasa, akhlak yang agung, kepemimpinan yang tegas sekaligus penuh kebijaksanaan.

Al-Qur’an menyebut beliau sebagai uswah hasanah, suri teladan yang baik, bagi siapa saja yang mengharap rahmat Allah, takut pada hari akhir, dan senantiasa mengingat-Nya.

Sejarah hidup Rasulullah bukan sekadar rentetan peristiwa, melainkan risalah tarbiyah Ilahi yang penuh makna. Setiap fase dalam kehidupannya, terutama sebelum turunnya wahyu, merupakan persiapan menuju amanah besar sebagai pembawa risalah terakhir.

Rasulullah ﷺ lahir pada 12 Rabi’ul Awwal tahun yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah. Tahun itu dinamai demikian karena Abrahah, penguasa dari Yaman, datang dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah.

Namun, kita tahu, Allah menggagalkan ambisi tersebut. Pasukan besar dengan persenjataan yang kuat luluh lantak hanya dengan burung-burung kecil yang melempar batu dari tanah liat panas.

Peristiwa ini menjadi isyarat bahwa Allah menjaga kesucian rumah-Nya sekaligus menandai kelahiran seorang nabi besar yang kelak akan membawa risalah bagi seluruh umat manusia.

Hikmah dari peristiwa tersebut sangat jelas bahwa sebesar apa pun kekuatan dan kesombongan manusia, semuanya tak berarti tanpa izin Allah. Pertolongan-Nya mampu datang dari arah yang sama sekali tidak terduga.

Hikmah Fase Pra Wahyu

Sebelum menerima wahyu, Rasulullah ﷺ melewati beberapa fase penting yang disebut pra-wahyu. Fase-fase ini tidak terlepas dari pengaturan Allah untuk membentuk kepribadian yang matang dan siap menerima amanah besar.

Pertama, fase keyatiman. Sejak dalam kandungan, Nabi telah kehilangan ayahnya. Pada usia enam tahun, ibunda beliau pun wafat, disusul wafatnya kakek yang mengasuhnya.

Sejak itu, beliau diasuh pamannya, Abu Thalib, yang hidup sederhana. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkan Nabi pengalaman pahit sejak dini. Hal ini membentuk kepekaan sosial yang kelak tercermin dalam banyak ajaran Islam tentang kasih sayang kepada anak yatim.

Kedua, fase menggembala. Pada masa kecil, beliau bekerja sebagai penggembala kambing. Profesi sederhana ini melatih kesabaran, ketekunan, dan kepemimpinan.

Menggembala mengajarkan cara menjaga yang lemah, mengarahkan yang tersesat, dan melindungi dari bahaya. Semua keterampilan itu kelak berguna dalam membimbing umat manusia.

Ketiga, fase berdagang. Memasuki usia remaja, Muhammad ﷺ ikut berdagang bersama pamannya ke negeri Syam.

Kejujurannya dalam berniaga membuat beliau digelari al-Amîn, yang terpercaya.

Dari sini beliau belajar integritas, manajemen, serta pergaulan luas yang menyiapkan wawasan internasional dan geopolitik global. Nilai-nilai ini kelak menjadi modal dalam mengelola komunitas umat yang heterogen.

Keempat, fase berkhadijah. Dalam usia dewasa, beliau bekerja pada Khadijah, seorang saudagar perempuan terkemuka di Makkah.

Kejujurannya membuat Khadijah kagum hingga akhirnya mereka menikah.

Dari rumah tangga yang sakinah ini, Nabi mendapatkan dukungan moral dan emosional. Khadijah menjadi istri pertama sekaligus pendukung utama ketika wahyu pertama turun.

Kelima, fase bergua Hira’. Memasuki usia 35 tahun, Nabi sering melakukan tahannuts, menyepi di Gua Hira. Di sanalah beliau merenungi kondisi masyarakat Makkah yang tenggelam dalam penyembahan berhala dan krisis moral.

Proses ini beliau jalani untuk mencari ketenangan, berharap ada cahaya petunjuk. Tahannuts menjadi latihan spiritual yang menyiapkan batin beliau menyambut wahyu.

Wahyu Pertama yang Mengguncang

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, ketika beliau menyendiri di Gua Hira, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama.

Ayat yang diturunkan adalah surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang memerintahkan manusia untuk membaca dengan nama Tuhan, mengenal asal penciptaannya, serta menghargai ilmu pengetahuan sebagai anugerah mulia.

