
Sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk ke nomor saya dari seorang Ustadz yang diamanahkan sebagai ketua yayasan di sebuah Pondok Pesantren Hidayatullah yang cukup maju. Beliau bertanya tentang adanya aspirasi dari beberapa pengurus untuk membuat sekolah full day pada tingkatan pendidikan menengah. Saya menjawab secara normatif sebagai bentuk apresiasi terhadap aspirasi tersebut, sambil menjaga ketegasan arah pendidikan Hidayatullah yang lahir dan dibesarkan dari rahim Pesantren selama perjalanan 50 tahun pertama.
Pertanyaan Ustadz di atas, mengingatkan saya akan sebuah diskusi dengan seorang cendekiawan muda Hidayatullah, terhadap sebuah keinginan Yayasan yang nyaris lebih besar dari yayasan yang dipimpin oleh Ustadz yang bertanya melalui pesan whatsApp (WA). Cendekiawan muda tersebut prihatin karena yayasan Hidayatullah yang cukup besar tersebut, di tahun ajaran ini memutuskan untuk menerima siswa full day pada jenjang sekolah menengah di lokasi yang sama dengan siswa yang berasrama. Saya berusaha menenangkan sang cendekiawan (sembari juga berusaha menenangkan diri) untuk tetap optimis dan berprasangka baik, bahwa mungkin niat yayasan tersebut adalah untuk ekspansi, memperluas layanan, sehingga full day school berkembang, boarding pun tidak terganggu (walaupun dalam hati, saya sedikit meragukan karena lokasi full day berada sama dengan lokasi boarding school).
Dua peristiwa di atas mengingatkan saya akan peristiwa 5 (lima) bulan yang lalu pada kegiatan rapat koordinasi pendidikan Hidayatullah se-Indonesia secara online yang dihadiri oleh 37 ketua departemen pendidikan dan kepesantrenan utusan masing–masing dewan pengurus wilayah Hidayatullah ditambah 8 ketua departemen pendidikan dan kepesantrenan dari kampus induk dan kampus-kampus utama Hidayatullah se-Indonesia. Salah satu peserta menanyakan pendapat tim DPP Hidayatullah bidang pendidikan tentang kondisi santri di pesantren nya yang semakin menurun, sehingga ada rencana untuk mengganti sekolah berasrama dengan sekolah full day. Saat itu tim bidang pendidikan secara kompak memotivasi ketua depdiktren tersebut untuk berupaya meningkatkan mutu pendidikan di pesantren tanpa harus menggantinya dengan sekolah full day.
Keliru Membaca Data
Peristiwa demi peristiwa ini membuat saya merenung, apa sebenarnya yang terjadi sehingga beberapa pengelola pesantren, khususnya dalam jaringan pesantren Hidayatullah, mulai kehilangan kepercayaan dirinya dengan sistem sekolah berasrama. Dari beberapa diskusi yang muncul, kebanyakan mereka terpicu dengan data yang sebenarnya tidak benar–benar akurat. Mengutip dari data.goodstats.id, beberapa peserta di dalam grup WA Hidayatullah menyebarkan informasi tentang turunnya jumlah santri dalam 4 tahun terakhir. Kalau ini dijadikan rujukan, tentu respon yang dilakukan untuk mendirikan sekolah full day perlu dipertimbangkan secara matang.
Pertama, data ini terbantah oleh Kemenag sendiri, langsung dari Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Basnang Said, yang menyatakan turunnya angka ini, karena banyak pesantren tidak menginput data santri di EMIS (Education Management Information System) yaitu sebuah sistem pendataan pendidikan resmi di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag). Penulis sendiri mengecek ke beberapa Pesantren Hidayatullah yang cukup besar dengan ratusan santri di dalamnya, dan diantaranya tidak mendaftarkan santrinya dalam pusat data kemenag tersebut. Selain itu, data santri ini juga menurun, karena terdapatnya ratusan sekolah berasrama yang berada di bawah nanungan kemendikdasmen yang secara otomatis tidak terdata di EMIS Kemenag, padahal penyelenggaranya adalah Pesantren (menurut data kemendikdasmen, jumlahnya 934 sekolah).
Dua respon di atas, baik dari kementerian agama sendiri, dan juga data dari Kementerian pendidikan dasar dan menengah sejatinya memberikan informasi penting kepada penyelenggara lembaga pendidikan berbasis Pesantren, bawah sekolah berasrama tidak benar–benar ditinggalkan oleh masyarakat. Persoalan utamanya hanya pada input data. Inipun terjadi di Hidayatullah, dimana selama 5 tahun terakhir, dalam pemberitaan yang di ekspose ke media, disampaikan dalam forum forum baik formal maupun informal, bahwa Hidayatullah mengelola 352 sekolah. Padahal setelah didata ulang, Hidayatullah telah memiliki 532 lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga jenjang SMA. Penyebabnya, karena hanya 352 sekolah itulah yang mengisi data di pusat data tarbiyah Hidayatullah, sehingga sisa yang 200an luput dari pendataan.
