Beranda blog Halaman 115

Hidayatullah Bersama ARI-BP dan MUI Tolak Rencana Trump Usir Warga Gaza

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menolak dan mengecam keras rencana Presiden Amerika Serikan (AS) Donald Trump yang merencankan pengusiran warga Gaza, Palestina, dari Tanah Air mereka.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Abdul Ghofar Hadi, bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan pernyataan bersama tersebut di Konferensi Pers yang bertajuk “Gaza Not For Sale” di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Jum’at, 15 Syaban 1446 (14/2/2025).

Sikap tegas bersama itu disampaikan karena proposal relokasi oleh Trump itu kontra produktif ini dan ini penting untuk memastikan pentingnya keberlanjutan langkah gencatan senjata sehingga Palestina benar-benar merdeka.

“Rencana relokasi ini adalah pengusiran warga Gaza dari tanah airnya sendiri. Dan Ini juga salah satu bentuk genosida yang dilakukan terhadap warga Gaza. Hal ini juga persis dengan apa yang terjadi pada 1948, yakni Peristiwa Nakba (Malapetaka) bagi rakyat Palestina,” tegas pernyataan itu.

Koalisi masyarakat sipil ini juga menegaskan bahwa rencana Trump ini adalah merupakan bentuk nyata pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional terhadap rakyat Palestina, khususnya warga Gaza.

“Penderitaan warga Gaza akibat digenosida selama 15 bulan terakhir, diperburuk dengan rencana relokasi paksa. Relokasi akan
menimbulkan krisis kemanusiaan yang lebih besar,” terangnya.

Bersama dengan ormas Islam lainnya yang tergabung dalam ARI-BP dan MUI menyerukan agar jangan membiarkan Amerika Serikat mengambil alih untuk rekonstruksi Gaza.

“Jangan biarkan Amerika Serikat mengontrol dan menguasai Gaza. Karena itu, penolakan dan perlawanan harus terus digaungkan
seluruh dunia. Aliansi internasional tolak dan lawan ketidakbijakan Trump seperti itu harus diperkuat,” tegasnya.

ARI-BP dan MUI juga menyatakan mendukung perlawanan publik yang dilancarkan oleh masyarakat Amerika (baik di Parlemen, Kampus maupun demo jalanan) terhadap ketidakbijakan Trump.

Bahkan ARI BP dan MUI menyerukan agar penolakan dan perlawanan itu terus didukung agar makin kuat dan efektif mengkoreksi mimpi buruk Trump itu.

Selain itu, pihaknya juga mendorong negara-negara OKI, Liga Arab dan bahkan seluruh negara anggota PBB yang mendukung Gaza/Palestina untuk bersegera menyatukan langkah-langkah terukur untuk hentikan rencana Trump yang ngotot melakukan tindakan destruktif menguasai Gaza dan mengusir warganya keluar Palestina.

“Mendesak kepada OKI dan PBB untuk menerbitkan resolusi untuk menjamin gencatan senjata berlangsung tanpa pengkhianatan dan pembunuhan. Di samping itu, juga menerbitkan resolusi rekonstruksi Gaza dengan tidak perlu melibatkan Amerika,” imbuh pernyataan bersama itu.

Koalisi pun mendorong Pemerintah Indonesia untuk lebih keras menyatakan penolakan terhadap rencana Trump melalui langkah-langkah politik dan diplomasi yang lebih terukur.

Selain itu, Pemerintah Indonesia dipandang perlu terus membersamai The Hague Forum agar semua keputusan ICJ dan ICC dapat dilaksanakan, semata-mata demi penyelamatan kemanusiaan, keadilan, dan menghentikan kejahatan kemanusiaan dan penjajahan.

“ARI-BP dan MUI mengimbau diimplementasikannya Fatwa dan Irsyadat MUI dalam kerangka membela Palestina dan melawan kejahatan Israel,” terangnya.

Terakhir, mereka mendorong seluruh lembaga kemanusiaan untuk bersegera bersatu padu menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Gaza.

Sementara itu, salah satu Komite Pengarah ARI-BP lainnya Prof. Dr. H. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A. mengatakan, MUI telah mengeluarkan fatwanya bernomor 83 Tahun 2023 pada 10 November 2023, tentang mewajibkan umat Islam untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina, melalui penyaluran ZISWAF dan memboikot produk Israel.

“Irsyadat MUI 10 Maret 2024 tentang membantu Palestina melalui semua jalur, terutama boikot dan donasi,” tegas Prof. Sudarnoto yang juga Ketua Hubungan Luar Negeri MUI Pusat.

“MUI juga mengeluarkan Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VIII Nomor 01/Ijtima’ Ulama/VIII/2024 tentang Prinsip Hubungan Antarbangsa di antaranya tentang membela Palestina melalui bantuan militer resmi oleh pemerintah Indonesia,” sambungnya.

Seperti diketahui, proposal konyol dan arogan Trump untuk mengusir warga Gaza dari Tanah Airnya ini langsung mengundang reaksi keras. Negara-negara Arab, bahkan yang dikenal sebagai “teman dekat” AS menolak usulan tersebut.

Bukan hanya Mesir dan Yordania, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Qatar bersatu dalam penolakan. Selain itu, Turki, Spanyol, Irlandia, Brasil, Polandia, Slovenia, Skotlandia, Belgia, dan Inggris, juga menolak.*/Adam Sukiman

Sinergi dengan Masyarakat dalam Penguatan Infrastruktur Keagamaan Islam di Daerah Pelosok

0

GARUT (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Jawa Barat menyalurkan dana bantuan untuk pembangunan masjid di daerah pelosok, tepatnya di Jalan Rancabuaya, Kampung Tugu Mulya, Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jabar, Yusep Suhendar, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara BMH dan masyarakat pesisir Pantai Rancabuaya.

