Beranda blog Halaman 11

Menggabungkan Olahraga, Kebersamaan, dan Ibadah dalam Konsep Bukber Sporty

0

TERLEPAS dari berbagai komplain terhadap Gen Z, ada satu yang harus diacungi jempol dari mereka: Kegemaran olahraga.

Survey dalam dan luar negeri menunjukkan mereka gemar olahraga. Survey Sport Trend Analysis yang diadakan di dalam negeri menunjukkan 94% Gen Z dan Milenial rajin olahraga minimal sepekan sekali. Sementara survey yang diadakan di Inggris memberi angka 72% Gen Z rajin olahraga.

Kegemaran olahraga Gen Z akhirnya menular ke banyak generasi, terutama generasi senior. Selain itu, dalam satu kajian, kegemaran olahraga ini menggeser kegemaran untuk clubbing. Keren, kan? Subhanallah.

Di sisi lain, dalam bidang olahraga, ada yang namanya golden window. Ini sebuah istilah untuk menggambarkan pentingnya makan bergizi tinggi setelah olahraga. Batas maksimumnya sekitar 60 menit pasca olahraga. Artinya setelah olahraga hendaklah seseorang makan bergizi tinggi terutama protein. Agar tubuh memiliki asupan yang cukup untuk recovery. Tubuh sehat dan bugar lebih mudah diperoleh insya Allah.

Lalu apa hubungannya dengan Ramadhan? Mari merancang bukber sporty!

Agar olahraga didapatkan, kebersamaan oke, dan ibadah mantap.

Contoh gambaran kegiatannya sebagai berikut.

1,5 jam sebelum waktu buka puasa, seluruh peserta bukber sudah berkumpul di arena olahraga. Lalu peserta pemanasan, olahraga, dan pendinginan dalam waktu 45 menit. Berikutnya peserta meniriskan keringat dan mandi, waktunya 45 menit juga. Tepat waktu adzan, peserta buka puasa bersama.

Dikarenakan ini bukber sporty, maka protein diperbanyak. Misalkan pisang, susu, whey protein, telur, ikan, dan daging. Karbohidrat tetap ada. Jangan lupa kurma, sebagaimana sunnah. Gorengan? Boleh, tapi cukup 1 biji saja (hehehe).

Karena golden window tersisa 15 menit, maka peserta dikondisikan langsung makan berat namun tetap perlahan. Setelah selesai, peserta shalat Maghrib lanjut taushiyah sampai Isya’. Sehingga peserta tidak berpikir untuk pulang. Sering ditemui peserta bukber pulang sebelum Isya’. Sayang sekali, karena tarawih berpotensi absen seiring keinginan peserta untuk segera sampai rumah masing-masing.

Oke, setelah mendapatkan taushiyah, peserta menjalankan shalat Isya’ dan Tarawih jama’ah. Tarawihnya bisa panjang, jika disepakati. Akan tetapi karena sudah olahraga di sore harinya, sangat dianjurkan untuk Tarawih berintensitas ringan hingga sedang. Betul, tujuannya agar peserta segera rehat dan recovery tubuh.

Dengan rangkaian seperti itu semoga Gen Z yang gemar olahraga berkenan ikut bukber. Kesan bukber yang monoton alias lebih menonjol taushiyahya sedikit meredup. Gantinya imej bukber yang penuh semangat.

Tunggu, tunggu…

Apabila dari tadi Gen Z yang disebut, bukan berarti Generasi Milenial dan X tidak boleh ikut bukber sporty. Boleh sekali generasi senior ikut. Gen Alpa yang lebih yunior juga boleh gabung. Tinggal olahraganya diatur dan disepakati.

Mungkin olahraganya bersifat individual seperti jogging atau gym, mungkin juga tim seperti futsal. Apa saja jenis olahraganya dipersilakan, yang penting semua senang dan tuntas hingga akhir waktunya. Ya olahraganya, bukbernya, Tarawihnya, semuanya dilalui dengan lancar.

Semangat!

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDDIN

Penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, IAI Hidayatullah Batam Laksanakan Bimtek PkM dan Publikasi

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Artikel Jurnal PkM, Penulisan Buku, dan Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas akademik sivitas kampus.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan institusi sebagai bagian dari penguatan kompetensi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian, pengabdian masyarakat, serta publikasi ilmiah.

Bimtek yang berlangsung di Aula Kampus I Batu Aji Hidayatullah Batam ini menghadirkan narasumber Frangky Silitonga, S.Pd., M.Si., yang memberikan pendampingan teknis terkait mekanisme penyusunan proposal pengabdian masyarakat sesuai standar nasional.

Agenda ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAI Hidayatullah Batam dan ditetapkan sebagai kegiatan wajib bagi seluruh dosen homebase.

Ketua LP2M, Muthma’innah, M.Pd menerangkan bahwa kegiatan tersebut upaya untuk memastikan kesiapan akademik dosen dalam merespons peluang pendanaan dan pengembangan riset berbasis pengabdian masyarakat.

Muthma’innah menyebutkan pelaksanaan bimtek diarahkan tidak hanya pada pemahaman konseptual, tetapi juga pada praktik teknis penyusunan dokumen akademik yang memenuhi standar kementerian.

Mengikuti Pedoman Teknis

Sementara itu, dalam pemaparannya, Frangky Silitonga menjelaskan bahwa pengajuan proposal kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui sistem Litapdimas Kementerian Agama harus mengikuti pedoman teknis yang telah ditetapkan secara sistematis. Ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap petunjuk teknis sebelum proses pengajuan dilakukan.

“Mengutip dari portal Litapdimas, sebelum mengusulkan bantuan pastikan anda membaca dan memahami juknis terkait bantuan yang akan diusulkan. Jadilah pengusul yang cerdas dan bijaksana,” ujar Frangky dalam sesi penyampaian materi.

Ia juga mengarahkan peserta untuk memilih tema riset prioritas yang telah ditetapkan Kementerian Agama agar proposal yang diajukan memiliki relevansi kebijakan serta peluang keberterimaan yang lebih tinggi. Menurutnya, kesesuaian antara tema penelitian dan bidang keilmuan program studi menjadi faktor penting dalam proses seleksi proposal.