Keliru Merespon Data
Penulis belakangan ini berupaya mengumpulkan data penelitian untuk mengungkap berbagai temuan tentang femonema “turunnya” jumlah peserta didik di beberapa Pesantren. Dalam beberapa kasus, angka santri yang menurun bukan serta merta karena orang tua ingin anaknya masuk di pendidikan full day. Penelitian yang dilakukan oleh Jamaluddin (2023) dan Rani et al., (2023). Mengungkap bahwa kualitas pendidikan yang dirasakan di sekolah berasrama, khususnya di pesantren, menjadi penyebab utama menurunnya minta orang tua dan santri. Banyak orang tua dan siswa memandang kurikulum Pesantren sudah usang dan tidak selaras dengan standar pendidikan modern, sehingga mengarahkan mereka untuk mencari alternatif yang menjanjikan hasil pendidikan yang lebih baik. Hal ini diaminkan oleh Taufikin & Solihuddin (2025) yang menyatakan bahwa preferensi masyarakat dalam memilih pendidikan bergeser menuju sistem pendidikan formal yang menekankan sains dan teknologi, yang dianggap menawarkan prospek karir yang lebih baik. Pergeseran ini menyebabkan penurunan minat pada sekolah asrama tradisional, khususnya pesantren, yang sering dianggap kurang selaras dengan tujuan pendidikan dan karir modern.
Dalam aspek ekonomi, terjadi dua kondisi berbeda yang juga menjadi pemicu berkurangnya jumlah santri untuk belajar di sekolah berasrama. Pada sisi Masyarakat, penurunan kemampuan ekonomi menjadi pemicu orang tua untuk mengirim anaknya ke sekolah–sekolah terdekat. Meningkatnya biaya yang terkait dengan pendidikan pesantren, termasuk biaya masuk, biaya SPP bulanan, dan biaya tambahan untuk kegiatan sekolah dan asrama, menimbulkan beban keuangan yang signifikan bagi keluarga, terutama mereka yang berasal dari latar belakang berpenghasilan menengah ke bawah. Kondisi keuangan ini merupakan faktor utama yang menghambat akses ke pendidikan berbasis pesantren (Pamungkas et al., 2024 dan Sintia et al., 2025). Pada sisi Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan berasrama, beberapa pesantren menghadapi kesulitan keuangan karena ketergantungan mereka pada sumbangan masyarakat (SPP) yang tidak stabil. Ketidakstabilan keuangan ini mempengaruhi kemampuan mereka untuk mempertahankan operasional dan memberikan pendidikan berkualitas, yang menyebabkan berkurangnya pendaftaran santri bahkan mengarah pada penutupan Pesantren (Taufikin & Solihuddin, 2025).
Dari berbagai data yang diungkap oleh penelitian – penelitian yang tergolong masih sangat up to date (5 tahun terakhir), terlihat bahwa turunnya minat santri bukan disebabkan karena faktor preferensi masyarakat yang lebih mengutamakan sekolah full day daripada sekolah berasrama, tetapi karena berbagai faktor lainnya seperti mutu pendidikan pesantren, manajemen pengelolaan pesantren, hingga daya beli masyarakat terhadap pesantren yang menetapkan standar masuk di atas rata – rata. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa mengikuti tren untuk membuka full day school dan pada saat yang sama mengamputasi sekolah berasrama berbasis pesantren bukan merupakan sebuah keputusan yang bijak, bahkan cenderung sangat prematur apabila alasan dibalik pendirian full day school tersebut hanya berlandaskan pada analisa data penurunan santri. Bahkan data tersebut cenderung gagal membuktikan bahwa masyarakat mulai beralih ke full day school daripada sekolah berasrama, sebagaimana yang terlihat dari penelitian – penelitian yang dikutip pada tulisan ini.