“Alhamdulillah, pada Kamis, 13 Februari 2025, BMH dapat berkontribusi dalam program pembangunan masjid di Garut Selatan. Bantuan ini diterima langsung oleh Ketua DKM serta warga setempat. Saat ini, progres pembangunan masjid telah mencapai sekitar 80 persen,” ujar Yusep Suhendar, dalam keterangannya pada Jum’at, 15 Syaban 1446 (14/2/2025).

Masyarakat setempat sangat mengapresiasi bantuan yang diberikan oleh BMH.

“Pembangunan masjid ini sangat mendesak bagi kami untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan pendidikan keagamaan masyarakat. Apalagi menjelang bulan Ramadan, masjid ini akan digunakan untuk salat Tarawih,” tutur Pak Mansyur, Ketua DKM masjid tersebut.

“Atas dukungan dari BMH, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya,” lanjutnya.

Masyarakat berharap pembangunan masjid dapat segera rampung sebelum Ramadan tiba. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui BMH, kebahagiaan dapat menjangkau hingga pelosok negeri, termasuk masyarakat di Garut Selatan.*/Herim

Rakornas Ekonomi Hidayatullah ke-V 2025 Aktivasi Jaringan Bisnis dalam Misi Dakwah

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) –- Bidang Perekonomian Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ke-V Tahun 2025 selama dua hari di Golden Flower Hotel, Bandung, Jawa Barat, pada 12–13 Sya’ban 1446 H, yang bertepatan dengan 11–12 Februari 2025.

Rakornas bertema “Aktivasi Hidayatullah sebagai Jaringan Bisnis” ini dihadiri oleh pengurus Departemen Perekonomian DPP Hidayatullah, pengurus Departemen Perekonomian tingkat wilayah, pengurus badan usaha tingkat pusat, serta aktivis bidang ekonomi Hidayatullah dari seluruh Indonesia.

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Wahyu Rahman, menyampaikan bahwa mereka yang diberi amanah dalam bidang perekonomian harus menggaungkan gerakan ekonomi sebagaimana gerakan tarbiyah dan dakwah.

“Ini harus menjadi perhatian. Kita gaungkan gerakan ekonomi ini sebagaimana gerakan tarbiyah dan dakwah—harus fokus dan bekerja keras,” ujarnya.

Salah satu hal penting yang ia tekankan adalah bagaimana membangun sistem yang semakin kokoh agar dapat mencapai target perekonomian nasional.

Selain itu, ia juga mengajak untuk senantiasa bersyukur atas setiap pencapaian, sekecil apa pun, termasuk dengan membuat laporan perkembangan kegiatan perekonomian secara rapi dan berkala.

“Sebagai bentuk rasa syukur, alangkah indahnya jika kita melaporkan kegiatan secara rapi dan berkala,” tegas Wahyu.

Ia juga mengingatkan bahwa waktu sangat terbatas, mengingat Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah semakin dekat.

“Waktu kita sangat singkat. Munas sebentar lagi, karena itu kita harus bekerja keras, jangan berleha-leha. Seorang pebisnis harus sangat menghargai waktu, berkomitmen, dan konsisten,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Rakornas juga menghadirkan narasumber seorang pengusaha, Darman Trunajaya.

Menurut Darman, atau yang akrab disapa Datu, salah satu sektor usaha yang masih memiliki peluang besar adalah bisnis tisu.

“Saat ini, hampir di semua tempat menggunakan tisu, seperti di rumah-rumah, sekolah, rumah sakit, warung, dan rumah makan,” ujar Datu.

“Di hotel-hotel, baik di dalam maupun luar negeri, tisu juga digunakan sebagai alat pembersih, termasuk dalam hal kebersihan setelah buang air,” imbuhnya.

Sebagai seorang profesional yang pernah bekerja di salah satu perusahaan kertas dan tisu terbesar di dunia, Darman menegaskan bahwa bisnis tisu memiliki pasar yang sangat luas.

“Jangan takut tersaingi, rezeki itu dari Allah dan sudah ditentukan masing-masing,” katanya.

Pemilik merek tisu Tata, Selsa, dan Toscana ini pun menawarkan kerja sama dengan Hidayatullah.

“Silakan, jika Hidayatullah ingin membuat brand sendiri, saya siap membantu,” pungkasnya.

Sebelum acara ditutup, Ketua Departemen Keuangan DPP Hidayatullah, Saiful Anwar, menyampaikan beberapa rekomendasi hasil Rakornas.

Di antaranya, Departemen Ekonomi di wilayah dan kampus utama Hidayatullah diminta untuk berfokus dalam menjalankan dan menyukseskan seluruh program perekonomian sebelum Musyawarah Nasional Hidayatullah 2025, demi terwujudnya “Kemandirian Jamaah dan Organisasi Menuju Tegaknya Peradaban Islam.”

Rekomendasi lainnya mencakup pendirian Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO) dengan metode duplikasi BUMO pusat maupun keagenan, serta mengembangkan usaha sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Rekomendasi berikutnya, mendirikan unit usaha berbasis halaqah/syirkah di setiap wilayah dan kampus utama.

