
“MENULIS itu panggilan manhaj” adalah ungkapan dari Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Fuad Fahruddin. Ia mengutarakan itu saat silaturahmi dengan santri Hidayatullah yang kini menimba ilmu di Institut Muslim Cendekia (IMC) Ar Rayah, Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis, 8 Ramadhan 1447 (26/2/2026).
Basis dari idenya itu adalah Surah Al-Alaq ayat ke-4 dan Al-Qolam, ayat ke-1 dengan perhatian utama pada lafadz “Qolam” yang biasa kita kenal artinya dengan pena.
Pena dalam hal ini bukan alat tulis, tapi simbol transmisi ilmu, simbol peradaban dan simbol otoritas pengetahuan. Dan, menulis adalah langkah penting dalam upaya “mengabadikan” ilmu.
Dalam kata yang lain, kita bisa menangkap dua pesan utama. Pertama, Islam adalah agama yang mendorong umatnya menuntut ilmu. Kedua, cara memperoleh ilmu yang terbaik adalah dengan menulis. Maksudnya menulis adalah cara efektif untuk menguatkan dan mengkristalkan ilmu yang telah kita peroleh.
Kita bisa mengenal cara Nabi SAW salat, puasa, dan lain sebagainya karena ada tulisan berupa hadits dan sirah yang para ulamam lakukan. Oleh karena itu pantas jika orang mengatakan bahwa menulis adalah tanggung jawab peradaban. Dan, dalam pandangan Hidayatullah secara manhaj, menulis adalah panggilan manhaj.
Wajib Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa, menulis bukan hanya tuntutan akademik, tetapi juga kebutuha intelektual. Hal ini karena selain menjalani syariat Islam sehari-hari, mahasiswa juga bertemu dengan “syariat” akademik, yaitu menulis. Entah menulis makalah atau pun skripsi.
Mewajibkan diri menulis bagi mahasiswa akan mendatangkan begitu banyak benefit. Saya dalam artikel “Mengapa Mahasiswa Harus Menulis? Ini Alasan Ilmiah dan Spiritualnya” (bisa klik di sini) telah memberikan dua poin penting.
Pertama, mahasiswa perlu memaksa pikiran mereka bekerja dengan rapi. Seringkali nyaris setiap orang merasa idenya sudah rapi, tapi baru di kepala. Begitu mau dituangkan, sebagian orang mulai merasa bertemu jalan buntu. “Mulai dari mana ini, ya.”
Kedua, terkadang niat sudah kita hadirkan untuk menulis. Namun, berbagai macam ide dalam kepala saling memaksa untuk naik ke permukaan. Alhasil, mereka yang gagal fokus, akan sulit untuk bisa segera memulai aktivitas menulis. Masalah semakin runyam kalau tulisan itu adalah tugas kuliah. Sebagian pun memaksa diri dan menulis dengan kondisi jiwa dan pikiran yang belum seutuhnya siap.
Makna Panggilan Manhaj
Nah, sekarang kita masuk pada sisi makna, apa sebenarnya yang dimaksud dari kalimat “Menulis adalah panggilan manhaj”. Sebelum saya lanjutkan, kita perlu definisikan manhaj itu sendiri.
Dalam konteks Hidayatullah, manhaj merujuk pada sistem nilai dan metodologi perjuangan yang bersumber dari wahyu (Al-‘Alaq hingga Al-Fatihah). Maka, ketika menulis disebut sebagai panggilan manhaj, ia bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi bagian dari tanggung jawab menjaga dan mengembangkan sistem nilai tersebut.
Pertama, Allah menegaskan bahwa transmisi keilmuan harus berjalan dengan baik dan itu butuh kemampuan umat Islam memainkan peran strategis pena.
Seorang teman bertanya, mengapa sampai sekarang kita masih suka mengkonsumsi pikiran Karl Marx dan lainnya. Saya katakan karena gagasan alternatif yang kuat dan sistematis dari kalangan Muslim belum banyak yang hadir dan mendominasi ruang diskursus publik.
Kedua, kalau kita ingi umat Islam ini maju, maka perkuat pena, dalam arti tradisi keilmuan, kecintaan pada ilmu dan penyebaran ilmu.
Ketiga, ini pesan paling inti. Menulis membuat kita sadar bahwa kuliah bukan semata untuk lulus, tapi bagaimana bisa ikut aktif bahkan terdepan dalam upaya-upaya mencerdaskah kehidupan bangsa. Bangsa yang kuat adalah yang penduduknya cinta ilmu, gemar menulis.
Karena tanpa tradisi menulis, cinta ilmu hanya menjadi slogan; dengan tradisi menulis, ilmu menjadi warisan.[]
Mas Imam Nawawi