Manfaat sistem pendidikan berasrama di Pesantren
Tidak bisa dipungkiri, Pesantren merupakan salah satu ekosistem pendidikan yang banyak memberi manfaat bagi Bangsa ini. Sejak lima (5) abad yang lalu, Pesantren terus melahirkan generasi – generasi pemimpin yang cakap dan berkontribusi terhadap perkembangan Bangsa . Sebutlah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, dua tokoh monumental yang dimiliki Bangsa ini, yang kelak melahirkan dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Mereka berdua tumbuh besar dalam sebuah pendidikan agama yaitu Pesantren. Begitu juga dengan tokoh – tokoh Bangsa saat ini seperti KH Ma’ruf Amin (Wakil Presiden RI ke 13), Din Syamsudin, dan Mahfud MD yang mengenyam pendidikan di lingkungan Pesantren.
Banyak kelebihan yang dimiliki oleh pendidikan berasrama berbasis Pesantren yang tidak dimiliki oleh sekolah dengan sistem full day. Pesantren memberikan lingkungan yang homogen dimana penghuninya diajak untuk memiliki perspektif yang sama untuk memandang kehidupan. Perspektif pandangan hidup ini kemudian dipraktikkan dalam aktifitas sehari hari dari sejak bangun tidur hingga waktu istirahat kembali tiba. Persamaan paradigma ini mempermudah seluruh stakeholder untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi–pribadi yang taat kepada Allah dan menjunjungg tinggi nilai–nilai dalam Agama. Kelebihan berikutnya adalah sistem hidup komunal atau berjamaah. Pesantren mendidik santrinya untuk taat kepada Kyai sebagai figur pemimpin di Pesantren. Tentu saja ketaatan ini dilakukan selama Kyai menjaga prinsip – prinsip keimanan kepada Allah swt. Maka, kita akan mudah menyaksikan ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu santri taat satu komando dengan titah kyainya. Belum lagi karakter–karakter yang hanya bisa secara optimal ditumbuhkembangkan melalui pendidikan berasrama berbasis pesantren. Karakter kemandirian, kedisiplinan, bertanggung jawab, empati, kolaboratif, hingga disiplin menjadi kelebihan yang tidak bisa didapatkan secara optimal kalau sekolah diselenggarakan dengan sistem full day.
Saya teringat dengan seorang kolega yang beberapa kali dipercaya untuk menjadi kepala sekolah di sekolah–sekolah ternama di Indonesia. Terakhir, kolega tersebut dipercaya memimpin sebuah sekolah berstandar internasional ternama di Jakarta. Hebatnya, sekolah tersebut membuka layanan boarding school dengan biaya ratusan juta untuk uang masuknya. Dengan antusias, kolega tersebut berbisik memberitahukan kepada saya bahwa baru buka beberapa bulan, sudah penuh kuotanya. Saya juga teringat dengan seorang kepala sekolah yang saya baru kenal beberapa waktu tahun belakangan di Kota Bogor. Ia kerap ditugaskan oleh sebuah lembaga konsultan pendidikan internasional untuk memimpin sekolah sekolah binaan baik di Papua hingga di Kota besar seperti Jakarta dan Bogor. Di Bogor, ia memimpin sekolah berasrama yang sangat maju dan berkembang hanya dalam hitungan 5 tahun. Lulusannya sudah diterima di berbagai belahan dunia. Kini sekiolah tersebut masuk dalam 10 sekolah pertama yang ditransformasi oleh Pemerintah menjadi sekolah Garuda. Persis ketika SK nya keluar, ia mengirim informasi kepada saya, Ustadz, apakah sekolah Hidayatullah mau bertransformasi menjadi sekolah garuda? Jawaban yang saya tidak jawab secara serius, karena berbagai pertimbangan, salah satunya kesiapan sekolah – sekolah Hidayatullah untuk melejit dengan sistem berasramanya.
Bertahan dan Berkembang, atau Ditinggal
Maka pilihan bagi jaringan pengelola Pesantren Hidayatullah se Indonesia, adalah agar mempertahankan sistem pendidikan berasrama berbasis pesantren. Bukan sekedar bertahan hanya karena doktrin bahwa inilah salah satu warisan peninggalan pendiri Hidayatullah, yaitu sistem hidup berkampus, tapi karena kelebihan–kelebihan yang begitu banyak yang tidak cukup untuk diurai dalam tulisan yang terbatas ini. Dan bertahan, bukan berarti mempertahankan Pesantren dalam kondisi tata kelola yang tidak profesional dengan manajemen ala kadarnya sehingga pelan tapi pasti ditinggal oleh santri bahkan para ustadz dan kyainya.