Wahyu pertama ini lantas mengguncang peradaban dunia yang menegaskan konsep dasar pandangan hidup Islam mengenai ketuhanan, tauhid, penciptaan, peran manusia, pentingnya ilmu, serta kemuliaan yang bersumber dari pengetahuan.

Dengan turunnya wahyu ini, Muhammad ﷺ resmi diangkat sebagai nabi dan rasul terakhir.

Fase pra-wahyu menunjukkan bahwa Allah tidak menelantarkan Nabi Muhammad ﷺ, melainkan mempersiapkannya. Kesulitan masa kecil menumbuhkan kepekaan sosial. Profesi menggembala menanamkan kesabaran dan kepemimpinan.

Demikian pula, pengalaman berdagang melatih kejujuran dan kemampuan manajerial beliau. Kehidupan berumah tangga bersama Khadijah memberikan keteguhan batin. Dan, tahannuts di Gua Hira mematangkan spiritualitas beliau.

Semua itu adalah bekal untuk mengemban misi besar dalam rangka menyempurnakan akhlak mulia.

Nabi ﷺ menegaskan bahwa kehadirannya diutus oleh Allah untuk membimbing manusia agar berakhlak luhur, jauh dari kesombongan dan keserakahan, serta memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

Wahyu yang Mencerahkan Peradaban

Al-Qur’an kemudian turun secara bertahap selama 23 tahun, sebagai cahaya penuntun peradaban yang menata akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.

Kehidupan masyarakat Arab pun berubah drastis dari jahiliyah menuju peradaban yang disebut oleh sejarawan Barat sebagai salah satu bangsa paling beradab dan progresif dalam sejarah.

Perubahan ini dimulai dari pembentukan paradigma tentang Tuhan, manusia, alam semesta, kebahagiaan, kebenaran, ilmu, dan hari akhir.

Hidup Rasulullah ﷺ sebelum kenabian adalah potret tarbiyah Ilahi yang penuh hikmah.

Dengan bimbingan wahyu, Nabi Muhammad ﷺ berhasil merombak pola pikir dan cara pandang umat manusia menuju peradaban yang bercahaya.

*) Ust. H. Ahmad MS, penulis Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara

Aa Gym Mengisi Taushiah Kajian Peradaban Tips Menggapai Ketenangan Jiwa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyemarakkan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mengadakan Kajian Peradaban bertajuk “Tips Menggapai Ketenangan Jiwa, Keluarga Bahagia Bersama Al-Qur’an”.

Acara digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1447 (10/9/2025), dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Hidayatullah ID @tvhid.

Kajian ini menghadirkan narasumber nasional, yaitu KH. Abdullah Gymnastiar, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA., dan KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA., yang membawakan sesi reflektif bagi umat dalam menghadapi tantangan hidup dan membangun rumah tangga bahagia.

Dalam sesi kedua, KH. Abdullah Gymnastiar menekankan pentingnya menjaga hati tetap terpaut kepada Allah melalui zikir dan doa.

Ia menjelaskan makna Surat Ar-Ra’du ayat 28 dalam konteks ketenangan jiwa.

“Jadi, masalah hidup kita itu sebetulnya simple: kebanyakan mikir, kurang zikir. Harusnya yang tepat adalah tiap mikir jadi zikir,” tegasnya.

Ulama yang akrab disapa Aa Gym ini menegaskan kelemahan manusia jika tidak bersandar pada Allah. Ia menekankan perlunya doa sebagai bentuk pengakuan atas ketidakberdayaan manusia.

“Kalau kita tidak berdoa, sombong benar kita. Siapa kita, penceramah ini bisa apa,” ujarnya.

Aa Gym juga memaparkan keterbatasan penceramah dalam memberi hidayah, menekankan peran doa dan amal sebagai penopang keberhasilan dakwah.

“Tugas penceramah itu ya meluruskan niat, berkata yang benar semampunya, berusaha mengamalkan apa yang disampaikan, dan berdoa supaya Allah menerima semua,” katanya.

Dalam membahas fenomena stress, Aa Gym menjelaskan bahwa banyak tekanan hidup muncul karena prasangka dan ketidakmampuan mengingat Allah.

