
YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jalan menuju keberhasilan selalu meminta dua kekuatan, yaitu iman dan istiqamah. Keduanya perlu hidup dalam diri setiap kader agar perjuangan terus tumbuh dan organisasi memiliki daya untuk menghadirkan kebaikan.
Pesan itu mengemuka dalam tausiyah Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) DIY-Jatengbagsel, Ust. Fathurrahman, pada Lailatul Ijtima’ di Pesantren Hidayatullah Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Ahad (04/10/2026).
Lailatul Ijtima’ berlangsung selama dua hari, 3–4 Oktober 2026. Pada malam pertama, peserta mengikuti sesi sharing tentang organisasi unggul bersama Prof. Dr. Icuk Rangga Bawono dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kemudian, pada Ahad pagi, Ust. Fathurrahman mengajak peserta melihat kembali fondasi penting dalam perjalanan seorang kader.
Menurutnya, konsolidasi organisasi perlu berangkat dari konsolidasi nilai perjuangan. Sebab, organisasi akan memperoleh keunggulan ketika kader-kadernya terus meningkatkan kualitas dan kompetensi diri.
Karena itu, kader perlu terus belajar, memperbaiki diri, serta menumbuhkan sifat amanah. Kompetensi akan membuat seseorang mampu menjalankan tugas dengan baik. Sementara itu, amanah membuat orang lain menaruh kepercayaan kepadanya.
Pada titik itulah kualitas kader menemukan bentuk nyatanya. Ia aktif menjalankan amanah, tekun dalam tugas, taat pada ketentuan organisasi, sekaligus hadir sebagai teladan. Kejujuran dan kesabaran pun menjadi bekal penting dalam proses memperbaiki diri.
Lebih jauh, Ust. Fathurrahman mengingatkan bahwa kader Hidayatullah membawa misi peradaban. Karena itu, setiap kader perlu terus menempa diri agar memiliki kapasitas yang sepadan dengan besarnya misi tersebut. Semangat perjuangan harus bertemu dengan ketekunan, kompetensi, dan karakter yang dapat dipercaya.
Mulai dari Kebiasaan
Namun, kualitas besar tidak selalu bermula dari langkah yang tampak besar. Ust. Fathurrahman justru mengajak peserta memperhatikan kebiasaan sehari-hari.
“Semua kebaikan berdasarkan kebiasaan. Maka biasakanlah,” pesannya.
Pesan itu kemudian menyentuh wilayah yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang kader: salat. Ia mengajak peserta memperbaiki salat dengan sungguh-sungguh serta menjaga keteladanan dalam salat malam.
Dari sinilah proses menempa diri memperoleh pijakan. Kader yang ingin membawa perubahan bagi umat perlu terlebih dahulu memiliki kesungguhan dalam mengatur dirinya. Ia menjaga hubungannya dengan Allah, melatih disiplin melalui kebiasaan baik, lalu membuktikan amanah melalui kerja nyata.
Lailatul Ijtima’ menjadi ruang untuk kembali memeriksa kualitas diri.
“Sebagai wadah kultural kegiatan ini berlangsung secara intens. Utamanya membentuk kualitas diri. Karena itu minimal digelar setiap 3 bulan sekali,” ungkap Sekwil DPW Hidayatullah DIY Jatengbagsel, Ust. Dr. Nur Islam.