Hidayatullah harus meningkatkan dan mengembangkan mutu pengelolaan Pesantren dengan prinsip profetik dan profesional. Sistem hidup berkampus yang ditinggalkan oleh pendiri Hidayatullah hanya bisa dilakukan apabila warga Pesantren menjalankan prinsip hidup berIslam secara kaffah. Inilah yang perlu diletakkan sebagai azas agar Pesantren menjadi tempat yang memiliki daya tarik bagi orang tua untuk menitipkan masa depan pendidikan putra putri mereka. Ada Masjid sebagai pusat intelektual, spiritual, dan adab. Ada sekolah yang mengasah kemampuan intelektual, dan ada asrama yang meningkatkan kecerdasan sosial, emosional serta karakter-karakter seperti kepemimpinan dan kemandirian. Dengan menghidupkan tiga pilar pendidikan sekolah berasrama berbasis Pesantren ini, peserta didik tidak akan merasa jenuh untuk belajar di Pesantren.
Seiring perkembangan teknologi digital saat ini, Pesantren juga perlu memodernisasi tata kelola pendidikan dan pelayannya secara digital. Informasi tentang progres pembelajaran siswa dapat diakses oleh orang tua siswa secara cepat, tepat dan akurat. Tidak perlu menunggu lulusan 3 hingga 6 tahun untuk mengetahui bahwa putra putri mereka memiliki jumlah hafalan sekian juz. Cukup dengan satu klik di aplikasi yang terintegrasi dengan sistem pendidikan di pesantren, mereka dapat melihat perkembangan tahfidz putra putri nya, adab mereka, kompetensi intelektual dan hal–hal penting lainnya. Pesantren harus mampu menjawab bahwa lingkungan pesantren tidak tabu terhadap perkembangan sains dan teknologi, tinggal bagaimana mengelola agar upaya menurunkan kesenjangan digital sekolah berasrama berbasis Pesantren tetap selaras dengan nilai–nilai keagamaan yang diterapkan di Pesantren.
Pekan lalu, penulis kembali mengunjungi sebuah madrasah internasional full day yang sangat terkenal dengan prestasi dunia dalam bidang robotik. Sekolah yang berasal dari home school ini menjadi satu satunya perwakilan Indonesia dalam kejuaraan bergengsi First Global Challenge (FGC) yang digelar setiap tahun. Saat saya menemani sebuah Yayasan untuk belajar ke sini, siswa siswinya sedang mempersiapkan robot robot mereka untuk berkompetisi di Korea dalam gelaran FGC tahun ini. Saya lalu diingatkan oleh pendirinya yang sangat energik dengan mengatakan bahwa Hidayatullah berpotensi untuk turut serta dalam kegiatan robotik tingkat dunia, karena sekolah–sekolahnya yang mayoritas berasrama sehingga siswa siswinya memiliki waktu lebih luang untuk mengasah keterampilan dalam bidang robotik.
Pada malam rabu lalu, saya juga bertemu dengan seorang founder lembaga bimbingan yang sudah mengirim ribuan siswa siswi Indonesia melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa. Ia dengan optimis menyampaikan kepada saya bahwa Hidayatullah memiliki kesempatan sangat besar, karena sistem sekolah berasrama yang diterapkan membuat program persiapan siswa ke luar negeri bisa dilakukan secara intensif. Saya teringat dengan tujuan pendidikan Hidayatullah yang telah dirumuskan dalam konsep dasar pendidikan Hidayatullah, yaitu melahirkan insan rabbani, yang dalam definisi Imam At thabari, adalah manusia yang terasah segala aspek nya, menjadi sosok rujukan di bidang fikih, ilmu alam, urusan agama dan dunia. DImana kira- kira insan rabbani ini dilahirkan? Apakah Hidayatullah mampu melahirkan generasi rabbani ini dengan sistem pendidikan berasrama berbasis Pesantren? Haruskah Hidayatullah mentransformasi pendidikannya menjadi sistem full day school untuk melahirkan insan rabbani?
Pesan WA dari ketua Yayasan kemudian masuk kembali di HP saya. Ia melanjutkan pertanyaannya, bagaimana kalau sekolah berasrama yang sekarang tetap kita pertahankan, lalu kita membuka sekolah full day di lokasi yang berbeda? Saya diam, tidak menjawab, sejatinya saya sedang merenung, mengapa pemikiran full day school untuk tingkatan Sekolah menengah terus hadir dalam pemikiran pengelola Pesantren? Apakah sudah tiba masanya untuk menurunkan plang papan nama Pesantren di jaringan Pendidikan Hidayatullah? Saya belum bisa menjawabnya, karena kemudian sebuah WA masuk yang terkirim dari nomor sang cendekiawan muda. Rupanya Yayasan Hidayatullah yang besar tersebut telah membuka pendaftaran sekolah full day tingkat menengah di lokasi yang sama dengan sekolah berasrama.
Muzakkir Usman, M.Ed., Ph.D / Penulis adalah Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan






