Beranda blog Halaman 110

Ketum DPP Hidayatullah Turut Berdialog dengan Menko Yusril

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H,. melakukan pertemuan dengan sejumlah pimpinan ormas Islam tingkat pusat. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, MA turut serta dalam forum tersebut.

Pertemuan yang diadakan pada Kamis siang, 6 Ramadhan 1446 (6/3/2025) ino berlangsung khidmat, namun cair dan penuh antusias dari semua tokoh yang hadir.

Dalam acara yang dipandu Ketua Umum DPP Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Dr. H. Adian Husaini, Menko Yusril menyampaikan berbagai informasi dan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun kedaulatan bangsa dan ketahanan nasional.

“Pak Prabowo ingin mewujudkan kemandirian bangsa, tidak tergantung dengan pihak asing,” tegas Yusril.

Sebagai seorang pakar hukum tata negara yang terlibat di pemerintahan pusat sejak masa Orde Baru, Yusril banyak bercerita tentang berbagai pengalaman menarik selama mendampingi beberapa presiden RI, mulai Presiden Soeharto, Presiden SBY hingga Presiden Prabowo.

Para pimpinan ormas Islam yang hadir menyampaikan berbagai harapan kepada Menko Yusril, khususnya terkait penegakan hukum yang sedang menghadapi banyak masalah.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq turut menyampaikan harapan dan doa agar pemerintah mampu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, khususnya penegakan hukum.

Selain itu, Nashirul juga menyinggung wacana yang diusung sejumlah tokoh bangsa untuk kembali ke UUD 1945. Juga perlunya ormas diwadahi aspirasi politiknya seperti pada masa lalu melalui utusan golongan di MPR RI.

“Ormas Islam memiliki anggota yang riil dan loyal, perannya konkrit di masyarakat, berkonstribusi untuk kemajuan bangsa dan negara. Itulah sebabnya aspirasi politiknya perlu diwadahi,” ungkap Nashirul .

Usai forum dialog tersebut, Nashirul Haq menyerahkan hadiah buku karyanya kepada Menko Yusril yang berjudul Beginilah Rasulullah Saw Mengkader Umat.*/Muhammad Zuhri Fadlullah

Kedahsyatan Zakat Merajut Kebersamaan di Tengah Kesenjangan

0

BULAN Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan, hadir sebagai momen refleksi spiritual sekaligus kesempatan untuk memperkuat solidaritas sosial.

Di tengah kesucian bulan ini, zakat menjadi salah satu pilar ibadah yang tidak hanya menyucikan jiwa dan harta, tetapi juga memiliki kekuatan dahsyat untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial ekonomi.

Dalam konteks kehidupan modern yang penuh dengan disparitas, zakat menawarkan solusi ilahi yang relevan dan berkelanjutan, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Zakat, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki makna mendalam yang melampaui sekadar kewajiban ritual. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ

“Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka…”

Al Qur’an surah At-Taubah [9] ayat 103 ini menegaskan bahwa zakat bukan hanya alat untuk menyucikan harta, tetapi juga jiwa, sekaligus menjadi sarana untuk memberikan ketenangan bagi penerimanya.

Rasulullah SAW juga bersabda:

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut[1]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (Dibawakan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab “Kemuliaan, berderma dan berinfaq”)

Hadis ini sekali lagi menunjukkan bahwa zakat tidak semata berdampak pada aspek material, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan sosial.

Di bulan Ramadhan, zakat—khususnya zakat fitrah—menjadi ibadah yang wajib ditunaikan sebelum Idulfitri. Zakat fitrah memiliki peran khusus untuk memastikan bahwa setiap Muslim, termasuk yang kurang mampu, dapat merayakan hari kemenangan dalam keadaan berkecukupan.

Namun, lebih dari itu, zakat fitrah mengajarkan kita tentang kepedulian terhadap sesama, sebuah nilai yang sangat relevan dalam mengatasi ketimpangan sosial ekonomi.

Zakat dan Pengentasan Kemiskinan

Kemiskinan dan ketimpangan sosial ekonomi adalah tantangan besar yang dihadapi banyak masyarakat, termasuk di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2024, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 9,03%, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 25,22 juta orang.

Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, tantangan ketimpangan tetap nyata, dengan rasio Gini yang masih berada di angka 0,379. Di sinilah zakat memiliki potensi luar biasa untuk menjadi solusi.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada 2019 menunjukkan bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai Rp233,8 triliun per tahun, atau setara dengan 1,72% dari PDB tahun 2017.

Jika potensi tersebut dikelola dengan baik, zakat dapat menjadi instrumen efektif untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Program-program zakat produktif, seperti pemberian modal usaha, pelatihan keterampilan, dan pendidikan, telah terbukti mampu mengangkat taraf hidup kelompok mustahik (penerima zakat) secara berkelanjutan.

Sebagai contoh, banyak lembaga zakat di Indonesia yang telah berhasil mentransformasi mustahik menjadi muzakki (pemberi zakat) melalui pendekatan pemberdayaan.

Pada Ramadhan seperti saat ini, semangat berbagi melalui zakat dapat menjadi momentum untuk mempercepat upaya ini.