Berikutnya, bersama Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (Aphida), perkuat serta meningkatkan kapasitas para pengusaha Hidayatullah melalui berbagai pelatihan bisnis, baik online maupun offline, termasuk daurah muamalah syar’iyah dan diskusi bisnis pekanan secara daring.

Rakornas juga menegaskan bahwa Departemen Ekonomi berkomitmen menjadi kontributor bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (APBO) dengan indikator adanya pendapatan APBO yang bersumber dari bisnis.

Selain itu, dilakukan alokasi dana investasi dari keuangan dan aset organisasi untuk meningkatkan penerimaan APBO, baik melalui pendirian BUMO, optimalisasi aset, maupun kerja sama operasional usaha.

Saiful Anwar juga menekankan pentingnya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna memperluas akses modal usaha bagi pengembangan bisnis organisasi.

Tak hanya itu, Hidayatullah juga didorong untuk menjadi pelopor sertifikasi halal, dengan berperan aktif dalam pendirian cabang Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) serta dalam penjaringan auditor dan pendamping halal di berbagai wilayah.

Sebagai langkah konkret, Saiful Anwar mengajak untuk mengoptimalkan peran strategis tiga lembaga keuangan Hidayatullah, yaitu Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH), Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Baitul Wakaf Hidayatullah (BWH) dalam mendukung pengembangan ekonomi berbasis syariah yang berdampak maslahat bagi kehidupan.

Setelah acara ditutup, seluruh peserta Rakornas melakukan studi lapangan ke Paragon Corp Bandung, perusahaan kosmetik halal terbesar di Indonesia.

Elan Permata, perwakilan manajemen Paragon Technology and Innovation, menyampaikan bahwa sejarah brand Wardah tidak lepas dari Hidayatullah. “Yang memberi nama Wardah adalah santri dari Hidayatullah,” ujarnya.

Peserta pun antusias berdialog dengan manajemen Paragon, membahas peluang sinergi dan kolaborasi antara perusahaan tersebut dengan para pelaku bisnis di lingkungan Hidayatullah.

Peluang kerja sama ini pun terbuka lebar, menandai langkah strategis dalam memperkuat jaringan bisnis berbasis nilai-nilai Islam.*/Dadang Kusmayadi

Forum Munas Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Diingatkan Tiga Aktifisme Utama

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Mahasiswa memiliki peran sentral dalam dinamika perubahan sosial dan intelektual. Selain sebagai penuntut ilmu, mereka juga agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebaikan di berbagai lini kehidupan.

Dalam kerangka ormas Hidayatullah, peran mahasiswa menjadi lebih spesifik dan strategis. Sebagaimana diutarakan oleh Ketua Pembina Hidayatullah Surabaya, Ust. H. Drs. Ec. H. Abdul Rachman, yang menegaskan bahwa mahasiswa Hidayatullah harus aktif dalam tiga aspek utama yaitu aktif di masjid, aktif di kampus, dan aktif di masyarakat.

“Mahasiswa Hidayatullah itu harus aktif dalam tiga aspek, yaitu aktif di masjid, aktif di kampus, dan aktif ditengah masyarakat,” tegasnya.

Hal ini disampaikan beliau dalam taushiyahnya di hadapan para peserta Musyawarah Nasional (Munas) ke-I Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jl. Kejawan Putih Tambak VI No.1, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur, Jum’at, 15 Syaban 1446 (14/2/2025).

Dia menegaskan, ketiga aspek ini merupakan karakter ideal seorang mahasiswa muslim sekaligus nilai strategi integral dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Sebab, lanjutnya, seorang mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga harus memiliki militansi spiritual serta kepedulian sosial yang tinggi.

Abdul Rachman menekankan bahwa mahasiswa Hidayatullah harus menjadi aktivis, bukan pasifis. Mereka harus banyak terlibat dalam kegiatan ilmiah, sosial, dan keagamaan agar militansinya terbentuk dengan kuat.

“Mahasiswa itu aktifis bukan pasifis. Mahasiswa itu banyak terlibat dalam kegiatan ilmiah, sosial apalagi keagamaan sehingga militansinya terbangun dengan kuat,” lanjut yang dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya ini menegaskan.

Ia menjelaskan, masjid merupakan pusat pembentukan karakter dan spiritualitas seorang mahasiswa. Dalam sejarah peradaban Islam, masjid telah menjadi pusat pembelajaran, diskusi, dan pergerakan sosial yang berorientasi pada perubahan masyarakat.

Oleh karena itu, dia menegaskan, mahasiswa Hidayatullah dituntut untuk aktif memakmurkan masjid. Abdul Rachman mencontohkan bagaimana dirinya, ketika masih menjadi mahasiswa, menghabiskan waktunya dengan berpindah dari satu kajian ke kajian lain, dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. “Hampir tidak punya waktu untuk santai, apalagi berpacaran,” kenangnya.

Berikutnya, dia mengingatkan hendaknua mahasiswa Hidayatullah juga harus aktif di lingkungan akademik, sebab kampus adalah medan intelektual yang menuntut kecerdasan berpikir dan kepekaan terhadap problematika keumatan.

Bagi dia, aktivisme di kampus bukan sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun kepekaan terhadap realitas sosial, ekonomi, dan politik bangsa.

Karenanya, dia berharap mahasiswa harus mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional dan spiritual agar ilmu yang diperoleh tidak hanya menjadi alat untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi sarana bagi perbaikan umat dan bangsa.

