
MAGELANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah sejuknya udara pegunungan lereng Gunung Sumbing, Rumah Qur’an Hidayatullah Kebon Legi perlahan menghadirkan kehangatan dakwah dan pembinaan Al-Qur’an bagi masyarakat Desa Kebon Legi, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.
Berlokasi di Kebonlegi RT 06 RW 03, Kaliangkrik, Magelang, Rumah Qur’an tersebut resmi berdiri pada 20 Oktober 2023 sebagai bagian dari semangat menyongsong Silaturahim Nasional Hidayatullah melalui penguatan dakwah dan kebermanfaatan di tengah masyarakat.
Rumah Qur’an Hidayatullah Kebon Legi berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.224 meter di atas permukaan laut. Kehadirannya menjadi ruang pembelajaran, pembinaan, dan penguatan nilai-nilai keislaman bagi masyarakat di wilayah lereng Gunung Sumbing yang juga dikenal dengan geliat sektor pariwisatanya.
Rumah Qur’an ini didirikan oleh Muhammad Abdurrosyid, alumni STAIL Hidayatullah Surabaya tahun 2021. Pada masa awal berdiri, seluruh aktivitas pengajaran dan pembinaan dijalankan secara mandiri olehnya. Namun seiring berkembangnya aktivitas dakwah dan meningkatnya kebutuhan masyarakat, pembinaan kemudian diperkuat dengan keterlibatan para da’i dari DPD Hidayatullah Kabupaten Magelang.

Saat ini, Rumah Qur’an Hidayatullah Kebon Legi telah memiliki tujuh pengajar aktif yang membersamai masyarakat dalam berbagai kegiatan pembelajaran Al-Qur’an dan pembinaan keagamaan.
Pembinaan yang dilakukan tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga para guru ngaji, imam masjid dan musala, serta jamaah masyarakat umum. Tercatat sekitar enam guru ngaji, empat imam masjid dan musala, serta sekitar 40 hingga 60 jamaah masjid dan musala menjadi peserta binaan secara rutin.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkala dan terstruktur, masyarakat mulai merasakan dampak positif dalam peningkatan pemahaman keagamaan dan kualitas bacaan Al-Qur’an. Warga memperoleh wawasan keislaman yang lebih luas sebagai panduan dalam menjalankan ibadah sehari-hari.
Tidak hanya itu, para guru ngaji di lingkungan sekitar juga perlahan mengalami peningkatan kemampuan dalam ilmu Al-Qur’an. Harapannya, kualitas pembelajaran anak-anak di desa ikut meningkat melalui guru-guru ngaji yang terus berkembang kompetensinya.
Menariknya, Rumah Qur’an Hidayatullah Kebon Legi tidak mengambil alih sepenuhnya pembelajaran anak-anak di desa. Pendekatan yang dibangun justru berfokus pada penguatan para guru ngaji lokal agar tradisi pembelajaran Al-Qur’an dan ritme dakwah masyarakat tetap hidup secara berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang berkesinambungan, Rumah Qur’an Hidayatullah Kebon Legi menjadi contoh bagaimana dakwah dapat tumbuh dari desa, mengakar di tengah masyarakat, dan menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya.






