KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi umat dan mendukung program pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat, Hidayatullah menyelenggarakan Pendampingan & Pelatihan Ekonomi dan Kelembagaan di Pondok Putri Hidayatullah Kendari, Jalan Orinunggu, Padaleu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 24 Dzulqaidah 1446 (22/5/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh kader, pengurus, dan perwakilan lembaga dari berbagai wilayah, termasuk kelompok rentan dan difabel, untuk memastikan partisipasi inklusif .
Pelatihan ini fokus pada penguatan tata kelola kelembagaan yang profesional serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
“Kita ingin membangun ekosistem ekonomi yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga ramah terhadap kebutuhan semua pihak, termasuk kelompok marjinal,” ujar Wahyu Rahman, Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.
Hadir bersamanya dalam pelatihan ini Ketua Departemen Wirausaha DPP Hidayatullah Ruhyadi.
Materi pelatihan mencakup manajemen usaha produktif, strategi penguatan ekonomi umat, dan pembinaan organisasi berbasis nilai keislaman.
Peserta juga dibekali pendampingan teknis untuk merancang program ekonomi yang adaptif dengan kearifan lokal, seperti pemanfaatan data alternatif dalam perencanaan usaha .
Metode pelatihan dirancang interaktif dengan pendekatan inclusive data, memastikan suara kelompok minoritas turut terwakili dalam diskusi .
Kegiatan ini selaras dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan partisipasi ekonomi masyarakat melalui pendekatan berbasis data yang inklusif, seperti diamanatkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) .
Diharapkan, para peserta menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi ekonomi berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Hidayatullah sebagai lembaga dakwah yang peduli pada kesejahteraan umat .
“Kolaborasi antara lembaga, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci membangun ketahanan ekonomi yang inklusif,” tambah Wahyu Rahman .
Rencana tindak lanjut dari pelatihan ini akan difokuskan pada penerapan program ekonomi di tingkat grassroot, dengan pemantauan berbasis data untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal .
Dengan pendekatan ini, tambah Wahyu, Hidayatullah berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.*/
SURAH Al-Mu’minun ayat 91 adalah ayat tauhid yang menegaskan keesaan Allah secara logis dan rasional. Ayat ini membantah klaim-klaim musyrik yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak atau ada tuhan lain di samping-Nya.
“Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, maka masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 91)
Jika memang ada lebih dari satu tuhan, kata ayat ini, maka akan terjadi pertarungan kekuasaan dan kekacauan dalam pengaturan alam semesta. Namun, kenyataannya, alam ini berjalan harmonis, teratur, dan penuh keseimbangan. Maka, ini menjadi bukti kuat akan keesaan dan kemahakuasaan Allah.
Refleksi Ayat dalam Kontekstual Kekinian
Dalam konteks kekinian, ayat ini mengajarkan nilai-nilai penting yang bisa kita refleksikan setidaknya dalam berbagai aspek kehidupan.
Pertama, aspek kesatuan dan kepemimpinan yang tegas. Di tengah gempuran tantangan duniawi yang kompleks dan penuh kepentingan, ayat ini memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan yang majemuk tanpa kesatuan visi akan melahirkan konflik.
Dalam organisasi, negara, bahkan rumah tangga — jika terlalu banyak “tuhan-tuhan kecil” yang ingin mengatur tanpa arah yang sama, maka kehancuran dan kekacauan akan terjadi. Prinsip tauhid mengajarkan bahwa satu visi yang adil dan bijaksana harus menjadi poros dalam pengambilan keputusan.
Kedua, menolak politeisme modern seperti kapitalisme, fanatisme, dan pengkultusan. Meski tidak lagi menyembah berhala fisik, masyarakat modern sering terjebak dalam bentuk ketuhanan baru: uang, jabatan, popularitas, atau ideologi yang dikultuskan.
Ayat ini menjadi pengingat untuk meletakkan Allah sebagai pusat kehidupan dan tidak tunduk kepada berhala-berhala kontemporer yang merusak makna hidup.
Misalnya, dominasi korporasi raksasa yang tak terbendung bisa menciptakan ketimpangan sebagaimana tuhan-tuhan yang bersaing sebagaimana digambarkan dalam ayat ini: saling menjatuhkan, saling memperebutkan kendali.
Ketiga, aspek harmoni dalam tata kelola alam dan sosial. Alam yang tunduk pada satu aturan Tuhan menjadi cerminan bahwa keberhasilan sebuah sistem terletak pada keterpaduan dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip kebenaran.
Dalam konteks lingkungan dan sosial, manusia perlu kembali kepada sistem ilahi — yang mementingkan keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan. Krisis iklim, konflik geopolitik, dan kemiskinan global hari ini adalah akibat dari manusia yang ingin menjadi “tuhan” dengan aturan sendiri.
Keempat, menguatkan argumentasi Tauhid secara rasional. Ayat ini menawarkan argumentasi logis yang bisa digunakan dalam dialog lintas iman atau dalam pendidikan akidah.
