SORONG (Hidayatullah.or.id) — Di bawah langit Papua Barat Daya yang terbentang luas, sebuah pertemuan penuh makna terukir di Kantor Gubernur di Remu Utara, Distrik Sorong, Kota Sorong, Rabu, 12 Ramadhan 1446 (12/3/2025).
Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua Barat Daya, M. Sanusi, bersama rombongan dan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH), melangkah masuk dalam agenda silaturrahim yang menjembatani idealisme keagamaan dan kebijakan publik.
Mereka disambut oleh Wakil Gubernur, K.H. Ahmad Nausrau, S.Pd.I, MM, didampingi staf ahli dan tokoh masyarakat, dalam suasana yang hangat sekaligus visioner.
Kunjungan ini menjadi simpul pengikat silaturrahim yang mempererat kerja sama Hidayatullah dengan pemerintah, khususnya dalam mengangkat program dakwah, pendidikan, dan inisiatif sosial lainnya.
Dalam pertemuan itu, zakat—pilar ketiga Islam yang mengandung dimensi spiritual dan sosial—menjadi salah satu fokus utama. Zakat, sebagaimana diamanahkan dalam Al-Qur’an (At-Taubah: 103), bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi instrumen pemberdayaan yang mengalirkan harta dari yang mampu kepada yang membutuhkan, menciptakan keseimbangan dalam tatanan masyarakat.
M. Sanusi, yang juga Kepala BMH Papua Barat Daya, memperkenalkan peran BMH sebagai lembaga resmi yang mengelola zakat, infak, dan sedekah, dengan izin operasional dari BMH Pusat dan Kementerian Agama Provinsi Papua Barat.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan dan imbauan kepada masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi seperti BMH. Dengan begitu, dana yang terkumpul dapat dikelola dengan baik dan tepat sasaran untuk kemaslahatan umat,” ujar Sanusi, menggarisbawahi pentingnya tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Sanusi menegaskan bahwa dana zakat yang dikelola BMH dapat disalurkan kepada delapan asnaf—seperti fakir, miskin, amil, hingga muallaf—sebagaimana diatur dalam syariat.
Lebih dari itu, zakat menjadi jembatan untuk mendanai program dakwah dan pendidikan, dua pilar yang diyakini Hidayatullah sebagai fondasi peradaban. Dengan dukungan pemerintah, gerakan ini bisa meluas, mengubah zakat dari kewajiban individu menjadi kekuatan kolektif yang memberdayakan.
Wakil Gubernur K.H. Ahmad Nausrau menyambut baik gagasan tersebut. “Kami mendukung penuh program-program keumatan yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat Papua Barat Daya,” katanya, menegaskan bahwa sinergi dengan ormas termasuk dengan lembaga zakat adalah langkah strategis.
Ia memahami bahwa zakat, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi solusi konkret untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan akses pendidikan, dan memperkuat dakwah di pelosok Papua Barat Daya.*/
KORUPSI adalah luka menganga dalam tubuh bangsa, sebuah maksiat yang tidak hanya merugikan individu, tetapi juga umat, bangsa, dan negara secara keseluruhan.
Kasus korupsi yang terus berulang, termasuk yang belakangan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menjadi cermin buram tentang lemahnya pengendalian diri dan ketakwaan.
Di tengah bulan suci Ramadhan, momentum spiritual ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam tentang bagaimana maksiat korupsi bertentangan dengan esensi takwa, serta bagaimana Ramadhan dapat menjadi titik balik penyucian jiwa demi melahirkan insan mulia yang bertakwa.
Secara logis, korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah. Ia merampas hak rakyat, menggerogoti keadilan sosial, dan menghambat pembangunan.
Ketika seorang pejabat atau pegawai yang mengurusi kepentingan rakyat melakukan korupsi, dampaknya bukan sekadar kerugian materiil, tetapi juga hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.
Data terbaru pada awal 2025 menunjukkan bahwa kasus korupsi di sektor BUMN, seperti yang terjadi di PT Timah atau Pertamina, telah merugikan negara hingga triliunan rupiah.
Uang yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur justru mengalir ke kantong pribadi, meninggalkan rakyat dalam kemiskinan dan ketertinggalan. Bukankah ini bentuk kezaliman yang nyata?
Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan kita tentang bahaya mengambil hak orang lain. Dalam Surah Al-Mutaffifin (83:1-4), Allah berfirman,
“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah mereka itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan?”
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kecurangan dalam perdagangan, tetapi juga menjadi peringatan universal terhadap segala bentuk pengambilan hak yang tidak sah, termasuk korupsi. Pelaku korupsi, dengan sengaja merugikan umat, sejatinya sedang menumpuk dosa yang akan ditagih pada hari kiamat.
Ramadhan, sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan, menawarkan pelajaran berharga tentang pengendalian diri. Puasa mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, baik dari makan, minum, maupun dorongan syahwat lainnya.
Dalam hal ini, korupsi dapat dipahami sebagai kegagalan mengendalikan nafsu serakah yang tersembunyi dalam jiwa. Seseorang yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran (3:133-134), adalah mereka yang “menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.”
Bukankah pelaku korupsi justru berkebalikan dari sifat ini? Mereka tidak menafkahkan harta untuk kebaikan, melainkan menimbunnya demi kepentingan pribadi, menunjukkan ketidakmampuan menahan nafsu dan ketamakan.
Isu terkini korupsi di BUMN menjadi sorotan yang relevan untuk direnungkan di bulan Ramadhan ini. Kasus seperti penggelapan dana di PT Timah, yang diduga melibatkan pejabat tinggi dan jaringan bisnis, mencerminkan betapa sistemiknya penyakit ini.
BUMN, yang seharusnya menjadi aset bangsa untuk kesejahteraan rakyat, justru dijadikan ladang korupsi. Hal ini tidak hanya menunjukkan rapuhnya integritas individu, tetapi juga lemahnya pengawasan dan budaya organisasi yang gagal menanamkan nilai-nilai luhur.
Korupsi adalah fenomena yang diperparah oleh rendahnya moralitas individu dan buruknya tata kelola. Namun, Ramadhan mengingatkan kita bahwa perubahan sistem harus dimulai dari perubahan hati dan jiwa manusia.
Ramadhan adalah cermin bagi kita semua. Ketika kita berpuasa, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta yang melimpah, tetapi pada ketenangan jiwa yang lahir dari ketaatan kepada Allah dan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
Koruptor, dengan segala kekayaan yang mereka kumpulkan, sesungguhnya adalah jiwa-jiwa yang miskin—miskin akan takwa dan empati.
Ramadhan mengajak kita untuk kembali kepada fitrah, membersihkan diri dari sifat serakah, dan membangun karakter yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” serta sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum istimewa untuk penyucian jiwa bangsa. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil, dari diri sendiri—ibda’ binafsik. Jika setiap individu mampu menanamkan pengendalian diri dan kejujuran, maka perlahan-lahan bangsa ini akan bangkit dari luka korupsi.
Al-Qur’an dalam Surah Ar-Ra’d (13:11) menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ramadhan adalah panggilan untuk menumbuhkan karakter luhur bangsa yang berpancasila, yang diawali dari hati yang bersih dan jiwa yang bertakwa.
Dengan demikian, kita tidak hanya menyelamatkan diri dari murka Allah, tetapi juga mewariskan Indonesia yang lebih adil dan bermartabat bagi generasi mendatang.[]
*) Suhardi Sukiman, penulis Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta dan Pengasuh Rumah Qur’an (RQ) Global Jayakarta
SETIAP menjelang Hari Raya Idulfitri, pembahasan mengenai Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi topik yang ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat kita.
Kebijakan pemberian THR, yang baru saja diumumkan oleh presiden kemarin sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk mendukung kesejahteraan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja sektor swasta, selalu menjadi simbol kebahagiaan material yang dinanti-nantikan.
Kita turut bersyukur atas ditekennya kebijakan THR tersebut yang akan digunakan penerima untuk memenuhi kebutuhan hari raya mereka, mulai dari membeli pakaian baru, menyediakan hidangan istimewa, hingga berbagi dengan keluarga.
Namun, di tengah euforia tersebut, sesungguhnya ada “tunjangan” yang jauh lebih istimewa yang patut kita renungkan, yakni janji Allah kepada hamba-Nya yang berpuasa dengan benar dan bertakwa, sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah At-Talaq ayat 2-4.
THR, sebagai bentuk tunjangan finansial, mencerminkan upaya manusia untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Pengumuman presiden mengenai THR tahun ini, seperti biasa, disambut dengan beragam reaksi: ada yang bersyukur karena tambahan dana tersebut membantu meringankan beban hidup, ada pula yang merasa jumlahnya belum memadai di tengah inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Fenomena ini dapat dilihat sebagai cerminan dinamika hubungan antara negara, pekerja, dan pengusaha dalam sistem kapitalisme modern. THR menjadi alat untuk menjaga stabilitas sosial, sekaligus menunjukkan bagaimana kebijakan publik dapat memengaruhi persepsi keadilan di masyarakat.
Namun, jika kita telisik lebih dalam, THR hanyalah salah satu wujud rezeki sementara yang terikat pada dunia material. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajak kita untuk tidak terjebak pada euforia sesaat semata, melainkan melihat makna yang lebih luas dari setiap pemberian yang kita terima, termasuk THR.
Dalam kerangka ini, ramainya pembahasan THR dapat menjadi titik awal untuk merefleksikan hakikat rezeki dan bagaimana kita menyikapinya sebagai bagian dari perjalanan menuju ketakwaan.
“Tunjangan” Istimewa dari Allah
Berbeda dengan THR yang bersifat temporal dan terukur, Allah SWT menawarkan “tunjangan” yang jauh lebih agung kepada orang-orang yang bertakwa, sebagaimana tertuang dalam Surah At-Talaq ayat 2-4. Allah berfirman:
“…Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya…” (QS. At-Talaq: 2-3).
“…Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…” (QS. At-Talaq: 4).
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa “tunjangan” dari Allah bukan sekadar materi, melainkan jaminan holistik yang mencakup solusi atas masalah, rezeki tak terduga, kecukupan, dan kemudahan dalam segala urusan.
Jika THR dari pemerintah atau perusahaan terbatas pada nominal tertentu dan hanya diberikan setahun sekali, “tunjangan” dari Allah bersifat abadi, tidak terikat waktu, dan tidak terbatas jumlahnya. Yang menjadi syarat utamanya adalah ketakwaan, yaitu kesadaran penuh untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas dan benar.
Puasa Ramadhan, yang menjadi gerbang menuju Idulfitri, sejatinya adalah latihan spiritual untuk mencapai derajat takwa. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “…supaya kamu bertakwa.” Ketakwaan inilah yang menjadi kunci untuk menerima “tunjangan” istimewa dari Allah.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa puasa yang dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan akan menghantarkan seseorang pada kebersihan jiwa, yang menjadi prasyarat utama ketakwaan.
Menyeimbangkan Duniawi dan Ukhrawi
Ramainya pembahasan THR jangan sampai membuat kita lupa bahwa ada “tunjangan” yang lebih besar yang telah Allah siapkan. Ketika kita sibuk menghitung nominal THR dan merencanakan pengeluaran untuk hari raya, kita diajak untuk sejenak berhenti dan bertanya:
Apakah puasa kita selama Ramadhan telah membawa kita lebih dekat kepada ketakwaan? Apakah kita telah memenuhi syarat untuk menerima janji Allah dalam At-Talaq ayat 2-4?
Refleksi ini penting karena, sebagaimana THR duniawi dapat habis dalam sekejap, hanya ketakwaanlah yang akan menjadi bekal abadi di hadapan Allah. Kita dapat melihat bahwa “tunjangan” dari Allah ini mencerminkan konsep rezeki yang holistik dalam Islam.
Rezeki tidak hanya diukur dari harta, tetapi juga dari ketenangan hati, kemudahan hidup, dan penyelesaian masalah—hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Studi tafsir seperti yang dilakukan oleh Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat-ayat dalam Surah At-Talaq adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas kepada hamba-Nya yang bertakwa. Ini adalah undangan bagi kita untuk melihat Hari Raya tidak hanya sebagai perayaan duniawi, tetapi juga sebagai momentum kembali kepada fitrah dan meraih predikat takwa.
Di tengah gegap gempita menyambut THR dari pemerintah atau perusahaan, marilah kita juga berbahagia dan gembira menyambut “tunjangan” hari raya dari Allah berupa kembali kepada fitrah. Idulfitri adalah puncak dari perjuangan spiritual selama Ramadhan, di mana kita berharap menjadi hamba yang lebih bersih dan bertakwa.
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebut dalam At-Talaq ayat 2-4, yang mendapatkan jalan keluar dari setiap masalah, rezeki dari arah tak terduga, kecukupan dalam segala hal, dan kemudahan dalam setiap urusan.
Dengan demikian, kebahagiaan Hari Raya tidak hanya terletak pada THR yang kita terima secara materiil, tetapi pada “tunjangan” abadi dari Allah yang jauh lebih mulia dan kekal. Wallahu a’lam bisshawab.
SAMPANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menghadirkan akses air bersih bagi pesantren dan masyarakat dengan meresmikan sumur bor ke-191 di Pondok Pesantren Tamhidul Iklam, Dusun Gendis, Desa Rabasan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, belum lama ini.
Sumur ini merupakan sedekah jariyah atas nama almarhumah Ratu Wardharita binti Abdul Aziz, yang diwakili oleh dr. Ihyan Amri Sp.B., FINACS, serta dr. Tenny Septania beserta keluarga.
Kehadiran mereka dalam peresmian ini mencerminkan ketulusan kepedulian terhadap kebutuhan umat, khususnya dalam penyediaan air bersih.
Pengasuh pesantren, Ustaz Achmad Jailani, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Sebelumnya, akses air bersih di pondok sangat terbatas. Santri dan warga sekitar harus bersusah payah mendapat air. Alhamdulillah, dengan adanya sumur ini, kami sangat terbantu,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Rabu, 12 Ramadhan 1446 (12/3/2025).
Program sumur bor ini merupakan bagian dari komitmen BMH dalam membantu pesantren dan masyarakat yang masih mengalami kesulitan air bersih.
“Kami berharap program ini terus menjangkau lebih banyak penerima manfaat, karena air bersih adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan,” ungkap Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim.
Dengan peresmian sumur ini, BMH terus menyalurkan amanah donatur untuk mewujudkan kebaikan berkelanjutan.
“Semoga sedekah jariyah ini menjadi keberkahan yang terus mengalir bagi almarhumah Ratu Wardharita dan semua pihak yang terlibat,” ungkap Muslim.*/
HARI ini kita sudah berada di hari ke-11 ibadah puasa Ramadhann1446 Hijriyah. Begitu cepat rasanya waktu berlalu, sementara kita merasa belum sepenuhnya menyerap hikmah bulan suci ini.
Bulan yang sejatinya merupakan madrasah latihan spiritual yang langka, sebuah perjalanan batin yang mengajarkan kesabaran, empati, dan pengendalian diri.
Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183 menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Barangkali, inilah lafas Al Qur’an paling viral saat ini yang dikutip dimana mana setiap saat.
Namun, sekali lagi, penting bagi kita untuk berefleksi kembali mengenai esensi takwa yang terkandung dalam ayat ini.
Takwa, yang diterjemahkan sebagai kesalehan, ketundukan, atau ketakutan kepada Allah, pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri di tengah godaan duniawi.
Secara historis, puasa bukanlah praktik eksklusif dalam Islam. Tradisi menahan diri dari makan dan minum telah ada dalam berbagai agama dan budaya, seperti Yom Kippur dalam Yahudi atau puasa Lent dalam Kristen.
Namun, dalam konteks Islam, puasa Ramadan memiliki dimensi yang unik karena durasinya yang panjang—sebulan penuh—dan cakupannya yang meliputi tidak hanya pantangan fisik, tetapi juga pengendalian emosi dan pikiran.
Menurut sebuah studi oleh Pew Research Center (2017), sekitar 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia melaksanakan puasa Ramadan setiap tahunnya. Laman GoodStats mencatat, jumlah umat Muslim per Maret 2025 ini mencapai 2,04 miliar, mewakili 25% dari total populasi dunia. Islam pun menjadi agama terbesar kedua di dunia setelah Kristen.
Angka tersebut menunjukkan betapa puasa telah menjadi fenomena global yang tidak hanya bersifat individu, tetapi juga kolektif, mengikat komunitas dalam solidaritas spiritual.
