LINGGA (Hidayatullah.or.id) — SMA Integral Bunda Tanah Melayu menggelar kegiatan pembagian rapor sekaligus temu wali murid untuk membahas program pembelajaran tahun ajaran 2026/2027, Jumat, 19 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas SMA Integral Bunda Tanah Melayu itu dihadiri pengurus Yayasan Kemajuan Kabupaten Lingga, pengurus DPD Hidayatullah Lingga, para wali murid, serta majelis guru.
Acara dibuka oleh Kepala SMA Integral Bunda Tanah Melayu yang menyampaikan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung perkembangan akademik maupun karakter peserta didik.
Dalam sambutannya, Sekretaris Yayasan Kemajuan Kabupaten Lingga, Hasril Hamka, mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran baru mendatang, lokasi SMA Integral Bunda Tanah Melayu akan berpindah ke Jalan Engku Aman, Kelang Sawah Indah, Daik Lingga, atau berada di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Lingga.
“Perpindahan lokasi ini merupakan bagian dari upaya penguatan kualitas pendidikan. Kita akan bersinergi dengan Hidayatullah untuk mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan memiliki bekal ilmu pengetahuan serta nilai-nilai keislaman yang kuat,” ujar Hasril.
Ketua DPD Hidayatullah Lingga, Muhammad Hamka Syaifudin, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara kedua lembaga pendidikan menjadi langkah strategis dalam menghadirkan layanan pendidikan yang lebih berkualitas bagi masyarakat Lingga.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Insya Allah sinergi ini akan melahirkan pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan akhlak,” katanya.
SMA Integral Bunda Tanah Melayu selama ini dikenal mengembangkan model pendidikan yang memadukan kurikulum nasional, pendidikan agama, dan penguatan budaya Melayu. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, adab, dan kecintaan terhadap budaya daerah.
Pada kesempatan itu, Hasril Hamka juga mengajak masyarakat untuk bergabung bersama SMA Integral Bunda Tanah Melayu. Ia menegaskan bahwa sekolah masih membuka pendaftaran peserta didik baru dengan biaya pendidikan yang terjangkau.
“Tahun ini kami masih membuka pendaftaran siswa baru. Kami mengundang para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya untuk bergabung bersama SMA Integral Bunda Tanah Melayu. Kuota masih tersedia dengan biaya yang sangat terjangkau,” tutupnya.
Keimanan yang benar tidak hanya tercermin dalam banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tampak pada kualitas akhlak seorang hamba kepada Allah SWT. Akhlak kepada Allah merupakan fondasi utama yang melandasi seluruh sikap, perilaku, dan perjalanan hidup seorang muslim. Dari akhlak yang baik kepada Allah akan lahir ketenangan jiwa, kekuatan menghadapi ujian, serta kemuliaan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Melalui khutbah Jumat bertema “Akhlak kepada Allah SWT: Buah Keimanan dan Jalan Menuju Kemuliaan” ini, khatib mengajak jamaah untuk memperkuat hubungan dengan Allah melalui sikap cinta kepada-Nya, ridha terhadap ketentuan-Nya, bertawakal dalam setiap urusan, serta bersabar menghadapi berbagai ujian kehidupan. Nilai-nilai tersebut merupakan cerminan keimanan yang kokoh dan menjadi kunci terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia.
DELI SERDANG— Ribuan jamaah menghadiri Tabligh Akbar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang diselenggarakan di Lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Rabu (17/06/2026)
Kegiatan yang berlangsung pada 2 Muharram 1448 H tersebut dihadiri sekitar 3.000 peserta yang berasal dari berbagai kelompok pengajian dan majelis taklim di 33 desa se-Kecamatan Tanjung Morawa. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal acara hingga berakhirnya kegiatan.
Lapangan utama Pondok Pesantren Hidayatullah Medan menjadi tempat dilaksanakannya. Suasana semakin khusyuk dirasakan oleh ribuan jama’ah dengan pepohonan rindang yang mengelilingi kawasan Pondok Pesantren.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Deli Serdang, Ny. Hj. Asniar Lomlom Suwondo, Camat Tanjung Morawa Gontar Syahputra Panjaitan, S.STP., M.M., Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjung Morawa Dr. Kamaludin, M.A., serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Dalam sambutannya, Ny. Hj. Asniar Lomlom Suwondo menyampaikan pesan Bupati Deli Serdang, dr. H. Asri Ludin Tambunan, M.Ked (PD), yang berhalangan hadir. Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, dan mempererat ukhuwah di tengah kehidupan bermasyarakat, terlebih pada momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Sementara itu, Camat Tanjung Morawa, Gontar Syahputra Panjaitan, memperkenalkan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang baru, Ustadz Isa Abdul Baary, S.Pd.