Ayat ini menunjukkan bahwa keesaan Tuhan adalah kebutuhan logis untuk stabilitas ciptaan. Maka, umat Islam didorong untuk menggunakan pendekatan rasional dalam berdakwah dan membela nilai-nilai tauhid, tidak sekadar secara emosional atau simbolik.
Surah Al-Mu’minun ayat 91, dengan demikian, bukan hanya menjawab tuduhan teologis di masa lalu, tetapi juga menegur perilaku sosial-politik dan budaya hari ini.
Hubungan Surah Al Mu’minun ayat 91 dan Surah Al Ikhlas
Di sisi lain, surah Al-Mu’minun ayat 91 dan Surah Al-Ikhlas memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam mengokohkan fondasi tauhid — yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang setara dengan-Nya.
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Surah Al-Mu’minun ayat 91 menyatakan bahwa Allah tidak punya anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Surah Al-Ikhlas juga menegaskan bahwa “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan”.
Kedua ayat ini sama-sama membantah ajaran-ajaran yang menyekutukan Allah, seperti trinitas, politeisme, atau pengkultusan manusia sebagai anak Tuhan.
Kedua surah ini pula menolak segala bentuk penyamaan Allah dengan makhluk-Nya. “Tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya” (Al-Ikhlas) dan “Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan” (Al-Mu’minun:91) sama-sama menolak antropomorfisme (penyerupaan Tuhan dengan manusia).
Di era modern, banyak “tuhan-tuhan buatan” seperti harta, teknologi, kekuasaan, bahkan manusia yang dikultuskan. Kedua ayat ini mengajarkan kita untuk hanya menggantungkan diri kepada Allah (sebagaimana dalam Al-Ikhlas: 2, “Allahus-Shamad”) dan tidak menyandarkan kekuatan pada sistem duniawi yang fana.
Surah Al-Ikhlas memberi fondasi teologis tauhid yang bersih dan absolut, sedangkan Surah Al-Mu’minun ayat 91 menunjukkan konsekuensi logis dan praktis dari menyimpang dari tauhid. Bila tauhid goyah — dalam bentuk syirik teologis maupun “syirik modern” (penghambaan terhadap dunia) — maka tatanan hidup akan hancur.
Keduanya mengajarkan bahwa stabilitas batin, sosial, dan alam semesta hanya dapat terwujud jika kita kembali kepada Allah yang Esa, tempat bergantung, dan tak ada yang menyerupai-Nya.
Surah Al-Mu’minun ayat 91 dan Surah Al-Ikhlas sama-sama menegaskan Tauhid sebagai inti dari ajaran Islam. Namun, tauhid bukan sekadar dogma. Ia adalah hasil dari proses pencarian, perenungan, dan penyucian dari segala bentuk penyekutuan terhadap Tuhan.
Maka, untuk benar-benar memahami dan meyakini tauhid, manusia perlu menggunakan akal — namun tetap dibimbing oleh wahyu.
Akal sebagai Jalan Awal Pencarian
Setiap nabi, termasuk yang kita pelajari dari perikehidupan Nabi Ibrahim, memulai pencarian Tuhan dengan membaca realitas: alam, langit, benda-benda langit, dan gejala-gejala eksistensi.
Ha ini menunjukkan bahwa agama sejati tidak mengabaikan akal, justru mengundang akal untuk berpikir. Bahkan dalam banyak ayat, Allah mengajak manusia untuk “afala ta’qilun”, “afala tatafakkarun”, dan “afala yanzhurun” — bukti bahwa iman dalam Islam bukan buta, tapi berakal.
Surah Al-Mu’minun ayat 91, dengan penalaran logisnya — “kalau ada tuhan selain Allah, pasti mereka akan bersaing dan saling mengalahkan” — mencontohkan bagaimana Al-Qur’an mendidik logika manusia untuk sampai pada kesimpulan tentang keesaan Tuhan.
Keterbatasan Akal dan Peran Wahyu
Namun, akal manusia memiliki keterbatasan. Ia hanya bisa menjangkau yang fisik, yang empiris, dan yang rasional secara terbatas.
Ketika akal mencoba menjelaskan hakikat Tuhan yang transenden, ia bisa keliru — bahkan bisa menciptakan tuhan-tuhan yang dibayangkan seperti makhluk.
Di sinilah peran Surah Al-Ikhlas sangat penting sebagai sistem penjelas. Ia hadir bukan sebagai hasil logika, tetapi sebagai wahyu yang menyempurnakan pencarian manusia:
“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Ini bukan hasil filsafat, tapi kebenaran transenden yang melampaui batas rasio, namun tidak menafikan rasio. Wahyu menjadi kompas yang memandu akal agar tidak tersesat dalam pencarian makna ketuhanan.
Begitulah Nabi Ibrahim yang menggunakan akalnya untuk menyimpulkan bahwa matahari, bulan, dan bintang bukanlah Tuhan karena sifatnya yang tenggelam, berubah, dan fana. Ia melakukan proses penyaringan logis: “Sesungguhnya aku tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am: 76)
Proses ini menunjukkan bahwa akal sehat dapat mengenali bahwa Tuhan bukan makhluk, bukan yang berubah atau tunduk pada hukum alam. Tetapi setelah sampai pada kesimpulan tersebut, Ibrahim tidak menyatakan Tuhan berdasarkan asumsi, melainkan tunduk kepada wahyu:
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am: 79)
Artinya, setelah akal menyingkirkan yang batil, hanya wahyu yang mampu menuntun manusia kepada hakikat kebenaran yang sejati — yakni Tuhan yang Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak serupa dengan makhluk apa pun, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas.