Ketika umat Islam berlomba-lomba menunaikan zakat fitrah dan zakat mal di bulan suci ini, dana yang terkumpul dapat digunakan untuk membantu fakir miskin, menyediakan kebutuhan pokok, hingga mendanai proyek-proyek sosial yang berkelanjutan.

Alat Redistribusi Kekayaan

Salah satu tujuan utama zakat dalam Islam adalah mencegah penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

“…supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa zakat adalah mekanisme redistribusi kekayaan yang dirancang untuk menciptakan keadilan sosial. Dalam konteks ketimpangan ekonomi modern, zakat dapat menjadi jawaban atas kesenjangan yang kian melebar antara si kaya dan si miskin.

Di bulan Ramadhan, semangat berbagi melalui zakat menjadi lebih terasa. Ketika setiap individu menunaikan zakat fitrah—yang besarannya setara dengan 2,5 kg makanan pokok—dan zakat mal dari harta yang telah mencapai nisab, maka terbentuk sebuah sistem solidaritas yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Zakat tidak hanya memberikan bantuan langsung kepada yang membutuhkan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya berbagi dan mengurangi kesenjangan.

Ramadhan adalah bulan penuh kepekaan sosial. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita diajak untuk merasakan penderitaan saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan setiap hari.

Maka, zakat, dalam konteks ini, menjadi wujud nyata dari empati tersebut. Ia bukan sekadar kewajiban, tetapi juga panggilan hati untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang beruntung.

Mari kita jadikan momentum Ramadhan ini untuk memperkuat komitmen kita dalam menunaikan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal, termasuk infaq dan fidyah, sebagai bentuk ibadah sekaligus kontribusi nyata bagi kesejahteraan umat.

Dengan pengelolaan yang baik dan kesadaran yang tinggi, zakat dapat menjadi solusi ilahi yang membawa keadilan dan keberkahan bagi seluruh lapisan masyarakat. Semoga.

*) Puji Asmoro, volunteer pada platform partikelir news agency filantropi Kasih.news dan aktif bergiat di Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai)

Ramadhan Mengingatkan Singkatnya Nikmat Dunia dan Panjangnya Harap Akhirat

0

HARI itu sore yang biasa saja, matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang lembut. Aku baru saja selesai menyiapkan takjil sederhana—kolak pisang dan segelas air putih dingin—untuk menyambut waktu berbuka.

Namun, sebelum azan berkumandang, aku iseng membuka ponsel dan melihat status WhatsApp seorang kawan. Tulisannya singkat, tapi entah kenapa langsung menghujam ke dalam hati:

“14 jam kita menahan lapar ketika berpuasa, namun hanya dalam 5 menit seketika kenyang saat berbuka, inilah gambaran nyata bahwa memang betapa singkatnya kenikmatan dunia.”

Aku terdiam. Kalimat itu seperti tamparan lembut yang membangunkan dari tidur panjang. Aku membacanya lagi, dan lagi, hingga akhirnya azan Magrib berkumandang.

Aku mencecap hidangan berbuka yang tersaji dan menikmati seteguk air, tapi pikiranku masih terpaku pada kalimat tersebut. Benar sekali.

Hanya dalam hitungan menit, rasa lapar yang tadi menggerogoti perut lenyap begitu saja. Perutku kenyang, tapi hatiku justru terasa kosong—kosong karena menyadari betapa fana dan singkatnya semua yang selama ini aku kejar.

Aku termenung di sudut ruangan, memandangi piring yang kini hanya berisi sisa-sisa takjil. Pikiranku melayang jauh. Bukankah hidup ini juga seperti itu?

Kita berjuang mati-matian mengejar dunia—harta, jabatan, popularitas—tapi ketika akhirnya kita mendapatkannya, kenikmatannya tak pernah bertahan lama.

Seperti rasa kenyang setelah berbuka, semua itu hanya sesaat. Lalu, untuk apa kita menghabiskan sepanjang hidup hanya untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya akan lenyap?

Aku teringat firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hadid ayat 20:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berlomba-lomba dalam harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menjadi kuning lalu menjadi hancur…”

Ayat ini seperti cermin yang memantulkan kenyataan hidupku. Dunia memang indah, tapi keindahannya hanya sementara. Seperti tanaman yang hijau dan subur setelah hujan, lalu perlahan menguning dan hancur, begitu pula kenikmatan dunia.

Aku merenung lebih dalam. Jika dunia ini hanya sementara, lalu apa yang harus aku kejar? Apa yang benar-benar abadi?

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ]

“Jadilah di dunia ini seperti seorang musafir atau orang yang sedang melintas (dan anggap dirimu sebagai bagian dari penghuni kubur)”

Hadis ini menggetarkan hatiku. Aku bukan pemilik dunia ini, aku hanya musafir yang singgah sebentar. Seorang musafir tidak akan membawa seluruh harta bendanya dalam perjalanan, ia hanya membawa bekal yang cukup untuk sampai ke tujuan.

Lalu, bekal apa yang sudah aku siapkan untuk akhiratku? Aku tersadar, selama ini aku terlalu sibuk mengumpulkan “harta” dunia, tapi lupa bahwa perjalanan panjang menuju akhirat membutuhkan bekal yang jauh lebih penting: iman, amal shalih, dan ketakwaan kepada Allah.

