الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِنَا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tentang bagaimana kita memulai kebaikan, tetapi juga bagaimana kita mempertahankan kebaikan itu secara terus-menerus hingga akhir kehidupan.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah tema: “Menjadi Muslim yang Istiqamah di Tengah Ujian Zaman.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Perubahan terjadi begitu cepat. Teknologi berkembang, informasi datang tanpa henti, dan berbagai macam pengaruh masuk ke dalam kehidupan kita.
Di satu sisi, kemajuan zaman memberikan banyak kemudahan. Namun di sisi lain, zaman juga menghadirkan berbagai ujian bagi iman kita.
Kita dapat melihat bagaimana kemaksiatan semakin mudah diakses. Pergaulan semakin bebas. Berita yang tidak benar begitu mudah tersebar. Waktu banyak dihabiskan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Bahkan terkadang hati kita lebih dekat dengan dunia maya daripada dengan Al-Qur’an.
Dalam kondisi seperti ini, menjadi seorang Muslim bukan hanya persoalan mengetahui kebenaran, tetapi juga bagaimana kita tetap teguh berada di atas kebenaran. Itulah yang disebut dengan istiqamah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa iman harus diikuti dengan istiqamah.
Bukan hanya rajin beribadah ketika sedang mendapatkan kemudahan. Bukan hanya membaca Al-Qur’an ketika sedang memiliki waktu luang. Bukan hanya bersedekah ketika memiliki kelebihan.
Tetapi tetap beribadah ketika sibuk, tetap jujur ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, tetap menjaga pandangan ketika tidak ada yang melihat, tetap menjaga lisan ketika sedang marah, dan tetap memilih yang halal meskipun jalan menuju yang haram terasa lebih mudah.
Jamaah Jumat rahimakumuallah,
Istiqamah bukan berarti kita tidak pernah melakukan kesalahan. Manusia pasti memiliki kelemahan. Kita bisa jatuh dalam dosa, lalai dalam ibadah, atau melakukan kesalahan.
Tetapi orang yang istiqamah adalah orang yang tidak berhenti kembali kepada Allah. Ketika jatuh, ia bangkit. Ketika lalai, ia kembali mengingat Allah. Ketika melakukan dosa, ia segera bertaubat. Ketika imannya melemah, ia berusaha menguatkannya kembali.
Karena kehidupan seorang Muslim bukan tentang menjadi manusia yang sempurna, tetapi tentang terus berjalan menuju Allah.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang suatu amalan yang paling utama. Beliau menjawab:
قُلْ آمَنْتُ بِاللّٰهِ فَاسْتَقِمْ
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Lalu bagaimana agar kita mampu istiqamah di tengah ujian zaman?
Pertama, jagalah shalat.
Shalat adalah tiang kehidupan seorang Muslim. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita meninggalkan shalat. Apa pun pekerjaan kita, di mana pun kita berada, ketika waktu shalat tiba, kita harus mengingat bahwa ada kewajiban yang jauh lebih besar daripada urusan dunia.
Kedua, dekatkan diri dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Jangan sampai setiap hari kita membaca begitu banyak pesan di telepon genggam, tetapi hampir tidak pernah membaca pesan dari Allah. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat. Yang penting adalah konsisten.
Ketiga, pilih lingkungan pergaulan yang baik.
Teman memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seseorang akan mengikuti agama atau kebiasaan teman dekatnya. Maka lihatlah dengan siapa kita berteman. Apakah pertemanan itu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?
Keempat, kendalikan penggunaan teknologi dan media sosial.
Teknologi adalah alat. Ia dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi juga dapat menjadi pintu kemaksiatan. Gunakan teknologi untuk belajar, berdakwah, bekerja, dan melakukan kebaikan.
Jangan biarkan jari kita menjadi sebab dosa karena menyebarkan fitnah, berita bohong, penghinaan, atau sesuatu yang Allah haramkan. Ingatlah bahwa apa yang kita tulis dan sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban.
Kelima, perbanyak doa agar Allah meneguhkan hati kita.
Karena hati manusia mudah berubah. Allah-lah yang membolak-balikkan hati. Maka jangan pernah merasa aman dari perubahan hati.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada akhirnya, ujian terbesar seorang Muslim bukanlah apakah ia pernah melakukan kebaikan, tetapi apakah ia mampu menjaga kebaikan itu sampai akhir hayat.
Kita tidak tahu kapan kehidupan kita akan berakhir. Karena itu, jangan menunda taubat. Jangan menunda memperbaiki shalat. Jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu lapang untuk membaca Al-Qur’an.
Mulailah dari sekarang. Sedikit tetapi terus-menerus. Karena amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah, teguh dalam iman, kuat menghadapi ujian zaman, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِنَا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، يَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita terus menjaga iman dan ketakwaan kita. Dunia akan terus berubah, zaman akan terus berkembang, tetapi prinsip seorang Muslim tidak boleh kehilangan arah.
Peganglah Al-Qur’an. Ikutilah sunnah Rasulullah ﷺ. Jaga shalat. Jaga keluarga. Jaga lisan. Jaga hati. Dan teruslah berbuat baik meskipun kebaikan itu kecil.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas iman dan Islam.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ.
Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Ya Allah, kuatkan iman kami. Jauhkan kami dari fitnah kehidupan, fitnah kemaksiatan, dan segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang istiqamah dalam beribadah.
Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada keluarga kami, kepada anak-anak kami, kepada orang tua kami, kepada guru-guru kami, dan kepada seluruh kaum Muslimin.
Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para guru kami, dan dosa seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.
Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْ
(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)






