
Pernahkah kita merasa sudah menjadi hamba yang paling taat hanya karena tidak pernah bolong menunaikan shalat lima waktu? Atau pernahkah kita merasa bangga dengan target besar untuk mengubah dunia, sementara hubungan kita dengan Sang Pencipta dunia masih terasa hambar, kaku, dan terburu-buru?
Sebuah catatan indah dari situs IslamWeb mengajak kita berkaca pada potret ibadah manusia termulia, Rasulullah ï·º. Catatan ini layak menjadi bahan perenungan agar kita mengetahui bagaimana totalitas beliau dalam menghamba kepada Allah, yang sekaligus menjadi saksi nyata atas kejujuran kenabiannya.
Totalitas Tanpa Batas
Rasulullah ï·º adalah sosok yang sangat tekun beribadah. Beliau memperbanyak shalat, puasa, zikir, doa, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam. Bahkan, beliau bangun pada sebagian besar malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri.
Suatu malam, sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkesempatan shalat bersama Rasulullah ï·º. Pengalaman itu kemudian beliau ceritakan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim (No. 772).
Hudzaifah berkata:
“Aku pernah shalat bersama Nabi ï·º pada suatu malam. Beliau memulai dengan membaca Surah Al-Baqarah. Aku mengira beliau akan rukuk setelah seratus ayat, tetapi beliau terus melanjutkan. Aku mengira beliau akan menyelesaikan surah itu dalam satu rakaat, ternyata beliau tetap melanjutkan. Setelah Al-Baqarah, beliau membaca An-Nisa’, lalu Ali Imran. Beliau membacanya dengan perlahan dan penuh penghayatan. Setiap melewati ayat tasbih, beliau bertasbih. Ketika melewati ayat permohonan, beliau berdoa. Ketika melewati ayat perlindungan, beliau memohon perlindungan kepada Allah. Kemudian beliau rukuk dan membaca ‘Subhana Rabbiyal ‘Azhim’. Lamanya rukuk hampir sama dengan lamanya berdiri. Setelah itu beliau berdiri (iktidal) dalam waktu yang hampir sama dengan rukuknya, lalu sujud dan membaca ‘Subhana Rabbiyal A’la’, dan sujudnya pun hampir sama dengan lamanya berdiri.”
(HR. Muslim)
Misteri Pengulangan Zikir dan Rahasia Iktidal yang Lama
Mari merenung sejenak secara logis.
Gabungan Surah Al-Baqarah, An-Nisa’, dan Ali Imran berjumlah sekitar 52 halaman mushaf. Membaca seluruhnya dengan tartil dan penuh tadabbur tentu memerlukan waktu yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai satu setengah hingga dua jam.
Jika durasi rukuk, iktidal, dan sujud beliau hampir sama dengan lamanya berdiri, maka apa yang beliau lakukan pada saat itu?
Tentu bukan diam tanpa makna.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa membaca tasbih tiga kali hanyalah batas minimal kesempurnaan. Rasulullah ï·º mengulang-ulang zikir tersebut dalam jumlah yang banyak, lalu menambahkannya dengan berbagai doa panjang.
Demikian pula saat iktidal. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau terus memuji Allah dengan penuh kekhusyukan. Bahkan, menurut penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad, lamanya iktidal Rasulullah ï·º sampai membuat orang yang melihat mengira beliau lupa karena begitu lama berdiri menghadap Allah.
Iktidal bukanlah jeda kosong, melainkan momentum pujian, pengagungan, dan ketundukan yang mendalam kepada Rabb semesta alam.
Alarm Keras untuk Shalat Kita
Kisah keindahan shalat Rasulullah ï·º menjadi cermin besar yang menghentak kesadaran kita.
Mari jujur kepada diri sendiri.
Bukankah sering kali shalat kita berubah menjadi rutinitas mekanis yang dikerjakan dengan terburu-buru? Tidak ada kekhusyukan, tuma’ninah terasa hilang, dan bacaan hanya menjadi rangkaian hafalan yang keluar secara otomatis tanpa kehadiran hati.
