Beranda blog Halaman 9

Wakaf Tanah dan Gedung Tiga Lantai Perkuat Program Dakwah Hidayatullah Banten

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten menerima wakaf berupa sebidang tanah beserta bangunan tiga lantai dari Haji Warsun untuk mendukung pengembangan dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat di Provinsi Banten.

Penyerahan berlangsung dalam suasana khidmat di bilangan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 12 Muharram 1448 (27/6/2026). Haji Warsun mengungkapkan rasa syukur setelah menyerahkan aset yang selama ini dimilikinya kepada lembaga. Menurutnya, keputusan tersebut memberikan ketenangan batin sekaligus menjadi ikhtiar agar manfaat harta yang diwakafkan dapat terus mengalir.

“Lega rasanya hati dan pikiran saya setelah mewakafkan ini. Semoga apa yang diserahkan hari ini bisa menjadi amal jariyah serta wasilah kebaikan yang mengalir terus-menerus untuk saya dan keluarga,” ujar Haji Warsun.

Amanah tersebut diterima langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, didampingi Sekretaris Wilayah, Muhammad Irwan. Atas nama lembaga, Dadan menyampaikan apresiasi kepada Haji Warsun dan keluarganya atas kepercayaan yang diberikan kepada Hidayatullah untuk mengelola aset wakaf tersebut.

“Kami mengucapkan jazaakumullah khairan, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Haji Warsun. Semoga wakaf ini dicatat sebagai amal jariyah terbaik dan menjadi bekal mulia kelak di akhirat,” kata Dadan.

Ia menegaskan bahwa wakaf ini amanah yang menuntut tanggung jawab dalam pengelolaannya.

Melalui pengelolaan yang bertanggung jawab, tekannya, aset wakaf diharapkan menjadi sarana yang memberi manfaat bagi aktivitas dakwah, penyelenggaraan pendidikan, dan berbagai kebutuhan umat di Banten secara berkesinambungan.

Karena itu, DPW Hidayatullah Banten berkomitmen menjaga dan mengoptimalkan pemanfaatan tanah serta bangunan tersebut agar memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Insya Allah, amanah yang besar ini akan kami jaga dan manfaatkan dengan optimal demi kemaslahatan dakwah, pendidikan, dan umat di wilayah Banten,” ujarnya.

Perkuat Peran di Tengah Umat, Dr. Suwito Fatah Tekankan Pentingnya Bridging dan Diferensiasi

0

GORONTALO (hidayatullah.or.id)– Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Gorontalo resmi membuka agenda Assessment Semester 1 (satu). Kegiatan strategis ini dibuka langsung oleh Bendahara Umum DPP Hidayatullah, Dr. Suwito Fatah, M.M. Sabtu (27/06/2026)

Dalam pengarahannya, Dr. Suwito Fatah menegaskan bahwa konsolidasi merupakan pilar utama untuk membangun organisasi yang mandiri dan berpengaruh. Melalui konsolidasi yang kuat, lembaga akan memiliki fondasi kokoh untuk melakukan transformasi menuju kualitas yang lebih baik.

“Semangat untuk menjadi lebih baik harus menjadi tujuan utama setiap proses transformasi. Kami berharap seluruh nilai, gagasan, dan arahan yang lahir dari kegiatan ini dapat diserap, dipahami, lalu diwujudkan dalam kerja nyata,” ujar Suwito.

Keseimbangan Antara Bonding dan Bridging

Lebih lanjut, Suwito menjelaskan bahwa pengaruh organisasi di tengah masyarakat lahir secara alami (aksiomatik) melalui kiprah nyata di bidang dakwah, tarbiyah, dan pelayanan umat. Namun, untuk memperluas dampak tersebut, seluruh stakholder Hidayatullah tidak boleh hanya berfokus pada penguatan hubungan internal lembaga (bonding).

“Kita tidak cukup hanya memperkuat ikatan emotional (bonding) di internal organisasi. Kita juga harus membangun bridging, yaitu memperluas jejaring dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Modal sosial yang kuat akan mempermudah agenda organisasi mendapat ruang dan dukungan yang luas di tengah masyarakat,” tambahnya.

Fokus pada Diferensiasi dan Semangat Ukhuwah

Forum Assessment kali ini juga diarahkan untuk memetakan dan memaksimalkan seluruh potensi lokal sebagai nilai diferensiasi (pembeda) bagi Hidayatullah Gorontalo. Nilai kekhasan inilah yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan daya saing serta daya pengaruh organisasi di wilayah tersebut.

