Beranda blog Halaman 115

Sinergi Wakaf dan Dakwah Membumikan Al-Qur’an Bersama Generasi Muda

LOMBOK (Hidayatullah.or.id) — Di sudut tenang Pulau Lombok, pada sebuah pondok pesantren bernama Hidayatullah Mataram, Masjid Abdullah Ihsan memantulkan suara syahdu lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.

Suara itu bukan berasal dari pengeras suara, melainkan dari lisan para santri muda yang menghafal dan mengamalkan kalam Ilahi. Di tempat sederhana ini, generasi penerus bangsa sedang ditempa. Mereka tak hanya cakap dalam ilmu dunia, tetapi juga kuat memegang cahaya wahyu.

Pada hari Jum’at yang penuh berkah, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menunaikan amanah besar yaitu menyalurkan 350 mushaf Al-Qur’an kepada para santri penghafal Al-Qur’an di pesantren tersebut. Sebuah kegiatan yang tampak sederhana, namun sarat makna dan visi peradaban.

Setiap mushaf adalah permulaan mimpi baru, semangat baru, dan berkah yang terus mengalir. Ini adalah bagian dari program nasional BMH, “Tebar Sejuta Al-Qur’an,” sebuah ikhtiar strategis dan spiritual untuk membumikan Al-Qur’an ke seluruh penjuru negeri—termasuk daerah-daerah yang masih minim akses terhadap mushaf berkualitas.

Setiap mushaf yang diserahkan bukan hanya kertas dan tinta. Ini adalah doa-doa yang tersusun rapi dalam bentuk kitab suci, yang akan menyemangati para santri dalam perjalanan mereka menjadi hafidz-hafidzah masa depan.

Kebahagiaan sederhana tetapi tulus tampak dalam ekspresi Baharudin, salah satu santri penerima mushaf.

“Alhamdulillah, terima kasih kami sampaikan kepada BMH yang telah memberikan kami Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an baru ini, kami semakin berkembang dan bersemangat dalam menghafal,” ujarnya sambil tersenyum, seperti dalam keterangan diterima media ini, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).

Bagi para santri, Al-Qur’an adalah lebih dari sekadar buku. Ia adalah sahabat setia dalam kesunyian malam, guru abadi yang membimbing akhlak, dan bekal kehidupan yang melampaui dunia.

Kebaikan ini lahir dari sinergi antara BMH, para donatur, dan Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Sebuah kolaborasi yang menghadirkan kembali makna gotong royong dalam bentuk spiritual. Setiap lembar mushaf adalah titipan cinta dari mereka yang percaya bahwa investasi terbaik adalah untuk kehidupan akhirat.

BMH membuktikan bahwa membangun bangsa tak hanya soal infrastruktur atau ekonomi, tapi juga tentang menjaga warisan ilahiah—Al-Qur’an—agar tetap hidup di dada para pemuda. Lewat gerakan ini, BMH mengokohkan posisinya sebagai institusi dakwah dan pendidikan yang menyatukan iman, ilmu, dan amal.

“Setiap langkah BMH adalah upaya untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan utama bagi masyarakat luas,” ungkap Nurkholis, Kepala BMH NTB.

“Penyaluran Al-Qur’an akan terus kami lakukan, hingga sampai ke pelosok-pelosok yang membutuhkan. Ini adalah bagian dari syiar maksimal Al-Qur’an di bumi pertiwi,” tambahnya.

Program Tebar Sejuta Al-Qur’an tak berhenti di Mataram. Ia terus bergerak, menembus batas geografis dan sosial. Sebuah perjalanan panjang yang menegaskan bahwa gemuruh wahyu tak akan pernah padam, selama masih ada yang rela menghidupkannya dalam dada dan amal nyata.*/

Ketum Hidayatullah Sampaikan Masukan Strategis dalam Forum Ikatan Ulama Muslimin Sedunia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam pertemuan Silaturahim Ulama Nasional bertema “Mengokohkan Peran Ulama Indonesia Dalam Perjuangan Palestina dan Baitul Maqdis”, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, menyampaikan serangkaian masukan strategis yang mencerminkan urgensi keterlibatan aktif umat Islam Indonesia, khususnya ulama dan pemerintah, dalam membela perjuangan rakyat Palestina.

Pertemuan yang digelar oleh Ikatan Ulama Muslimin Sedunia (IUMS) Indonesia ini berlangsung pada Sabtu, 9 Zulkaidah 1446 (17/5/2025), di Jakarta, dan dihadiri puluhan ulama lintas organisasi serta tokoh dari berbagai provinsi.

Dalam paparannya, Dr. Nashirul Haq menekankan bahwa peran ulama tidak boleh berhenti pada retorika moral semata.

