
DUNIA tak pernah statis. Sejarah dan realitas kekinian menunjukkan bahwa peradaban manusia selalu datang silih berganti. Peristiwa perang Iran memunculkan spekulasi bahwa tatanan dunia baru akan segera terbentuk, terlepas dari siapa yang unggul.
Dalam konteks tersebut, pandangan Ibn Khaldun tentang siklus peradaban terasa semakin relevan, terutama jika dibandingkan dengan tesis Francis Fukuyama yang menyatakan bahwa peradaban Barat merupakan akhir sejarah manusia melalui bukunya, “The End of History and the Last Man”.
Pertanyaan berikutnya, mungkinkah Amerika Serikat akan tetap dominan dalam konflik ini?
Jika melihat dinamika yang berkembang, muncul indikasi bahwa Iran memiliki daya tahan militer dan kesiapan konflik yang cukup tinggi. Kemampuan Iran merespons serangan menunjukkan bahwa konflik ini tidak berjalan satu arah.
Di sisi lain, jika dilihat dari aspek politik domestik, publik global melihat bahwa Trump menghadapi tantangan dalam membangun konsensus politik domestik. Pada saat yang sama pemimpin Iran tidak mengalami tekanan semacam itu.
Isu penolakan opsi perang terhadap Iran selain menjadi aspirasi sebagian besar warga negara AS, keputusan perang itu sendiri tak melalui mekanisme yang seharusnya melibatkan persetujuan kongres. Dalam kata yang lain secara internal Trump lebih problematik daripada pemimpin Iran, terutama secara politik domestik.
Pada saat yang sama, dinamika di tingkat aliansi juga menunjukkan gejala yang menarik. Spanyol, sebagai sekutu AS di Eropa, mengambil posisi berbeda dengan Trump.
Alhasil, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menolak keinginan Trump menjadikan pangkalan militer Spanyol, yaitu Pangkalan Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Angkatan Udara Morón, sebagai basis dalam operasi militer melawan Iran. “Not to war,” tegas Sanchez.
Sikap Sanchez ini seakan menjadi tanda bahwa pengaruh AS bahkan di kalangan sekutunya, mulai kendur dan bahkan pudar. Jika ini gagal diatasi, maka perpecahan aliansi penting ini sudah sampai pada ajalnya.
Jika Amerika Serikat mengalami pelemahan dalam konflik ini, maka dampaknya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan geopolitik. Spekulasi dominasi Barat memudar pun akan semakin kuat. Setidaknya bermula dari dua hal. Pertama, sisi ekonomi.
Sangat mungkin mata uang dunia akan bergeser dari Dollar ke Yuan. Kondisi seperti itu tentu akan melemahkan kekuatan AS sendiri dalam banyak aspek kehidupan.
Kedua, dunia akan memandang bahwa kalahnya AS adalah babak baru munculnya dominasi baru di tingkat global. Pertanyaannya nilai apa yang akan mendominasi itu? Apakah otomatis Iran akan menjadi super power baru?
Peradaban Baru
Dalam konstalasi peradaban besar, dunia hari ini memandang setidaknya ada tiga, yaitu Islam, Barat dan Komunis. Kalau kita cermati, komunis sudah lama tumbang, meski masih menyisakan residu.
Sedangkan Barat, sepertinya sedang dalam kondisi “sakaratul maut”. Tinggal satu lagi, yaitu Islam. Peradaban Islam terakhir kali runtuh kala Khilafah Utsmaniyah jatuh pada 1924. Kini telah memasuki masa 100 tahun berlalu dan Islam belum tampil sebagai peradaban yang dominan.
Jika konflik ini benar-benar melemahkan dominasi Barat, pertanyaan berikutnya bukan hanya siapa yang menang, tetapi nilai dan peradaban apa yang siap mengisi ruang yang kosong. Apakah Islam akan kembali tampil sebagai peradaban yang mewarnai dunia?
Peradaban Islam akan tampil kembali jika ada pemimpin dan masyarakat yng memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan dengan tulus dan jujur. Kalau meminjam pandangan Malik Bin Nabi, peradaban itu akan bangkit kalau ada kepemimpinan ruh.
Hanya dengan kepemimpinan ruh sebuah peradaban akan terhindar dari noda-noda moral. Kemudian yang mengembangkan nilai dan pengaruh peradaban itu sendiri adalah akal.
Jika syarat kebangkitan peradaban adalah ruh dan akal, maka pertanyaan praktisnya: siapa yang mulai menyiapkannya dari sekarang?
Tentu kita tidak perlu terburu-buru mencari jawaban, bangsa dan negara mana dari umat Islam yang telah sampai pada kekuatan ruh dan akal itu. Akan tetapi, itulah dua syarat yang harus segera umat Islam miliki, jika ingin peradaban Islam kembali memimpin dunia.
Namanya memimpin, tentu saja mesti ada keunggulan, ruh dan akal. Itulah yang harus diasah terus menerus sampai lahir generasi yang kompeten, mumpuni, dan siap mewujudkan peradaban Islam dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks Indonesia, apakah negara mampu melakukan ini? Atau, inilah kesempatan gerakan Islam untuk segera siaga menyiapkan diri?
Napas Panjang
Menyadari penjelasan tersebut, perjalanan munculnya peradaban baru masih memerlukan napas panjang. Tidak ada istilah otomatis apalagi cepat dalam hal jatuhnya satu peradaban yang disusul atau digantikan oleh peradaban lainnya.
Oleh karena itu, perang Iran ini harus menjadi alarm bagi segenap umat Islam untuk melakukan konsolidasi secara intens dan berkelanjutan.
Dalam konteks peradaban, sebuah bangsa atau negara perlu mengorkestrasi keunggulan pada semua sisi. Tidak cukup hanya politik dan militer, tetapi juga spiritual dan ilmu pengetahuan, sebagaimana pandangan Malik Bin Nabi. Pertanyaan yang lebih dalam, bagaimana dengan umat Islam di Indonesia?
Kita tentu saja harus memandang dengan optimisme dan melakukan berbagai persiapan moral dan intelektual secara sungguh-sungguh. Umat Islam di Indonesia mesti menyiapkan konsep, gagasan, bahkan roadmap untuk masa depan dunia ke depan.
Sejauh hasil dari semua itu memang ilmiah dan bisa diterima secara universal dengan basis data dan argumen yang kokoh, dunia akan menerima. Bahkan boleh jadi dunia sudah lama menantikan itu.
Apakah yang dimaksud itu? Itu bisa bermakna ekonomi yang berkeadilan, politik yang berkadaban, serta kekuasaan yang berhati nurani.
Itulah yang harus jadi kesadaran dan konsentrasi kita ke depan. Agar ketika perang usai, nilai baru telah siap kita susun dan tawarkan.[]
Mas Imam Nawawi






