AdvertisementAdvertisement

Ustadz Ahmad Fitri Berpulang, Ketum Hidayatullah Kenang Keteguhan Prinsip dan Kesederhanaan

Content Partner

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan rasa duka dan belasungkawa atas wafatnya Ustadz Ahmad Fitri, Anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak sekaligus guru pengabdian KMI Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1971–1976. Almarhum wafat pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6/1/2026) pukul 05.09 WITA di RS Medika Utama Manggar, Kota Balikpapan.

Dalam keterangannya, Naspi Arsyad menguraikan kesaksian tentang pribadi almarhum sebagai figur pendidik yang memadukan ketegasan prinsip, keteladanan ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensi dalam amanah. Menurut Naspi, karakter tersebut terbentuk dari keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran dan kesediaan untuk menjaga nilai, meski harus berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

Ia menjelaskan bahwa almarhum dikenal sebagai sosok yang tidak mudah berkompromi dalam urusan prinsip. Ketika telah meyakini suatu perkara sebagai kebenaran, almarhum akan menjaganya secara utuh, bahkan dalam hal-hal yang oleh sebagian orang dipandang remeh. Keteguhan ini, menurut Naspi, bukan keras tanpa arah, melainkan konsistensi pada nilai yang diyakini benar.

“Beliau sosok yang tegas. Ketika telah berpegang dan meyakini satu kebenaran, maka beliau akan memegangnya dengan sungguh-sungguh dan siap berhadapan dengan siapa pun yang melanggar atau tidak sejalan dengan prinsip kebenaran tersebut, bahkan pada hal-hal yang oleh orang lain dianggap sederhana,” katanya kepada media ini.

Sebagai contoh, Naspi mengisahkan sikap almarhum terhadap perkara penampilan. Bagi almarhum, aspek lahiriah tertentu memiliki keterkaitan dengan nilai dan adab. Ketika ia meyakini suatu model rambut tidak sesuai dengan prinsip yang dipegangnya, ia berani menyampaikan sikap, meski sebagian orang menganggapnya sebagai hal lumrah.

Selain keteguhan prinsip, Naspi menekankan keteladanan almarhum dalam ibadah. Ia menggambarkan komitmen almarhum untuk menjaga kualitas shalat, terutama dalam hal kedisiplinan waktu dan posisi shaf. Bagi almarhum, shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi pusat pembentukan karakter.

“Beliau ahli ibadah. Itu terlihat dari komitmen beliau untuk selalu berusaha shalat di shaf pertama atau tepat di belakang imam. Sangat jarang beliau tertinggal atau masbuk,” kata Naspi tentang sosok alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo ini.

Naspi menambahkan bahwa bahkan ketika almarhum datang ke masjid dalam kondisi waktu yang mepet menjelang iqamah, ia tetap berupaya mendapatkan posisi terbaik dalam shalat. Sikap ini merefleksikan kesungguhan batin dan penghormatan terhadap ibadah berjamaah sebagai sarana pembinaan diri.

Dalam aspek kehidupan sehari-hari, Naspi menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang sederhana. Tidak tampak kemelekatan pada kemewahan, baik dalam penampilan maupun gaya hidup. Kesederhanaan itu tidak dibuat-buat, melainkan pilihan sadar yang menyatu dengan kepribadian.

“Beliau orangnya sederhana. Tidak terlihat ada barang-barang mewah yang melekat pada diri beliau, termasuk di rumahnya. Beliau memilih untuk tidak berkendaraan dari rumah ke masjid dan lebih sering berjalan kaki,” tutur Naspi yang pernah berinteraksi lama dengan almarhum sebagai sesama pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Naspi juga menyampaikan bahwa dalam aktivitas mengajar, almarhum kerap memilih menggunakan transportasi umum. Ia tidak meminta perlakuan khusus, tidak meminta dijemput, dan menjaga jarak dari sikap yang dapat menumbuhkan ketergantungan pada fasilitas.

Lebih lanjut, Naspi menekankan konsistensi almarhum dalam memegang amanah. Baik dalam jadwal mengajar, rapat, maupun kesepakatan organisasi, almarhum dikenal sebagai figur yang dapat diandalkan. Komitmen terhadap waktu dan kesepakatan menjadi bagian dari etos kerja dan keteladanan pendidikannya.

“Beliau konsisten dengan kesepakatan. Baik jadwal mengajar, jadwal rapat, maupun hal-hal yang telah disepakati bersama. Beliau adalah orang yang teguh memegang kesepakatan-kesepakatan itu,” ujar Naspi.

Dia menambahkan, Ustadz Ahmad Fitri sebagai pendidik yang meninggalkan warisan nilai, keteguhan prinsip, kedalaman ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensi amanah yang diembannya menjadi teladan yang relevan bagi dunia pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat di tengah tantangan zaman.

Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Gunung Tembak 1, Kelurahan Teritip, tepat di samping Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak. Pria kelahiran Lingadan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, ini wafat pada usia 81 tahun.

Ustadz Ahmad Fitri telah mengajarkan keteguhan sikap, ketulusan ibadah, dan kesederhanaan hidup yang mengajarkan makna istiqamah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal baktinya sebagai amal saleh yang tak terputus, melapangkan kuburnya, dan meninggikan derajatnya bersama para pendidik, shiddiqin, dan orang-orang saleh, Aamiin.

Reporter: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img