Selain penyusunan proposal, Frangky menekankan kewajiban akademik lanjutan berupa publikasi hasil pengabdian masyarakat dalam jurnal ilmiah berbasis Open Journal System (OJS). Ia menjelaskan bahwa proses penulisan artikel harus mengikuti template jurnal yang sesuai ruang lingkup keilmuan dan dapat ditelusuri melalui portal indeks nasional.

“Pastikan jurnal hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah disubmit melalui link OJS PkM dan penulisannya mengikuti template jurnal yang tersedia di portal SINTA,” jelasnya kepada peserta.

Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Siddik, M.Pd.I., dalam arahannya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang diinisiasi LP2M tersebut. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas dosen dalam bidang penelitian dan pengabdian merupakan bagian dari tanggung jawab profesional akademisi perguruan tinggi.

Menurutnya, keterbatasan sumber daya institusi justru menuntut sivitas akademika untuk aktif memanfaatkan informasi dan peluang yang tersedia melalui sistem Litapdimas. Ia menilai kegiatan bimbingan teknis menjadi ruang awal untuk membangun budaya akademik yang produktif dan terukur.

“Pelaksanaan bimbingan teknis pengajuan proposal kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga bisa menjadi wadah untuk memulai menulis proposal yang baik dan terukur serta menjadi pemancing lahirnya karya-karya produktif lainnya dari seluruh dosen,” ujar Muhammad Siddik.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat orientasi institusi dalam membangun ekosistem akademik yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga menghasilkan kontribusi ilmiah yang berdampak bagi masyarakat. Melalui penguatan kemampuan penyusunan proposal, publikasi jurnal, penulisan buku, serta pemahaman HKI, dosen diharapkan mampu meningkatkan kualitas luaran akademik secara berkelanjutan.

“Bimtek ini bagian dari upaya institusional IAI Hidayatullah Batam dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi berbasis riset dan pengabdian masyarakat, sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan sosial,” pungkas Siddik.

Bimtek Penulisan Buku dan Sosialisasi HKI Perkuat Budaya Publikasi Ilmiah di IAI Hidayatullah

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Rektor Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Siddik, M.Pd.I, menegaskan bahwa pelaksanaan Bimbingan Teknis Penulisan Buku dan Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan wadah awal bagi para dosen untuk memulai tradisi menulis sekaligus menjadi pemancing lahirnya karya-karya akademik produktif di lingkungan kampus. Pernyataan tersebut disampaikan Siddik saat membuka kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus I Batu Aji IAI Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 10 Ramadhan 1447 H (28/2/2026).

Siddik menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berkaitan langsung dengan tanggung jawab profesional dosen sekaligus pengembangan jenjang karier akademik di masa mendatang. Ia menekankan bahwa reputasi perguruan tinggi pada era pendidikan tinggi modern sangat ditentukan oleh kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan sivitas akademika, termasuk karya berbentuk buku.

“Pelaksanaan bimbingan teknis penulisan buku ini menjadi wadah untuk memulai menulis dan bisa menjadi pemancing untuk lahir karya-karya produktif lainnya dari seluruh dosen,” ujar Dr. Muhammad Siddik.

Ia menambahkan bahwa dampak kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan workshop semata, melainkan berlanjut hingga proses penerbitan karya ilmiah secara nyata. Menurutnya, keberhasilan kegiatan diukur dari lahirnya produk akademik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memberikan kontribusi terhadap penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Dampak dari kegiatan ini diharapkan bisa menjadi pemicu pada para dosen untuk meningkatkan Tri Dharma, sekaligus menjadi wajah dari kualitas karya ilmiah kampus,” lanjutnya.

Kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan Buku dan Sosialisasi HKI tersebut diwajibkan bagi seluruh dosen homebase IAI Hidayatullah Batam sebagai bagian dari strategi institusi dalam membangun budaya akademik berbasis riset dan publikasi. Rektor menegaskan bahwa proses pembinaan akademik tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi harus menghasilkan capaian konkret berupa naskah buku yang siap dikembangkan.

Lebih lanjut, Siddik menjelaskan bahwa setelah mengikuti rangkaian bimbingan teknis, seluruh peserta diharapkan mampu menyusun draft outline buku sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Dia menjelaskan, bimbingan teknis tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah institusional dalam memastikan bahwa pengembangan karier dosen berjalan seiring dengan peningkatan mutu akademik kampus, sehingga publikasi ilmiah yang dihasilkan dapat merepresentasikan kualitas riset dan keilmuan perguruan tinggi secara berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan harapan agar buku-buku yang telah maupun yang akan ditulis oleh dosen dari setiap program studi dapat berkembang menjadi referensi ilmiah yang kredibel, baik bagi kalangan akademik maupun masyarakat luas. Menurutnya, keberadaan buku ajar dan karya ilmiah dosen memiliki fungsi strategis dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas teknis, institusi menghadirkan Frangky Silitonga, S.Pd., M.S.I., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Frangky menyampaikan materi terkait penentuan topik, ruang lingkup pembahasan, serta strategi sistematis dalam penyusunan buku akademik. Materi tersebut diarahkan untuk membantu dosen memahami tahapan penulisan secara metodologis, mulai dari perencanaan hingga proses penerbitan.

Pada sesi akhir kegiatan, peserta mengikuti simulasi penyusunan draft buku ajar berdasarkan materi yang telah diberikan. Simulasi tersebut menjadi bagian praktik langsung agar peserta mampu menerjemahkan konsep penulisan ke dalam bentuk naskah yang siap dikembangkan menjadi buku terbitan.

Manifestasi Kalpataru, Hidayatullah Jalin Kerja Sama Strategis Penjagaan Lingkungan Nasional

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah terus meneguhkan upaya pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menyampaikan hal tersebut terkait peresmian kerja sama antara Hidayatullah dan Kementerian Kehutanan.

Isnaeni menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk mengukuhkan kembali peran Kalimantan Timur sebagai paru-paru dunia melalui aksi nyata di lapangan.

Menurut Isnaeni, pertemuan yang berlangsung di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak tersebut merupakan sebuah simbolisme kuat atas keberlanjutan visi ekologis organisasi.

Isnaeni mengungkapkan bahwa keterlibatan Menteri Kehutanan secara langsung di Gunung Tembak memiliki makna historis dan filosofis yang mendalam bagi keluarga besar Hidayatullah.