Dari perspektif ilmiah, puasa memiliki dampak signifikan terhadap tubuh dan pikiran. Penelitian dalam jurnal Nutrients (2021) menunjukkan bahwa puasa intermiten, seperti yang dilakukan selama Ramadan, dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi peradangan, dan bahkan memperbaiki fungsi kognitif.
Namun, manfaat puasa tidak berhenti pada ranah fisik. Psikolog Daniel Kahneman dalam teorinya tentang pengendalian diri (self-control) menyatakan bahwa kemampuan seseorang untuk menahan dorongan instan merupakan indikator utama kedewasaan emosional dan intelektual.
Puasa, dalam hal ini, menjadi laboratorium alami bagi umat Muslim untuk melatih otot pengendalian diri mereka. Ketika seseorang menahan lapar, haus, dan keinginan lainnya dari fajar hingga senja, ia secara tidak langsung membangun ketahanan mental yang dapat diterapkan dalam aspek kehidupan lain.
Namun, puasa tidak hanya tentang menahan diri dari kebutuhan fisik. Ia juga mengajarkan empati dan kepedulian sosial. Data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Indonesia pada 2023 menunjukkan bahwa pengumpulan donasi zakat infaq sedekah (ZIS) dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) secara nasional pada tahun 2023 mencapai Rp32.321 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 43.74% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp22.485 triliun. Secara nasional, angka penyaluran terhadap pengumpulan pun meningkat yang mencapai 88.82 persen.
Secara nasional di tahun yang sama, jumlah muzakki (pemberi zakat/ donatur) juga mengalami peningkatan. Di tahun 2022 jumlah muzaki perorangan adalah sebanyak 21,389,615 dan meningkat menjadi 34,761,785 muzaki.
Fenomena ini bukanlah hal yang kebetulan. Ketika seseorang merasakan lapar—meski hanya sementara—ia menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain yang mengalami kelaparan secara kronis.
Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan Bradford University Inggris (2025) menunjukkan bahwa puasa selama Ramadan tertanam dalam dan dianggap berdampak pada semua aspek kehidupan sehari-hari, dimana masyarakat semakin menyadari privilege dan lebih termotivasi untuk membantu mereka yang tidak beruntung.
Pengalaman tersebut merefleksikan bagaimana puasa dapat menjadi katalis untuk membangun jiwa yang peduli, sebuah nilai yang kian relevan di tengah dunia yang sering kali terjebak dalam individualisme.
Meski demikian, puasa tidak selalu mudah. Tantangan seperti kelelahan, irritability, atau godaan untuk berbuka sebelum waktunya sering kali muncul, terutama di era modern di mana makanan dan minuman tersedia dalam jangkauan tangan. Di sini, logika takwa menjadi ujian sejati.
Jika kita merujuk pada definisi takwa menurut Imam Al-Ghazali, ia bukan sekadar ketaatan pada perintah, tetapi kemampuan untuk memilih yang benar meski tidak ada yang melihat.
Dalam konteks puasa, takwa diwujudkan saat seseorang tetap menahan diri meski berada dalam situasi di mana ia bisa saja melanggar tanpa diketahui orang lain. Ini adalah bukti bahwa puasa bukanlah pertunjukan sosial, melainkan perjalanan personal menuju kesucian jiwa.
Refleksi lebih lanjut atas pengalaman puasa ini kemudian membawa kita pada pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya kita kejar dalam hidup ini?
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menawarkan kepuasan instan, puasa mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali pada esensi kemanusiaan.
Puasa mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada konsumsi tanpa batas, tetapi pada kemampuan untuk mengendalikan diri dan berbagi dengan sesama.
Data dari World Happiness Report (2024) menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat solidaritas sosial yang tinggi cenderung memiliki indeks kebahagiaan yang lebih baik. Puasa, dengan segala dimensinya, menjadi salah satu jalan menuju kebahagiaan kolektif tersebut.
Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali hakikat puasa dalam membentuk jiwa Muslim yang peduli dan berdisiplin. Puasa adalah cermin yang menunjukkan sejauh mana kita mampu mengendalikan diri—bukan hanya dari lapar dan haus, tetapi juga dari amarah, keserakahan, dan sikap acuh tak acuh.