Menutup arahannya, Suwito mengingatkan agar setiap dinamika atau gesekan yang terjadi di medan dakwah selalu diselesaikan dengan mengedepankan semangat ukhuwah Islamiyah.      

Dengan menjaga persaudaraan sebagai modal sosial, energi organisasi tidak akan habis untuk persoalan di lingkungan sendiri, melainkan dapat sepenuhnya difokuskan pada percepatan dan pencapaian target-target strategis lembaga dalam melayani umat.

“Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi dan memberi kemudahan, sehingga cita-cita Hidayatullah menjadi organisasi mandiri, profesional, dan berpengaruh dalam pelayanan kepada umat segera terwujud”, Pungkasnya dalam menutup sambutan.

Wisudawan Tahfidz Ponpes Hidayatullah Bolaang Mongondow Diharapkan Menjadi Teladan di Tengah Masyarakat

0

Sulawesi Utara [hidayatullah.o.id]– Suasana haru dan khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Hidayatullah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Ponpes tersebut sukses menggelar acara Haflah Akhirussanah sekaligus Wisuda Tahfidz Al-Qur’an. Sabtu (13/06/2026).

Acara tahunan ini turut dihadiri oleh pimpinan pondok, dewan guru, tokoh masyarakat, serta para wali santri yang datang untuk menyaksikan langsung momen bersejarah putra-putri mereka.

Tahun ini, para santri menorehkan capaian hafalan yang membanggakan, mulai dari 1 juz hingga 9 juz Al-Qur’an. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari kedisiplinan dan kesungguhan pembinaan program tahfidz yang berjalan secara konsisten di pesantren tersebut.

Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bolaang Mongondow, Ustadz Heri Muyono menyampaikan rasa syukur yang paling dalam sekaligus mengingatkan para wisudawan bahwa momen ini bukanlah akhir dari perjuangan.

“Wisuda tahfidz ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan, mengamalkan isinya, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” tegasnya

Perjuangan panjang serta kerja keras para santri dalam belajar tidak boleh berakhir dalam kegiatan haflah ini, melainkan hafalan Al-Qur’an diharapkan menjelma menjadi akhlak yang baik (akhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari, menjadi teladan ditengah umat dan bangsa. Lanjut Heri

Suasana semakin menyentuh ketika prosesi penyematan selempang penghargaan dilakukan kepada para wisudawan dan wisudawati. Banyak orang tua santri yang tak kuasa menahan air mata bangga melihat pencapaian anak-anak mereka.

Selain prosesi wisuda, acara Haflah Akhirussanah sebagai penanda berakhirnya Tahun Ajaran 2025/2026 ini juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan kreativitas santri. Mulai dari lantunan ayat suci Al-Qur’an yang syahdu, nasyid, hingga pentas seni islami yang memukau para hadirin.

Melalui momentum ini, Ponpes Hidayatullah Bolaang Mongondow kembali menegaskan komitmen kuatnya untuk terus melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Menakar Ulang Makna Hijrah dan Jihad sebagai Fondasi Sosial-Politik Umat Masa Kini

0
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed (Foto: Made from digital artificial intelligence/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA, [hidayatullah.or.id] — Di tengah disrupsi zaman dan derasnya godaan duniawi, mempertahankan keimanan acapkali menjadi tantangan yang berat bagi umat Muslim. Merespons fenomena tersebut, Ustadz Muzakkir Usman, M.Ed., Ph.D menguraikan secara mendalam mengenai esensi iman, hijrah, dan jihad dalam khotbah Jum’at di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Jumat (26/6/2026).

Mengawali khotbahnya, Muzakkir membedah Surat Al-Baqarah ayat 218 yang dibuka dengan kalimat ketegasan, “Inna” (Sesungguhnya). Menurutnya, penggunaan kata ini secara tata bahasa retorika Arab mengisyaratkan bahwa pesan yang dibawa setelahnya memuat urgensi yang sangat besar untuk dipelajari.

Melalui ayat ini, Allah Swt. mengkategorikan orang-orang yang beriman, berhijrah, serta berjihad di jalan Allah sebagai golongan yang sama-sama berhak mengharapkan rahmat-Nya (yarjuna rahmatallah).