Sinergi antara Akal dan Wahyu dalam Mewujudkan Tauhid
Surah Al-Mu’minun ayat 91 menunjukkan pendekatan rasional bahwa logika tauhid lebih kuat daripada keyakinan terhadap tuhan jamak yang saling bersaing.
Surah Al-Ikhlas melampaui pendekatan logis itu dengan menyajikan definisi Tuhan secara transenden dan absolut, yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia sepenuhnya.
Tanpa akal, manusia akan mengikuti agama secara taklid dan rentan tersesat oleh simbol-simbol palsu. Tanpa wahyu, akal bisa terjebak dalam spekulasi dan membuat “tuhan-tuhan” sesuai khayalan manusia, seperti dalam filsafat Yunani, politeisme kuno, atau ideologi modern.
Islam tidak mengajarkan pemutusan antara iman dan akal, melainkan menyatukannya dalam jalan kebenaran. Namun ketika akal mencapai batasnya, wahyu hadir sebagai cahaya penuntun yang menyempurnakan pencarian.
Di sinilah Tauhid bukan hanya keyakinan teologis, tapi juga panduan hidup rasional, spiritual, dan eksistensial serta pengakuan sadar dari akal dan jiwa yang menemukan cahaya Tuhannya.[]
*) Ust. Dr. HM. Tasyrif Amin, M.Pd.I,Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah.Ditranskrip oleh redaksi dari taushiyah beliau dalam acara Halaqah Wustho Ibnu Mas’ud Depok, Jawa Barat, Rabu malam (21/5/2025)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut Idul Adha 1446 H/2025, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) kembali meluncurkan Program Qurban Dakwah Pedalaman 1446. Program ini bukan sekadar penyaluran daging kurban, tetapi merupakan gerakan sosial dan dakwah yang menjangkau saudara-saudara Muslim di pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian publik.
Ketua PosDai Pusat, Ustadz Abdul Muin, menegaskan bahwa momen Idul Adha harus dimaknai lebih dari sekadar ritual penyembelihan hewan. “Idul Adha bukan sekadar hari raya, tetapi juga momen berbagi yang penuh makna,” ujarnya. “Di pelosok negeri, ada saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, namun tetap teguh dalam iman.”
Menurut Muin, penerima manfaat dari program ini mencakup para mualaf yang baru mengenal Islam, para dai dan guru ngaji di desa terpencil, serta pesantren-pesantren kecil yang menjadi pusat pendidikan Islam bagi anak-anak pedalaman.
“Bagi mereka, kurban bukan sekadar daging, tetapi bukti cinta dan kepedulian,” ungkapnya, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 24 Dzulqaidah 1446 (22/5/2025).
Ia menjelaskan, melalui program ini, PosDai ingin menyampaikan pesan bahwa kaum Muslimin di kota-kota besar tidak melupakan saudara-saudara seiman yang tinggal jauh dari pusat peradaban.
Program Qurban Dakwah Pedalaman ini dirancang tidak hanya untuk menyalurkan hewan kurban, tetapi juga memperkuat jaringan dakwah dan membangun solidaritas spiritual antarumat Islam.
PosDai, yang telah berpengalaman menjangkau komunitas Muslim di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), mengorganisir pengiriman hewan kurban ke titik-titik strategis di berbagai wilayah pelosok Indonesia.
“Di sana, ada dai yang tanpa lelah membimbing generasi muda mencintai Al-Qur’an, ada pesantren kecil yang berdiri kokoh di tengah keterbatasan. Kehadiran kurban adalah bentuk penguatan moral dan spiritual yang sangat mereka butuhkan,” jelas Muin.
Lebih dari sekadar distribusi daging, program ini juga menjadi ajang silaturahmi dan edukasi keislaman. Relawan PosDai dan para dai lokal memberikan pengajaran agama, membagikan Al-Qur’an, dan memotivasi masyarakat agar tetap semangat menjalani kehidupan dalam nilai-nilai Islam.
“Ini adalah cara kita menyampaikan bahwa mereka tidak sendirian. Kita hadir bersama mereka, dalam suka dan duka,” tegas Ustadz Muin.
PosDai mengajak masyarakat luas untuk ikut ambil bagian dalam program ini. Melalui dukungan kurban, para donatur dapat menyampaikan kepedulian nyata kepada komunitas-komunitas yang jarang tersentuh oleh program sosial arus utama.
“Mari wujudkan kepedulian kita. Jadilah bagian dari program kurban untuk pedalaman, untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ajak Ustadz Muin.
Ia pun menutup dengan harapan dan doa agar setiap amal baik yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. “Semoga Allah menerima setiap amal baik kita, melipatgandakan pahala, dan mengaruniakan keberkahan dalam hidup kita,” tutupnya.
Dengan semangat kolaborasi dan empati, Program Qurban Dakwah Pedalaman 1446 menjadi momentum penting untuk membangun keadilan sosial berbasis iman.
PosDai memastikan setiap kontribusi disampaikan secara transparan dan tepat sasaran, demi merajut ukhuwah Islamiyah dari kota hingga pelosok. Call center Program Qurban Dakwah Pedalaman 1446 PosDai 0822-6002-3005 atau +62 813-6290-8866 | www.posdai.or.id
Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah Nya pada kesempatan Jum’at hari ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan memberikan anugerah kepada kita semuanya untuk bisa hadir memenuhi panggilan-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam beserta seluruh keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Di tengah berbagai tantangan dan cobaan hidup yang tak henti-hentinya menerpa, baik itu kesulitan ekonomi, masalah sosial, hingga konflik global, seringkali hati kita merasa berat, pikiran diliputi kekhawatiran, dan bahkan muncul rasa putus asa.
Namun, sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk tidak pernah kehilangan harapan. Islam mengajarkan kita sebuah konsep penting yang relevan dalam setiap zaman, yaitu optimisme yang profetik.
Apa itu optimisme yang profetik? Ini bukan sekadar optimisme buta tanpa dasar, bukan pula sikap acuh tak acuh terhadap realita.
Optimisme yang profetik adalah optimisme yang berakar kuat pada keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikuti teladan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan dilandasi dengan usaha serta ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Insyirah ayat 5-6:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Ayat ini diulang dua kali, menunjukkan penegasan dan jaminan dari Allah bahwa setelah setiap kesulitan, pasti akan datang kemudahan.
Ini adalah janji yang harus menguatkan hati setiap mukmin. Keyakinan pada janji ini adalah pilar pertama optimisme profetik. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Al Qur’an surah Yusuf ayat 87:
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir”
Ayat ini secara tegas melarang kita untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Keputusasaan adalah sifat orang-orang kafir, karena mereka tidak memiliki keyakinan yang benar akan kekuasaan dan kasih sayang Allah.
Bagi seorang mukmin, putus asa adalah dosa hati yang harus dihindari.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah teladan terbaik dalam optimisme.
Di saat hijrah ke Madinah, ketika kaum Muslimin tertindas di Mekah dan menghadapi ancaman berat, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak putus asa.
Beliau merencanakan hijrah ke Madinah dengan penuh keyakinan akan pertolongan Allah, meskipun jalur yang ditempuh sangat berbahaya. Hasilnya, Islam berkembang pesat di Madinah.
Begitu juga dalam perang Badar, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dan perlengkapan seadanya, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tetap memancarkan optimisme dan memotivasi para sahabat, hingga akhirnya meraih kemenangan yang gemilang.
Demikian pula, kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dalam membangun semangat optimisme ketika peristiwa Thaif, setelah ditolak dan dilempari batu oleh penduduk Thaif, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tetap mendoakan mereka dan tidak menyimpan dendam.
Beliau yakin bahwa dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beriman.
Realitas ini menunjukkan bahwa optimisme profetik bukanlah pasif, melainkan optimisme yang aktif, disertai dengan doa, usaha, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Optimisme profetik mengharuskan kita untuk beriman pada takdir. Ketika menghadapi musibah, kita yakin bahwa di balik itu ada hikmah dan kebaikan yang belum kita ketahui.
Sebagaimana sabda Nabi Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya.”
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Optimisme bukan berarti berdiam diri menunggu keajaiban. Justru sebaliknya, optimisme profetik mendorong kita untuk terus berikhtiar semaksimal mungkin, setelah itu baru bertawakal kepada Allah.
Doa adalah senjata mukmin. Dengan doa, kita menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah dan keyakinan kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”
Jika kita berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan yang terbaik bagi kita, maka insya Allah demikianlah adanya.
Sebaliknya, jika kita berprasangka buruk, maka hal itu bisa jadi mengundang hal yang tidak baik pula.
Oleh karena itu, optimisme profetik menuntut kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan.
Optimisme profetik juga berarti menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi orang lain.
Di tengah masyarakat yang seringkali diselimuti keluh kesah, seorang muslim yang optimis akan menjadi lentera yang menerangi, memberikan semangat, dan mengajak kepada kebaikan.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam selalu memberikan kabar gembira dan tidak pernah membuat orang merasa putus asa.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Optimisme yang profetik adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ia adalah kekuatan yang membangkitkan dari keterpurukan, cahaya di tengah kegelapan, dan motivasi untuk terus berjuang di jalan Allah.
Marilah kita senantiasa memupuk optimisme ini dalam diri kita, dalam keluarga kita, dan dalam masyarakat kita.
Dengan optimisme yang berlandaskan iman, insya Allah kita akan mampu menghadapi segala cobaan dan meraih keberkahan hidup.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjadi hamba-Nya yang optimis, yang selalu berprasangka baik kepada-Nya, dan yang tidak pernah berputus asa dari rahmat dan pertolongan-Nya. Amin.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, mengatakan bahwa cita cita Indonesia Emas 2045 untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur di usianya yang genap satu abad kemerdekaannya hanya akan dapat terwujud bila dibangun di atas fondasi yang benar.