Lebih jauh dia menenekankan bahwa kebermanfaatan ilmu dan spiritualitas yang dimiliki mahasiswa tidak akan optimal jika tidak diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, mahasiswa Hidayatullah harus menjadi agen perubahan yang berperan aktif di tengah masyarakat.

“Mahasiswa Hidayatullah harus memiliki obsesi yang kuat dan kontribusi yang nyata karena keadaan negara kita belum stabil. Negara kita butuh tangan-tangan suci dari para mahasiswa agar Indonesia bisa mencapai keadaan yang jauh lebih baik,” pintanya.

Diakhir taushiyahnya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah periode 2000-2005 ini kembali meminta agar mahasiswa Hidayatullah tidak sekedar cerdas secara intelektual tapi juga harus cerdas secara emosional dan terlebih lagi secara spiritual.

Musyawarah Nasional ke-I Gerakan Mahasiswa Hidayatullah yang mengangkat tema “Kokohkan Karakter Mahasiswa Progresif Beradab untuk Indonesia Bermartabat” ini digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya selama 4 hari pada tanggal 13-16 Februari 2025. Dalam agendanya, Munas ini akan dibuka oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.*/Naspi Arsyad

SAR Hidayatullah Ikuti International Forum 2025 On Fire and Disaster Management

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, menghadiri undangan sebagai peserta Seminar Internaional Penanggulangan Bencana yang digelar Direktorat Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bekerjasama dengan Fire Disaster Management Agency (FDMA) yang merupakan lembaga pemerintah Jepang yang bertugas mengelola kesiapan, tanggapan, dan pemulihan bencana kebakaran dan bencana alam lainnya.

Seminar Internasional bertajuk “International Forum on Fire and Disaster Management in Indonesia: Focussing on Urban Search and Rescue” ini digelar selama 2 hari di Hotel Kempinski Jakarta yang dibuka pada Rabu, 13 Syaban 1446 (12/2/2025).

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Kusworo didampingi Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia His Excellency Masaki Yasushi membuka seminar internasional yang berlangsung selama dua hari ini.

Acara yang juga melibatkan Basarnas dalam penyelanggaraannya ini turut diikuti oleh kementerian/lembaga terkait, akademisi, organisasi swadaya masyarakat, serta sektor swasta. Hadir pula delegasi dari FDMA Jepang yang dipimpin oleh Endo Takashi.

Dalam sambutannya Kepala Basarnas menuturkan Indonesia dan Jepang adalah dua negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi.

Secara geografis, lanjutnya, Indonesia berada di kawasan cincin api pasifik yang rawan terhadap gempa bumi dan tsunami, serta sering mengalami berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan badai akibat perubahan iklim global.

“Tantangan ini mengharuskan kita untuk terus meningkatkan kapasitas dalam mitigasi, kesiapsiagaan, dan respons terhadap bencana,” katanya. Dalam konteks ini, Kabasarnas menjelasan, kerja sama memainkan peran yang sangat penting.

“Indonesia melalui Basarnas dan Jepang melalui Fire and Disaster Management Agency (FDMA) telah menjalin hubungan yang erat dalam berbagai aspek kebencanaan khususnya pada tahap tanggap darurat,” ujarnya.

Menurut Kabasarnas, forum ini merupakan wujud konkret dari kolaborasi tersebut, yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta teknologi dalam upaya penanggulangan bencana.

“Dalam kesempatan ini, secara tulus saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak khususnya FDMA yang telah berkolaborasi dalam forum ini sehingga kegiatan ini berjalan dan diyakini memberikan manfaat bagi kita semua,” tandasnya.

SAR Hidayatullah mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada atas kegiatan yang diselenggarakan oleh Fire Disaster Management Agency (FDMA) bersama Basarnas.

Irwan mengatakan, forum ini menjadi wadah akademik yang strategis dalam memperkuat kapasitas pencarian dan pertolongan, khususnya dalam konteks urban search and rescue.

“Basarnas, sebagai leading sector, telah menunjukkan kepemimpinan dan dedikasi luar biasa dalam mitigasi bencana di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat sistem manajemen kebencanaan yang tangguh dan responsif di masa depan,” kata Irwan memungkasi. (ybh/hidayatullah.or.id)

Dakwah Rumah Qur’an Darul Ikhlas Melayani Umat di Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hiruk-pikuk Jakarta dengan potret kontras antara gemerlapnya pemukiman elit yang bersisian dengan pemukiman padat penduduk, berdiri Rumah Qur’an (RQ) Darul Ikhlas Indonesia di jalur sibuk di Jalan Kerapu I Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Sepetak bangunan berbentuk segi empat berlantai dua ini adalah pusat pendidikan dan pembinaan masyarakat yang menghadirkan cahaya ilmu dan spiritualitas bagi warga sekitar.

Sebagai bagian dari program Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, RQ Darul Ikhlas memiliki berbagai program pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak, remaja, dan ibu-ibu.

Setiap hari, sejak pagi hingga malam, suara lantunan ayat-ayat suci menggema di dalamnya, menjadi saksi semangat para santri yang berjuang memahami dan menghafal kitab suci. Aktifitas belajar mengaji ini dipandu oleh sejumlah guru Al Qur’an dari RQ Darul Ikhlas.

Ketua Pesantren Darul Ikhlas Indonesia, Ahmad Muzakky, mengatakan program dakwah yang diberikan pihaknya terbuka untuk masyarakat terutama pendidikan Al Qur’an. Mereka berikhtiar memberantas buta aksara Al Quran dan mencetak para penghafal yang siap berkontribusi bagi masyarakat.