Malam itu, aku duduk di atas sajadah, menumpahkan segala rasa dalam doa. Aku merasa kecil, rapuh, dan penuh kekurangan. Aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena kesadaran yang tiba-tiba menyelinap ke dalam hati.

Aku menyadari bahwa waktu yang Allah berikan di dunia ini terlalu singkat untuk disia-siakan. Aku harus mulai menata hati, memperbaiki diri, dan menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.

Aku juga teringat firman Allah dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7-8:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Ayat ini mengingatkanku bahwa tidak ada yang sia-sia di hadapan Allah. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan. Dan setiap keburukan, sekecil apa pun, juga akan dimintai pertanggungjawaban. Aku harus lebih berhati-hati dalam setiap langkah, setiap kata, dan setiap niat.

Status WhatsApp temanku malam itu benar-benar menjadi titik balik. Aku mulai lebih sering merenung, lebih sering membaca Al-Qur’an, dan berusaha memperbanyak amal shalih.

Aku belajar untuk tidak terlalu terikat pada dunia, karena aku tahu kenikmatannya hanya sesaat, seperti rasa kenyang setelah berbuka. Aku ingin fokus menyiapkan bekal untuk akhirat, tempat yang abadi, tempat yang menjadi tujuan akhir kita semua.

Malam ini, saat aku menulis cerita ini, aku berharap siapa pun yang membaca bisa ikut merenung seperti aku. Mari kita sama-sama menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Karena dunia ini hanyalah persinggahan, dan perjalanan kita masih sangat panjang.

*) Hasman Dwipangga, penulis mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta dan anggota Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Jakarta Selatan

[KHUTBAH JUM’AT] Menggapai Takwa dan 4 Keutamaan Puasa Ramadhan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya, siapa di antara mereka yang terbaik amalnya.

Dialah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk, cahaya, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, kita masih diberi kesempatan menapaki kehidupan, menghirup udara keimanan, dan menjalani masa yang penuh berkah, bulan Ramadhan.

Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada suri teladan sepanjang zaman, Nabi Muhammad ﷺ. Beliaulah cahaya bagi umat, pemimpin bagi yang bertakwa, dan pemberi syafaat di hari kiamat.

Melalui risalahnya, kita diajarkan makna hakiki ketundukan kepada Allah dan nilai-nilai luhur yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kita tengah berada dalam bahtera perjalanan bulan suci Ramadhan, bulan yang Allah muliakan dengan limpahan keberkahan, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Di dalamnya terdapat peluang emas untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih empat keutamaan puasa yang agung.

Maka, marilah kita mantapkan diri dengan penuh kesungguhan, agar Ramadhan kali ini menjadi momentum perubahan menuju derajat takwa yang hakiki.

Khatib ingin mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Azhab: 33)

Ketika kita berbicara tentang ketakwaan, kita tidak bisa lepas dari ibadah puasa, terutama puasa di bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah ini adalah waktu yang tepat untuk merenungkan kembali makna dan tujuan dari puasa itu sendiri.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Puasa bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan proses pembentukan karakter dan peningkatan spiritual. Dalam surat Al-Baqarah ayat 185, Allah menegaskan:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ

“Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Imam Muslim juga mengingatkan kita tentang posisi strategis dan dahsyatnya puasa ini, bahwa:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Dalam kitab Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa tidak ada satu pun ulama yang menolak kewajiban puasa Ramadhan. Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini dalam kehidupan kita.

Jamaah Jumat yang Kami muliakan,

Secara reflektif, puasa sejatinya memiliki dua dimensi penting yang perlu kita renungkan yaitu dimensi lahiriyah dan dimensi batiniyah.

Puasa lahiriyah adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan menahan diri dari berbagai pembatal puasa yang sifatnya lahiriyah yang tampak oleh mata kita.

Sedangkan puasa batiniyah adalah dimensi lebih mendalam yang berkaitan dengan jiwa kita, hati, serta pikiran kita atau sesuatu yang tidak nampak oleh mata, seperti menghindari segala perbuatan tercela, seperti dusta, hasad, dan riya’.

Dengan melaksanakan puasa sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Al-Sunnah, kita akan memperoleh hikmah yang sangat tinggi.

Pertama, puasa meningkatkan ketakwaan kita. Dengan ketakwaan, kita akan mendapatkan rizki yang tidak terduga, jalan keluar dari kesulitan, dan ampunan dari Allah.

Kedua, doa kita akan dikabulkan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Al-Baihaqi disebutkan bahwa ada tiga kelompok orang yang doanya tidak tertolak, yaitu orang yang berpuasa, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya.

Ketiga, puasa adalah perisai dari siksa neraka. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari:

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh”

Keempat, puasa dapat menghapus dosa dan memberikan syafaat di hari kiamat.

Dalam hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Shahih At-Targhib disebutkan bahwa puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat:

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.”

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kasih sayang, ampunan, dan keberkahan. Ini adalah saat yang tepat untuk kita merenungkan kembali tujuan hidup kita dan memperbaiki diri.

Mari kita menjalani bulan Ramadhan kali ini dengan hati yang bersih dan niat yang tulus untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dan semoga kita semua dapat meraih gelar taqwa di bulan yang mulia ini.

Mari kita jadikan puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas ibadah kita. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam setiap langkah kita. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KH Nashirul Haq Hadiri Iftar Ramadan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA, menghadiri undangan buka puasa (iftar) Ramadhan yang digelar Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Republik Indonesia, ASEAN dan Republik Demokratik Timor-Leste Faisal Abdullah H. Amodi bersama duta besar negara sahabat guna mempererat silaturahmi.

Selain Ketua Umum Hidayatullah, pada kesempatan tersebut turut hadir Wakil Presiden Republik Indonesia 2004-2009 & 2014-2019 Muhammad Jusuf Kalla dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Bachtiar Najamudin, dan perwakilan Menteri Kabinet Merah Putih.

Acara iftar bersama Kedubes Arab Saudi ini juga dihadiri oleh Duta Besar Yordania untuk Indonesia, Wakil Dubes Pakistan, Dubes Malaysia, Dubes Uni Emirat Arab, Dubes Iran, Dubes Bahrain, Dubes Maroko, Dubes Turki, Dubes Suriah, dan perwakilan Kedubes Kazakhstan.

Dalam sambutannya, Dubes Faisal menyatakan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang agung dan suci. Ramadhan juga bulan silaturahmi dan bulan di mana umat Islam banyak menjalankan ibadah.

“Ramadhan merupakan bulan silaturahmi. Dan hari ini merupakan bagian dari kegiatan tersebut,” kata Dubes Faisal dalam acara iftar yang diadakan di Jakarta, Selasa, 4 Ramadhan 1446 (4/3/2025).

Untuk itu, Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta memanfaatkan acara iftar tersebut untuk mempererat silaturahmi dengan masyarakat Indonesia, terutama perwakilan Menteri Kabinet Merah Putih, para duta besar negara sahabat di Jakarta, dan juga dengan sejumlah ormas Islam.

Dubes Faisal berharap pada Bulan Ramadhan yang agung dan suci tersebut, Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi akan senantiasa stabil dan aman.

Wujud Eratnya Silaturahmi dan Ukhuwah

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA menyampaikan ucapan terima kasih kepada Duta Besar Kerajaan Arab Saudi atas undangan iftar Ramadhan yang hangat dan penuh persaudaraan ini.

“Acara ini juga menjadi wujud eratnya silaturahmi serta ukhuwah Islamiyah di antara kita, khususnya antara Indonesia, Kerajaan Arab Saudi, dan negara-negara sahabat lainnya,” katanya.

Nashirul berharap hubungan baik yang telah terjalin ini semakin kokoh, tidak hanya dalam aspek diplomasi, tetapi juga dalam kerja sama pendidikan, keagamaan, dan kemanusiaan demi kemaslahatan umat.

Dia menambahkan, Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang mengajarkan kita tentang kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.

Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam di Indonesia untuk menjalani ibadah puasa dengan penuh kekhusyukan, menjaga persatuan, serta memperkuat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua, serta menjadikan Ramadhan ini sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” tandasnya.*/Muhammad Zuhri Fadlullah

Indikator Sukses Ramadhan, Lahirnya Insan Bertakwa yang Miliki Kendali Diri

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam kajian manajemen sumber daya manusia, terdapat prinsip universal yang menyatakan bahwa semakin tinggi tawaran kompensasi sebuah pekerjaan, semakin besar pula motivasi individu untuk melaksanakannya. Prinsip ini, sebagaimana diungkapkan oleh Ustaz Akib Junaid Kahar, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, dapat dianalogikan dengan semangat ibadah di bulan Ramadhan.

“Orang yang berpikir normal pasti lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu jika jelas apa keuntungan yang akan dia dapatkan,” kata Akib saat mengisi kultum tarawih di Masjid Baitul Karim, Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Selasa, 4 Ramadhan 1446 (4/3/2025).

Dia lantas menarik analogi ini dalam konteks bulan suci Ramadhan. Bulan suci ini menawarkan berbagai keutamaan yang dijanjikan Allah SWT kepada hamba-Nya, dengan puncaknya adalah pencapaian takwa. Janji tersebut menjadi dorongan utama bagi umat Islam untuk mengoptimalkan ibadah mereka sepanjang bulan Ramadhan.

Keutamaan Ramadhan tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Akib Junaid mengemukakan bahwa tujuan utama ibadah di bulan ini adalah membawa umat menuju ketakwaan, sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT.

Namun, Akib mengajukan refleksi kritis terhadap realitas yang ada khususnya di Indonesia dan mengajak hadirin untuk mengevaluasi sejauh mana ibadah Ramadhan benar-benar menghasilkan transformasi yang diharapkan.

“Sama sekali tidak bermaksud untuk menuding atau memvonis orang per orang, tapi realitas membuktikan bahwa khusus dalam konteks Indonesia sangat patut dicurigai bahwa hasil yang diperoleh di bulan Ramadhan jauh tidak seimbang dengan janji yang ditawarkan oleh Allah SWT,” katanya.

Manifestasi Takwa

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa salah satu puncak capaian Ramadhan adalah takwa. Namun, definisi takwa acapkali menjadi kabur bagi banyak orang.

“Takwa itu seperti apa wujudnya, disinilah kemudian orang seringkali kesulitan mendefinisikan takwa yang dimaksudkan. Padahal di dalam Al-Qur’an begitu banyak ayat yang menjelaskan secara rinci dan begitu mudah kita mengevaluasinya apakah kita termasuk orang bertakwa atau tidak,” katanya.