Takwa, pada akhirnya, bukan semata tentang seberapa banyak kita beribadah secara ritual, melainkan seberapa kuat kita menjaga integritas saat sendirian.
Di bulan Ramadan, kita diajak untuk melahirkan kembali jiwa yang peka terhadap penderitaan, yang sabar dalam menghadapi ujian, dan yang mampu berkata “tidak” pada godaan yang bisa membinasakan. Bukankah ini esensi dari kehidupan yang bermakna?
Dalam keheningan puasa, kita menemukan kekuatan untuk menjadi manusia yang lebih baik—bagi diri sendiri, bagi sesama, dan bagi Sang Pencipta.[]
FAKFAK (Hidayatullah.or.id) — Dalam momen Bulan Suci Ramadan 1446 Hijriah, Istri Bupati Fakfak Nurwidayati Samaun Dahlan mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah di Kampung Sekru, Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Dalam kunjungannya, ia didampingi langsung Ibu Wakil Bupati Fakfak Sri Donatus Nimbitkendik dan Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Fakfak, Sharifah Uswanas.
“Giat ini sebetulnya sudah menjadi sebuah nazar beliau sebelum pelantikan Bapak Bupati Fakfak Samaun Dahlan, beliau berkeinginan kuat untuk mengunjungi pesantren, anak-anak yatim dan para janda, lansia serta mualaf,” kata Sharifah Uswanas kepada Tribun di Fakfak, Ahad, 9 Ramadhan 1446 (9/3/2025).
Sharifah Uswanas mengatakan kunjungan Ibu Bupati Fakfak, Nurwidayati ke Pondok Pesantren Hidayatullah murni nazar dan kegiatan pribadi.
“Kegiatannya kami lakukan acara ramah tamah, silaturahmi bersama saudara-saudara kita di pesantren tersebut,” katanya.
Dalam kesempatan itu pula, Nurwidayati Samaun Dahlan memberikan sejumlah bantuan berupa sembako dan alakadar untuk anak-anak pesantren.
“Ke depannya Insha Allah, hari Senin nanti kami masih ke pesantren lainnya lagi nanti Hari Rabu itu agendanya ibu bupati ke Gedung Wintder Tuare bersama para janda, para mualaf, dan lansia,” bebernya.
Pihaknya berharap, apa yang menjadi niat baik dan keringanan hati dari Ibu Bupati Fakfak, Nurwidayati Samaun Dahlan dapat sedikit bermanfaat bagi yang membutuhkan.
“Kami juga menyampaikan terimakasih atas sambutan yang baik dan hangat kepada kami, semoga dapat sedikit membantu Insha Allah,” harapnya.[]
KAIMANA (Hidayatullah.or.id) — Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Kaimana menggelar buka puasa bersama dengan anak-anak Pondok Pesantren Hidayatullah Kampung Coa, di Resto Tanjung Simora, Ahad, 9 Ramadhan 1446 (9/3/2025).
Kapolres Kaimana AKBP Gadug Kurniawan mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silahturahmi dan persaudaraan terhadap sesama, agar segala niat baik di bulan suci ini mendapat pertolongan dan rahmat dari Allah SWT.
“Selain berbuka puasa bersama, kami juga berbagi kasih kepada 16 orang anak-anak dari Pondok Pesantren Hidayahtulah Kampung Coa,” ucap Kapolres Kaimana.
“Karena ibadah puasa bukan hanya tentang menahan rasa lapar dan dahaga, tetapi dengan berbagi, kita menebar kebaikan terhadap sesama,” tambahnya.
Kapolres berharap, melalui suasana kebersamaan tersebut, dapat mempererat hubungan yang humanis antara Polri dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, dalam menyambut bulan suci ramadhan 1446 Hijriah.
“Karena Polri tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai pelindung dan pengayom serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama,” tutupnya.[]
SETIAP pagi, ketika matahari mulai menyemburatkan cahaya keemasan, Ibu Arbaina sudah mengayuh sepeda listrik tuanya menyusuri jalanan Kota Balikpapan.