“Kalau disederhanakan, hidup ini hanya ada tiga zaman. Satu, yang belum terjadi. Dua, yang sudah terjadi. Tiga, yang sedang terjadi. Biasanya, stress hanya ada di tiga tempat ini,” katanya.

“Kebanyakan kita stress dengan yang belum terjadi. Padahal kejadiannya belum, tapi sengsaranya duluan. Aneh memang. Padahal belum terjadi, belum tentu terjadi, belum tentu hidup,” imbuhnya.

Ia menutup pemaparan dengan menukil Surah At-Taubah ayat 51 sebagai pedoman dan kunci menghadapi masalah melalui ingat kepada Allah.

Kajian Peradaban ini juga mendapat dukungan dari Muslimat Hidayatullah, Inner Salon Muslimah, serta sejumlah pihak lain yang turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan.

Dengan menitikberatkan pada nilai-nilai Qur’ani, acara ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan keluarga dan pembangunan peradaban umat.

Tayangan ulang kajian ini dapat disimak di sini.

Abah Zain Tekankan Pentingnya Apresiasi dalam Membangun Rumah Tangga Qur’ani

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian semarak Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyelenggarakan Kajian Peradaban bertema “Tips Menggapai Ketenangan Jiwa, Keluarga Bahagia Bersama Al-Qur’an”.

Acara berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1447 (10/9/2025).

Kajian ini digelar untuk memperdalam ilmu, memperkuat iman, serta membangun ketenangan jiwa dalam lingkup keluarga. Hadir sebagai narasumber KH. Abdullah Gymnastiar, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA., serta KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA.

Kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Hidayatullah ID @tvhid, sehingga dapat diikuti masyarakat luas.

Dalam penyampaian materi pada sesi pertama, KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA., yang akrab disapa Abah Zain, menekankan pentingnya membangun rumah tangga yang bahagia dengan spirit Qur’ani.

Ia menyoroti peran apresiasi dalam menciptakan suasana harmonis di dalam keluarga.

Menurutnya, apresiasi antar pasangan maupun kepada anak-anak merupakan pilar penting dalam membangun rumah tangga yang penuh berkah.

Ia menegaskan bahwa tanpa penghargaan yang tulus, kehidupan keluarga dapat kehilangan kebahagiaan.

“Karena kurangnya apresiasi kepada anak, kurangnya apresiasi kepada istri, kurangnya apresiasi kepada suami, maka setali tiga uang rumahnya besar tetapi hatinya kecil. Panjang perjalanan sampai ke akhirat tapi tidak ada bayang-bayang surga, hari-hari di rumah hanya benturan kata,” ujarnya.

Selain itu, Abah Zain mengingatkan kembali kepada umat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga.

“Ayo kita kembali. Buka Al-Qur’an, jangan gengsi jangan sombong. Baca dengan cara yang lebih tenang agar menyenangkan bagi hati, bagi perasaan, dan bagi tubuh kita,” pesannya.

Kajian Peradaban ini juga mendapat dukungan dari Muslimat Hidayatullah, Inner Salon Muslimah, serta sejumlah pihak lain yang turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan.

Tayangan ulang kajian ini dapat disimak di sini.

Kursus Muballigh Profesional Tekankan Dakwah sebagai Ruh Pembangunan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam lanskap kehidupan keagamaan di Indonesia, peran muballigh tidak hanya terbatas pada mimbar masjid, tetapi juga merambah ruang-ruang baru di dunia digital.

Kesadaran inilah yang melatari terselenggaranya Kursus Muballigh Profesional oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerja sama dengan Korp Muballigh Hidayatullah (KMH). Kegiatan ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada 6–7 September 2025 dengan semangat memperkuat kompetensi generasi muda dalam berdakwah.

“Kursus Muballigh Profesional ini sarana untuk membantu masyarakat, termasuk kaum muda siap dalam dunia dakwah. Baik ceramah, khutbah bahkan bagaimana memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah,” tegas Ketua KMH, Iwan Abdullah.

Pernyataan tersebut menjadi benang merah dari penyelenggaraan acara, yakni menyiapkan para dai agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman sekaligus menjaga ruh dakwah tetap membumi.

Dalam penjelasannya, Iwan Abdullah menekankan pentingnya kesiapan anak muda untuk turun langsung ke masjid dengan keterampilan memadai.

