AdvertisementAdvertisement

Rejuvenasi Jalan Menjaga Arah Gerakan dan Terus Hidupkan Ruh Perjuangan

Content Partner

REJUVENASI dalam sebuah gerakan Islam tidak dapat dipahami sekadar sebagai upaya penyegaran organisasi atau perombakan struktural. Ia adalah proses yang jauh lebih mendasar, menyentuh wilayah paling inti dari sebuah perjuangan: ruh, orientasi, dan tujuan.

Dalam konteks gerakan dakwah seperti Hidayatullah, Rejuvenasi dimaknai sebagai usaha sadar untuk mengembalikan gerak organisasi kepada fondasi awal yang bersumber dari wahyu, tauhid, dan tarbiyah. Ia bukan inovasi yang memutus masa lalu, melainkan pemulihan jati diri agar langkah ke depan tidak kehilangan arah.

Dalam tradisi Islam, pembaharuan atau tajdid bukanlah penciptaan ajaran baru, melainkan pengembalian agama kepada kemurniannya. Sejarah menunjukkan bahwa setiap fase perjalanan umat selalu menuntut adanya upaya pembaruan agar ajaran dan gerakan tidak terjebak dalam rutinitas yang hampa makna.

Rejuvenasi hadir sebagai respons atas dinamika internal dan eksternal yang berpotensi menggerus kesadaran awal perjuangan. Ketika organisasi tumbuh, kompleksitas meningkat, dan tantangan berubah, risiko kehilangan ruh menjadi semakin besar. Di titik inilah Rejuvenasi menjadi kebutuhan strategis, bukan pilihan tambahan.

Dalam kerangka Hidayatullah, Rejuvenasi berangkat dari kesadaran akan pentingnya sistematika wahyu sebagai metodologi pembentukan manusia dan jamaah. Sistematika ini meneladani pola turunnya Al-Qur’an, khususnya pada fase awal Islam, yang menekankan penguatan tauhid, penyucian jiwa, dan pembentukan kesadaran kolektif.

Rejuvenasi berarti mengembalikan orientasi gerakan pada proses pembentukan pandangan hidup Islam yang utuh, menjadikan tauhid sebagai pusat seluruh aktivitas, serta meneguhkan kembali disiplin berjamaah. Tanpa fondasi ini, aktivitas dakwah berisiko berubah menjadi sekadar program, bukan proses transformasi.

Aspek penting lain dari Rejuvenasi adalah revitalisasi tarbiyah. Dalam gerakan Islam, tarbiyah bukan sekadar agenda pembinaan formal, melainkan jantung yang memompa energi ruhani, intelektual, dan amal. Tarbiyah melahirkan pribadi-pribadi yang matang secara spiritual dan siap berjuang di ruang sosial.

Ketika tarbiyah tereduksi menjadi kegiatan administratif atau seremonial, gerakan kehilangan daya hidupnya. Rejuvenasi menuntut agar tarbiyah kembali menjadi pusat gerak, tempat lahirnya kader yang berkarakter, berdisiplin, dan memiliki kepekaan dakwah.

Rejuvenasi juga berkaitan erat dengan penguatan shoff jamaah. Sejarah dakwah selalu membuktikan bahwa kekuatan utama sebuah gerakan bukanlah harta atau popularitas, melainkan barisan yang rapi, solid, dan terikat oleh tujuan bersama.

Perpecahan, konflik laten, atau komunikasi yang buruk adalah tanda melemahnya ruh jamaah. Karena itu, Rejuvenasi meniscayakan upaya serius untuk memperbaiki relasi internal, meneguhkan ukhuwah, serta menanamkan kembali kesadaran berjamaah sebagai fondasi keberhasilan dakwah.

Dalam dimensi kepemimpinan, Rejuvenasi menuntut pelurusan orientasi menuju kepemimpinan yang profetik. Kepemimpinan dalam gerakan Islam pada hakikatnya adalah amanah dan pelayanan, bukan ruang untuk kepentingan pribadi atau ambisi jangka pendek. Keteladanan, integritas, dan keterbukaan terhadap kritik menjadi ukuran utama. Tanpa kepemimpinan yang berorientasi pada dakwah dan tarbiyah, organisasi berisiko terjebak dalam birokratisasi yang kering nilai.

Aspek pengorbanan juga menjadi elemen penting dalam Rejuvenasi. Sejarah awal gerakan dakwah selalu ditopang oleh semangat pengorbanan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Ketika semangat ini memudar, gerakan kehilangan daya dorong spiritualnya. Rejuvenasi berarti menyalakan kembali etos memberi, bekerja tanpa pamrih, dan mendahulukan kepentingan perjuangan di atas kenyamanan pribadi.

Selain itu, Rejuvenasi berfungsi sebagai peneguhan identitas gerakan. Di tengah arus modernisasi, digitalisasi, dan kompetisi internal, identitas dakwah mudah tergerus. Rutinitas program, distraksi teknologi, dan orientasi pragmatis dapat menjauhkan gerakan dari visi besarnya. Rejuvenasi menjadi mekanisme pertahanan untuk menjaga ruh kolektif, memperjelas kembali tujuan peradaban, dan memastikan bahwa setiap langkah tetap berada dalam koridor nilai.

Pada akhirnya, Rejuvenasi tidak dapat dilepaskan dari agenda pembentukan generasi pelanjut. Keberlanjutan gerakan dakwah bergantung pada lahirnya kader-kader yang tidak hanya mewarisi struktur organisasi, tetapi juga mewarisi visi, ruh, dan kesadaran perjuangan. Regenerasi yang sehat hanya mungkin lahir dari proses tarbiyah yang mendalam, bukan dari seleksi administratif semata.

Dengan demikian, Rejuvenasi merupakan keharusan strategis untuk menjaga kesinambungan gerakan dakwah. Ia adalah upaya menyadarkan kembali bahwa kekuatan sejati sebuah gerakan terletak pada kemurnian orientasi wahyu, kekokohan tarbiyah, soliditas jamaah, kepemimpinan yang amanah, semangat pengorbanan, kejelasan identitas, dan kesiapan generasi penerus.

Tanpa Rejuvenasi, gerakan mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan jiwa. Dengan Rejuvenasi, perjuangan memiliki peluang untuk terus hidup, relevan, dan berkontribusi bagi peradaban.[]

*) KH. Sholih Hasyim, penulis anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img