AdvertisementAdvertisement

HNW: Memaknai Kehidupan sebagai Amanah untuk Menebar Kebaikan dan Membangun Peradaban

Content Partner

JAKARTA (hidayatullah.or.id) – Di tengah padatnya aktivitas ibu kota, K.H. Dr. Hidayat Nur Wahid, Lc., MA. (HNW) melalui khotbah jum’at, mengajak jamaah yang telah memenuhi Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, untuk merenungkan hakikat kehidupan, ajal, serta pentingnya kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, Jum’at (10/7/2026). 

Mengawali khotbahnya dengan mengutip surah Al-A’raf ayat 34, HNW mengingatkan jamaah bahwa ajal atau batas waktu adalah kepastian mutlak yang tidak dapat dimajukan maupun dimundurkan sedetik pun. Beliau merefleksikan kabar duka yang datang silih berganti, mulai dari wafatnya tokoh nasional asal Gorontalo, Rachmat Gobel yang juga mantan menteri dan anggota DPR RI, hingga perjuangan para syuhada di Gaza, Palestina.

Menurut Wakil Ketua MPR RI tersebut, setiap detik kehidupan yang masih Allah SWT berikan harus dimaknai sebagai kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh, sebagaimana esensi yang tertuang dalam Surah Al-Mulk ayat 2,Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala (untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya).

“Kematian adalah fakta yang tidak bisa diperkirakan oleh teknologi secanggih apa pun. Maka, ketika karunia kehidupan ini masih ada, sudah semestinya kita memaksimalkannya untuk menghadirkan kemakmuran dan menjauhkan diri dari segala bentuk pengrusakan,” ujar HNW di hadapan jamaah Masjid  Baitul Karim.

Visi Produktif dan Ajaran Dakwah Individu

HNW menekankan bahwa Islam mengajarkan visi kehidupan yang sangat produktif dan konstruktif. Mengutip hadis Rasulullah SAW, beliau menegaskan bahwa gerakan membawa kebaikan atau dakwah tidak perlu menunggu komunitas yang besar atau kebijakan institusi yang masif, melainkan harus dimulai dari diri sendiri secara individual (ballighu ‘anni walau ayah).

Hidayah pun, lanjut HNW, memiliki tingkatan yang sangat luas. Mulai dari perubahan pribadi yang belum shalat menjadi tertib shalat, hingga kontribusi nyata dalam memakmurkan lingkungan di tingkat RT, RW, kelurahan, bahkan dalam skala negara.

Beliau juga menyoroti salah satu keteladanan luar biasa dari Rasulullah SAW mengenai pentingnya optimisme melalui sebuah hadis: “Jika terjadi hari kiamat, sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”

“Ini adalah visi luar biasa. Secara logika, pohon itu tidak akan sempat tumbuh besar apalagi dipanen karena kiamat sudah datang. Namun, arahannya adalah tetap tanamkan kebaikan itu! Kita dilarang cemas, gundah, atau termangu melihat kondisi dunia yang mengkhawatirkan. Segera lakukan kebaikan dengan apa yang ada di tangan kita,” tegasnya.

Pelajaran Sejarah, Li Kulli Ummatin Ajal

Tidak hanya berlaku bagi individu, HNW memaparkan bahwa konsep ajal juga berlaku secara kolektif bagi sebuah bangsa dan peradaban (li kulli ummatin ajal). Beliau memberikan pelajaran sejarah besar mengenai runtuhnya Khilafah Umayyah di Andalusia (Spanyol) serta Daulah Samaniyah di Asia Tengah.

Padahal, kedua peradaban tersebut telah melahirkan dampak luar biasa bagi sains dunia serta melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, Imam At-Tirmidzi, Ibnu Sina, hingga silsilah Wali Songo yang menyebarkan Islam di nusantara (seperti ayah Sunan Ampel dan Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari Samarkand).

“Di mana Daulah Samaniyah dan Andalusia sekarang? Sudah tidak ada. Mengapa sebuah bangsa atau peradaban bisa hancur? Rasulullah mengingatkan bahwa kehancuran umat terdahulu terjadi karena hilangnya keadilan—hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas,” jelas HNW seraya mengutip penegasan Rasulullah tentang komitmen keadilan hukum, bahkan jika yang melakukan kesalahan adalah putri beliau sendiri, Fatimah.

Tanggung Jawab Individual di Akhirat

Menutup khotbahnya, K.H. Hidayat Nur Wahid mengingatkan jamaah bahwa kelak di Yaumul Mahsyar, setiap manusia akan berdiri sendiri-sendiri untuk mempertanggungjawabkan karunia yang telah diterimanya. Allah tidak akan bertanya tentang apa yang dilakukan oleh orang lain atau bangsa lain, melainkan apa yang telah diperbuat oleh individu tersebut dengan umur, harta, kesehatan, dan ilmu yang dimilikinya.

HNW juga mengajak jamaah untuk terus konsisten menghadirkan moralitas yang baik dan menegakkan keadilan guna mewujudkan tatanan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang makmur, adil, dan diberkahi oleh Allah SWT.

Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

HUT Ke-63 PT TASPEN, Jalin Kerja Sama dengan BMH Gelar Pengajian dan Santunan Santri

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63, PT TASPEN (Persero) Cabang Cirebon menggandeng Unit Layanan Zakat Baitul...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img