Ia juga menyampaikan salam dari Bupati Deli Serdang yang mengaku terkesan dengan lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang bersih, asri, rindang, dan sejuk. Menurutnya, suasana tersebut menjadikan pesantren sebagai tempat yang nyaman untuk menuntut ilmu sekaligus membina generasi umat.
Camat turut mengapresiasi keberadaan Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq yang berada di lingkungan pesantren. Kehadiran perguruan tinggi tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Kabupaten Deli Serdang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang maju dan berkualitas.
Pada kesempatan itu, Camat juga menyosialisasikan sejumlah program unggulan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, di antaranya program jaminan kesehatan, pendidikan gratis bagi anak putus sekolah melalui Sekolah Rakyat, serta bantuan bedah rumah bagi masyarakat kurang mampu.
Puncak acara diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Muhadir Ritonga, M.Pd. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, humoris, dan sarat hikmah, semakin menghidupkan suasana yang didominasi oleh jama’ah ibu-ibu.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Muhadir menyampaikan pesan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua dan mertua. Ia mengingatkan agar setiap muslim senantiasa menjaga ridha orang tua selama mereka masih hidup dengan menunjukkan kepedulian, penghormatan, serta menjaga tutur kata dan perilaku.
“Jangan sampai kita kehilangan ridha orang tua karena kurang peduli kepada mereka atau karena ucapan dan perilaku yang menyakiti hati mereka,” pesannya di hadapan ribuan jamaah.
Kegiatan yang dimulai dimulai seusai shalat dzuhur berjalan dengan khidmat hingga menjelang ashar. Berbagai agenda dilaksanakan secara tertib dan penuh antusiasme sebelum akhirnya di tutup dengan do’a berjalan dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kepala KUA Tanjung Morawa, Dr. Kamaludin, M.A.
Melalui momentum peringatan Tahun Baru Islam 1448 H ini, diharapkan semangat hijrah, ukhuwah Islamiyah, dan sinergi antara ulama, umara, serta masyarakat semakin kuat dalam mewujudkan kehidupan yang religius, harmonis, dan sejahterah.
Medan (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa berkesempatan menjadi tuan Tabligh Akbar peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat dan nuansa kekeluargaan tersebut menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat sinergi antara masyarakat, ulama, dan pemerintah. Rabu (17/06/2026)
Sekitar 3.000 jamaah dari berbagai kelompok pengajian, majelis taklim, dan masyarakat umum yang berasal dari seluruh wilayah Kecamatan Tanjung Morawa memadati area pondok pesantren. Dengan penuh antusias, mereka mengikuti rangkaian Tabligh Akbar tahun baru Islam dengan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Suasana sejuk dan asri lingkungan Pesantren Hidayatullah Medan semakin menambah kekhusyukan acara. Pepohonan yang mengelilingi kawasan pesantren menjadi pelengkap suasana hangat kebersamaan yang terjalin di antara para jamaah.
Dalam pantauan media ini, kegiatan Tabligh Akbar turut dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Deli Serdang, Ny. Hj. Asniar Lomlom Suwondo, yang sekaligus mewakili Bupati Deli Serdang, Wakil Bupati Deli Serdang. Serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Deli Serdang, Camat Tanjung Morawa Gontar Syahputra Panjaitan, S.STP., M.M., Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjung Morawa Dr. Kamaludin, M.A., serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Ny. Hj. Asniar Lomlom Suwondo menyampaikan pesan Bupati Deli Serdang, dr. H. Asri Ludin Tambunan, M.Ked (PD), yang berhalangan hadir. Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan, memperkuat solidaritas sosial, serta menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Selain menjadi ruang syiar dan penguatan nilai-nilai keislaman, Tabligh Akbar ini juga diramaikan dengan bazar UMKM yang menghadirkan berbagai produk unggulan masyarakat. Kehadiran bazar tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi umat melalui pemberdayaan usaha masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Tanjung Morawa, Ustadz Isa Abdul Bari, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Pesantren Hidayatullah sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.
“Pesantren Hidayatullah adalah rumah bersama. Kami terbuka untuk masyarakat dan terus berikhtiar mengembangkan dakwah serta pendidikan sebagai bentuk pengabdian kepada umat. Kami berharap doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar pesantren ini semakin maju dan mampu menjadi mitra masyarakat serta pemerintah dalam membangun generasi yang berilmu dan berakhlak,” ungkapnya.
Sebagai wujud eratnya hubungan antara pesantren dan pemerintah, Isa Abdul Bari juga menyerahkan Majalah Hidayatullah kepada Camat Tanjung Morawa, Gontar Syahputra Panjaitan, S.STP., M.M. Penyerahan tersebut menjadi simbol silaturahmi dan sinergi yang terus dibangun dalam upaya memajukan masyarakat melalui dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.
Melalui Tabligh Akbar 1448 Hijriah ini, Pesantren Hidayatullah Medan Tanjung Morawa kembali menegaskan perannya sebagai pusat dakwah dan pendidikan yang hadir di tengah masyarakat, sekaligus menjadi ruang tumbuhnya persaudaraan, semangat hijrah, dan harapan untuk mewujudkan masyarakat yang religius, harmonis, dan penuh keberkahan.
MAKKAH (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menyampaikan materi halaqoh secara langsung dari Makkah Al-Mukarramah. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak para dai dan aktivis dakwah untuk melakukan pembaruan dalam cara menyajikan dakwah agar lebih menarik, memikat, dan mampu menghadirkan kenyamanan bagi masyarakat. Rabu (17/06/2026).
Mengawali pemaparannya, Kyai Naspi menggambarkan perubahan suasana Kota Makkah yang kini tidak hanya dikenal sebagai pusat ibadah umat Islam, tetapi juga berkembang dengan berbagai fasilitas modern. Selain keberadaan Masjidil Haram yang menjadi pusat spiritual kaum Muslimin, kota suci itu juga menghadirkan beragam destinasi kuliner, kawasan perbelanjaan, serta gedung-gedung bertingkat yang menambah daya tarik bagi para jamaah dan pengunjung.
Menurut beliau, ibadah haji selalu menghadirkan kerinduan yang mendalam bagi setiap Muslim. Bahkan ketika kata “haji” disebutkan, banyak orang merasakan kebahagiaan dan semangat tersendiri. Hal itu tidak hanya disebabkan oleh kemuliaan tempat pelaksanaannya, tetapi juga karena besarnya ganjaran pahala yang dijanjikan Allah SWT bagi mereka yang menunaikannya.
Kyai Naspi menilai, kenyamanan dan keindahan fasilitas yang tersedia di Tanah Suci turut menjadi faktor yang membuat jamaah merasa betah. Penataan kawasan, kemegahan masjid, serta kemudahan layanan yang disediakan menciptakan pengalaman spiritual yang berkesan sehingga orang ingin terus berada di sana.
Dari fenomena tersebut, beliau kemudian menarik pelajaran penting bagi gerakan dakwah. Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya menyampaikan pesan yang benar, tetapi juga perlu dikemas secara menarik dan mempesona sehingga masyarakat merasa nyaman untuk mendekat dan terus menikmati sajian dakwah yang diberikan.
“Sebagaimana orang betah berada di Makkah karena suasana dan fasilitas yang mendukung, gerakan dakwah juga perlu menghadirkan lingkungan yang nyaman, indah, dan menyenangkan sehingga umat semakin dekat dengan nilai-nilai Islam,” ujarnKyai Naspi
Karena itu, para dai dan penggerak dakwah di berbagai daerah diharapkan mampu menghadirkan wajah dakwah yang ramah, inspiratif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dakwah yang dikemas dengan baik, faktanya dapat menumbuhkan simpati, memperluas jangkauan pengaruh, serta mengundang lebih banyak orang untuk menikmati keindahan Islam.
Dalam kesempatan tersebut, Kyai Naspi juga mengungkapkan cita-cita besar pendiri Hidayatullah, K.H. Abdullah Said. Menurut beliau, K.H. Abdullah Said memiliki keinginan kuat agar pelaksanaan dan praktik ajaran Islam dapat ditampilkan secara indah dan mempesona, sehingga masyarakat tertarik untuk mengenal, mempelajari, dan mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh substansi ajaran yang disampaikan, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan pengalaman keberagamaan yang menghadirkan ketenangan, keindahan, dan keteladanan di tengah masyarakat. Dengan demikian, dakwah akan semakin dekat dengan umat dan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan ruh serta nilai-nilai dasarnya.
BULUNGAN (Hidatatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah kembali menggelar Seminar Halal sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mengedukasi masyarakat dan pelaku usaha mengenai pentingnya sertifikasi halal. Kegiatan yang mengusung tema “Menguatkan Ekosistem Halal Menuju Kemandirian UMKM” tersebut berlangsung di Aula Kantor Gubernur Kalimantan Utara, Kabupaten Bulungan, Selasa (16/6/2026).
Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian program edukasi halal yang secara konsisten diselenggarakan LPH Hidayatullah di berbagai daerah di Indonesia. Melalui kegiatan tersebut, LPH Hidayatullah berupaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai jaminan produk halal sekaligus mendukung percepatan implementasi kebijakan wajib sertifikasi halal yang akan diberlakukan secara penuh pada Oktober 2026.
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang halal dan pengawasan produk, yakni Pembimbing Teknis Urusan Agama Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Utara, Hj. Muthmainnah, S.H.I., Medik Veteriner Ahli Muda Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, drh. Rahmi, serta Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal Thamrin, S.H., M.H.
Para pemateri memaparkan berbagai aspek penting terkait regulasi halal, pengawasan bahan baku dan produk, mekanisme sertifikasi halal, serta peluang pengembangan industri halal yang semakin berkembang di Indonesia.
Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal Thamrin, menegaskan bahwa penguatan ekosistem halal tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, pemerintah, lembaga halal, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun sistem halal yang kuat dan berkelanjutan.
“UMKM memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, pelaku usaha perlu didorong untuk menghasilkan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki jaminan halal yang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sertifikasi halal saat ini tidak hanya menjadi kebutuhan dari sisi kepatuhan regulasi, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk meningkatkan daya saing produk di pasar nasional maupun global.
Peserta seminar yang didominasi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Dalam sesi diskusi, berbagai pertanyaan mengemuka terkait prosedur sertifikasi halal, persyaratan yang harus dipenuhi, hingga peluang pengembangan pasar bagi produk-produk halal.
Antusiasme peserta menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya sertifikasi halal sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan.
Melalui seminar ini, LPH Hidayatullah berharap semakin banyak pelaku usaha yang memahami urgensi sertifikasi halal serta siap menjadi bagian dari ekosistem halal nasional yang kuat dan berdaya saing.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan konsistensi LPH Hidayatullah dalam menghadirkan edukasi halal di berbagai daerah sebagai upaya bersama untuk memperkuat ekosistem halal, mendorong kemandirian UMKM, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar yang lebih luas.
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi sebuah perjalanan panjang untuk meninggalkan kemaksiatan, memperbaiki diri, dan mengarahkan seluruh hidup menuju ridha Allah SWT.
Ketika mendengar kata hijrah, apa yang pertama kali terlintas di benak kita?
Sebagian besar mungkin akan membayangkan sebuah perjalanan fisik: meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain. Dalam sejarah Islam, hijrah identik dengan kisah heroik kaum Muhajirin yang meninggalkan rumah, harta, dan kampung halaman mereka di Makkah demi mempertahankan iman.
Kala itu, tekanan dan penindasan kaum Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya semakin hari semakin berat. Ruang gerak kaum muslimin dipersempit, hak-hak mereka dirampas, bahkan keselamatan jiwa mereka terancam. Namun, keadaan yang sulit itu tidak membuat mereka menyerah. Sebaliknya, mereka justru semakin teguh mencari jalan keluar demi menjaga keimanan.
Dalam suasana itulah Allah SWT memberikan petunjuk melalui firman-Nya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Ayat ini menjadi isyarat penting bahwa seorang mukmin tidak boleh menyerah pada keadaan yang mengancam agamanya. Melalui petunjuk Allah, Rasulullah ﷺ akhirnya memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman bagi dakwah Islam. Maka terjadilah hijrah kaum muslimin ke Habasyah, Thaif, dan puncaknya hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.
Inilah hijrah fisik terbesar yang tercatat dalam sejarah Islam. Akan tetapi, apakah makna hijrah berhenti pada perpindahan tempat semata?
Hijrah Lebih dari Sekadar Perpindahan
Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata hijrah berasal dari akar kata ha-ja-ra yang berarti meninggalkan atau memutus hubungan dengan sesuatu untuk berpindah kepada sesuatu yang lain.
Namun, apabila hijrah dipahami hanya sebagai perpindahan geografis, maka kita akan kehilangan esensi terpentingnya. Sebab, pada masa kini tidak ada lagi kewajiban untuk berhijrah secara fisik ke Madinah sebagaimana generasi awal Islam.
Lalu, apakah semangat hijrah ikut berakhir?
Tentu tidak.
Hijrah justru memiliki makna yang lebih luas dan terus hidup sepanjang zaman.
Dua Makna Hijrah
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hakikat hijrah dalam syariat adalah:
“Meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”
Penjelasan ini didasarkan pada sabda Rasulullah ﷺ:
«المهاجر من هجر ما نهى الله عنه “Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)»
Dari sini, hijrah dapat dipahami dalam dua bentuk besar:
Pertama, hijrah lahiriah (fisik). Yaitu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain demi menjaga agama dan keselamatan iman.
Kedua, hijrah batiniah (spiritual). Yaitu meninggalkan dosa, kemaksiatan, hawa nafsu, serta segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah SWT.
Menariknya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa hijrah batin merupakan fondasi bagi hijrah lahir. Sebab, seseorang tidak akan mampu mengubah lingkungan luarnya jika ia belum mampu memenangkan pertarungan di dalam dirinya sendiri.
Hijrah batin adalah perjuangan untuk meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, keluar dari belenggu hawa nafsu menuju keridhaan Allah SWT.
Destinasi Hijrah yang Sesungguhnya
Dalam kitab Thariq al-Hijratain, Imam Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa seorang mukmin sejatinya harus terus berhijrah sepanjang hidupnya melalui dua perjalanan besar.
Pertama, hijrah menuju Allah SWT.
Inilah hijrahnya hati. Sebuah perjalanan spiritual ketika seseorang mengarahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah, bertawakal kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, dan menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada-Nya.
Kedua, hijrah menuju Rasulullah ﷺ.
Yakni berusaha menyelaraskan seluruh aspek kehidupan dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, baik dalam ibadah, akhlak, maupun muamalah.
Sebab tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, amal yang tampak baik sekalipun bisa kehilangan ruhnya dan berubah menjadi sekadar rutinitas tanpa makna.
Karena itu, Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:
“Semua jalan menuju Allah tertutup, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”
Bagaimana dengan Hijrah Fisik Hari Ini?
Dalam perkembangan zaman, hijrah fisik tetap memiliki relevansi sesuai dengan kondisi masing-masing.
1. hijrah untuk menyelamatkan iman, yakni berpindah dari lingkungan yang menghalangi kebebasan beragama menuju tempat yang lebih aman untuk beribadah.
2. hijrah sosial, yaitu menjauh dari lingkungan yang buruk, pergaulan yang merusak, dan segala bentuk pengaruh yang dapat melemahkan iman.
3., hijrah akhir zaman, yaitu mengalihkan orientasi hidup dari kecintaan yang berlebihan kepada dunia menuju kehidupan yang berlandaskan wahyu dan nilai-nilai Islam.
Makna hijrah hari ini bukan semata berpindah negeri, tetapi berpindah orientasi hidup: dari materialisme menuju ketakwaan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari cinta dunia menuju cinta Allah SWT.
Oase Pahala yang Menghapus Masa Lalu
Mengapa hijrah begitu dimuliakan dalam Islam?
Karena hijrah membutuhkan keberanian. Ia menuntut seseorang keluar dari zona nyaman dan meninggalkan sesuatu yang dicintainya demi Allah.
Namun, bagi mereka yang berani berhijrah, Allah menjanjikan pahala yang besar dan kehidupan yang lebih baik.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan hijrah pun menghapus dosa-dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim)
Hijrah adalah kesempatan untuk memulai kembali. Ia ibarat tombol reset yang membersihkan lembaran masa lalu dan membuka babak kehidupan yang baru.
Karena itu, kita tidak harus menunggu momen besar untuk berhijrah.
Mulailah dari tempat kita berada hari ini.
Hijrahilah kebiasaan buruk yang selama ini mengikat diri kita. Tinggalkan tontonan yang tidak bermanfaat. Perbaiki kualitas shalat kita. Perbanyak ilmu agama. Dan luruskan kembali arah hidup yang mungkin sempat menyimpang dari jalan Allah.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan hati kita untuk istiqamah, dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berhijrah menuju Allah SWT dan Rasul-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Khoirul Anam, S.Sos.I / penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Qur’an & Tafsir Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre
KUNINGAN (Hidayatullah.or.id) – Program wakaf Al-Qur’an dan buku Iqro’ kembali menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Kali ini, bantuan tersebut diterima oleh para santri di Yayasan Pondok Pesantren Masyarakat Cibuntu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang selama ini aktif menimba ilmu agama di lingkungan pesantren dan TPQ setempat.
