Beranda blog Halaman 109

Ustadz Nursyamsa Sampaikan Refleksi Sabar dan Ikhlas untuk Menjadi Generasi Pembelajar

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Yanmat) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Drs. Nursyamsa Hadis, menekankan pentingnya memprioritaskan kesabaran dan keikhlasan dalam proses menuntut ilmu.

Hal itu disampaikan saat ia mengisi kajian pekanan Ramadan, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidaytaullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 9 Ramadhan 1446 (9/3/2025). Acara ini dimoderatori oleh Ustadz Zidny, salah seorang pengasuh santri Pondok Pesantren Hidayatullah.

Ustadz Nursyamsa membuka sesi dengan menjelaskan definisi kesabaran yang menjadi landasan utama bagi setiap pembelajar.

Beliau menggarisbawahi bahwa sikap batin yang tulus dan ketabahan dalam menghadapi tantangan belajar merupakan kunci untuk mengubah ilmu menjadi kekuatan transformatif, bukan sekadar pengetahuan pasif.

“Sebagai pembelajar haruslah sabar dan ikhlas, dengan keikhlasan maka akan mendatangkan kebahagiaan yang dapat mentransformasi ilmu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustadz Nursyamsa memaparkan pentingnya memahami makna bacaan-bacaan ibadah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tuntunan dalam kehidupan.

Pada kesempatan tersebut, ia melakukan riset kecil terhadap beberapa jamaah yang hadir dan menemukan fakta bahwa hanya sedikit di antara mereka yang memahami arti bacaan dalam ibadah, seperti salat, dzikir, dan Al-Qur’an.

Temuan ini menjadi sorotan kritis bagi para pendidik. Menurutnya, ketidakpahaman terhadap makna bacaan tersebut menghambat akses mendalam terhadap ilmu pengetahuan.

“Hasilnya, hanya sedikit jamaah yang mengerti arti dalam setiap bacaan sebagai panduan ibadah. Inilah yang menjadi bahan evaluasi yang perlu dicermati oleh tenaga pendidik, jika tidak mengetahui arti bahkan makna dalam sebuah bacaan salat, dzikir, Al-Qur’an, dan sebagainya maka akan sulit mengakses ilmu pengetahuan secara mendalam,” paparnya.

Pelajar dan Pembelajar

Masih dalam materinya, Ustadz Nursyamsa menegaskan bahwa pemahaman makna adalah pintu masuk untuk menjiwai ilmu, bukan sekadar menghafalnya. Dalam konteks ini, Ustadz Nursyamsa membedakan antara “pelajar” dan “pembelajar”.

“Tidak akan ada perubahan jika kita memposisikan diri sebagai seorang pelajar yang sekadar menghafal, beda halnya dengan pembelajar yang mengamalkan bahkan menjiwai apa yang ia pelajari,” katanya.

Seorang pembelajar, menurutnya, tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga mengamalkan dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pedoman ilahi yang menawarkan kebenaran dan petunjuk hidup.

Namun, ia menyayangkan bahwa meskipun jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 245,97 juta jiwa atau 87,08% dari total populasi, umat Islam masih belum mampu memegang kendali stabil dalam memimpin bangsa.

“Mengapa kita tidak mampu memimpin, dikarenakan kita sudah puas dalam posisi seorang pelajar yang hanya mengumpulkan ilmu tanpa dikembangkan dengan mengetahui,” tegasnya.

Ia pun mengkritik kecenderungan pelajar yang berhenti pada tahap hafalan tanpa pengembangan, yang pada akhirnya melahirkan pola pikir berorientasi hawa nafsu dan rentan melahirkan praktik korupsi.

Selain itu, Ustadz Nursyamsa menyoroti pentingnya kesadaran sosial sebagai bagian integral dari seorang pembelajar, terutama di bulan Ramadan yang menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

“Seseorang yang selalu membina spiritualnya harus mampu mengembangkan pikirannya akan kepedulian terhadap sesama manusia,” tuturnya, seraya menegaskan bahwa ilmu yang sejati tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang nyata, seperti empati dan solidaritas.

Sebagai penutup, acara diwarnai sesi tanya jawab yang memungkinkan peserta dengan mentalitas ingin tahu untuk berinteraksi langsung dengan pemateri. Bagi mereka yang aktif, Ustadz Nursyamsa memberikan hadiah berupa buku lawas peninggalan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, sebagai simbol penghargaan terhadap semangat belajar.[]

(Laporan naskah oleh Faisal Daariy dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

Mengasih Pengetahuan Memberi Bacaan

0

SAYA menyaksikan satu hal yang boleh jadi langka tentang gaya transformasi dari senior ke generasi muda. Ahad pagi ini (9/3/2025) Ust. Drs. Nursyamsa Hadits hadir sebagai pemateri dalam kajian Ramadhan di Masjid Ummul Qura Depok, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Ia tak saja memberi pengetahuan tetapi juga mengasih bacaan.

Bacaan itu berupa buku yang ia telah siapkan. Pertama yang mendapat hadiah buku itu adalah moderator. Kemudian tiga orang santri yang bertanya pada sesi diskusi.