Menurutnya, keahlian khutbah, kultum, hingga keterampilan berbicara publik menjadi bekal dasar yang tidak bisa diabaikan serta upaya mendorong generasi muda untuk menjadikan dakwah sebagai jalan pengabdian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kegiatan ini bagian dari komitmen Hidayatullah bersama simpul sinergi yang ada dalam melahirkan generasi muballigh yang berdaya saing tinggi, mampu bersinergi dengan kebutuhan masyarakat, dan tetap menjadikan dakwah sebagai ruh pembangunan bangsa,” tandasnya.

Adaptasi Perkembangan Teknologi

Kursus ini juga menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi yang aktif di bidang dakwah dan komunikasi publik. Salah satunya adalah Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang selama ini konsisten menulis setiap hari di laman pribadinya, masimamnawawi.com.

Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi pentingnya adaptasi muballigh terhadap perkembangan teknologi.

“Dakwah digital urgen. Karena bagaimanapun digital adalah realitas baru, yang para dai muda tak boleh diam saja. Harus aktif sehingga produktif dalam menebar pesan kebaikan melalui dunia digital,” ungkap Imam Nawawi.

Ia menegaskan, media sosial tidak hanya sekadar ruang hiburan, tetapi juga sarana strategis dalam menyampaikan pesan moral dan spiritual yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Peserta kursus juga merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. Muhammad Adnan, salah satu peserta, mengaku memperoleh pengalaman berharga yang meningkatkan rasa percaya diri dalam berdakwah.

Bagi Adnan, dakwah tidak bisa hanya mengandalkan niat tulus, melainkan harus dibarengi dengan kesiapan intelektual dan keberanian tampil di depan masyarakat.

“Saya akhirnya menyadari dakwah memang harus ikhlas, tapi tampil di depan masyarakat kami harus benar-benar siap. Dakwah tidak bisa tanpa semangat membaca yang sungguh-sungguh ke depan,” tuturnya.

Kursus ini menurutnya penting bagi angkatan muda seperti dirinya dalam penguatan kapasitas agar dapat menjawab tantangan zaman. Dari masjid hingga media digital, dari khutbah hingga konten sosial, para peserta diarahkan untuk menjadi pribadi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga konsisten menebarkan kebaikan dengan pengetahuan yang kuat.

Ajang DPW Cup 2025 Hidayatullah DIY-Jateng Bagsel Kirim Pesan Pentingnya Kesehatan Fisik

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam tradisi Islam, kesehatan merupakan amanah sekaligus sarana untuk memperkuat ibadah. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tubuh yang sehat akan menopang kesempurnaan amal.

Nilai ini kembali ditegaskan dalam rangkaian penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-VI tahun 2025. Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)-Jawa Tengah Bagian Selatan mengawali semarak menuju perhelatan tersebut dengan menggelar kompetisi futsal bertajuk DPW Cup 2025 pada Ahad, 14 Rabi’ul Awal 1447 (7/9/2025).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, yang membuka acara dengan tendangan perdana, menegaskan pentingnya membangkitkan kembali budaya hidup sehat.

“Gaya hidup sehat orang zaman dahulu dengan sekarang sudah sangat berubah seiring dengan perubahan zaman yang berubah dari gaya hidupnya maupun berubah dari apa yang dikonsumsinya,” jelas Nashirul dalam sambutannya.

Ia mengenang bagaimana generasi sebelumnya akrab dengan aktivitas fisik sejak kecil, mulai dari berjalan kaki ke sekolah hingga bermain bola sepulang belajar. Kondisi itu, menurutnya, berbanding terbalik dengan masa kini yang cenderung membuat orang abai terhadap kebugaran.

“Maka kita perlu aktifkan kembali gaya hidup sehat ini dengan rutin berolahraga,” ungkapnya.

Kegiatan DPW Cup 2025 ini membawa tema “Imun Meningkat, Ukhuwah Kuat, Dakwah Semangat” sebagai bentuk ajakan agar olahraga tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga mempererat persaudaraan.

Seruan itu sejalan dengan pesan Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagian Selatan, Abdullah Munir, S.Ag. Ia menekankan bahwa event olahraga menjadi sarana untuk menjaga komitmen kesehatan kader.

“Kalau sudah sakit, badan yang sehat itu mahal sekali. Kalau fisik kita sehat dan bugar, insyaAllah dakwah akan terus berjalan,” kata Munir.

