Beranda blog Halaman 114

Rizki Ulfahadi Nahkodai Gerakan Mahasiswa Hidayatullah, Usung Semangat Progresif Beradab

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Rizki Ulfahadi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Periode 2025-2027 dalam Musyawarah Nasional (Munas) GMH ke-I yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada 14–17 Syaban 1446 Hijriah (13–16 Februari 2025). Keputusan ini diambil secara aklamasi setelah serangkaian sidang yang melibatkan peserta utusan dari berbagai kampus di Indonesia.

Rizki Ulfahadi didampingi oleh Ahmad Jaelani dari Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya sebagai Sekretaris Jenderal, serta Ridho Annajmi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Depok sebagai Bendahara Umum.

Ketiganya mendapatkan mandat penuh dari Munas untuk segera membentuk struktur kepengurusan lengkap guna menggerakkan roda organisasi.

Dalam pidato perdananya, Rizki menegaskan bahwa amanah yang kini diembannya sebuah tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan bersama.

“Ini adalah amanah besar yang harus kita emban bersama. GMH harus menjadi garda terdepan dalam membangun generasi muda yang progresif dan beradab sebagai tonggak dalam mendukung tercapainya Indonesia Emas 2045,” ujar Rizki.

Sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Magister di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI), Rizki dikenal sebagai sosok aktivis yang telah lama berkiprah di dunia pergerakan mahasiswa.

Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Departemen Perkaderan PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, sekaligus memiliki rekam jejak yang panjang dalam berbagai organisasi kepemudaan.

Dalam perjalanan aktivismenya, Rizki pernah menjadi Koordinator Pengurus Wilayah (PW) Pelajar Islam Indonesia (PII) Jakarta serta Dewan Formatur PW PII Jakarta periode 2019–2021.

Untuk mengembangkan minat akademik dan tradisi riset yang ditekuninya, Rizki bersama sejumlah rekan sejawatnya mendirikan sekaligus Presiden Fatahillah Researchers Science and Humanity (Fresh) saat menempuh studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Rizki juga tercatat sebagai alumni Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) Ciputat angkatan pertama, lembaga pembinaan mahasiswa yang dikelola Pemuda Hidayatullah.

Selain itu, pria asal Bengkulu yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, ini juga terlibat dalam lembaga kajian pemikiran dan pemberdayaan pemuda, Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), yang semakin mengukuhkan kiprahnya dalam dunia intelektual dan advokasi pemuda.

Pemilihan Rizki sebagai Ketua Umum GMH menandai era baru bagi organisasi yang cikal bakal kelahirannya dimulai tahun 2008 ini dengan nama Ikatan Mahasiswa Hidayatullah (IMHI).

GMH diharapkan menjadi wadah pergerakan mahasiswa yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan umat, serta menjadi ruang bagi mahasiswa Hidayatullah yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah turut menyampaikan apresiasi atas keberhasilan penyelenggaraan Munas GMH pertama ini, yang dianggap sebagai langkah besar dalam membangun komunitas mahasiswa yang berdaya dan berkarakter.

Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan PP Pemuda Hidayatullah Haniffudin Abraham Chaniago mengatakan pendampingan terhadap GMH merupakan bentuk keseriusan Pemuda Hidayatullah dalam mengawal program perkaderan.

“Selama ini, alumni-alumni Hidayatullah belum memiliki wadah yang solid, dan GMH hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Dengan kepemimpinan baru ini, GMH diharapkan segera membangun jaringan di seluruh Indonesia dan melaksanakan program-program yang telah dirancang dalam Munas. Seluruh anggota GMH pun kembali ke daerah masing-masing dengan membawa semangat baru untuk mensukseskan visi besar organisasi.*/

Ulama Besar yang Kehilangan Ayah, tetapi Menjadi Pelita bagi Umat

0

DALAM kehidupan, tidak semua orang terlahir dalam keadaan yang serba mudah. Banyak yang harus menghadapi tantangan besar sejak usia dini. Salah satu cobaan terberat yang dialami oleh sebagian orang adalah kehilangan orang tua.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa kondisi sulit ini tidak selalu menjadi penghalang dalam meraih kesuksesan, terutama dalam menuntut ilmu.

Bahkan, beberapa tokoh besar dalam Islam yang kehilangan ayah sejak kecil justru tumbuh menjadi ulama yang berkontribusi besar dalam peradaban Islam.

Mereka membuktikan bahwa kehilangan sosok ayah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan yang membawa mereka menuju keagungan.

Rasulullah Muhammad ﷺ sendiri merupakan contoh utama dalam hal ini. Sejak dalam kandungan, beliau sudah ditinggalkan oleh ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib. Kemudian, saat masih kecil, beliau juga kehilangan ibunya, Aminah binti Wahab.

Dengan bimbingan dari kakeknya, Abdul Muthalib, serta pamannya, Abu Thalib, beliau tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan jujur hingga mendapat gelar Al-Amin (yang terpercaya).

Perikehidupan sosok Muhammad ini menjadi inspirasi bagi banyak ulama besar yang mengalami pengalaman serupa—menjadi yatim sejak kecil tetapi tetap mampu menorehkan sejarah yang gemilang.

Berikut ini kita akan membahas empat ulama berpengaruh yang disusun sesuai urutan kelahirannya, yang, meskipun kehilangan ayah sejak kecil, mereka tetap menjadi cahaya bagi umat dengan ilmu dan keteladanan mereka.

