
PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan pembinaan Al-Qur’an bagi anak-anak di Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Kampung Beting, bantaran sungai Kapuas, Kecamatan Pontianak Timur, menjadi bagian dari rangkaian aktivitas pendidikan keagamaan pada bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Momentum Ramadhan tahun ini dimanfaatkan untuk memperkuat pendampingan belajar mengaji bagi anak-anak yang tinggal di kawasan Kampung Beting, salah satu permukiman tertua di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Kampung Beting terletak di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, wilayah yang memiliki sejarah panjang sejak berdirinya Kesultanan Pontianak pada abad ke-18. Kawasan ini dikenal sebagai bagian awal perkembangan Kota Pontianak.
Dalam perjalanan sosialnya, Kampung Beting juga kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan sosial yang berkembang di lingkungan perkotaan padat penduduk.
Sejumlah laporan sebelumnya mencatat adanya tantangan sosial di wilayah tersebut, termasuk persoalan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.
Data yang pernah dirilis Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa dari sekitar 3.000 penduduk Kampung Beting, kurang lebih 200 orang tercatat dalam kasus terkait narkoba. Kondisi geografis kawasan perairan yang terhubung langsung dengan jalur sungai dan akses laut disebut menjadi salah satu faktor tingginya peredaran barang terlarang di wilayah tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting mulai menjalankan aktivitas pendidikan Al-Qur’an sebagai bagian dari pembinaan masyarakat. Lembaga pendidikan nonformal ini telah beroperasi sekitar tiga bulan dan menjadi ruang belajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar untuk mempelajari bacaan Al-Qur’an serta pembinaan dasar keagamaan.
Pengajar Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting, Ustadz Muhammad Yusnaini, S.Sy, yang mengabdi sebagai guru ngaji dan pendidik anak-anak kampung, menyampaikan bahwa peserta didik yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai latar belakang sosial termasuk diantaranya ada yang sebelumnya pernah terlibat dalam tindakan kriminal.
“Kami berharap melalui pembelajaran Al-Qur’an dan pembinaan yang berkelanjutan, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa perubahan bagi keluarganya,” ujar Muhammad Yusnaini dalam keterangan diterima media ini beberapa waktu dan ditulis Sabtu, 10 Ramadhan 1447 (28/2/2026).
Kegiatan belajar mengaji dilaksanakan secara rutin dengan pendekatan pembinaan bertahap. Anak-anak mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an, hafalan dasar, serta pembiasaan ibadah harian.
Program pembinaan masyarakat ini dijalankan melalui kerja sama antara Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Pontianak dan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Barat yang memberikan dukungan operasional dan pendampingan program.
Selain pembinaan anak-anak, pengelola Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting juga merencanakan kegiatan pengajian yang melibatkan orang tua peserta didik. Program tersebut diarahkan untuk memperluas pembinaan agar tidak hanya berfokus pada anak-anak, tetapi juga menjangkau lingkungan keluarga sebagai bagian dari proses pendidikan sosial berbasis masyarakat.
Rangkaian kegiatan pembinaan tersebut terus berlangsung dengan melibatkan warga setempat dan tenaga pengajar yang menetap di wilayah tersebut. Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting menjalankan fungsi pendidikan berbasis komunitas dengan fokus pada pembelajaran Al-Qur’an bagi generasi anak-anak di lingkungan Kampung Beting.[]