Untuk memperjelas, Akib menukil Al Qur’an surah At-Talaq ayat 2-4, yang menjanjikan berbagai ganjaran bagi orang bertakwa, yaitu siapa bertakwa kepada Allah niscaya akan diberi jalan keluar dari setiap masalahnya (wa may yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrajaa), diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (wa yarzuq-hu min haisu laa yaḥtasib), dicukupkan keperluannya (wa may yatawakkal ‘alallaahi fa huwa ḥasbuh), dan dimudahkan segala urusannya (yaj’al lahuu min amrihii yusraa).

Ia menegaskan bahwa ayat-ayat ini memberikan jaminan kepastian dari Allah (bahwa) siapa yang bertakwa kepada Allah itu pasti diberi jalan keluar dari setiap masalah, dilimpahi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dicukupkan keperluannya, dan dimudahkan segala urusannya.

“Orang bertakwa itu adalah orang yang dalam kehidupannya tidak pernah bermasalah dengan urusan finansial. Ini jaminan kepastian. Wa yarzuq-hu min haisi laa yaḥtasib,” imbuhnya.

Intinya Pengendalian Diri

Lebih jauh Akib juga mengakui adanya tantangan dalam memahami korelasi ini. Penjelasan seperti ini, menurutnya, kadang juga agak sulit menemukan korelasinya antara puasa di bulan Ramadhan dan kemudian urusan jadi mudah. Padahal, tegas dia, sebenarnya sangat jelas ketersambungannya.

Kunci dari korelasi ini, menurutnya, terletak pada pengendalian diri. Ia menjelaskan, kenapa masalah menjadi rumit dan pikiran begitu berat dalam kehidupan ini, salah satu kata kuncinya itu ada pada pengendalian diri.

“Dan, inilah sesungguhnya salah satu target utama daripada ibadah puasa. Orang yang sukses ibadah puasanya otomatis dia akan mampu mengendalikan dirinya. Masalah itu muncul ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya, dalam artian tidak mampu mengontrol keinginannya,” tegasnya.

Puasa selama sebulan penuh ini, katanya, diharapkan menjadi modal setiap insan beriman agar mampu mengendalikan dirinya selama sebulan penuh dan mewarnai sebelas bulan berikutnya.

Akib menjelaskan, jangan dibayangkan kemudian bahwa wa yarzuq-hu min haisu laa yaḥtasib itu diwujudkan dalam bentuk harta yang melimpah ruah. Sebab, ukuran banyak dan sedikitnya harta itu bukan pada jumlah nominalnya tapi lebih daripada apa yang menjadi kebutuhannya. “Itulah substansi dari pengendalian diri sesungguhnya,” terangnya.

Ia lalu mengaitkannya dengan Surah Al-A’raf ayat 96 yang menegaskan bahwa jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah maka pastilah akan dilimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi

“Kalau bumi ini dihuni orang beriman dan bertakwa, dalam artian mampu mengendalikan diri, maka berkah Allah Ta’ala akan turun dan orang akan merasa nikmat dalam hidup ini,” katanya.

Namun, ia kembali menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi di Indonesia. “Maka inilah yang saya katakan bahwa sangat mencurigakan di Indonesia ini bahwa setelah bulan Ramadhan berlalu berkali-kali, kok pengendalian diri itu semakin susah”.

Akib mengajak merenung apakah ibadah puasa telah benar-benar menginternalisasi nilai pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, Ramadhan, dengan segala janji dan keutamaannya, seharusnya menjadi momentum transformasi menuju takwa yang nyata—bukan sekadar ritual tahunan tanpa dampak berkelanjutan.

“Kita berharap, Ramadhan kali ini benar benar melahirkan orang orang yang mampu mengendalikan diri sehingga kenikmatan hidup terasa dan benar benar Ramadhan membawa berkah,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak sebagai Pusat Pembinaan Berkelanjutan

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) memiliki peran strategis dalam memberikan kesejahteraan sosial bagi anak-anak yang kurang mampu. Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Musliadi, menegaskan bahwa keberadaan LKSA harus lebih dari sekadar tempat tinggal bagi anak-anak yang membutuhkan, tetapi juga sebagai pusat pembinaan dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Dalam acara Bimbingan Teknis (Bimbtek) LKSA yang diselenggarakan di LKSA Ashabul Kahfi, Bekasi, Jawa Barat, Musliadi mendorong pentingnya memperkuat komunikasi dengan Dinas Sosial agar LKSA dapat berkembang dan memperoleh dukungan penuh dari pemerintah.

“Komunikasi yang baik dengan Dinas Sosial harus diperkuat agar LKSA dapat terus berkembang dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah,” ujarnya, disitat pada Rabu, 5 Ramadhan 1446 (5/3/2025).

Lebih lanjut, Musliadi menekankan perlunya LKSA untuk mengadopsi sistem administrasi yang lebih profesional, merujuk pada kesuksesan panti asuhan Muhammadiyah dalam membangun kredibilitas dan efektivitas pengelolaan.

Menurutnya, LKSA di bawah naungan Hidayatullah, termasuk Ashabul Kahfi, harus mencontoh model administrasi yang telah terbukti berhasil sehingga dapat lebih mudah berkolaborasi dengan pemerintah.