“Dalam pandangan kami, adab adalah pilar pertama yang harus ditegakkan sebelum bicara soal pembangunan dalam sektor lain,” kata Rasfiuddin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 22 Dzulqa’dah 1446 (20//5/2025).
Dia menegaskan bahwa adab bukan sekadar sopan santun, tetapi mencakup keseluruhan sikap hidup yang menghormati tatanan, menjunjung nilai-nilai kebenaran, dan berperilaku sesuai akhlak mulia.
“Ketika adab tegak, maka ketahanan dalam semua sektor akan kokoh,” terangnya, seraya mengajak melihat bagaimana adab menjadi kunci dalam empat pilar ketahanan nasional.
Pertama, adab dalam ketahanan ideologi yang berlandas pada Pancasila dan nilai luhur bangsa.
Rasfiuddin menjelaskan, ketika generasi muda memahami adab terhadap bangsa dan sejarahnya, mereka tidak mudah tergoda oleh ideologi yang menyimpang.
“Pancasila harus dijaga bukan hanya dengan hafalan, melainkan dengan penghayatan yang mendalam, dan pengamalan yang penuh adab dengan dimulai dari ketahanan akidah yang benar dan kuat,” tegasnya.
Kedua, adab dalam ketahanan ekonomi. Dia menjelaskan, ekonomi yang kuat tidak dibangun dari keserakahan, tetapi dari integritas, kerja keras, dan etos kerja.
“Adab melahirkan pelaku ekonomi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab, menjadikan ekonomi tumbuh secara merata tidak dikuasai oleh sekelompok kaum elit saja, sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia betul-betul bisa terealisasi,” terangnya.
Ketiga, adab ketahanan sosial-budaya. Dalam masyarakat majemuk, terangnya, adab menjadi tameng dari perpecahan.
Karena itu, tegas Rasfiuddin, saling menghormati, mendengarkan, dan mengedepankan kepentingan bersama di atas ego kelompok adalah manifestasi dari adab sosial yang tinggi.
Keempat, adab ketahanan keamanan dalam bingkai hukum dan tatanan sosial. Dia menjelaskan, keamanan tidak hanya dijaga oleh aparat, tetapi oleh kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup tertib, damai, dan saling menjaga.
“Generasi beradab tidak mudah terprovokasi dan tidak menjadi sumber kekacauan,” imbuhnya.
Lebih jauh ia menguraikan, pemuda hari ini hidup dalam era keterbukaan informasi yang luar biasa. Namun tanpa adab, keterbukaan bisa berubah menjadi kebisingan. “Tanpa akhlak, kecerdasan menjadi alat untuk menipu. Tanpa moral, kekuasaan bisa menindas,” katanya.
Di sisi lain, Indonesia memiliki bonus demografi, tetapi itu bisa menjadi bencana bila generasi mudanya kehilangan arah dan adab. Di sinilah, terangnya, peran pembinaan kader beradab menjadi sangat penting.
Karenanya ia pun mendorong beberapa langkah konkret untuk mengentaskan masalah tersebut yaitu melakukan revitalisasi pendidikan adab sejak dini, dan menggalang gerakan kepemudaan yang berbasis nilai.
Selain itu, Rasiuddin juga memandang pentingnya kelangsungan sinergi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk organisasi keagamaan dan pemuda, untuk membentuk ekosistem sosial yang beradab.
Ia pun melihat pentingnya peran generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital dengan cerdas dan cerma.
“Mengisi ruang digital dengan konten yang mencerdaskan. Pemuda harus menjadi pelopor literasi digital yang bermoral dan konstruktif,” katanya menukaskan.*/
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru angkatan ke-11 untuk tahun akademik 2025/2026.
Melalui program intensif selama satu tahun berasrama dengan skema 100% beasiswa, program kuliah dai ini kembali menegaskan komitmennya mencetak kader dai tangguh yang siap berdakwah ke seluruh penjuru nusantara.
Program ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an, siap mengikuti aturan asrama, dan bersedia menjalani proses wawancara seleksi.
Tiga gelombang pendaftaran telah dijadwalkan, dimulai dari 10 Maret hingga 10 Agustus 2025, dengan masa masuk asrama pada 18–24 Agustus, dan pembelajaran dimulai pada 1 September 2025.
“Program ini mengikhtiarkan pendidikan untuk melahirkan da’i yang mampu berdakwah dalam berbagai kondisi, baik di kota besar maupun pelosok negeri,” ujar Ustaz Saepudin Abdullah, Lc, penanggung jawab program.
Kurikulum Terpadu dan Tenaga Pengajar Berkualitas
Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor menawarkan kurikulum intensif dan aplikatif yang terintegrasi dengan Program Strata 1 (S1) di STAIL Surabaya.
Selain berlatar belakang keilmuan umum dan praksis, pengajar Sekolah Dai Bogor merupakan alumni Timur Tengah dan perguruan tinggi ternama seperti Universitas Al-Azhar Kairo, Universitas Islam Madinah, LIPIA Jakarta, dan sejumlah kampus Islam unggulan di Indonesia.