“Peran ulama harus diarahkan untuk menyadarkan dan mengedukasi umat tentang perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Baitul Maqdis” katanya.

Ia menegaskan bahwa penyadaran kolektif umat melalui pendidikan dan dakwah adalah fondasi bagi konsolidasi sikap politik yang lebih kuat terhadap isu Palestina.

Kedua, Nashirul Haq mendorong Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk tidak mengambil posisi pasif. Ia mengusulkan keterlibatan negara dalam tiga ranah yaitu politik (siyasi), militer (‘askari), dan kemanusiaan (insani).

Dalam hal krisis Palestina, Nashirul menegaskan pentingnya langkah konkret di bidang pertahanan, seperti pengiriman pasukan perdamaian. Hal ini selaras dengan amanat konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.

“Indonesia perlu mengirim pasukan perdamaian,” tegasnya.

Tak hanya itu, bantuan kemanusiaan yang selama ini telah dikirim juga dinilai perlu ditingkatkan, dengan pengawalan langsung dari pemerintah agar efektif, terarah, dan memiliki dampak yang nyata di lapangan.

Masukan ketiga yang disampaikan Dr. Nashirul adalah pentingnya gerakan rakyat yang terorganisir dalam bentuk doa bersama dan Aksi Akbar.

Kegiatan ini menurutnya bukan sekadar simbolik, melainkan instrumen untuk mengkonsolidasikan kesadaran publik, membangun opini internasional, serta menekan aktor-aktor global agar memperhatikan penderitaan rakyat Palestina.

“Aksi besar ini sebaiknya dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo,” ujarnya, memberi penekanan pada pentingnya kehadiran simbolis kepala negara sebagai bentuk dukungan negara secara utuh.

Forum ini juga dihadiri langsung oleh Habib Dr. H. Salim Segaf Al Jufri, M.A., Wakil Presiden International Union for Muslim Scholars (Al-Ittihad Al-‘Alami li ‘Ulama al-Muslimin), yang merupakan organisasi induk dari IUMS Indonesia.

Forum silaturahim ini juga menyerukan langkah-langkah operasional yang menggabungkan kekuatan spiritual, sosial, dan politik serta menekankan posisi Indonesia yang memiliki peluang untuk memainkan peran strategis dalam percaturan diplomatik dan kemanusiaan global.[]

Profesionalisme Syariah, LSH Hidayatullah Jatim Kukuhkan Pengurus dan Gelar Bimtek

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat profesionalisme dan legalitas penyembelihan sesuai kaidah syariah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Lembaga Sembelih Halal (PW LSH) Hidayatullah Jawa Timur menyelenggarakan acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) & Pelatihan Manajemen Qurban Sembelih Halal, yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Pengurus Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Wilayah Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di Bojonegoro.

Acara pembukaan kegiatan yang digelar hari ini, Sabtu, 19 Zulkaidah 1446 (17/5/2025) dihadiri oleh unsur Pengurus Wilayah LSH Hidayatullah Jawa Timur, Ketua DPW Hidayatullah Jatim Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.I, beserta jajarannya, serta unsur juru sembelih halal dari berbagai DPD Hidayatullah se-Jawa Timur.

Partisipasi aktif dari seluruh pengurus wilayah dan daerah ini menunjukkan keseriusan organisasi dalam menjadikan standar halal sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem perjuangan dakwah dan ekonomi umat.

Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, pakar sembelih halal sekaligus Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Pusat. Ia tidak datang sendiri, tetapi didampingi oleh Muhammad Syarif, yang juga merupakan unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah.

Kehadiran langsung para pengurus pusat LSH Hidayatullah memperkuat pesan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan juga konsolidasi visi nasional dalam peneguhan standar halal berbasis syariah dan profesionalisme.

Sejalan dengan itu, H. Nanang Hanani menegaskan, bahwa pelatihan juru sembelih halal menjadi instrumen strategis. Ia tidak hanya menjamin kepatuhan terhadap hukum Islam dalam proses penyembelihan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap produk-produk halal yang berasal dari komunitas Hidayatullah.

“Standar halal bukan sekadar label, tetapi amanah syar’i yang harus dijaga dengan ilmu, akhlak, dan ketelitian teknis,” kata Nanang.

Pengukuhan Pengurus LSH Hidayatullah Wilayah Jawa Timur menandai langkah konkret menuju tata kelola kelembagaan yang lebih terstruktur.

Ketua DPW Hidayatullah Jatim Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.I berharap semoga melalui kepengurusan resmi yang baru ini, LSH Hidayatullah Jatim dapat memainkan peran lebih besar dalam membina, mengawasi, dan mengembangkan kapasitas juru sembelih halal yang profesional dan bersertifikasi.