Langkah Ust. Nursyamsa itu mengingatkanku kepada Kang Maman, pegiat literasi yang setiap datang ke sebuah acara, setiap penanya pasti akan ia kasih sagu hati berupa bacaan.

Filsafat Memberi

Memberi, meski secara fisik mengurangi jumlah materi atau sumber daya yang kita miliki, justru sebenarnya, secara hakikat amal itu memberikan keuntungan yang lebih besar dalam bentuk manfaat psikologis, sosial, dan spiritual.

Lihatlah fenomena ibu yang menyusui bayinya. Ia kehilangan waktu, kesempatan untuk melakukan hal lain. Namun, ibu melakukan itu dengan senang hati.

Selain itu memang ada dampak baik yang ibu rasakan. Ibu yang menyusui cenderung lebih sehat karena proses menyusui memicu berbagai respons biologis dan psikologis yang bermanfaat bagi tubuh. Secara fisiologis, produksi ASI merangsang pelepasan hormon oksitosin dan prolaktin.

Oksitosin membantu kontraksi rahim pasca-melahirkan, mengurangi risiko perdarahan, serta mempercepat pemulihan organ reproduksi.

Sementara itu, prolaktin tidak hanya mendukung produksi ASI tetapi juga memiliki efek menenangkan, mengurangi stres, dan meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan bayi.

Lebih jauh, secara psikologis, tindakan memberi merangsang pelepasan hormon seperti dopamin dan oksitosin yang meningkatkan rasa bahagia dan keterhubungan dengan orang lain.

Secara sosial, memberi memperkuat ikatan komunitas, membangun kepercayaan, dan menciptakan jaringan dukungan yang mungkin suatu hari akan menguntungkan kita.

Kemudian secara spiritual, memberi mengajarkan kerendahan hati, mengurangi keterikatan pada harta, dan memperluas perspektif tentang kekayaan yang tidak hanya terbatas pada materi.

Dalam jangka panjang, kebiasaan memberi justru meningkatkan kualitas hidup, karena manusia pada dasarnya makhluk yang berkembang melalui hubungan timbal balik dan kontribusi terhadap sesama.

Jadi, apa yang Ust. Nursyamsa lakukan adalah sebuah metode menjadikan diri begitu berarti bagi anak muda. Kaum muda melihat langsung teladan bahwa memberi bisa dua sisi, pengetahuan sekaligus bacaan (buku).

Langkah Transformatif

Apa yang Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah lakukan pada pagi itu menunjukkan tentang langkah transformatif yang jitu. Tampak sederhana namun membekas dalam bagi jiwa dan semua yang menyaksikan.

Begitulah manusia yang sadar dan secara bebas ingin bermanfaat secara lebih dalam, lebih panjang, bahkan abadi bagi gerakan kebaikan yang berkelanjutan.

Dalam filsafat eksistensialisme , memberi bisa menjadi bentuk kebebasan manusia untuk menciptakan makna hidup melalui aksi yang mengatasi individualisme.

Puncaknya dari cara Ust. Nursyamsa Hadits kita bisa belajar bahwa transformasi nilai bisa kita lakukan dengan berbagai pendekatan. Mulai dengan memberi hadiah bacaan, hingga rela menjadi mentor bagi anak-anak muda, yang sebenarnya mereka merasa sangat berharga kala ada forum-forum tukar pikiran semacam kajian-kajian yang selama ini berlangsung.[]

*) Imam Nawawi, penulis Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Sinergi Dakwah di Bulan Ramadhan, Grand MBA Perkuat Pemahaman Al-Qur’an

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat Ramadhan yang penuh berkah, Masjid Hidayatul Ikhlas Polres Palopo menjadi saksi peluncuran Gerakan Dakwah Nasional Mengajar Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) pada Jum’at, 7 Ramadhan 1446 (7/3/2025).

Program ini digagas oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kota Palopo bekerja sama dengan Polres Palopo dan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Sulsel.

Berorientasi pada pendalaman pemahaman Al-Qur’an, Grand MBA hadir sebagai wujud kolaborasi strategis antarlembaga guna meningkatkan kualitas interaksi umat dengan kitab suci.

Acara ini dihadiri oleh Rezkiyaman SW (Kepala Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel), Imran Djufrie (Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo), dan Ahmad Syahril (Ketua PosDai Sulsel).

Kehadiran Kapolres Palopo, AKBP Safi’i Nafsikin, SH, SIK, MH, beserta jajaran personelnya semakin mengukuhkan semangat kebersamaan dalam menghidupkan budaya belajar dan mengajar Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Kapolres Palopo menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki dampak positif bagi anggota kepolisian, khususnya dalam meningkatkan keterampilan membaca dan memahami Al-Qur’an.

“Kami berharap program ini terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi seluruh personel,” ungkap AKBP Safi’i Nafsikin dengan penuh optimisme.

Sementara itu, Koordinator Unit Layanan Zakat (ULZ) BMH Palopo, Muhammad Idris, menyoroti pentingnya momentum Ramadhan untuk memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an.

“Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an perlu dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dengan kitab suci,” katanya.

Peluncuran Grand MBA di bulan Ramadhan ini juga menghadirkan sosialisasi program Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) di lingkungan Polres Palopo. Sinergi antara dakwah dan layanan sosial ini diharapkan mampu menjadi jembatan bagi peningkatan kesadaran spiritual dan kepedulian sosial.

Ketua PosDai Sulsel Ahmad Syahril mengatakan program Grand MBA merupakan inisiatif berkelanjutan yang bertujuan mencetak generasi yang lebih akrab dengan Al-Qur’an.

Dengan melibatkan berbagai elemen, dari ulama hingga aparat keamanan, Grand MBA menjadi simbol bahwa pembelajaran Al-Qur’an adalah tanggung jawab kolektif yang harus dijaga dan dikembangkan secara bersama-sama.

“Peluncuran Grand MBA di Polres Palopo ini menandai langkah konkret dalam menjadikan Ramadhan sebagai momen transformasi spiritual,” kata Syahril.

Melalui kolaborasi strategis antarlembaga, program ini diharapkan menjadi gerakan yang terus berlanjut dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat sebagai aksi nyata dalam membangun generasi yang cinta Al-Qur’an.*/Herim

Wasekjen Hidayatullah Hadiri Undangan Iftar Wakil Ketua MPR RI, Momentum Refleksi Kebangsaan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, mewakili Hidayatullah menghadiri undangan buka puasa (iftar) Ramadhan yang digelar Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, MA., di rumah rumah dinasnya Jalan Kemang Selatan Raya, Jakarta Selatan, Jum’at, 7 Ramadhan 1446 (7/3/2025).

Di tengah upaya efisiensi anggaran yang tengah digencarkan oleh pemerintah, Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid, tetap berkomitmen untuk mengadakan acara buka puasa bersama (bukber) di rumah dinasnya di kawasan Kemang.

Menurutnya, menjalin silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat merupakan aspek penting dalam menjaga kebersamaan dan solidaritas sosial.

Acara bukber yang menjadi momentum kebersamaan dan refleksi Kebangsaan ini diawali dengan pemutaran video dokumenter yang menyoroti kiprah pria yang biasa disapa HNW ini dalam kiprah sebagai wakil rakyat dan upayanya membela Palestina selama lebih dari dua dekade.

Dari aksi demonstrasi hingga diplomasi internasional, ia terus berperan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina di berbagai forum.

Dalam sambutannya, HNW menyampaikan rasa syukur atas amanah yang kembali diembannya pasca-Pilpres dan Pilkada 2024. Ia berhasil meraih suara terbanyak sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Jakarta Pusat dan luar negeri. “Terima kasih atas kepercayaannya, semoga tetap bisa amanah,” ujarnya di hadapan para tamu.

Selain Hidayatullah, acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan organisasi Islam, termasuk Dewan Masjid Indonesia (DMI), Persatuan Ummat Islam (PUI), Persatuan Islam (Persis) Jakarta Pusat, Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Pusat, serta berbagai pengurus masjid dan komunitas Islam lainnya.

Bukber dan Refleksi Sejarah

Menariknya, HNW menyoroti makna khusus dari pemilihan hari Jumat, 7 Ramadhan 1446 H sebagai momen bukber. Ia membandingkan momentum ini dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada Jumat, 9 Ramadhan 1364 H. Menurutnya, dalam kalender hijriyah, Indonesia kini berusia 82 tahun.

Selain itu, ia juga memaparkan kiprahnya di Komisi VIII DPR RI dalam memperjuangkan pemisahan Kementerian Agama dan urusan haji agar lebih profesional.

“Alhamdulillah, usulan ini telah disetujui dengan dibentuknya Badan Pelaksana Haji (BPH) yang kini diketuai oleh Gus Muhammad Irfan Yusuf, putra dari KH Yusuf Hasyim dan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari,” jelasnya.

Ia juga mengusulkan agar Istana Negara kembali menjadi pusat peringatan hari besar Islam (PHBI), seperti Nuzulul Qur’an dan Takbiran Idul Fitri. Tradisi ini, menurutnya, memiliki makna historis yang kuat dan bisa memperkuat identitas keislaman serta kebangsaan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai tokoh. Mereka mengapresiasi kiprah HNW di parlemen dan berharap lebih banyak kader berkualitas yang dapat meneruskan perjuangannya.

Selanjutnya, Abdillah Onim, pendiri dan pembina Nusantara Palestina Center (NPC), memberikan pembaruan mengenai kondisi Jalur Gaza. Meski ada gencatan senjata, kebutuhan bantuan bagi warga Palestina tetap mendesak. Ia menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan dari umat Islam, khususnya di Indonesia.

Tausiyah dalam bukber ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Izzat Saleh Jailani, M.A., yang menyoroti pentingnya persatuan di kalangan umat Islam.

Izzat menegaskan bahwa umat Islam harus bersatu dalam pemikiran dan program nyata, bukan hanya dalam kebersamaan di meja makan.

