AdvertisementAdvertisement

Membangun Tradisi Berpikir Peradaban Islam di Tengah Krisis Global

Content Partner

MENGAPA umat Islam sibuk tapi tidak menentukan? Salah satu penyebabnya adalah lemahnya tradisi berpikir peradaban di kalangan umat Islam.

Berpikir peradaban adalah upaya membangun tradisi intelektual untuk mewujudkan sistem nilai Islam dalam kehidupan sosial secara konkret.

Tujuannya, bukan untuk nostalgia, melainkan untuk menjawab krisis global kontemporer, baik dalam aspek moral, lingkungan, maupun kemanusiaan.

Dalam konteks geopolitik global saat ini, konflik antarnegara sering kali tidak menawarkan solusi peradaban. Perlahan mari berpikir sejenak, apa yang akan Amerika tawarkan kepada dunia andaikata Iran kalah.

Bagaimana juga Iran akan memberikan tawaran solusi bagi dunia kalau pun negeri para mullah itu menang. Publik menilai bahwa konflik antara Amerika, Iran, dan Israel menunjukkan keterbatasan pendekatan militer dalam menyelesaikan problem global.

Oleh karena itu, merespon situasi yang berkembang tersebut, mesti ada sebagin dari umat ini yang bergerak sesuai visi, kapasitas dan peluang kontribusi konkretnya kepada dunia benar-benar diupayakan.

Artinya, sekarang ini, diperlukan aktor-aktor intelektual dalam umat Islam yang mampu menawarkan solusi berbasis nilai, bukan kekuatan militer.

Nah, dalam konteks gerakan Islam kontemporer, organisasi seperti Hidayatullah memiliki peluang strategis.

Hidayatullah dengan visi membangun peradaban Islam, sudah semestinya segera melakukan rekonsiliasi bagaimana eksistensinya memberi manfaat bagi bangsa dan dunia dengan menawarkan nilai-nilai peradaban yang diusung selama ini.

Cara Berpikir Ibn Khaldun

Salah satu rujukan penting dalam membangun tradisi berpikir peradaban adalah Ibn Khaldun. Sekarang mari kita perhatikan, mengapa orang merasa perlu membuka pemikiran Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan dan pemikir besar abad ke-14 M. Hal itu karena dia dikenal luas dengan kontribusinya dalam bidang sejarah, sosiologi, ekonomi, dan politik.

Dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, ia mengemukakan teori peradaban yang mengintegrasikan konsep-konsep kekuasaan, ekonomi, moralitas, dan solidaritas sosial (‘asabiyyah), yang memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika masyarakat dan peradaban.

Kalau kita mau meminjam pemikiran Ibn Khaldun, maka sebagai sebuah usulan menjaga peradaban dunia tetap eksis dengan nilai yang seharusnya. Idealnya ada dari umat ini yang menawarkan pendekatan berbasis nilai, bukan dominasi kekuatan (baca militer).

Soal Amerika, Israel dan Iran sudah terlanjur basah dalam arena peperangan, itu hal lain. Akan tetapi sebagai kontribusi pemikiran, langkah ini penting. Sebab perang akan berlalu. Kalau dunia terkuras fokusnya pada perang, maka kita harus menyiapkan fokus pada tatanan nilai peradaban yang menjawab krisis besar ini.

Dalam kata yang lain berpikir peradaban artinya kita punya fokus pada apa yang substansi, bukan pada apa yang sedang menjadi tren dan sensasi. Prinsip ini sejalan dengan konsep Al-Qur’an yang mengharuskan kita fokus pada yang esensial.

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d: 17).

Implementasikan Iqra’ Bismirabbik

Dalam kerangka epistemologi Islam, Hidayatullah mengenal surah Al-‘Alaq sebagai basis membangun kesadaran Muslim. Ayat pertama isinya sangat tegas; Iqra’ bismirabbik!.

Perintah itu semestinya menjadi agenda implementasi paling mendasar dalam kelangsungan kiprah kader dan jamaah. Pertanyaannya bagaimana caranya?

Pertama, mulai membangun tradisi membaca dan menulis secara intens. Langkah ini penting agar ada yang namanya ketangguhan berpikir.

Dalam konteks Iran melawan AS dan Israel, kita dapat mengkap apa yang namanya resiliensi intelektual. Kita tahu Iran adalah negara yang memiliki tradisi berpikir filsafat sangat baik. Bahkan kini mampu menjawab tantangan militer dari Amerika sekalipun.

Kedua, membangun forum-forum ilmiah yang merangsang kesadaran akan visi segenap kader dan jamaah semakin kokoh dalam memahami manhaj gerakan. Dengan begitu akan lahir satu superioritas yang kuat dalam hal visi dan nilai.

Penulis peradaban dari Hidayatullah, Suharsono Darbi, sering memberikan ilustrasi bahwa masyarakat yang superior akan memberi warna kepada masyarakat yang inferior. Begitu pun dalam hal peradaban. Dan dalam perspektif sosiologi peradaban, masyarakat yang memiliki keunggulan intelektual cenderung mendominasi yang lain.

Membuktikan hal itu, bisa kita cek sejarah Indonesia. Ketika Belanda datang ke Indonesia dengan kemajuan teknologi dan militer, maka bangsa ini menjadi inferior. Bukan karena secara ideologi bangsa ini kalah unggul secara nilai, tapi karena memang belum memiliki kesataraan intelektual dalam hal militer, teknologi, bahkan peradaban itu sendiri.

Dan, kalau merujuk pada pemikiran Ibn Khaldun, maka tugas kita sekarang adalah bagaimana memiliki pemahaman mendalam dan utuh tentang konsep-konsep kekuasaan, ekonomi, moralitas, dan solidaritas sosial (‘asabiyyah).

Dengan cara seperti itu, kita tidak sekadar menonton perang yang terjadi, tapi kita juga menyiapkan roadmap kesadaran berpikir bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia dengan tradisi berpikir peradaban yang kita perjuangkan. Tanpa tradisi berpikir peradaban, umat hanya akan menjadi penonton dalam dinamika global.[]

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Tuntaskan 9.541 Layanan Dakwah Selama Ramadhan di Pedalaman Indonesia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Departemen Pembinaan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Iwan Abdullah, M.Si, secara resmi menutup Program Dakwah...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img