“Langkah ini juga merupakan respon terhadap dinamika regulasi sertifikasi halal nasional, di mana peran pelaku dan lembaga independen seperti LSH menjadi krusial,” kata Amun.

Dalam ekosistem halal nasional, sinergi antara kapasitas SDM dan legitimasi kelembagaan merupakan syarat utama agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pengelola industri halal yang berdaya saing.

Dengan demikian, Amun menambahkan, acara Bimtek dan Pengukuhan ini diharapkan tidak hanya memperkuat struktur organisasi internal, tetapi juga menegaskan posisi Hidayatullah sebagai bagian dari arsitektur besar sistem halal nasional yang berbasis pada akidah, ilmu, dan integritas.*/

DMU Sulut Menyemai Kepemimpinan Muda Menuju Menuju Indonesia Emas 2045

TOMOHON (Hidayatullah.or.id) — Di tengah udara sejuk Tomohon Utara, sebanyak 32 santri berkumpul di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Jum’at, 18 Dzulqa’dah 1446 (16/5/2025).

Mereka datang dari berbagai penjuru wilayah — Bitung, Minahasa Utara, Tomohon, hingga Bolaang Mongondow — untuk mengikuti Daurah Marhalah Ula (DMU), sebuah program pembinaan mentalitas dan spiritualitas generasi muda.

Program ini bukan sekadar ajang pelatihan, melainkan langkah awal dalam menyiapkan generasi yang tangguh untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutan pembukaan, Ustaz Nuryadin, perwakilan dari Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Sulawesi Utara, menegaskan urgensi pembangunan karakter bagi pemuda Indonesia.

“Momen ini adalah langkah awal untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Hidayatullah hadir untuk membentuk karakter santri yang tangguh, berintegritas, dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Kampus Tomohon dipilih bukan tanpa alasan. Bagi jaringan Hidayatullah di wilayah timur Indonesia, tempat ini memiliki nilai historis yang kuat.

“Kampus ini menjadi saksi awal berkembangnya Hidayatullah di wilayah timur Indonesia,” kata Ustaz Murdianto, Ketua Panitia sekaligus perwakilan Departemen Perkaderan DPW Sulut.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya dibekali materi keislaman, tetapi juga dilatih kepemimpinan dan wawasan kebangsaan.

Serangkaian aktivitas fisik dan mental disusun untuk menguatkan karakter para santri, menjadikan mereka sosok yang siap tampil sebagai pemimpin bangsa masa depan.

Pendekatan yang digunakan Hidayatullah dalam program ini mencerminkan visi pendidikan yang integral. Mendidik tidak hanya berarti mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk cara berpikir dan kepribadian.

Dalam konteks menyongsong Indonesia Emas 2045, Murdianto menjelaskan, pendekatan ini menjadi relevan dan mendesak. Negara membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

“Dan di sinilah Hidayatullah terus berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi terbaik umat,” tegas Ustaz Murdianto dalam penutupan sambutannya.

Murdianto mengatakan, harapan besar disematkan pada para peserta Marhalah Ula agar mereka menjadi bagian dari generasi emas Indonesia yang membawa perubahan positif di masa depan.

Melalui kegiatan seperti ini, Murdianto menambahkan, Hidayatullah mempertegas peran strategisnya dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan karakter.

Di tengah berbagai tantangan zaman, pembinaan semacam ini, menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga arah perjalanan Indonesia menuju visi besarnya di tahun 2045.*/

Buka TOT Nasional PKAUD, Ketua Umum Hidayatullah Tekankan Urgensi Ketahanan Keluarga

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA., membuka acara Training of Trainer (TOT) Nasional Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini (PKAUD) bertajuk “Menguatkan Ketahanan Keluarga, Mengokohkan Peradaban Islam” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Jum’at (16/5/2025).

Ust. Dr. H. Nashirul Haq memulai sambutannnya dengan menyajikan refleksi Surah An-Nisa Ayat 9 dalam konteks penguatan ketahanan keluarga dan peradaban Islam.

Surah An-Nisa ayat 9 ini, terangnya, memberi peringatan terhadap tanggung jawab lintas generasi. Ayat ini menyerukan pentingnya perhatian pada nasib anak-anak yang ditinggalkan dalam keadaan lemah, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial.

Kata Ustadz Nashirul, Allah menyerukan dua sikap utama sebagai bentuk perlindungan terhadap generasi penerus yaitu taqwa (ketaatan dan kesadaran akan nilai-nilai ilahi) serta qaulan sadiidan (perkataan yang lurus, jujur, dan bernilai konstruktif).

Ayat ini, menurutnya, sarat dimensi sosiologis dan peradaban dimana ini mengimplikasikan bahwa kelangsungan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh ketangguhan anak-anak yang kelak akan mewarisi struktur sosial, budaya, dan politik umat.

“Maka, kelemahan generasi penerus adalah indikator krisis ketahanan keluarga sekaligus kerapuhan peradaban,” tegasnya.

Ia memaknai ayat ini dalam konteks kekinian untuk membaca tantangan serius yang dihadapi institusi keluarga Muslim. Krisis identitas, dekadensi moral, disorientasi pendidikan, serta tekanan sosial ekonomi yang menimpa keluarga-keluarga Muslim kontemporer menghasilkan generasi yang lemah secara integratif.

Selain itu, tantangan yang ada dapat pula menggiring anak-anak juga tumbuh dalam atmosfer yang minim keteladanan, kehilangan arah spiritual, dan teralienasi dari nilai-nilai Qur’ani.

Dia menegaskan, ketahanan keluarga bukan sekadar urusan ekonomi atau fungsi sosial domestik. Ia adalah institusi utama yang mewariskan nilai-nilai Islam, membentuk pola pikir kritis, dan membangun karakter yang kokoh.

“Penguatan ketahanan keluarga tidak bisa dilepaskan dari agenda besar peradaban Islam. Di tengah arus globalisasi dan penetrasi nilai-nilai liberal-sekuler, keluarga harus menjadi benteng pertama dan terakhir pertahanan umat,” imbuhnya.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan publik, kurikulum pendidikan, serta gerakan sosial berbasis komunitas yang mendukung rekonstruksi keluarga Muslim yang tangguh dan berkesadaran historis.

Ia menekankan, membiarkan generasi lemah bukan hanya pengkhianatan terhadap amanah ketuhanan, tetapi juga bentuk kezaliman struktural yang akan melemahkan fondasi umat. Ketika keluarga gagal mencetak generasi kuat, maka yang runtuh bukan hanya institusi mikro, tetapi seluruh sistem peradaban Islam itu sendiri.

Keluarga sebagai Institusi Terkecil Peradaban Islam

Lebih jauh Ustadz Nashirul menekankan bahwa keluarga adalah institusi terkecil dalam struktur peradaban Islam, namun fungsinya sangat besar dan strategis.

Di dalam keluarga Qur’ani, setiap individu Muslim dibimbing untuk berinteraksi erat dengan Al-Qur’an—melalui pembacaan (tilawah), pembelajaran (ta’allum), perenungan (tadabbur), dan penyampaian (tabligh) nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan.

Inilah rumah tangga yang tidak sekadar menjadi tempat tinggal fisik, melainkan madrasah utama pembentuk iman, akhlak, dan kecerdasan spiritual anak-anak umat.

Menurutnya, kisah pengasuhan Syekh Abdurrahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram, perlu menjadi pelajaran masa kini. Sejak kecil, ibunya mendoakan dengan khusyuk agar anaknya menjadi penghafal Qur’an dan imam besar.

Demikian pula ibu Imam Syafi’i yang memperhatikan dengan cermat makanan dan pendidikan anaknya, mengarahkan dengan penuh keikhlasan agar buah hatinya tumbuh dalam keilmuan dan ketakwaan.

Begitupula Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih, dua ikon kejayaan Islam, dididik oleh keluarga yang menanamkan keyakinan kuat, visi peradaban, serta cinta jihad dan ilmu sejak usia dini.

“Keluarga Muslim juga harus menjadi benteng terhadap perang pemikiran (ghazwul fikr) yang menggerus identitas dan akhlak anak-anak,” katanya.

Ia menyebut anak-anak Gaza memberi teladan dalam ketegaran, kesabaran, dan keberanian. Itu semua bisa tertanam sejak kecil bila dididik dalam lingkungan yang kokoh dan penuh teladan.

Oleh karena itu, ia menambahkan, orang tua harus menyadari bahwa karakter anak tidak cukup diajarkan secara teori, tetapi harus dicontohkan dan dipraktikkan secara nyata dalam keseharian.*/

Penegasan Tauhid dan Penolakan Syirik dalam Tafsir Al-Baqarah Ayat 22

0

SURAH Al-Baqarah ayat 22 adalah pengingat agung tentang keesaan Allah dan kewajiban manusia untuk hanya menyembah-Nya. Ayat ini berbunyi:

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءًۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Dialah) yang menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (hujan) itu Dia menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu sekalian. Oleh karena itu, janganlah kamu sekalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu sekalian mengetahui.”

Ayat ini mengajak manusia merenungi nikmat Allah yang begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita telusuri makna ayat ini melalui tafsir As-Sa’di yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, refleksi, dan poin-poin penting yang terkandung di dalamnya.

Bukti Logis Keesaan Allah

As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini menyampaikan dalil tentang kewajiban menyembah Allah semata. Beliau menjelaskan:

ثُمَّ اسْتَدَلَّ عَلَى وُجُوبِ عِبَادَتِهِ وَحْدَهُ، بِأَنَّهُ رَبُّكُمُ الَّذِي رَبَّاكُمْ بِأَصْنَافِ النِّعَمِ

“Setelah itu, Allah menyampaikan dalil tentang kewajiban menyembah-Nya semata. Karena sesungguhnya Dia adalah Tuhan kalian yang telah memelihara kalian dengan berbagai macam nikmat.”

Allah menciptakan manusia dari ketiadaan, sebagaimana Dia menciptakan generasi sebelumnya. Dia melimpahkan nikmat yang tampak, seperti kesehatan dan rezeki, serta nikmat yang tersembunyi, seperti akal dan hidayah.

As-Sa’di melanjutkan,

فَجَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا تَسْتَقِرُّونَ عَلَيْهَا، وَتَنْتَفِعُونَ بِالْأَبْنِيَةِ، وَالزِّرَاعَةِ، وَالْحِرَاثَةِ، وَالسُّلُوكِ مِنْ مَحَلٍّ إِلَى مَحَلٍّ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ الِانْتِفَاعِ بِهَا

“Allah menjadikan bumi untuk kalian sebagai alas tempat tinggal kalian di atasnya, sehingga kalian bisa memanfaatkannya untuk membangun rumah, bertani, bercocok tanam, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dan lain-lain dari berbagai bentuk pemanfaatan bumi.”

Bumi diciptakan sebagai hamparan yang stabil, memungkinkan manusia membangun kehidupan.

Selain itu, Allah menjadikan langit sebagai atap yang kokoh. As-Sa’di menerangkan:

وَجَعَلَ السَّمَاءَ بِنَاءً لِمَسْكَنِكُمْ، وَأَوْدَعَ فِيهَا مِنَ الْمَنَافِعِ مَا هُوَ مِنْ ضَرُورَاتِكُمْ وَحَاجَاتِكُمْ، كَالشَّمْسِ، وَالْقَمَرِ، وَالنُّجُومِ

“Allah juga menjadikan langit sebagai atap untuk tempat tinggal kalian, lalu Allah menyediakan di dalamnya berbagai macam manfaat yang menjadi hal penting yang kalian butuhkan, seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang.”

Langit, dalam tafsir ini, merujuk pada segala yang berada di atas manusia, termasuk awan. Allah menurunkan hujan dari awan, sebagaimana ditafsirkan As-Sa’di:

وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ

“Dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu.”

Hujan menumbuhkan biji-bijian, buah-buahan, dan tanaman seperti kurma dan zaitun, yang menjadi sumber rezeki. As-Sa’di menguraikannya:

رِزْقًا لَكُمْ بِهِ تَرْتَزِقُونَ، وَتَقْتَاتُونَ، وَتَعِيشُونَ، وَتَتَفَكَّهُونَ

“Sebagai rezeki bagi kalian. Dengannya kalian diberi rezeki, kalian makan, kalian hidup, dan menikmati buah-buahan.”

Namun, ayat ini menutup dengan peringatan tegas:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا أَيْ: نُظَرَاءَ وَأَشْبَاهًا مِنَ الْمَخْلُوقِينَ

“Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah”, artinya, jangan kalian menjadikan makhluk lain sebagai tandingan bagi Allah.”

Makhluk lain, seperti berhala atau manusia, hanyalah ciptaan yang tidak memiliki kuasa. Mereka tidak bisa mencipta, memberi manfaat, atau mendatangkan bahaya. As-Sa’di menegaskan dalam tafsirnya:

وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ اللهَ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ وَلَا نَظِيرٌ

“Dan kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Allah tidak mempunyai sekutu ataupun tandingan.”

Menyekutukan Allah adalah kebodohan besar, karena akal sehat mengakui bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta.

Kesadaran akan Nikmat dan Tauhid

Surah Al Baqarah ayat 22 ini mengajarkan bahwa setiap nikmat—bumi yang kita pijak, langit yang menaungi, hingga hujan yang menumbuhkan makanan—adalah karunia Allah.

Logika dan fitrah manusia seharusnya mendorong kita untuk hanya menyembah-Nya. Bagaimana mungkin kita mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi dalam ibadah justru menyekutukan-Nya?

Ayat ini juga menegur dengan halus namun tegas: jika kita tahu Allah tidak memiliki sekutu dalam mencipta, maka Dia juga tidak boleh disekutukan dalam ibadah.

Poin-Poin Penting Surah Al Baqarah ayat 22
1. Dalil Logis Keesaan Allah

Allah menciptakan bumi, langit, dan hujan yang menghasilkan rezeki. Tidak ada makhluk yang mampu melakukan hal serupa.