Suasana penuh kebahagiaan tampak ketika para santri menerima mushaf Al-Qur’an dan buku Iqro’ yang disalurkan oleh Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH). Bantuan ini menjadi penyemangat bagi mereka untuk semakin tekun belajar membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Rasa syukur pun diungkapkan oleh para santri. Mereka mengaku senang karena kini memiliki sarana belajar yang lebih memadai. Bagi mereka, Al-Qur’an dan buku Iqro’ bukan sekadar bahan bacaan, tetapi juga bekal penting dalam meniti pendidikan agama sejak usia dini.
Pengasuh Pondok Pesantren Masyarakat Cibuntu, Ustadz Siddiq Junihardin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Menurutnya, wakaf Al-Qur’an tersebut sangat membantu proses pembelajaran para santri yang selama ini terus berupaya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an.
Ia berharap, para pewakaf senantiasa mendapatkan keberkahan dan pahala yang terus mengalir dari setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca oleh para santri dan masyarakat penerima manfaat.
Selain membina para santri di TPQ, Ustadz Siddiq juga aktif menggerakkan kegiatan dakwah di tengah masyarakat. Melalui pengajian rutin di mushala dan masjid sekitar, ia berupaya menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sekaligus memperkuat pemahaman keislaman warga.
Desa Cibuntu yang berada di kawasan kaki Gunung Ciremai dikenal memiliki semangat keagamaan yang kuat. Bahkan, desa ini memiliki julukan “Desa Mengaji”, sebagai cerminan harapan agar tradisi membaca dan mempelajari Al-Qur’an terus hidup di tengah masyarakat.
Sementara itu, pihak Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah mengajak kaum Muslimin untuk terus mendukung program wakaf Al-Qur’an dan buku Iqro’. Sebab, masih banyak daerah di pelosok Indonesia yang membutuhkan sarana belajar agama guna melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Melalui gerakan wakaf ini, diharapkan semakin banyak anak-anak dan masyarakat yang dapat belajar Al-Qur’an dengan lebih baik, sehingga cita-cita membangun generasi Qurani di berbagai pelosok negeri dapat terwujud.
BONTANG (Hidayatullah.or.id)—Siswa kelas VI MI Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang, Muhammad Fadil, tampil pada pembukaan Rapat Paripurna ke-8 Masa Persidangan III DPRD Kota Bontang yang membahas penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P2APBD) Tahun Anggaran 2025, pada Senin (15/6/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Paripurna Lantai III Sekretariat DPRD Kota Bontang. Kehadiran Fadil dalam forum resmi legislatif itu menjadi bagian dari apresiasi atas capaian akademik dan keagamaan yang diraihnya sebagai penghafal 30 juz Al-Qur’an.
Pencapaian tersebut merupakan hasil proses pendidikan yang ditempuh Muhammad Fadil sejak bergabung di MI Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang pada Tahun Ajaran 2020/2021.
Pada masa awal pendidikannya, Fadil mengikuti pembelajaran dari rumah akibat pandemi COVID-19. Setelah kegiatan belajar kembali berjalan normal pada Tahun Ajaran 2022/2023, ia melanjutkan proses belajar secara tatap muka dan mengikuti berbagai program pengembangan yang diselenggarakan sekolah.
Memasuki tahun keempat pendidikan dasar, Fadil mengikuti seleksi Program Takhassus Tahfidz MI Ar-Riyadh. Dari sekitar 90 peserta yang mendaftar, ia menjadi satu dari sepuluh siswa yang dinyatakan lolos ke program khusus tersebut.
Perjalanan hafalannya menunjukkan perkembangan yang konsisten. Saat duduk di kelas V, Fadil telah menyelesaikan hafalan 20 juz Al-Qur’an dan menjalani ujian terbuka yang dipimpin Ustaz H. Muhammad Zulfahmi, Lc., alumni Universitas Islam Madinah, disaksikan guru, orang tua, undangan, dan peserta didik.
Prestasi itu berlanjut ketika Fadil berada di kelas VI. Ia berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mengikuti imtihan terbuka pada 3 Juni 2026 yang diuji oleh Ustaz Hamdan, S.H., di hadapan para guru, orang tua, dan peserta didik.
Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Ustaz Firdaus Darwin, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Kami berharap nilai-nilai Al-Qur’an senantiasa mendenyuti kehidupan setiap muslim, terutama bagi para penjaganya,” ujarnya.
Ia juga memberikan penghargaan kepada MI Ar-Riyadh yang terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan iman dan takwa yang berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Firdaus, pembangunan sumber daya insani sejak usia dini perlu ditopang oleh kedekatan dengan Al-Qur’an. Karena itu, upaya pembinaan yang dilakukan lembaga pendidikan diharapkan mampu membentuk generasi yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan dalam berbagai bidang kehidupan di masa mendatang.