“Mendidik generasi Qur’ani bukan hanya mengajarkan membaca, tetapi upaya bersama kita untuk membentuk karakter agar menjadi insan yang bermanfaat bagi umat,” kata Muzakky dalam obrolan dengan media ini, Kamis, 14 Syaban 1446 (13/2/2025).

Program pembinaan di RQ Darul Ikhlas mencakup Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang dijadwalkan setiap pagi hingga menjelang Dzuhur, kemudian berlanjut setelah Ashar hingga Maghrib, serta setelah Maghrib hingga Isya. Program ini mengajarkan dasar-dasar membaca Al-Qur’an, tajwid, dan hafalan bagi anak-anak dan remaja.

Tak hanya itu, kaum ibu juga memiliki peran penting dalam membangun atmosfer Qur’ani. Pengajian ibu-ibu digelar dari malam Senin hingga malam Sabtu, sementara kajian taklim rutin berlangsung setiap Selasa malam Rabu.

Menurut Muzakky, layanan pendidikan keagamaan Islam RQ Darul Ikhlas semacam ini menjadi bekal penting dalam membangun karakter Islami di lingkungan keluarga dan masyarakat. Meski denagn tempat yang amat sederhana, kegiatannya selalu penuh antusiasme.

“Meskipun kegiatan pendidikan dan pembinaan Islam ini dijalankan dengan kesederhanaan tetapi tetap penuh keberkahan sebagai upaya sinergis kita dalam menghidupkan cahaya Al-Qur’an di tengah kehidupan kota yang sibuk,” katanya.

Salah satu program unggulan RQ Darul Ikhlas adalah program santri mukim, di mana 13 santri dari berbagai daerah menetap di asrama untuk menimba ilmu sepanjang hari. Mereka belajar dengan disiplin ketat, memadukan hafalan Al-Qur’an dengan pemahaman Islam yang komprehensif.

Di balik keberlangsungan program ini, ada sosok-sosok luar biasa yang mengorbankan waktu dan tenaga demi pendidikan Islam. Ustadz Amin Johari dan istrinya, Aisyah Eifera Putri, adalah contoh nyata dari dedikasi tanpa batas.

Pasangan muda ini tinggal di sekitar lokasi RQ Darul Ikhlas dan setiap hari mengajar anak-anak dan warga dengan penuh keikhlasan.

Bagi mereka, mengajarkan Al-Qur’an adalah panggilan jiwa. Setiap huruf yang diajarkan kepada santri adalah investasi akhirat yang berharga.

Kehangatan dan kasih sayang yang mereka berikan kepada murid-murid menciptakan atmosfer belajar yang nyaman dan penuh keberkahan.

“Karena pada akhirnya, perjuangan untuk membangun generasi Qur’ani adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Amin yang juga sarjana lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar-Raayah Sukabumi, Jawa Barat ini.

RQ Darul Ikhlas tidak hanya berfokus pada pendidikan dan dakwah, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui usaha berjualan bawang dan bakso.

Hasil dari usaha sampingan ini digunakan untuk menunjang operasional yayasan agar program pendidikan tetap berjalan dengan baik.

Di bidang sosial, mereka juga aktif dalam layanan kesehatan seperti bekam (hijamah) serta program Sedekah Jumat, di mana makanan dibagikan kepada yang membutuhkan setiap Jumat apabila dana mencukupi. (ybh/hidayatullah.or.id)

Membangun Kualitas Keilmuan Kader untuk Tegaknya Peradaban Islam

0

KEILMUAN adalah prasyarat mendasar bagi kader penggerak dalam organisasi manapun, termasuk dalam sistem kaderisasi Hidayatullah. Manhaj yang berlandaskan Sistematika Wahyu menempatkan Iqra’ (membaca) sebagai perintah pertama dalam Al-Qur’an, menegaskan bahwa ilmu adalah pilar utama dalam membangun individu, masyarakat, dan peradaban.

Pendirian Hidayatullah sendiri terinspirasi dari kegemaran membaca yang dimiliki oleh Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said dan Ustadz Abdurrahman Muhammad. Mereka tidak hanya menanamkan nilai literasi dalam kehidupan pribadi tetapi juga menjadikannya sebagai prinsip utama dalam mendidik generasi penerus.

Namun, dalam konteks Indonesia yang lebih luas, tantangan terhadap budaya membaca masih menjadi persoalan serius.

Menurut data UNESCO, Indonesia mengalami krisis minat baca. Hanya 0,001% dari populasi yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin.

Ironisnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak kedua di dunia setelah India dan memiliki pameran buku yang selalu ramai dikunjungi. Namun, penelitian Central Connecticut State University pada tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara dalam tingkat literasi.

Persoalan yang dihadapi bukanlah kemampuan membaca, melainkan kebiasaan membaca yang sangat rendah. Banyak orang menganggap membaca tidak bermanfaat, membuang waktu, atau hanya relevan bagi kaum akademisi. Padahal, membaca adalah kunci utama dalam membangun pola pikir dan menciptakan inovasi.

Sebuah studi dari Universitas Harvard mengungkapkan bahwa hampir semua orang sukses di dunia memiliki satu kesamaan: mereka gemar membaca. Maka, meningkatkan budaya membaca bukan hanya sekadar membangun fasilitas atau menggalakkan program membaca, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu yang kuat. Interaksi dialogis dan metode investigatif dapat menjadi pendekatan yang lebih efektif dalam membangun kesadaran akan pentingnya literasi.