2. Larangan Syirik

Menyekutukan Allah adalah kebodohan, karena makhluk tidak memiliki kuasa apa pun.

3. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah
Pengakuan bahwa Allah satu-satunya Pencipta harus mengantar pada pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah.
4. Logika Akal

Ayat ini menggunakan akal sehat untuk membuktikan keesaan Allah dan membantah syirik.

Ayat ini menggabungkan perintah beribadah hanya kepada Allah, larangan menyembah selain-Nya, dan bukti nyata keesaan-Nya. Inilah fondasi tauhid yang menjadi inti ajaran Islam.

Mari kita renungi nikmat Allah dan ikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.

Jika kita mengakui Allah sebagai satu-satunya Pencipta, maka kita wajib pula mengikhlaskan seluruh bentuk ibadah hanya kepada-Nya. Inilah dasar tauhid yang menjadi fondasi seluruh ajaran Islam.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Disiplin Teknologi di Pesantren Strategi Menangkal Dampak Negatif Era Digital

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tantangan era digital yang kian menggerus nilai-nilai karakter generasi muda, pondok pesantren tetap menjadi benteng penting dalam membentuk akhlak dan kedisiplinan para santri.

Kepala Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Samarinda, Ani Chaerani, menegaskan bahwa pesantren memiliki sistem yang mampu membatasi paparan negatif teknologi digital, khususnya penggunaan gawai yang berlebihan.

“Kalau di luar, anak-anak bisa pegang gadget setiap hari. Berbeda ketika mereka di pondok, mereka harus disiplin, mereka hanya boleh menggunakan gadget untuk pembelajaran, seperti membuat Power Point atau materi pelajaran lain. Selebihnya, tidak,” ungkapnya, seperti dinukil dari laman Niaga.asia, Rabu, 16 Dzulqa’dah 1446 (14/5/2025).

Menurutnya, tantangan besar era digital bukan berarti menolak kemajuan teknologi, tetapi perlu ada pengelolaan yang bijak agar gadget tidak menjadi candu bagi para santri.

“Guru-guru kami juga pakai alat digital dalam mengajar. Kami tetap mengikuti zaman, tapi dengan batasan yang tegas. Pesantren jadi solusi membatasi dampak negatif gadget,” jelasnya.

Ani juga mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap perkembangan pesantren. Salah satunya adalah pembangunan gedung baru yang saat ini digunakan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Putri di jalan Perjuangan Samarinda.

“Alhamdulillah, gedung ini dari pemerintah. Kalau tidak salah, dari Departemen Sosial. Mulai digunakan sejak sekitar bulan sebelum Ramadan kemarin. Luar biasa dukungan dari pemerintah,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, saat melakukan kunjungannya ke Ponpes Hidayatullah Putri, Istri Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim), Wahyu Hernaningsih Seno, menyatakan bahwa Tim Penggerak PKK juga membuka peluang sinergi dalam mendukung pendidikan pesantren, khususnya dalam aspek keagamaan.

“Di PKK Kaltim, khususnya Pokja 1, itu ada program-program yang bisa bersinergi dengan pendidikan agama di pesantren, termasuk dukungan untuk hafalan dan bimbingan keagamaan. Insyaallah kami bisa hadir memberi arahan dan semangat untuk anak-anak,” terangnya.

Ia juga memuji peran strategis pesantren dalam mencetak generasi muda yang tangguh secara moral dan spiritual.

“Ini pondasi awal membentuk karakter anak-anak Kaltim. Mereka adalah aset SDM kita untuk mewujudkan generasi emas ke depan,” tegasnya.

Sebagai pesan khusus untuk para santri dan para pengasuh pesantren, ia berharap agar semua pihak tetap istiqomah dan semangat dalam mendidik serta belajar.

“Semoga santri tetap tawadu dan punya cita-cita tinggi, tak hanya belajar agama tapi juga meraih pendidikan setinggi-tingginya,” pungkasnya.

Dengan peran aktif pesantren dan dukungan pemerintah serta organisasi masyarakat seperti PKK, Provinsi Kaltim diharapkan dapat membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Keberkahan yang Mengalir, Kolaborasi Membangun Masjid Tathmainul Qulub

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Keberkahan terus mengalir di Pondok Pesantren Tathmainul Qulub, sebuah lembaga pendidikan keislaman yang terletak di Desa Sendangdalam, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen.

Di tengah berbagai keterbatasan, geliat pembangunan masjid sebagai pusat ibadah bagi para santri dan masyarakat sekitar menunjukkan dinamika spiritual dan sosial yang patut diapresiasi.

Pembangunan masjid sempat terhenti pada tahap pengecoran lantai. Namun, berkat partisipasi aktif para donatur dan simpatisan yang tidak hanya menyumbang secara materiil tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan, proses tersebut kini kembali berjalan.