“Kehadiran Pak Menteri di Gunung Tembak secara simbolik. Sesungguhnya ini menjadi penting terkhusus bagi Hidayatullah yang bukan hanya sekadar berkeinginan,” ujar Isnaeni, seraya menekankan pentingnya kehadiran negara dalam mendukung inisiatif lingkungan yang berbasis masyarakat.

Lebih lanjut, Isnaeni menjelaskan bahwa komitmen Hidayatullah terhadap lingkungan memiliki akar sejarah yang kuat. Hal ini merujuk pada rekam jejak pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, yang telah meletakkan fondasi kesadaran lingkungan sejak puluhan tahun silam.

Keberhasilan Abdullah Said dalam mengubah wilayah yang dulunya gersang menjadi kawasan hutan yang rimbun di Gunung Tembak telah diakui secara nasional melalui penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup.

“Dalam jajak rekamnya, pendiri Hidayatullah dalam hal ini KH Abdullah Said pada saat itu mendapatkan penghargaan Kalpataru atas dedikasi dan keseriusan beliau untuk menjadikan wilayah gersang menjadi hutan di Gunung Tembak,” kata Isnaeni dalam keterangannya di Balikpapan, Ahad, 11 Ramadhan 1447 (1/3/2026).

Menurutnya, semangat yang terpancar dari penghargaan Kalpataru tersebut tidak pernah padam, bahkan kini bertransformasi menjadi energi kolektif yang lebih besar seiring dengan semakin mendesaknya isu perubahan iklim di tingkat global.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Isnaeni (Foto: Tadzkir Bilal/ Hidayatullah.or.id)
Komitmen Ekologis Hidayatullah

Isnaeni menggarisbawahi bahwa komitmen ekologis Hidayatullah saat ini justru semakin kuat. Di tengah sorotan dunia terhadap degradasi lingkungan, Hidayatullah merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil peran terdepan.

“Dan itulah yang kemudian membuat beliau dalam hal ini menjadi tokoh inspiratif dan mendapatkan Kalpataru dan komitmen itu tidak redup bahkan semakin menyala. Terlebih-lebih dengan adanya isu lingkungan yang hari ini menjadi konsern Indonesia bahkan dunia,” imbuhnya.

Sebagai bentuk implementasi dari komitmen tersebut, kerja sama yang diresmikan dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini akan difokuskan pada program penanaman pohon produktif.

Isnaeni menyebutkan, program ini tidak hanya menyasar satu titik, melainkan diproyeksikan untuk menjangkau seluruh jaringan pondok pesantren Hidayatullah yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Langkah ini dipandang sebagai strategi cerdas yang menggabungkan fungsi ekologis dengan nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat pesantren.

Isnaeni menjelaskan bahwa kesepakatan ini mencakup distribusi dan penanaman pohon produktif secara masif. “Perjanjian kerja sama untuk penanaman pohon produktif di seluruh pondok pesantren yang dimiliki oleh Hidayatullah di seluruh Indonesia, yang secara seremonial pertama dilakukan di Gunung Tembak,” tuturnya.

Isnaeni menyatakan bahwa Hidayatullah ingin melampaui batas-batas retorika dalam isu lingkungan. Baginya, tantangan lingkungan saat ini membutuhkan solusi praktis yang dapat dirasakan dampaknya secara langsung, terutama dalam menjaga integritas ekosistem di Kalimantan.

“Tentu kita tidak ingin hanya berhenti pada narasi. Kita ingin kemudian ada langkah-langkah nyata, aksi-aksi nyata yang betul-betul menunjukkan komitmen serius kita. Terlebih khususnya wilayah Kalimantan Timur dan secara umum Kalimantan adalah paru-paru dunia,” tegas Isnaeni.

Isnaeni menyampaikan bahwa agenda ini merupakan pesan kuat kepada dunia bahwa kolaborasi antara elemen keagamaan dan pemerintah dapat menjadi motor penggerak bagi pemulihan lingkungan.

“Dan, ini tentu menjadi langkah nyata, langkah konkret bagi kita untuk terus menggelorakan semangat terhadap proses penjagaan lingkungan. Inilah yang sebenarnya ingin menjadi pesan utama dari kehadiran Pak Menteri Kehutanan di Gunung Tembak untuk melangsungkan PKS atau kerja sama dengan Hidayatullah,” tukasnya.

Dengan kerja sama strategis ini, diharapkan dia upaya merawat Kalimantan Timur sebagai paru-paru dunia dapat terakselerasi, sekaligus memberikan inspirasi bagi institusi lain untuk turut serta dalam gerakan hijau yang berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.

Puasa dan Keberanian Moral untuk Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Oleh Ust. H. MD. Karyadi*

RAMADHAN adalah momentum bagi setiap insan beriman untuk menata dan mengubah diri menjadi lebih baik, lebih bertakwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu ukuran sukses tidaknya seseorang dalam mengisi Ramadhan bisa kita ukur dari sejauh mana perubahan itu terjadi.

Jika Ramadhan berlangsung hingga tengah bulan atau bahkan berlalu secara tuntas, kemudian tidak ada perubahan terjadi, maka sesungguhnya kita hanya berpindah waktu. Tak ada perubahan, tak juga ada pertumbuhan kesadaran. Padahal Ramadhan hadir membawa pesan besar: hidup harus menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, bukan pula sekedar mengubah jadwal makan dan minum, tetapi latihan perubahan diri. Allah seakan memberi ruang khusus selama sebulan penuh agar manusia berhenti dari rutinitas lama, menata ulang arah hidup, dan memperbaiki kualitas jiwa.

Sebagaimana hp atau aplikasi perlu di-update secara berkala, manusia juga memiliki sistem yang perlu dievaluasi dan butuh pembaruan. Jadi perlu ada masa kita duduk merenung untuk melakukan koreksi secara berkala dan simultan. Karena itu, Ramadhan adalah momentum evaluasi: siapa kita sebelum Ramadhan, dan ingin menjadi siapa setelahnya?

Mengapa Manusia Sulit Berubah?

Pada kenyataannya, perubahan selalu membutuhkan keberanian. Banyak orang sebenarnya tidak nyaman dengan hidupnya; hati gelisah, pikiran lelah, arah hidup tidak jelas, hidup dalam kekacauan, tetapi tetap bertahan dalam kondisi itu. Mengapa? Karena sebagian dari mereka takut melangkah, enggan atau bahkan tidak berani untuk berubah. Takut memiliki keinginan, takut gagal, takut dinilai orang lain, takut keluar dari zona yang sudah familiar, meskipun zona itu tidak membahagiakan.