Saat azan berkumandang, apa yang pertama kali muncul dalam pikiran kita?
Sering kali bukan rasa rindu untuk menghadap Allah, melainkan perasaan terbebani.
“Aduh, sudah masuk waktu shalat lagi. Cepat-cepat saja supaya pekerjaan tidak terganggu.”
Tanpa sadar, kita memposisikan shalat hanya sebagai kewajiban yang harus segera diselesaikan, bukan sebagai kebutuhan ruhani yang kita nantikan.
Akibatnya, shalat kehilangan ruh munajatnya. Ia tidak lagi menjadi dialog yang hidup antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Menemukan Keseimbangan antara Shalat dan Tugas Harian
Melihat panjangnya shalat Nabi ï·º, muncul pertanyaan yang sangat realistis:
“Bagaimana dengan shalat fardhu di sela-sela aktivitas kerja? Apakah kita harus menirunya secara persis?”
Di sinilah keindahan Islam terlihat. Dalam shalat berjamaah, Rasulullah ï·º justru memerintahkan agar imam tidak memberatkan makmum. Beliau pernah menegur Mu’adz bin Jabal yang membaca terlalu panjang hingga menyulitkan para jamaah.
Beliau bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian mengimami manusia, maka ringankanlah. Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Adapun jika ia shalat sendirian, maka silakan memperpanjang sesukanya.”
(HR. Bukhari)
Artinya, shalat fardhu memang harus proporsional dan tidak mengganggu kewajiban lainnya. Namun perlu dipahami, ringan bukan berarti tergesa-gesa.
Ringan menurut Rasulullah ï·º adalah bacaan yang tidak terlalu panjang, tetapi seluruh rukun dan tuma’ninah tetap dilakukan secara sempurna.
Formula Shalat Berkualitas di Tengah Kesibukan
Kita tidak harus menjadikan shalat fardhu selama satu jam untuk merasakan kedekatan dengan Allah. Yang perlu diubah adalah kualitas kesadaran, bukan sekadar durasi. Berikut formula nya :
- Aturan Tiga Detik Keheningan
Berikan jeda singkat dua hingga tiga detik pada akhir ayat atau saat berpindah gerakan. Keheningan kecil ini membantu menghadirkan kembali pikiran yang sering melayang.
- Hadir Secara Utuh
Shalat sepuluh menit dengan hati yang hadir jauh lebih bernilai dibanding shalat lima belas menit yang dipenuhi lamunan.
Matikan sejenak mode “autopilot” saat berdiri di hadapan Allah.
- Jadikan Shalat Sebagai Charging Station
Ubah cara pandang kita. Shalat bukan penghambat pekerjaan, melainkan waktu terbaik untuk menyegarkan jiwa dan pikiran. Hati yang tenang akan melahirkan produktivitas yang lebih baik setelah kembali bekerja.
- Miliki Ruang Privat di Sepertiga Malam
Jika kita merindukan dialog yang lebih panjang, penuh tangisan, doa, dan curahan hati, maka qiyamul lail adalah tempat terbaik untuk mewujudkannya.
Di sanalah seorang hamba dapat berbicara lebih lama dengan Rabb-nya tanpa terbebani oleh kesibukan dunia.
Penutup
Bagaimana mungkin kita ingin memperbaiki dunia yang luas ini jika untuk menenangkan pikiran, menundukkan ego, dan membangun dialog dengan Sang Pencipta selama beberapa menit saja kita masih kesulitan?
Perubahan besar tidak pernah lahir dari jiwa yang gersang dan terburu-buru.
Mari menemukan keseimbangan itu: menunaikan tugas dunia dengan profesional dan memuliakan shalat dengan penuh ketenangan.
Ubah shalat dari sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban menjadi dialog intim yang dirindukan, yang menguatkan setiap langkah hidup kita menuju ridha Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى.
*) Khoirul Anam, S.Sos.I /Â Â penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Qur’an & Tafsir Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre






