Beranda blog Halaman 10

KH Naspi Arsyad Sebut Industri Produk Halal Telah Menjadi Kebutuhan Eksistensial Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan pergeseran paradigma masyarakat terhadap urgensi produk halal kini yang bukan lagi sekadar pilihan teknis melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan eksistensial bagi setiap individu muslim. Hal itu disampaikan Naspi dalam acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPHH) di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Kamis, 20 Syawal 1447 (9/4/2026).

KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa dinamika kesadaran halal di Indonesia telah mengalami evolusi yang signifikan jika dibandingkan dengan dekade 1990-an. Pada masa lalu, isu halal belum menjadi perhatian utama dan masyarakat cenderung tidak terlalu mempersoalkan aspek legalitas formal halal pada restoran atau produk pangan yang mereka konsumsi.

Namun, lanjutnya, seiring dengan menguatnya semangat hijrah di tengah masyarakat, prinsip halal kini telah merasuk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan cara hidup muslim kontemporer. Naspi menegaskan bahwa halal memiliki dimensi luas yang mencakup keselamatan perjalanan hidup di dunia maupun di akhirat.

“Halal ini tidak sekedar terkait dengan pangan kita, tapi dia terkait dengan perjalanan hidup dunia dan akhirat kita,” katanya, seraya merujuk pada hadis yang dimaktubkan oleh Imam An Nawawi dalam Al Arbain An Nawawiyah mengenai seorang lelaki yang berdoa dengan sungguh-sungguh namun doanya tertolak.

KH Naspi Arsyad menekankan pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun seseorang melakukan perjalanan panjang yang letih dan berdoa dengan penuh harapan, namun jika makanannya haram, minumannya haram, dan apa yang ia konsumsi haram, maka sangat mustahil doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Lebih lanjut, KH Naspi Arsyad melakukan refleksi sosiopolitik terkait kondisi bangsa Indonesia saat ini. Ia memberikan hipotesis bahwa hambatan dalam mewujudkan cita-cita nasional sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan harapan para pendiri bangsa mungkin memiliki keterkaitan dengan pengabaian terhadap prinsip konsumsi halal di masa lalu.

“Boleh jadi keadaan negara kita Indonesia yang tercinta ini belum menjelma seperti yang kita harapkan, salah satunya karena umat Islam Indonesia beberapa tahun silam berjalan dalam durasi yang panjang tidak mempedulikan makanan halalnya,” katanya.

Fenomena itu, imbuhnya melanjutkan, boleh jadi muncul karena sering kali aspek rasa, kecocokan lidah, serta harga yang terjangkau lebih diutamakan dibandingkan verifikasi kehalalan produk tersebut.

Naspi juga berbagi pengalaman empiris saat melakukan perjalanan dakwah ke tujuh negara di Eropa, di mana mencari makanan yang terjamin kehalalannya merupakan tantangan yang luar biasa berat.

Karens itu, baginya, menjaga kehalalan makanan adalah sebuah pertaruhan spiritual yang besar karena konsekuensinya adalah tertutupnya pintu komunikasi hamba dengan Tuhannya melalui doa.

Naspi Arsyad mengimbau umat untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam apabila terdapat doa-doa yang telah lama dipanjatkan namun belum kunjung dikabulkan. Ia menekankan bahwa tindakan meremehkan prinsip halal dalam makan dan minum di masa lalu bisa menjadi faktor penghambat utama dikabulkannya munajat kepada Allah SWT.

Momentum Halal Bihalal ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan peran LPHH dalam mengawal standarisasi halal demi kemaslahatan umat dan keberkahan bangsa secara menyeluruh.

Prinsip Prinsip Dasar Kaderisasi Kepemimpinan untuk Menjaga Keberlanjutan

0

PERANG antarnegara menceritakan banyak hal. Satu yang mencolok adalah cerita tentang alutsista dari negara-negara tersebut. Lebih jauh ada cerita tentang sejarah peradaban dan rantai kaderisasi kepemimpinan.

Sementara itu, sebagaimana disepakati para ahli pengembangan sumber daya insani, kaderisasi kepemimpinan perlu bersifat holistik. Seluruh potensi yang ada pada individu perlu dikembangkan secara simultan. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang seksama, minimal sebuah pengantar yang memuat prinsip-prinsip fundamental.

Potensi Spiritual

    Manusia diberi kekuatan spiritual agar tahu arah perjalanan hidupnya. Sehingga ia bisa mengarahkan segenap energi yang dimilikinya ke arah yang benar. Setiap kejadian juga diresponnya dengan tepat.

    Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, potensi spiritual dikembangkan agar seorang kader pemimpin memiliki visi hidup yang benar sekaligus kokoh. Berikutnya dari visi hidup tersebut ia bisa menyusun serangkaian penjelasan dan juga tindakan, baik personal dan kolektif, secara sistematis. Sehingga visinya mewujud dalam kekuatan nyata yang berpengaruh.

    Tentu saja akan banyak tantangan dalam mewujudkan orientasinya. Spiritualitas jugalah yang memberi kekuatan kepada sang kader pemimpin untuk mampu bertahan. Dalam hal ini seorang kader pemimpin perlu belajar untuk merasakan energi dari munajat-munajat khusyu’-nya.

    Potensi Intelektual

      Manusia diberi potensi intelektual sebagai alat utama untuk mempertajam dan mencapai visi hidupnya. Demikian pula dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, potensi intelektual amat penting dikembangkan agar visi bisa terus ditingkatkan kualitasnya. Strategi pencapaian visi juga memerlukan intelektual yang mumpuni.