Sebagian besar manusia terjebak dalam kebiasaan dan tradisi. Apa yang dilakukan sejak lama dianggap paling aman, walaupun belum tentu benar atau membawa kemajuan. Kebiasaan yang berulang dan tidak pernah kita evaluasi akan membuat kesadaran belajar berhenti. Akhirnya kita sendiri yang tanpa sadar membentuk penjara tak terlihat.

Padahal hidup bukan untuk sekadar mengulang masa lalu, melainkan untuk bertumbuh menuju kualitas yang lebih tinggi, yaitu pribadi yang bertaqwa. “Dan kesudahan (surga) itu bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Al Ankabut: 83).

Latihan Tauhid dan Keberanian Moral

Puasa melatih pengendalian diri, mengurangi ketergantungan pada penilaian sosial, dan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia lemah di hadapan Allah. Dalam kata lain, Ramadhan datang untuk memecahkan ketakutan itu.

Puasa mengajarkan bahwa semua manusia pada dasarnya sama: sama-sama lapar, sama-sama lemah, sama-sama bergantung kepada Allah. Jabatan, harta, dan status sosial seakan dilepaskan sementara. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati sekaligus keberanian, karena nilai manusia bukan ditentukan oleh dunia, tetapi oleh ketakwaannya.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Di sinilah Ramadhan mengajarkan totalitas bertauhid. Ketika seseorang benar-benar bertauhid, ia menyadari bahwa hanya Allah yang layak ditakuti dan diharapkan. Ketakutan kepada penilaian manusia perlahan hilang. Orang yang bertauhid tidak lagi takut berubah menuju kebaikan, karena ia yakin hidupnya berada dalam bimbingan Allah yang menyayanginya.

Perubahan juga membutuhkan arah yang jelas. Setelah Ramadhan, kita harus tahu ingin menjadi pribadi seperti apa. Tanpa impian yang jelas, semangat Ramadhan akan menguap begitu saja. Impian memberi arah, sedangkan Ramadhan memberi energi spiritual untuk memulainya. Maka tanyakan pada diri: kebiasaan apa yang ingin dipertahankan? Akhlak apa yang ingin diperbaiki? Tujuan hidup apa yang ingin diwujudkan?

Selain itu, keberanian berubah menuntut kejujuran melihat ke dalam diri. Sering kali kegagalan yang manusia alami bukan karena dunia luar, bukan karena orang lain, melainkan cara berpikir buruk yang tidak disadari begitu mengakar dalam diri. Ramadhan mengajak kita melakukan muhasabah, menemukan penyebab kegagalan dalam diri yang menarik keadaan tidak enak.

{ وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Ash-Syura: 30).

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia perlu bercermin pada dirinya, meskipun tidak semua musibah dapat disederhanakan sebagai akibat langsung dari kesalahan pribadi. Tapi bagaimanapun secara pribadi kita harus terus sadar dan melangkah menuju kondisi yang lebih baik.

Akhirnya, Ramadhan adalah undangan Allah kepada hamba-Nya beriman untuk memulai kehidupan baru. Ia bukan rutinitas ibadah tahunan, tetapi titik awal perjalanan menjadi manusia yang lebih sadar, lebih berani, dan lebih bermanfaat untuk sesama. Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi kenangan spiritual sesaat. Jadikan ia momentum transformasi diri.

Karena Ramadhan sejatinya bukan tentang sebulan berpuasa, tetapi tentang keberanian menjadi versi terbaik diri kita setelahnya. Dan itu butuh kesadaran untuk benar-benar berubah menjadi lebih bertakwa. Kita tahu perubahan itu bukan spontan, tetapi hasil latihan spiritual yang sadar dan terarah. Ramadhan adalah momen terbaiknya bagi kita semua. Wallahu a’lam.

*) Ust. H. MD. Karyadi, penulis anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Konfirmasi sebagai Wujud Saling Peduli

0

“MAKA tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka bertaubat kepada Allah.” (Hud 74-75)

Dua ayat ini menceritakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kedatangan malaikat. Dua kabar didapatkannya. Salah satunya tentang pelaksanaan adzab kepada kaum Sodom.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam langsung kaget. Sontak beliau menyampaikan keberatan kepada malaikat. “Ada Luth di sana,” ujar beliau.

Maksud beliau, jangan sampai Nabi Luth ‘alaihissalam terkena adzab. Bagaimanapun Nabi Luth ‘alaihissalam masih aktif berdakwah. Tidak layak seorang nabi, apalagi masih aktif berdakwah, disiksa bersama dengan kaumnya yang durhaka.

Malaikat menjawab, Nabi Luth akan diselamatkan dari siksa kolektif. Begitupun keluarga beliau. Hanya saja istri beliau telah ditetapkan sebagai orang yang akan menerima siksa. Karena sang istri mendukung kedurhakaan kaumnya.

Tergambar situasi batin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau cemas tentang Nabi Luth ‘alaihissalam. Ini wajar. Karena sesama orang beriman saling peduli.

Oleh karena itu Allah ta’ala menegaskan bahwa Nabi Ibrahim sosok yang penghiba dan suka bertaubat. Nabi Ibrahim bukanlah penggugat, dalam hal ini menggugat ketetapan-Nya. Keberatan yang disampaikannya lebih banyak atas motivasi kepedulian.

Dari sini ada satu pelajaran penting. Bahwa di balik perkataan yang terlihat negatif, bisa jadi ada motivasi mulia. Menelaah keduanya secara utuh diperlukan. Agar salah pengertian tidak terjadi. Apalagi kemudian salah penilaian muncul. Situasi bisa runyam.

Dalam hal ini konfirmasi (tabayyun) diperlukan. Wujud yang umum adalah bertanya kepada yang bersangkutan. Wujud lainnya, sebagaimana dalam kedua ayat tersebut, adalah mendapatkan informasi dari pihak otoritatif.