Di keranjang depan, buah-buahan segar tersusun rapi, siap dijajakan kepada pembeli. Namun, di balik rutinitas itu, tersimpan kisah pilu: sejak suaminya terbaring sakit dan tak mampu bekerja, beban keluarga kini ia pikul sendiri.
Dengan modal pas-pasan dan sepeda listrik pemberian dermawan, ia berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari—tanpa keluhan, hanya doa dan harapan yang ia panjatkan.
Hingga Senin, 10 Ramadhan 1446 (10/3/2025), Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltim hadir memberikan angin segar. Di kantor perwakilan BMH Kaltim, Ibu Arbaina menerima bantuan modal usaha yang ia nantikan.
“Ini bukan sekadar uang, tapi penyemangat untuk terus berjuang,” ujarnya sambil menitikkan air mata, seperti dalam rilis BMH diterima media ini.
Bantuan ini, baginya, adalah jawaban dari doa panjang: agar usaha jualan buahnya bisa berkembang, kebutuhan keluarga tercukupi, dan suaminya bisa mendapat perawatan lebih baik.
Dari Keterbatasan ke Harapan Baru
Sebelumnya, Ibu Arbaina hanya mampu membawa sedikit stok buah karena keterbatasan modal. Setiap hari, ia harus pandai-pandai mengatur strategi: memilih rute yang ramai pembeli, menawarkan dagangan dengan senyum lebar, dan berharap cuaca tidak hujan.
“Ada hari-hari di mana hasilnya hanya cukup untuk makan. Tapi saya selalu ingat, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang bersabar,” tuturnya lirih.
Kini, dengan bantuan modal dari BMH, ia bisa membeli lebih banyak buah, memperluas jangkauan berjualan, bahkan berencana menambah varian dagangan.
“Saya ingin usaha ini tidak hanya bertahan, tapi juga bisa menjadi berkah bagi orang lain. Siapa tahu, nanti saya bisa membantu sesama yang seperti saya,” katanya penuh semangat.
Membangun Kemandirian, Menyemai Kebaikan
Bantuan ini bukan akhir, tapi awal dari komitmen BMH Kaltim untuk terus memberdayakan masyarakat prasejahtera.
“Kami ingin Ibu Arbaina tidak hanya bertahan, tapi juga mandiri. Bantuan modal adalah langkah kecil untuk memastikan usahanya tetap berjalan, meski tantangan ekonomi menghadang,” ujar Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltim, Achmad Rifa’i.
“Alhamdulillah, terima kasih BMH dan para donatur. Bantuan ini tidak hanya membantu usaha saya, tapi juga mengembalikan kepercayaan diri saya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berkah yang tak terkira. Aamiin,” ungkap Ibu Arbaina, dengan mata berbinar.*/Herim
TANA TIDUNG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hangatnya senja Ramadan, Pondok Pesantren Al-Ikhlas Hidayatullah Kabupaten Tana Tidung diwarnai kebahagiaan. Sebanyak 70 santri yatim dan dhuafa menerima paket buka puasa bergizi dari kolaborasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Tana Tidung dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Jumat, 7 Ramadhan 1446 (7/3/202).
Bantuan ini bukan sekadar makanan, tapi menjadi “vitamin semangat” bagi para santri yang tengah berjuang menahan lapar dan haus demi ibadah.
“Alhamdulillah, ini bukti kepedulian nyata. Dengan asupan bergizi, adik-adik bisa lebih kuat menjalankan puasa sambil menimba ilmu,” ujar M. Noer Komara, Kadiv Program BMH Kaltara.
Ia menambahkan, bantuan ini juga menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah momentum untuk saling menguatkan.
Salah satu santri, Shiren, yang telah menghafal 4 juz Al-Quran, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.
“Bantuan ini membuktikan bahwa kami tidak sendirian. Terima kasih para donatur, semoga Allah balas dengan keberkahan yang tak putus,” katanya dengan mata berbinar.
DWP Kemenag Tana Tidung menunjukkan bahwa berbagi di bulan suci tak harus mewah. Dengan kepedulian dan kerja sama, kebaikan kecil bisa menjadi penerang bagi masa depan anak-anak yatim.