      Dalam hal ini para kader pemimpin perlu dididik untuk memiliki mentalitas pembelajar mandiri, tidak sekedar menelan berbagai pengetahuan. Karena mentalitas pembelajar mandiri akan mengantarkan sang kader pemimpin untuk menjadi pemberi solusi (problem solver) yang unggul. Sehingga kehadirannya senantiasa berarti.

      Di tingkatan yang lebih tinggi, problem solver akan menjelma menjadi developer (pengembang). Sifatnya proaktif. Situasi yang baik akan semakin ditingkatkan kebaikannya.

      Sisi lain dari developer adalah defence (pertahanan dari bahaya). Sebagian sumber daya digunakan untuk membangun sistem pertahanan. Agar saat bahaya datang, situasi tidak kolaps.

      Potensi Emosional

        Kehidupan di dunia adalah lahan ujian. Wujudnya bisa kenikmatan, bisa pula kesengsaraan. Manusia mungkin sudah berpengetahuan untuk bisa menjalani semua ujian dengan baik. Akan tetapi pengetahuan ternyata tidak cukup. Seseorang perlu energi gerak agar pengetahuannya mewujud. Energi gerak itu ada pada potensi emosionalnya.

        Emosi yang terkendali akan melahirkan gerak manusia yang relatif terkendali. Respon yang dihasilkan tidak serampangan, tapi pas. Sehingga berbagai situasi yang dihadapi, pada akhirnya, tidak menguras emosi terlalu banyak.

        Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin butuh memahami urgensi emosi terhadap kepemimpinan. Ia perlu memahami sisi positif dan negatif emosi. Selanjutnya ia memahami kadar emosi terbaik di setiap situasi.

        Dalam khazanah pendidikan Islam, penguatan potensi emosi berkaitan erat dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Sedangkan basis tazkiyatun nafs adalah mengeluarkan semua potensi buruk di satu sisi, serta menguatkan potensi baik di sisi lainnya. Seorang kader pemimpin perlu dididik dalam kerangka tazkiyatun nafs ini. Agar kebersihan jiwa memiliki akar yang teguh, berbuah emosi yang sangat terkendali.

        Potensi Sosial

          Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Karena ada proses saling memberi dan saling bantu dalam kehidupan yang dijalaninya.

          Oleh karena itu manusia perlu memiliki mengaktifkan potensi sosialnya. Sehingga empatinya tumbuh, mengawali komunikasi dan interaksi yang nyaman. Semoga hidupnya dikelilingi oleh kebajikan-kebajikan.

          Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin perlu dididik dengan banyak cara agar empatinya tumbuh. Dialog, praktik kerja, pengamatan, dan keteladanan merupakan beberapa cara yang bisa ditempuh. Satu hal yang tidak boleh tertinggal dari setiap cara pendidikan sosial adalah refleksi. Sang kader pemimpin memahami betul apa yang menjadi pesan dari setiap fragmen pendidikan yang dilaluinya.

          Seorang pemimpin sering diukur dengan empatinya. Oleh karena itu kiranya penting untuk sang kader pemimpin terus mengasahnya. Bergaul dengan banyak kalangan secara terkendali itu salah satu cara yang bisa dipilihnya.

          Menyuarakan empati merupakan aktivitas sosial yang tidak boleh dilewatkan. Maka sang kader pemimpin perlu disiapkan untuk memiliki keterampilan komunikasi yang baik, mencakup lisan serta tulis, individual atau publik.

          Potensi Finansial

            Manusia memiliki kebutuhan hidup. Ia harus berusaha agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kemandirian perlu tumbuh dalam dirinya.
            Dengan kemandirian, seorang manusia akan berusaha bekerja mencari uang. Berikutnya ia akan mengelola keuangannya agar cukup. Di tahap lebih tinggi, ia tidak segan menabung atau berinvestasi.

            Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin diantarkan untuk memiliki sikap mandiri. Tidak hanya keuangan, tapi pemikiran dan sikap. Sehingga ia memiliki keterampilan dalam pengelolaan sekaligus standing position yang jelas.

            Kaderisasi kepemimpinan itu satu bagian penting dari lestarinya komunitas, organisasi, atau apapun. Menguatkan prosesnya terus-menerus semoga jadi investasi jangka panjang. Satu pemimpin selesai dalam khidmatnya, kader pemimpin lain sudah siap melanjutkan. Terbentuk rantai penjagaan komunitas yang tidak terputus.

            Wallah a’lam.

            FU’AD FAHRUDIN

            Sosialisasi Platform Sistahid, Sekjen Nanang Tekankan Pentingnya Transformasi Digital dalam Tata Kelola Organisasi

            0

            JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., menekankan pentingnya transformasi digital dalam tata kelola organisasi saat menyampaikan sosialisasi platform digital terintegrasi bernama SISTAHID pada Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah 2026. Acara tersebut berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada hari Rabu, 19 Syawal 1447 (8/4/2026).

            Nanang menjelaskan bahwa langkah ini diambil berdasarkan evaluasi terhadap manajemen internal. Ia menyampaikan bahwa pendataan anggota selama ini dilakukan secara manual, rentan kesalahan, dan data sering tidak lengkap.

            Dia menjelaskan, akses terhadap informasi strategis menjadi terhambat karena sebaran data yang masih bersifat fisik dan tidak terpusat, sehingga proses pembaruan data memakan waktu lama serta kurang efisien. Kondisi faktual inilah yang kemudian mendorong organisasi untuk melakukan aksentuasi pada penguatan pangkalan data digital.