Disamping itu, keberlanjutan pendanaan menjadi aspek penting dalam operasional LKSA. Musliadi meyakinkan bahwa dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel, sumber pendanaan bagi LKSA tidak akan mengalami kendala berarti.

“LKSA tidak akan kehabisan donasi, baik dari CSR, donatur individu, maupun bantuan dari Dinas Sosial, karena pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan citra positif yang dibangun,” tegasnya.

Musliadi menekankan bahwa keterbukaan dalam pengelolaan dana serta laporan keuangan yang transparan akan memperkuat kepercayaan donatur dan pemerintah terhadap LKSA. Hal ini juga dapat membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan bantuan yang berkelanjutan dari berbagai sumber.

Musliadi juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya dengan Sentra Kemensos, agar LKSA Ashabul Kahfi dapat menjadi bagian dari program-program sosial yang lebih luas. Dengan membangun komunikasi yang baik dan menjalin kemitraan yang erat, LKSA dapat lebih efektif dalam memberikan manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

Salah satu langkah strategis yang disarankan Musliadi adalah memastikan bahwa LKSA memiliki kantor sekretariat yang jelas. Hal ini bukan hanya berfungsi sebagai pusat administrasi, tetapi juga sebagai faktor utama dalam meningkatkan kredibilitas dan aksesibilitas LKSA di mata pemerintah dan masyarakat.

“Memiliki kantor sekretariat menjadi prasyarat utama untuk meningkatkan kredibilitas dan aksesibilitas LKSA di mata pemerintah dan masyarakat,” kata Musliadi.

Perkuat Sistem Administrasi dan Sinergitas

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, Hidayatullah Abu Qory, mengatakan kegiatan bimbingan teknis yang diselenggarakan di LKSA Ashabul Kahfi, Bekasi, ini dalam rangka optimalisasi dan peningkatan kinerja Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Hidayatullah Jabar.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sistem administrasi dan meningkatkan sinergitas dengan pemerintah, khususnya Dinas Sosial dan dinas terkait lainnya,” katanya.

Dia juga mendorong LKSA di bawah pengelolaan Hidayatullah yang ada di Jawa Barat untuk mengadakan bimtek serupa. “Saya menghimbau kepada pengurus LKSA yang ada di wilayah Jabar untuk mengadakan Bimtek LKSA, ini sangat penting,” imbuhnya.

Suparman, Ketua LKSA Ashabul Kahfi, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting untuk menentukan arah setelah izin operasional selesai.

“Kami sempat bingung langkah apa yang harus diambil setelah mendapatkan izin operasional. Namun setelah mengikuti Bimtek LKSA ini, kami semakin memahami program-program yang mesti dijalankan serta strategi jitu agar LKSA mampu eksis,” ungkapnya.

Dengan adanya bimbingan teknis ini, diharapkan LKSA Ashabul Kahfi Bekasi semakin profesional dalam pengelolaan administrasi dan semakin erat berkolaborasi dengan pemerintah demi kesejahteraan anak-anak yang mereka bina.*/Dadang Kusmayadi

Sajian Penuh Kepedulian untuk Warga Terdampak Banjir Tanjung Barat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Banjir besar yang melanda wilayah Jabodetabek pekan ini sekali lagi membuktikan bahwa bencana bukan hanya tentang kerusakan dan kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat meresponsnya.

Air bah yang merendam rumah-rumah warga membawa dampak besar, terutama bagi keluarga yang harus kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan bahkan rasa aman. Namun, di tengah musibah, selalu ada celah bagi cahaya kemanusiaan untuk bersinar.

Salah satu kisah inspiratif muncul dari RW 05 Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Di sana, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bergerak cepat dalam memberikan bantuan bagi warga terdampak.

Dengan menurunkan dua tim relawan—satu ke Bekasi dan satu lagi ke Tanjung Barat—BMH membuktikan bahwa respons cepat dan kepedulian dapat menjadi perisai bagi masyarakat dalam menghadapi bencana.

Namun, bantuan yang diberikan bukan hanya dalam bentuk evakuasi. Salah satu inisiatif yang paling berkesan adalah pendirian Dapur Hangat yang melayani sekitar 400 warga terdampak banjir. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar, dapur ini menjadi ruang sosial yang menghangatkan hati mereka yang tengah diuji.

Ketika bencana melanda, kebutuhan pokok seperti makanan selalu menjadi prioritas utama. Di Dapur Hangat ini, bukan hanya relawan yang bekerja keras, tetapi juga ibu-ibu warga setempat yang turut serta memasak dan menyiapkan makanan bagi sesama.

Aroma masakan yang mengepul berpadu dengan suara tawa dan semangat gotong royong. Mereka sadar bahwa di tengah ketidakpastian, berbagi adalah salah satu cara untuk bertahan. Hal ini tergambar jelas dalam ungkapan H. Samsudin, Ketua RW 05:

“Kami sangat berterima kasih kepada BMH atas bantuan yang diberikan. Tidak perlu dinilai dari banyaknya, tapi dari manfaatnya. Apalagi saat-saat menjelang buka puasa seperti sekarang, ketika sebagian besar warga belum bisa memasak. Alhamdulillah, bantuan ini benar-benar membantu,” katanya.