Salah satu aktor penting dalam fase lanjutan pembangunan ini adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH), lembaga zakat yang terus menunjukkan konsistensinya dalam mendampingi umat.

Pada Kamis, 17 Dzulqaidah 1446 (15/5/2025), BMH Kebumen melalui Unit Layanan Zakat (ULZ) mengirimkan satu truk semen berisi 160 zak ukuran 50 kg atau setara 8–10 ton.

Bantuan ini tidak sekadar sampai, tetapi langsung diwujudkan menjadi lantai masjid yang kokoh dan rata, menandai fase baru dalam pembangunan rumah ibadah tersebut.

“Alhamdulillah, zak-zak semen yang kemarin kami distribusikan kini sudah menjadi lantai kokoh dan datar di rumah Allah ini. Terima kasih kepada para donatur yang telah menghadirkan keberkahan ini,” ujar Ismoyo, Koordinator ULZ BMH Kebumen, dengan penuh rasa syukur.

Namun, perjalanan ini masih panjang. Tantangan berikutnya adalah pemenuhan berbagai material penting lainnya: harbel untuk dinding, besi dan semen untuk pilar, genteng untuk atap, serta keramik untuk pelapisan lantai.

Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kesinambungan kerja sama dari berbagai pihak agar masjid ini benar-benar rampung dan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Penting untuk dipahami bahwa pembangunan masjid bukan hanya soal menyusun batu bata dan semen, melainkan juga menyatukan hati dalam amal jariyah.

Setiap zak semen, setiap tetes keringat, dan setiap rupiah yang disumbangkan adalah manifestasi niat suci untuk menghadirkan kebermanfaatan yang langgeng. Proyek ini adalah wujud nyata bahwa kolaborasi dalam kebaikan akan selalu melahirkan dampak yang melampaui ruang dan waktu.

BMH hadir sebagai jembatan antara tangan-tangan dermawan dan kebutuhan umat. Melalui sinergi semacam inilah, sejarah perjuangan umat Islam untuk membangun pusat spiritualitas dan pendidikan yang bermartabat terus ditorehkan.

“Semoga setiap langkah dalam pembangunan masjid ini menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya, menguatkan ikatan umat, dan membuka pintu kebaikan yang tak terhingga,” tutup Ismoyo.

KH Abdurrahman Ingatkan Kepedulian Lingkungan Wajah Nyata Peradaban Islam

Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berbincang dengan Anregurutta Haji Prof Ali Yafie (Ketua Umum MUI 1998-2000, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1991-1992) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur, Sabtu, 20 September 2014 (Foto: Muhammad Abdus Syakur/ Hidayatullah.com)

MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan salah satu dari wajah nyata peradaban Islam yang bersih, tertata, dan penuh daya tarik—sebagaimana ajaran Rasulullah SAW yang tidak hanya spiritual, tapi juga estetis dan ekologis.

Ia memberikan contoh konkret tentang pentingnya kebersihan diri dan kepedulian terhadap lingkungan dengan menganalogikan mencukur rambut.

Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yang diselenggarakan di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, beberapa waktu lalu.

Menurut Ustadz Abdurrahman, demikian beliau akrab disapa, berislam tak cukup hanya dengan semangat. Diperlukan penghayatan terhadap etika dan estetika.

Ia menegaskan, Islam bukan hanya ibadah ritual tanpa peduli dengan akhlak serta lingkungan sekitar. Justru, menurutnya, dua aspek ini harus berjalan seiring.

“Itu harus tampak. Kita datang, Alhamdulillah rapi. Jangan biarkan gondrong itu kembang-kembang (bunga),” ucapnya memberi contoh, seperti dikutip dari laman Ummul Qura Hidayatullah, Kamis, 17 Dzulqaidah 1446 (15/5/2025).

Dalam ilustrasi yang khas dan bersahaja, ia menggambarkan anomali peradaban Islam hanya dari tampilan rambut yang acak-acakan.

“Rambut saja kalau tidak disisir bermasalah, nabilang kita orang sinting,” ujarnya dengan logat Bugis yang lekat.

Lebih lanjut, Ustadz Abdurrahman mengetengahkan sebuah kisah dari zaman Rasulullah SAW.

Dikisahkan, seorang istri merasa tidak hormat kepada suaminya. Rasulullah pun menyarankan transformasi sederhana yaitu mencukur rambut, merapikan kumis, mandi bersih, mengenakan pakaian terbaik, dan memakai wangi-wangian.

“Setelah itu pergilah salam di depan pintu rumahmu,” ujar Ustadz Abdurrahman menirukan pesan Nabi.

Lalu beliau melanjutkan, “Lihat apa yang terjadi! Bisa-bisa istrinya pangling dan tidak kenal suaminya. Eh, siapa ini?” kisah yang disambut tawa peserta Rakornas.

Dari kisah itu, Ustadz Abdurrahman menegaskan pentingnya khuluqun azhim, kekuatan akhlak yang memiliki daya magnetis.

Bahwa seluruh potensi alam dan lingkungan sekitar adalah bahan baku yang diberikan oleh Allah untuk dikelola menjadi alat peraga dakwah Islam.

Di luar forum resmi, keteladanan itu juga nyata. Ustadz Abdurrahman dikenal memiliki kebiasaan tidak meninggalkan sampah di tempat yang dikunjunginya—sekecil apapun. Misalnya, gelas plastik atau kulit permen.

Beberapa kali, ia kedapatan memungut sampah sendiri lalu membuangnya di tempat sampah yang tersedia.

Awak Media Center Ummulqurahidayatullah pun pernah mendapatinya mengantongi kulit permen yang dipungut dari bawah meja dalam suatu ruang pertemuan hingga menemukan tempat sampah.*/

Istri Wagub Kaltim Wahyu Hernaningsih Terkesan dengan Pendidikan Pesantren

0
Bu Wagub Wahyu Hernaningsih Seno foto bersama santri dan para pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Istri Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Wahyu Hernaningsih Seno, atau Bu Wagub berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Samarinda, yang beralamat di Jalan Perjuangan, Samarinda, Rabu, 16 Dzulqa’dah 1446 (14/5/2025).

Wahyu Hernaningsih Seno, yang merupakan Staf Ahli Pendidikan Keluarga Tim Penggerak PKK Kaltim, mengaku terkesan dengan sistem pendidikan berjenjang dan pola pembinaan yang diterapkan di pesantren ini, di mana mahasiswi turut aktif membimbing para santri muda.

Dalam dialog bersama pengurus pondok, Wahyu Hernaningsih menilai pendekatan ini sebagai wujud nyata dari pendidikan karakter yang holistik. Ia pun menyebut pesantren sebagai tempat strategis dalam membentuk generasi berakhlak dan berdaya saing.

“Saya melihat di sini ada pembinaan karakter yang sangat kuat. Anak-anak bukan hanya dibina untuk menghafal Al-Qur’an, tapi juga diarahkan untuk memiliki semangat belajar, kedisiplinan, dan tujuan hidup. Inilah pondasi untuk mencetak generasi emas Kaltim,” ujarnya, seperti dinukil dari Niaga Asia.

Ia juga memberikan arahan kepada para santri untuk menjaga semangat dalam menghafal Al-Qur’an dan menempuh pendidikan akademik, karena keduanya saling melengkapi.

“Anak-anak di sini adalah aset bangsa, aset Kaltim. Kalau pondasinya Al-Qur’an, insyaAllah masa depan mereka akan lebih kuat dan indah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kepala Ponpes Putri Hidayatullah, Ani Chaerani, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di pondok ini berbasis asrama dan menggabungkan kurikulum nasional dengan kurikulum pesantren.

Namun kata dia, yang menjadi keunikan di pondok pesantren ini adalah adanya peran mahasiswi dari perguruan tinggi internal yang ikut membina para santri.

“Para mahasiswi tinggal di pondok ini dan menjadi pembina adik-adiknya. Mereka belajar sekaligus membentuk budaya mentoring antar jenjang,” jelasnya.

Menurut Ani, sistem ini akan menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tapi juga menumbuhkan keteladanan dan solidaritas antargenerasi.

Dengan jumlah santri putri saat ini mencapai 80 orang, pondok pesantren ini masih terus berbenah. Terutama dalam hal pemenuhan fasilitas ruang kelas dan sarana belajar.

“Kami butuh dukungan untuk pemenuhan meja, kursi, dan fasilitas ruang kelas. Harapan kami, kunjungan ini menjadi awal dari jalinan kolaborasi yang lebih erat dengan Pemprov Kaltim,” harapnya.

Wahyu Hernaningsih pun merespons hal itu dengan semangat positif. Ia mengaku akan menyampaikan aspirasi dari ponpes kepada pihak terkait, sembari terus mendukung kegiatan pembinaan remaja berbasis nilai-nilai Qur’ani.

Kunjungan ditutup dengan potong kue kejutan dari para santri untuk Bu Wagub yang tengah berulang tahun. Perayaan sederhana namun hangat tersebut mempererat silaturahmi dan menambah kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.

“Saya ke sini ingin silaturahmi dengan adik-adik dan para ustadzah. Alhamdulillah saya diundang ke tempat yang sangat indah ini. Pak Wagub sudah sering ke sini, jadi saya merasa tidak salah untuk datang ke sini,” tukasnya.*/