AdvertisementAdvertisement

Satu Ramadhan Sejuta Kemuliaan

Content Partner

ADA sebuah rahasia besar yang Allah sembunyikan di balik lipatan waktu Ramadhan. Sebuah rahasia yang sanggup meruntuhkan logika manusia tentang kasta kemuliaan. Hal ini terungkap terkait  dua lelaki dari kabilah jauh di perbatasan Irak tepatnya Suku Bulai.

Mereka berdua datang ke Madinah membawa hati untuk bertauhid masuk Islam. Mereka bersahabat karib, sehidup semati, layaknya dua anak manusia yang diikat oleh sumpah setia di bawah langit yang sama.

Hingga suatu hari, genderang perang bertalu. Panggilan jihad memanggil, keduanya maju ke medan laga dengan gagah berani, lalu sahabat yang pertama gugur sebagai syuhada. Sebuah kematian yang paling dicemburui oleh penduduk bumi dan langit karena dianggap sebagai puncak kasta tertinggi menujusurga  firdaus. Sementara lelaki kedua, ia tetap hidup setahun lamanya, menjalani sisa umur dalam kesunyian, hingga akhirnya wafat di atas pembaringan karena sakit.

Beberapa saat kemudian, Sahabat Thalhah bermimpi berdiri di depan pintu surga. Ia melihat kedua sahabat dari suku Bulai itu di sana. Lalu, sebuah suara berwibawa terdengar dari balik pintu keabadian. Malaikat memanggil lelaki yang meninggal karena sakit untuk masuk terlebih dahulu. Baru setelahnya, lelaki yang mati syahid dipanggil untuk menyusul.

Thalhah terjaga dengan dada penuh tanda tanya. “Bagaimana mungkin?” batinnya. “Bukankah derajat syahid adalah puncak kemuliaan? Mengapa ia justru yang belakangan?”

Kisah mimpi itu pun menjalar dari satu lisan ke lisan lain, membawa keheranan yang sama di antara para sahabat. Akhirnya, teka-teki itu bermuara pada Rasulullah SAW. Beliau tersenyum tenang, lalu melontarkan pertanyaan yang membedah logika manusia:

“Bagian mana dari mimpi itu yang membuat kalian terheran-heran?”

“Ya Rasulullah,” jawab salah seorang sahabat, “mengapa orang yang meninggal biasa bisa mendahului dia yang mati syahid masuk ke surga?”

Rasulullah SAW menjawab dengan kalimat yang menggetarkan: Bukankah ia hidup satu tahun lebih lama setelah sahabatnya pergi? Bukankah dalam satu tahun itu ia mendapati bulan Ramadhan, ia berpuasa, dan ia telah sujud ribuan kali dalam shalatnya?”

Para sahabat terdiam. Sebuah kebenaran sederhana namun telak baru saja mereka terima.

“Maka ketahuilah,” lanjut Baginda Nabi, “perbedaan derajat antara keduanya karena amal setahun itu, bahkan lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.”

Bayangkan itu! Jarak antara langit dan bumi!

Seorang syuhada yang mengorbankan nyawa, ternyata bisa “disalip” derajatnya oleh seorang hamba yang menggunakan satu tahun tambahannya dengan mendekap Ramadhan. Ini adalah bukti nyata dari firman Allah SWT tentang kemuliaan Ramadhan yang melampaui hitungan matematika manusia:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Ternyata, satu bulan Ramadhan yang dijalani dengan iman dan ihtisaban (mengharap pahala) adalah sebuah “akselerasi ruhani” yang tak tertandingi. Sebagaimana janji Baginda Nabi:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Tuhan ingin menunjukkan bahwa karunia umur yang digunakan untuk bersujud di bulan Ramadhan adalah tiket VIP yang sanggup melampaui kemuliaan mereka yang gugur di medan perang. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, ia adalah ladang di mana satu sujud bisa bernilai lebih berat dari sebilah pedang di medan perang.

Dalam satu tahun tambahan itu, ia tidak hanya sekadar hidup. Ia bukan hanya mengisi hari-harinya dengan sujud yang tulus. Ia menggunakan lisan dan waktunya untuk tilawah Al-Qur’an, bahkan mungkin hingga beberapa kali khatam. Ia menyisihkan sebagian rezekinya yang tidak seberapa untuk infak, sedekah, dan zakat, yang di bulan Ramadhan nilainya menjadi luar biasa dahsyat. Dzikir dan munajatnya di tengah malam menembus langsung ke Arsy

Hari ini masih diizinkan menghirup aroma tanah di bulan suci, bersujudlah sampai keningmu mati rasa. Karena satu Ramadhan yang kita jalani dengan sungguh-sungguh, sanggup melontarkanmu ke derajat yang bahkan para syuhada pun akan menoleh padamu dengan penuh rasa cemburu.

Satu tahun tambahan umur untuk bertemu Ramadhan adalah sebuah amanah. Bagi mereka yang mengerjakannya dengan penuh kesungguhan, jarak kemuliaannya dengan orang lain bisa terpaut sejauh jarak antara langit dan bumi.

Kalau hari ini kita masih bisa bersujud, masih bisa mengaji meski terbata-bata, masih bisa berbagi meski hanya sedikit, ketahuilah: Di hadapan Allah, itu semua bisa membuat posisi kita lebih mulia daripada mereka yang kita anggap hebat, asalkan kita kerjakan dengan penuh keikhlasan, kesungguhan dan istiqomah di bulan suci ini.

Mari kita manfaatkan Ramadhan tahun ini dengan bersungguh-sungguh. Karena setiap sujud, setiap ayat yang dibaca, dzikir yang diwiridkan, doa yang dipanjatkan dan setiap rupiah yang disedekahkan, adalah anak tangga kita menuju kemuliaan yang abadi.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ramadhan Saatnya Tangan di Atas

SALAH satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah mengantar dan mengkondisikan orang-orang beriman untuk dermawan atau mudah berbagi. Baik dengan sedekah,...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img