“Allah menyebutkan ‘Innaladzina amanu’ (sesungguhnya orang-orang yang beriman) lalu menyandingkannya dengan orang yang berhijrah dan berjihad. Ini adalah bentuk apresiasi dan penghargaan. Sebab, ada orang-orang yang karena faktor usia, sakit, atau udzur lainnya, tidak bisa ikut berhijrah fisik secara langsung, namun mereka tetap bertahan mempertahankan keimanan dari berbagai intimidasi,” terang Muzakkir di hadapan para jemaah.

Secara historis, khotbah ini mengingatkan kembali kelamnya fase 13 tahun awal Islam di Makkah. Tokoh-tokoh seperti Bilal bin Rabah dan keluarga Ammar bin Yasir harus merasakan siksaan fisik serta intimidasi mental yang berat dari kafir Quraisy. Pengorbanan luar biasa juga berlanjut ketika perintah migrasi fisik dari Makkah ke Madinah diturunkan, di mana para sahabat harus rela meninggalkan harta benda, keluarga, hingga jaringan bisnis yang telah mereka bangun sekian lama demi menyelamatkan akidah.

Kontekstualisasi Hijrah Universal

Kendati memiliki latar belakang sejarah yang spesifik, Muzakkir menekankan bahwa makna hijrah tidak boleh berhenti sebagai lembaran masa lalu saja. Merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda bahwa seorang muhajir (orang yang berhijrah) yang sejati adalah mereka yang bermigrasi meninggalkan apa pun yang dilarang oleh Allah Swt.

“Dengan landasan hadis ini, makna hijrah bertransformasi menjadi sangat universal. Konteksnya terus hidup dalam perjalanan harian kita. Bagaimana kita hijrah dari kebiasaan maksiat masa lalu, memupuk kebaikan, bahkan berpindah mencari lingkungan sosial yang lebih saleh demi menjaga visi keimanan kita,” paparnya.

Lebih jauh, lulusan program doktoral Universiti Malaya ini menggarisbawahi bahwa cita-cita tertinggi dari hijrah yang dilakukan atas dasar fi sabilillah (di jalan Allah) bukan karena motif duniawi atau kepentingan kesukuan semata,  melainkan untuk membangun komunitas masyarakat yang berperadaban. Komunitas yang hidup bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara dengan fondasi saling mengharap rida Allah.

Jaminan Tempat Terbaik dan Surga

Menutup khotbahnya, Muzakkir Usman mengingatkan bahwa setiap jalan perubahan (hijrah) pasti diiringi rintangan psikologis maupun sosial. Namun, umat Muslim diminta tidak berkecil hati karena Allah Swt. telah memberikan garansi yang mutlak.

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, bagi siapa saja yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, Allah menjamin akan memberikan tempat tinggal sekaligus kehidupan yang baik di dunia (lanubawwi’annahum fid-dunya hasanah).

“Allah adalah sebaik-baik pemberi janji. Jika kita tulus meninggalkan kesenangan semu demi ketaatan, yakinlah Allah akan pastikan tempat terbaik di dunia bagi kita. Ditambah lagi, ganjaran di akhirat kelak jauh lebih besar, yaitu rezeki terbaik berupa surga-Nya yang kekal,” pungkas Muzakkir.

Muzakkir Usman, M.Ed., Ph.D / Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan

Monev DPW Hidayatullah Banten Didorong Perkuat Dakwah dan Pendidikan Masyarakat Secara Masif

0

SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Gerakan dakwah dan pendidikan Hidayatullah di wilayah Banten harus dijalankan secara lebih masif, terstruktur, dan mampu menghadirkan dampak yang semakin luas bagi masyarakat.

Penegasan tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten yang berlangsung pada Kamis, 10 Muharram 1448 (25/6/2026) dengan pendamping Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Wahyu Rahman.

Dalam forum tersebut, Wahyu Rahman menyampaikan apresiasi atas perkembangan organisasi di Banten yang dinilainya menunjukkan kemajuan signifikan pada berbagai bidang. Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting untuk memasuki tahapan pengembangan berikutnya melalui penguatan kualitas pendidikan dan perluasan pelayanan dakwah kepada masyarakat.

“Apresiasi besar atas capaian luar biasa DPW Banten. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana kita mampu menggerakkan lini pendidikan dan dakwah secara lebih masif, dengan Al-Firdaus sebagai salah satu motor utamanya,” ujar Wahyu Rahman.