“Dengan pengalaman akademik para pengajar, pengalaman lapangan, serta mereka telah hidup dalam kultur dakwah internasional. Ini menjadi bekal penting bagi santri untuk memahami realitas dakwah secara global dan lokal,” jelas Ustaz Saepudin.
Tak hanya itu, sekolah ini juga dikenal dengan atmosfernya yang islami, lingkungan yang mendidik, dan semangat kolektif dalam menegakkan nilai-nilai dakwah. Para alumni Sekolah Da’i Hidayatullah telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan aktif dalam kerja-kerja dakwah komunitas.
Fasilitas Lengkap dan Lingkungan Mendukung
Meskipun bersifat beasiswa penuh, para santri akan menikmati fasilitas yang representatif. Asrama yang bersih dan nyaman, masjid yang menjadi pusat kegiatan spiritual, ruang belajar yang mendukung proses akademik, serta sarana olahraga dan perpustakaan menjadi bagian integral dari sistem pembinaan.
“Mereka dibentuk dalam suasana kebersamaan dan kedisiplinan. Semua aktivitas—baik akademik maupun non-akademik—dirancang untuk membentuk pribadi utuh seorang da’i,” tuturnya.
Pendidikan Dakwah Sebagai Ihtiar Peradaban
Di tengah arus globalisasi dan tantangan ideologis yang makin kompleks, Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor hadir sebagai jawaban atas kebutuhan umat terhadap sosok da’i yang intelektual, spiritual, dan sosial.
“Da’i adalah agen perubahan. Maka pembinaannya harus serius, terukur, dan berorientasi pada kontribusi nyata. Kami tidak menjanjikan popularitas, tapi pengaruh yang bermakna dalam kehidupan umat,” pungkas Ustaz Saepudin.
Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan di sini. Untuk informasi lebih lanjut, calon peserta dapat menghubungi langsung nomor WhatsApp 0812 8348 2527.
Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor kembali membuka pintu bagi mereka yang terpanggil untuk berdakwah dan berjuang di jalan Allah.
Dalam situasi umat yang memerlukan pencerahan dan keteladanan, program ini menjadi ladang pengabdian sekaligus investasi spiritual jangka panjang.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) menggelar aksi besar-besaran di kawasan Monas-Patung Kuda, Jakarta, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Nakba—15 Mei 1948—sebuah titik awal dari penderitaan panjang bangsa Palestina akibat penjajahan Zionis Israel.
ARI-BP dengan tegas menyatakan bahwa Nakbah, yang berarti “malapetaka”, adalah tragedi sejarah saat ratusan ribu rakyat Palestina dibantai, diusir dari tanah airnya, dan hidup dalam pengungsian hingga kini.
“Nakbah yang terjadi pada tanggal 15 Mei 1948, ketika ratusan ribu rakyat Palestina dibantai oleh kaum Zionis Israel, adalah malapetaka sejarah yang tidak boleh terulang,” tegas pernyataan sikap ARI-BP.
Genosida yang kini berlangsung di Gaza dinilai sebagai penjelmaan modern dari Nakbah yang harus segera dihentikan.
Dalam seruannya, ARI-BP mengusulkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tanggal 15 Mei dijadikan peringatan global sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan.
Usulan ini disertai tuntutan konkret agar Majelis Umum PBB menerbitkan resolusi berdasarkan fatwa International Court of Justice (ICJ) dan amar International Criminal Court (ICC) untuk menghukum Israel serta menangkap Perdana Menteri Benyamin Netanyahu sebagai aktor utama kekejaman tersebut.
Aksi ini juga memuat dukungan terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan komitmen terhadap kemerdekaan Palestina.
“Menghargai pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina, serta mendorong tindakan nyata untuk menghentikan kekejaman Zionis Israel yang didukung oleh Amerika Serikat terhadap rakyat Palestina,” tegas pernyataan bersama ARI-BP.
Lebih jauh, ARI-BP mendesak Indonesia untuk menggalang kekuatan diplomasi bersama negara-negara yang menjunjung keadilan dan perdamaian global, guna menghentikan genosida di Gaza.
Amerika Serikat secara khusus disorot sebagai pendukung utama rezim Zionis yang harus segera menghentikan keterlibatannya dalam aksi brutal terhadap rakyat Palestina.
Sebagai strategi tekanan non-militer, ARI-BP menyerukan penguatan gerakan boikot produk Israel dan afiliasinya.
ARI-BP mendorong seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk melaksanakan Fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait boikot ekonomi sebagai bentuk perlawanan terhadap pendanaan genosida dan penghancuran Gaza.
Terakhir, ARI-BP menutup aksinya dengan seruan konstitusional yang menegaskan sikap moral bangsa Indonesia yang berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan amanat konstitusi—suatu kewajiban historis dan politik yang tidak boleh diabaikan.
“Kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu melaksanakan amanat Konstitusi UUD 1945 demi mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus segala bentuk penjajahan dari muka bumi, termasuk penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina,” tukasnya.[]
PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina Ma’had Darul Hijrah, Ust. Drs. H. Abdul Rahman, menghadiri Wisuda Akbar ke-XI Alumni Ma’had Tahfizh Darul Hijrah, Pasuruan, Jawa Timur, pada Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Dalam momen bersejarah itu, sebanyak 229 santri putra-putri merayakan kelulusan mereka sebagai penghafal al-Qur’an, sebuah capaian monumental yang merefleksikan dedikasi tinggi dalam menjaga warisan langit.
Dalam taushiyahnya, Abdul Rahman membuka pidato dengan menekankan makna kehadiran dalam acara tersebut.
“Hadirnya kita dalam Wisuda Akbar ke-11 Alumni Ma’had Tahfizh Darul Hijrah adalah wujud penghormatan kepada anak-anak kita yang telah berusaha menjaga al-Qur’an dengan membaca dan menghapalnya sebagai wujud kecintaan mereka kepada al-Qur’an,” ujarnya.
Ia mengajak menyadari bahwa anak-anak yang menghafal al-Qur’an sedang mengisi kekosongan besar dalam realitas kehidupan umat Islam. Di tengah krisis identitas dan kegamangan arah hidup, kehadiran generasi Qur’ani, menurut Abdul Rahman, adalah kebutuhan mendesak.
“Hadirnya generasi pecinta al-Qur’an adalah kebutuhan mutlak untuk menghindarkan kita dari perjalanan hidup yang menyimpang, baik secara personal, atau secara kolektif apatah lagi secara kenegaraan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukan sekadar teks kitab suci belaka, tapi fondasi integritas sosial dan arah moral sebuah bangsa.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa institusi seperti Ma’had Darul Hijrah bukanlah tujuan akhir, melainkan pemantik kesadaran.
“Keberadaan Ma’had Tahfizh al-Qur’an seperti Darul Hijrah hanyalah salah satu pemantik untuk kita mau dan berkomitmen untuk hidup di bawah naungan al-Qur’an,” katanya.
Namun demikian, ia mengkritik keras sekaligus menyentil pola relasi umat Islam terhadap al-Qur’an yang masih minim dan bersifat sisa.
“Membacanya kalau ada sisa waktu, mengeluarkan hartanya untuk al-Qur’an jika ada sisanya, maka bagaimana bisa mendapatkan berita gembira dari langit jika al-Qur’an hanya mendapatkan sisa-sisa dari waktu dan harta kita,” ungkapnya, seraya menunjukkan adanya degradasi spiritual dan prioritas hidup umat yang perlu segera dikoreksi.
Ia bahkan memberi peringatan keras yang mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada sikap instrumental terhadap agama, menjadikan wahyu tunduk pada kehendak duniawi, bukan sebaliknya.
“Jika kita memberikan sisa-sisa waktu, tenaga dan harta kepada al-Qur’an, maka dikhawatirkan kita bersikap seperti Yahudi saat mereka memaksa agama yang mengikuti kemauan mereka,” terangnya.
Menggambarkan al-Qur’an sebagai indikator kecerdasan manusia, Abdul Rahman menegaskan kritik terhadap paradigma intelektual modern yang kerap mengabaikan dimensi transendental dalam memaknai kecerdasan.
“Level kecerdasan manusia dapat dinilai dari bagaimana dia memposisikan al-Qur’an. Saat dia yakin secara utuh kepada al-Qur’an, menjadikan al-Qur’an sebagai kurikulum hidupnya, maka itulah tanda kecerdasan manusia,” tukasnya.
Ia pun mengungkapkan alasan fundamental berdirinya Ma’had Darul Hijrah yang memiliki visi menempatkan al-Qur’an bukan sebagai teks suci yang dipajang, melainkan sebagai perangkat hidup, kerangka kerja, dan sumber otoritas moral.
“Salah satu alasan Darul Hijrah ini didirikan adalah untuk melahirkan generasi yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduan (guidance) hidupnya, sehingga saat dia nanti menjadi pemimpin maka dia memimpin dengan al-Qur’an, saat dia menjadi tokoh maka dia menuntun dengan al-Qur’an,” jelasnya.
Mengakhiri taushiyahnya, KH. Abdul Rahman yang juga Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) DPP Hidayatullah, menyampaikan doa yang menggugah harapan agar para wisudawan menjadi pemimpin umat yang diridhai Allah yang menempatkan al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupan.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., turut serta dalam Aksi Bela Palestina yang digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Ahad pagi, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025 M).
Aksi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP).
Dalam pernyataannya kepada wartawan, pria yang akrab disapa UNH ini menegaskan pentingnya langkah konkret yang dapat dilakukan oleh rakyat dan bangsa Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Menurutnya, ada empat bentuk dukungan yang dapat dimaksimalkan.
Pertama, melalui diplomasi politik dan kekuatan militer. “Diplomasi bisa dilakukan secara aktif, bahkan termasuk mengirimkan pasukan perdamaian untuk menghentikan genosida yang terjadi di Gaza,” ungkapnya.
Nashirul menegaskan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus ditindaklanjuti dengan kerja politik yang serius dan terkoordinasi secara internasional.