Perlu kiranya tidak terjebak pada perkiraan-perkiraan berbasis data masa lalu. Boleh saja data masa lalu, biasa dikenal dengan istilah rekam jejak, digunakan sebagai bagian dari konfirmasi. Akan tetapi bertanya langsung atau lewat pihak otoritatif hendaklah dilakukan juga. Agar bias tidak mengurangi kejernihan pikiran.

Memang bertanya tidak selalu mudah. Kadang energi emosi yang besar diperlukan. Dalam hal ini bertanya bisa ditunda beberapa saat sampai hati mantap. Jika kondusivitas hati telah terasakan, bolehlah bertanya dilakukan.

Dengan demikian semoga komunikasi antarpersonal menjadi dinamis. Satu sama lain berkenan bertanya. Di saat bersamaan ada keterbukaan untuk menjawab pertanyaan.

Berikutnya semoga keamanan dan kenyamanan mental terbangun. Sehingga seseorang tidak takut untuk selalu mengembangkan dan memperbarui diri. Ia yakin lingkungannya bebas dari vonis sosial. Tak ada ghibah, apalagi fitnah. Yang ada hanya saling sapa dan tanya sebagai wujud saling peduli dalam kebaikan.[]

Fu’ad Fahruddin

Saiful Anwar Tekankan Pentingnya Pemahaman Fiqih Muamalah bagi Kehidupan Umat

Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Saiful Anwar, M.E (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Saiful Anwar, M.E., mengatakan pendidikan sebagai ruang strategis dalam membangun kesadaran ekonomi syariah sejak dini dalam interaksi muamalah sehari hari. Pemahaman ini dinilai dia penting agar generasi muda tidak hanya memahami aspek ibadah ritual, tetapi juga mampu menjalankan aktivitas ekonomi secara etis dan sesuai prinsip Islam.

Saiful menegaskan bahwa literasi keuangan syariah merupakan bagian dari pembentukan karakter Muslim yang bertanggung jawab dalam mengelola harta, bermuamalah, serta menjaga keadilan sosial dalam kehidupan ekonomi. Dalam pada itu, menurutnya ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bahwa praktik ekonomi dalam Islam tidak berdiri terpisah dari nilai pendidikan, moralitas, dan tanggung jawab kemasyarakatan.

Mengawali materinya, Saiful Anwar menekankan bahwa proses belajar dalam Islam tidak sekadar aktivitas akademik, melainkan perjalanan kesadaran intelektual dan spiritual yang berangkat dari pengakuan atas keterbatasan diri. Ia mengajak peserta membangun tradisi keilmuan yang dilandasi niat ibadah.

“Ta’allama pada hakikatnya bukan sekadar belajar, tetapi kondisi ketika seseorang belum mengetahui sesuatu namun memiliki keinginan untuk memahaminya lebih dalam,” ujarnya dalam dalam Kajian Ramadhan yang berlangsung di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad, 11 Ramadhan 1447 (1 /3/2026).

Saiful kemudian mengarahkan pembahasan pada disiplin fiqih muamalah yang menurutnya sering dipersempit hanya pada persoalan riba, padahal cakupannya jauh lebih luas.

“Di sini kita akan mempelajari fiqih muamalah. Perkara ini sering dianggap remeh, padahal memiliki dampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menyederhanakan bahwa yang haram dalam muamalah hanyalah riba, padahal masih banyak bentuk larangan lainnya,” kata lulusan Magister Ekonomi Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kudus ini.

Ia menegaskan bahwa hukum dasar aktivitas ekonomi dalam Islam pada prinsipnya bersifat terbuka dan memberi ruang kreativitas manusia, selama tidak melanggar batasan syariat. Karena itu, fokus utama kajian muamalah justru terletak pada memahami batasan-batasan yang tidak diperbolehkan.

“Pada dasarnya hukum muamalah adalah mubah atau diperbolehkan. Karena itu, yang dipelajari justru batasan-batasan yang dilarang atau diharamkan. Kaidah dasar berikutnya adalah harta orang lain pada asalnya haram bagi kita, kecuali diperoleh melalui transaksi yang dilakukan secara sukarela,” jelasnya.

Menurut Saiful, prinsip kerelaan menjadi elemen fundamental dalam sistem ekonomi Islam. Kepemilikan harta tidak dapat berpindah secara sah tanpa adanya mekanisme transaksi yang diakui syariat. Oleh karena itu, konsep akad menjadi instrumen utama dalam melegitimasi perpindahan hak kepemilikan.

“Agar harta orang lain menjadi halal, maka harus melalui akad. Dalam fiqih, akad terbagi menjadi dua,” ujarnya.

Ia kemudian menguraikan klasifikasi akad dalam fiqih muamalah yang menjadi dasar berbagai praktik ekonomi syariah modern.

“Pertama, akad tabarru’, yaitu akad yang diniatkan untuk kebaikan dan diperbolehkan, seperti wakaf, hibah, sedekah, dan infak. Kedua, akad tijarah, yaitu akad yang bersifat komersial seperti jual beli,” katanya.

Transaksi Sosial dan Transaksi Ekonomi

Lebih jauh Saiful menerangkan, Islam membedakan secara tegas antara transaksi sosial berbasis kebaikan dan transaksi ekonomi berbasis keuntungan. Keduanya memiliki konsekuensi hukum yang berbeda dalam praktiknya.

Selanjutnya, Saiful Anwar menguraikan sejumlah unsur yang menyebabkan suatu transaksi menjadi terlarang dalam Islam. Ia menempatkan kezaliman sebagai faktor utama yang merusak sistem ekonomi.

“Dalam muamalah terdapat beberapa hal yang diharamkan. Pertama adalah kezaliman, karena kerusakan bermula dari kedzaliman. Kedua adalah maysir atau judi, yang berbeda dengan undian, karena dalam judi terdapat taruhan dan pihak yang dirugikan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa praktik ekonomi yang mengandung spekulasi berlebihan juga termasuk kategori yang dilarang. Konsep ini dikenal dalam fiqih sebagai gharar, yaitu ketidakjelasan dalam transaksi.

Saiful menjelaskan bahwa gharar muncul ketika objek transaksi, waktu pembayaran, maupun kepastian hasil tidak jelas sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak.

Gharar dalam akad tabarru’ diperbolehkan, namun dilarang dalam transaksi yang berpotensi merugikan,” ujarnya.

