Beranda blog Halaman 11

Quaneisha Bilqis Tuntaskan Hafalan 30 Juz dalam 1,5 Tahun, Setor Sekali Duduk

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tantangan generasi muda era digital, Quaneisha Bilqis Adlina membuktikan bahwa ketekunan dan kedisiplinan mampu melahirkan prestasi luar biasa. Santri MA Al Burhan Hidayatullah Semarang itu berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an dalam waktu sekitar satu setengah tahun dan menyetorkannya secara bil ghaib dalam sekali duduk.

Capaian tersebut mengantarkan Bilqis sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda Akbar Tahfiz dan Tasmi’ Angkatan V yang diselenggarakan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Al Burhan Hidayatullah Semarang, Sabtu (20/6/2026).

Bagi Bilqis, keberhasilan itu bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Saat pertama kali masuk pesantren, hafalannya baru sekitar satu setengah juz. Namun melalui proses pembinaan yang intensif, hafalannya terus bertambah hingga akhirnya berhasil menuntaskan seluruh 30 juz Al-Qur’an.

“Saya tidak pernah menyangka bisa menyelesaikan hafalan 30 juz dan menyetorkannya sekali duduk bil ghaib. Semua ini atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.

Perjalanan menghafal Al-Qur’an, kata Bilqis, tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku beberapa kali mengalami masa-masa sulit yang membuatnya hampir menyerah.

“Selama proses menghafal saya pernah beberapa kali putus asa dan ingin menyerah karena tekanan yang terasa cukup berat,” tuturnya.

Namun, dukungan para guru, pembina tahfiz, serta doa kedua orang tua menjadi sumber kekuatan yang membuatnya tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan.

“Saya selalu mengingat motivasi dari guru-guru dan ustazah saya. Ditambah doa dari kedua orang tua yang membuat saya tetap semangat untuk melanjutkan hafalan,” katanya.

Bilqis mengungkapkan bahwa menjaga niat menjadi kunci utama dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, hafalan tidak boleh dikejar semata-mata untuk memperoleh pengakuan atau prestasi duniawi.

“Hafalan itu benar-benar harus diniatkan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena urusan dunia atau pujian manusia,” ujarnya.

Selain menjaga niat, ia juga memiliki waktu-waktu khusus yang dimanfaatkan untuk menambah hafalan. Baginya, suasana malam hingga menjelang Subuh menjadi waktu paling efektif untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.

“Biasanya saya menghafal sekitar pukul 02.45 dini hari, setelah salat Isya, dan setelah Subuh. Itu waktu yang paling nyaman untuk menambah hafalan,” katanya.

Keberhasilan Bilqis tidak hanya terlihat dalam bidang tahfiz. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia juga berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa tahfiz.

Meski sempat gagal dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan belum berhasil meraih cita-cita awalnya di bidang kedokteran, Bilqis akhirnya diterima di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dengan beasiswa penuh pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

“Alhamdulillah saya diterima dengan beasiswa penuh,” ujarnya.

Kepala MA Al Burhan Hidayatullah Semarang, Eko Zainuri, menilai Bilqis merupakan salah satu santri yang menunjukkan kesungguhan luar biasa dalam mengikuti program tahfiz.

“Bilqis termasuk anak yang luar biasa. Capaian ini lahir dari proses panjang, kedisiplinan yang kuat, dan kesungguhannya dalam menjaga target hafalan,” katanya.

Menurut Eko, keberhasilan tersebut juga didukung oleh sistem pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pembinaan tahfiz secara intensif. Santri program takhassus memperoleh pendampingan khusus sehingga dapat fokus menghafal tanpa meninggalkan pendidikan formal.

“Pembinaan hafalan berlangsung secara berkesinambungan, mulai pagi hingga malam hari. Madrasah dan pesantren berjalan secara terpadu dalam mendampingi para santri,” ujarnya.

Bagi Bilqis, wisuda tahfiz bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Selama enam tahun belajar di Al Burhan, saya mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Semoga Allah memudahkan saya untuk terus menjaga hafalan ini,” katanya.

Prestasi Bilqis menjadi bukti bahwa kesungguhan, lingkungan pendidikan yang mendukung, serta bimbingan yang konsisten mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dekat dengan Al-Qur’an dan siap memberi manfaat bagi masyarakat.

Haflah At-Takharruj Al-Firdaus Banten Jadi Momentum Penguatan Pendidikan Islam Berkualitas

0

SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Semarak Haflah At-Takharruj Angkatan ke-VII Yayasan Al-Firdaus Pondok Pesantren Hidayatullah Serpong menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan para santri tahun ajaran 2025/2026.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 6 Muharram 1448 (21/6/2026) itu menghadirkan suasana khidmat sekaligus penuh rasa syukur dari seluruh unsur yayasan, orang tua, guru, dan para lulusan yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Momentum pelepasan santri tersebut tidak hanya menjadi seremoni akademik tahunan, tetapi juga menggambarkan perkembangan kelembagaan yang terus berlangsung di lingkungan Yayasan Al-Firdaus.

