
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengisi taushiyah dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Hotel Grand Dafam Jakarta, Jum’at, 7 Jumadil Akhir 1447 (28/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan urgensi syura sebagai fondasi kepemimpinan beradab dan sistem pengokoh gerakan dakwah.
Rais ‘Aam menyampaikan bahwa syura dalam Islam bukanlah sekadar mekanisme teknis pengambilan keputusan, melainkan sistem yang memiliki nilai ibadah.
“Syura adalah satu sistem yang sangat agung dalam agama Islam. Ia merupakan turunan dari munajat, karena tidak ada satu pun solusi kehidupan kecuali berasal dari Allah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa syura berfungsi sebagai pertahanan dan benteng muroqobah, menjaga kesadaran kolektif agar setiap keputusan dilandasi ketakwaan dan ketundukan. Menguatkan pesan tersebut, beliau mengutip firman Allah surah Ali Imran ayat 160: “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu”.
Rais ‘Aam juga menekankan adab penting dalam syura untuk mendengar dan menghargai setiap masukan. “Jangan menyepelekan syura. Dengarkan dan terima masukan meskipun ia datang dari orang yang mungkin berada di bawah kita,” ujarnya.
KH Abdurrahman melanjutkan, semakin banyak orang berkumpul dalam syura, semakin banyak pula kebaikan yang Allah hadirkan melalui mereka. Jika satu orang datang dengan satu kebaikan, maka ratusan peserta syura membawa beragam kebaikan, hikmah, dan potensi solusi.
Dalam tausyiah yang berlangsung penuh kekhidmatan itu, dia menegaskan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim adalah pengabdian. Karena itu, tegasnya, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi organisatoris, tetapi amanah uluhiyyah dan rabbaniyyah, yakni sebagai beban keilmuan, keikhlasan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Kepemimpinan itu amanah yang bersumber dari Allah. Bukan ambisi, bukan pencapaian personal, tetapi penugasan Ilahi untuk mengelola kebaikan,” ucapnya.
Menutup tausyiahnya, Rais Aam Hidayatullah memberikan pesan agar para peserta tidak melupakan amalan-amalan yang menjadi penguat ruhiyah. “Jangan lupa tilawah Al-Qur’an dan berinfak,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa seluruh kebaikan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupan berada dalam cakupan ilmu Allah yang Maha Meliputi.
KH Abdurrahman menyampaikan harapan besar bahwa Munas Mushida ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang kuat ruhiyahnya, matang syuronya, dan kokoh komitmennya terhadap dakwah.
“Para pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat, menjaga persatuan umat, serta membawa Mushida ke level kontribusi yang lebih luas bagi bangsa dan peradaban Islam,” harapnya.