Kompetisi yang berlangsung dengan penuh semangat ini berhasil menobatkan Pondok Al-Kahfi Hidayatullah Surakarta sebagai juara pertama.

Sementara itu, SMI Ma’had As-Sakinah Yogyakarta menempati posisi kedua, Kepengasuhan Ma’had As-Sakinah sebagai juara ketiga, dan Team DPD Hidayatullah Sukoharjo menempati urutan keempat.

Hasil tersebut menjadi catatan prestasi, sekaligus bukti bahwa olahraga dapat menjadi medium dakwah yang menghidupkan nilai ukhuwah. Hal itu seperti diutarakan salah satu peserta, Joni Apriyansah dari Team BMH Yogyakarta.

Joni menyampaikan kebahagiaannya meski timnya harus menelan pil pahit pada babak delapan besar yang berhadapan dengan lawan lawan tangguh.

“Walaupun kami tidak lolos ke perempat final, saya ikut senang bisa mengikuti kegiatan ini. Semalam saya baru datang dari Mojokerto, sengaja datang ke Jogja untuk bisa mengikuti kegiatan ini,” katanya.

Baginya, DPW Cup 2025 menjadi ruang aktualisasi nilai Islam tentang pentingnya menjaga jasmani, ukhuwah, dan dakwah dalam satu tarikan nafas. Melalui olahraga, kader Hidayatullah tidak hanya melatih fisik, tetapi juga memperkokoh ikatan persaudaraan yang kelak menopang peran besar dalam pembangunan peradaban umat.

“Harapan saya semoga kegiatan DPW Cup ini bisa dilaksanakan rutin minimal setahun sekali, karena selain bisa membuat badan lebih sehat, juga menambah kebersamaan dan keakraban,” tutur Joni.

Bumi Negeri Lestari di Nusantara Kolaborasi untuk Alam dan Generasi Mendatang

0

NUSANTARA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah derasnya arus pembangunan modern, menjaga keseimbangan dengan kelestarian lingkungan menjadi tantangan penting. Upaya itu mendapat momentum baru ketika Baitul Maal Hidayatullah (BMH) melaksanakan program lingkungan bertajuk Bumi Negeri Lestari.

Melalui kegiatan penanaman pohon, program ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk bergerak bersama, memastikan bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan sejalan dengan kelestarian alam.

Acara ini digelar pada Senin, 15 Rabiul Awal 1447 (8/9/2025) di kawasan hunian vertikal TNI, Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kegiatan yang membawa tema “Komitmen Bersama Selamatkan Bumi, Hijaukan Negeri dari Ibu Kota Nusantara” tersebut dimulai dengan pertemuan antara manajemen BMH dan pihak manajemen konstruksi IKN yang menekankan semangat kolaborasi dalam membangun kota yang modern sekaligus ramah lingkungan.

Puncak kegiatan ditandai dengan momen simbolis yaitu penanaman bibit pohon secara bersama-sama. Tidak sekadar seremoni, aksi ini menjadi representasi komitmen nyata BMH dan berbagai elemen pemerhati untuk menjaga harmoni antara pembangunan dan alam.

Sebanyak lima bibit pohon ditanam dalam kegiatan ini. Setiap bibit dimaknai sebagai simbol harapan besar yang mengusung semangat kolaborasi, kepedulian lingkungan, keberlanjutan pembangunan, dan doa untuk generasi mendatang.

“Kami niatkan penanaman pohon ini sebagai amal jariyah yang insya Allah akan memberi manfaat luas bagi generasi mendatang,” ujar Kepala BMH Kaltim, Muhammad Rofiq.

Manajemen IKN juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut. “Penanaman pohon ini menjadi simbol komitmen menjaga kelestarian alam di tengah pembangunan IKN,” kata Bapak Kiki dari manajemen IKN. Ia menambahkan, langkah tersebut selaras dengan visi menjadikan IKN sebagai kota yang modern sekaligus hijau.

Diterangkan Rofiq, lebih dari sekadar kegiatan lingkungan, program Bumi Negeri Lestari juga terhubung dengan agenda Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah. Dalam forum tersebut, salah satu isu penting yang diangkat adalah peran umat Islam dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Dengan demikian, kegiatan penanaman pohon ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga berkontribusi pada wacana kebangsaan yang lebih luas,” jelas Rofiq.

Program ini sekaligus memperluas cakupan peran Hidayatullah yang didukung BMH, yang selama ini dikenal aktif dalam bidang dakwah dan sosial. Melalui aksi penanaman pohon, kolaborasi ini menegaskan kepeduliannya pada aspek ekologis sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

“Melalui gerakan ini, kita ingin menunjukkan bahwa setiap individu maupun lembaga dapat memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian bumi,” jelas Rofiq.

Inisiatif semacam ini menurutnya juga menggarisbawahi pentingnya keselarasan antara pembangunan infrastruktur dan kepedulian ekologis, terutama di kawasan strategis seperti Ibu Kota Nusantara.

Terangnya menambahkan, dengan jejak hijau yang ditinggalkan, program Bumi Negeri Lestari diharapkan menjadi cermin dari cita-cita membangun kota yang tidak hanya menjadi simbol kemajuan bangsa, tetapi juga rumah yang ramah bagi seluruh kehidupan.

Munas VI Hidayatullah Konsolidasi Visi untuk Dakwah, Pendidikan, dan Peradaban Bangsa

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah tidak hanya dipandang sebagai forum rutin organisasi, melainkan momentum strategis yang diharapkan mampu memperkuat soliditas internal sekaligus menjawab tantangan zaman. Sejak tahap awal persiapan, semangat tersebut telah ditegaskan oleh jajaran pengurus pusat maupun daerah.

“Munas VI ini adalah ajang untuk memperkuat ukhuwah dan meneguhkan jati diri Hidayatullah di tengah tantangan zaman,” tegas Anggota Badan Pekerja (BP) Munas VI Hidayatullah, Ust. Akib Junaid Kahar, saat memberikan sambutan dalam sosialisasi persiapan Munas di Kampus Utama Hidayatullah Batam, Senin, 15 Rabiul Awal 1447 (8/9/2025).

Rangkaian kegiatan menuju Munas VI resmi dimulai melalui agenda sosialisasi intensif yang digelar secara hibrida, baik luring di Batam maupun daring melalui Zoom.

Menurutnya, rangkaian kegiatan ini sekaligus menandai langkah awal konsolidasi menuju forum musyawarah nasional yang akan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan internal.

“Harapannya, seluruh keputusan yang lahir dari Munas VI menjadi pedoman yang mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia menuju cita-cita 2045,” imbuhnya.

Acara ini melibatkan 71 peserta, terdiri dari pengurus Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Kepulauan Riau serta perwakilan pengurus Hidayatullah di seluruh Sumatera. Kehadiran mereka mencerminkan antusiasme tinggi untuk berperan aktif dalam perumusan masa depan organisasi.

Dalam forum tersebut, BP Munas menekankan bahwa musyawarah nasional bukan hanya agenda struktural, melainkan wadah konsolidasi visi-misi yang akan melahirkan keputusan strategis lima tahun ke depan. Akib Junaid menjelaskan, arah kebijakan yang dibahas meliputi dakwah, pendidikan, dan penguatan kaderisasi.

Sosialisasi juga menyinggung secara mendalam draf Pedoman Dasar Organisasi (PDO) 2025–2030, arah kebijakan strategis Hidayatullah, serta teknis pelaksanaan Munas VI yang dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Oktober 2025. Tema besar yang diangkat, “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045,” mencerminkan kesungguhan organisasi untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan umat.

Diskusi berjalan dengan dinamis. Antusiasme peserta dalam memberikan pandangan dan masukan menunjukkan bahwa proses ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya kolektif memperkuat partisipasi seluruh elemen organisasi.

Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, Darmasnyah Dahura, menilai forum ini telah berjalan dengan baik. Menurutnya, kelancaran agenda sosialisasi menjadi tanda positif bagi suksesnya Munas mendatang.

“Diharapkan, melalui Munas ini, Hidayatullah dapat semakin mengukuhkan perannya dalam membangun peradaban Islam dan kemajuan bangsa,” ujarnya.

Dengan demikian, jelas dia, Munas VI Hidayatullah diposisikan sebagai ruang strategis untuk memperkuat arah perjuangan organisasi di tingkat nasional.

Proses sosialisasi awal yang dilakukan di Batam tidak hanya menyiapkan teknis acara, tetapi juga mengikat kembali komitmen pengurus wilayah dan daerah agar selaras dengan visi besar Hidayatullah.