Forum paripurna tersebut dihadiri oleh Wali Kota Bontang, dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.OG, didampingi Wakil Wali Kota Agus Haris, S.H., serta Ketua DPRD Kota Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam.
Turut hadir pula unsur Pemerintah Kota Bontang yang terdiri atas Staf Ahli, Asisten Pemerintahan, Kepala Bagian, Inspektur, Kepala Badan, Kepala Pelaksana, Kepala Dinas, Kepala Satuan, Camat, dan Lurah. Selain itu, hadir pula unsur pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan instansi vertikal, pimpinan partai politik, lembaga kemasyarakatan, kalangan perbankan, dan perusahaan.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah menuju Madinah adalah salah satu drama sejarah paling menegangkan sekaligus monumental dalam peradaban manusia. Ia bukan sekadar kisah pelarian dari kepungan musuh, melainkan sebuah mahakarya strategi, pengorbanan tanpa batas, dan manifestasi tertinggi dari tawakal kepada Allah ﷻ. Peristiwa besar inilah yang kemudian dijadikan titik awal penanggalan Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Hijrah menjadi simbol lahirnya peradaban Islam yang baru: kuat, mandiri, dan berdaulat.
Jam Nol di Kota Mekkah
Semua bermula ketika para pembesar Quraisy berkumpul di Darun Nadwah. Sebanyak sebelas tokoh Quraisy, mulai dari Abu Jahl, Abu Lahab hingga Umayyah bin Khalaf, merancang sebuah konspirasi besar: membunuh Nabi Muhammad ﷺ secara serentak agar keluarga beliau tidak mampu menuntut balas.
Eksekusi direncanakan tepat setelah tengah malam, sebuah momentum yang dapat disebut sebagai Sa’atus Shifri atau “Jam Nol”.
Namun, Allah ﷻ adalah sebaik-baik Pembuat rencana. Melalui Malaikat Jibril as, Rasulullah ﷺ diberitahu tentang makar tersebut.
Pada malam yang menegangkan itu, Rasulullah ﷺ meminta Ali bin Abi Thalib ra untuk tidur di ranjang beliau dengan mengenakan mantel hijau Hadramaut milik beliau. Sebuah tugas yang sangat berbahaya, tetapi diterima Ali ra dengan penuh kepatuhan.
Kemudian, mukjizat Allah pun terjadi. Rasulullah ﷺ keluar dari rumah melewati kepungan para algojo Quraisy. Beliau menggenggam segenggam pasir sambil membaca firman Allah:
“Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat dan di belakang mereka sekat, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin: 9)
Pasir itu ditaburkan ke arah mereka hingga Allah menutup penglihatan mereka. Para pengepung tidak menyadari bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan rumah. Ketika pagi tiba, mereka hanya mendapati Ali ra berada di atas tempat tidur beliau.
Air Mata di Gua Tsur
Rasulullah ﷺ tidak langsung menuju Madinah. Beliau memahami bahwa kaum Quraisy pasti mengejar ke arah utara. Karena itu, beliau mengambil jalur yang tidak biasa: bergerak ke arah selatan menuju Gunung Tsur.
Perjalanan itu amat berat. Telapak kaki Rasulullah ﷺ terluka akibat bebatuan yang tajam. Melihat keadaan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dengan penuh cinta dan hormat menggendong Rasulullah ﷺ hingga tiba di Gua Tsur.
Sebelum Rasulullah ﷺ masuk ke dalam gua, Abu Bakar terlebih dahulu membersihkannya dan menutup lubang-lubang yang dikhawatirkan menjadi sarang hewan berbisa. Ketika kainnya habis, ia menutupi dua lubang yang tersisa dengan kedua kakinya sendiri.
Saat Rasulullah ﷺ tertidur di pangkuannya, seekor hewan berbisa menyengat kaki Abu Bakar. Rasa sakit yang luar biasa tidak membuatnya bergerak karena ia khawatir membangunkan Rasulullah ﷺ.
Air mata Abu Bakar menetes hingga mengenai wajah Rasulullah ﷺ.
Beliau pun terbangun dan bertanya,
“Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?”
Abu Bakar menjawab,
“Aku tersengat, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.”
Rasulullah ﷺ kemudian meludahi bagian yang tersengat, dan seketika rasa sakit itu hilang dengan izin Allah.
Strategi, Intelijen, dan Pengorbanan Keluarga
Selama tiga hari Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, strategi logistik dan intelijen dijalankan dengan sangat rapi.
