
Kompetisi itu boleh, tetapi sesekali saja. Sebab bagaimanapun kompetisi membutuhkan energi yang besar. Fisik bisa lelah, mental pun demikian. Terlebih jika kompetisi dijalani secara individual. Letihnya terasa berlipat karena tidak ada tempat berbagi cerita atau bertukar pikiran. Pada titik tertentu, seseorang dapat merasa sepi dan hampa di tengah perjuangannya sendiri.
Karena itu, kolaborasi menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Dalam kolaborasi, satu sama lain saling membantu. Beban tidak harus dibagi sama rata, tetapi proporsional sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing. Dengan begitu, pekerjaan terasa lebih ringan dan perjalanan menjadi lebih menyenangkan.
Selain meringankan beban, kolaborasi juga menghadirkan teman berbicara. Hal ini penting, mengingat manusia pada dasarnya membutuhkan ruang untuk menyampaikan rasa dan pikiran. Dari sisi afeksi, keberadaan teman diskusi memungkinkan seseorang berbagi kesedihan maupun kegembiraan. Tumpukan emosi yang semula memenuhi hati perlahan dapat diurai sedikit demi sedikit.
Apabila ruang berbagi itu tidak tersedia, ledakan emosi bisa saja terjadi. Tekanan batin yang terus dipendam berpotensi melahirkan depresi atau gangguan sejenis lainnya. Situasi demikian tentu tidak baik bagi keberlangsungan hidup maupun produktivitas seseorang.
Dalam aspek kognitif, teman diskusi juga memiliki peran penting. Kolaborasi memungkinkan ide divalidasi dan diverifikasi bersama. Seberapa runtut sebuah gagasan, seberapa relevan penerapannya, serta bagaimana hubungan ide baru dengan pengalaman sebelumnya dapat dibahas secara lebih mendalam. Bahkan langkah-langkah paling efektif untuk merealisasikan ide pun bisa ditemukan melalui percakapan yang terbuka.
Memang diakui, sebagian orang merasa proses validasi dan verifikasi itu merepotkan. Menurut mereka, proses tersebut terlalu panjang dan menghambat eksekusi. Ide dianggap seharusnya segera dijalankan tanpa perlu banyak pembahasan.
Akan tetapi bagi mereka yang terbiasa bekerja secara sistemik dan akuntabel, proses validasi tetap penting dilakukan. Sebab melalui proses itulah sebuah ide diuji kematangannya. Harapannya, ketika diaplikasikan, hasil yang diperoleh menjadi lebih efektif, tepat sasaran, dan minim kesalahan.
Lebih jauh lagi, dalam perspektif coaching maupun peer-coaching, kolaborasi dapat berfungsi sebagai “cermin”. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali seseorang mengalami kebingungan berpikir. Banyak persoalan bercampur di kepala layaknya benang kusut yang sulit diurai sendiri.
Kehadiran rekan kolaborator membantu proses penjernihan tersebut. Melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendalam, seseorang dibantu melihat persoalan dengan lebih utuh. Misalnya, “Apakah pilihan ini sudah sesuai dengan tujuan?”, “Apa dampak jangka panjang dari keputusan ini?”, atau “Adakah cara yang lebih baik untuk ditempuh?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali menjadi pintu lahirnya kesadaran baru.
Pada akhirnya, kolaborasi bukan sekadar kerja bersama untuk menyelesaikan tugas. Lebih dari itu, kolaborasi adalah ruang untuk saling menguatkan, saling menjaga, sekaligus saling bertumbuh. Sebab manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendiri. Ada kalanya seseorang membutuhkan orang lain, bukan untuk menggantikan langkahnya, tetapi untuk menemani perjalanan agar tetap kuat hingga tujuan tercapai.
FU’AD FAHRUDIN






