JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menghadiri pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, di Jakarta pada hari Kamis, 14 Syawal 1447 (2/4/2026). Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi para pimpinan organisasi kemasyarakatan tingkat nasional dan tokoh Muslim Indonesia lainnya untuk berdialog langsung dengan Wamenlu, termasuk dihadiri jajaran pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri seperti Kepala BSKLN, Direktur Timur Tengah, serta Direktur Asia Selatan dan Tengah.
Dalam penyampaiannya kepada media ini pasca pertemuan tersebut, Naspi Arsyad menekankan bahwa agenda ini merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan elemen umat dalam merespons dinamika global yang semakin kompleks.
Fokus utama pembicaraan adalah mengenai penguatan peran umat Islam dalam membangun hubungan yang konstruktif di lingkup internasional, khususnya dalam menghadapi situasi geopolitik yang saat ini berkembang secara cepat dan tidak menentu.
Naspi Arsyad berpendapat bahwa keterlibatan tokoh agama dalam ranah diplomasi merupakan hal yang sangat krusial guna memastikan bahwa aspirasi masyarakat sejalan dengan visi politik luar negeri Indonesia. Tantangan global saat ini menuntut pemikiran yang lebih mendalam, sistematis, dan kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan bangsa.
“Peran umat di Dunia Islam bukan sekadar urusan solidaritas emosional, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk memetakan posisi strategis Indonesia di tengah turbulensi geopolitik global. Kita dituntut untuk membangun narasi yang konstruktif dan solutif, sehingga eksistensi umat mampu menjadi elemen perekat dalam hubungan internasional yang kian tidak menentu,” ujar KH Naspi Arsyad.
Selain membahas peran global secara umum, para tokoh Muslim yang hadir juga melakukan dialog mengenai kondisi terkini di kawasan Timur Tengah. Naspi Arsyad menjelaskan bahwa aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut diarahkan agar Indonesia dapat membedah situasi di kawasan tersebut melalui kacamata kepentingan nasional.
“Hal ini berarti setiap kebijakan atau pandangan yang diambil terkait isu Timur Tengah harus tetap berpijak pada kedaulatan, keamanan, dan kebutuhan strategis jangka panjang bangsa Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman yang komprehensif terhadap konstelasi politik dan pergeseran kekuatan di Timur Tengah sangat diperlukan. Tujuannya adalah agar peran yang diberikan oleh Indonesia dapat tepat sasaran serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi perdamaian dunia.
“Transformasi yang terjadi di kawasan tersebut harus dipelajari secara saksama agar Indonesia tetap menjadi aktor yang relevan dan dihormati di panggung dunia,” imbuhnya.
Lebih lanjut, pertemuan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahim dan menjaga kebersamaan di antara para tokoh umat dengan jajaran birokrasi pemerintahan. Bagi Hidayatullah, terang Naspi, koordinasi seperti ini merupakan langkah positif dalam mewujudkan integrasi visi antara gerakan dakwah di akar rumput dan diplomasi kenegaraan di level elit.
Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri atas keterbukaan dalam menyerap aspirasi para tokoh Muslim Indonesia. Ia berharap hasil dari diskusi ini dapat segera diimplementasikan dalam langkah-langkah kebijakan nyata yang memperkuat posisi Indonesia di Dunia Islam sekaligus menjaga stabilitas kawasan sesuai dengan amanat konstitusi dan kepentingan nasional yang telah disepakati bersama.
“Sinergi ini diharapkan mampu membawa kemaslahatan yang lebih luas, baik untuk bangsa Indonesia maupun untuk komunitas internasional secara umum,” tandasnya.
IQRA’Bismirabbik merupakan bagian dari ayat pertama Surah Al-‘Alaq. Terjemahannya adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu”.
Sebagai ayat yang memiliki dimensi filosofis yang mendalam, tentu saja ini bukan semata kalimat. Ini adalah basis yang seharusnya membentuk cara pandang Muslim dalam memahami kehidupan ini.
Sebelum mendalami Iqra’ Bismirabbik kita perlu lebih dahulu memahami apa itu cara pandang. Dalam kajian filsafat, cara pandang adalah metode berpikir kritis, radikal (mendasar), sistematis dan universal.
Dan, dalam konteks bahasan ini, cara pandang adalah kerangka dasar dalam memahami realitas.
Dalam filsafat sendiri, cara pandang terbagi ke dalam beberapa pemahaman. Mulai dari idealisme, rasionalisme, empirisme, kritisisme, konstruktivisme, humanisme, dan mungkin masih ada lagi lainnya.
Iqra’ Bismirabbik bisa kita jadikan sebagai cara pandang karena memang dia membentuk satu cara berpikir yang mengedepankan makna akan segala sesuatu dengan mengacu pada tuntunan wahyu.
Jadi inilah cara pandang Iqra’ Bismirabbik, yakni memahami realitas dengan berbasis wahyu.
Hidup adalah Amanah
Dalam konteks lebih jauh tentang cara pandang, mari kita coba perhatikan makna atau konsep hidup. Dalam Islam hidup adalah amanah. Mengapa dan dari mana makna itu hadir?
Iqra’ Bismirabbik memang perintah, tetapi kalau kita perhatikan, itu adalah sebuah dorongan agar umat Islam memiliki makna yang jelas dan benar tentang apapun itu dalam kehidupan dunia ini.
Hidup manusia dalam Islam, ketika kita menggunakan Iqra’ Bismirabbik sebagai cara pandang, maka itu tidak lain adalah amanah.
Artinya manusia membaca kehidupan dengan kesadaran bahwa semua berasal dari Allah (bismirabbik), maka hidup tidak lagi dipandang bebas nilai, tetapi sebagai titipan (amanah).
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).
Dalam tafsir Al-Muyassar amanah bermakna ketentuan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ternyata amanah ini Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung. Semuanya menolak, akan tetapi manusia malah mengambilnya.
Tafsir yang lain menyebutkan amanah adalah tentang beban, tanggung jawab, kewajiban dalam ibadah, muamalat dan memakmurkan alam kepada seluruh makhluk.
Ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia sejak awal memang dibangun di atas tanggung jawab, bukan kebebasan mutlak apalagi yang basisnya adalah hawa nafsu.
Dalam kata yang lain, hidup manusia sejatinya adalah amanah. Tidak akan berhasil manusia menjadi pribadi yang bahagia dan meraih kebaikan, jika konsep dasar tentang amanah ini justru diabaikan.
Kemaslahatan
Kalau kita cermati lebih dalam, jika hidup ini adalah amanah, maka semua hal yang ada dalam bagian-bagian hidup manusia, seluruhnya amanah. Sebagai contoh, ilmu, harta dan kedudukan, semuanya adalah amanah.
Dalam cara pandang peradaban Barat, ilmu adalah kekuatan (knowledge is power). Dalam banyak kasus, paradigma tersebut berpotensi mengarah pada penggunaan ilmu tanpa batas nilai.
Maka konsekuensi dari cara pandang itu, pengetahuan yang mereka miliki cenderung digunakan secara tidak tentu arah. Perhatikan bagaimana eksploitasi alam terjadi luar biasa dan dekadensi moral yang merosot tajam.
Betapa tidak tentunya arah ilmu dalam peradaban Barat. Fritjof Capra, seorang fisikawan dan filsuf sistem, dalam pemikirannya (terutama dalam buku The Turning Point) menyoroti bahwa pola pikir Barat modern yang mekanistik, reduksionistik, dan antroposentris telah menghasilkan krisis global dan kerusakan besar pada lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis bukan semata teknis, tetapi krisis cara pandang.
Bahkan, Barat telah menjadi penyebab hadirnya krisis sistemik. Capra berpendapat bahwa kerusakan lingkungan, krisis energi, dan krisis sosial adalah satu kesatuan krisis persepsi yang berakar pada pandangan dunia Barat modern yang menganggap alam sebagai mesin, bukan sebagai sistem kehidupan yang saling terhubung.
Sedangkan Iqra’ Bismirabbik mendorong manusia dalam memandang ilmu sebagai amanah. Tidak benar dan tidak boleh kalau ilmu yang ada dalam diri seseorang digunakan sebagai sarana memuaskan hawa nafsu, menciptakan kerusakan pada diri dan orang lain, apalagi sampai jadi sebab kerusakan alam.
Oleh karena itu dalam upaya mengembalikan kesadaran umat akan peradaban Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa umat harus kembali pada cara pandang Islam, islamic worldview yang berlandaskan tauhid, Hal ini menegaskan bahwa wahyu adalah fondasi utama ilmu pengetahuan yang sumber utamanya adalah dari Allah SWT.
Dengan demikian, Iqra’ Bismirabbik bukan sekadar perintah membaca, tetapi fondasi dalam membangun cara pandang yang menuntun manusia memahami hidup sebagai amanah dan ilmu sebagai sarana kemaslahatan.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Public Relations Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Imam Nawawi, mendorong mahasiswa bangun literasi zakat sebagai bagian dari filantropi Islam melalui tradisi menulis. Menurutnya, aspek teknis dalam penulisan ilmiah relatif mudah dipelajari melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Google Scholar, maupun teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Namun, dia menekankan, hal yang lebih mendasar adalah membangun arah berpikir yang jelas serta keberanian menulis dari gagasan sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda Kampus Zakat, Sekolah Amil, dan Forum Zakat Batch 10 yang diselenggarakan secara virtual melalui Zoom pada Kamis, 14 Syawal 1447 (3/4/2026).
Dalam forum tersebut, Imam Nawawi hadir sebagai narasumber yang membahas pendekatan dasar dalam menulis karya ilmiah. Ia tidak memulai pembahasan dari aspek teknis penulisan, melainkan dari proses intelektual yang melatarbelakangi lahirnya sebuah tulisan. Menurutnya, kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca serta kemampuan merumuskan pemikiran secara mandiri.
Penulis buku Mindset Surga ini menyampaikan tiga prinsip yang menurutnya penting untuk menumbuhkan kebiasaan menulis. Pertama, membaca secara tekun hingga seseorang mampu melahirkan pandangan sendiri, bukan sekadar mengutip pendapat yang telah ada.
Kedua, menulis dengan menggunakan pemikiran yang lahir dari proses membaca tersebut. Dan, Ketiga, menjalankan aktivitas menulis sebagai panggilan intelektual yang lahir dari kepekaan terhadap kondisi umat, masyarakat, dan perkembangan global.
Imam menjelaskan kegiatan menulis ilmiah sebagai proses yang berangkat dari pembentukan cara berpikir. Dalam pandangannya, tulisan akademik tidak hanya berkaitan dengan tata cara sitasi, struktur metodologi, atau format penulisan. Ia menilai bahwa kualitas tulisan dipengaruhi oleh kedalaman pembacaan serta kemampuan memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Imam Nawawi juga memberikan contoh topik yang dapat dikembangkan oleh mahasiswa atau peneliti. Ia menyebutkan bahwa karya ilmiah dapat berbentuk tulisan populer maupun artikel jurnal yang meneliti isu tertentu, termasuk kajian tentang peran lembaga amil zakat dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.
Ia menjelaskan bahwa berbagai panduan teknis penulisan sebenarnya dapat ditemukan dengan mudah melalui sumber digital. “Hal-hal teknis dalam penulisan ilmiah relatif mudah ditemukan melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Google Scholar, dan teknologi berbasis AI,” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa yang lebih penting dari penguasaan teknis tersebut adalah keberanian menulis berdasarkan gagasan sendiri yang lahir dari proses membaca dan berpikir.
Diskusi dalam forum tersebut berkembang ketika salah satu peserta, Dewi Masita dari Universitas Brawijaya, mengajukan pertanyaan mengenai kecenderungan penelitian zakat yang lebih banyak menempatkan mustahik sebagai objek kajian. Ia mempertanyakan kemungkinan penelitian yang menjadikan muzakki sebagai subjek utama dalam kajian akademik.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam Nawawi menjelaskan bahwa fokus penelitian pada mustahik muncul dari upaya membuktikan bahwa zakat dapat berperan sebagai instrumen sosial yang mampu mendorong perubahan kondisi penerima zakat hingga berpotensi menjadi muzakki. Namun demikian, ia menyampaikan bahwa ruang penelitian mengenai muzakki tetap terbuka.
Ia menambahkan bahwa penelitian juga dapat diarahkan pada muzakki dalam konteks perusahaan, mengingat keberadaan zakat perusahaan sebagai bagian dari praktik filantropi Islam. Dalam konteks tersebut, menurutnya, penelitian dapat menelaah hubungan antara praktik zakat perusahaan dengan aspek kepemimpinan, manajemen organisasi, maupun kultur spiritual dalam lingkungan kerja.
Pada bagian akhir pemaparannya, Imam Nawawi menekankan pentingnya memilih topik penelitian yang memiliki unsur problemable. Ia menjelaskan bahwa topik yang diangkat harus benar-benar merupakan persoalan yang dapat dianalisis dan dijawab melalui pendekatan ilmiah.
Menurutnya, proses tersebut menjadi dasar bagi lahirnya tulisan ilmiah yang tidak hanya tersusun secara metodologis, tetapi juga memiliki relevansi dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Majelis Penasehat Hidayatullah Pusat drg. Fathul Adhim, M.K.M., menyampaikan taushiyah dalam acara Halal Bihalal dan Silaturrahim Syawal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersama staf yang digelar di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, pada Rabu, 12 Syawal 1447 (1/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda silaturrahim pasca-Ramadhan yang mempertemukan jajaran pengurus dan staf dalam suasana Syawal.
Dalam taushiyahnya, Fathul Adhim menekankan pentingnya menjaga kesinambungan ibadah setelah Ramadhan melalui amalan sunnah, termasuk puasa Senin dan Kamis serta puasa enam hari di bulan Syawal.
Ia menjelaskan bahwa praktik ibadah tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah lama dikenal dalam kehidupan umat Islam. Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan yang merupakan amanah dari Allah.
Peraih gelar Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat ini menyampaikan bahwa puasa sunnah dapat menjadi bagian dari pola hidup yang teratur bagi seorang Muslim. Ia menegaskan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab personal yang berkaitan dengan aktivitas dakwah.
Menurutnya, para pengurus dan kader di lingkungan organisasi perlu mempertahankan semangat kerja serta menjalankan amanah organisasi secara berkelanjutan.
Fathul Adhim juga mengajak para peserta untuk melanjutkan ibadah puasa Syawal setelah Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa keberlanjutan ibadah menjadi bagian dari pembinaan ruhani yang dapat memperkuat disiplin diri sekaligus menjaga keseimbangan antara aktivitas dakwah dan kesehatan tubuh.
Dia juga mengemukakan berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa puasa memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh. Studi yang dipublikasikan dalam sejumlah jurnal kesehatan internasional menyebutkan bahwa praktik puasa yang teratur dapat membantu proses metabolisme tubuh, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk beristirahat. Selain itu, pola makan yang teratur selama puasa juga berkaitan dengan pengendalian berat badan dan kesehatan metabolik.
Dalam konteks kegiatan organisasi, Fathul Adhim mengingatkan bahwa para pengurus yang baru menerima amanah memiliki tanggung jawab untuk menjalankan program kerja dengan penuh semangat. Ia mendorong agar setiap pengurus memanfaatkan masa kepengurusan untuk memberikan kontribusi nyata melalui program-program yang dapat meninggalkan jejak kebaikan bagi organisasi.
Kegiatan ini mempertemukan para pengurus dan staf dalam suasana kebersamaan sekaligus menjadi forum penyampaian pesan-pesan pembinaan yang berkaitan dengan kehidupan spiritual, kesehatan, serta keberlanjutan tugas dakwah.
SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Maluku Utara menyatukan kader dari Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo dalam ajang Pemhida Cup 2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 12 Syawal 1447 (1/4/2026). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian Silaturahmi Syawal setelah Hari Raya Idulfitri.
Melalui kegiatan tersebut, para kader dari berbagai Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dipertemukan dalam satu forum yang memadukan olahraga, silaturahim, serta interaksi lintas wilayah.
Acara berlangsung di Lapangan Futsal Waterboom Kayu Merah dan menghadirkan pertandingan mini soccer yang diikuti oleh puluhan kader yang tergabung dalam sejumlah tim. Selain menjadi ajang kompetisi olahraga, kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang pertemuan antar kader dari berbagai daerah untuk memperkuat komunikasi dan kebersamaan.
Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Nasri Bohari, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemhida Cup selain dipahami sebagai aktivitas olahraga, juga menjadi bagian dari proses pembinaan kader yang dilakukan melalui pendekatan kebersamaan.
“Momentum Silaturahmi Syawal ini kita mengusung tagline U3T: Ukhuwah, Tandang, Tendang, Tanding. Pemhida Cup adalah wadah strategis untuk membangun kebersamaan kader lintas wilayah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga hubungan antar kader dari berbagai wilayah dapat terus terjaga. Menurutnya, forum pertemuan seperti ini dapat memperkuat hubungan personal sekaligus memperluas koordinasi dalam kegiatan dakwah.
Sementara itu, Ketua Pemuda Hidayatullah Maluku Utara, Nashirul Haq, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran kader dari lima wilayah yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ia menilai partisipasi kader dari berbagai daerah menunjukkan semangat kebersamaan yang terbangun dalam momentum Silaturahmi Syawal.
Dia menjelaskan, Pemhida Cup 2026 mengusung tema “Menguatkan Ukhuwah, Menyatukan Langkah, Berjuang Bersama di Lapangan”. Tema tersebut menggambarkan tujuan kegiatan yang tidak hanya menekankan aspek pertandingan, tetapi juga membangun hubungan emosional di antara kader yang berasal dari wilayah yang berbeda.
Melalui kegiatan olahraga bersama, jelasnya, para peserta memiliki kesempatan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan komunikasi dalam lingkup dakwah.
“Kegiatan ini adalah bentuk khidmat kita dalam menyambut tamu-tamu dari lima DPW. Kita tidak hanya bertanding, tetapi juga belajar dan mengambil semangat serta pengalaman dari para orang tua dan sesama kader,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Departemen Dakwah dan Olahraga Pemuda Hidayatullah wilayah setempat, Abdillah, menyampaikan bahwa Pemhida Cup menjadi simbol pertemuan kader muda dalam semangat persatuan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kekompakan dan semangat pengabdian di kalangan kader.
“Harapannya, dari lapangan ini lahir kekompakan, militansi, dan semangat baru untuk terus bergerak dalam dakwah dan pembinaan umat,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan dengan keikutsertaan puluhan kader yang membentuk beberapa tim pertandingan.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pertandingan diwarnai dengan interaksi yang akrab serta semangat sportivitas antar peserta.
PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Barat memanfaatkan momentum Syawal untuk menjalin silaturahim dengan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat.
Langkah ini dilakukan di tengah tradisi Syawalan di mana masyarakat memanfaatkan waktu setelah Idulfitri untuk saling berkunjung dan mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi tersebut tidak terbatas pada beberapa hari setelah hari raya, melainkan dapat berlangsung hingga satu bulan penuh, sehingga menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Dalam konteks tradisi tersebut, pengurus Hidayatullah Kalimantan Barat melakukan kunjungan silaturahim kepada sejumlah tokoh di Pontianak. Selain sebagai pertemuan informal, kegiatan ini juga menjadi sarana bertukar pengalaman serta memperkuat komunikasi dalam aktivitas dakwah.
Salah satu pertemuan berlangsung pada Rabu, 12 Syawal 1447 (1/4/2026), ketika rombongan pengurus DPW Hidayatullah Kalimantan Barat bersilaturahim dengan dai nasional dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dr. H. Harjani Hefni, Lc., M.A., di kediamannya di Pontianak.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah kesibukan Dr. Harjani Hefni yang juga beraktivitas sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri Pontianak. Meskipun memiliki agenda akademik yang padat, ia tetap meluangkan waktu untuk menerima kunjungan tersebut. Sambutan yang diberikan berlangsung dalam suasana hangat dan akrab, dengan percakapan yang berkembang dari berbagai pengalaman dakwah hingga kisah perjalanan pendidikan.
Dalam pertemuan itu, Dr. Harjani Hefni berbagi pengalaman masa studinya di Madinah. Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang pernah dikenalnya dalam perjalanan akademik tersebut, termasuk salah satu senior yang berasal dari lingkungan Hidayatullah, almarhum Ust. H. Amru Rijal Junaid. Nama tersebut, menurutnya, dikenal di kalangan kader Hidayatullah dan menjadi bagian dari memori yang ia ingat ketika menceritakan perjalanan hidupnya.
Sebagai seorang ayah dari lima anak, ia juga menceritakan pengalaman yang pernah dialaminya ketika berada di Surabaya setelah mengisi tausiyah. Ia mengungkapkan bahwa dalam kesempatan tersebut ia pernah diajak mengunjungi Kampus Hidayatullah Surabaya oleh seorang ustaz. Dia mengatakan, pengalaman tersebut ia kenang sebagai bagian dari perjalanan dakwah yang pernah dilalui.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Ust. H. Muhyidin Nur Rabbani, S.Sos.I., memperkenalkan anggota rombongan yang turut hadir dalam kunjungan tersebut. Ia juga menyampaikan pengalaman pribadinya ketika bertugas di Kalimantan Tengah.
Dalam ceritanya, ia menyebut bahwa pernah ada seorang ustaz yang menyarankan agar dirinya bersilaturahim dengan Dr. Harjani Hefni ketika berada di Pontianak. Ustaz yang memberikan rekomendasi tersebut, menurutnya, merupakan rekan saat menempuh studi di Madinah, yaitu Ustaz H. Amanto, Lc.
Muhyidin, yang baru sekitar tiga bulan menjalankan amanah sebagai Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, memanfaatkan pertemuan tersebut untuk meminta nasihat terkait pengembangan dakwah di wilayah Kalimantan Barat. Menanggapi hal tersebut, Harjani Hefni menyampaikan pesan mengenai pentingnya meluruskan niat dalam menjalankan aktivitas dakwah serta menjaga keikhlasan dalam setiap langkah yang ditempuh.
Ia juga menceritakan pengalaman dakwah yang telah membawanya ke berbagai wilayah di Indonesia dan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, serta Inggris sekitar dua tahun yang lalu. Menurutnya, perjalanan tersebut merupakan bagian dari proses yang dijalani dalam aktivitas dakwah.
Selain aktif dalam kegiatan dakwah, Harjani Hefni juga dikenal melalui karya tulis yang telah diterbitkan. Beberapa di antaranya adalah terjemahan tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan buku The 7 Islamic Daily Habits. Karya-karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman sehingga dapat diakses oleh pembaca di tingkat internasional.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, memberi arahan mengenai urgensi penguasaan tiga pilar ilmu utama sebagai prasyarat mutlak dalam menjalankan amal ibadah untuk tegaknya peradaban Islam. Penyampaian tersebut berlangsung di Masjid Ar Riyadh, Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, belum lama ini.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah gerakan dan diterimanya amal perbuatan sangat bergantung pada pemahaman yang tuntas terhadap ilmu iman, syariat, dan ihsan.
KH Abdurrahman Muhammad menyoroti pentingnya persatuan dalam jamaah kaum muslimin yang direfleksikan melalui semangat persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Ansar. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi dalam ketakwaan merupakan syarat mutlak bagi tegaknya Islam.
Menurutnya, membangun jamaah dan kepemimpinan adalah manifestasi dari penerapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Hal ini menjadi landasan awal sebelum memasuki pembahasan mengenai struktur keilmuan yang lebih mendalam.
Abdurrahman memaparkan bahwa pilar pertama adalah ilmu iman. Ilmu ini bersifat esoteris yang berkaitan dengan aspek-aspek metafisika dan kondisi batiniah manusia.
“Al-Islam itu menerangkan syariat yang nyata. Sedangkan ilmu iman itu menerangkan hakikat yang efeknya kepada hati, pikiran, semua yang gaib,” ujarnya, menjelaskan distingsi antara penerapan syariat dan penanaman iman. Kejelasan mengenai hakikat ini dianggap krusial agar setiap langkah yang diambil oleh seorang mukmin memiliki orientasi spiritual yang benar.
Pilar kedua yang ditekankan adalah ilmu syariat atau ilmu Islam. KH Abdurrahman Muhammad menyoroti fenomena di mana banyak umat Islam yang merasa cukup dengan pengetahuan permukaan tanpa melakukan proses verifikasi atau talaqqi kepada guru yang berkompeten.
Ia mendorong agar setiap individu tidak hanya terpaku pada tilawah Al-Quran, tetapi juga memastikan kaifiat atau tata cara ibadah fardu seperti salat telah sesuai dengan standar yang benar.
Ia bertanya retoris kepada jamaah mengenai sejauh mana perhatian mereka terhadap validitas ibadah harian. Penekanan berupa pertanyaan ini menunjukkan bahwa pemahaman prosedural terhadap syariat, mulai dari tata cara wudu hingga bacaan salat, adalah fondasi teknis yang tidak boleh diabaikan, karena tanpa validitas syariat, ibadah menjadi tidak sah.
“Bukan saja Quran mau di-talaqqi, tetapi sesudah beriman ini bagaimana syariat di-talaqqi? Siapa yang sudah pernah mentalaqikan salatnya? Yang sudah berdiri di depan guru dan melihat, coba lihat salat saya sudah benarkah secara kaifiat,” tegasnya seperti dikutip dari rekaman video siaran live streaming acara Refleksi Akhir Ramadhan & Bekal Perjuangan melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah, Kamis, 14 Syawal 1447 (2/4/2026).
Pilar ketiga yang menjadi pelengkap adalah ilmu ihsan. KH Abdurrahman Muhammad mengakui bahwa istilah ihsan memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam, sehingga sulit untuk disederhanakan hanya ke dalam istilah etika atau estetika saja.
Ihsan menurutnya mencakup kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas, sebagaimana definisi klasik yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Ia mengaitkan konsep ini dengan gelar yang diberikan Allah kepada para nabi dalam Al-Quran.
“Ilmu tentang ihsan, ilmu tentang kebaikan-kebaikan. Ihsan sebenarnya ini sulit juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya mau mengatakan etika dan estetika belum mencakup juga,” tambahnya.
Keterkaitan ketiga pilar ini, menurut beliau, adalah kunci utama agar sebuah amal dapat diterima di sisi Allah SWT. Syariat memastikan kesesuaian amal dengan tuntunan Nabi, sementara ilmu tentang ihsan dan iman memastikan hadirnya keikhlasan dalam hati. Ia memperingatkan bahwa kegagalan dalam menguasai ketiga ilmu ini menyebabkan macetnya kebangkitan Islam di berbagai sektor. Ini tiga pokoknya ilmu yang harus selesai.
“Tidak selesai ini ilmu tidak ada landasannya amal. Karena di sinilah lahir di mana ibadah itu diterima kalau sesuai dengan syariat Nabi. Ibadah itu bisa diterima kalau dia ikhlas. Tapi kalau tidak ada ilmunya tentang ikhlas, bagaimana bisa ikhlas”, katanya menekankan.
KH Abdurrahman Muhammad lantas memaparkan ini dalam perspektif sejarah dengan memberikan tamsil mengenai kebangkitan bangsa Jepang setelah kehancuran luar biasa pada Perang Dunia Kedua. Ia mengisahkan bagaimana Kaisar Hirohito lebih memilih untuk mengumpulkan para guru yang masih hidup sebagai langkah pertama rekonstruksi bangsa daripada fokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata.
Hasilnya, Jepang mampu bertransformasi menjadi negara modern dengan etos kerja yang kuat karena landasan pendidikan yang diletakkan oleh para guru.
Beliau membandingkan etos tersebut dengan apa yang seharusnya dimiliki oleh orang beriman. Jika masyarakat Jepang memiliki loyalitas tinggi kepada Kaisar, maka orang beriman seharusnya memiliki etos yang bersumber dari Rabbul Alamin.
Namun, beliau menyadari, bahwa visi besar ini memerlukan kehadiran sosok pendidik dan pejuang yang mumpuni. Beliau mengajak para mujahid dakwah dan kaum terpelajar untuk datang dan berjuang di Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan, meskipun jalan yang ditempuh tidaklah mudah.
“Panggil para pejuang, kalau engkau mau mengabdikan ilmu datang di Gunung Tembak. Tetapi di Gunung Tembak itu sulit, susah, berat. Tapi kalau kamu mau mengabdikan ya ilmumu itu, datang di sini dan persiapkan diri untuk berjuang,” pesannya, seraya menyeru untuk mentransformasikan ilmu yang dimiliki menjadi sebuah gerakan peradaban yang sistematis di bawah kepemimpinan dan manajemen yang baik.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan KH Abdurrahman Muhammad di Masjid Ar Riyadh ini merupakan refleksi filosofis sekaligus praktis bagi seluruh civitas akademika dan jamaah Hidayatullah.
KH Abdurrahman mengingatkan bahwa amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan, dan ilmu tanpa integrasi antara iman, syariat, serta ihsan hanya akan menghasilkan aktivitas tanpa ruh. Kebangkitan umat hanya dapat dimulai ketika fondasi keilmuan ini telah tuntas dipahami dan diterapkan dalam sebuah bingkai jamaah yang solid.
Marilah kita meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan hidup, kesehatan, dan iman kepada kita.
Nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia bukan hanya kehidupan itu sendiri, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung yang menunjukkan bagaimana iman diwujudkan dalam amal, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ramadhan telah berlalu dan kini kita berada di bulan Syawal. Bulan ini bukan sekadar penanda berakhirnya puasa, melainkan fase penting yang menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadhan benar-benar tertanam dalam diri kita.
Ramadhan adalah madrasah spiritual yang membentuk karakter, melatih kesungguhan beribadah, dan membangun kesadaran untuk hidup lebih dekat kepada Allah.
Namun, keberhasilan Ramadhan, tidak diukur dari semaraknya ibadah selama sebulan saja, melainkan dari kemampuan menjaga semangat itu setelah Ramadhan berlalu.
Kesungguhan atau tekad adalah kunci dari perjalanan spiritual seorang muslim. Tekad bukan hanya keinginan sesaat, melainkan kesungguhan hati untuk tetap istiqamah dalam ketaatan.
Tanpa tekad yang kuat, ibadah terasa berat dan mudah ditinggalkan. Tetapi ketika tekad telah tertanam dalam hati, pengorbanan dalam beribadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan jiwa.
Ramadhan telah melatih kita untuk mengendalikan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan disiplin spiritual yang mengajarkan manusia untuk taat pada aturan Allah.
Seorang muslim belajar menahan diri dari hal-hal yang halal pada waktu tertentu karena perintah Allah, sehingga ia semakin mampu menjauhi hal-hal yang haram.
Latihan disiplin ini tidak seharusnya berhenti ketika Ramadhan berakhir. Justru bulan Syawal menjadi ujian pertama untuk melihat apakah kedisiplinan itu tetap terjaga.
Selain disiplin, puasa juga melatih kesabaran. Ketika seseorang menahan lapar, menahan emosi, dan menahan berbagai keinginan selama berpuasa, sesungguhnya ia sedang belajar mengendalikan dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa adalah perisai yang melindungi manusia dari dorongan hawa nafsu yang merusak kehidupan. Orang yang terbiasa bersabar selama berpuasa akan lebih tenang menghadapi berbagai ujian hidup setelahnya.
Puasa juga mendidik manusia untuk jujur dan memiliki integritas. Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat personal. Tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak.
Namun, seorang muslim tetap menahan diri karena ia yakin bahwa Allah Maha Melihat. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan inilah yang melahirkan kejujuran dalam kehidupan.
Di samping itu, Ramadhan juga menumbuhkan empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia menjadi lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan.
Karena itulah Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, terlebih pada bulan Ramadhan. Kepedulian terhadap sesama adalah buah dari hati yang lembut dan iman yang hidup.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu kekuatan besar Ramadhan adalah kedekatan umat Islam dengan Al-Qur’an. Di bulan itu banyak orang memperbanyak tilawah, mendengarkan ayat-ayat Allah, dan merenungkan pesan-pesan ilahi. Interaksi yang intens dengan Al-Qur’an memiliki pengaruh besar terhadap hati manusia.
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, melainkan sumber penyembuhan bagi hati manusia. Hati yang keras karena dosa, kesibukan dunia, dan kelalaian dapat kembali lembut ketika sering mendengar dan membaca ayat-ayat Allah.
Selain melembutkan hati, Al-Qur’an juga memperbaiki cara pandang manusia terhadap kehidupan. Ia mengajarkan tentang tujuan penciptaan manusia, hakikat dunia, serta pentingnya kehidupan akhirat.
Ketika seseorang terbiasa merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur’an, cara berpikirnya menjadi lebih jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh hawa nafsu.
Al-Qur’an juga membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, amanah, keadilan, dan kasih sayang semuanya tertanam dalam ajaran Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ bahkan digambarkan oleh para sahabat sebagai sosok yang akhlaknya adalah cerminan Al-Qur’an. Artinya, semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin tampak pula kebaikan dalam perilakunya.
Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ia baca dan renungkan setiap hari. Jika seseorang terbiasa dengan bacaan yang melalaikan, maka pikirannya akan dipenuhi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat.
Namun, jika ia menjadikan Al-Qur’an sebagai teman harian, maka cara berpikir dan sikap hidupnya akan terbentuk oleh nilai-nilai kebaikan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ramadhan telah membuktikan bahwa manusia mampu berubah. Selama sebulan penuh kita mampu meninggalkan kebiasaan buruk, memperbanyak ibadah, dan menahan diri dari berbagai godaan. Hal itu menunjukkan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan kehidupan dimulai dari perubahan dalam diri manusia. Ketika seseorang memperbaiki niat, iman, akhlak, dan amalnya, maka Allah akan membuka jalan kebaikan baginya.
Bulan Syawal adalah kesempatan untuk menjaga perubahan tersebut. Ia menjadi masa pembuktian apakah nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dalam diri kita.
Ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan seharusnya menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita tidak pernah mengetahui berapa lama lagi usia yang tersisa. Karena itu, setiap kesempatan untuk memperbaiki diri adalah nikmat yang sangat berharga.
Mari kita jadikan Syawal sebagai awal untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah kita bangun selama Ramadhan.
Perkuat tekad, luruskan niat, dan teruslah melangkah dalam ketaatan.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah, memperbaiki amal-amal kita, dan menjadikan kehidupan kita semakin dekat dengan ridha-Nya. Aamiin.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyatakan bahwa jati diri kader harus tercermin dalam sikap hidup sehari-hari, sementara kesinambungan khidmat dalam perjuangan sangat ditentukan oleh keberhasilan menjaga nilai.
Pesan tersebut disampaikan Naspi dalam kegiatan Silaturrahim Syawwal 1447 Hijriah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu, 8 Syawal 1447 (28/3/2026).
Naspi menegaskan bahwa ketakwaan menjadi fondasi utama yang membentuk identitas kader. Ia menjelaskan bahwa nilai tersebut bukan hanya berkaitan dengan dimensi spiritual pribadi, melainkan juga menentukan arah perjalanan organisasi secara keseluruhan.
“Taqwa adalah jati diri seorang kader. Ini bukan sekadar konsep spiritual pribadi, tetapi fondasi utama yang menentukan arah gerak organisasi. Kalau taqwa itu kuat, maka kader akan kokoh, tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, dan tetap berada dalam garis perjuangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dinamika perkembangan organisasi seringkali dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan nilai dasar. Menurutnya, dalam sejumlah pengalaman organisasi, pertumbuhan struktur dan peningkatan jumlah program tidak selalu diiringi dengan penguatan identitas perjuangan. Kondisi tersebut, kata Naspi, dapat terjadi ketika nilai yang menjadi dasar gerakan tidak dijaga secara sadar oleh seluruh elemen organisasi.
“Yang sering terjadi, organisasi tumbuh besar, program semakin banyak, struktur semakin kuat, tetapi jati diri justru melemah. Karena itu, merawat jati diri harus menjadi kesadaran bersama. Ini bukan tugas individu, tetapi tugas jamaah,” tegasnya.
Naspi menekankan bahwa proses pewarisan nilai tidak dapat berlangsung secara otomatis. Ia menyebutkan bahwa kesinambungan nilai hanya dapat terjaga melalui hubungan yang saling menguatkan antara generasi senior dan generasi muda. Ia menilai bahwa interaksi antar generasi menjadi ruang penting untuk mentransmisikan pengalaman, semangat, dan prinsip perjuangan.
“Sinergi dan kolaborasi adalah cara kita merawat jati diri agar bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Yang senior tidak boleh berjalan sendiri, yang muda juga tidak boleh dilepas tanpa bimbingan. Harus ada pertemuan nilai, pertemuan pengalaman, dan pertemuan semangat,” katanya.
Naspi juga menegaskan bahwa identitas kader tidak hanya tampak dalam forum resmi atau simbol organisasi. Ia menyampaikan bahwa nilai yang menjadi dasar perjuangan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalankan amanah yang diemban.
Menurutnya, sinergi yang dimaksud bukan sekadar kerja bersama dalam program-program organisasi, tetapi juga mencakup proses pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan. Dalam proses tersebut, nilai-nilai perjuangan ditransmisikan melalui keteladanan, interaksi, dan kebersamaan dalam aktivitas dakwah.
“Kita tidak ingin jati diri ini hanya hidup dalam slogan atau acara seremonial. Jati diri itu harus tampak dalam cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalankan amanah. Kalau ini terjaga, maka insyaallah generasi berikutnya akan menerima nilai yang sama, bahkan bisa mengembangkannya lebih baik,” ujarnya.
Naspi mengingatkan bahwa keberlanjutan perjuangan sangat berkaitan dengan kemampuan menjaga nilai yang diwariskan. Ia menegaskan bahwa yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya organisasi, tetapi nilai yang menjadi fondasi gerakan.