            “Tujuan utama dari implementasi SISTAHID adalah untuk membangun database anggota yang akurat dan terpusat bagi seluruh struktur organisasi,” katanya mengenai platform yang telah dibesut sejak lebih dari 5 tahun lalu itu.

            Nanang menegaskan bahwa keberadaan data yang valid merupakan prasyarat mutlak bagi kepemimpinan dalam merumuskan kebijakan.

            Ia mengungkapkan, platform Sistahid dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan organisasi berbasis data yang valid serta meningkatkan efektivitas komunikasi internal antara pengurus dan anggota. Dengan demikian, koordinasi program kerja di lingkungan Muslimat Hidayatullah diharapkan dapat berjalan lebih akseleratif.

            Dalam aspek teknis, platform SITAHID menyediakan fitur komprehensif mulai dari pendaftaran anggota baru secara digital, manajemen profil, hingga pengelolaan agenda organisasi dan halaqah kader.

            Nanang juga mengingatkan bahwa implementasi sistem digital tidak lepas dari tantangan teknis dan sosiologis. Ia mengidentifikasi beberapa potensi kendala seperti keterbatasan akses internet di daerah tertentu, risiko gangguan sistem, hingga resistensi terhadap perubahan metode kerja.

            Sebagai solusi, kata Nanang, organisasi berkomitmen untuk mengadakan pelatihan dan pendampingan intensif bagi pengguna baru serta melakukan monitoring data secara berjenjang dari tingkat pusat hingga daerah.

            “Peran operator di wilayah dan daerah menjadi sangat penting dalam melakukan verifikasi serta validasi data guna memastikan akurasi informasi dalam sistem,” imbuhnya.

            Nanang mengajak seluruh kader Muslimat Hidayatullah untuk memiliki kesadaran kolektif akan pentingnya integritas data. Dia mengutip visi besar organisasi bahwa dengan data yang akurat dan terpercaya, kita membangun fondasi organisasi yang kokoh dan siap menghadapi tantangan masa depan.

            “Paradigma utama yang harus dipegang teguh oleh setiap pengelola organisasi adalah data kuat maka organisasi kuat,” katanya.

            Melalui SISTAHID, Nanang menambahkan, Hidayatullah berupaya mewujudkan tata kelola yang profesional, transparan, dan visioner demi keberlangsungan dakwah di masa mendatang.

            KH Naspi Arsyad Ketengahkan Konsep Ihtisab dalam Mengatasi Fenomena Anxiety Disorder

            0

            BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Salah satu masalah kesehatan yang banyak melanda masyarakat modern hari ini adalah fenomena kecemasan berlebihan atau anxiety disorder yang diantaranya dipengaruhi oleh tekanan psikologis untuk harus tampak “sempurna” demi mendapatkan validasi dari manusia. Merespon gejala semacam ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengingatkan perihal takwa dan ihtisab.

            KH Naspi Arsyad mengatakan bahwa indikator utama ketakwaan adalah keikhlasan. Ia menjelaskan bahwa semakin tinggi orientasi akhirat seseorang, maka semakin sempurna keimanannya, sementara orientasi hidup yang berfokus pada dunia dapat membuat hati menjadi sempit dan mudah diliputi kegelisahan.

            Naspi mengemukakan konsep ihtisab sebagai landasan penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia menjelaskan bahwa Islam pada hakikatnya merupakan sikap berserah diri kepada Allah SWT dengan tujuan meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

            Dalam pandangannya, perjalanan hidup manusia pada akhirnya mengarah pada kesadaran bahwa keselamatan, ketenangan, dan kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui keimanan dan amal yang dilandasi keikhlasan.

            Naspi Arsyad menjelaskan bahwa ihtisab berarti mengharapkan pahala dari Allah SWT atas setiap amal kebaikan yang dilakukan. Konsep ini berkaitan erat dengan keikhlasan, yakni berbuat baik tanpa menunggu balasan dari manusia serta tidak mengungkit-ungkit perbuatan yang telah dilakukan.

            “Ikhlas itu ditandai dengan harapan hanya kepada Allah. Tugas kita adalah berbuat baik, tanpa mengingat-ingatnya dan tanpa menunggu balasan,” ujarnya dalam tausiyah yang disampaikan pada pengajian Majelis Taklim Salimatunnisa di Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 19 Syawal 1447 (8/4/2026).

            Ia menambahkan bahwa ukuran ketakwaan seseorang dapat dilihat dari orientasi hidupnya. Menurutnya, ketika orientasi akhirat menjadi tujuan utama, keimanan akan tumbuh secara lebih kuat. Sebaliknya, orientasi yang hanya tertuju pada kepentingan dunia dapat menimbulkan kegelisahan batin.

            Dalam penjelasannya, ia menguatkan pemaparan tersebut dengan mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 112 yang berbunyi:

            مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ

            Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih

            Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa sikap berserah diri kepada Allah disertai amal kebaikan merupakan jalan menuju keselamatan dan ketenangan hati. Prinsip tersebut, lanjutnya, sejalan dengan konsep ihtisab yang menempatkan keikhlasan sebagai dasar dalam setiap amal.

            Dalam uraian selanjutnya, Naspi Arsyad menjelaskan bahwa sikap ihtisab memiliki sejumlah keutamaan, antara lain mampu menenangkan hati, menghapus dosa, serta menumbuhkan semangat dalam menjalankan ibadah. Ia juga menyebutkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas dapat bernilai besar di sisi Allah.

            Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia sering lebih mudah menyadari kesulitan daripada menyadari nikmat yang dimiliki. Padahal, menurutnya, nikmat iman merupakan nikmat yang paling utama dibandingkan berbagai kenikmatan dunia yang bersifat sementara. “Iman adalah nikmat yang tidak terbatas. Sementara yang bisa kita hitung hanyalah nikmat sekunder,” jelasnya.