Dengan gaya penyampaian yang santai dan sesekali diselingi pantun, seperti “Ubur-ubur ikan lele, bersatulah umat, jangan ego sendiri le,” suasana tetap rileks meskipun pesan yang disampaikan penuh makna.

Ia juga mengingatkan para wakil rakyat dari partai Islam agar lebih sering bersilaturahmi dan menyerap aspirasi umat, bukan hanya ketika menjelang pemilu.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ketua DMI Jakarta Pusat Syawaluddin Hidayat. Setelah itu, para undangan menikmati hidangan buka puasa bersama, diikuti dengan shalat Maghrib berjamaah yang dipimpin langsung oleh HNW.[]

Puasa sebagai Instrumen Pengendalian Diri Ditengah Krisis Identitas Generasi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sumberdaya Insani Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Muhammad Arfan AU, S.Si, M.Pd, menegaskan bahwa puasa merupakan instrumen langsung dari Allah untuk mengendalikan hawa nafsu manusia.

Ibadah ini menurutnya diberikan tempo istimewa selama bulan suci Ramadhan agar umat Islam dapat menunjukkan eksistensinya secara universal.

Sejak diperintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, puasa telah menjadi jati diri umat Islam dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, terdapat perbedaan mencolok antara praktik puasa di zaman Nabi ﷺ dengan generasi masa kini, terutama yang dikenal sebagai Generasi Z.

Arfan membuka kajian dengan mengklasifikasikan berbagai generasi, mulai dari Generasi Tradisionalis (1922-1945), Baby Boomers (1946-1964), Generasi X (1965-1980), Generasi Y (1981-1996), Generasi Z (1997-2012), hingga Generasi Alpha (2013-sekarang).

Istilah pembagian generasi ini sendiri mulai dikenal luas melalui buku Generation X: Tales for an Accelerated Culture karya Douglas Coupland, yang menggambarkan kehidupan Generasi X sebagai generasi yang merasa hampa dan termarginalkan.

Salah satu perbedaan mendasar yang disoroti oleh Dr. Muhammad Arfan adalah cara berbuka puasa dimana hal ini mencerminkan bagaimana puasa yang seharusnya menjadi latihan pengendalian diri justru berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan.

“Saat zaman Nabi, beliau hanya berbuka dengan tiga butir kurma, sedangkan kita saat ini semua makanan dibabat habis,” katanya dalam Kajian Ramadhan 1446 di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, bertajuk “Puasa Era Nabi vs Puasa Gen Z”, Sabtu, 8 Ramadhan 1446 (8/3/2025).

Selain aspek ibadah, Dr. Muhammad Arfan juga mengangkat isu krusial lainnya: mentalitas Gen Z. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Gen Z memiliki tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 9,9 juta jiwa atau sekitar 50% dari total pengangguran terbuka di Indonesia.

“Mayoritas dari mereka adalah lulusan SMK yang kesulitan mendapatkan pekerjaan,” katanya.

Menurutnya, salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran mental Gen Z adalah era digital native yang membuat mereka terlalu bergantung pada teknologi. “Era digital native juga berdampak pesat terhadap kemunduran mental yang dialami Gen Z,” jelasnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Arfan menekankan pentingnya counter budaya berbasis Islam melalui renovasi lingkungan agar menjadi lebih islami.

“Penanaman nilai melalui lingkungan, baik secara fisik maupun komunitas, sangat penting karena lingkungan berpengaruh besar pada jalan hidup manusia,” ujarnya. Ia melanjutkan, “Lingkungan akan melahirkan culture, culture akan melahirkan pemahaman, pemahaman berasal dari aksi yang diislamisasi.”

Membangun Mentalitas Unggul Melalui Literasi

Selain lingkungan, literasi juga menjadi aspek penting dalam membangun counter budaya. Dr. Muhammad Arfan menegaskan bahwa umat Islam harus memiliki kemauan serta kemampuan untuk menulis agar tidak sekadar menjadi konsumen di era digital.

“Merupakan sunatullah siapa yang pandai menulis maka pikirannya akan melampaui zamannya,” tuturnya.

Ia juga mengkritisi bagaimana Gen Z sering kali terkontaminasi oleh era digital, sehingga tidak memiliki keterampilan menulis yang baik. “Gen Z tidak pandai menulis dikarenakan terkontaminasi dengan era digital native,” tambahnya.

Fakta menarik lainnya adalah bahwa bangsa Barat, meskipun mayoritasnya non-Muslim, tetap mengakses ayat-ayat Al-Qur’an untuk memperoleh kemajuan.

“Mereka maju dikarenakan mengikuti firman Allah, Iqra’ (bacalah). Siapa yang meneliti dengan serius maka akan mendatangkan hasil besar, tanpa memandang status agama,” jelasnya.

Sayangnya, umat Islam sendiri justru kurang mengkritisi dan mendalami Al-Qur’an secara mendalam. “Kita diberikan Al-Qur’an, kita dapat menemukan kebenaran, tetapi tidak mampu mengkritisi kebenaran tersebut secara mendalam,” tegasnya.

