Beranda blog Halaman 10

Muharram 1448 H, Hidayatullah Kupang Teguhkan Peran Kader sebagai Pelaku Perubahan Umat

0

KUPANG — Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Kupang bersama lembaga pendidikan di bawah naungannya menyelenggarakan kegiatan “Ngopi Muharram (Ngobrol Peningkatan Iman Tahun Baru Hijriyah)” pada 19–20 Juni 2026 di Kampus Hidayatullah Kota Kupang.

Mengusung tema “Menguatkan Ukhuwah, Menyatukan Langkah, Menyongsong Perubahan dan Peradaban Islam”, kegiatan ini diikuti oleh kader, pengurus, guru, mahasiswa, dan jamaah Hidayatullah Kota Kupang. Selain menjadi ajang silaturahim, kegiatan ini juga menjadi momentum refleksi hijrah dan penguatan ruh perjuangan dalam mengemban amanah dakwah dan pendidikan.

Dalam arahan umumnya, Ketua DPD Hidayatullah Kota Kupang, Ust. Al-Hafsi Gadri, S.Sos., M.Pd., menegaskan pentingnya menjadikan Tahun Baru Hijriyah sebagai momentum memperkuat dua fondasi utama perjuangan, yaitu iman dan amal.

Menurutnya, iman merupakan penentu arah sekaligus penggerak dakwah bagi setiap dai dan kader Hidayatullah. Sementara itu, amal menjadi bukti keimanan sekaligus sumber energi yang menjaga keberlanjutan perjuangan dakwah dan pendidikan.

“Mari jadikan Tahun Baru Hijriyah ini sebagai momentum untuk memperkuat iman dan memperbesar amal. Iman adalah penentu gerak dakwah kita, sedangkan amal adalah energi yang menjaga semangat dan keberlanjutan perjuangan yang kita emban,” tegasnya.

Pada sesi pencerahan, Sekretaris DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Timur, Ust. Ali Lingge, S.H.I., menekankan pentingnya menjaga dan menguatkan ukhuwah Islamiyah sebagai salah satu kunci keberhasilan dakwah dan pembangunan umat.

Menurutnya, dakwah yang besar tidak lahir dari individu-individu yang berjalan sendiri, melainkan dari jamaah yang kuat, saling percaya, dan saling menguatkan dalam bingkai persaudaraan Islam.

“Ukhuwah adalah salah satu kunci sukses membangun umat. Karena itu saya berpesan agar seluruh dai dan kader Hidayatullah senantiasa mengedepankan ukhuwah dalam setiap interaksi dakwah, baik di lingkungan internal maupun eksternal,” pesannya.

Sementara itu, Anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah NTT, Ust. Syaiful Bahri, S.Ag., M.H., mengajak seluruh peserta menjadikan Muharram sebagai titik awal peningkatan kualitas diri dan perjuangan.

Ia mengingatkan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga sebagai transformasi menuju kualitas iman, ilmu, amal, dan pengorbanan yang lebih baik.

“Mari memasuki Tahun Baru Hijriyah dengan iman yang lebih kuat, ukhuwah yang lebih hangat, ilmu yang lebih luas, kerja yang lebih profesional, pengorbanan yang lebih besar, dan semangat yang lebih menyala,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kader Hidayatullah tidak dididik untuk menjadi penonton perjalanan umat, melainkan pelaku perubahan dan pembangun peradaban.

“Kita tidak dididik untuk menjadi penonton sejarah. Kita dididik untuk menjadi pelaku sejarah. Jika para perintis telah mewariskan perjuangan kepada kita, maka tugas kita bukan sekadar menjaganya, tetapi membesarkannya,” tegasnya.

Selain sesi pencerahan dan refleksi Muharram, kegiatan ini juga diisi dengan halaqah Al-Qur’an, shalat berjamaah, tausiyah Muharram, diskusi kader, silaturahim, qiyamul lail, serta kajian ba’da Subuh yang semakin menguatkan suasana ukhuwah dan semangat kebersamaan.

Melalui kegiatan Ngopi Muharram 1448 H ini, Hidayatullah Kota Kupang berharap seluruh kader dan jamaah semakin kokoh dalam keimanan, semakin erat dalam persaudaraan, serta semakin siap mengemban amanah dakwah dan pendidikan untuk melahirkan perubahan dan membangun peradaban Islam yang diridhai Allah SWT.