Dalam bagian berikutnya, pembahasan diarahkan pada praktik riba yang menurutnya menjadi persoalan klasik dalam sejarah ekonomi manusia. Ia menilai riba sulit dihapus karena seringkali tampak menguntungkan secara kasat mata.

“Riba merupakan praktik lama yang sulit dihilangkan karena tampak menguntungkan kedua belah pihak. Riba tidak hanya terjadi dalam utang piutang, tetapi juga dapat muncul dalam jual beli,” katanya.

Saiful kemudian menjelaskan kaidah penting dalam memahami riba agar masyarakat tidak terjebak pada praktik yang tampak legal tetapi melanggar prinsip syariah.

“Kaidah riba adalah setiap transaksi yang memberikan manfaat bagi pihak pemberi pinjaman, namun tidak termasuk riba apabila manfaat tersebut tidak disyaratkan sejak awal akad,” jelasnya.

Dia menekankan bahwa inti fiqih muamalah bukan sekadar menghindari larangan, tetapi membangun sistem transaksi yang adil, transparan, dan saling menguntungkan tanpa eksploitasi.

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

0

QARUN adalah orang yang mendapat ujian nikmat harta. Tetapi ia terlena, teranestesi, oleh kekayaan itu. Ia bahkan merasa bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri.

Sementara itu, Utsman bin Affan ra. adalah sahabat Nabi SAW yang juga dalam kondisi mengalami ujian kekayaan. Namun, Utsman ra. mampu memilih jalan takwa. Mengapa kedua orang itu berbeda pilihan hidup?

Jelas, masalahnya bukan pada harta, tapi dari cara keduanya dalam menjadikan harta sebagai sarana mengabdi kepada Allah SWT. Qarun bangga dan kagum pada harta. Utsman ra. sadar bahwa ia harus lebih kagum, takjub dan taat kepada yang memberi nikmat kekayaan itu.

Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa manusia selalu bergerak menuju sesuatu yang ia anggap paling bernilai. Nilai tertinggi seseorang menentukan arah hidupnya. Jika nilai tertingginya diri dan materi, nikmat menjadi pusat. Jika nilai tertingginya Allah dan kemaslahatan, nikmat menjadi sarana.

Berjuang adalah Nikmat

Nikmat itu netral. Pada realitanya, nikmat akan semakin bernilai ketika kita sikapi sebagai penggerak jiwa terus dalam kebaikan. Pada kondisi itu nikmat bisa jadi bahan bakar perjuangan.

Namun, ketika sikap kita keliru, maka nikmat juga bisa menjadi bantal empuk yang menidurkan idealisme, cita-cita, bahkan visi.

Untuk itu, penting kita merenung sejenak, bagaimana cara kita memperlakukan nikmat iman, nikmat hidup ini untuk merasakan nikmat dalam berjuang.

Ini karena otak manusia secara biologis memang cenderung mencari kenyamanan dan menghindari risiko. Itu mekanisme bertahan hidup. Namun, manusia bukan hanya makhluk biologis; ia makhluk bernilai dan bermakna. Ketika seluruh hidup hanya mengikuti dorongan nyaman, manusia turun derajatnya menjadi sekadar pencari sensasi aman.

Karena manusia menemukan makna ketika ia berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya, maka sebenarnya berjuang itu nikmat. Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, sebagaimana Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Tohari tegaskan dalam kajian online yang Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah selenggarakan (Jumat, 27/2/26), bahwa berjuang adalah kenikmatan.

Lelahnya orang yang berjuang, sakitnya orang yang berjuang, merupakan anak tangga merasakan kenikmatan iman yang luar biasa.

“Kenikmatan hidup tidak hanya karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman. Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” tegas KH. Hamim Tohari.

Semakin Berat Semakin Nikmat

Secara umum, otak manusia suka pada hal-hal yang ringan, menghemat energi dan tak terlalu makan tenaga apalagi biaya. Begitupun secara psikologis, rasa nyaman selalu menjadi prioritas bagi kebanyakan orang. Meski itu beresiko terhadap kurangnya sens of urgency.

Logikanya sederhana, seringkali kesulitan memaksa manusia keluar dari zona nyaman dan zona otomatis. Ia menjadi lebih sadar, lebih fokus, lebih bergantung pada Allah. Kesadaran yang meningkat itulah yang menghadirkan rasa nikmat iman.

Sebagaimana dahulu semakin ada tantangan semakin datang rasa nikmat. Seperti sikap mental kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW.

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22).

Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa itu adalah sikap mental orang beriman. Ketika tantangan besar, yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan koalisi kaum kuffar terjadi, umat Islam tidak gentar apalagi mengeluh. Mereka malah semakin yakin bahwa janji Allah dan Rasul-Nya akan segera menjadi kenyataan. Tantangan yang tidak ringan itu malah meningkatkan kualitas iman mereka.

Makna Hidup

Belajar dari sejarah tersebut, tepat sekali apa yang Ust. Abdullah Said sampaikan. Bahwa berjuang adalah kenikmatan. Hal ini karena manusia adalah makhluk relasional. Ia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya. Ketika ia memusatkan hidup pada diri sendiri, ruang jiwanya menyempit. Ketika ia memberi, ruang jiwanya melebar.

Secara empiris kita mengetahui bahwa manusia semakin punya kontribusi bagi kehidupan umat manusia semakin bahagia. Sikap mental yang selalu ingin mengambil peran, berkontribusi pada kebaikan, akan melahirkan hidup yang penuh makna. Makna itu akan mendatangkan ketenangan.

Sebaliknya kita memahami bahwa semakin orang individualis, mau menggenggam harta sebagai sandaran kebahagiaan, semakin ia akan gelisah. Hidupnya pun mengalami stagnasi. Stagnasi menjadi sebab hidup yang penuh kehampaan.

Belajar Pada Kader dan Santri Awal Hidayatullah

Oleh karena itu kalau kita belajar kepada kader dan santri awal Hidayatullah. Bukan karena mereka kebal terhadap kesulitan, tetapi karena mereka memiliki visi yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.

Alhasil, mereka tidak takut akan segala kondisi. Bukan karena mereka tahu, ada uang dan punya hal yang bisa diandalkan. Tetapi karena mereka yakin, hidup yang nikmat adalah ketika diri mau totalitas berjuang.