Setelah sesi penyampaian materi selesai, sesi tanya jawab dibuka dengan dua pertanyaan dari jamaah. Pertanyaan pertama mengenai cara pembinaan yang tepat bagi Gen Z, sedangkan pertanyaan kedua tentang langkah yang harus diambil jika hasil yang diharapkan tidak sesuai.

Menjawab pertanyaan tersebut, Arfan kembali menegaskan bahwa lingkungan yang islami adalah kunci utama pembinaan. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya ketekunan dan evaluasi dalam mencapai cita-cita.

“Ketika memasang target dalam menyongsong cita-cita, haruslah bersungguh-sungguh disertai evaluasi mendalam,” ujarnya, seraya menegaskan umat Islam harus kembali kepada nilai-nilai fundamental, menguatkan lingkungan yang islami, dan mengembangkan kemampuan literasi untuk menghadapi tantangan zaman.[]

(Laporan naskah oleh Faisal Daariy dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

Kunjungan Syaikh Al-Ausy ke Pusat Dakwah Hidayatullah, Pesan Doakan Pemimpin Negeri

0
Syaikh Abdurrahman Al-Ausy, salah satu qori asal Saudi dan pernah menjadi Imam Tamu di Masjidil Haram Makkah, berkunjung ke Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta (Foto: Hidayatullah.com)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kehadiran Syaikh Abdurrahman Al-Ausy, seorang qari terkemuka asal Arab Saudi yang pernah menjadi Imam Tamu di Masjidil Haram, Makkah, disambut dengan antusias oleh jamaah Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Kamis malam, 6 Ramadhan 1446 (6/3/2025).

Kegiatan ini menjadi momentum istimewa yang tak dilewatkan oleh masyarakat yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Kehadiran Syaikh Al-Ausy memberikan pengalaman istimewa bagi para jamaah, terutama ketika mereka berkesempatan mendengar langsung lantunan ayat suci yang dibacakannya saat memimpin shalat berjamaah.

Suara merdu dan khas dari sang qari menciptakan atmosfer yang khusyuk, membuat banyak jamaah larut dalam suasana ibadah.

Antusiasme tersebut menunjukkan betapa besar kecintaan umat Islam terhadap Al-Qur’an serta keinginan mereka untuk mendapatkan keberkahan dari bacaan yang murni dan indah.

Pesan Kebersamaan

Setelah pelaksanaan shalat tarawih, Syaikh Abdurrahman Al-Ausy menyampaikan tausiyah kepada jamaah, didampingi oleh seorang penerjemah.

Dalam sambutannya, Al-Ausy memulai dengan doa agar seluruh amal ibadah yang dilakukan para jamaah diterima di sisi Allah Ta’ala. Ia juga menekankan pentingnya menjadi bagian dari Ahlul Qur’an, yaitu mereka yang mencintai, menghafal, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Syaikh Al-Ausy juga menekankan keutamaan bulan Ramadhan sebagai waktu yang penuh keberkahan, di mana doa-doa menjadi lebih mustajab. Ia mengajak jamaah untuk senantiasa mendoakan pemimpin negeri ini agar senantiasa diberi petunjuk dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah.

“Bulan Ramadhan ini adalah momen yang tepat di mana doa-doa dikabulkan. Oleh karena itu, kita harus selalu mendoakan pemimpin kita,” ujarnya melalui penerjemah, seperti dikutip dari laman Hidayatullah.com.

Ia menambahkan bahwa mendoakan pemimpin adalah suatu kewajiban bagi umat Islam, karena pemimpin yang baik akan membawa kebaikan bagi rakyatnya.

“Saya memiliki keyakinan bahwa mendoakan pemimpin adalah hal yang wajib. Jika seorang pemimpin baik, maka segala sesuatu yang berada di bawah kepemimpinannya—baik masyarakat maupun seluruh aspek kehidupan—akan menjadi baik pula. Maka, ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tambahnya.

Syaikh Al-Ausy mengakhiri tausiyahnya dengan doa bagi jamaah dan seluruh kaum Muslimin di Indonesia, agar amal ibadah mereka diterima dan negeri ini senantiasa diberkahi.

Syaikh Abdurrahman Al-Ausy, salah satu qori asal Saudi dan pernah menjadi Imam Tamu di Masjidil Haram Makkah, berkunjung ke Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta (Foto: Fadli El Mutawakkil/ Hidayatullah.or.id)
Silaturrahim dengan Pengurus DPP Hidayatullah

Sebelum shalat Isya, Syaikh Abdurrahman Al-Ausy juga berkesempatan bertemu dengan para pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah.

Dalam pertemuan ini, ia disambut dengan hangat oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A., beserta jajaran lainnya.

Silaturahmi ini menjadi momen penting dalam memperkuat hubungan dakwah dan kerja sama dalam bidang pengembangan pendidikan serta penyebaran nilai-nilai Al-Qur’an di Indonesia.