Kedua, menghentikan hubungan dagang dengan Israel serta memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan kepentingan Israel dan Amerika Serikat. Hal ini menurutnya strategi ekonomi-politik sebagai bentuk tekanan terhadap negara penjajah.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab moral bangsa Indonesia yang berdaulat dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” tegas UNH.
Ketiga, peningkatan efektivitas bantuan kemanusiaan. UNH menyarankan agar bantuan ke Gaza dikoordinasikan langsung oleh pemerintah, guna memastikan bahwa distribusi berjalan tepat sasaran. Di tengah blokade dan kehancuran infrastruktur, keakuratan penyaluran bantuan menjadi penentu keberhasilan misi kemanusiaan.
Keempat, peran spiritual melalui doa dan qunut nazilah dalam setiap waktu shalat. Bagi UNH, dimensi spiritual ini merupakan penguatan batin dalam menghadapi realitas ketidakberdayaan struktural yang berlangsung lama.
“Karena kita tidak mampu lagi berbuat apa-apa selama 18 bulan hingga hari ini. Maka doa menjadi senjata terakhir yang kita punya,” tuturnya dengan nada prihatin.
Ia pun menyampaikan panggilan nurani yang mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari solidaritas bangsa Palestina. Oleh karena itu, membela Palestina juga merupakan bagian dari membayar hutang sejarah.
“Semoga kejahatan yang berlangsung hingga hari ini mendekatkan kepada kemenangan dan kemerdekaan. Karena, negara Palestina adalah yang pertama kali memberikan dukungan kepada negara Indonesia. Kita berhutang budi kepada Palestina,” imbuhnya.
UNH menegaskan bahwa aksi seperti ini bukan sekadar seremonial, tetapi memiliki makna strategis dalam membangun kesadaran kolektif dan opini internasional. “Ini adalah instrumen untuk mengkonsolidasikan kesadaran publik, membangun opini internasional, serta menekan aktor-aktor global agar memperhatikan penderitaan rakyat Palestina,” ujarnya.
Desakan ARI-BP Mengenai Hari Nakba
Aksi tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan pemuka lintas agama, seperti Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua Bidang Luar Negeri MUI Prof. Sudarnoto, serta Ketua Komite Pengarah ARI-BP Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin.
Dalam pernyataannya, ARI-BP mengajukan permintaan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menetapkan tanggal 15 Mei—yang dikenal sebagai Hari Nakba—sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan Internasional. Usulan ini dimaksudkan untuk memberi tekanan global terhadap pengakuan atas penderitaan rakyat Palestina sebagai tragedi besar umat manusia.
ARI-BP juga menyampaikan apresiasi terhadap Presiden Prabowo Subianto yang secara konsisten menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Namun demikian, mereka menegaskan bahwa “dukungan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata.”.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini (PKAUD) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Training of Trainer (ToT) PKAUD 2025 dengan tema “Menguatkan Ketahanan Keluarga, Mengokohkan Peradaban Islam”.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Ahad, 18-20 Dzul Qa’dah 1446 H / 16-18 Mei 2025 M, bertempat di Wisma Hidayatullah Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia I No. 4, Jakarta.
Sebanyak 32 orang kader Keluarga Sakinah Hidayatullah dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Sulawesi, turut ambil bagian dalam pelatihan ini.
Mereka adalah para pegiat pendidikan keluarga yang berkomitmen memperkuat ketahanan institusi keluarga sebagai pilar utama dalam pembangunan peradaban Islam.
Menjawab Tantangan Zaman
Ketua Departemen Pembinaan Keluarga dan PAUD DPP Hidayatullah Drs. Endang Abdurrahman menjelaskan pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang tengah dihadapi keluarga Muslim saat ini.
Perubahan zaman yang begitu cepat—melalui derasnya arus globalisasi, maraknya penggunaan gawai dan media sosial, serta banjir informasi yang tak terbendung—menjadi tantangan serius dalam mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah (samara).
“Banyak rumah tangga yang mengalami keretakan, anak-anak kehilangan arah pengasuhan, dan peran orang tua yang melemah. Kondisi ini menjadi ancaman serius terhadap fondasi umat,” kata Endang dalam keterangannya diterima media ini, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Ia bahwa keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat, namun memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk peradaban Islam yang kokoh dan berkelanjutan.
Melalui ToT ini, jelas Endang, para peserta tidak hanya dibekali dengan materi konseptual tentang ketahanan keluarga, tetapi juga keterampilan praktis dalam mengelola tantangan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini.
“Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelatih andal yang akan memperluas dampak dakwah dan pendidikan keluarga ke seluruh penjuru Nusantara,” katanya.
Dengan semangat kolaborasi dan ukhuwah, para peserta juga saling berbagi pengalaman dan strategi dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Diskusi-diskusi produktif, simulasi pelatihan, dan refleksi keislaman menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kader dalam kegiatan ini.
Endang menambahkan, ToT PKAUD 2025 ini menjadi bagian dari ikhtiar strategis DPP Hidayatullah untuk membangun masyarakat madani yang berakar kuat dari keluarga-keluarga yang tangguh dan visioner.*/