Berbagai pembenahan sarana dan prasarana pendidikan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari proses penguatan layanan pendidikan bagi para santri.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas perkembangan yang ditunjukkan Yayasan Al-Firdaus. Menurutnya, perubahan yang terus dilakukan menunjukkan komitmen lembaga dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kepada peserta didik.

“Kami melihat adanya pembenahan yang konsisten dari tahun ke tahun. Fasilitas pendidikan terus berkembang menjadi lebih baik dan hal itu menunjukkan kesungguhan yayasan dalam menyiapkan lingkungan belajar yang semakin representatif bagi para santri,” ujarnya.

Dadan berharap, semangat proses pengembangan lembaga yang dilakukan terus dikuatkan secara berkelanjutan, khususnya dalam mendukung kebutuhan pendidikan berbasis pesantren di kawasan Serpong dan sekitarnya.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Komite SMP dan SMA Integral Al-Firdaus, Muh Sukarso. Ia menilai perubahan fasilitas penunjang pendidikan yang berlangsung di bawah kepemimpinan Ketua Yayasan Muhammad Irwan bersama jajaran pengelola telah menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman dan mendukung aktivitas pembelajaran santri.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al-Firdaus, Muhammad Irwan, menyampaikan harapannya agar dukungan terhadap pengembangan lembaga terus mengalir seiring dengan upaya yayasan dalam mencetak generasi beriman, bertakwa, dan memiliki kontribusi bagi masyarakat.

“Melalui momentum kelulusan Angkatan ke-VII ini, kami berharap semoga selalu terselip doa untuk kami dan harapan besar agar Yayasan Al-Firdaus tidak berhenti berinovasi. Semoga ke depannya yayasan ini terus tumbuh, berkembang, dan menjadi lembaga pendidikan Islam yang semakin berkualitas,” kata Irwan.

Bagi Irwan, Haflah At-Takharruj Angkatan VII menjadi refleksi perjalanan pendidikan dalam penguatan komitmen Yayasan Al-Firdaus untuk terus menghadirkan layanan pendidikan Islam yang berkembang, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang berilmu serta berakhlak mulia.

Sambut Tahun Baru Hijriah, Hidayatullah Kendari Gelar Lailatul Ijtima Perkuat Spirit Hijrah dan Kemandirian Kader

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Kendari menggelar kegiatan Lailatul Ijtima dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H. Kegiatan yang diikuti puluhan anggota dan kader Hidayatullah tersebut menjadi momentum untuk melakukan muhasabah diri sekaligus memperkuat semangat hijrah dan jihad dalam kehidupan berjamaah.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Sejak awal acara, para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dirancang sebagai sarana penguatan ruhiyah, ukhuwah, dan orientasi perjuangan kader di tengah berbagai tantangan zaman.

Acara diawali dengan pelaksanaan shalat Isya berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian taujih oleh Kepala Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, M.E.

Dalam taujihnya, Wahyu Rahman mengangkat tema “Dari Aktivis Dakwah Menjadi Entrepreneur Mandiri yang Berdaya dan Menginspirasi”. Tema tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan kader saat ini yang dituntut tidak hanya aktif dalam aktivitas dakwah, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi sebagai penopang keberlangsungan perjuangan.

Menurutnya, kemandirian ekonomi merupakan salah satu pilar penting dalam membangun kekuatan umat. Aktivitas dakwah yang berjalan secara berkelanjutan membutuhkan kader-kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas, dan kemampuan mengelola potensi ekonomi secara produktif.

“Kader dakwah harus mampu menjadi teladan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam membangun kemandirian ekonomi. Dengan ekonomi yang kuat, kader dapat lebih leluasa berkontribusi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan menuju kondisi yang lebih baik dalam aspek keimanan, karakter, kompetensi, dan kontribusi sosial.

Karena itu, momentum Tahun Baru Hijriah perlu dijadikan sarana refleksi untuk memperkuat komitmen perjuangan, meningkatkan kualitas diri, serta memperluas manfaat dakwah melalui berbagai bidang kehidupan, termasuk sektor ekonomi dan kewirausahaan.

Ketua DPD Hidayatullah Kendari menyampaikan bahwa Lailatul Ijtima merupakan agenda pembinaan rutin yang bertujuan menjaga soliditas jamaah sekaligus memperkuat visi perjuangan kader dalam menjalankan amanah dakwah.

Melalui kegiatan tersebut, para anggota dan kader diharapkan semakin memahami pentingnya keseimbangan antara penguatan spiritual, aktivitas dakwah, dan pembangunan kemandirian ekonomi sebagai bagian dari upaya mewujudkan peradaban Islam yang berkemajuan.

Hidayatullah Sangatta Resmikan Taman Tahfidzul Qur’an untuk Mencetak Generasi Qurani

0

KUTAI TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Peresmian Taman Tahfidzul Qur’an Hidayatullah oleh Yayasan Hidayatullah Sangatta menjadi langkah penting dalam upaya menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak usia dini. Program yang berada di bawah naungan TK Integral Hidayatullah Sangatta tersebut resmi diluncurkan di Aula Yayasan Hidayatullah Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada Jumat 13 Juni 2026, bertepatan dengan 27 Dzulhijjah 1447 H

Kehadiran Taman Tahfidzul Qur’an menandai pengembangan layanan pendidikan yang mengintegrasikan aspek pembelajaran, pembinaan karakter, dan penguatan nilai-nilai keislaman. Melalui program ini, peserta didik diharapkan memperoleh ruang untuk menghafal, memahami, dan mempelajari Al-Qur’an dalam lingkungan pendidikan yang terstruktur.

Acara peresmian dihadiri sejumlah tokoh dan perwakilan instansi, antara lain Pengawas TK Integral Hidayatullah Sangatta Rusini, M.Pd., Ketua RT 04 Mulianto Doeng, perwakilan Kelurahan Teluk Lingga Abdul Wahab Agus, S.E., perwakilan Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Robiatul Adawiyah, S.Sos., M.Pd., Ketua DPD Hidayatullah Kutai Timur Jumian, S.Pd.I., Ketua Yayasan Hidayatullah Sangatta Achmad Rasyidinnur, M.Pd., serta wali santri dan warga Hidayatullah.

Dalam sambutannya, Abdul Wahab Agus menyampaikan apresiasi atas hadirnya program tersebut sekaligus menyampaikan penghargaan kepada Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Al-Ikhlas Sangatta yang turut berkontribusi dalam proses pengembangannya.

Ia menegaskan pentingnya pengembangan program Tahfidzul Qur’an bagi siswa maupun masyarakat sekitar sebagai bagian dari pembinaan karakter dan penguatan nilai-nilai religius. Menurutnya, program pendidikan Al-Qur’an tidak hanya menyasar lingkungan sekolah, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan pembinaan masyarakat secara lebih luas.

Sejumlah tamu undangan yang hadir juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah Yayasan Hidayatullah Sangatta dalam menghadirkan fasilitas pendidikan berbasis Al-Qur’an tersebut. Kehadiran Taman Tahfidzul Qur’an dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran Al-Qur’an sejak usia dini.

Sementara itu, Kepala TK Integral Hidayatullah Sangatta menyampaikan bahwa Taman Tahfidzul Qur’an akan menjadi salah satu program unggulan yang terus dikembangkan ke depan.

Dengan peresmian ini, Yayasan Hidayatullah Sangatta menambah sarana pembelajaran yang berfokus pada pendidikan Al-Qur’an sekaligus memperluas ruang pembinaan generasi muda di Kabupaten Kutai Timur. (rik/kns)

Kepemimpinan Manhaji Jadi Fondasi Penguatan DPD Hidayatullah se-Indonesia

0
Foto: Al-Qoim / Hidayatullah.or.id

Jakarta (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah Institute resmi menutup kegiatan Pelatihan Kepemimpinan DPD se-Indonesia Basic Batch 21 yang mengusung tema “Kepemimpinan Manhaji: Visioner dan Progresif”. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, sejak Selasa hingga Ahad, 16–21 Juni 2026, ditutup pada Ahad malam, 21 Juni 2026, bertepatan dengan 6 Muharram 1448 H, di Aula Lobies Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I, Jakarta Timur.

Acara penutupan berlangsung dalam suasana hangat, akrab, dan penuh tawa. Para peserta yang berasal dari berbagai Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Indonesia tampak antusias mengikuti rangkaian acara hingga akhir.

Penutupan secara resmi dilakukan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah yang diwakili oleh Dr. Dudung Amadung Abdullah, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan kepemimpinan bukanlah akhir dari proses pembelajaran, melainkan awal dari perjalanan panjang dalam mengemban amanah kepemimpinan di lingkungan Hidayatullah.

Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu membaca kondisi organisasi secara objektif, memiliki visi yang jelas tentang masa depan, menyusun strategi pencapaiannya, serta melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap setiap target yang telah ditetapkan.

“Pemimpin yang baik harus mampu menjawab empat pertanyaan penting: Where are we now? Where are we going? How to get there? dan How do we know the progress? Dengan cara itulah kepemimpinan akan berjalan secara terarah, visioner, dan progresif,” ujarnya.

Dr. Dudung juga mengingatkan pentingnya pengambilan keputusan yang berbasis data dan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata berdasarkan perasaan. Ia mencontohkan berbagai kebijakan yang gagal karena tidak didasarkan pada analisis yang tepat terhadap persoalan yang dihadapi.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa DPP Hidayatullah bersama Hidayatullah Institute akan terus melakukan pendampingan dan pembinaan kepada para peserta pascapelatihan. Salah satu program yang akan segera diluncurkan adalah Hidayatullah Leaders Forum, sebagai wadah pembinaan dan penguatan kapasitas para pemimpin Hidayatullah di berbagai daerah.

“Target kita adalah mewujudkan Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh. Karena itu, pelatihan ini harus melahirkan pemimpin-pemimpin yang berjalan di atas manhaj, memiliki visi jauh ke depan, serta mampu menghadirkan perubahan nyata bagi umat dan bangsa,” tegasnya.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: IMG_1297-scaled.jpg
Foto: Al-Qoim / Hidayatullah.or.id

Acara penutupan turut dihadiri oleh Iwan Ruswanda selaku Wakil Sekretaris Jenderal II DPP Hidayatullah dan Samsul Bahri Direktur Operasional Hidayatullah Institute, serta jajaran panitia dan peserta pelatihan.

Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan kesungguhan peserta selama mengikuti pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh panitia, memohon keberkahan dan kemudahan bagi para peserta dalam mengemban amanah kepemimpinan di daerah masing-masing.

Melalui pelatihan ini, Hidayatullah Institute berharap lahir para pemimpin daerah yang tidak hanya memiliki kapasitas manajerial dan organisasi yang kuat, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai-nilai manhaj Hidayatullah dalam setiap kebijakan dan langkah perjuangannya demi terwujudnya cita-cita besar organisasi dan kemajuan peradaban Islam.

Dari NTB, K.H. Naspi Arsyad Serukan Dakwah yang Membahagiakan dan Menyatukan

0

Lombok Barat (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menyampaikan materi secara daring dalam kegiatan Lailatul Ijtima kader Hidayatullah se-Nusa Tenggara Barat yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah NTB. Sabtu (20/06/2026)

Dalam arahannya, Kyai Naspi menegaskan bahwa misi dakwah yang diemban Rasulullah ﷺ harus menjadi karakter utama yang melekat pada setiap dai Hidayatullah. Mengutip penggunaan kata ba’atsa dalam Al-Qur’an terkait pengutusan Nabi Muhammad ﷺ, beliau menjelaskan bahwa kata tersebut juga mengandung makna menggerakkan, menyatukan, membahagiakan, dan menggembirakan.

“Karena itu, dai Hidayatullah harus menjadi sosok yang mampu menggerakkan masyarakat menuju kebaikan, menyatukan umat, membahagiakan, dan menggembirakan mereka dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kyai Naspi menjelaskan bahwa QS. Al-Jumu’ah ayat 2 memberikan gambaran utuh mengenai fungsi dan peran seorang dai dalam membangun peradaban Islam. Dari ayat tersebut, setidaknya terdapat lima fungsi utama yang harus dijalankan oleh setiap dai.

Pertama Dai sebagai Mujahidul Islam

Yaitu sosok yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Seorang dai harus memiliki semangat pengorbanan dan kesiapan untuk berjuang demi kemajuan dakwah serta kemaslahatan umat.

Menurut Kyai Naspi, seorang dai tidak boleh menjadi beban bagi perjuangan. Sebaliknya, ia harus tampil sebagai seorang mujahid yang senantiasa memberi dan berkorban. “Mujahid itu artinya memberi, berkorban, dan berkontribusi. Bukan justru mengambil tanpa memberikan sumbangsih bagi dakwah dan umat,” tegasnya.

Kedua Dai sebagai Muwahhidul Ummah

Selain pejuang, dai juga sebagai pemersatu umat. Dai dituntut menjadi perekat persaudaraan, membangun ukhuwah Islamiyah, serta menghadirkan solusi yang memperkuat kebersamaan di tengah berbagai perbedaan yang ada di masyarakat.

Dai Hidayatullah tidak hadir untuk mempertajam perbedaan mazhab, organisasi, maupun latar belakang sosial, melainkan membangun titik temu dan semangat kebersamaan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah. Dengan pendekatan dakwah yang bijak, inklusif, dan solutif, dai Hidayatullah diharapkan mampu menjadi penghubung antar elemen umat, memperkuat kolaborasi dalam kebaikan, serta menghadirkan suasana yang menenteramkan dan mempersatukan masyarakat. Tegas Kyai Naspi

Ketiga Dai sebagai Muallim ad-Diin

Yakni pembimbing umat. Seorang dai memiliki tugas untuk menyampaikan ilmu, membimbing pemahaman keislaman yang benar, serta menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan umat.

Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi setiap dai untuk terus belajar sebagai upaya dalam meningkatkan kapasitas diri agar mampu memberikan pencerahan serta solusi dalam setiap problematika umat dan bangsa. Ujar Kyai Naspi.

Keempat Dai sebagai Muaddibul Khuluq

Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga harus melahirkan perubahan perilaku. Karena itu, dai harus menjadi teladan dalam akhlak dan adab, sekaligus membimbing masyarakat menuju karakter yang mulia. Pesan yang dikirimkan oleh para dai akan semakin kuat dan mudah diamalkan dalam kehidupan umat ketika para dai mampu memperagakan secara langsung.

Kelima Dai sebagai Mujaddidul Iman,

Yaitu penjaga dan pembaru keimanan umat. Melalui pembinaan ruhiyah, nasihat, dan keteladanan, seorang dai berperan menjaga semangat keimanan agar tetap hidup dan terus bertumbuh dalam diri umat Islam.

Kyai Naspi menegaskan bahwa kelima fungsi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Seorang dai bukan hanya penyampai ceramah, tetapi juga pejuang, pemersatu, pendidik, pembina akhlak, dan penguat keimanan umat.

Melalui kegiatan Lailatul Ijtima ini, beliau berharap seluruh kader Hidayatullah semakin mengokohkan perannya sebagai pelayan umat yang menghadirkan manfaat nyata bagi umat dan bangsa. Dakwah, menurutnya, harus mampu menghadirkan optimisme, memperkuat persatuan, dan menjadi sarana transformasi menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan Islam.

Silaturahmi Gerakan Berbagi Bahagia Hadirkan Semangat Baru bagi Santri Al-Firdaus Serpong

0

TANGSEL (Hidayatullah.or.id) — Gerakan Berbagi Bahagia yang dipimpin oleh Ibu Keke melakukan kunjungan silaturahmi ke Yayasan Al-Firdaus Hidayatullah Serpong dan menyapa para santri yang menempuh pendidikan di lingkungan pondok pesantren yang berlokasi di Kampung Jaletreng, Jalan Raya Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu, 5 Muharam 1448 (20/6/2026).

Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan kemanusiaan antara para pegiat sosial dengan lembaga pendidikan Islam yang membina generasi muda.

Kehadiran rombongan disambut langsung oleh jajaran pengurus yayasan dan para santri. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Al-Firdaus Hidayatullah Serpong, Muhammad Irwan, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan silaturahmi yang diberikan kepada keluarga besar pesantren.

“Ibu mengatakan bahwa kehadiran ke sini hanya untuk bersilaturahmi, namun bagi kami di Yayasan Al-Firdaus, silaturahmi dari Ibu dan tim adalah sebuah anugerah dan kehormatan yang luar biasa,” ujar Irwan.

Menurutnya, nilai utama dari sebuah kunjungan tidak semata terletak pada bentuk bantuan atau dukungan yang diberikan, melainkan pada hadirnya perhatian, kepedulian, dan hubungan yang terjalin secara tulus. Bagi Irwan, perhatian dari berbagai elemen masyarakat menjadi penguat moral bagi para santri yang tengah menempuh proses pembinaan ilmu, karakter, dan keagamaan.

Irwan menegaskan bahwa Yayasan Al-Firdaus selalu membuka ruang kolaborasi dan silaturahmi dengan berbagai kalangan yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan pembinaan generasi muda.

“Pintu yayasan ini akan selalu terbuka lebar. Di bulan Muharram yang penuh berkah dan semangat baru ini, kedatangan Ibu dan tim seperti membawa energi positif dan kebahagiaan tersendiri bagi kami, khususnya bagi anak-anak kami, para santri di sini,” katanya.

Kunjungan Gerakan Berbagi Bahagia berlangsung bertepatan dengan momentum Muharram, bulan yang identik dengan semangat kepedulian sosial dan penguatan ukhuwah. Bagi para santri, pertemuan tersebut menjadi pengalaman berharga karena menghadirkan perhatian langsung dari masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan dan pembinaan generasi.

Melalui silaturahmi ini, Irwan berharap, terbangun ruang kebersamaan yang mempertemukan nilai-nilai kepedulian sosial dengan ikhtiar pendidikan. “Ini sekaligus menguatkan bahwa proses membangun generasi membutuhkan dukungan, perhatian, dan sinergi dari berbagai unsur masyarakat,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Ibu Keke beserta rombongan tidak hanya berinteraksi dengan para santri, tetapi juga memberikan motivasi agar mereka terus menjaga semangat belajar dan memiliki tekad kuat dalam meraih cita-cita.

Di hadapan para santri, ia mengingatkan pentingnya menuntut ilmu sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang unggul dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Teruslah belajar dengan sungguh-sungguh, jangan pernah berhenti bermimpi. Kalian harus menjadi orang-orang hebat yang kelak bisa memberikan manfaat di mana pun berada dan dalam bidang apa pun yang ditekuni,” pesan Ibu Keke.

Teknologi, Literasi, dan Politik: Tiga Pilar Hijrah Generasi Muda Menurut Ust. Imam Nawawi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, SMP-MA Hidayatullah Depok menggelar seminar bertema “Hijrah dan Masa Depan Generasi Muda” pada Selasa (16/6/2026) di Aula Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, Ust. Imam Nawawi, M.Pd.I, sebagai pemateri utama. Acara turut dihadiri oleh para santri SMP dan MA Hidayatullah Depok.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan khidmat oleh Ulul Fadhil, santri kelas 10. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Waka Kemuridan SMP-MA Hidayatullah Depok, Ust. Irfan, S.Kom.I.

Dalam sambutannya, Ust. Irfan menyampaikan bahwa momentum Tahun Baru Islam harus menjadi penyegar semangat bagi generasi muda untuk meneladani perjalanan hijrah Rasulullah SAW menuju Madinah.

“Sebagai anak muda, kita perlu menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meneladani perjuangan Rasulullah dalam membangun peradaban Islam,” ujarnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa kehadiran Ust. Imam Nawawi merupakan bentuk keseriusan sekolah dalam mendidik dan membina para santri. Menurutnya, Ust. Imam dikenal sebagai sosok yang dekat dan mampu memahami cara berpikir generasi muda sehingga materi yang disampaikan diharapkan lebih mudah diterima oleh para peserta.

Memasuki sesi inti, Ust. Imam Nawawi terlebih dahulu menegaskan bahwa metode pembelajaran yang akan digunakan adalah metode dua arah. Para santri diajak untuk aktif berdiskusi dan menyampaikan pendapat, bukan hanya menjadi pendengar pasif.

Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya memiliki arah hidup yang jelas sejak usia dini. Menurutnya, salah satu masalah yang sering terjadi pada generasi muda adalah menjalani hari tanpa tujuan yang terencana.

“Kalau misalnya pulang ke rumah langsung buka HP, terus main game, terlihat sikap serampangan atau bahasa mudahnya tidak terarah,” katanya.

Beliau menambahkan bahwa kebiasaan hidup yang terencana harus mulai dibentuk sejak sekarang agar masa depan dapat dipersiapkan dengan lebih baik.

Selanjutnya, Ust. Imam menjelaskan bahwa akal manusia pada dasarnya memiliki dua fungsi utama, yaitu memahami kebenaran dan menjelaskan kebenaran. Karena itu, seseorang yang benar-benar memahami suatu hal akan lebih percaya diri saat menyampaikan pendapatnya kepada orang lain.

Suasana seminar semakin hidup ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada para santri mengenai makna hijrah. Beragam jawaban muncul dari para peserta. Ada yang menjawab bahwa hijrah berarti berpindah dari keburukan menuju kebaikan, sementara sebagian lainnya menjawab sekadar berpindah tempat.

Menanggapi jawaban tersebut, Ust. Imam menjelaskan bahwa dalam pandangan para sufi, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik. Mengutip pemikiran Shaikh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam, hijrah merupakan upaya sungguh-sungguh untuk mengarahkan hati hanya kepada Allah Ta’ala dan melepaskan ketergantungan kepada selain-Nya.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: mas-imam-nawawi-1.jpg

Beliau kemudian menunjuk beberapa santri untuk menjelaskan makna kutipan tersebut. Namun, sebagian peserta masih terlihat ragu untuk menjawab. Padahal, sejak awal beliau telah menegaskan bahwa proses belajar tidak boleh dibatasi oleh rasa takut salah.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa hijrah merupakan momentum yang mengubah kondisi umat Islam secara menyeluruh. Kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan awal lahirnya sebuah peradaban baru yang pengaruhnya terus mengalir hingga saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menampilkan Piagam Madinah. Dokumen tersebut berisi kesepakatan yang mengatur hubungan antara kaum muslimin, kelompok-kelompok masyarakat Madinah, serta kepemimpinan Rasulullah SAW.

Menurut beliau, Piagam Madinah dapat dipandang sebagai salah satu deklarasi tertulis paling awal yang menunjukkan pentingnya aturan, persatuan, tanggung jawab sosial, dan kehidupan bermasyarakat yang tertib. Melalui piagam tersebut, Rasulullah tidak hanya membangun komunitas keagamaan, tetapi juga fondasi peradaban yang berlandaskan keadilan, persaudaraan, dan kesepakatan bersama.