Manfaat Membaca

Membaca adalah jendela ilmu, pintu menuju peradaban, dan cahaya yang menerangi perjalanan intelektual serta spiritual seseorang. Membaca bukan semata aktivitas kognitif, tetapi juga bagian dari proses tazkiyatun nafs, peneguhan jiwa, serta pembentukan karakter kepemimpinan.

Dalam setiap lembaran buku, tersimpan hikmah yang menuntun seorang kader menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang Islam, dakwah, dan tantangan zaman.

Karenanya, dalam konteks kaderisasi Hidayatullah, membaca tidak hanya berfungsi sebagai sarana mendapatkan ilmu, tetapi juga sebagai spirit dalam memahami manhaj perjuangan, mengasah ketajaman analisis, serta memperluas wawasan keislaman.

Berikut ini beberapa manfaat dari membaca:

Pertama, membaca melahirkan ide dan inspirasi. Salah satu inspirasi utama lahirnya Hidayatullah berasal dari buku Mujahid Dakwah karya K.H. Isa Anshari dan Rangkaian Mutu Manikam karya K.H. Mas Mansur. Buku-buku tersebut menjadi pemantik bagi Abdullah Said untuk mendirikan sebuah pesantren berbasis komunitas Islami yang penuh dengan nilai dakwah dan ibadah.

Kedua, memperluas wawasan dan mengatasi keterbatasan pengalaman pribadi. Manusia memiliki umur yang terbatas. Tanpa membaca, seseorang hanya akan bergantung pada pengalaman pribadinya yang sangat terbatas. Dengan membaca, kita dapat memahami pengalaman hidup orang lain dan mengambil pelajaran dari sejarah, bahkan tanpa mengalami langsung peristiwa tersebut.

Misalnya, generasi saat ini dapat memahami heroisme dan militansi pendiri Hidayatullah dengan membaca buku 50 Tahun Hidayatullah. Dengan demikian, mereka bisa merasakan semangat perjuangan meski tidak mengalami langsung perjalanan panjang pendirian pesantren ini.

Ketiga, membaca mengubah mindset dan membangun daya juang. Seberapa tinggi tingkat pendidikan seseorang, seberapa sulit kondisi ekonominya, membaca dapat mengubah pola pikirnya menjadi lebih maju. Seorang kader Hidayatullah yang memahami nilai-nilai iqra’ tidak akan berhenti hanya pada teori, tetapi juga mengimplementasikan ilmunya dalam aksi nyata.

Tantangan Keilmuan Masa Kini

Salah satu tantangan dalam kaderisasi Hidayatullah saat ini adalah adanya kesenjangan antara kader awal dan kader muda, baik secara kuantitas maupun kualitas keilmuan.

Kader awal, meskipun memiliki keterbatasan dalam akses ilmu, memiliki komitmen kuat untuk mengamalkan ilmunya. Mereka tidak banyak berdiskusi, tetapi langsung mengeksekusi.

Sebaliknya, kader masa kini memiliki akses yang lebih luas terhadap ilmu, tetapi belum tentu memiliki tingkat pengamalan yang sebanding. Ini menjadi tantangan besar karena dalam Islam, ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk diamalkan. Ilmu yang tidak diamalkan tidak memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan dan membawa kemajuan.

Studi di Amerika menunjukkan bahwa 60% populasi mengalami obesitas, meskipun terdapat lebih dari 46.000 buku tentang diet yang tersedia. Masalahnya bukan kurangnya informasi, tetapi ketidakkonsistenan dalam eksekusi. Hal yang sama berlaku dalam dunia keilmuan, bahwa ilmu tanpa amal hanya akan menjadi teori yang tidak berdampak.

Keseimbangan Peradaban Islam

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kejayaan peradaban terjadi ketika ilmu dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, ketika ilmu hanya menjadi wacana tanpa eksekusi, maka peradaban akan runtuh.

Oleh karena itu, kaderisasi Hidayatullah harus menyeimbangkan antara keilmuan dan amal, bukan hanya menargetkan pencapaian akademik, tetapi juga menumbuhkan mentalitas eksekutif yang siap mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak lembaga pendidikan Islam yang telah berkembang pesat, tetapi yang lebih penting dari sekadar mendirikan lembaga pendidikan adalah membangun mindset belajar yang benar. Pendidikan tidak boleh hanya diarahkan untuk mendapatkan ijazah atau pekerjaan, tetapi harus menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam akhir surat Al-Alaq, tujuan dari Iqra’ yang kita lakukan adalah untuk sujud dan mendekat kepada Allah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia seharusnya tunduk kepada-Nya, semakin besar tanggung jawab dakwahnya, dan semakin ia berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Pelatihan Kepemimpinan Bendahara DPW Hidayatullah se-Indonesia Dorong Agility Leadership

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Institute (HI) kembali menggelar Pelatihan Kepemimpinan “Agility Leadership Mindset” yang didiikuti oleh 32 Bendahara Dewan Pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah se-Indonesia digelar selama 5 hari dibuka pada Senin, 11 Syaban 1446 (10/2/2025).

Direktur Hidayatullah Institute, Muzakkir Usman, Ph.D., mengatakan perjalanan Hidayatullah dalam melakukan gerakan dakwah dan tarbiyah di tanah air Indonesia telah memasuki fase 50 tahun kedua di 2025 ini.