Syaikh Abdurrahman Al-Ausy dikenal sebagai salah satu qari terbaik dari Arab Saudi. Suaranya yang khas dan penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an menjadikannya panutan bagi banyak pencinta Al-Qur’an di berbagai belahan dunia.

Ia telah beberapa kali mengunjungi Indonesia, memberikan inspirasi bagi umat Islam di tanah air untuk lebih mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.[]

Sumber: Hidayatullah.com

Peran Murabbi dan Pola Transmisi Integratif dalam Pendidikan Halaqah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyadari peran strategis dan tugas pokok murabbi dalam kegiatan halaqah, baru-baru ini Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd.I., kembali mengingatkan para murabbi halaqah agar menjalankan peran tersebut secara optimal.

Hal itu, menurut Doktor Pendidikan tersebut, karena anggota halaqah yang dikenal dengan istilah “mutarabbi” adalah individu yang melihat, mendengar, dan merasakan melalu interaksi langsung bersama murabbinya setiap waktu.

Untuk itu, seorang murabbi disebutnya harus mampu memenuhi ketiga kebutuhan di atas secara optimal.

“Kalau murabbi dapat menampilkan ibadah dan akhlak yang baik, maka kebutuhan pertama (melihat, mengamati) ini akan terpenuhi,” ungkapnya dalam satu diskusi di grup obrolan, belum lama ini.

“Perilaku murabbi menjadi teladan nyata bagi mutarabbi,” ujarnya melanjutkan, seperti disitat media ini dari laman portalamanah.com, Jum’at, 7 Ramadhan 1446 (7/3/2025).

Selanjutnya, mutarabbi juga mendengar dan merekam segala hal di sekitarnya. Hal ini terpenuhi ketika murabbi berbicara dengan penuh hikmah, bertutur sesuai petunjuk wahyu, menyampaikan ilmu sekaligus solusi yang relevan atas permasalahan mutarabbi.

“Kata-kata murabbi menjadi peta penuntun yang menggugah hati dan membekas di pikiran mereka,” ucapnya.

Ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Timika tersebut menekankan pula pentingnya murabbi memenuhi kebutuhan jiwa binaannya.

“Murabbi harus mampu menyentuh hati mutarabbi dengan ketulusan, doa, dan munajat yang mendalam. Inilah inti tertinggi dalam proses tarbiyah,” terangnya.

Ustadz Tasyrif lalu mengutip ungkapan “ruhul murabbi ahammu min kulli syai’i,” bahwa ruh seorang murabbi lebih penting daripada segalanya. “Keikhlasan dan spiritualitas murabbi adalah kekuatan utama seorang murabbi,”

Terakhir, ustadz Tasyrif mengingatkan seluruh proses tersebut sebagai pola transmisi integratif. Yakni, jika salah satu aspek—melihat, mendengar, atau merasakan—diabaikan, maka proses pendidikan dan pengakderan tidak akan berjalan secara utuh dan sempurna.*/Masykur Suyuthi

Sinergi Ideasi Bisnis untuk Perkuat Kemandirian Warga Binaan Rutan Depok

0

DEPOK (Hiayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat keterampilan dan kemandirian warga binaan pemasyarakatan (WBP), Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Depok menerima kunjungan dari HiGive Indonesia dan Kode Creative Hub pada Rabu, 5 Ramadhan 1446 (5/3/2025).

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak yang berfokus pada pengembangan ideasi bisnis bagi warga binaan.

Turut hadir dalam pertemuan ini Direktur HiGive Indonesia, Imron Faizin, dan CEO Kode Creative Hub, Didi Diarsa Adiana. Mereka disambut langsung oleh Kepala Rutan Depok, Agus Imam Taufik, yang didampingi oleh jajaran staf yaitu Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Gaffar Waliyondi, Kepala Sub Seksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan Agung Tria Nugraha, serta Kepala Sub Seksi Bimbingan Kegiatan Didik Nurbani.

Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang dan rencana kegiatan yang akan dilakukan di Rutan Depok, terutama dalam bentuk pelatihan dan pendampingan usaha.

Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian keterampilan teknis kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sesuai minat dan bakat mereka, tetapi juga menitikberatkan pada aspek manajemen bisnis, pemasaran, dan pendampingan berkelanjutan.

“Kami ingin pelatihan ini tidak hanya berhenti di dalam Rutan. Setelah mereka bebas, pendampingan tetap akan berlanjut hingga mereka bisa mandiri dan berkontribusi di masyarakat,” ujar Imron Faizin.

Didik Nurbani, selaku Kepala Sub Seksi Bimbingan Kegiatan, mengungkapkan bahwa Rutan Depok telah menjalankan beberapa bisnis yang melibatkan WBP, seperti produksi kopi dengan merek Kerabu, usaha laundry, perkayuan dan mebel, produksi sandal tattoo, pangkas rambut, serta usaha kuliner. Produk-produk ini tidak hanya dikonsumsi secara internal tetapi juga dipasarkan ke luar Rutan.