Bantuan yang diberikan BMH tidak berhenti pada penyediaan makanan. Seperti yang dijelaskan oleh Adi Yusuf, Koordinator Lapangan Aksi Sigap Bencana Banjir Jabodetabek BMH, relawan juga menyalurkan berbagai perlengkapan penting lainnya:

“Selain mendirikan Dapur Hangat, kami juga menyalurkan bantuan perlengkapan kebersihan, Hygiene Kit, serta alat-alat untuk menyalakan listrik di lokasi pengungsian,” kata Adi.*/Herim

Kajian Ramadhan MUQ Depok Bahas Hubungan AI dengan Kecerdasan Spiritual Manusia

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), manusia dihadapkan pada tantangan baru dalam menjaga eksistensi dan tujuan hidupnya.

Dalam Kajian Ramadhan 1446 di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, bertajuk “Revolusi Spiritual di Era AI dan Peran Ramadhan dalam Memperkuat Emosional Spiritual,” Direktur Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIP) Ust. Suharsono Darbi memberi perspektif baru tentang bagaimana umat Islam dapat menjawab tantangan ini dengan visi hidup yang kokoh.

Suharsono mengawali kajiannya dengan kisah fenomenal di akhir abad ke-20, yaitu pertandingan antara raja catur dunia Garry Kasparov dan komputer Deep Blue buatan IBM.

Awalnya, Kasparov berhasil mengalahkan Deep Blue, namun pada tahun 1997, setelah dimodifikasi, Deep Blue berhasil menumbangkan Kasparov.

“Ini menjadi bukti perkembangan artificial intelligence (AI) dalam kesinambungan hidup umat manusia,” kata Suharsono.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI hanya berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.

“Jangan sampai kita memiliki ketergantungan akut pada mesin AI sehingga membuat pola pikir manusia menjadi tumpul,” tegasnya dalam kajian yang digelar pada awal Ramadhan beberapa waktu lalu itu dan ditulis Selasa, 4 Ramadhan 1446 (4/3/2025).

Suharsono menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan mempertahankan kemampuan intelektual manusia.

Lebih lanjut, Suharsono menyoroti bahwa AI dapat menjadi jebakan jika manusia tidak memiliki visi hidup yang jelas. “AI hanyalah sarana bagi kita manusia tetapi itu bisa menjadi jebakan bagi kita jika tidak memiliki visi hidup,” katanya.

Ia mengajak untuk membangun visi hidup yang mumpuni, sebagaimana terkandung dalam kewajiban menjalankan ibadah puasa. Dalam kerangka ini, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 yang memuat perintah bagi orang beriman untuk berpuasa agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Menurutnya, puasa adalah perintah yang berkenaan dengan eksistensi diri manusia. Ia menjelaskan bahwa puasa berperan penting dalam mengendalikan pikiran agar tidak liar. “Jadi puasa itu untuk mengendalikan pikiran agar tidak liar,” tegasnya.

Dalam perspektifnya, kecerdasan intelektual dan emosional harus diimbangi dengan visi hidup yang kokoh. Suharsono menggunakan analogi kuda dan penunggangnya untuk menggambarkan hubungan ini.

Dia memaparkan, jika seekor kuda hidup tanpa ditunggangi maka ia akan berjalan tak kenal arah, seperti itulah kecerdasan jika tak diimbangi dengan visi hidup yang mumpuni maka ia akan berpikir tak tentu arah. Tanpa arah yang jelas, kecerdasan—baik intelektual maupun emosional—tidak akan membawa manfaat yang berarti.

Suharsono juga mengajak jamaah untuk merenungkan kembali dengan mendalam jatidiri Hidayatullah yang bercita-cita membangun peradaban Islam. Ia menekankan pentingnya implementasi nyata dari azam tersebut melalui kesadaran sistem, bukan sekadar wacana tertulis.

“Jika pelaksanaannya hanya berdasar tulisan maka tidak akan ada perkembangan yang berarti, karena itu para jama’ah dituntut mampu mengimplementasikan melalui kesadaran sistem,” ujarnya.

Membentuk Generasi Harapan

Lebih jauh Suharsono juga menyoroti peran tenaga pendidik dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memahami tujuan hidupnya.

Kritik ini menunjukkan perlunya pendidikan yang holistik, yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif tetapi juga spiritual dan eksistensial.

“Banyak sekolah-sekolah di antara kita yang hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa mengetahui tujuan hidup, menghafal banyak tetapi tidak mengetahui jati diri,” tambahnya.

Dalam konteks pengendalian emosi, Suharsono menghadirkan kisah ulama Islam ternama seperti Ibnu Sina (Bapak Kedokteran), Ibnu Khaldun (pendiri ilmu historiografi), dan Omar Mukhtar (simbol perlawanan terhadap imperialisme Eropa).

“Orang yang mampu mengendalikan emosional intelligence adalah orang yang memiliki derajat tinggi dalam spiritual intelligence,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pengendalian emosi bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga hubungan sosial yang sehat.

“Pengendalian emosi tidak terbatas hanya pada aspek kecerdasan semata, namun dapat mencakup hubungan sosial antara sesama manusia agar manusia mampu menahan sifat oportunis dan tidak berpikir secara bias,” ungkapnya.

Menariknya, ia menyebutkan bahwa CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga mengagumi karya Ibnu Khaldun, menunjukkan relevansi pemikiran ulama Islam bahkan di era modern.

Setelah pemaparan materi, sesi dilanjutkan dengan tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah mengenai hubungan antara kesadaran dan sistem dalam membangun peradaban. Suharsono menjawab bahwa kesadaran adalah hasil dari pengetahuan yang diiringi dengan penalaran (reasoning).

“Kesadaran adalah fungsi antara tahu dengan penalaran (reasoning). Kalau mengetahui tanpa bernalar maka itu belum bisa disebut kesadaran. Penalaran adalah pengetahuan yang melahirkan tindakan atau menimbulkan respon,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya analisis kritis. “Sesuatu haruslah dianalisa jangan hanya mengandalkan data,” pesannya.

Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah masa sulit selalu melahirkan orang-orang cemerlang dan bagaimana cara mencetak generasi unggul di era yang serba ada ini.

“Tidak selalu situasi sulit akan melahirkan generasi unggul,” jawabnya. “Situasi kompleks tergantung siapa yang mendefinisikan. Jangan hanya melihatnya secara subjektif.”

Ia juga mengkritik sikap oportunis generasi masa kini, seraya mengajak untuk melakukan perubahan menuju apa yang seharusnya.

Dia menyimpulkan, tantangan era AI bukan hanya sekadar bagaimana manusia beradaptasi dengan teknologi, tetapi bagaimana manusia tetap memegang kendali atas pemikiran dan visinya sendiri.[]

(Laporan naskah oleh Faisal Daariy dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

Quwwatul Iman dan Quwwatul Fikriyah Fondasi Utama Jalankan Dakwah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dakwah merupakan tugas mulia yang mewarisi jejak perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan ajaran Islam. Namun, di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, seorang dai dituntut untuk terus memperkuat diri, baik secara spiritual maupun intelektual.

Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) KH. Dr. Ahmad Sudrajat, Lc., M.A., menekankan pentingnya quwwatul iman (kekuatan iman) dan quwwatul fikriyah (kekuatan pemikiran) sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas dakwah.

“Bersyukurlah teman-teman yang menjadi dai, karena menjadi punggawa dan sanad Rasulullah. Rasulullah adalah dai yang istimewa. Ikutilah langkah-langkah dan strategi beliau, meskipun tidak semua bisa kita terapkan secara penuh,” ujarnya.

Pesan ini disampaikan KH. Dr. Ahmad Sudrajat, Lc., M.A., pada acara Upgrading Nasional Dai dan Penugasan 1000 Dai Ramadhan 1446 yang digelar Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) kerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta, beberapa waktu lalu dan disitat pada Selasa, 4 Ramadhan 1446 (4/3/2025).

Dalam paparannya, KH. Dr. Ahmad Sudrajat menegaskan bahwa seorang dai tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran Islam secara verbal, tetapi juga harus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Dia menekankan, profesi dai sebuah amanah besar yang menghubungkan seorang dai dengan tradisi profetik Rasulullah SAW. Quwwatul iman menjadi pilar pertama yang harus dimiliki seorang dai.

Kekuatan iman inilah yang akan menjadi benteng ketika seorang dai menghadapi berbagai ujian. Namun, kekuatan iman tidak berdiri sendiri. KH. Ahmad Sudrajat juga menegaskan pentingnya quwwatul fikriyah, yaitu kekuatan pemikiran yang tajam dan adaptif.

KH. Ahmad Sudrajat mengajak para dai untuk meneladani langkah-langkah dan strategi Rasulullah SAW dalam berdakwah. Rasulullah adalah sosok dai yang istimewa, tidak hanya karena kelembutan akhlaknya, tetapi juga karena kecerdasan strategi yang beliau terapkan.

Rasulullah mampu menyesuaikan metode dakwahnya sesuai dengan karakteristik masyarakat yang dihadapi. Namun, Ahmad juga mengingatkan bahwa tidak semua strategi Rasulullah dapat diterapkan secara langsung di masa kini, mengingat perbedaan konteks zaman dan tantangan yang dihadapi.

Seorang dai, menurut KH. Ahmad Sudrajat, harus memiliki sikap terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan identitasnya sebagai pembawa risalah Islam.

“Ketika lemah, maka ingat mentor dan berdiskusi untuk mencari solusinya. Seorang dai tidak boleh cukup dengan apa yang kita miliki hari ini,” tegas Pimpinan Pusat Pagar Nusa ini, organisasi pencak silat yang dibentuk oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Pelatihan yang menjadi wadah penyampaian materi oleh KH. Ahmad Sudrajat ini bertujuan untuk membekali para dai dengan wawasan dan strategi yang lebih efektif, terutama dalam menghadapi Ramadhan 2025.

Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memperdalam keimanan dan meningkatkan kualitas ibadah. Namun, bagi seorang dai, Ramadhan juga merupakan ujian sekaligus peluang untuk memberikan dampak signifikan bagi umat.

KH. Ahmad Sudrajat menegaskan bahwa seorang dai harus menjadi manusia pembelajar yang tidak pernah merasa puas dengan ilmu atau pengalaman yang dimilikinya saat ini. “Seorang dai harus menjadi manusia pembelajar,” ujarnya.*/Fuad Azzam