
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keluarga besar Hidayatullah berduka atas meninggalnya Ustadz Ahmad Fitri, salah satu pendidik dan dai senior Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Beliau wafat pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6/1/2026) pukul 05.09 WITA di RS Medika Utama Manggar, Kota Balikpapan.
Wafatnya Ustadz Ahmad Fitri meninggalkan duka yang mendalam. Kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang pendidik, melainkan perginya sosok guru kehidupan yang membentuk adab, disiplin, dan jiwa para muridnya lintas generasi.
Anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak ini juga dikenal sebagai guru pengabdian KMI Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1971–1976, sebuah fase penting yang menandai jejak panjang pengabdiannya di dunia pendidikan Islam.
Kesan personal tentang almarhum diungkapkan dengan sangat hangat oleh murid murid dan orang yang pernah bersinggungan dengan beliau, salah satunya Ahmad Buchory Muslim Al Floresy. Ia mengenang perjumpaan pertamanya di Gunung Tembak pada waktu Maghrib, saat suasana pesantren terasa begitu sejuk dan teduh.
Menurutnya, keteduhan itu seolah memancar dari wajah dan hati para penghuninya, terutama dari sosok Ustadz Ahmad Fitri yang menyapanya dengan lembut, namun dengan pandangan tajam penuh makna, seakan telah lama saling mengenal.
Senyum khas sang guru, yang lahir dari kebiasaan dzikir dan qiyamullail, menjadikan pertemuan itu terasa seperti perjumpaan antara orang tua dan anak—hangat, nyaman, dan membekas.
Sebagai guru, Ustadz Ahmad Fitri dikenal mengajar Fiqh dan Ushul Fiqh dengan kesungguhan yang konsisten. Ahmad Buchory juga mencatat keistimewaan lain: almarhum adalah seorang khaththath, pemilik tulisan kaligrafi indah yang dahulu menghiasi kantor pondok dan rumah-rumah warga.
Bahkan sebagian karya itu dirangkai dari butiran cengkeh, merefleksikan keterikatan beliau dengan daerah asalnya, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Gaya mengajarnya pun khas—selalu diawali dengan pembacaan Surah Adz-Dzariyat ayat 56, disertai senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.
Kedekatan hubungan guru dan murid semakin terasa ketika Ahmad Buchory dipercaya mendampingi Ustadz Ahmad Fitri dalam perjalanan dauroh ke Jakarta bersama Ustadz Syamsu Rijal Palu.
Dalam perjalanan itu, beliau bersilaturahmi dengan guru-gurunya di Gontor, sahabat, serta keluarga yang menetap di Jakarta, termasuk tokoh-tokoh umat seperti Habib Chirzin dan KH Ahmad Cholil Ridwan. Jejaring keilmuan dan persahabatan itu menunjukkan bahwa almarhum adalah sosok yang menjaga sanad ilmu sekaligus ikatan ukhuwah.
Kedisiplinan dan Pendidikan Karakter
Kesaksian lain datang dari Ustadz Mushaddiq, alumnus Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyah (Marama) Hidayatullah Balikpapan angkatan II tahun 1994. Ia mengenang ketegasan Ustadz Ahmad Fitri sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter.
Menurut Mushaddiq, almarhum sangat disiplin dan detail: buku tidak boleh terlipat, tulisan harus rapi sesuai margin, dan membuka buku pun harus pelan karena di dalamnya terdapat risalah ilmu.
“Bahkan keterlambatan menjawab salam guru atau kerapian berpakaian bisa berujung pada taujih yang mendidik seluruh kelas,” kata Mushaddiq.
Namun di balik ketegasan itu, Mushaddiq juga mengisahkan kelapangan hati sang guru. Suatu ketika, setelah terjadi teguran keras di kelas, seluruh santri sepakat mendatangi rumah beliau untuk meminta maaf. Mereka datang dengan rasa takut, tetapi justru disambut senyum lebar dan hidangan makanan yang telah disiapkan.
Dengan penuh kebapakan, Ustadz Ahmad Fitri mempersilakan mereka makan bersama dan menyatakan bahwa semua telah dimaafkan. Teguran telah selesai, dan kasih sayang kembali mengalir tanpa sisa.
Duka yang sama juga disampaikan oleh murid beliau yang kini menjadi tokoh nasional, Hidayat Nur Wahid. Dalam pesan singkatnya, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya guru yang telah mendidik dengan ilmu dan amal.
Ia mendoakan agar seluruh perjuangan dan pengabdian Ustadz Ahmad Fitri diterima Allah sebagai ibadah, menjadi jalan menuju derajat mulia di surga, serta mengingatkan para murid untuk melanjutkan kiprah dan nilai-nilai yang telah diwariskan.
Kini, meski raga telah kembali kepada Sang Pencipta, hubungan batin itu tetap tersambung—melalui putra-putra beliau, melalui para murid, serta melalui keluarga besar Hidayatullah di berbagai penjuru dunia. Yang tertinggal adalah jejak adab, disiplin, dan cinta pada ilmu yang terus hidup dalam ingatan dan praktik para muridnya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat pulang, wahai guru dan pejuang. Engkau telah menunaikan bhakti dengan penuh ketulusan. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya, bersama para pendidik dan orang-orang saleh.






