
QARUN adalah orang yang mendapat ujian nikmat harta. Tetapi ia terlena, teranestesi, oleh kekayaan itu. Ia bahkan merasa bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri.
Sementara itu, Utsman bin Affan ra. adalah sahabat Nabi SAW yang juga dalam kondisi mengalami ujian kekayaan. Namun, Utsman ra. mampu memilih jalan takwa. Mengapa kedua orang itu berbeda pilihan hidup?
Jelas, masalahnya bukan pada harta, tapi dari cara keduanya dalam menjadikan harta sebagai sarana mengabdi kepada Allah SWT. Qarun bangga dan kagum pada harta. Utsman ra. sadar bahwa ia harus lebih kagum, takjub dan taat kepada yang memberi nikmat kekayaan itu.
Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa manusia selalu bergerak menuju sesuatu yang ia anggap paling bernilai. Nilai tertinggi seseorang menentukan arah hidupnya. Jika nilai tertingginya diri dan materi, nikmat menjadi pusat. Jika nilai tertingginya Allah dan kemaslahatan, nikmat menjadi sarana.
Berjuang adalah Nikmat
Nikmat itu netral. Pada realitanya, nikmat akan semakin bernilai ketika kita sikapi sebagai penggerak jiwa terus dalam kebaikan. Pada kondisi itu nikmat bisa jadi bahan bakar perjuangan.
Namun, ketika sikap kita keliru, maka nikmat juga bisa menjadi bantal empuk yang menidurkan idealisme, cita-cita, bahkan visi.
Untuk itu, penting kita merenung sejenak, bagaimana cara kita memperlakukan nikmat iman, nikmat hidup ini untuk merasakan nikmat dalam berjuang.
Ini karena otak manusia secara biologis memang cenderung mencari kenyamanan dan menghindari risiko. Itu mekanisme bertahan hidup. Namun, manusia bukan hanya makhluk biologis; ia makhluk bernilai dan bermakna. Ketika seluruh hidup hanya mengikuti dorongan nyaman, manusia turun derajatnya menjadi sekadar pencari sensasi aman.
Karena manusia menemukan makna ketika ia berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya, maka sebenarnya berjuang itu nikmat. Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, sebagaimana Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Tohari tegaskan dalam kajian online yang Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah selenggarakan (Jumat, 27/2/26), bahwa berjuang adalah kenikmatan.
Lelahnya orang yang berjuang, sakitnya orang yang berjuang, merupakan anak tangga merasakan kenikmatan iman yang luar biasa.
“Kenikmatan hidup tidak hanya karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman. Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” tegas KH. Hamim Tohari.
Semakin Berat Semakin Nikmat
Secara umum, otak manusia suka pada hal-hal yang ringan, menghemat energi dan tak terlalu makan tenaga apalagi biaya. Begitupun secara psikologis, rasa nyaman selalu menjadi prioritas bagi kebanyakan orang. Meski itu beresiko terhadap kurangnya sens of urgency.
Logikanya sederhana, seringkali kesulitan memaksa manusia keluar dari zona nyaman dan zona otomatis. Ia menjadi lebih sadar, lebih fokus, lebih bergantung pada Allah. Kesadaran yang meningkat itulah yang menghadirkan rasa nikmat iman.
Sebagaimana dahulu semakin ada tantangan semakin datang rasa nikmat. Seperti sikap mental kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW.
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22).
Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa itu adalah sikap mental orang beriman. Ketika tantangan besar, yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan koalisi kaum kuffar terjadi, umat Islam tidak gentar apalagi mengeluh. Mereka malah semakin yakin bahwa janji Allah dan Rasul-Nya akan segera menjadi kenyataan. Tantangan yang tidak ringan itu malah meningkatkan kualitas iman mereka.
Makna Hidup
Belajar dari sejarah tersebut, tepat sekali apa yang Ust. Abdullah Said sampaikan. Bahwa berjuang adalah kenikmatan. Hal ini karena manusia adalah makhluk relasional. Ia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya. Ketika ia memusatkan hidup pada diri sendiri, ruang jiwanya menyempit. Ketika ia memberi, ruang jiwanya melebar.
Secara empiris kita mengetahui bahwa manusia semakin punya kontribusi bagi kehidupan umat manusia semakin bahagia. Sikap mental yang selalu ingin mengambil peran, berkontribusi pada kebaikan, akan melahirkan hidup yang penuh makna. Makna itu akan mendatangkan ketenangan.
Sebaliknya kita memahami bahwa semakin orang individualis, mau menggenggam harta sebagai sandaran kebahagiaan, semakin ia akan gelisah. Hidupnya pun mengalami stagnasi. Stagnasi menjadi sebab hidup yang penuh kehampaan.
Belajar Pada Kader dan Santri Awal Hidayatullah
Oleh karena itu kalau kita belajar kepada kader dan santri awal Hidayatullah. Bukan karena mereka kebal terhadap kesulitan, tetapi karena mereka memiliki visi yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.
Alhasil, mereka tidak takut akan segala kondisi. Bukan karena mereka tahu, ada uang dan punya hal yang bisa diandalkan. Tetapi karena mereka yakin, hidup yang nikmat adalah ketika diri mau totalitas berjuang.
Lantas bagaimana dengan saat ini? Jika dahulu bisa, apa yang menghambat hari ini kita menjadi tidak bisa merasakan nikmat dalam berjuang. Di sinilah kita penting terus ingat akan nikmat-nikmat hebat dalam perjuangan.
Sungguh perbedaan masa bukanlah kunci jawaban untuk melegitimasi bahwa berjuang bisa kita kurangi powernya. Perbedaan masa adalah sunnatullah, tapi tekad dan semangat adalah sikap mental yang harus kita rawat agar sama, menyala-nyala sebagaimana generasi terdahulu.
Tidak samanya masa hanyalah sebuah kondisi yang menuntut kita lebih adaptif dalam hal cara dan strategi. Bukan mengubah apalagi mengganti nilai dan idealisme dengan logika materi.
Dengan demikian, kita sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa nikmat yang tidak diarahkan pada perjuangan akan mempersempit jiwa. Nikmat yang digunakan untuk perjuangan akan meluaskan makna hidup.[]
Mas Imam Nawawi






