
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya pendekatan manhaji dalam membentuk karakter pemimpin yang mampu memberikan arah di tengah perubahan zaman. Penegasan tersebut disampaikan dalam penutupan Pelatihan Kepemimpinan bagi para ketua yayasan Pesantren Hidayatullah se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Hidayatullah Institute (HI).
Naspi menjelaskan bahwa pendekatan manhaji menjadi kerangka penting dalam membangun kualitas kepemimpinan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga mampu menggerakkan potensi kolektif dalam organisasi. Ia menyebut bahwa pendekatan tersebut menuntun pemimpin untuk memiliki orientasi yang jelas dalam mengelola perubahan dan membangun kekuatan tim.
“Manhaji mendorong dua sikap utama, yaitu visioner dan transformatif. Dengan itu, pemimpin mampu merangkai potensi tim dan membangun soliditas,” ujarnya di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Selasa malam, 25 Syawal 1447 (14/4/2026).
Menurut Naspi, kepemimpinan yang dibangun melalui pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan administratif atau pengelolaan organisasi semata, tetapi juga diarahkan pada pembentukan karakter yang mampu menggerakkan perubahan secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pemimpin harus mampu membaca dinamika yang berkembang sekaligus menjaga arah perjuangan yang telah dirumuskan organisasi.
Pelatihan kepemimpinan ini diikuti oleh para ketua yayasan pesantren yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang penguatan kapasitas kepemimpinan sekaligus refleksi mengenai peran strategis pemimpin dalam mengelola lembaga pendidikan dan dakwah di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Merespon Perubahan
Direktur Utama Hidayatullah Institute, Sumariadi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya organisasi dalam menyiapkan pemimpin yang mampu merespons berbagai tantangan yang muncul dalam kehidupan masyarakat.
“Langkah ini penting untuk melahirkan pemimpin yang mampu memberikan respons memadai terhadap tantangan dan ketidakpastian,” kata Sumariadi.
Rangkaian materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut menempatkan kepemimpinan sebagai proses yang berkelanjutan. Para peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan mengelola lembaga, tetapi juga mencakup tanggung jawab menghadirkan dampak jangka panjang melalui karya dan kontribusi nyata.
Melalui kegiatan ini, jelas Sumariadi, Hidayatullah Institute menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan di lingkungan pesantren. Pelatihan tersebut, terangnya, diarahkan untuk membangun pemimpin yang memiliki fondasi nilai yang kuat sekaligus mampu menghadirkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat dan generasi berikutnya.
Dalam sesi lain, Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dudung A. Abdullah, menyoroti pentingnya orientasi karya dalam kepemimpinan. Ia menyampaikan bahwa nilai kepemimpinan tidak semata diukur dari jabatan yang diemban, melainkan dari kontribusi nyata yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Kita boleh tidak dikenal karena jabatan. Tapi mari kita dikenal karena karya, karya yang bisa dinikmati generasi mendatang. Oleh karena itu kembangkan sifat amanah, tanggung jawab dan hadirkan perubahan,” ujarnya.