            Dalam sesi tanya jawab, ia menanggapi pertanyaan mengenai menurunnya semangat ibadah setelah Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan sifat iman yang dapat mengalami perubahan, sementara Ramadhan dikenal sebagai momentum intensif dalam ibadah.

            Naspi Arsyad mengajak jamaah untuk terus menjaga keikhlasan dalam beramal serta tidak berhenti melakukan kebaikan. “Amalan kecil bisa menjadi besar karena niat yang benar. Maka perbaiki niat, dan jangan pernah kapok dalam berbuat kebaikan,” pungkasnya.

            KHUTBAH JUM’AT Nilai Amal dan Rahasia Kemuliaan Tersembunyi dalam Waktu

            khutbah-jumat – aghh1042026

            اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
            أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
            اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
            يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

            Jamaah Jumat rahimakumullah,

            Marilah kita meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan hidup, iman, dan kesehatan kepada kita. Nikmat terbesar yang Allah berikan bukan hanya kehidupan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada-Nya.

            Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung yang mengajarkan kepada umatnya bagaimana menjalani kehidupan dengan iman, kesabaran, dan pengabdian kepada Allah.

            Jamaah yang dimuliakan Allah,

            Dalam perjalanan kehidupan manusia, acapkali logika manusia memandang kemuliaan dengan ukuran yang terlihat oleh mata. Manusia menilai kehormatan dari peristiwa besar, pengorbanan yang tampak, atau keberanian yang dikenang. Namun Allah memiliki cara sendiri untuk menilai kemuliaan seorang hamba.

            Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan para sahabat tentang dua orang lelaki dari sebuah kabilah yang jauh di perbatasan Irak, dari suku Bulai. Kedua lelaki ini datang ke Madinah dengan hati yang sama: mereka ingin memeluk Islam dan berserah diri kepada Allah.

            Persahabatan mereka berdua begitu kuat, dua jiwa yang dipersatukan oleh iman dan kesetiaan.

            Suatu ketika panggilan jihad berkumandang. Kedua sahabat ini maju bersama menuju medan pertempuran. Dalam peperangan itu, salah satu dari mereka gugur sebagai syahid.

            Kematian syahid adalah kematian yang sangat mulia, kematian yang dicemburui oleh penduduk bumi dan langit, karena syahid dianggap sebagai salah satu jalan tertinggi menuju surga.

            Sementara sahabat yang lain tetap hidup. Ia menjalani kehidupannya selama satu tahun setelah wafatnya sahabatnya. Tidak ada peperangan besar yang ia jalani setelah itu. Ia hanya menjalani hari-hari kehidupannya hingga akhirnya wafat di atas pembaringan karena sakit.

            Kisah ini kemudian sampai kepada salah seorang sahabat Nabi, yaitu Thalhah. Dalam suatu malam, Thalhah bermimpi berada di depan pintu surga. Di sana ia melihat kedua lelaki dari suku Bulai tersebut.

            قَالَ طَلْحَةُ فَرَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ بَيْنَا أَنَا عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ إِذَا أَنَا بِهِمَا فَخَرَجَ خَارِجٌ مِنْ الْجَنَّةِ فَأَذِنَ لِلَّذِي تُوُفِّيَ الْآخِرَ مِنْهُمَا ثُمَّ خَرَجَ فَأَذِنَ لِلَّذِي اسْتُشْهِدَ

            “Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berada di depan pintu surga bersama keduanya. Lalu seseorang keluar dari surga dan memanggil orang yang wafat terakhir di antara mereka untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu, orang yang mati syahid dipanggil untuk masuk.”

            Ketika Thalhah terbangun dari tidurnya, hatinya dipenuhi tanda tanya. Bagaimana mungkin orang yang wafat karena sakit justru masuk surga lebih dahulu daripada orang yang mati syahid?

            Kisah mimpi itu kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ. Para sahabat mengungkapkan keheranan mereka. Mereka berkata bahwa orang yang pertama wafat adalah orang yang sangat bersemangat dalam jihad dan ia mati syahid. Lalu mengapa sahabat yang wafat belakangan justru lebih dahulu dipanggil masuk surga?

            Rasulullah ﷺ menjawab dengan sebuah pertanyaan yang sederhana namun sangat mendalam.

            أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً

            “Bukankah orang ini hidup satu tahun setelahnya?”

            Para sahabat menjawab bahwa benar ia hidup satu tahun setelah sahabatnya wafat.

            Rasulullah ﷺ kemudian melanjutkan penjelasan:

            أَلَيْسَ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ وَصَلَّى فِي السَّنَةِ

            “Bukankah ia sempat bertemu dengan Ramadhan, lalu berpuasa dan melaksanakan shalat dalam satu tahun itu?”

            Para sahabat menjawab bahwa benar demikian.

            Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

            فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

            “Perbedaan kedudukan antara keduanya sangat jauh, seperti jarak antara langit dan bumi.”

            Jamaah yang dirahmati Allah,

            Hadits ini menunjukkan sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Seorang syahid yang telah mengorbankan nyawanya ternyata masih bisa dilampaui derajatnya oleh seorang hamba yang mendapatkan tambahan umur, lalu menggunakan waktu itu untuk beribadah kepada Allah.

            Tambahan satu tahun usia yang diisi dengan puasa, shalat, sujud, dzikir, dan amal saleh ternyata dapat mengangkat derajat seorang hamba dengan sangat tinggi di sisi Allah.

