
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., mengatakan bahwa bulan suci Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat hubungan persaudaraan, tidak hanya di antara umat Islam, tetapi juga dalam lingkup kehidupan kebangsaan yang lebih luas.
Hal tersebut disampaikan dalam kajian Tarhib Ramadhan yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Muslimat Hidayatullah Depok sebagai bagian dari persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Dalam tausiyahnya di hadapan jamaah, KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa Ramadhan tidak dapat dipandang semata sebagai siklus ibadah tahunan yang berlangsung secara rutin. Ia menegaskan bahwa bulan Ramadhan memiliki kedudukan strategis dalam membentuk kekuatan spiritual individu sekaligus memperkokoh relasi sosial yang dilandasi nilai-nilai keimanan.
Ia menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum yang memiliki dimensi pembinaan iman dan penguatan ukhuwah yang melampaui batas-batas identitas kelompok, sehingga menjadi ruang pembentukan solidaritas yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua individu yang menjalani ibadah Ramadhan secara otomatis memperoleh manfaat spiritual yang dijanjikan Allah di dalamnya. “Tidak sedikit di antara umat Islam yang memasuki bulan Ramadhan tanpa memiliki visi yang jelas. Boleh jadi mereka hanya mendapatkan pengalaman lapar dan haus,” katanya.
Naspi menekankan pentingnya orientasi spiritual yang terarah agar ibadah yang dijalankan tidak berhenti pada aspek fisik semata, tetapi memberikan dampak nyata dalam pembentukan karakter dan kehidupan setelah Ramadhan.
Menurut KH Naspi Arsyad, keberadaan visi yang jelas menjadi unsur penting dalam memastikan bahwa ibadah Ramadhan berjalan sesuai dengan tujuan pembinaan ruhani. Ia menjelaskan bahwa ibadah yang dijalankan tanpa orientasi yang benar berpotensi kehilangan makna transformasionalnya. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana memperjelas arah kehidupan spiritual, sehingga setiap amal ibadah yang dilakukan memiliki keterkaitan langsung dengan penguatan iman dan perbaikan kualitas diri secara menyeluruh.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan refleksi historis mengenai perjalanan para pendiri Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama yang dimiliki oleh para perintis organisasi tersebut terletak pada kejelasan visi dan komitmen dalam mewujudkannya.
“Kelebihan para pendiri Hidayatullah ada pada kekuatan visinya. Mereka kuat dalam upaya mengokohkan iman dan ukhuwah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan visi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan, tetapi juga berhubungan langsung dengan pembentukan karakter individu dan komunitas. Menurutnya, visi yang kokoh memungkinkan lahirnya konsistensi dalam menjalankan misi dakwah dan pembinaan umat. Dalam konteks Ramadhan, visi spiritual yang jelas menjadi landasan dalam mengoptimalkan seluruh potensi ibadah yang tersedia selama bulan suci.
KH Naspi Arsyad juga mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembaruan komitmen dalam kehidupan keagamaan. Ia menekankan pentingnya memperkuat kembali orientasi keislaman yang berlandaskan iman, sekaligus mempererat hubungan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan sosial.
“Mari kita menjadikan Ramadhan sebagai titik awal penguatan integritas spiritual dan solidaritas sosial,” katanya menekankan.