“Kami sudah punya bisnis kopi Kerabu yang cukup dikenal. Selain menjadi konsumsi para warga binaan, kopi ini juga dijual sebagai oleh-oleh bagi tamu dan mitra yang berkunjung ke Rutan,” jelas Didik.

Menggali Peluang Baru dalam Digitalisasi

Didi Diarsa Adiana, CEO Kode Creative Hub, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan untuk bersilaturahmi ke Rutan Depok dan menggali lebih banyak peluang kolaborasi.

Didi menekankan pentingnya membekali WBP dengan keterampilan digital agar mereka dapat bersaing di dunia kerja dan wirausaha setelah bebas.

“Kami melihat banyak potensi baik di sini. Selain produksi barang, pelatihan digital marketing bisa menjadi tambahan keterampilan bagi warga binaan. Dengan begitu, mereka dapat menjual produk mereka secara lebih luas dan memiliki keterampilan yang relevan dengan era digital,” ujar Didi.

Selain ideasi bisnis, kunjungan ini juga bertujuan untuk berkoordinasi terkait kegiatan coaching pengembangan diri yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan kesiapan mental para WBP untuk menghadapi kehidupan setelah bebas.

Kolaborasi untuk Solusi Sosial

Menurut Imron Faizin, pendekatan bisnis yang digagas ini tidak hanya sekadar program pelatihan, tetapi merupakan bagian dari solusi sosial yang lebih besar. Dengan memberikan keterampilan dan bimbingan berkelanjutan, diharapkan warga binaan tidak kembali ke jalur kriminalitas setelah mereka bebas.

“Kami ingin membangun kolaborasi dengan berbagai pihak agar masalah sosial ini bisa diretas. Ketika seseorang memiliki keterampilan dan kesempatan, mereka memiliki pilihan yang lebih baik untuk hidup mandiri,” tambahnya.

Kepala Rutan Depok, Agus Imam Taufik, melalui Didik Nurbani, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini.

“Kami berterima kasih atas kunjungan dan rencana kolaborasi ini. Ide-ide bisnis yang dikembangkan tidak hanya bermanfaat bagi WBP, tetapi juga berdampak luas pada masyarakat. Kami berharap program ini berjalan lancar dan mencapai tujuannya,” ujar Didik.

Dengan adanya sinergi antara pihak Rutan, HiGive Indonesia, dan Kode Creative Hub, harapan untuk menciptakan warga binaan yang lebih siap menghadapi dunia luar semakin nyata.

Kolaborasi ini tidak hanya membuka peluang ekonomi bagi mereka yang masih menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi upaya konkret dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi mereka setelah bebas.*/Adam Sukiman

Peran Konkret Ormas Islam dan Wacana Representasi di MPR RI

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah suasana Ramadhan yang penuh berkah, pemimpin berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam berkumpul dalam sebuah pertemuan di Kantor Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas), Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis siang, 6 Ramadhan 1446 (6/3/2025).

Pertemuan ini momentum bagi para pemimpin ormas untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah. Salah satu gagasan yang mencuat adalah perlunya mewadahi aspirasi politik ormas Islam melalui mekanisme yang pernah ada di masa lalu: utusan golongan di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, MA, menegaskan bahwa ormas Islam memiliki basis keanggotaan yang riil, loyalitas yang kuat, dan peran konkret dalam masyarakat.

“Ormas Islam memiliki anggota yang riil dan loyal, perannya konkrit di masyarakat, berkonstribusi untuk kemajuan bangsa dan negara. Itulah sebabnya aspirasi politiknya perlu diwadahi,” ujar Nashirul dalam pertemuan tersebut.

Pernyataan ini disampaikan di hadapan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas), Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., yang menerima kunjungan dari berbagai pemimpin ormas Islam.

Dalam pertemuan tersebut, Nashirul Haq tidak hanya menyampaikan gagasan tentang representasi politik ormas Islam, tetapi juga menyoroti berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam hal penegakan hukum.

Ia menekankan bahwa pemerintahan harus mampu memberikan kepastian hukum yang jelas dan konsisten agar kepercayaan masyarakat terhadap negara tetap terjaga.

Wacana untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 versi asli juga menjadi salah satu topik yang didiskusikan, seiring dengan meningkatnya suara dari sejumlah tokoh bangsa yang mengusulkan hal tersebut.

Nashirul pun mengapresiasi pertemuan silaturahim di bulan Ramadhan ini yang menurutnya tidak hanya menjadi ajang memperkuat ukhuwah, tetapi juga merajut benang merah antara peran keumatan dan peran kebangsaan.

Harapan Ormas Islam

Di sisi lain, para pemimpin ormas Islam yang hadir juga menyampaikan harapan agar pemerintah lebih terbuka dalam berdialog dengan masyarakat.

Transparansi dalam kebijakan dan komunikasi yang lebih aktif diharapkan dapat meredakan berbagai keresahan publik terkait dengan berbagai kebijakan yang dianggap kurang jelas atau kontroversial.

Konsistensi dalam penerapan kebijakan, mulai dari stabilitas keamanan hingga kepastian hukum dalam berbagai rancangan undang-undang yang masih tertunda di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menjadi poin yang juga masuk dalam pembahasan.

Momentum pertemuan ini menghasilkan kesepakatan penting, diantaranya dialog antara pemerintah dan ormas Islam perlu lebih intensif dan berkelanjutan, khususnya dalam isu-isu strategis seperti hukum dan hak asasi manusia.

Ormas Islam juga berharap, komunikasi yang lebih erat antara kedua pihak dapat menjadi jembatan yang efektif dalam menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan berorientasi pada kepentingan umat.

Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan, Yusril Ihza Mahendra menegaskan komitmennya untuk menjembatani komunikasi antara ormas Islam dan Presiden Prabowo Subianto.

“Saya akan bantu komunikasi agar aspirasi ini dapat sampai kepada Presiden,” ujar Yusril.

Sebagai seorang pakar hukum tata negara yang telah terlibat dalam pemerintahan sejak era Orde Baru, Yusril juga membagikan wawasan dan pengalamannya dalam mendampingi berbagai presiden, dari Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini di era Prabowo Subianto.

Menurutnya, pemerintahan saat ini membuka ruang bagi seluruh elemen bangsa untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional, termasuk ormas Islam.

Yusril juga menekankan bahwa Presiden Prabowo memiliki visi yang jelas dalam membangun kedaulatan dan ketahanan nasional. “Pak Prabowo ingin mewujudkan kemandirian bangsa, tidak tergantung dengan pihak asing,” tegasnya.

Pemerintah saat ini, lanjut Yusril, fokus pada efisiensi anggaran dan investasi berbasis kekuatan sendiri, yang mencakup penguatan ekonomi, sektor militer, dan penegakan hukum.

Yusril mengatakan, investasi besar yang sedang dilakukan oleh pemerintah akan memberikan dampak luar biasa dalam lima tahun ke depan. Ia juga menyoroti posisi strategis Indonesia dalam perekonomian global.

“Saat ini Indonesia berada di posisi keenam ekonomi dunia dalam G20 dan ini harus kita pertahankan,” katanya.

Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai perwakilan ormas Islam lainnya seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Persatuan Islam (Persis), Al Irsyad, Wahdah Islamiyah, Gerakan Dakwah Al-Fatih Kaffah Nusantara (AFKN), Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), dan Al Ittihadiyah.*/Muhammad Zuhri Fadlullah

Kolaborasi Terjunkan 500 Dai Berdakwah ke Daerah Pelosok dan Terpencil di Kaltim

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dakwah Center Hidayatullah Balikpapan bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kantor Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) menerjunkan 500 dai ke berbagai wilayah di Kaltim, mencakup daerah pedalaman, pelosok desa, pesisir, serta kawasan yang masih minim akses dakwah.

Para da’i muda tersebut siap mengemban amanah dakwah, menempuh perjalanan jauh demi menyebarkan ilmu dan kebaikan di bulan suci Ramadhan.

Pelepasan da’i dilaksanakan secara simbolis di Pondok Pesantren Hidayatullah Kampus Ummulquraa, Jalan Mulawarman RT. 25, Teritip, Balikpapan Timur, pada Senin, 3 Ramadhan 1446 (3/3/2025).

Selama satu bulan penuh, para dai turut memakmurkan masjid dengan shalat tarawih berjamaah, ceramah agama, mengajarkan Alquran dan kajian kajian keislaman serta pembinaan spiritual lainnya.

Mereka siap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat—merasakan suka duka mereka, berbagi kebahagiaan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus dikenang bahkan setelah Ramadhan usai.

Ketua Dakwah Center Hidayatullah Balikpapan DR. Abdurrohim Aswin, M.Si, mengatakan, program Sebar 500 Dai Ramadhan se-Kaltim ini menjadi wujud nyata dakwah yang menjangkau pelosok daerah yang membutuhkan pembinaan keislaman.

“Alhamdulillah, kami berharap kehadiran mereka membawa manfaat besar, menghidupkan suasana Ramadhan dengan ilmu, ibadah, dan kebaikan,” katanya.

Pihaknya juga menyampaikan ucapan terimakasih atas dukungan para donatur dan BMH yang telah memfasilitasi program ini.

“Semoga Allah membalas segala kebaikan dengan pahala berlipat dan keberkahan bagi semua yang terlibat,” kata Abdurrohim.

Sementaar itu, Kadiv Program dan Pendayagunaan (Prodaya) BMH Kaltim Achmad Rifai menegaskan, program Sebar 500 Dai di bulan Ramadhan se-Kaltim bertujuan memastikan kelancaran dakwah serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di daerah yang membutuhkan.

Dengan adanya da’i, terang Rifai, masyarakat akan lebih memahami ajaran Islam, terutama dalam hal ibadah, akhlak, dan syariat.

“Selain itu masjid dan mushalla yang sebelumnya kekurangan tenaga imam dan penceramah, bisa lebih aktif dengan kehadiran da’i dari program sinergis BMH,” tutur Achmad Rifai.*/Herim