            Hari ini kita berada di bulan Syawal. Ramadhan telah berlalu, namun nilai-nilainya tidak seharusnya ikut berlalu. Ramadhan telah menjadi ladang ibadah yang sangat luas bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan iman dan kesungguhan.

            Allah SWT berfirman:

            لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

            “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)

            Ayat ini mengingatkan bahwa waktu-waktu tertentu yang Allah anugerahkan kepada manusia memiliki nilai yang melampaui perhitungan logika manusia. Ramadhan adalah salah satu waktu yang penuh keberkahan itu.

            Rasulullah ﷺ juga bersabda:

            مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

            “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

            Dan beliau juga bersabda:

            مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

            “Barang siapa melaksanakan ibadah malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)

            Semua itu menunjukkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan besar yang Allah berikan kepada manusia untuk memperbaiki dirinya.

            Namun kini kita berada di bulan Syawal. Syawal adalah waktu untuk membuktikan apakah ibadah yang kita lakukan di Ramadhan benar-benar membentuk karakter dan kedekatan kita dengan Allah.

            Jika kita masih mampu menjaga shalat dengan baik, masih mampu membaca Al-Qur’an meski terbata-bata, masih mampu berdzikir dan berbagi dengan sesama, maka itu adalah tanda bahwa cahaya Ramadhan masih hidup di dalam hati kita.

            Jamaah yang dimuliakan Allah,

            Tambahan umur yang Allah berikan kepada manusia adalah amanah. Setiap hari yang kita jalani adalah kesempatan untuk menambah sujud, memperbanyak amal, dan memperbaiki diri.

            Kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu Ramadhan berikutnya atau tidak. Karena itu, waktu yang kita miliki hari ini harus digunakan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah.

            Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah dalam kebaikan, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kehidupan kita penuh keberkahan hingga akhir hayat. Aamiin.

            أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

            Khutbah Kedua

            اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

            اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

            فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

            Do’a Penutup

            اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

            !عِبَادَاللهِ

            إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

            (Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

            Mahasiswa Diingatkan Bahaya Pendangkalan Intelektual Akibat Ketergantungan pada Teknologi AI

            SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) –– Ketua Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Imam Nawawi mengungkapkan salah satu tantangan disrupsi teknologi hari ini yaitu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Berkenaan dengan hal tersebut, Nawawi memaparkan salah satu riset terbaru mengenai apa yang disebut dengan performance learning paradox, di mana penggunaan teknologi yang berlebihan justru mendangkalkan kemampuan berpikir.

            Hal tersebut disampaikan dalam acara Kalam Peradaban #1 bertajuk Membaca Peta Peradaban dan Peran Strategis Intelektual Muda Muslim dalam Dinamika Global yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Kalimantan Timur pada Selasa malam, 18 Syawal 1447 (7/4/2026).

            Riset itu membandingkan kelompok mahasiswa yang menggunakan teknologi tersebut dengan yang tidak. Meskipun hasil tulisan pengguna teknologi terlihat sempurna secara teknis, mereka gagal menjelaskan isi pemikirannya sendiri dalam presentasi. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan akal pikiran mampu menguasai substansi meskipun secara teknis mungkin terdapat kekurangan.

            Fenomena ini, menurut Nawawi, menghadirkan ketidakpastian intelektual bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, dia menyerukan tindakan nyata melalui gerakan Iqra’ Bismirabbik.

            Nawawi memaknai perintah membaca ini dalam dua dimensi penting. Pertama, membaca secara epistemik, yakni proses membaca yang substansial seperti nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan. Kedua, membaca untuk menjawab permasalahan zaman agar intelektual muda selalu terdorong untuk menemukan solusi atas tantangan hari ini.

            Nawawi juga menekankan bahwa hal yang paling mematikan bagi anak muda adalah hilangnya tekad untuk memberi arti bagi agama. Dia mendorong peserta untuk memasang tekad kuat karena dengan menolong agama Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya.

            “Tanpa kemauan untuk membaca dan berpikir secara mendalam, generasi muda akan terseret dalam gelombang ketidakpastian global yang tidak menentu,” tegas Nawawi di hadapan puluhan mahasiswa peserta zoom.

            Berkaca pada Al Ghazali

            Dalam pada itu, Nawawi menekankan pentingnya integrasi antara moralitas dan intelektualitas bagi generasi muda Muslim dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks.

            Nawawi menggarisbawahi bahwa dalam tradisi Islam, kapasitas keilmuan seseorang tidak dapat dipisahkan dari standar moral yang dimilikinya. Ia menegaskan bahwa jika seseorang jatuh secara moral atau mengabaikan aspek tersebut, maka sisi keilmuan dan gagasannya tidak lagi dapat dijadikan rujukan, kecuali pada hal-hal yang bersifat duniawiah semata.

            Nawawi kemudian merefleksikan kondisi sejarah dengan membandingkan situasi saat ini dengan era Imam Al-Ghazali. Nawawi mencatat adanya kemiripan di mana kaum intelektual terjebak dalam upaya mengejar sertifikasi formal tanpa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, banyak ilmu yang dikembangkan saat ini tidak memberikan manfaat bagi kehidupan sosial.

            Mengambil teladan dari Imam Al-Ghazali, Nawawi menceritakan bagaimana tokoh besar tersebut rela meninggalkan jabatan prestisiusnya sebagai Rektor Universitas Nizamiyah demi melakukan pendalaman spiritual melalui tasawuf.