Sejak didirikan pada tahun 1973 dengan bentuk Kulliyatul Muballighin Muballighat (KMM) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Hidayatullah saat ini telah berkembang menjadi sebuah organisasi masyarakat (ormas) dengan 33 dewan pengurus wilayah (DPW) dan 287 dewan pengurus daerah (DPD) di tahun 2014, yang kemudian berkembang menjadi 38 DPW dan 428 DPD di tahun 2024.

“Ini perkembangan yang menggembirakan sekaligus tantangan bagi para pemangku amanah organisasi untuk terus meningkatkan kualitas organisasi,” kata Muzakkir dalam keterangannya.

Dia menjelaskan, dengan begitu banyaknya aktivitas Hidayatullah dalam hampir semua bidang meliputi dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi, maka diperlukan sosok sosok pemimpin yang amanah, kompeten serta memiliki kecakapan kepemimpinan untuk membawa organisasi Hidayatullah mewujudkan cita cita luhur para pendiri dan perintis lembaga ini.

Disamping itu, dia menguraikan, perkembangan teknologi yang semakin cepat, serta interaksi masyarakat global yang semakin tanpa batas (borderless) membutuhkan kehadiran pemimpin yang inovatif, kreatif, efektif, khususnya pemimpin yang lincah (agile) dalam mengelola organisasi.

“Tantangan perkembangan dan pengelolaan organisasi untuk lebih profesional dengan nilai nilai profetik dalam mewujudkan visi membangun peradaban Islam menjadi satu isu yang menjadi concern Hidayatullah di perjalanan 50 tahun kedua ini,” katanya.

Dalam hal sumber pendapatan organisasi misalnya, terang dia, Hidayatullah masih harus bekerja keras agar tidak hanya menyandarkan pada uluran tangan muhsinin melalui pengelolaan dana ZIS.

“Karena itu, Hidayatullah harus bergerak lebih lincah untuk melihat dan mengoptimalkan potensi keuangan dengan mendorong tumbuh kembangnya amal usaha dan badan usaha organisasi,” imbuhnya.

Di sinilah, terang dia, diperlukan kehadiran sosok pemimpin lincah yang memiliki pola pikir yang berfokus pada fleksibilitas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi dengan cepat. Lebih jauh lagi, diharapkan para Pemimpin di Hidayatullah yang agile juga memiliki sikap visioner, terbuka, dan transparan.

“Dengan mindset dan kemampuan agility leadership, para pemimpin Hidayatullah akan membantu organisasi untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, mendorong inovasi, serta membangun lingkungan kerja yang lebih positif dan kolaboratif,” tandasnya.

Mayoritas peserta berada pada tahap dewasa matang dalam karier dan kehidupan organisasi dimana rata-rata usia mereka adalah 48 tahun, peserta termuda berusia 34 tahun dan peserta tertua berusia 56 tahun.

Sebagian besar peserta memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan umumnya berasal dari level kepemimpinan menengah dengan pengalaman organisasi yang cukup panjang.*/Darwiwing

Budaya Organisasi Fondasi Bagi Lembaga Pencarian dan Penyelamatan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, menekankan bahwa budaya organisasi adalah fondasi bagi lembaga pencarian dan penyelamatan kemanusiaan seperti Search and Rescue (SAR) Hidayatullah.

Dia mengatakan, dalam dunia organisasi, budaya memiliki peran fundamental yang membentuk karakter dan identitas kelompok. Nursyamsa menyoroti pentingnya budaya organisasi ini dalam pembekalannya di Pra Raker dan Rapimnas SAR Hidayatullah yang berlangsung secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Selasa, 12 Syaban 1446 (11/2/2025).

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan berperan dalam membentuk dan mengarahkan budaya organisasi agar selaras dengan visi dan misi lembaga.

Budaya organisasi bukan sekadar kumpulan aturan atau norma, melainkan sebuah identitas yang memperkuat rasa kepemilikan dan loyalitas anggotanya. Dalam kerangka SAR Hidayatullah, jelas Nursyamsa, budaya organisasi harus menjadi perekat yang mengikat seluruh anggota dalam satu kesatuan.

Sebagai contoh, budaya disiplin yang diterapkan dapat menciptakan citra bahwa SAR Hidayatullah merupakan organisasi yang profesional dan terstruktur.

“Misalnya, SAR Hidayatullah memiliki budaya organisasi yang sangat menekankan budaya kedisiplinan. Maka, anggotanya akan memiliki identitas bahwa mereka kumpulan orang-orang yang disiplin,” katanya.

Selain itu, Nursyamsa menekankan bahwa rasa kepemilikan terhadap organisasi mencerminkan penerimaan setiap anggota terhadap nilai-nilai organisasi. Ketika anggota merasa menjadi bagian dari suatu entitas yang memiliki identitas kuat, mereka cenderung lebih berkomitmen dan loyal terhadap organisasi tersebut.

Budaya organisasi menurutnya berfungsi sebagai alat yang mengatur dan mengorganisir sumber daya dalam suatu lembaga. Ia memberikan batasan yang jelas mengenai nilai-nilai dan norma yang harus dipatuhi. Hal ini membedakan SAR Hidayatullah dari organisasi lain dan menjadikannya lebih terstruktur serta memiliki standar operasional yang jelas.

Selain itu, dia menjelaskan, budaya organisasi berperan dalam meningkatkan nilai dan kualitas lembaga. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya organisasi akan membentuk standar perilaku yang menjadi acuan bagi para anggotanya.

“Dengan demikian, budaya organisasi tidak hanya menjadi pedoman normatif tetapi juga menjadi mekanisme kontrol bagi perilaku individu dalam organisasi,” katanya.

