
“SETIAP lima tahun sekali, ada krisis di industri penerbangan. Harapan untuk bertahan pasti ada. Namun, krisis semacam ini hanya dapat diatasi oleh pemimpin-pemimpin brilian yang bekerja cerdas bersama tim terbaiknya”.
Demikian ungkapan Yashihiro Fukada, Direktur Operasional ZipAir Tokyo (Kompas.id, 27/3/2026), yang menarik untuk kita cermati, terutama dalam memahami bagaimana seharusnya kita memandang krisis.
Kalimat Fukada itu menarik setidaknya karena dua hal. Pertama, krisis pasti terjadi dan melanda. Kedua, menghadapi krisis dengan menyiapkan generasi pemimpin dan tim yang andal, siap menghadapi, bukan yang terampil main lari.
Krisis adalah kondisi yang penuh ketidakpastian. Ia sering disertai kepanikan, ketergesaan, bahkan menurunnya kepercayaan antar pihak. Dalam situasi seperti ini, keadaan menjadi tidak stabil, bahkan menyerupai kondisi bencana atau konflik.
Dalam konteks kepemimpinan, krisis harus dipahami sebagai bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang dihindari. Menang dalam pemilu tidak berarti jalan akan selalu mulus.
Jika seorang pemimpin terlalu berfokus pada dirinya (self-oriented), maka krisis yang datang justru akan memperbesar dampak negatif. Dan itu sangat mungkin, karena biasanya, pemimpin yang terlalu sempit sudut pandangnya akan cenderung membangun tim yang tidak cukup kuat secara mental.
Mengatasi Krisis
Dalam situasi global yang tidak stabil, misalnya konflik geopolitik yang berdampak pada energi, masyarakat mulai merasakan keresahan terhadap kebutuhan dasar seperti BBM dan gas.
Sahabat saya di pedalaman Kalimantan Timur, kawasan yang sering disebut sebagai lumbung sumber energi kandungan alam, telah mengabarkan bahwa dirinya lambat membalas pesan Whatsapp karena seharian berputar-putar mencari gas. “Mulai langka gas di kampung, bro,” tulisnya.
Pertanyaannya apakah fakta seperti ini, meski hanya di satu desa, sudah sampai ke level pemimpin yang seharusnya tahu dan paham mengatasinya?
Pemimpin yang visioner dan bijaksana, biasanya akan memiliki kemampuan mendeteksi, mitigasi, dan melakukan persiapan untuk mengatasi krisis yang terjadi. Seperti sekarang, ketika perang Iran berkelanjutan dan dampak pada BBM dunia mulai menguat, masyarakat mulai berada dalam kondisi resah akan ketersediaan BBM, bahkan gas.
Situasi ini menuntut kepemimpinan yang mampu memberikan kepastian arah dan solusi yang jelas bagi masyarakat. Tanpa itu, krisis benar-benar akan merontokkan semua optimisme. Situasi ini tentu tidak memberi keuntungan bagi siapapun. Dalam bahasa yang sederhana, orang lain yang perang, kita yang kesakitan.
Dalam situasi seperti ini pemimpin tertinggi dan tim terbaiknya harus memiliki konsep tegas dan jelas untuk mengurai krisis ini. Krisis tak dapat dicegah, tapi dampaknya bisa diminimalisir.
Oleh karena itu pemimpin harus merasakan langsung keresahan rakyat. Pada saat yang sama, mengerahkan tim bekerja semaksimal mungkin. Bukan masanya lagi dalam situasi krisis pemimpin membiarkan opini sebagai isu. Tapi ia harus menjadikan pandangannya sebagai kebijakan yang mengatasi krisis.
Pemimpin Sejati Diuji dalam Krisis
Pemimpin sejati bukan sekadar yang menduduki jabatan, tetapi yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat.
Krisis satu sisi menakutkan, tapi sisi itu adalah peluang bagi semua pihak untuk menjadi lebih kuat. Dalam konteks ini pemimpin harus benar-benar mampu memberi respons yang memadai.
Dalam dunia kepemimpinan dikenal istilah inspire trust. Artinya, pemimpin harus mampu membangun kepercayaan, bahkan menginspirasi masyarakat untuk tetap optimis di tengah krisis.
Salah satu langkah penting adalah evaluasi. Evaluasi terhadap cara berpikir, kebijakan, dan arah keputusan. Selain itu, evaluasi terhadap tim juga krusial: apakah tim benar-benar bekerja dan mampu menghadirkan solusi.
Maknanya adalah pemimpin dan timnya harus memiliki langkah yang jelas. Bisa memahami masalah, merumuskan kebijakan, dan mengeksekusi solusi secara terukur.
Pada akhirnya, krisis tidak selalu menjadi ancaman, tetapi juga ujian kualitas kepemimpinan.
Krisis akan berlalu, tetapi cara pemimpin menghadapinya akan menentukan apakah rakyat tetap kuat atau justru menjadi korban. Karena itu, jangan takut menghadapi krisis—yang perlu ditakuti adalah ketika kita tidak siap menghadapinya.[]
Imam Nawawi