Abdullah bin Abu Bakar bertugas mengumpulkan informasi dari Mekkah pada siang hari, lalu menyampaikannya ke Gua Tsur pada malam hari.
Sementara itu, Asma binti Abu Bakar mengantarkan makanan kepada mereka. Karena tidak menemukan tali untuk mengikat bekal, Asma membelah ikat pinggangnya menjadi dua bagian. Karena pengorbanan itu, Rasulullah ﷺ memberinya gelar mulia:
Dzatun Nithaqain, yaitu Pemilik Dua Ikat Pinggang.
Di sisi lain, Quraisy mengadakan sayembara besar. Siapa pun yang dapat menangkap Muhammad ﷺ, hidup ataupun mati, akan memperoleh hadiah seratus ekor unta.
Bahkan para pencari jejak sempat berdiri tepat di depan mulut Gua Tsur.
Abu Bakar berkata dengan rasa cemas,
“Wahai Rasulullah, sekiranya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.”
Dengan penuh keyakinan Rasulullah ﷺ menjawab,
“Jangan bersedih wahai Abu Bakar. Bagaimana prasangkamu terhadap dua orang yang Allah menjadi yang ketiganya?” (HR. Bukhari)
Maka, Allah menjaga keduanya dan para pengejar itu pun kembali tanpa menemukan apa yang mereka cari.
Menembus Jalur Ekstrem Menuju Madinah
Setelah tiga hari berlalu, perjalanan menuju Madinah pun dimulai.
Rasulullah ﷺ menyewa Abdullah bin Uraiqith, seorang ahli navigasi yang profesional dan terpercaya meskipun belum memeluk Islam.
Rute yang ditempuh bukan jalur perdagangan biasa. Mereka memilih jalur pesisir Laut Merah yang sepi dan jarang dilalui manusia, melewati Usfan, Qudaid, Al-Kharrar, Al-Arj hingga Ri’m.
Di sepanjang perjalanan, pertolongan Allah terus menyertai. Abu Buraidah yang awalnya berniat memburu Rasulullah ﷺ justru masuk Islam dan menjadi pengawal beliau. Demikian pula Az-Zubair bin Al-Awwam yang memberikan pakaian putih kepada rombongan Rasulullah ﷺ.
Fajar Baru di Kota Madinah
Pada hari Senin, 8 Rabiulawal tahun pertama Hijriah atau bertepatan dengan 23 September 622 M, Rasulullah ﷺ tiba di Quba, sebuah desa di pinggiran Madinah.
Kaum muslimin yang telah lama menanti menyambut beliau dengan penuh suka cita. Di tempat itu Rasulullah ﷺ tinggal selama empat hari dan membangun Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun di atas dasar takwa.
Pada hari Jumat, beliau menuju Madinah dan singgah di perkampungan Bani Salim bin Auf. Di Lembah Ranuna, Rasulullah ﷺ memimpin salat Jumat pertama dalam sejarah Islam dengan sekitar seratus jamaah.
Ketika unta beliau memasuki Madinah, kegembiraan membuncah di seluruh penjuru kota. Yatsrib yang dahulu dikenal sebagai kota yang penuh konflik dan wabah, kini berubah menjadi Madinatur Rasul, Kota Sang Rasul.
Kaum wanita dan anak-anak Anshar menyambut beliau dengan syair yang masyhur:
“Telah terbit bulan purnama atas kami dari bukit Tsaniyatul Wada’. Wajiblah kami bersyukur selama ada yang menyeru kepada Allah. Wahai Rasul yang diutus kepada kami, engkau datang membawa perintah yang ditaati.”
Kemudian Rasulullah ﷺ memanjatkan doa:
“Ya Allah, tumbuhkanlah kecintaan Madinah sebagaimana kecintaan kami kepada Mekkah, bahkan lebih dari itu. Berkahilah takarannya dan jauhkanlah ia dari wabah penyakit.” (HR. Bukhari)
Hikmah Hijrah untuk Kita
Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan mentalitas dan cara hidup.
Kisah hijrah mengajarkan bahwa sebuah perjuangan membutuhkan perencanaan yang matang, strategi yang tepat, kerja sama yang kuat, keterlibatan generasi muda, serta tawakal yang sempurna kepada Allah ﷻ.
Maka, pada setiap momentum hijrah, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah hati kita berhijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan? Sudahkah kita berpindah dari gelapnya jahiliyah modern menuju cahaya Islam?
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berhijrah menuju kebaikan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Khoirul Anam, S.Sos.I / penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Qur’an & Tafsir Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre