
Pangkalpinang (hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bangka Belitung (Babel) menggelar Kajian Kelembagaan Jatidiri Hidayatullah di Yayasan Al-Fath Eling Jumaliah, Kota Pangkalpinang, Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan yang bertepatan dengan 11 Muharram 1448 H ini menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah Babel dalam memperkuat jati diri kader sekaligus meneguhkan langkah dakwah Hidayatullah di tengah umat.
Ketua DPW Hidayatullah Bangka Belitung, Ustadz Ismail Zalukhu, S.H.I., M.Pd dalam sambutannya menegaskan bahwa kajian kelembagaan merupakan agenda strategis dalam proses pembinaan kader yang harus diikuti oleh seluruh pemangku amanah di setiap daerah.
Ia mengatakan, penguatan kelembagaan bukan hanya bertujuan menambah wawasan organisasi, tetapi juga memastikan nilai-nilai Sistematika Wahyu (SW) yang menjadi landasan Hidayatullah dalam melakukan gerakan dakwah dan tarbiyah benar-benar terinternalisasi dalam diri setiap kader sehingga menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bergerak dalam menjalankan misi dakwah.
“Kajian ini menjadi momentum untuk menyegarkan kembali komitmen perjuangan sekaligus memastikan nilai-nilai Sistematika Wahyu yang digagas oleh pendiri Hidayatullah allahuyarham K.H. Abdullah Said terus hidup dalam setiap kader. Dengan demikian, gerakan dakwah Hidayatullah akan semakin kokoh dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ungkapnya.
Tak terlupa, Ismail juga mengapresiasi antusiasme kader yang hadir dari berbagai daerah di Bangka Belitung, di antaranya Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Selatan, dan Kota Pangkalpinang. Kehadiran mereka sekaligus menegaskan semangat kebersamaan dalam menghadirkan karya nyata bagi bangsa.
Kajian Kelembagaan yang mengusung tema “Memahami Jatidiri Hidayatullah sebagai Upaya Menjaga Spirit Perjuangan” menghadirkan K.H. Ahmad Djunaidi, S.Pd.I. sebagai pemateri. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa setiap kader dakwah harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap sejarah perjuangan Islam.
Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber inspirasi yang mampu menumbuhkan semangat, keteguhan, dan optimisme dalam mengemban amanah dakwah.
“Seorang kader pergerakan tidak boleh buta terhadap sejarah. Sudah semestinya setiap kader memiliki buku-buku sejarah di rumahnya agar ghirah perjuangan terus tumbuh dan terpelihara,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Yusuf ayat 111 yang menegaskan bahwa kisah-kisah para nabi dan orang-orang terdahulu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang berakal, menjadi petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Menurutnya, ayat tersebut menjadi landasan penting bagi kader untuk menjadikan sejarah sebagai sarana mengambil ibrah dalam melanjutkan perjuangan dakwah.
“Bangsa yang besar menghargai sejarahnya, dan gerakan dakwah yang kokoh adalah gerakan yang belajar dari perjalanan para pendahulunya. Dari sejarah itulah lahir keteguhan, arah perjuangan, dan keyakinan untuk terus melanjutkan misi dakwah hingga akhir zaman,” tegasnya.
Selain kajian kelembagaan, kegiatan juga diisi dengan berbagai agenda pembinaan serta penguatan spritual kader, seperti shalat tahajud berjamaah, tausiah subuh, rapat koordinasi, hingga olahraga bersama.