Mekanisme Kontrol dan Pendorong Kinerja

Lebih jauh Nursyamsa menekankan bahw asalah satu aspek krusial dalam budaya organisasi adalah kemampuannya dalam mengontrol dan membentuk perilaku anggota.

Nilai dan norma yang diterapkan menjadi pedoman bagi setiap individu dalam mengambil keputusan dan bertindak, baik dalam konteks internal maupun eksternal organisasi.

Lebih lanjut, dia menerangkan, budaya organisasi juga berfungsi sebagai motor penggerak bagi peningkatan kinerja anggota. Dengan adanya budaya organisasi yang kuat, anggota akan lebih terdorong untuk mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi.

“Kesadaran ini akan membentuk lingkungan kerja yang lebih produktif dan harmonis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.

Dalam pada itu, Nursyamsa mengimbuhkan bahwa budaya organisasi bukan sekadar alat pengontrol atau pengatur perilaku, tetapi juga berperan dalam menentukan arah dan tujuan lembaga.

Dengan budaya organisasi yang jelas dan kuat, tegas dia, sebuah organisasi dapat lebih mudah menentukan prioritas dan mengarahkan strategi yang tepat guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Nursyamsa menegaskan bahwa tanpa budaya organisasi yang terstruktur, suatu organisasi akan kehilangan arah. Oleh karena itu, dia berharap SAR Hidayatullah yang akan menggelar Rapimnas di Surabaya, Jawa Timur, harus terus memperkuat dan menginternalisasi nilai-nilai budaya organisasi demi memastikan keberlanjutan dan efektivitas kerja mereka di masa mendatang.*/

Siswa MAS Ulul Albaab Hidayatullah Ternate Raih Prestasi di Ajang Olimpiade Biologi Unkhair 2025

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) – Kompetisi Olimpiade Biologi tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMABIO) Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun (Unkhair) Ternate resmi berakhir pada Rabu, 13 Syaban 1446 (12/2/2025).

Ajang bergengsi ini diikuti oleh 83 siswa dari 18 sekolah se-Provinsi Maluku Utara yang berkompetisi memperebutkan Piala Bergilir Rektor Universitas Khairun.

Salah satu peserta yang menonjol dalam kompetisi ini adalah Balqis Jalaludin, siswi Kelas XII IPA Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Ulul Albaab Hidayatullah Ternate. Balqis berhasil melaju hingga babak final setelah melewati serangkaian tantangan yang kompetitif.

Sebelumnya, ia bersama tiga rekannya—Septiani, Danira Cahya, dan Asima Altafunnisa—berhasil melewati babak penyisihan. Namun, hanya Balqis yang mampu menembus semifinal dan akhirnya mencapai babak final, di mana ia meraih juara harapan 2.

Selama tiga hari, sejak Senin hingga Rabu, 10-12 Februari 2025, Balqis dan timnya berjuang keras di bawah bimbingan guru pembimbing mereka, Adawia Taher, S.Pd.

Keberhasilan Balqis mencapai final merupakan bukti dedikasi dan ketekunan dalam bidang sains, meskipun berasal dari sekolah dengan fasilitas terbatas.

“Terima kasih ya Bu, sudah membimbing saya sejauh ini. Semoga yang saya dapatkan ini membuat saya lebih termotivasi untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi ke depan,” ungkap Balqis penuh haru kepada gurunya setelah pengumuman hasil kompetisi.

Balqis juga menyampaikan pesan penyemangat bagi rekan-rekannya untuk terus belajar tanpa mengenal lelah.

Ia berharap bahwa keberhasilannya dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain agar tidak menyerah dalam menghadapi tantangan akademik.

Sementara itu, Adawia Taher, sebagai guru pembimbing, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian anak didiknya.

“Meskipun hanya meraih juara harapan 2, saya tetap sangat bersyukur. Anak-anak kami telah berusaha maksimal meski dengan fasilitas yang terbatas, sementara lawan-lawan mereka berasal dari sekolah-sekolah unggulan di Maluku Utara,” tuturnya.

Lebih lanjut, Adawia menekankan bahwa keberhasilan ini adalah bukti bahwa madrasah swasta juga mampu bersaing di tingkat provinsi. “Syukur Alhamdulillah, meskipun kita belum memiliki laboratorium yang lengkap, anak-anak kita mampu mengharumkan nama sekolah di ajang akademik ini,” tambahnya penuh kebanggaan.

Di tempat terpisah, Kepala MAS Ulul Albaab Hidayatullah Ternate, Ikram Muhammad, S.Pd.I, turut menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian Balqis dan timnya.

“Balqis dan kawan-kawan telah membuktikan bahwa dengan usaha keras dan doa, hasil terbaik akan diraih. Subhanallah walhamdulillah, teriring doa untuk Ananda Balqis dan tim, semoga terus sukses di masa depan,” ujarnya penuh apresiasi.

Lebih jauh, Ikram menekankan bahwa pengalaman ini akan menjadi modal penting dalam persiapan lomba berikutnya, khususnya Kompetisi Sains Madrasah (KSM). “Insya Allah mereka sudah punya pengalaman berharga dan akan kami persiapkan lebih matang untuk kompetisi selanjutnya,” tegasnya.

Harapannya, tambah Ikram, madrasah-madrasah di bawah Yayasan Hidayatullah di Ternate dapat terus berkembang dan menorehkan prestasi di ajang lokal maupun nasional di masa mendatang.*/Arief Ismail Hanafi