Selain memberikan apresiasi, pendamping wilayah juga menyampaikan sejumlah catatan yang menjadi perhatian pengurus DPW Hidayatullah Banten. Penguatan mutu lembaga pendidikan ditempatkan sebagai prioritas agar mampu melahirkan institusi yang unggul, berintegritas, dan memiliki daya saing.

Di saat yang sama, Wahyu Rahman berharap agar Yayasan Al-Firdaus di Serpong, Tangerang Selatan, terus diupayakan menjadi pijakan utama dalam mempercepat pengembangan program dakwah dan pendidikan di tingkat wilayah.

Menanggapi arahan tersebut, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, menegaskan bahwa seluruh masukan dalam agenda monitoring dan evaluasi akan menjadi landasan penguatan program organisasi pada masa mendatang.

“Catatan yang disampaikan dalam Monev ini menjadi energi bagi kami untuk terus memperkuat kualitas organisasi. Dakwah dan pendidikan harus tumbuh beriringan, dikelola secara profesional, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui program-program yang terukur dan berkelanjutan,” kata Dadan.

Dadan menambahkan, pertemuan ini menjadi forum evaluasi sekaligus penyelarasan langkah organisasi dalam memperkuat pelayanan dakwah, pendidikan, dan pengembangan kelembagaan Hidayatullah di Provinsi Banten.

Menurutnya, percepatan pengembangan organisasi memerlukan konsolidasi seluruh elemen kepengurusan agar setiap program dapat berjalan selaras dengan arah kebijakan Hidayatullah. Penguatan kualitas sumber daya, tata kelola lembaga, serta sinergi antardepartemen menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan agenda tersebut.

Agenda Monitoring dan Evaluasi turut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Banten Dadan Abdul Fattah, Sekretaris Mohammad Irwan, Bendahara Gunawan Muhammad, serta para kepala departemen dan amal/badan usaha.

Layanan Kesehatan Gratis Jangkau 545 Warga Desa di Banyumas

0

BANYUMAS (Hidayatullah.or.id) — Program “Layanan Kesehatan Gratis: Klinik Medis Bergerak” yang diselenggarakan oleh Muslim World League (Rabithah Al-Alam Al-Islami) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Ahad (21/6/2026), menghadirkan layanan kesehatan langsung bagi masyarakat perdesaan melalui kolaborasi sejumlah lembaga.

Kegiatan ini melibatkan Islamic Medical Service (IMS), PT Indo Vest Global Pratama, serta Pondok Pesantren Hidayatullah Banyumas sebagai mitra lokal.

Pelayanan kesehatan dipusatkan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Dusun II, Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Selain menyediakan lokasi kegiatan, pihak pesantren juga mendukung penyediaan infrastruktur serta membantu mobilisasi warga sehingga layanan dapat berjalan dengan tertib dan efektif.

Kondisi geografis sebagian wilayah di Banyumas menjadi salah satu latar belakang pelaksanaan program ini. Jarak yang cukup jauh menuju fasilitas kesehatan serta biaya transportasi yang tidak sedikit kerap menjadi kendala bagi masyarakat dalam memperoleh layanan medis.

Melalui konsep layanan kesehatan bergerak, tim medis membawa peralatan dan tenaga kesehatan langsung ke lokasi kegiatan. Masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan, konsultasi dokter umum maupun dokter spesialis, serta obat-obatan sesuai hasil diagnosa tanpa harus meninggalkan wilayah tempat tinggal mereka.

Data panitia mencatat sebanyak 545 penerima manfaat telah mendapatkan layanan kesehatan selama kegiatan berlangsung. Angka ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Banyumas, Ustadz Muhajir, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.

“Atas nama keluarga besar pesantren dan seluruh warga, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Muslim World League, IMS, dan PT Indo Vest Global Pratama yang telah membawa berkah kesehatan ke kampung kami,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti nyata bahwa program layanan kesehatan gratis seperti ini sangat dibutuhkan dan dinantikan.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung aman dan tertib, meskipun ratusan warga telah hadir sejak pagi untuk mengikuti pemeriksaan. Tim medis mengatur pelayanan secara bertahap agar seluruh peserta mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medis masing-masing.

Training Konselor Keluarga 2026 Ditutup, Hidayatullah Perkuat Pendidikan Keluarga sebagai Pilar Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pendidikan keluarga dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi dan membangun peradaban Islam. Karena itu, penguatan kapasitas para pendamping dan konselor keluarga menjadi bagian penting dari agenda pembinaan umat yang terus dikembangkan Hidayatullah.