            “Langkah Imam Al-Ghazali tersebut membuahkan mahakarya Ihya Ulumuddin, yang memiliki dampak historis luar biasa. Dan, lima puluh tahun setelah kitab tersebut ditulis, lahirlah sosok Salahuddin Al-Ayyubi yang mampu membebaskan Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran intelektual yang didasari oleh kedalaman spiritual dan integritas mampu melahirkan perubahan peradaban yang besar di masa depan,” kata Nawawi.

            Beralih pada realitas kontemporer, Nawawi menyoroti tantangan yang dihadapi pemuda di tengah krisis global. Dia memandang bahwa situasi krisis sebenarnya adalah peluang besar bagi kaum muda untuk bersinar dan memberikan arti bagi peradaban. Nawawi menyebut krisis sebagai sarana penempaan orang-orang besar.

            Ia mengingatkan para mahasiswa bahwa mereka adalah calon pemimpin masa depan di berbagai level, sehingga kesadaran akan tanggung jawab sejarah harus dipupuk sejak dini.

            Acara ini turut dihadiri narasumber CEO-founder Mosfeed Gia Josie, Ketua GMH Kalimantan Timur Wira Saguna, dan dimoderatori oleh Zufar Qosim Arrais. Acara ini diharapkan mampu memicu kesadaran kolektif mahasiswa untuk kembali pada kedaulatan intelektual yang berakar pada nilai-nilai moral Islam.

            Seruan Poros Baru Dunia dan Meninjau Ulang Posisi Indonesia dalam BoP

            0

            JIKA beberapa waktu lalu, delapan juta rakyat Amerika Serikat turun ke jalan melakukan demo “No Kings” kepada Presiden Donald Trump, belakangan suara itu semakin kencang. Sejumlah Anggota Kongres AS mulai tampil mengecam Trump.

            Suara itu bahkan tidak saja kencang, tapi juga vulgar. “Presiden Amerika Serikat (Trump) adalah orang gila yang tidak waras, dan ancaman keamanan nasional bagi negara kita dan seluruh dunia,” tulis Anggota Kongres Yasamin Ansari di media sosial sebagaimana dilansir oleh Kompas.com.

            Suara itu sebenarnya konsekuensi dari rangkaian keputusan Trump yang memang sulit dipahami oleh rakyat Amerika Serikat, utamanya dalam menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

            Dan, dalam kondisi seperti itu, penerapan “Neo-emergent theory” (teori pencitraan ala media massa dan sosial media) tidak lagi relevan.

            Malah kalau dipaksakan, upaya memberikan informasi yang diciptakan untuk memberi pengaruh positif kepada publik, publik sudah punya sudut pandang tersendiri. Sebagaimana pandangan Bacon, fakta jauh lebih kuat untuk dicerna akal manusia daripada narasi atau cerita yang memukau.

            Inisiasi Kepemimpinan Poros Baru

            Merespons situasi yang seperti itu, ajakan Presiden Prancis, Macron, agar dunia beralih, tidak lagi menggantungkan nasib kepada Amerika Serikat adalah rasional. Ia mengatakan bahwa dunia perlu membentuk satu poros baru dengan nama “Koalisi Kemerdekaan”.

            “Kita tidak boleh hanya pasif dalam kekacauan baru ini. Kita harus membangun tatanan baru,” begitu Macron berseru.

            Idealnya pemimpin negara-negara lain bisa menyambut ide dari Macron ini, setidaknya Amerika Serikat mulai memahami bahwa suara yang kontra dengan Trump bukan lagi pasif, tapi sudah aktif. Aktif untuk menjelma menjadi tatanan baru dunia ke depan.

            Kolaborasi Bukan Kompetisi

            Lantas dengan apa para pemimpin dunia bisa duduk bersama, melakukan upaya konkret untuk menghentikan kekacauan yang tengah terjadi, tidak lain adalah kesadaran kolaborasi.

            Macron menyadari bahwa dunia menjadi seperti ini karena satu negara dengan negara lain mengedepankan pola pikir bersaing. Ia usul agar sementara waktu itu dihentikan. Tapi sebenarnya, kedepankan pola pikir kolaboratif untuk tercipta tatanan yang lebih aman.

            Mengapa tidak dunia berkolaborasi, bukankah saat ini satu negara dengan negara lain saling membutuhkan, saling ada ketergantungan. Dalam situasi global yang seperti itu menerapkan langkah pergaulan dengan mengedepankan kekuatan militer hanya akan mengundang kekacauan yang sangat buruk.

            Dalam kata lain, dunia memerlukan wajah baru. Langkah paling mungkin untuk hal itu tercipta adalah lahirnya kesadaran kolaboratif antar pemimpin negara. Indonesia mungkin bisa mengambil peran ini, sekaligus menegaskan diri untuk sign out dari Board of Peace (BOP) untuk ikut membangun dunia yang lebih bersinar di masa depan.

            Secara politik ini juga kesempatan Prabowo kalau ingin mengambil kesempatan membangun citra positif Indonesia bagi dunia.[]

            Mas Imam Nawawi

            Zhafira Loebis Berbagi Inspirasi Pentingnya Jejaring Strategis dalam Rakernas Mushida

            0

            JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Zhafira Athirah Loebis, Co-Founder Babyloania, hadir sebagai pembicara utama dalam sesi diskusi bertajuk Strategi Branding dan Penguatan Jejaring untuk Meningkatkan Pengaruh Mushida. Acara ini merupakan bagian penting dari rangkaian Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Selasa, 18 Syawal 1447 (7/4/2026).

            Dalam paparannya, Zhafira menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mampu mendukung keberlanjutan kiprah dan pengaruh perempuan di berbagai sektor profesional maupun sosial termasuk dalam ranah domestik.

            Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah mengenai fenomena penurunan jumlah partisipasi perempuan saat menapaki tangga kepemimpinan. Zhafira menyajikan data dari Badan Usaha Milik Negara sebagai rujukan, di mana pada tingkat awal masuk kerja, komposisi antara perempuan dan laki-laki cenderung berimbang pada angka 50 persen.

            Namun, lanjutnya, angka tersebut mengalami penurunan drastis saat mencapai level direksi, dengan representasi perempuan yang tidak sampai 15 persen. Menurutnya, banyak perempuan yang berguguran di tengah perjalanan karier karena kurangnya sistem pendukung yang memadai.

            Sebagai solusi atas tantangan tersebut, pendiri platform Stellar Women ini memperkenalkan inisiatif yang bernama Ignite. Platform ini dirancang khusus untuk membangun komunitas yang mendukung perempuan di lingkungan kerja korporat melalui program pendampingan atau mentorship.

            Ia menjelaskan bahwa Ignite melibatkan para direksi perempuan dari institusi besar, seperti Bank Mandiri dan XL Axiata, untuk menjadi mentor bagi mereka yang tengah belajar dan meniti karier. Program ini bertujuan untuk memberikan teladan dan bimbingan langsung dari figur-figur yang telah berhasil mencapai posisi puncak dalam struktur organisasi yang kompetitif.

            Mengenai strategi pengembangan komunitas, Zhafira menekankan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari besarnya jumlah anggota, melainkan pada ketepatan sasaran dan efektivitas program yang dijalankan.

            Ia berpendapat bahwa setiap langkah strategis yang diambil harus selaras dengan kebutuhan nyata para anggota agar sumber daya yang ada dapat dikelola secara optimal.

            “Poinnya dari semua ini adalah komunitas kita itu sebenarnya tidak perlu besar-besar banget. Tapi pastikan kita itu tepat, tepat sasaran. Dalam setiap langkah yang kita lakukan dalam membuat keputusan pastikan itu memang yang diperlukan sama anggota kita,” katanya.

            Lebih lanjut, ibu dua anak ini mendorong para pengurus Muslimat Hidayatullah untuk senantiasa melakukan evaluasi mendalam terhadap setiap kebijakan yang diambil. Efektivitas waktu dan efisiensi kerja dapat dicapai apabila organisasi memiliki arah yang jelas mengenai target dan tujuan dari setiap kegiatan.

            So, for every decision, untuk setiap keputusan yang kita lakukan, kita perlu tanya kembali ini buat siapa, untuk apa, kenapa, gitu,” tegasnya, seraya menekankan sisi esensial dari hal ini agar organisasi seperti Mushida dapat meningkatkan pengaruhnya secara signifikan melalui branding yang kuat dan jaringan yang terintegrasi secara strategis.

            Dalam pada itu, Zhafira mengungkapkan perempuan muslimah harus berdaya dan berkarya demi rida Allah. Menurutnya, peran ibu rumah tangga adalah tugas strategis dalam mencetak generasi masa depan. Di waktu yang sama, ia mengajak untuk jangan malu dengan status domestik karena rumah adalah markas untuk membangun peradaban.

            Zhafira berharap pengalaman dan strategi yang dibagikan dapat memberikan perspektif baru bagi para peserta Rakernas dalam mengelola komunitas dan memperkuat posisi perempuan di ruang publik.

            Melalui pendekatan yang berbasis data dan bimbingan yang terstruktur, penguatan peran perempuan dalam organisasi diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi terwujud dalam langkah-langkah konkret yang membawa dampak luas bagi umat, agama, dan bangsa.

            Ketua Umum Hidayatullah Dorong Pengembangan Gagasan untuk Peran Kebangsaan

            JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyampaikan bahwa keberadaan Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam harus memiliki kontribusi positif bagi kehidupan umat, bangsa, dan negara. Hal tersebut disampaikan saat membuka Rapat Pleno Hidayatullah 2026 di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Selasa, 18 Syawal 1447 (7/4/2026).

            Naspi menekankan pentingnya peran kader dan anggota organisasi dalam menghadirkan kontribusi nyata melalui penguatan gagasan serta pengembangan visi yang relevan dengan dinamika masyarakat.

            Menurut Naspi, kontribusi organisasi tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas kelembagaan, tetapi juga melalui kemampuan melahirkan gagasan yang memberi arah bagi kehidupan sosial. Ia menjelaskan bahwa dalam situasi nasional dan global yang terus berubah, keberadaan visi menjadi unsur penting dalam menentukan arah gerakan organisasi.

            “Hal itu bisa kita wujudkan dengan memperkuat gagasan. Terlebih dalam situasi nasional dan global seperti sekarang, dunia membutuhkan visi. Dan Hidayatullah yang memiliki visi membangun peradaban Islam sangat relevan untuk kontributif,” ujarnyanya.

            Ia menjelaskan bahwa gagasan memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya inovasi dalam kehidupan organisasi. Dalam pandangannya, inovasi menjadi bagian dari proses pengembangan organisasi agar mampu merespons kebutuhan masyarakat secara lebih luas.

            Naspi kemudian mengaitkan pentingnya gagasan dengan perjalanan awal berdirinya Hidayatullah. Ia mencontohkan langkah yang dilakukan oleh pendiri Hidayatullah, Ustaz Abdullah Said, yang mendirikan pesantren sebagai bagian dari upaya memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui pendidikan dan dakwah.

            “Kalau kita belajar dari Ust. Abdullah Said, beliau mendirikan pesantren itu adalah bentuk inovasi, bagaimana bisa kontributif dalam mencerdaskan bangsa melalui pendidikan dan dakwah. Semua itu berangkat dari yang namanya gagasan,” ungkapnya.

            Dalam penjelasannya, Naspi menegaskan bahwa gagasan tidak hanya menjadi sumber lahirnya inovasi, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter organisasi yang kreatif. Ia menyebutkan bahwa organisasi yang terus mengembangkan gagasan akan memiliki kemampuan untuk menghadirkan berbagai bentuk kontribusi dalam kehidupan masyarakat.

            Ia juga menyampaikan bahwa penguatan gagasan dapat membantu organisasi menghindari pola berpikir yang bersifat pragmatis. Menurutnya, gagasan yang berkembang di dalam organisasi dapat menjadi landasan dalam merumuskan langkah-langkah yang lebih konstruktif.

            Dalam konteks organisasi, Naspi melihat penguatan gagasan sebagai bagian dari proses pembaruan yang berkelanjutan. Proses tersebut melibatkan pemikiran, refleksi, serta upaya merumuskan berbagai langkah yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

            Naspi sekali lagi mengajak seluruh kader dan anggota organisasi untuk terus mengembangkan pemikiran yang dapat memperkuat peran Hidayatullah dalam kehidupan umat, bangsa, dan negara. Menurutnya, penguatan gagasan merupakan salah satu langkah yang dapat mendorong organisasi menghadirkan kontribusi yang lebih luas dalam berbagai bidang kehidupan.

            Kebutuhan Kesepakatan Nilai untuk Mengakhiri Siklus Konflik Dunia

            0
            hidorid-ist – tatanan-dunia

            KETIKA perang Iran meletus dan terus berlangsung lebih dari sebulan, analis dan para pakar terkonsentrasi setidaknya pada dua hal. Pertama, teknologi militer. Kedua, dampak bagi ekonomi global seiring dengan penutupan selat Hormuz oleh Iran.

            Namun, sebenarnya, ada hal yang lebih dalam dan harus kita gali, yakni tentang krisis nilai dan tujuan dalam konstalasi geopolitik ini.

            Mestinya ada yang melihat secara mendalam, mengapa Israel-Amerika Serikat menyerang Iran. Apakah mungkin keduanya sedang dalam rangka menegakkan kemanusiaan, keadilan dan demi menghadirkan kesejahteraan bagi dunia atau apa.

            Walakin, yang juga penting jadi respons kita, terutama umat Islam, sistem apa yang telah kita siapkan untuk kapabel membawa misi nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

            Sejauh ini negara-negara berpenduduk umat Islam, belum memiliki kesiapan itu, selain Iran yang sejauh ini tampak telah eksis dengan sistem itu, setidaknya untuk bisa melawan serangan demi serangan Israel dan Amerika Serikat.

            Peran Terbuka

            Melihat krisis yang sebenarnya terjadi adalah soal nilai dan tujuan (yang mulia), maka perang Iran adalah gerbang terbuka bagi semua pihak untuk menampilkan bukti tentang sistem yang dunia butuhkan hari ini, terutama untuk menciptakan ketertiban dunia.

            Indonesia secara nilai telah memiliki kesadaran tersebut, terutama kalau melihat Pembukaan UUD 1945, untuk terlibat menciptakan ketertiban dunia. “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dankeadilan sosial.”

            Jika itu kita sadari maka sebenarnya potensi Indonesia sebagai negara dan umat Islam sebagai warga negara bisa mendorong kepada dunia untuk segera melakukan rekonsiliasi global agar perang Iran segera dihentikan.

            Lalu, melalui forum musyawarah disiapkan model atau sistem yang memungkinkan dunia kembali dalam kehidupan yang seharusnya, tertib, adil dan makmur bagi semua. Bukan bagi satu atau dua negara belaka.

            Kesepakatan Nilai

            Jika kita tarik benang merah dari konflik yang terjadi, persoalan utamanya bukan semata perebutan kepentingan, tetapi belum adanya kesepakatan nilai yang benar-benar dijadikan pijakan bersama dalam hubungan global.

            Setiap negara bergerak dengan logika dan kepentingannya sendiri, sehingga nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan sering kali hanya menjadi narasi, bukan fondasi tindakan. Inilah yang membuat konflik mudah berulang, karena tidak ada standar nilai yang disepakati dan dijaga secara kolektif.

            Dalam konteks ini, dunia membutuhkan satu kesadaran bersama bahwa kekuatan tanpa nilai akan melahirkan ketidakteraturan, sementara nilai tanpa sistem tidak akan memiliki daya pengaruh.

            Kesepakatan nilai harus mampu menjembatani keduanya, menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, menentukan arah tindakan, sekaligus mengontrol penggunaan kekuatan.

            Tanpa itu, setiap kemajuan teknologi dan kekuatan militer justru berpotensi memperbesar kerusakan, bukan menghadirkan kemaslahatan.

            Oleh karena itu, langkah paling mendasar yang harus didorong adalah membangun kesepakatan nilai global yang berorientasi pada kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan sepihak. Dari sinilah rekonsiliasi global dapat dimulai, dan dari sini pula peradaban yang lebih tertib dan beradab bisa dibangun.

            Tanpa kesepakatan nilai, konflik hanya akan berganti bentuk; tetapi dengan kesepakatan nilai, dunia memiliki peluang untuk keluar dari siklus krisis yang terus berulang. Pada level ini, adalah mimpi kita semua Presiden Prabowo berani untuk menginisiasinya.[]

            Mas Imam Nawawi