Selanjutnya, Ust. Imam menjelaskan tiga strategi utama hijrah Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat Madinah.

Strategi pertama adalah pembangunan Masjid Quba. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, diskusi peradaban, serta penyebaran ilmu pengetahuan.

Strategi kedua adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Langkah ini menunjukkan bahwa persatuan merupakan kekuatan utama umat Islam. Perbedaan latar belakang, suku, maupun status sosial tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan menguatkan.

Adapun strategi ketiga adalah penguasaan ekonomi. Beliau mencontohkan kisah Abdurrahman bin Auf RA yang ketika tiba di Madinah tidak meminta harta, melainkan langsung mencari pasar untuk berdagang hingga akhirnya menjadi salah satu sahabat yang paling berhasil secara ekonomi.

Pada bagian ini, beliau menegaskan bahwa kekuatan ekonomi merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Menurutnya, negara-negara besar saat ini mampu menjadi kekuatan dunia karena memiliki kemampuan yang kuat dalam perdagangan, industri, dan pengelolaan ekonomi.

“Rasulullah sudah memberikan isyarat pentingnya penguasaan ekonomi sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu melalui pembangunan masyarakat Madinah,” jelasnya.

Selain strategi hijrah pada masa Rasulullah, Ust. Imam juga menjelaskan tiga pilar yang perlu dikuasai oleh generasi muda Muslim pada masa sekarang.

Pilar pertama adalah penguasaan teknologi. Menurutnya, hampir seluruh aspek kehidupan saat ini telah bersentuhan dengan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Karena itu, generasi muda Muslim tidak boleh hanya menjadi pengguna, tetapi juga harus mampu memahami, menguasai, dan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pilar kedua adalah membaca. Beliau menjelaskan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang, melainkan sarana untuk memperluas wawasan dan memperkaya ilmu pengetahuan. Kebiasaan membaca juga dapat menggantikan aktivitas yang kurang produktif dan sering menghabiskan waktu generasi muda.

Sementara itu, pilar ketiga adalah penguasaan ilmu politik dan kemampuan membaca arah perubahan zaman. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bagaimana informasi, opini, dan kebijakan publik terbentuk agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda maupun narasi yang menyesatkan. Dengan bekal literasi politik yang baik, seseorang dapat berpikir lebih kritis, objektif, dan mampu mengambil keputusan secara bijaksana.

Menjelang akhir acara, Ust. Imam mengajak seluruh santri untuk membuat deklarasi dan piagam pribadi yang berisi komitmen untuk membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menulis sebagai bekal menghadapi masa depan.

Kegiatan seminar ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas santri, menumbuhkan keberanian dalam menyampaikan pendapat, serta merefresh semangat hijrah sebagai generasi muda Muslim yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Pengkritik Jadi Budak Kekuasaan

0

Salah satu fenomena kehidupan modern adalah berubahnya sosok pengkritik menjadi budak kekuasaan. Awalnya ia begitu lugas dan tegas kepada penguasa. Akan tetapi setelah masuk ke lingkar kekuasaan dan dekat dengan penguasa, ia menjadi budak sang penguasa. Ia membebek bahkan menjilat.

Mengamati fenomena ini, ada pendapat yang menyatakan bahwa kompromi dalam lingkar kekuasaan merupakan hal yang sulit dihindari. Sehingga siapa pun yang masuk ke lingkar kekuasaan harus siap berkompromi. Intinya, pada sosok pengkritik kekuasaan, bukan hanya kompromi yang terlihat bahkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang dipegang dan ditawarkannya selama ini.

Sementara itu, dalam Islam, fenomena seperti ini masuk kategori ujian istiqomah. Kemungkinan kuat seseorang teguh dengan prinsip yang diyakininya, meskipun situasi berubah. Mungkin masalahnya menjadi lebih pahit, meski peluangnya tetap terbuka menjadi jauh lebih manis.

Nah, masuk ke lingkar kekuasaan merupakan satu contoh perubahan situasi yang lebih baik. Saat belum menyajikan, dapat dikatakan seseorang tidak memiliki fasilitas yang sama sekali. Berbeda dengan saat disajikan, fasilitas berderet.

Pengaruh perubahan situasi yang jauh lebih manis ini tidak bisa dipandang remeh. Rasanya bisa sangat dahsyat. Keteguhan hati atas nilai-nilai yang diyakini sebelumnya sangat mungkin tergerus. Gantinya adalah nilai-nilai baru yang lebih pragmatis.

Di sinilah kejujurannya diuji. Kritik yang selama ini dilontarkan kepada penguasa, apakah dilandasi dengan ketulusan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan?

Bisa jadi kritik kepada penguasa lahir dari iri dengki. Bahwa dia mengkritik karena ingin mendapatkan fasilitas dan kemewahan yang sama dengan para penguasa. Hanya saja ia menutupinya, atau tidak menyadarinya.

Selain kejujuran, kapasitas ilmu juga diuji. Saat berada di lingkar kekuasaan, mampukah seseorang membangun kerangka berpikir yang runtut?

Dengan berpikir runtut, seseorang di lingkar kekuasaan bisa melihat peta regulasi. Selanjutnya ia bisa menilai bagian mana yang perlu diperbaiki, dan peran apa yang bisa dimainkannya. Selain itu ia bisa mengukur seberapa berbahaya konsekuensi yang akan ditanggungnya jika memainkan peran korektif. Apabila konsekuensinya masih bisa ditanggung, ia bisa maju langsung untuk mengoreksi. Jika tidak, mungkin ia bisa memilih cara koreksi lainnya.

Ujian lainnya adalah kedekatan kepada Allah ta’ala, juga orang-orang shaleh. Apabila munajat mulai berkurang dan orang-orang shaleh semakin jarang dikunjungi, maka kewaspadaan alarm sudah harus dinyalakan pada seseorang yang berada di lingkaran kekuasaan. Dengan pembiaran, sedangkan orang-orang hedon semakin banyak mengerubungi, maka kepekaan ruhiyah terkait nasib umat lambat laun menipis. Apa yang kemudian menebal? Jawabannya adalah logika kekuasaan, beralaskan ide seputar mempertahankan kekuasaan itu sendiri.

Mari berhenti sejenak di titik ini.

Sungguh, bukan berarti kekuasaan selalu buruk. Setara dengan ikut masuk ke dalam lingkaran kekuasaan tidak berarti pembusukan bersama penguasa. Hanya saja, sebagaimana disampaikan di awal, demikianlah fenomena modern akhir-akhir ini.

Oleh karena itu perlu kiranya waktu kerja dalam membatasi kekuasaan. Agar dampaknya tidak pada individu, namun pada kelompok. Ini lebih baik. Karena kelompok masih berpotensi saling menguatkan. Jauh berbeda situasinya jika kritik dilakukan secara individu. Dampaknya dikenakan pada satu sosok. Berat sekali rasanya untuk terlepas dari jeratan ujian, apalagi ujian manisnya fasilitas kekuasaan.

Satu kata akhirnya perlu digarisbawahi, yaitu kerja jamaah.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

SMA Integral Bunda Tanah Melayu Gandeng Hidayatullah Lingga Perkuat Mutu Pendidikan

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — SMA Integral Bunda Tanah Melayu menggelar kegiatan pembagian rapor sekaligus temu wali murid untuk membahas program pembelajaran tahun ajaran 2026/2027, Jumat, 19 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas SMA Integral Bunda Tanah Melayu itu dihadiri pengurus Yayasan Kemajuan Kabupaten Lingga, pengurus DPD Hidayatullah Lingga, para wali murid, serta majelis guru.

Acara dibuka oleh Kepala SMA Integral Bunda Tanah Melayu yang menyampaikan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung perkembangan akademik maupun karakter peserta didik.

Dalam sambutannya, Sekretaris Yayasan Kemajuan Kabupaten Lingga, Hasril Hamka, mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran baru mendatang, lokasi SMA Integral Bunda Tanah Melayu akan berpindah ke Jalan Engku Aman, Kelang Sawah Indah, Daik Lingga, atau berada di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Lingga.

“Perpindahan lokasi ini merupakan bagian dari upaya penguatan kualitas pendidikan. Kita akan bersinergi dengan Hidayatullah untuk mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan memiliki bekal ilmu pengetahuan serta nilai-nilai keislaman yang kuat,” ujar Hasril.

Ketua DPD Hidayatullah Lingga, Muhammad Hamka Syaifudin, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara kedua lembaga pendidikan menjadi langkah strategis dalam menghadirkan layanan pendidikan yang lebih berkualitas bagi masyarakat Lingga.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Insya Allah sinergi ini akan melahirkan pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan akhlak,” katanya.

SMA Integral Bunda Tanah Melayu selama ini dikenal mengembangkan model pendidikan yang memadukan kurikulum nasional, pendidikan agama, dan penguatan budaya Melayu. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, adab, dan kecintaan terhadap budaya daerah.

Pada kesempatan itu, Hasril Hamka juga mengajak masyarakat untuk bergabung bersama SMA Integral Bunda Tanah Melayu. Ia menegaskan bahwa sekolah masih membuka pendaftaran peserta didik baru dengan biaya pendidikan yang terjangkau.

“Tahun ini kami masih membuka pendaftaran siswa baru. Kami mengundang para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya untuk bergabung bersama SMA Integral Bunda Tanah Melayu. Kuota masih tersedia dengan biaya yang sangat terjangkau,” tutupnya.