“Kebaikan ini mengajarkan: Ramadan adalah saat tepat untuk menabur kebaikan—karena sedekah yang tulus, sekecil apapun, bisa menjadi investasi abadi di surga,” tutup Komara.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bulan Ramadan bukan sekadar waktu untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga momentum untuk meningkatkan produktivitas. Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ) membuktikan hal ini dengan menggelar pelatihan pembuatan kue dan roti bagi santri penghafal Al-Qur’an.
Kegiatan ini berlangsung di markas RQJ yang berlokasi di Jalan Poltangan III No. 3A 3, RT.2/RW.10, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam membekali para santri dengan keterampilan wirausaha, membuka peluang bagi mereka untuk mandiri secara ekonomi di masa depan.
Dengan keterampilan yang diperoleh, para santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama tetapi juga kemampuan untuk bertahan dan berkembang dalam kehidupan.
Ketua Rumah Qur’an Jayakarta, Ustaz Suhardi Sukiman, yang memimpin langsung kegiatan ini menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir kewirausahaan bagi para santri.
“Sehingga tidak saja mampu menghafal Al-Qur’an, tapi juga punya kemampuan wirausaha. Dengan demikian, mereka bisa menjalani kehidupan secara mandiri di masa depan,” ujar Suhardi, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Ahad, 9 Ramadhan 1446 (9/3/2025).
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program pendirian unit usaha yang diharapkan dapat menopang operasional Rumah Qur’an secara mandiri.
Saat ini, para santri RQJ menerima beasiswa penuh, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga yatim dan dhuafa. Oleh karena itu, kemandirian finansial menjadi kebutuhan yang mendesak bagi keberlangsungan lembaga ini.
“Kami berharap ikhtiar wirausaha ini dapat membuat Rumah Qur’an lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya,” tambahnya.
Dukungan terhadap inisiatif ini juga datang dari Pembina RQJ, Ustaz Muhammad Isnaeni. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Rumah Qur’an tidak hanya harus menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an, tetapi juga pusat pemberdayaan bagi santri dan masyarakat sekitar.
“Kegiatan ini sesuai dengan harapan kita bahwa Rumah Qur’an juga menjadi rumah pemberdayaan. Keterlibatan umat tentu sangat diharapkan untuk bergandengan tangan dalam membangun kemandirian lembaga-lembaga pendidikan,” ungkapnya.
Isnaini yang juga Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta ini menegaskan bahwa Rumah Qur’an bukan hanya tempat untuk mendalami ilmu agama, tetapi juga wadah pemberdayaan ekonomi.
Dengan bekal keterampilan ini, dia berharap, para santri tidak hanya memiliki dasar keilmuan yang kuat, tetapi juga kesiapan untuk menata masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Dukungan Duo Bunda
Kesuksesan pelatihan ini tak lepas dari peran para mentor dan pendukungnya. Salah satu instruktur utama dalam pelatihan ini adalah Bunda Yana, pemilik Cookies Ananda Depok, yang berbagi ilmu tentang teknik pembuatan kue dan roti kepada para santri. Menurutnya, para peserta sangat antusias dan cepat memahami materi yang diberikan.
“Kami mengajarkan keterampilan duniawi kepada adik-adik santri, sementara para guru mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan agama. Dengan begitu, kita berbagi tugas dalam mendukung masa depan mereka,” ujar Bunda Yana.
Selain itu, peran Bunda Trien dalam terselenggaranya pelatihan ini juga patut diapresiasi. Ia tidak hanya menjadi penghubung antara Rumah Qur’an dan Bunda Yana, tetapi juga turut memberikan dukungan dalam pelaksanaan pelatihan ini.
“Saya bangga dan senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini. Apalagi, pesertanya adalah santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz. Ini adalah bentuk nyata pemberdayaan bagi mereka,” kata Bunda Trien.
Bunda Trien juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program kemandirian ekonomi RQJ dan akan kembali untuk melihat perkembangan unit usaha yang telah dirintis.
“Kami mengucapkan terima kasih dan berharap ilmu serta dukungan yang diberikan mendapatkan pahala berlipat ganda, terlebih karena dilakukan di bulan Ramadan. Semoga Rumah Qur’an Jayakarta sukses dengan unit usaha kue dan rotinya,” harapnya.*/