“Yang kita wariskan bukan hanya organisasi, tetapi nilai. Kalau nilai ini terjaga, maka organisasi akan tetap hidup meskipun zaman berubah. Tetapi kalau nilai ini hilang, maka yang tersisa hanya nama,” tandasnya.
Kegiatan Silaturrahmi Syawwal 1447 H tersebut mengangkat tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”. Acara diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur dengan kepanitiaan kolaboratif yang melibatkan Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, DPD, Mushida, dan Pemuda Hidayatullah.
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH Hamim Thohari, menyampaikan bahwa kader Hidayatullah perlu memiliki empat karakter utama yang dirumuskan dalam istilah Jawa, yaitu Ngandhel, Kendhel, Bandel, dan Kandhel.
Hal tersebut disampaikan Hamim dalam kegiatan Silaturrahim Syawwal 1447 Hijriah digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu, 8 Syawal 1447 (28/3/2026).
Empat istilah tersebut disampaikan setelah KH Hamim mendengarkan testimoni dari para santri generasi awal Hidayatullah Surabaya yang pernah menjalankan amanah dakwah di berbagai wilayah, termasuk Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali. Pengalaman mereka dalam menjalankan tugas dakwah di berbagai daerah menjadi dasar perumusan karakter yang menurutnya penting dimiliki oleh setiap kader.
“Kalau kita mendengar testimoni para santri awal yang dikirim ke berbagai daerah, kita bisa menangkap bahwa perjuangan ini hanya bisa dijalani oleh kader yang memiliki fondasi kuat. Karena itu saya katakan, kader Hidayatullah harus punya karakter Ngandhel, Kendhel, Bandel, dan Kandhel,” ujar KH Hamim dalam kesempatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa keempat istilah tersebut merupakan ringkasan nilai yang terbentuk dari pengalaman perjuangan generasi perintis. Menurutnya, perjalanan dakwah di berbagai wilayah memperlihatkan bahwa keberhasilan perjuangan membutuhkan kesiapan mental, spiritual, dan sosial yang kuat.
“Ini bukan slogan kosong. Ini adalah fondasi mental, spiritual, dan sosial. Dari testimoni para perintis itu kita belajar, perjuangan dakwah tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi butuh keyakinan, keberanian, ketangguhan, dan bekal yang kuat,” jelasnya.
Karakter pertama yang disebutkan adalah Ngandhel, yang dalam bahasa Jawa bermakna percaya atau memiliki keyakinan yang kokoh. KH Hamim menjelaskan bahwa seluruh aktivitas perjuangan harus berakar pada keyakinan yang kuat kepada Allah, kepada ajaran Islam, dan kepada jalan dakwah yang dijalankan.
“Ngandhel itu akar dari semuanya. Kader harus punya keyakinan utuh kepada Allah SWT, kepada risalah Islam, dan kepada perjuangan ini. Dari para santri awal kita belajar, mereka bisa bertahan di berbagai daerah karena memiliki keyakinan yang kuat. Mereka tidak mudah goyah oleh keraguan, tidak lemah oleh tekanan, dan tidak berhenti hanya karena hasil belum terlihat,” katanya.
Karakter kedua adalah Kendhel, yang diartikan sebagai keberanian. Ia menjelaskan bahwa keberanian merupakan manifestasi dari keyakinan yang hidup dalam diri seorang kader. Pengalaman para perintis yang menjalankan dakwah di berbagai wilayah menjadi contoh bagaimana keberanian diperlukan dalam menghadapi tantangan.
“Mereka yang dahulu dikirim ke Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali tidak berangkat dengan jalan mudah. Mereka berangkat dengan keberanian. Maka kader hari ini juga harus Kendhel, berani menyampaikan kebenaran, berani mengambil keputusan, dan berani menghadapi risiko perjuangan,” ujarnya.
Karakter ketiga adalah Bandel, yang dimaknai sebagai ketangguhan dalam menghadapi berbagai ujian. Ia menyampaikan bahwa perjalanan dakwah seringkali diwarnai oleh berbagai tantangan sehingga membutuhkan daya tahan mental yang kuat.
“Perjuangan itu tidak selalu mulus. Ada penolakan, ada keterbatasan, ada tekanan. Maka kader harus Bandel, tidak mudah menyerah, tidak cepat putus asa, dan tetap istiqamah. Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal, belajar lagi. Kalau berat, tetap jalan,” tegasnya.
Karakter terakhir adalah Kandhel, yang berarti memiliki ketebalan atau kekuatan modal. KH Hamim menjelaskan bahwa modal yang dimaksud tidak terbatas pada aspek materi, tetapi juga mencakup kesiapan spiritual, intelektual, dan jaringan sosial yang kuat.
“Kader harus Kandhel. Tebal ilmunya, kuat jaringannya, kokoh nilainya, dan siap berkorban. Para perintis dulu bisa menjalankan amanah karena punya bekal dan kesiapan. Tanpa modal yang kuat, perjuangan akan mudah rapuh,” katanya.
Menurut KH Hamim, keempat karakter tersebut saling melengkapi dalam membentuk profil kader yang mampu menjalankan amanah dakwah secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi perlu dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan untuk dihafal, tetapi untuk dijalani. Setiap kader harus terus mengasah kepercayaan, melatih keberanian, menguatkan ketangguhan, dan memperbesar modal diri. Dari sinilah akan lahir kader pejuang yang siap mengemban amanah dakwah,” tandasnya.
Kegiatan Silaturrahim Syawal 1447 Hijriah ini mengangkat tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”.
Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur bersama Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Dewan Pengurus Daerah, Muslimat Hidayatullah, serta Pemuda Hidayatullah.