1. Imam Syafi’i, Sang Perumus Ushul Fiqih

Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H (767 M) di Gaza, Palestina. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin Abbad bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abdu Manaf.

Ketika ia baru berusia dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya kemudian membawanya ke Makkah, tempat di mana ia tumbuh dan berkembang.

Meskipun hidup dalam keadaan yatim, kecerdasannya sangat luar biasa. Sejak kecil, ia telah menghafal syair-syair Arab dan menguasai bahasa dengan fasih.

Dalam perjalanan ilmunya, Imam Syafi’i belajar kepada banyak ulama besar, termasuk Imam Malik bin Anas di Madinah.

Kemampuannya dalam memahami dan menghafal ilmu sangat luar biasa. Ia bahkan mampu menghafal kitab Al-Muwattha’, karya Imam Malik, hanya dalam waktu sembilan malam.

Kecerdasan dan dedikasi Imam Syafi’i menjadikannya sebagai pelopor ilmu ushul fiqh, sebuah cabang ilmu yang menjadi dasar dalam memahami hukum Islam.

2. Imam Ahmad bin Hanbal, Pemimpin Ahlus Sunnah yang Tegar dalam Cobaan

Imam Ahmad bin Hanbal lahir pada tahun 164 H (780 M) di Merv, sebuah wilayah yang kini masuk dalam wilayah Turkmenistan. Namun, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa beliau lahir di Baghdad, Irak.

Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad ibn Idris ibn ‘Abdillah ’ibn ibn Hayyan ibn Abdillah ibn Anas ibn ‘Auf ibn Qasit ibn Mukhazin ibn Syaiban ibn Zahl ibn Sa’labah ibn ‘Ukabah ibn Sa’b ibn ‘Ali ibn Bakr ibn Wa’il ibn Qasit ibn Hanb ibn Aqsa ibn Du’ma ibn Jadilah ibn Asad ibn Rabi’ah ibn Nizar ibn Ma’ad ibn ‘Adnan ibn ‘Udban ibn al-Hamaisa’ ibn Haml ibn an-Nabt ibn Qaizar ibn Isma’il ibn Ibrahim asy-Syaibani al-Marwazi.

Sejak bayi, Imam Ahmad sudah kehilangan ayahnya. Ibunya, dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati, membesarkan dan mendidiknya seorang diri.

Kecintaannya pada ilmu sudah tampak sejak kecil. Pada usia 15 tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an dan mulai mempelajari hadis.

Demi menuntut ilmu, ia merantau ke berbagai negeri seperti Syam (Suriah), Hijaz (Arab Saudi), dan Yaman. Kegigihannya dalam menuntut ilmu menjadikannya salah satu imam mazhab yang paling disegani.

Bahkan, ia dikenal sebagai ulama yang hafal sejuta hadis dan memiliki keteguhan luar biasa dalam mempertahankan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

3. Imam Al-Bukhari, Menghafal Hadis dalam Kegelapan

Imam Al-Bukhari lahir pada tahun 194 H (810 M) di Bukhara, sebuah kota yang kini berada di Uzbekistan. Ketika masih kecil, ia menghadapi dua ujian besar: kehilangan ayahnya dan mengalami kebutaan.

Namun, sang ibu tidak pernah berhenti berdoa dan berusaha untuk kesembuhan putranya. Dengan kuasa Allah, penglihatannya pun pulih kembali.

Nama lengkap ulama besar asal Uzbekistan ini adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah bin al-Ja’fii al-Bukhari.

Sejak kecil, Al-Bukhari menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam menghafal hadis. Ia berkeliling ke berbagai negeri seperti Basrah, Mesir, Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, dan Baghdad untuk mengumpulkan serta menyeleksi hadis.

Dari satu juta hadis yang ia kumpulkan, hanya sekitar 7.275 hadis yang masuk dalam kitab Shahih Al-Bukhari, yang hingga kini menjadi kitab hadis tershahih dalam Islam.

4. Imam Ibnu Katsir, Ahli Tafsir yang Mendunia

Imam Ibnu Katsir lahir pada tahun 1303 M di Busra, Suriah. Saat baru berusia dua tahun, ia telah kehilangan ayahnya. Kehidupan sebagai anak yatim tidak membuatnya patah semangat.

Sebaliknya, ia semakin bersemangat dalam menuntut ilmu. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan minat besar terhadap ilmu hadis dan tafsir. Ia berguru kepada beberapa ulama besar, termasuk Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Nama lengkapnya adalah Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir bin Dau’ bin Katsir Al-Qursyi Ad-Dimisyqi As-Syafi’.

Salah satu karyanya yang paling monumental adalah kitab Tafsir Ibnu Katsir, yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam memahami Al-Qur’an. Karyanya tidak hanya berpengaruh di zamannya, tetapi terus menjadi pegangan bagi umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini.

Hikmah di Balik Ujian

Perjalanan hidup para ulama besar ini menunjukkan bahwa cobaan berat dalam hidup bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih kejayaan. Kehilangan sosok orangtua sejak kecil bukanlah hambatan untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi umat.

Sebaliknya, justru menjadi batu loncatan untuk mengembangkan potensi diri. Mereka yang kehilangan sesuatu yang berharga di masa kecilnya justru diberikan kelebihan luar biasa dalam bentuk ilmu dan kecerdasan yang bermanfaat bagi seluruh dunia.

Seperti halnya Rasulullah ﷺ yang menjadi teladan utama, para ulama besar ini membuktikan bahwa dengan keteguhan hati, ketekunan, dan keyakinan kepada Allah, seseorang dapat mengubah cobaan menjadi jalan menuju keagungan.

Kehidupan mereka menjadi inspirasi bahwa tidak ada keterbatasan yang bisa menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan sejati, asalkan ia memiliki tekad yang kuat dan keikhlasan dalam menuntut ilmu. Wallahu a’lam bisshawab.

*) Lusia Eksi, penulis Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Bali dan guru MTs Hidayatullah Denpasar

Jayakarta Fathan Mubiina Kembangkan Dakwah, Pendidikan, dan Ekonomi di 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat peran dakwah dan pemberdayaan umat, Yayasan Jayakarta Fathan Mubiina (JFM) telah menetapkan serangkaian program unggulan untuk tahun 2025.

Melalui Rapat Kerja (Raker) yang berlangsung pada Sabtu-Ahad, 16-17 Sya’ban 1446 H (15-16/2/2025) Jayakarta Fathan Mubiina meneguhkan komitmennya dalam bidang dakwah, sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Dengan mengusung tema “Dengan Bersama Kita Kuat,” Raker ini dihadiri oleh para pengurus, dewan pembina, serta dewan pengawas dari DPD Hidayatullah Jakarta Selatan dan DPW Hidayatullah Jakarta.

Pembina Jayakarta Fathan Mubiina, Ryan Abu Haq, menegaskan pentingnya kerja kolektif dalam mencapai tujuan besar yayasan.

“Tema ini mengandung makna bahwa kerja-kerja dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi sebagai amanah yang dipegang oleh JFM tidak akan terwujud tanpa kerja bersama, atau ‘amal jama’i,” ujarnya.

Dia menambahkan, tahun 2025 menjadi momentum bagi Jayakarta Fathan Mubiina ini untuk terus berkontribusi dalam membangun umat yang kuat, mandiri, dan berdaya guna.

Memperluas Pelayanan Umat

Salah satu program dakwah dan layanan umat unggulan JFM di tahun 2025 adalah pengembangan komunitas Ojol Mengaji hingga ke seluruh wilayah DKI Jakarta.

Program ini bertujuan untuk membangun ekosistem dakwah berbasis komunitas dengan menyasar para pengemudi ojek online (ojol). Melalui pendekatan yang fleksibel dan berbasis keseharian mereka, program ini diharapkan dapat meningkatkan literasi keislaman di kalangan pekerja informal.

Ketua DPD Hidayatullah Jakarta Selatan, Firjun Zailani, menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan program ini seraya menegaskan bahwa rapat kerja ini memberikan gambaran yang jelas bagi amal usaha Jayakarta Fathan Mubiina di tahun 2025.

“Alhamdulillah, saya optimis kita secara bersama-sama dapat mewujudkan program-program ini sehingga memberi manfaat yang besar bagi umat Islam, khususnya di wilayah dakwah DKI Jakarta,” ujarnya.

Dalam bidang pendidikan, Jayakarta Fathan Mubiina terus berkomitmen mencetak generasi Qur’ani melalui Pesantren Tahfizh Fathan Mubiina (PTFM) yang diperuntukkan bagi santri putra dan putri.

Program tahfidzul Qur’an ini diharapkan dapat menjadi pusat pendidikan berbasis tahfizh yang tidak hanya mencetak penghafal Al-Qur’an, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki wawasan keislaman dan kepekaan sosial tinggi.

Ketua Yayasan JFM, Syukur Sudani Hulu, menegaskan bahwa keberlanjutan program ini menjadi prioritas utama Jayakarta Fathan Mubiina.

“Insya Allah pada tahun 2025 ini Yayasan JFM akan hadir memberi manfaat bagi umat melalui program-program berkelanjutan yang tidak hanya berdaya guna, tapi juga berdampak secara spiritual bagi para penerima manfaat,” tuturnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan yayasan melalui akun Instagram @yayasanjfm.

Dengan berbagai program unggulan yang telah disusun, Syukur menambahkan, JFM optimis dapat semakin mengepakkan sayapnya dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi di Jakarta.

Selain dakwah dan pendidikan, JFM juga fokus pada pemberdayaan ekonomi umat. Salah satu inisiatif terbaru adalah pengembangan perkebunan hidroponik di Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ) Poltangan, Jakarta Selatan. Program ini bertujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi berbasis lingkungan dan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Pendamping dari DPW Hidayatullah DK Jakarta, Ade Syariful Allam, menekankan pentingnya integrasi dakwah dan ekonomi dalam membangun masyarakat yang mandiri.

“Kami berharap program-program Yayasan JFM dapat menjadi ujung tombak dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di DK Jakarta, secara khusus Jakarta Selatan,” ujarnya dalam taujih (pengarahan) ba’da salat Subuh berjamaah di sela-sela rapat kerja.*/Ahmad D. Rajiv

Halaqah Usrah PT LJA Jakarta Merajut Syukur dalam Semangat Kebersamaan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Bertepatan dengan momentum semakin dekatnya kedatangan bulan suci Ramadhan, PT Lentera Jaya Abadi (LJA) Jakarta, perusahaan yang membawahi majalah Suara Hidayatullah (Sahid) dan media daring Hidayatullah.com (Hidcom), kembali menggelar acara rutin Halaqah Usrah sekaligus Tarhib Ramadhan yang digelar pada Ahad, 17 Syaban 1446 (16/2/2025).

Bertempat di Aula STIE Hidayatullah di bilangan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, acara ini dihadiri oleh seluruh karyawan beserta keluarga dengan semangat kebersamaan.

Momentum ini bukan hanya sekadar persiapan fisik dan mental menghadapi bulan penuh berkah, tetapi juga ajang refleksi spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperdalam rasa syukur kepada Allah.

Salah satu momen penting dalam acara ini adalah tausiyah yang disampaikan oleh KH Naspi Arsyad, Lc., Anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah.

Dalam ceramahnya, Kiai Naspi menekankan pentingnya memperbanyak rasa syukur atas segala karunia yang Allah berikan. Syukur bukan sekadar ucapan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sikap dan tindakan nyata.

“Jihad kita setiap bulan itu dibaca dan dinikmati oleh setiap orang, dan ketika kita ikhlas melakukan itu semua, sungguh besar pahalanya,” katanya.

Dia menekankan, berbagai anugerah kebaikan yang diberikan oleh Allah bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berdoa dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan kata lain, rasa syukur yang tulus membuka pintu keberkahan dan doa yang mustajab.

Dalam kehidupan sehari-hari, syukur sering kali dianggap sebagai respons terhadap nikmat yang terlihat nyata. Namun, KH Naspi mengajak untuk merenungkan lebih dalam dengan menguraikan bahwa syukur sejati adalah menyadari bahwa setiap aspek kehidupan adalah bagian dari kasih sayang Allah yang harus kita syukuri, baik yang tampak menyenangkan maupun yang menguji kesabaran.

Praktisi parenting ini lantas mengutip kisah dari Syekh Abdul Rozak Al-Najm, seorang imam dan pengajar di Masjid Besar Umawi Damaskus, Suriah, yang menjelaskan bahwa saat seseorang melihat nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain, maka itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Zakaria ketika melihat rezeki yang Allah berikan kepada Maryam.

Lebih jauh, KH Naspi Arsyad menggarisbawahi bahwa jihad tidak selalu identik dengan perjuangan fisik, tetapi juga meliputi kontribusi dalam bentuk ilmu dan dakwah. Beliau mencontohkan bahwa dalam lingkup LJA sebagai perusahaan media, setiap artikel yang ditulis, setiap informasi yang disebarluaskan, dan setiap dakwah yang dilakukan merupakan bagian dari jihad intelektual yang pahalanya besar di sisi Allah, terlebih jika dilakukan dengan niat ikhlas.

Dia menerangkan, dalam era modern yang serba cepat dan penuh distraksi, bersyukur adalah jalan untuk menghindari kesombongan, menjaga hati dari iri dengki, serta menguatkan keimanan.

Oleh karena itu, KH Naspi mengajak seluruh peserta untuk menjadikan syukur sebagai pijakan dalam menjalani Ramadhan, agar bulan penuh berkah ini bisa dijalani dengan maksimal serta penuh ketenangan dan kebersamaan.

Acara ini ditutup dengan ungkapan rasa syukur dari panitia atas kelancaran acara serta doa bersama agar seluruh peserta dapat mengambil manfaat dari tausiyah yang diberikan.*/Muhammad Fuad Azzam

Bersiap Menyambut Ramadhan dengan Kesungguhan Ilmu, Puasa dan Doa

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitungh hari, Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustaz Iwan Abdullah, M.Si., menyampaikan tiga pesan penting yang dapat menjadi bekal menuju ke sana.

Dalam kajian yang disampaikannya pada akhir pekan lalu, ia menekankan pentingnya ilmu, amalan puasa di bulan Sya’ban, serta kekuatan doa sebagai pilar utama persiapan menuju bulan penuh berkah ini.

Ustaz Iwan mengawali pesannya dengan menegaskan bahwa pemahaman terhadap bulan Ramadhan akan semakin meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadapnya.

“Tak kenal maka tak sayang, demikian pula dalam menyambut bulan Ramadhan. Semakin seseorang memahami derajat dan keutamaan bulan ini, semakin tinggi pula penghormatan yang akan ia berikan,” tuturnya seperti dalam catatan media ini, Senin, 18 Syaban 1446 (17/2/2025).

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, ilmu menjadi fondasi dalam menjalankan ibadah. Pemahaman yang mendalam akan makna puasa, keutamaan amal ibadah, serta hikmah yang terkandung di dalamnya akan menjadikan seorang Muslim lebih khusyuk dalam menjalankan ibadahnya.

“Oleh sebab itu, memperdalam ilmu tentang Ramadhan menjadi langkah awal dalam menyongsong bulan yang penuh rahmat ini,” katanya.

Selain mendalami ilmu, Iwan menekankan pentingnya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai bentuk persiapan diri. Merujuk pada kehidupan Nabi Muhammad SAW, bulan Sya’ban merupakan bulan di mana Rasulullah lebih sering berpuasa dibanding bulan-bulan lainnya, selain Ramadhan.

“Banyak riwayat sahih dari para sahabat yang menuturkan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Tujuannya adalah sebagai latihan dan persiapan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan yang penuh keutamaan,” jelasnya.

Puasa bukan hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri dalam mengendalikan emosi dan hawa nafsu.

Dengan membiasakan diri berpuasa di bulan Sya’ban, terang dia mengingatkan, seorang Muslim akan lebih siap dalam menghadapi tantangan ibadah di bulan Ramadhan dengan hati yang lebih tenang dan tekad yang lebih kuat.

Selain ilmu dan latihan spiritual melalui puasa, doa menjadi aspek yang tak kalah penting dalam menyambut Ramadhan. Iwan menekankan bahwa manusia sejatinya bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan Allah. Oleh sebab itu, doa yang tulus dan istiqamah menjadi penjaga stabilitas spiritual serta bentuk ketundukan kepada Sang Pencipta.

“Doa adalah ibadah sekaligus senjata orang beriman. Nabi telah mengajarkan banyak doa yang dapat kita amalkan, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan memiliki filosofi mendalam di kalangan para ulama. Jika bulan Rajab diibaratkan sebagai masa menanam niat baik, maka bulan Sya’ban adalah waktu untuk merawatnya dengan tekad dan konsistensi. Sementara itu, bulan Ramadhan menjadi musim panen di mana umat Islam memetik hasil dari segala persiapan spiritual yang telah dilakukan sebelumnya.

“Ramadhan adalah musim panen. Saatnya kita memetik hasil jerih payah dan menikmatinya dengan kesenangan spiritual yang paripurna,” imbuhnya menekankan.

Iwan menambahkan, bahwa ilmu, amalan puasa di bulan Sya’ban, serta doa yang tulus menjadi tiga nilai utama dalam menjalani bulan penuh rahmat ini dengan lebih bermakna.

“Dengan pemahaman dan persiapan yang baik, diharapkan Ramadhan kita tidak hanya semata menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk memperkuat hubungan dengan Allah serta meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupan secara keseluruhan,” tandas pria asal Penajam Paser Utara ini.*/

(Laporan naskah oleh Faisal Daariy dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Moslema Scout Camp Vol 1 Malut Tanamkan Nilai Islam dan Kemandirian

0

HALMUT (Hidayatullah.or.id) — Satuan Komunitas Daerah (Sakoda) Pramuka Hidayatullah Provinsi Maluku Utara (Malut) resmi menggelar Moslema Scout Camp Vol 1 yang dibuka pada Jumat, 15 Syaban 1446 (14/2/2025).

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini berlangsung di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Maba dan diikuti oleh 50 peserta dari Gugus Depan (Gudep) SMP Integral Al-Abror Hidayatullah, Maba.

Kegiatan bertempat Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Maba yang luas dan asri di Jalan Siswa, Soa Gimalaha, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur (Halmut), Maluku Utara.

Dengan mengusung tema Membentuk Pelajar Berjiwa Muslimah yang Religius, Tangguh dan Mandiri, kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai Islam dan kebangsaan dalam suasana kepramukaan yang dinamis.

Ketua Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah Maluku Utara, Kak Muhammad Nashirul Haq, menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis Islam dalam membentuk generasi Muslimah yang berintegritas.

Melalui Moslema Scout Camp ini, pria yang karib disapa Kak Irul ini menegaskan pihaknya berharap para peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan kepramukaan, tetapi juga ilmu agama yang dapat membentuk akhlak mulia.

“Teruslah berjuang, menjadi Muslimah yang berjiwa mujahidah, religius, tangguh, dan mandiri, agar kita dapat menjadi aset yang bermanfaat bagi keluarga, umat, dan bangsa,” ujar Kak Irul dalam sambutannya.

Kak Irul menjelaskan, pembentukan karakter berbasis nilai nilai luhur Islam dan budaya bangsa menjadi inti dari Moslema Scout Camp Vol. 1. Dalam era modern yang penuh tantangan, terang dia, generasi muda membutuhkan fondasi yang kuat untuk menghadapi dinamika kehidupan dengan tetap berpegang teguh pada prinsip Islam.

Dia menegaskan, pendidikan karakter tidak hanya berbicara tentang kedisiplinan dan kepemimpinan, tetapi juga mencakup pembentukan akhlak mulia yang menjadi kunci keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kita berharap semakin banyak generasi bangsa yang tidak hanya unggul dalam akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter kuat yang berlandaskan nilai-nilai Islam,” pungkasnya.

Keterpaduan Materi

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari ini memadukan unsur kepramukaan dengan pembinaan keislaman yang komprehensif.

Agenda yang telah disiapkan panitia meliputi materi kepramukaan, pelatihan survival, outbound dan wide game, serta sesi kajian Islam dan tadabbur alam.

Selain itu, peserta juga akan mengikuti Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit), sebuah kegiatan yang bertujuan memperkuat spiritualitas dan karakter mereka sebagai Muslimah yang kokoh dalam keimanan.

Ketua Panitia, Kak Indra Husain, menyampaikan harapannya agar Moslema Scout Camp menjadi pengalaman yang berkesan dan bermakna bagi seluruh peserta.

“Kami berharap para peserta dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kemandirian, serta memperkuat iman dan akhlak mereka melalui kegiatan ini,” ujarnya.

Kak Indra menguraikan, kegiatan ini juga menjadi wahana bagi peserta untuk mempraktikkan semangat ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai tantangan dan aktivitas yang dirancang, peserta belajar bekerja sama, menumbuhkan empati, serta memahami pentingnya ketangguhan dalam menghadapi berbagai situasi.

Acara pembukaan Moslema Scout Camp berlangsung meriah dengan penuh semangat. Yel-yel khas Pramuka yang diteriakkan oleh masing-masing regu peserta menjadi penyemangat awal sebelum mereka memulai perjalanan tiga hari yang penuh keseruan. Antusiasme peserta tampak jelas dalam setiap kegiatan yang mereka jalani guna menyerap ilmu dan pengalaman yang diberikan.[]

Peluncuran HiGive, Inisiatif Kemanusiaan Melalui Konsep One Stop Giving

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di hari Jum’at yang penuh keberkahan dan sebuah langkah monumental bagi gerakan sosial berbasis kemanusiaan, HiGive resmi diluncurkan di Roemah Polonia, Jakarta Timur, pada Jumat, 15 Syaban 1446 (14/2/2025).

Sebagai yayasan sosial dengan konsep “One Stop Giving”, HiGive hadir membawa semangat berbagi yang ramah dan inklusif, selaras dengan makna dari namanya: “Hi” sebagai sapaan, dan “Give” sebagai simbol kemurahan hati.

Dalam sambutannya, Direktur HiGive, Imron Faizin, menegaskan bahwa filosofi di balik HiGive adalah lebih dari sekadar pemberian bantuan.

Dia mengatkan, pihaknya ingin mengajak setiap orang untuk berbagi, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk perhatian dan dukungan yang berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa sapaan yang hangat dan inklusif adalah awal dari perubahan yang lebih besar,” ujar Imron.

HiGive mengusup konsep “One Stop Giving”, yayasan ini berupaya menghadirkan berbagai program pelatihan dan pendampingan yang tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga memberdayakan penerima manfaat untuk mencapai kemandirian.

“Bantuan yang diberikan harus berkelanjutan. Tujuan utama kami adalah mengantarkan penerima manfaat menuju kehidupan yang lebih mandiri dan produktif,” tambahnya.

Imron mengimbuhkan, HiGive juga diharapkan menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin menebar manfaat dengan penuh kehangatan dan keikhlasan.

Dengan semangat kolaborasi dan inklusivitas, terangnya, HiGive siap menjadi jembatan bagi masyarakat yang ingin berbagi dan mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Sebagai komitmen HiGive dalam memberdayakan masyarakat, berbagai program unggulan telah disiapkan. Salah satunya adalah program pendampingan bagi narapidana yang bertujuan untuk membekali mereka dengan keterampilan dan ideasi bisnis, sehingga mereka memiliki kesempatan kedua setelah bebas.

Selain itu, Imron menyebutkan, HiGive kini juga menjalankan program inspiratif seperti Rumah Nelayan Nusantara untuk Para Santri dan program Modal Usaha bagi Penyandang Disabilitas.

Peluncuran HiGive juga diwarnai dengan sejumlah aksi simbolis yang memperlihatkan dampak nyata gerakan ini. Pada acara tersebut, dilakukan penyerahan modal usaha kepada Miswan, seorang penyandang disabilitas, oleh DIN, serta pemberian modal usaha bagi pelaku UMKM usaha kerang kepada Pesantren Hidayatullah Jakarta oleh SUFI (Sandiaga Uno Foundation).

Tak hanya itu, Modul Ideasi Bisnis untuk Warga Lapas turut diserahkan kepada Koordinator Pembina Ruhani Lapas Nusakambangan, KH. Hasan Makarim, oleh Kode Creative Hub.

Keberhasilan HiGive dalam menggerakkan aksi sosial ini tentu tidak terlepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak. Untuk semakin memperkuat jangkauan dan efektivitas program, pada kesempatan yang sama, HiGive juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah mitra strategis, termasuk Kode Creative Hub, Indonesia Respon, dan SUFI.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat semakin mempercepat terciptanya ekosistem sosial yang mampu mengubah penerima bantuan menjadi individu yang mandiri dan produktif,” imbuhnya.

Hadir dalam acara peluncuran ini pembina HiGive, di antaranya Hasan Makarim, Marwan Mujahidin, dan Muzakkir. Mereka semua menyampaikan harapan yang besar terhadap gerakan ini, agar bisa terus berkembang dan memberikan dampak luas bagi masyarakat yang membutuhkan.*/Dadang Kusmayadi

Membangun Militansi, Strategi dan Metode Kaderisasi Hidayatullah

0

SELAMA lebih dari 50 tahun, Hidayatullah telah berkontribusi dalam dakwah Islam di Indonesia. Jejak perjuangan kadernya telah menarik perhatian banyak pihak, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Berbagai tokoh, pemimpin pesantren, bahkan organisasi dakwah internasional datang dengan satu pertanyaan yang sama: Bagaimana Hidayatullah mencetak kader-kader yang militan dan taat?

Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tetapi jawabannya tidaklah mudah. Banyak yang mengira bahwa militansi kader Hidayatullah terbentuk hanya melalui marhalah, training, atau ceramah-ceramah inspiratif. Namun, realitasnya lebih kompleks.

Militansi kader tidak hanya lahir dari satu metode, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai aspek pembinaan.

Tulisan ini berusaha menguraikan bagaimana proses tersebut berlangsung dan faktor apa saja yang berkontribusi dalam membentuk kader yang memiliki mental baja.

Faktor-Faktor Pembentukan Militansi Kader

Militansi kader dalam organisasi merupakan hasil dari berbagai faktor yang membentuk komitmen, loyalitas, dan semangat juang mereka. Pada bagian ini akan diutarakan faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap pembentukan militansi tersebut.

Pertama, mindset sebagai fondasi mental baja. Pembentukan mental kader dimulai dari mindset, yaitu bagaimana seseorang memandang hakikat hidup dan ibadah.

Dalam Islam, membentuk mindset tidak dilakukan melalui doktrinasi semata, melainkan dengan optimalisasi tiga instrumen utama: hati, penglihatan, dan pendengaran.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 179 bahwa banyak manusia dan jin yang diberikan hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, dianugerahi mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda Allah, dan diberi telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar kebenaran.

Oleh karena itu, dalam perkaderan Hidayatullah, tiga instrumen ini diarahkan agar menjadi sarana mengenal Allah dan ajaran-Nya. Yakni Hati yang dibiasakan dengan ibadah rutin seperti shalat berjamaah, tahajud, dzikir, dan munajat.

Berikutnya, penglihatan yang dibimbing untuk menyaring tontonan dan bacaan yang bermanfaat, serta meneladani kebaikan dalam kehidupan berjamaah. Dan, pendengaran yang ditekankan untuk menyimak tausiyah, pengalaman spiritual para senior, serta menghindari informasi negatif yang dapat merusak mental.

Lingkungan yang mendukung pembentukan mindset ini adalah halaqah, komunitas ibadah, serta interaksi intens dengan para mentor dan teladan yang telah lebih dahulu menapaki jalan dakwah.

Kedua, sistem perkaderan dengan pembelajaran dari hal-hal kecil. Militansi kader tidak dibangun secara instan, tetapi melalui sistem perkaderan yang sistematis, termasuk dalam aktivitas kecil yang membentuk kedisiplinan dan kepatuhan.

Kegiatan seperti kerja bakti, piket masak, tugas keamanan, dan kebersihan bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari pembentukan mental yang mengajarkan tanggung jawab dan keikhlasan.

Bahkan, kegiatan yang terlihat sederhana, seperti menghadiri pertemuan atau menyambut tamu menjadi bagian dari pembelajaran untuk taat dan berkontribusi dalam kebersamaan.

Ketaatan dalam hal kecil ini menjadi ujian pertama sebelum kader diberikan amanah yang lebih besar. Seorang kader yang sukses dalam tugas-tugas sederhana akan lebih siap ketika dihadapkan pada tantangan yang lebih berat dalam dakwah.

Ketiga, kesetaraan dalam proses kaderisasi. Salah satu aspek unik dalam sistem perkaderan Hidayatullah adalah menghindarkan privilege atau hak istimewa berdasarkan status sosial, hubungan keluarga, atau latar belakang akademik.

Di banyak organisasi, privilege sering kali melahirkan generasi yang lemah, karena mereka terbiasa dengan kenyamanan dan tidak terbiasa menghadapi tantangan. Hidayatullah menerapkan prinsip bahwa semua kader harus melalui tahapan yang sama, termasuk mengikuti training center (TC) 40 hari yang menjadi ajang pengikisan ego (thaga’).

Metode ini terbukti efektif dalam melahirkan kader yang tangguh dan tidak bergantung pada fasilitas. Mereka yang telah melewati proses ini mampu bertahan di berbagai medan dakwah, termasuk di daerah terpencil yang minim sarana.

Keempat, ujian waktu dengan proses yang tidak instan. Mental militan tidak bisa dibentuk dalam hitungan hari atau bulan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membentuk karakter yang konsisten dalam beribadah, disiplin dalam tugas, serta siap menghadapi ujian dakwah.

Pada awalnya, seorang kader mungkin terlihat sangat semangat dalam menjalankan ibadah dan tugasnya. Namun, waktu menjadi ujian utama.

Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai tantangan yang menguji konsistensinya: kenyamanan hidup, godaan materi, tekanan sosial, dan sebagainya. Hanya mereka yang mampu bertahan dalam ujian waktu yang akhirnya mencapai level kader militan yang sesungguhnya.

Sistem perkaderan yang dirancang Hidayatullah memastikan bahwa proses ini berlangsung secara alami, dengan berbagai ujian yang menyiapkan kader menghadapi kenyataan dakwah di lapangan.

Metode ini telah terbukti selama lebih dari lima dekade dalam melahirkan kader-kader yang tidak hanya aktif dalam dakwah, tetapi juga mampu bertahan dalam berbagai tantangan zaman.

Keberhasilan Hidayatullah dalam membangun mentalitas kadernya selama lebih dari lima dekade ini mesti harus terus direvitalisasi dan diaktualisasi sebagai sebuah warisan kultur. Hal ini diharapkan juga menjadi model bagi organisasi dakwah lainnya yang ingin membentuk generasi penerus yang tangguh, disiplin, dan siap berjuang demi agama, bangsa, dan negara.

Sebagaimana perjalanan dakwah selalu penuh tantangan, kader-kader Hidayatullah telah mengejawantah bahwa dengan metode yang tepat, militansi dan loyalitas dapat ditanamkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Insya Allah.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Munas Perdana Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Resmi Dibuka

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Musyawarah Nasional (Munas) pertama Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) secara resmi dibuka pada Jumat, 15 Syaban 1446 H (14 Februari 2025) di Aula Integral Hidayatullah Surabaya.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia. Para peserta terdiri dari pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Hidayatullah, alumni sekolah menengah Hidayatullah, serta mahasiswa pesantren yang dikelola oleh Pemuda Hidayatullah.

Mengusung tema “Kokohkan Karakter Mahasiswa Progresif Beradab untuk Indonesia Emas 2045”, Munas ini menjadi ajang konsolidasi gerakan mahasiswa dalam memperkuat karakter, solidaritas, dan kepemimpinan mereka guna menghadapi tantangan zaman.

Ketua Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, MIRK, dalam sambutannya menegaskan bahwa Munas ini merupakan momen penting bagi Gerakan Mahasiswa Hidayatullah untuk menyatukan visi, memperkuat solidaritas, serta meningkatkan kualitas kepemimpinan di kalangan mahasiswa.

Rasfiuddin menyoroti pentingnya forum ini sebagai wadah bagi lulusan sekolah menengah Hidayatullah yang selama ini belum terakomodasi secara optimal.

“Agenda ini penting, mengingat setiap tahun, ada ribuan pelajar menengah Hidayatullah yang belum terwadahi,” ungkap Rasfiuddin, kandidat doktor International Islamic University Malaysia (IIUM), seraya menekankan urgensi pembinaan berkelanjutan bagi generasi muda Hidayatullah.

Dengan adanya Munas ini, terang Rasfiuddin, Gerakan Mahasiswa Hidayatullah menegaskan perannya sebagai lokomotif perubahan, tidak hanya dalam lingkup internal Hidayatullah, tetapi juga dalam kontribusi lebih luas untuk umat, bangsa, dan negara.

Lebih jauh ia menguraikan kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak awal dalam memperkuat eksistensi mahasiswa sebagai agen perubahan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan dan perwujudan visi Indonesia Emas 2045.

“Sebagai langkah awal dari perjalanan panjang, Munas pertama GMH diharapkan mampu melahirkan gagasan dan strategi nyata dalam membentuk karakter mahasiswa yang progresif, beradab, dan berdedikasi tinggi terhadap kemajuan bangsa,” terangnya.

Dia menambahkan, momentum ini menjadi sinyal kuat bahwa mahasiswa Hidayatullah siap mengambil peran dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih cerah, berlandaskan nilai-nilai keislaman dan semangat solidaritas kebangsaan.

Sementara itu, Irwansyah Putra yang hadir mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Timur menekankan bahwa pemuda harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat.

“Pemuda itu kalau dia pintar, berprestasi dalam bidang akademik misalnya, itu hanya untuk dirinya, maka itu tidak cukup. Pemuda harus memiliki dampak positif bagi masyarakat. Jika tidak, dia bukan pemuda,” tegasnya dalam pidato pembukaan.

Irwansyah juga menyatakan keterbukaan pihaknya untuk berkolaborasi dengan GMH dalam pembinaan anak-anak muda, khususnya di kalangan mahasiswa.

Munas ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang musyawarah, tetapi juga dirancang sebagai ruang intelektual yang diisi dengan berbagai sesi diskusi bersama para senior lembaga. Diskusi ini bertujuan untuk menyelaraskan pemikiran dengan sejarah para pendahulu serta mengembangkan gagasan strategis guna menjawab tantangan zaman.*/Muhammad Faruq

Bantuan Mesin Pompa Air Bawa Harapan Baru bagi Santri Tomohon

0

TOMOHON (Hidayatullah.or.id) – Upaya meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat terus dilakukan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH). Kali ini, kepedulian tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan mesin pompa air bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon.

Bantuan ini menjadi kabar menggembirakan bagi 120 santri dan warga sekitar yang selama ini menghadapi keterbatasan air bersih.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Utara, Abdul Wahid Mokodompit, dan diterima dengan penuh rasa syukur oleh Ketua Pembina Pesantren Hidayatullah Tomohon, Ustadz Nuryadin Majid.

Dalam sambutannya, Ustadz Nuryadin menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur yang telah berkontribusi melalui lembaga yang menyalurkan bantuan ini.

“Saya mewakili seluruh santri dan warga pondok mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah berbaik hati memberikan bantuan ini. Semoga setiap kebaikan yang Bapak dan Ibu berikan menjadi ladang jariyah di akhirat,” ungkapnya dengan haru, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 15 Syaban 1446 (14/2/2025).

Kehadiran mesin pompa air ini diharapkan mampu memberikan solusi atas permasalahan air bersih yang selama ini dihadapi pesantren. Dengan tersedianya akses air yang lebih baik, para santri dapat menjalankan aktivitas belajar dan ibadah dengan lebih nyaman dan lancar.

Abdul Wahid Mokodompit menegaskan bahwa program bantuan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mendukung fasilitas dasar di berbagai daerah yang masih mengalami keterbatasan.

“Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban pesantren dan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Ini adalah bentuk kepedulian dari para donatur yang telah mempercayakan amanahnya kepada kami. Semoga keberkahan selalu menyertai mereka,” ujarnya.

Selain memenuhi kebutuhan santri, mesin pompa air ini juga akan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar yang selama ini turut bergantung pada sumber air yang terbatas. Dengan adanya fasilitas baru ini, diharapkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat sekitar dapat meningkat.

Program ini menjadi salah satu dari sekian banyak inisiatif sosial yang dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Diharapkan, lebih banyak pihak yang tergerak untuk berkontribusi dalam gerakan berbagi dan membantu sesama.

Bantuan ini menjadi solusi praktis bagi kebutuhan air bersih sebagai bukti kepedulian sosial dapat memberikan dampak besar bagi mereka yang membutuhkan.

Dengan hadirnya mesin pompa air ini, Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon kini memiliki akses yang lebih baik terhadap air bersih, membuka jalan bagi kenyamanan santri dalam menuntut ilmu dan menjalankan ibadah.*/Herim