Mengakhiri rangkaian kegiatan, para peserta meneguhkan komitmen menjadikan Muharram sebagai momentum hijrah diri, menguatkan ukhuwah, dan meneguhkan langkah perjuangan dalam membangun umat dan peradaban Islam.

DPP Hidayatullah Buka Training Konselor Keluarga 2026, Cetak Konselor Unggul, Profetik, dan Profesional

0

Jakarta (Hidayatullah.or.id) — Training Konselor Keluarga 2026 dengan tema “Mewujudkan Konselor yang Unggul, Profetik, dan Profesional” resmi dibuka pada Selasa, 23 Juni 2026, bertepatan dengan 8 Muharram 1448 Hijriah. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah ini berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah (PDH), Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Pembukaan kegiatan dihadiri sejumlah pimpinan DPP Hidayatullah, di antaranya Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H. selaku Ketua Bidang Organisasi, Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.S.I. selaku Ketua Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I. selaku Ketua Bidang Pelayanan Umat, KH. Drs. Zainuddin Musaddad, M.A. anggota Dewan Murabbi Pusat, Ust. Nurhuda Ketua Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah, serta Akib Junaid Kahar selaku anggota Dewan Mudzakarah.

Kegiatan diawali dengan sambutan pembukaan oleh Ust. Muzakkir Usman, S.S., M.Ed., Ph.D., Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan program strategis organisasi yang dirancang untuk melahirkan konselor keluarga yang memiliki kompetensi, integritas, dan kemampuan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan keluarga di tengah masyarakat.

Menurutnya, penguatan ketahanan keluarga menjadi bagian penting dari agenda konsolidasi dan transformasi Hidayatullah periode 2026–2030 menuju organisasi yang mandiri dan berpengaruh. Karena itu, kehadiran konselor keluarga yang berkualitas menjadi kebutuhan mendesak dalam mendampingi anggota, kader, maupun masyarakat luas.

“Yang kita kejar bukan kuantitas, tetapi kualitas. Kita ingin menghadirkan konselor-konselor keluarga yang benar-benar memiliki kapasitas, memahami etika konseling, dan mampu memberikan manfaat yang luas bagi umat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Hidayatullah tengah mengembangkan layanan konseling keluarga berbasis digital sebagai bagian dari modernisasi pelayanan organisasi. Kehadiran platform tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah dan layanan keluarga sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama dilakukan soft launching aplikasi layanan konseling online “Sakinaku.net”, yang dirancang sebagai sarana konsultasi keluarga dan parenting berbasis daring. Platform ini diharapkan menjadi wadah bagi para konselor keluarga Hidayatullah dalam memberikan pendampingan secara profesional, aman, dan mudah diakses.

Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah dan lembaga di lingkungan Hidayatullah. Para peserta akan mendapatkan pembekalan terkait keterampilan konseling, etika pendampingan keluarga, serta berbagai materi strategis untuk memperkuat peran mereka sebagai konselor keluarga.

Melalui pelatihan ini, DPP Hidayatullah berharap lahir para konselor yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki karakter profetik dan profesional, sehingga mampu berkontribusi dalam mewujudkan keluarga-keluarga yang sakinah, kokoh, dan berperadaban.

Training Konselor Keluarga 2026 Hadirkan Mujahid dan Mujahidah Keluarga untuk Menguatkan Ketahanan Umat

0

Jakarta (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah, Ust. Nurhuda, menegaskan bahwa Training Konselor Keluarga 2026 merupakan bagian dari ikhtiar membangun peradaban Islam melalui penguatan institusi keluarga. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada pembukaan Training Konselor Keluarga 2026 bertema “Mewujudkan Konselor yang Unggul, Profetik, dan Profesional” yang berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah (PDH), Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Selasa (23/6/2026).

Dalam sambutannya, Nurhuda menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, khususnya Muslimat Hidayatullah yang terlibat aktif sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

“Tanpa dukungan dan kerja sama tim Muslimat Hidayatullah, mungkin acara ini sulit terlaksana. Karena itu kami menyampaikan terima kasih atas sinergi yang luar biasa,” ujarnya.

Ia juga menyebut para peserta pelatihan bukan sekadar calon konselor keluarga, melainkan “mujahid dan mujahidah keluarga”, sebuah sebutan yang menurutnya memiliki makna perjuangan yang lebih mendalam dan bersifat ideologis.

“Kalau konselor sifatnya teknis, tetapi mujahid dan mujahidah keluarga sifatnya ideologis. Alumni pelatihan ini kami harapkan menjadi pejuang-pejuang keluarga yang siap hadir membantu menyelesaikan berbagai persoalan umat,” katanya.

Nurhuda menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan kelanjutan dari Training Konselor Keluarga yang sebelumnya telah dilaksanakan secara daring pada 13–14 Juni 2026 dan dibuka langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah. Dari puluhan peserta yang mengikuti tahap daring, sebanyak 31 peserta mengikuti pelatihan luring yang terdiri dari tujuh peserta ikhwan dan sekitar 24 peserta akhwat.

Menurutnya, pelatihan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin kompleksnya persoalan keluarga yang terjadi, baik di lingkungan internal maupun masyarakat secara umum.

“Kita melihat persoalan keluarga hari ini semakin banyak dan semakin rumit. Setiap keluarga memiliki masalah. Ada yang cukup diselesaikan dengan diskusi sederhana, tetapi ada pula yang berlangsung bertahun-tahun tanpa menemukan jalan keluar karena tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa,” ungkapnya.

Karena itu, Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah berinisiatif menyiapkan para pendamping dan konselor keluarga yang memiliki kemampuan profesional dalam memberikan bimbingan dan solusi.

Nurhuda menekankan bahwa peran seorang murabbi tidak hanya terbatas pada pembinaan spiritual dan halaqah, tetapi juga harus mampu mendampingi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

“Definisi murabbi tidak hanya memimpin halaqah dan membimbing aspek spiritual. Lebih dari itu, ia juga harus hadir membantu mewujudkan keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar peserta yang mengikuti pelatihan sejatinya telah memiliki pengalaman dalam mendampingi dan membantu menyelesaikan persoalan keluarga. Melalui pelatihan ini, pengalaman tersebut akan diperkuat dengan pendekatan teoritis, teknis, serta pemahaman kode etik konseling yang lebih sistematis.

“Kita ingin menghadirkan konselor yang memiliki rasa percaya diri, memahami SOP, menguasai teknik pendampingan, dan memegang teguh etika dalam memberikan layanan konseling kepada masyarakat,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Nurhuda mengajak seluruh peserta untuk meluruskan niat dan menjadikan pelatihan ini sebagai bagian dari amal jariah dalam membantu menyelamatkan keluarga-keluarga dari berbagai persoalan dan potensi kehancuran.

“Kita niatkan semua ini semata-mata untuk menegakkan kalimat Allah. Semoga ilmu yang diperoleh dapat dimanfaatkan seluas-luasnya dan semakin banyak keluarga yang terselamatkan,” pungkasnya.

K.H. Naspi Arsyad Serukan Penolakan Normalisasi LGBT demi Menjaga Moral dan Masa Depan Generasi Bangsa

0
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menyerukan pentingnya penolakan terhadap berbagai upaya normalisasi lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia. Menurutnya, menjaga moralitas masyarakat dan masa depan generasi bangsa merupakan tanggung jawab bersama yang harus didukung oleh keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta negara. Senin (22/06/2026)

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendorong pemerintah untuk segera menghadirkan regulasi yang tegas guna memberikan kepastian hukum terhadap pelaku maupun pihak yang mengampanyekan LGBT di ruang publik.

“Penyimpangan seksual bukan hanya persoalan perilaku individu, tetapi juga menyangkut ketahanan keluarga, masa depan generasi, dan arah peradaban bangsa. Karena itu, segala bentuk normalisasi terhadap perilaku tersebut harus ditolak, sembari tetap mengedepankan pendekatan persuasif, edukatif dan keagamaan terhadap pelakunya,” ujar Kiai Naspi.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini bukan hanya munculnya perilaku menyimpang itu sendiri, tetapi juga upaya-upaya untuk menjadikannya sebagai sesuatu yang dianggap wajar oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Naspi menegaskan bahwa Indonesia memiliki landasan ideologis dan konstitusional yang kuat, yakni Pancasila dan nilai-nilai agama, yang menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Oleh karena itu, setiap upaya yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut perlu disikapi secara serius.

Salah satu upaya dalam membentengi masyarakat agar tidak terpengaruh oleh penyimpangan yang mengarah pada normalisasi LGBT harus dimulai dari penguatan akidah, pendidikan karakter, dan ketahanan keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pertama pendidikan anak perlu menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, membangun komunikasi yang sehat, serta mengawasi perkembangan pergaulan dan konsumsi informasi anak.

“Yang harus kita jaga adalah keluarga, akidah, dan moralitas bangsa. Jangan sampai masyarakat terbawa pada arus yang menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang normal. Keluarga yang kuat dan nilai agama yang kokoh adalah benteng utama masa depan bangsa,” katanya.

Selain itu, lembaga pendidikan dan tokoh agama perlu memperkuat literasi keagamaan dan moral agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar tentang identitas diri, keluarga, dan nilai-nilai kehidupan sesuai ajaran agama. Di saat yang sama, masyarakat tidak boleh bersikap apatis terhadap berbagai kampanye yang berupaya menormalisasi perilaku yang bertentangan dengan nilai agama dan budaya bangsa.

“Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi pemerintah. Dibutuhkan sinergi keluarga, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan media untuk membangun lingkungan yang sehat serta menghadirkan keteladanan bagi generasi muda,” tegas Kiai Naspi.

DPP Hidayatullah Dukung Langkah MUI Hadirkan Kepastian Hukum bagi Pelaku dan Pengkampanye LGBT

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyatakan dukungannya terhadap langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendorong pemerintah dalam menghadirkan regulasi yang tegas serta memberikan kepastian hukum terhadap pelaku maupun pengkampanye lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia. Senin (22/06/2026)

Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menilai upaya menghadirkan kepastian hukum merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam menjaga moralitas publik, melindungi generasi muda, serta memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.

“Dalam perspektif Islam, penyimpangan seksual bukan hanya persoalan individu, tetapi juga menyangkut masa depan peradaban dan keberlangsungan generasi. Karena itu, negara perlu memiliki regulasi yang jelas dan tegas sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat,” ujarnya.

Selain aspek hukum, Kiai Naspi menekankan pentingnya pendekatan dakwah, pendidikan, dan pembinaan keluarga sebagai benteng utama pencegahan. Menurutnya, regulasi yang kuat harus disertai dengan penguatan nilai-nilai agama agar masyarakat memiliki daya tahan terhadap berbagai bentuk penyimpangan perilaku.

“Penegakan hukum perlu berjalan beriringan dengan dakwah dan pendidikan. Kita ingin menyelamatkan manusia, menjaga keluarga, dan melindungi generasi muda dari berbagai pengaruh yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan budaya bangsa,” Ujar Kiai Naspi

DPP Hidayatullah juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerintah, untuk memperkuat sinergi dalam membangun lingkungan yang sehat dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda.

Menurut Kiai Naspi, tantangan moral yang dihadapi bangsa saat ini membutuhkan kesadaran kolektif dan langkah nyata dari semua pihak. Karena itu, hadirnya kepastian hukum terhadap pelaku dan pengkampanye LGBT diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menjaga nilai-nilai agama, moralitas publik, dan masa depan Indonesia.

“Yang harus kita bangun adalah kesadaran bersama bahwa keluarga yang kuat, akidah yang kokoh, dan moralitas yang terjaga merupakan fondasi utama kemajuan bangsa. Karena itu, setiap upaya yang mengarah pada perlindungan nilai-nilai tersebut patut didukung,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. K.H. Asrorun Niam Sholeh, menegaskan bahwa berdasarkan Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014, aktivitas homoseksual, lesbian, sodomi, dan bentuk penyimpangan seksual lainnya merupakan perbuatan yang diharamkan dan termasuk kategori kejahatan (jarimah) yang tidak boleh ditoleransi.

Menurut Prof. Niam, pemerintah perlu mengambil langkah komprehensif yang mencakup aspek preventif, kuratif, dan penegakan hukum. Selain memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku dan pengkampanye LGBT, negara juga perlu menyediakan layanan rehabilitasi dan edukasi yang memadai guna membantu mereka yang mengalami penyimpangan orientasi seksual.

Memadukan Akal dan Hati Agar Hidup Tak Mudah Goyah, Lemah dan Menyerah

0

Meski berada dalam satu struktur manusia, baik secara jasad dan makna, akal dan hati belum tentu otomatis berpadu, apalagi bersatu dalam memandang kehidupan. Orang yang dominan akal dan mengabaikan hati akan menjadi manusia rasional yang ekstrem. Sebaliknya orang yang dominan hati dan tidak memerhatikan aspek akal, akan cenderung pasrah secara salah. Sebuah sikap yang ujungnya ternyata melahirkan mental mudah lelah, lemah, goyah dan menyerah.

Belum lama ini saya mendapati satu fakta yang perlu kita jadikan pelajaran.

Seorang mahasiswa lulus dengan nilai sangat memuaskan. Ia bahkan tak perlu melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan multinasional. Dalam waktu sekejap, ia tak hanya bekerja dengan posisi bagus, tapi juga mendapatkan income yang sangat memuaskan.

Namun tak ada yang menduga, dalam beberapa waktu berikutnya, sebuah penyakit menderanya. Ia pun harus merelakan posisi itu, karena perusahaan tempatnya bekerja “memaksanya” harus resign.

Bagaimana kalau posisi itu adalah teman-teman yang mengalaminya? Bagaimana cara memadukan akal dan hati dalam satu arah memahaminya dengan tepat, bijak dan membawa maslahah ke depan. Tentu tidak mudah bukan.

Timbang Secara Filosofis

Dalam buku “Pengantar Filsafat untuk Perguruan Tinggi” karya PEM. Wibiasty dijelaskan bahwa manusia perlu mampu berpikir secara filosofis. Yaitu berpikir yang targetnya kita bisa menemukan makna, menajamkan nalar dan bisa mendapatkan pemahaman yang menembus dinding cara berpikir konvensional.

Misalnya dalam kasus mahasiswa itu, ia adalah sosok cerdas. Tanpa usaha yang melelahkan ia bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Namun sakit kemudian mengubah alur hidupnya. Ini kalau kita timbang secara filosofis memberikan makna bahwa hidup adalah tentang meniti jalan. Jalan yang kadang tak manusia inginkan. Tapi jalan itu harus kita tempuh.

Secara rasional, manusia senang menggantungkan segala hal pada sebab dan akibat. Kalau sudah pintar, kerja harus bagus, uang jadi punya bahkan banyak, lalu hidup akan bahagia. Tapi dalam filsafat, kita bisa bertanya ulang, apakah orang yang bahagia selalu yang punya uang dalam jumlah besar.

Dalam kata lain, melalui pendekatan filsafat, seseorang tak perlu merasa telah gagal karena yang jadi ekspektasinya tidak menjadi kenyataan. Justru kita harus ingat bahwa dalam kasus mahasiswa itu ia tetap memiliki kecerdasan, yang merupakan buah dari upaya nyata membangun tradisi belajar.

Ini menandakan bahwa senjata utama sang mahasiswa, berupa kecerdasan dan kapasitas tak pergi kemana-mana. Dan itu nikmat dari Allah yang luar biasa.

Cerahkan dengan Penyucian Jiwa

Langkah penting berikutnya adalah memahami bahwa hidup ini seutuhnya ada dalam genggaman Allah SWT.

Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Nopian Gustari dalam bukunya “Pendidikan Akhlak Perspektif Al-Ghazali” menjelaskan bahwa manusia harus menjadikan akal dan hatinya sampai pada temuan akan hikmah terhadap apapun yang terjadi.

Langkah itu penting agar jiwa tidak terguncang kala menemukan fakta yang tak diinginkan.

Dalam kasus mahasiswa itu, hati yang kita sucikan akan bisa memahami bahwa rezeki sumber asalnya (Musabbibal Asbab) adalah Allah. Kalau satu pintu rezeki tertutup, maka Allah Yang Maha Pemberi Rezeki akan membuka pintu yang lain.

Lagi pula, kalau mahasiswa itu bisa mendapat pekerjaan hebat dengan mudah, apa kesulitan bagi Allah memberi dia urusan atau pekerjaan yang tidak saja hebat, tapi juga barokah.

Dengan upaya memadukan akal dan hati sedemikian rupa, kita tidak akan mudah terjebak pada perasaan negatif, seperti merasa gagal dan lain sebagainya. Justru kita tetap punya nyala optimisme, karena hidup ini ada Allah, Tuhan yang Maha Mengatur segala hal.

Pada akhirnya, akal dan hati perlu kita satukan. Dan salah satu caranya adalah mengasah akal dan mensucikan jiwa (hati). Integrasi keduanya akan melahirkan sikap bijak, cara berpikir yang menjawab persoalan dan tentu saja optimisme bahwa kebuntuan pada satu jalan, tidak berarti semua jalan juga buntu. Selalu ada harapan dan itu kita sandarkan kepada Allah SWT semata.*

Mas Imam Nawawi

Refleksi Muharram di Masamba, Hidayatullah Dorong Lahirnya Generasi Penggerak Peradaban

0

MASAMBA (Hidayatullah.or.id) – Kampus Madya Hidayatullah Masamba menggelar Tausiah Refleksi Muharram bertema “Menuju Kebangkitan Peradaban Islam” di Masjid Al Hijrah Kampus Madya, Jumat (20/6/2026) atau bertepatan dengan 5 Muharram 1448 Hijriah.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan dakwah Hidayatullah Masamba sekaligus menguatkan semangat hijrah dalam membangun peradaban Islam.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh Usman, S.S., M.I.Kom., menegaskan bahwa Muharram harus dimaknai lebih dari sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Menurutnya, Muharram adalah momentum evaluasi dan perubahan yang menuntut setiap Muslim untuk terus bergerak menuju kondisi yang lebih baik.

“Hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah. Hijrah adalah semangat perubahan yang harus terus hidup dalam diri umat Islam. Setiap pergantian tahun semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kualitas iman, amal, serta kontribusi kita kepada umat,” ujarnya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia dan peradaban. Karena itu, kebangkitan umat harus dibangun melalui proses pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.

Menurut Saleh, masjid dan lembaga pendidikan merupakan dua pilar utama yang harus diperkuat jika umat Islam ingin kembali melahirkan generasi yang mampu memimpin peradaban.

“Kebangkitan peradaban Islam tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui pembinaan yang panjang. Karena itu, masjid harus kembali menjadi pusat pembinaan umat, sementara kampus dan lembaga pendidikan menjadi tempat melahirkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, dan kapasitas kepemimpinan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sejarah Islam menunjukkan lahirnya generasi terbaik selalu berawal dari pembinaan yang kuat di pusat-pusat pendidikan dan pembentukan karakter.

“Jika ingin membangun masa depan umat, maka investasi terbesar yang harus dilakukan adalah membangun manusia. Kita membutuhkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, memiliki wawasan yang luas, dan siap mengambil peran dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Saleh juga menyinggung perjalanan Hidayatullah Masamba yang berkembang dari perintisan sederhana menjadi pusat pendidikan dan dakwah di Luwu Utara. Menurutnya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak pernah terlepas dari kesabaran, konsistensi, dan kerja sama yang berkelanjutan.

“Perjalanan dakwah selalu membutuhkan waktu. Apa yang kita lihat hari ini merupakan hasil dari kesungguhan para perintis yang menjaga istiqamah dalam perjuangan. Karena itu, semangat hijrah harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ia berharap Kampus Al Hijrah Masamba dapat terus berkembang sebagai pusat kaderisasi dan pengembangan sumber daya manusia yang berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.

“Kampus Al Hijrah Masamba harus menjadi pusat lahirnya generasi Qurani yang berilmu, berakhlak, dan memiliki visi kepemimpinan. Dari tempat seperti inilah kebangkitan peradaban Islam dapat dimulai,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Pembina Kampus Hidayatullah Masamba, Drs. Muhammad Kaisar, mengisahkan perjalanan awal Yayasan Al Hijrah yang dirintis dari sebuah rumah kontrakan di Baebunta pada 2001 hingga berkembang menjadi kawasan pendidikan dan dakwah seperti saat ini.

Refleksi Muharram tersebut dihadiri santri, mahasiswa, dewan guru, serta masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran akan pentingnya semangat hijrah dalam membangun peradaban Islam yang berkelanjutan.

Penguatan Ekonomi, Dakwah Digital, dan Spirit Hijrah Jadi Sorotan di Lailatul Ijtimak Bosso

0

LUWU (Hidayatullah.or.id) — Penguatan ekonomi umat, optimalisasi dakwah digital, dan keyakinan dalam menjalani jalan hijrah menjadi tiga isu utama yang disampaikan Ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Abdul Majid, M.A., dalam Halaqah Lailatul Ijtimak di Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu.

Menurut Abdul Majid, keberlanjutan dakwah tidak cukup ditopang oleh semangat perjuangan semata. Dakwah membutuhkan fondasi akidah yang kokoh sekaligus kemandirian ekonomi agar mampu berkembang secara lebih luas dan berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa penguatan ekonomi harus menjadi perhatian serius seluruh kader. Sebab, kemandirian ekonomi akan memperkuat kapasitas dakwah dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain.

“Penguatan ekonomi yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi salah satu kunci agar aktivitas dakwah dapat berjalan lebih mandiri dan berkembang,” ujarnya.

Selain itu, Abdul Majid menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, dakwah perlu hadir dan mengambil peran dalam ruang digital yang kini menjadi salah satu arena utama interaksi masyarakat.

Karena itu, ia mendorong kader yang memiliki kemampuan di bidang teknologi dan media digital untuk mengoptimalkan potensinya bagi kepentingan perjuangan dakwah.

“Harusnya kader yang punya kemampuan secara teknis dalam bidang digital mengerahkan potensinya untuk perjuangan,” tegasnya.

Dalam pandangannya, dakwah tidak lagi cukup dilakukan melalui pendekatan konvensional semata. Pemanfaatan teknologi menjadi kebutuhan agar pesan-pesan Islam dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.

Abdul Majid juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara pondok dan masyarakat sekitar. Ia mengingatkan agar keberadaan lembaga dakwah tidak terpisah dari lingkungan sosialnya, melainkan hadir sebagai bagian dari solusi dan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, kader perlu lebih aktif membangun silaturahmi, memperkenalkan program-program pembinaan, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh warga sekitar.

Pada bagian akhir tausiyahnya, Abdul Majid memberikan penekanan khusus tentang makna hijrah. Ia mengingatkan bahwa proses hijrah sering kali diiringi berbagai kekhawatiran, terutama terkait urusan ekonomi, keluarga, dan masa depan.

Namun, menurutnya, keraguan semacam itu tidak boleh menghalangi seseorang untuk mengambil langkah-langkah kebaikan dan perjuangan di jalan Allah.

“Hilangkan keraguan ketika berhijrah. Jangan khawatir akan rezeki kita, bagaimana masa depan anak-anak maupun biaya hidup kita. Allah telah mengatur dan menjamin rezeki hamba-Nya,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa keyakinan kepada pertolongan Allah merupakan modal penting dalam setiap proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, semangat hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga keberanian untuk bertumbuh, berjuang, dan mengambil peran yang lebih besar dalam dakwah dan pelayanan kepada umat.

Melalui pesan tersebut, Abdul Majid mengajak kader Hidayatullah untuk terus memperkuat fondasi keimanan, membangun kemandirian ekonomi, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman agar dakwah mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih luas dan relevan.

Quaneisha Bilqis Tuntaskan Hafalan 30 Juz dalam 1,5 Tahun, Setor Sekali Duduk

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tantangan generasi muda era digital, Quaneisha Bilqis Adlina membuktikan bahwa ketekunan dan kedisiplinan mampu melahirkan prestasi luar biasa. Santri MA Al Burhan Hidayatullah Semarang itu berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an dalam waktu sekitar satu setengah tahun dan menyetorkannya secara bil ghaib dalam sekali duduk.

Capaian tersebut mengantarkan Bilqis sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda Akbar Tahfiz dan Tasmi’ Angkatan V yang diselenggarakan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Al Burhan Hidayatullah Semarang, Sabtu (20/6/2026).

Bagi Bilqis, keberhasilan itu bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Saat pertama kali masuk pesantren, hafalannya baru sekitar satu setengah juz. Namun melalui proses pembinaan yang intensif, hafalannya terus bertambah hingga akhirnya berhasil menuntaskan seluruh 30 juz Al-Qur’an.

“Saya tidak pernah menyangka bisa menyelesaikan hafalan 30 juz dan menyetorkannya sekali duduk bil ghaib. Semua ini atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.

Perjalanan menghafal Al-Qur’an, kata Bilqis, tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku beberapa kali mengalami masa-masa sulit yang membuatnya hampir menyerah.

“Selama proses menghafal saya pernah beberapa kali putus asa dan ingin menyerah karena tekanan yang terasa cukup berat,” tuturnya.

Namun, dukungan para guru, pembina tahfiz, serta doa kedua orang tua menjadi sumber kekuatan yang membuatnya tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan.

“Saya selalu mengingat motivasi dari guru-guru dan ustazah saya. Ditambah doa dari kedua orang tua yang membuat saya tetap semangat untuk melanjutkan hafalan,” katanya.

Bilqis mengungkapkan bahwa menjaga niat menjadi kunci utama dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, hafalan tidak boleh dikejar semata-mata untuk memperoleh pengakuan atau prestasi duniawi.

“Hafalan itu benar-benar harus diniatkan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena urusan dunia atau pujian manusia,” ujarnya.

Selain menjaga niat, ia juga memiliki waktu-waktu khusus yang dimanfaatkan untuk menambah hafalan. Baginya, suasana malam hingga menjelang Subuh menjadi waktu paling efektif untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.

“Biasanya saya menghafal sekitar pukul 02.45 dini hari, setelah salat Isya, dan setelah Subuh. Itu waktu yang paling nyaman untuk menambah hafalan,” katanya.

Keberhasilan Bilqis tidak hanya terlihat dalam bidang tahfiz. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia juga berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa tahfiz.

Meski sempat gagal dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan belum berhasil meraih cita-cita awalnya di bidang kedokteran, Bilqis akhirnya diterima di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dengan beasiswa penuh pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

“Alhamdulillah saya diterima dengan beasiswa penuh,” ujarnya.

Kepala MA Al Burhan Hidayatullah Semarang, Eko Zainuri, menilai Bilqis merupakan salah satu santri yang menunjukkan kesungguhan luar biasa dalam mengikuti program tahfiz.

“Bilqis termasuk anak yang luar biasa. Capaian ini lahir dari proses panjang, kedisiplinan yang kuat, dan kesungguhannya dalam menjaga target hafalan,” katanya.

Menurut Eko, keberhasilan tersebut juga didukung oleh sistem pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pembinaan tahfiz secara intensif. Santri program takhassus memperoleh pendampingan khusus sehingga dapat fokus menghafal tanpa meninggalkan pendidikan formal.

“Pembinaan hafalan berlangsung secara berkesinambungan, mulai pagi hingga malam hari. Madrasah dan pesantren berjalan secara terpadu dalam mendampingi para santri,” ujarnya.

Bagi Bilqis, wisuda tahfiz bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Selama enam tahun belajar di Al Burhan, saya mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Semoga Allah memudahkan saya untuk terus menjaga hafalan ini,” katanya.

Prestasi Bilqis menjadi bukti bahwa kesungguhan, lingkungan pendidikan yang mendukung, serta bimbingan yang konsisten mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dekat dengan Al-Qur’an dan siap memberi manfaat bagi masyarakat.

Haflah At-Takharruj Al-Firdaus Banten Jadi Momentum Penguatan Pendidikan Islam Berkualitas

0

SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Semarak Haflah At-Takharruj Angkatan ke-VII Yayasan Al-Firdaus Pondok Pesantren Hidayatullah Serpong menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan para santri tahun ajaran 2025/2026.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 6 Muharram 1448 (21/6/2026) itu menghadirkan suasana khidmat sekaligus penuh rasa syukur dari seluruh unsur yayasan, orang tua, guru, dan para lulusan yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Momentum pelepasan santri tersebut tidak hanya menjadi seremoni akademik tahunan, tetapi juga menggambarkan perkembangan kelembagaan yang terus berlangsung di lingkungan Yayasan Al-Firdaus.

Berbagai pembenahan sarana dan prasarana pendidikan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari proses penguatan layanan pendidikan bagi para santri.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas perkembangan yang ditunjukkan Yayasan Al-Firdaus. Menurutnya, perubahan yang terus dilakukan menunjukkan komitmen lembaga dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik.

“Kami melihat adanya pembenahan yang konsisten dari tahun ke tahun. Fasilitas pendidikan terus berkembang menjadi lebih baik dan hal itu menunjukkan kesungguhan yayasan dalam menyiapkan lingkungan belajar yang semakin representatif bagi para santri,” ujarnya.

Dadan berharap, semangat proses pengembangan lembaga yang dilakukan terus dikuatkan secara berkelanjutan, khususnya dalam mendukung kebutuhan pendidikan berbasis pesantren di kawasan Serpong dan sekitarnya.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Komite SMP dan SMA Integral Al-Firdaus, Muh Sukarso. Ia menilai perubahan fasilitas penunjang pendidikan yang berlangsung di bawah kepemimpinan Ketua Yayasan Muhammad Irwan bersama jajaran pengelola telah menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman dan mendukung aktivitas pembelajaran santri.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al-Firdaus, Muhammad Irwan, menyampaikan harapannya agar dukungan terhadap pengembangan lembaga terus mengalir seiring dengan upaya yayasan dalam mencetak generasi beriman, bertakwa, dan memiliki kontribusi bagi masyarakat.

“Melalui momentum kelulusan Angkatan ke-VII ini, kami berharap semoga selalu terselip doa untuk kami dan harapan besar agar Yayasan Al-Firdaus tidak berhenti berinovasi. Semoga ke depannya yayasan ini terus tumbuh, berkembang, dan menjadi lembaga pendidikan Islam yang semakin berkualitas,” kata Irwan.

Bagi Irwan, Haflah At-Takharruj Angkatan VII menjadi refleksi perjalanan pendidikan dalam penguatan komitmen Yayasan Al-Firdaus untuk terus menghadirkan layanan pendidikan Islam yang berkembang, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang berilmu serta berakhlak mulia.