Lantas bagaimana dengan saat ini? Jika dahulu bisa, apa yang menghambat hari ini kita menjadi tidak bisa merasakan nikmat dalam berjuang. Di sinilah kita penting terus ingat akan nikmat-nikmat hebat dalam perjuangan.

Sungguh perbedaan masa bukanlah kunci jawaban untuk melegitimasi bahwa berjuang bisa kita kurangi powernya. Perbedaan masa adalah sunnatullah, tapi tekad dan semangat adalah sikap mental yang harus kita rawat agar sama, menyala-nyala sebagaimana generasi terdahulu.

Tidak samanya masa hanyalah sebuah kondisi yang menuntut kita lebih adaptif dalam hal cara dan strategi. Bukan mengubah apalagi mengganti nilai dan idealisme dengan logika materi.

Dengan demikian, kita sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa nikmat yang tidak diarahkan pada perjuangan akan mempersempit jiwa. Nikmat yang digunakan untuk perjuangan akan meluaskan makna hidup.[]

Mas Imam Nawawi

Ramadhan sebagai Madrasah Pembentuk Integritas Taat Hukum dan Berkeadilan

0
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr. Dudung A. Abdullah, S.H., M.Ag (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr. Dudung A. Abdullah, S.H., M.Ag., menekankan pentingnya membangun karakter taat hukum dalam Kajian Ramadhan bertajuk “Membangun Karakter Taat Hukum Melalui Spirit Ramadhan” yang digelar di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu, 11 Ramadan 1447 (28/2/2026).

Dudung menegaskan, Ramadhan bukan hanya sebagai ritual ibadah tahunan, melainkan sebagai proses pembentukan kesadaran hukum, integritas moral, serta tanggung jawab sosial yang berakar pada nilai ketakwaan.

Menurutnya, spirit puasa hendaknya dipahami sebagai latihan untuk menghadirkan kepatuhan yang lahir dari kesadaran, bukan sekadar tekanan aturan, sehingga nilai keadilan dapat terwujud dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Berlatar kisah historis pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, Dudung mengawali dengan menjelaskan relasi antara kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab moral dalam Islam. Ia mengisahkan peristiwa yang melibatkan dua putra Amirul Mukminin, Abdullah dan Ubaidillah bin Umar, ketika keduanya mendapatkan pinjaman modal dari Baitul Maal melalui Gubernur Bashrah, Abu Musa al-Asy’ari.

Modal tersebut digunakan untuk berdagang dan menghasilkan keuntungan ketika kembali ke Madinah. Namun, ketika persoalan itu sampai kepada Umar bin Khattab, sang khalifah mempertanyakan aspek keadilan kebijakan tersebut, khususnya apakah fasilitas serupa diberikan kepada seluruh pasukan Muslim.

Ketika diketahui bahwa pinjaman tersebut hanya diberikan kepada keduanya, Umar memerintahkan agar keuntungan dikembalikan kepada Baitul Maal karena adanya faktor kedekatan sebagai anak pemimpin. Setelah melalui musyawarah para sahabat, transaksi tersebut kemudian disepakati sebagai akad mudharabah sehingga keuntungan dibagi secara adil.

Privilege sebagai Amanah

Melalui kisah tersebut, Dudung Abdullah menegaskan prinsip fundamental Islam dalam memandang kedudukan sosial dan akses kekuasaan. “Islam memandang privilege sebagai amanah yang dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif syariat, keistimewaan bukanlah sesuatu yang dilarang, namun harus ditempatkan dalam kerangka kemaslahatan umum. “Privilege diperbolehkan untuk kebaikan umat, karena ketidakadilan banyak muncul dari penyelewengan penggunaan privilege,” katanya.

Menurutnya, sikap Umar bin Khattab menunjukkan standar etika hukum yang sangat tinggi dalam pemerintahan Islam. Kehati-hatian tersebut menjadi contoh bagaimana kekuasaan harus dijalankan secara transparan dan akuntabel.

“Amirul Mukminin sangat berhati-hati dalam urusan keadilan, bahkan di Islam banyak ayat dalam Al-Qur’an yang tujuannya mendirikan prinsip-prinsip hukum,” jelas advokat yang juga pendiri Kantor Hukum DRDR ini.

Ia menegaskan bahwa sistem hukum Islam dibangun untuk mencegah dominasi kekuasaan oleh kelompok tertentu yang memiliki kedekatan atau pengaruh sosial.

“Islam sangat konsen dalam mengatur hukum keadilan agar kekuasaan tidak hanya dikuasai dan digunakan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan, pengaruh, atau privilege, tetapi benar-benar berjalan di atas prinsip amanah dan keadilan bagi seluruh umat,” ujarnya.

Dalam kerangka tersebut, Dudung mengaitkan prinsip keadilan dengan tanggung jawab moral individu Muslim dalam kehidupan sosial. “Allah menginginkan kita menegakkan keadilan, agar kita menjadi figur, role model,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Allah menyediakan berbagai sarana pendidikan spiritual agar manusia mampu membangun karakter adil, salah satunya melalui ibadah Ramadhan. “Banyak sarana yang diberikan Allah agar diri kita bisa menjadi diri yang adil. Dan Ramadhan adalah salah satu sarana yang Allah berikan,” ujarnya.

Relasi Ketakwaan dan Kesadaran Hukum

Dudung menegaskan bahwa ketakwaan memiliki hubungan langsung dengan kepatuhan terhadap aturan. Dalam Islam, ketaatan hukum bukan sekadar persoalan administratif, tetapi merupakan konsekuensi keimanan. “Orang-orang yang bertakwa adalah yang menerima perintah Allah dan yang menjauhi apa yang dilarang,” katanya.

Ia melanjutkan dengan menegaskan relasi antara takwa dan kesadaran hukum. “Pribadi yang bertakwa adalah pribadi yang taat hukum, karena mereka menerima dan mematuhi apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah,” ujarnya.

Menurutnya, Ramadhan menghadirkan sistem pendidikan disiplin yang sangat konkret melalui pengaturan waktu dan batasan ibadah.

“Ramadhan adalah madrasah ketakwaan kita, di dalamnya ada perintah, ada larangan, seperti makan itu bolehnya di jam sekian, puasanya itu di jam sekian,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut bertujuan membangun kesadaran internal, bukan sekadar kepatuhan eksternal. “Pada bulan Ramadhan, Allah menyiapkan diri kita menjadi diri yang sadar,” katanya.