Hal tersebut mengemuka dalam penutupan Training Konselor Keluarga 2026 bertema “Mewujudkan Konselor yang Unggul, Profetik, dan Profesional” yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah (PDH) Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Pada malam Rabu (24/6/2026), bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah.

Kegiatan yang diikuti peserta dari berbagai wilayah Hidayatullah di Indonesia tersebut secara resmi ditutup oleh Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D.

Dalam arahannya, Ust. Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., yang hadir mewakili Dr. Nanang Noerpatria, S.Pd., M.Pd.I Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, menegaskan bahwa penguatan pendidikan keluarga merupakan bagian dari strategi besar Hidayatullah dalam mewujudkan visi organisasi sebagai gerakan yang mandiri dan berpengaruh.

Menurutnya, dalam struktur organisasi periode 2025–2030, bidang pendidikan dan pengkaderan mendapat perhatian khusus untuk memastikan proses pembinaan generasi berjalan lebih optimal dan terintegrasi.

“Kegiatan pendidikan pada hakikatnya adalah kegiatan pengkaderan. Karena itu, pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu, tetapi juga menyiapkan generasi yang memiliki karakter, visi perjuangan, dan kemampuan membangun peradaban,” ujarnya.

Muzakkir menjelaskan bahwa pesantren tetap menjadi inti dari sistem pendidikan Hidayatullah. Menurutnya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan formal, melainkan ekosistem pembinaan yang menumbuhkan nilai spiritual, intelektual, kepemimpinan, dan karakter peserta didik secara menyeluruh.

“Hidayatullah lahir dari ekosistem pesantren. Karena itu, penguatan pesantren menjadi bagian penting dalam pembangunan pendidikan kita ke depan,” katanya.

Ia mengingatkan agar pengembangan layanan pendidikan tidak mengabaikan kekuatan utama pesantren sebagai ruang pembinaan yang komprehensif. Menurutnya, banyak keunggulan pendidikan berasrama yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh model pendidikan lainnya.

Dalam konteks tersebut, pendidikan keluarga menjadi salah satu instrumen penting yang harus diperkuat. Muzakkir menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah dan pesantren, tetapi juga oleh kualitas pengasuhan di lingkungan keluarga.

“Pendidikan keluarga memastikan para guru dan orang tua memiliki visi yang sama dalam mendidik generasi. Di sinilah keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda di era digital. Berdasarkan sejumlah hasil survei yang ia paparkan, banyak peserta didik kini lebih memilih mencari solusi atas persoalan pribadi maupun keluarga melalui kecerdasan buatan (AI) dibanding berkonsultasi kepada guru, orang tua, atau pembina.

Karena itu, menurutnya, kemampuan konseling dan pendampingan menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan dalam dunia pendidikan dan pengasuhan.

“Kita perlu memastikan para pengasuh, guru, dan pendidik memiliki kemampuan konseling yang baik sehingga anak-anak tidak kehilangan figur tempat bertanya dan mendapatkan bimbingan,” katanya.

Muzakkir mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan yang diinisiasi Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah awal dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan pendampingan keluarga secara lebih profesional dan terarah.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor keluarga akan semakin besar seiring meningkatnya kompleksitas persoalan rumah tangga dan tantangan pengasuhan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

“Banyak peluang kebaikan yang bisa dilakukan melalui kolaborasi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Training Konselor Keluarga 2026 merupakan program penguatan kapasitas yang dirancang untuk melahirkan konselor keluarga yang memiliki kompetensi profesional, berlandaskan nilai-nilai Islam, serta mampu menjadi mitra bagi keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.

Melalui pelatihan tersebut, Hidayatullah berharap lahir lebih banyak pendamping keluarga yang mampu memperkuat ketahanan keluarga Muslim, sekaligus berkontribusi dalam membangun masyarakat dan peradaban Islam yang lebih kokoh.

KHUTBAH JUMAT Kemuliaan Muharram dan Momentum Muhasabah

Muharram tidak hanya menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriyah, tetapi juga menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Pergantian tahun hendaknya menjadi sarana mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki kekurangan, dan meningkatkan kualitas ibadah sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.

Melalui khutbah berjudul “Kemuliaan Muharram dan Momentum Muhasabah”, Ust. Abdul Maliki, S.Sos mengajak kaum Muslimin untuk menjadikan Muharram sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bertakwa. Khutbah ini menekankan pentingnya menghisab diri sebelum datangnya hari perhitungan, mengingat setiap amal sekecil apa pun akan ditimbang dengan penuh keadilan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selain mengingatkan tentang hakikat Mizan (timbangan amal) pada Hari Kiamat, khutbah ini juga mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal-amal yang berat timbangannya, seperti berdzikir, memperbaiki akhlak, membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, serta memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram.

Meneladani Akhlak Rasulullah dan Tantangan Masa Kini

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: keluarga.jpg

“Bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ di tengah keluarganya?”

Pertanyaan ini diajukan oleh seorang tabi’in kepada Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar. Sebagai sosok yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ, Aisyah memberikan jawaban yang singkat namun sarat makna:

“Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya; tidak pernah berbuat keji, tidak berkata kotor, tidak berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi beliau memaafkan dan berlapang dada.”

Jawaban ini bukan sekadar pujian seorang istri kepada suaminya. Ia adalah kesaksian jujur tentang pribadi manusia terbaik yang diutus Allah ﷻ untuk menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Akhlak yang Tercermin dalam Kehidupan Sehari-hari

Sering kali seseorang dapat tampil ramah di hadapan orang lain, tetapi berubah ketika berada di rumah. Ada yang santun di tempat kerja, namun kasar kepada keluarga. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ justru menunjukkan akhlak terbaiknya kepada orang-orang yang paling dekat dengannya.

Beliau tidak menggunakan kata-kata yang menyakitkan, tidak merendahkan orang lain, dan tidak melampiaskan kemarahan kepada keluarganya. Akhlak beliau tidak berubah oleh keadaan, baik ketika senang maupun saat menghadapi kesulitan.

Inilah pelajaran penting bagi kita, bahwa kemuliaan seseorang bukan hanya diukur dari bagaimana ia tampil di depan banyak orang, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya di balik pintu rumahnya.

Tidak Membalas Keburukan dengan Keburukan

Salah satu sifat Rasulullah ﷺ yang paling mengagumkan adalah kemampuannya menahan diri untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan keburukan yang sama.

Padahal, beliau sering menerima celaan, hinaan, bahkan perlakuan kasar dari orang-orang yang memusuhinya. Namun beliau memilih memaafkan. Beliau tidak menyimpan dendam dan tidak menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk berbuat zalim.

Sikap memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa. Seseorang yang mampu mengendalikan amarah dan memberi maaf justru menunjukkan kematangan akhlak yang tinggi.

Di tengah kehidupan yang penuh gesekan dan perbedaan pendapat, teladan ini menjadi sangat relevan. Tidak semua kesalahan harus dibalas. Terkadang, memaafkan justru menjadi jalan terbaik untuk menjaga persaudaraan dan ketenangan hati.

Menjaga Lisan, Menjaga Kehormatan

Hadis ini juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan. Rasulullah ﷺ tidak pernah berkata keji atau mengucapkan kata-kata yang kotor.

Lisan adalah cermin hati. Ketika hati dipenuhi kelembutan, maka yang keluar adalah perkataan yang baik. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kemarahan dan kesombongan akan mudah mengeluarkan ucapan yang menyakiti.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam berbicara. Kata-kata yang baik dapat menguatkan, menenangkan, dan mendekatkan hati. Sedangkan kata-kata yang kasar dapat meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.

Menjadi Umat yang Meneladani Rasulullah ﷺ

Akhlak Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani. Rumah tangga yang penuh kasih, pergaulan yang santun, serta sikap pemaaf dan lapang dada merupakan bagian dari warisan akhlak beliau yang harus terus dihidupkan.

Di zaman yang serba cepat dan penuh ketegangan ini, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas, tetapi juga pribadi-pribadi yang lembut hatinya, santun lisannya, dan mulia akhlaknya.

Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang berusaha meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kehadiran kita menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, dan umat. Aamiin.

Khoirul Anam, S.Sos.I / Penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq Deli Serdang, Pengisi Kajian Al-Qur’an dan Tafsir Hidayatullah Medan

Muharram 1448 H, Hidayatullah Kupang Teguhkan Peran Kader sebagai Pelaku Perubahan Umat

0

KUPANG — Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Kupang bersama lembaga pendidikan di bawah naungannya menyelenggarakan kegiatan “Ngopi Muharram (Ngobrol Peningkatan Iman Tahun Baru Hijriyah)” pada 19–20 Juni 2026 di Kampus Hidayatullah Kota Kupang.

Mengusung tema “Menguatkan Ukhuwah, Menyatukan Langkah, Menyongsong Perubahan dan Peradaban Islam”, kegiatan ini diikuti oleh kader, pengurus, guru, mahasiswa, dan jamaah Hidayatullah Kota Kupang. Selain menjadi ajang silaturahim, kegiatan ini juga menjadi momentum refleksi hijrah dan penguatan ruh perjuangan dalam mengemban amanah dakwah dan pendidikan.

Dalam arahan umumnya, Ketua DPD Hidayatullah Kota Kupang, Ust. Al-Hafsi Gadri, S.Sos., M.Pd., menegaskan pentingnya menjadikan Tahun Baru Hijriyah sebagai momentum memperkuat dua fondasi utama perjuangan, yaitu iman dan amal.

Menurutnya, iman merupakan penentu arah sekaligus penggerak dakwah bagi setiap dai dan kader Hidayatullah. Sementara itu, amal menjadi bukti keimanan sekaligus sumber energi yang menjaga keberlanjutan perjuangan dakwah dan pendidikan.

“Mari jadikan Tahun Baru Hijriyah ini sebagai momentum untuk memperkuat iman dan memperbesar amal. Iman adalah penentu gerak dakwah kita, sedangkan amal adalah energi yang menjaga semangat dan keberlanjutan perjuangan yang kita emban,” tegasnya.

Pada sesi pencerahan, Sekretaris DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Timur, Ust. Ali Lingge, S.H.I., menekankan pentingnya menjaga dan menguatkan ukhuwah Islamiyah sebagai salah satu kunci keberhasilan dakwah dan pembangunan umat.

Menurutnya, dakwah yang besar tidak lahir dari individu-individu yang berjalan sendiri, melainkan dari jamaah yang kuat, saling percaya, dan saling menguatkan dalam bingkai persaudaraan Islam.

“Ukhuwah adalah salah satu kunci sukses membangun umat. Karena itu saya berpesan agar seluruh dai dan kader Hidayatullah senantiasa mengedepankan ukhuwah dalam setiap interaksi dakwah, baik di lingkungan internal maupun eksternal,” pesannya.

Sementara itu, Anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah NTT, Ust. Syaiful Bahri, S.Ag., M.H., mengajak seluruh peserta menjadikan Muharram sebagai titik awal peningkatan kualitas diri dan perjuangan.

Ia mengingatkan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga sebagai transformasi menuju kualitas iman, ilmu, amal, dan pengorbanan yang lebih baik.

“Mari memasuki Tahun Baru Hijriyah dengan iman yang lebih kuat, ukhuwah yang lebih hangat, ilmu yang lebih luas, kerja yang lebih profesional, pengorbanan yang lebih besar, dan semangat yang lebih menyala,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kader Hidayatullah tidak dididik untuk menjadi penonton perjalanan umat, melainkan pelaku perubahan dan pembangun peradaban.

“Kita tidak dididik untuk menjadi penonton sejarah. Kita dididik untuk menjadi pelaku sejarah. Jika para perintis telah mewariskan perjuangan kepada kita, maka tugas kita bukan sekadar menjaganya, tetapi membesarkannya,” tegasnya.

Selain sesi pencerahan dan refleksi Muharram, kegiatan ini juga diisi dengan halaqah Al-Qur’an, shalat berjamaah, tausiyah Muharram, diskusi kader, silaturahim, qiyamul lail, serta kajian ba’da Subuh yang semakin menguatkan suasana ukhuwah dan semangat kebersamaan.

Melalui kegiatan Ngopi Muharram 1448 H ini, Hidayatullah Kota Kupang berharap seluruh kader dan jamaah semakin kokoh dalam keimanan, semakin erat dalam persaudaraan, serta semakin siap mengemban amanah dakwah dan pendidikan untuk melahirkan perubahan dan membangun peradaban Islam yang diridhai Allah SWT.

Mengakhiri rangkaian kegiatan, para peserta meneguhkan komitmen menjadikan Muharram sebagai momentum hijrah diri, menguatkan ukhuwah, dan meneguhkan langkah perjuangan dalam membangun umat dan peradaban Islam.