
NUSAKAMBANGAN, (hidayatullah.or.id) — Ada pertemuan yang tidak pernah direncanakan dalam agenda. Namun justru dari pertemuan sederhana itu, lahir percakapan yang menyimpan energi besar untuk masa depan pembinaan dan kepedulian sosial di balik tembok pemasyarakatan. Pantai Permisan, salah satu sudut eksotis di Pulau Nusakambangan, menjadi saksi perjumpaan tersebut.
Di pantai yang dikenal dengan keberadaan belati Kopassus, simbol yang mengingatkan pada tradisi pembaretan prajurit Kopassus setelah menjalani pendidikan. Ombak laut selatan bergulung keras, deburannya seolah menjadi latar alami bagi sebuah percakapan yang jauh dari suasana formal, tetapi sarat gagasan dan komitmen.
Hari itu, K.H. Naspi Arsyad, Lc., bersama rombongan dan sejumlah tamu undangan, menyempatkan diri melakukan rihlah ke Pantai Permisan setelah mengisi Tabligh Akbar di Lapas Kembangkuning Nusakambangan. Kamis, (20/08/2026)
Obrolan Santai, Gagasan Besar
Di tengah suasana laut selatan yang luas dan suara ombak yang terus menghantam pantai, hadir Kalapas Kembangkuning, Winarso, bersama Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Jawa Tengah, Mardi Santoso.
Pertemuan yang awalnya berlangsung santai itu kemudian berubah menjadi ruang dialog yang penuh energi. Duduk bersama dalam suasana yang cair, Mardi Santoso, Winarso, K.H. Naspi Arsyad, K.H. Hasan Makarim, dan Direktur HiGIVE Indonesia, Imron Faizin, berbincang tentang masa depan pembinaan warga binaan, penguatan sinergi, serta berbagai kemungkinan program sosial dan pembinaan yang dapat dikembangkan di Lapas Nusakambangan.

Winarso kembali menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh lembaga mitra yang selama ini hadir memberikan dukungan bagi pembinaan warga binaan, khususnya kepada K.H. Naspi Arsyad yang telah berkenan menjadi narasumber dalam Tabligh Akbar.
Apresiasi serupa disampaikan Kakanwil Ditjenpas Jawa Tengah, Mardi Santoso. Ia memberikan penghargaan atas dukungan dan kepedulian Hidayatullah terhadap pembinaan di Nusakambangan. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Lapas Kembangkuning, tetapi juga telah menyentuh sejumlah lapas lainnya di kawasan Nusakambangan.
“Apa yang dilakukan Hidayatullah di Nusakambangan bukan sekadar bantuan, tetapi bagian dari sinergi untuk menghadirkan pembinaan yang lebih baik bagi warga binaan.”
Dari Laut Selatan, Lahir Komitmen Baru
Bagi Kiai Naspi, kunjungan ke Nusakambangan kali ini merupakan pengalaman pertamanya. Namun perjumpaan dengan para pembina, petugas, warga binaan, dan mitra pemasyarakatan justru membuka ruang baru untuk memperkuat kolaborasi. Ia menyampaikan komitmen bahwa sinergi dan kerja sama ke depan akan terus ditingkatkan melalui berbagai inovasi program.
Program-program yang selama ini telah berjalan akan terus dipertahankan. Namun, menurutnya, harus ada terobosan dan gagasan baru yang hadir sebagai bentuk inovasi dalam pembinaan warga binaan.
Senada dengan itu, K.H. Hasan Makarim, selaku Pembina Rohani Lapas se-Nusakambangan, menyampaikan bahwa program pembinaan yang selama ini telah berjalan akan terus dilanjutkan.
Pembinaan tidak hanya diarahkan pada penguatan spiritual dan kerohanian, tetapi juga akan dikembangkan pada aspek kemandirian, keterampilan, dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat.
Bukan Sekadar Program, Tetapi Kepedulian
Sementara itu, Imron Faizin, penggagas rangkaian program HUT ke-81 Republik Indonesia di Nusakambangan, menyampaikan terima kasih atas sambutan dan penerimaan yang sangat baik dari jajaran Lapas Kembangkuning.
Menurutnya, dukungan dari Kalapas, jajaran pegawai, hingga warga binaan menjadi energi tersendiri bagi para mitra untuk terus hadir memberikan manfaat. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan di Nusakambangan bukanlah sebuah program yang berhenti pada satu momentum.
“Kami berterima kasih atas penerimaan yang luar biasa dari Kalapas, jajaran pegawai dan seluruh warga binaan. InsyaAllah kami akan kembali hadir dengan program-program yang lebih menarik, inovatif dan memberikan manfaat yang lebih luas.” ungkap Imron
Pantai Permisan Menjadi Saksi
Percakapan itu disaksikan sekitar 20 orang tamu undangan dan perwakilan lembaga mitra yang hadir memberikan dukungan terhadap rangkaian agenda di Nusakambangan.

Tidak ada meja rapat. Tidak ada podium. Tidak ada susunan acara.
Hanya hamparan laut selatan, deburan ombak, dan sejumlah orang yang memiliki satu semangat: menghadirkan perubahan dan harapan bagi mereka yang sedang menjalani proses pembinaan. Pantai Permisan hari itu bukan sekadar tempat melepas penat setelah rangkaian kegiatan.Ia menjadi ruang kecil tempat berbagai gagasan bertemu.
Di tempat yang menyimpan sejarah keberanian para prajurit, tumbuh semangat keberanian dalam bentuk yang berbeda: keberanian untuk peduli, keberanian untuk berkolaborasi, dan keberanian untuk terus menghadirkan harapan.
Dari Nusakambangan, dari balik tembok pemasyarakatan, semangat itu kembali ditegaskan, Pembinaan bukan tentang menghukum masa lalu, tetapi tentang menyiapkan masa depan.
Dan di bawah langit Pantai Permisan, sinergi itu menemukan energi barunya.