Dudung kemudian menguraikan perbedaan antara kepatuhan hukum berbasis pengawasan eksternal dan kesadaran spiritual internal.

“Biasanya seseorang menaati hukum karena takut pada konsekuensinya. Namun di bulan Ramadhan, kita menahan diri karena sadar Allah mengawasi, padahal kita bisa saja makan dan minum diam-diam. Kesadaran inilah yang seharusnya tetap terjaga di luar Ramadhan,” ujarnya.

Dalam perspektif tersebut, Ramadhan diposisikan sebagai ruang pembentukan integritas personal. “Ramadhan adalah inkubator kedisiplinan, madrasah ketakwaan,” katanya.

Ia menekankan bahwa ibadah puasa memiliki karakter unik karena tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, sehingga membangun tanggung jawab individual secara langsung.

“Ramadhan merupakan pelatihan untuk membentuk pribadi yang bertanggung jawab, karena ibadah puasa tidak dapat diwakilkan dan hanya dapat dijalankan oleh diri masing-masing,” ujarnya.

Pada bagian akhir kajian, Dudung Abdullah mengingatkan agar momentum Ramadhan tidak berlalu tanpa perubahan karakter. “Jangan kita sia-siakan kesempatan ini, karena efeknya pasti sangat berimbas kepada kita,” katanya.

Ramadhan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Terbaik

DALAM tiga dekade terakhir, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) telah bereskalasi menjadi isu sentral dan investasi strategis, baik di tingkat global maupun nasional. Untuk menjawab tantangan ketersediaan talenta yang kompeten, Indonesia telah membangun arsitektur pengembangan SDM yang terintegrasi

Program sederhana dengan membangun fasilitas dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pengangkatan guru honorer menjadi ASN, peningkatan gaji guru. Makan Bergizi Gratis (MBG) ceritanya juga dalam rangka peningkatan kualitas SDM anak bangsa.

Di setiap perusahaan membentuk Human Resources Development (HRD) atau Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)  untuk mendapatkan SDM yang berkompeten. Berbagai kegiatan seperti training, pelatihan, upgrading dilakukan dengan mendatangkan pakar SDM internasional dan nasional.

Islam memiliki konsep yang sederhana tapi terjamin bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan diakui sebagai paling mulia yaitu taqwa. Allah menyampaikan dengan sangat jelas dengan firman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13).

Taqwa adalah puncak kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Ia bukan sekadar simbol ketakwaan lahiriah, tetapi cahaya yang menerangi hati dan membimbing setiap langkah dalam kehidupan

Derajat taqwa bukan diwariskan, bukan pula ditentukan oleh status duniawi, melainkan diperjuangkan. Namun, jalan menuju taqwa tidaklah mudah. Ia membutuhkan mujahadah, kesabaran, dan keikhlasan yang tak tergoyahkan. Salah satunya dengan jalan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan.

Taqwa di hadapan Allah adalah SDM terbaik apalagi di hadapan manusia. SDM yang bekerja dengan prinsip taqwa tidak akan bekerja “asal bapak senang” (ABS), sekadar memenuhi SOP atau bukan karena pengawasan CCTV. Ia akan memberikan performa terbaiknya karena ia tahu bahwa Allah mencintai hamba yang jika melakukan pekerjaan, ia melakukannya secara itqan (profesional/sempurna)

Pertanyaannya mengapa taqwa menjadi salah satu indikator SDM terbaik.  

Pertama, bertaqwa memiliki kemampuan problem solving (Makhraja)

“… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Thalaq: 2)

Dalam dunia profesional, SDM berkualitas tinggi dinilai dari kemampuannya menyelesaikan masalah (pemecahan masalah) atas pertolongan Allah. Bukan lari dari masalah atau membuat masalah. Orang bertaqwa memiliki ketenangan batin yang memungkinkannya berpikir jernih saat krisis. Sebuah jalan keluar yang seringkali tidak terpikirkan oleh logika linear manusia. Ini adalah SDM yang transformatif, bukan sekadar administratif.

Kedua, bertaqwa mempunyai efisiensi rezeki dan sumber daya (Min Haitsu La Yahtasib)

“… dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 3)

SDM yang bertaqwa seringkali Allah memberikan kemudahan akses, kemitraan yang jujur, dan hasil yang melimpah meskipun dengan sumber daya terbatas. Inilah SDM yang mampu menghasilkan high impact dengan cara-cara yang tak terduga.

Ketiga, memiliki akselerasi dan kemudahan urusan (Yusra)

“… dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

SDM berkualitas adalah mereka yang bekerja secara efektif dan efisien. Dalam ayat ini, Allah menjanjikan Yusra (kemudahan). Bagi SDM bertaqwa, hambatan birokrasi, teknis, maupun sosial tidak menjadi alasan. Mereka adalah SDM yang urusannya selalu tuntas dengan cepat bukan karena orang dalam, melainkan karena jalur langit yang mempermudah langkahnya.

Keempat, mempunyai akurasi kerja dan penghapusan kesalahan (Yukaffir ‘Anhu Sayyi’atihi)

“… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Thalaq: 5)

Manusia pasti salah, namun SDM yang bertaqwa memiliki mekanisme self-correction (taubat/muhasabah) yang sangat kuat. Kesalahan-kesalahan masa lalu ditutup dengan perbaikan performa yang luar biasa. Mereka tidak hanya bekerja untuk hari ini, tapi untuk nilai yang abadi. SDM bertaqwa bisa meminimalisir kesalahan.

Taqwa bukan sekadar tentang seberapa lama di atas sajadah, seberapa banyak memutar tasbih, seberapa lama di hadapan mushaf al-Qur’an, tapi seberapa profesional dan tangguh dalam menemukan jalan keluar di tengah kebuntuan dunia kerja dan menyelesaikan problematika keummatan.

Tujuan utama puasa Ramadhan adalah mendapatkan taqwa, bukan sekedar memperoleh baju taqwa, THR, parcel ataupun aksesioris duniawi. Taqwa sebagai sebuah karakter sehingga menjadi SDM yang unggul.

Ramadhan dihadirkan untuk upgrading dan update diri orang-orang beriman mencapai derajat taqwa.

Bagaimana puasa Ramadhan yang menghasilkan insan taqwa?

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah