Beranda blog Halaman 120

Langkah Strategis Hidayatullah Bangka Belitung Menjawab Tantangan Dakwah

0

BANGKA BELITUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks, Hidayatullah Bangka Belitung mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan Daurah Marhalah Ula (DMU).

Kegiatan ini berlangsung di Pesantren Hidayatullah, Simpang Katis, dan bertujuan membekali para kader dakwah dengan ilmu, semangat, serta kesiapan untuk berkhidmat di medan dakwah.

Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bangka Belitung, Furadi Mansur, menegaskan pentingnya kegiatan ini.

“Kebutuhan akan kader dakwah di Bangka Belitung masih sangat tinggi. Daurah ini menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan dakwah ke depan,” ujarnya, dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Dia mengatakan, program derivasi dari pusat ini merupakan dasar dari visi besar Hidayatullah dalam mempersiapkan kader yang mampu menghadapi tantangan era modern.

Puluhan peserta yang berasal dari kader, guru, dan pengurus Hidayatullah se-Pulau Bangka turut berpartisipasi dalam program ini. Selama kegiatan, mereka mendapatkan materi-materi tentang ke-Hidayatullahan, pengenalan dakwah Hidayatullah, hingga kajian umum lainnya yang relevan dengan kebutuhan para kader.

Salah satu materi utama yang disampaikan dalam Daurah Marhalah Ula adalah “Tantangan Al-Alaq Makna dari Syahadat,” yang dibawakan oleh Ust Djoko Mustafa. Materi ini mendapat sambutan hangat dari peserta, yang merasa diingatkan kembali akan esensi syahadat sebagai pondasi utama perjuangan Islam.

“Ustadz Djoko mengingatkan kembali tentang makna syahadat yang sebenarnya,” ungkap Imam Buntara, salah satu peserta.

Tidak hanya itu, antusiasme para peserta semakin terlihat dari refleksi yang mereka bagikan. Abdi Putra Zalukhu, salah seorang peserta, mengungkapkan manfaat besar yang dirasakannya selama mengikuti daurah ini.

“Saya bisa memahami Hidayatullah lebih dalam dan arah perjuangannya. Insya Allah, saya lebih semangat berjuang di Hidayatullah,” katanya penuh semangat.

Pebra Rudi, peserta lainnya dari Hidayatullah Teru, juga berbagi pengalamannya. “Saya mendapat banyak ilmu dan penguatan hati untuk terus berada di lembaga perjuangan Hidayatullah,” ungkapnya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang untuk mempererat ukhuwah antar anggota Hidayatullah dan warga masyarakat, menciptakan sinergi yang lebih baik dalam menyongsong masa depan dakwah. Dengan semangat kebersamaan, para peserta siap melanjutkan perjuangan dakwah di daerah masing-masing.

Furadi Mansur menutup kegiatan ini dengan optimisme tinggi. “Insya Allah, tahun depan kami akan mengadakan Dauroh Marhalah Wustho sebagai kelanjutan dari program ini,” katanya, seraya menegaskan komitmen Hidayatullah untuk terus membina dan memberdayakan kader dakwah sebagai ujung tombak perjuangan di Bangka Belitung.

Dia menambahkan, Daurah Marhalah Ula menjadi bagian dari langkah dalam membangun peradaban Islam melalui kader-kader yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia. “Dengan semangat ini, Hidayatullah Bangka Belitung terus berikhtiar menjawab kebutuhan dakwah di masa depan,” tandasnya.*/Herim

Pesan dari Tabligh Akbar Hidayatullah Karo, Jaga Kerukunan dan Bentengi Akidah Umat

0

BRASTAGI (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Karo selenggarakan Tabligh Akbar yang bertempat di Masjid Muhammad Cheng Hoo, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara,

Dengan mengangkat tema Membentengi Akidah Umat, acara yang dihadiri sekitar 200 jamaah ini menjadi momentum penting dalam menguatkan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

Pemateri utama, Koh Dondy Tan, seorang mualaf yang kini aktif berdakwah, menyampaikan pesan pentingnya mendalami Al Qur’an sebagai mukjizat agung.

“Kondisikan diri agar dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 7 Jumadil Akhir 1446 (9/12/2024).

Seraya itu, ia mengingatkan jamaah untuk menjalankan ajaran Islam secara kaffah.

Pesan Koh Dondy Tan ini menjadi inti acara, mengajak umat untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang menyeluruh.

Ustaz Habibullah Lubis, salah satu dai Hidayatullah Karo, menambahkan pentingnya meningkatkan kapasitas diri, terutama bagi para santri.

“Tingkatkan kapasitas diri untuk kebaikan di masa depan,” kata Habibullah, menggarisbawahi peran generasi muda dalam menjaga akidah dan menjalankan dakwah di wilayah minoritas seperti Karo.

Acara ini juga dihadiri tokoh penting, seperti dr. H. Syahrial Purba dan unsur Kemenag Karo.

Selain dakwah, Pondok Pesantren Hidayatullah aktif bermitra dengan Laznas BMH dalam program Santri Berdaya dan kegiatan lain yang bertujuan memberdayakan umat.

Kepala BMH Sumut, Lukman, menekankan pentingnya zakat, infak, dan sedekah sebagai amalan yang memperkuat akidah umat.

Melalui program-program ini, Hidayatullah Karo tidak hanya berdakwah, tetapi juga berkontribusi dalam pemberdayaan umat.

Dengan semangat berbagi, tambah Lukman, kemitraan ini merawat nilai-nilai ikhlas dan tawakal, menciptakan harmoni dan turut merawat kerukunan dalam keberagaman masyarakat.*/Herim

Mengenang Ustadz Mu’tashim Billah, Sosok Pekerja Keras yang Teguh di Jalan Dakwah

0

INNAA lillahi wa inna ilaihi roji’un. Warga dan keluarga besar Hidayatullah, khususnya di Sumatera Utara dan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, diliputi duka mendalam atas wafatnya salah satu kader terbaiknya, Ustadz Mu’tashim Billah.

Beliau berpulang pada hari Ahad, 6 Jumadil Akhir 1446/ 9 Desember 2024, setelah mengalami kecelakaan kerja saat kerja bakti massal di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.

Pak Tasim, demikian ia akrab disapa, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Drs. H. Amri Tambunan, Lubuk Pakam, Deli Serdang, sekitar pukul 15.35 WIB. Beliau tertimpa dinding bangunan berukuran 3×3 meter yang roboh saat sedang dirancang ulang.

Dinding tersebut menghantam hampir seluruh tubuhnya, sementara kepala beliau terbentur tembok lain yang masih berdiri kokoh. Perawatan di ruang gawat darurat pun tak mampu menyelamatkan nyawa beliau.

Mu’tasim Billah muda memegang cangkul berdiri paling depan saat kerja bakti perintisan lahan kampus (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Membersamai Perintisan

Lelaki pekerja keras bernama asli Nashib ini lahir di Bengkulu pada 2 September 1969, bergabung dengan Hidayatullah pada tahun 1993. Ia adalah santri gelombang kedua yang dikirim oleh Ustadz Abdul Kadir, seorang guru di STM Negeri Bengkulu sekaligus simpatisan kuat Hidayatullah.

Atas bimbingan dan motivasi Ustadz Abdul Kadir, Nashib, yang awalnya berencana menjadi santri di Cilodong (Depok), memilih bergabung dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang kala itu masih dalam tahap perintisan.

Ketika itu, yang menjadi pimpinan pondok Hidayatullah Medan adalah Ustadz Suratman, selanjutnya kemudian digantikan oleh Ustadz Drs. Khusnul Khuluq, MM.

Nama Nashib kemudian diubah menjadi Mu’tashim Billah oleh Ustadz Drs. Khusnul Khuluq, MM., yang berarti “orang yang berpegang teguh kepada Allah.” Sejak saat itu, nama tersebut menjadi cerminan dari karakter kuat dan dedikasi almarhum sebagai seorang santri, pekerja keras, dan pendakwah.

Dari Bengkulu, Mu’tashim muda pun tiba di Medan bersama 13 orang temannya dengan menaiki bus mini Putra Simas, singkatan dari Putra Simalungun.

Di antara rekan seperjalanannya kala itu adalah Heri Kusmiran, SE (sekarang Sekretaris DPW Hidayatullah Riau) dan Sugiono, S.Pd (guru tetap di Kampus Utama Hidayatullah Medan. Lalu ada Abdul Qohhar, Supari, Syuhada’, Adha, Ahmadi, dan Hadimin yang kesemuanya dari 6 orang yang disebutkan terakhir sudah tidak ada lagi kabarnya.

Mu’tashim datang ke Medan sebagai santri, belum bisa naik sepeda sama sekali. Karena diberi tugas oleh pengurus untuk mengedar majalah Suara Hidayatullah, serta mencari donatur untuk penyelenggaraan panti asuhan ketika itu, akhirnya dia harus belajar naik sepeda.

Dan, setelah bisa naik sepeda, ia mencari pelanggan majalah dan donatur sampai ke Belawan, dekat dengan pelabuhan Kapal. Padahal jarak yang harus ditempuh adalah 42 km.

Saban hari Mu’tashim mengedar majalah dan mencari donatur dengan naik sepeda, rute perjalanan rutinnya dari Tanjung Morawa ke Kecamatan Perbaungan dimana jarak yang harus ditempuh adalah 22 kilo meter.

Pada masa awalnya, Pondok Pesantren Hidayatullah belum memiliki kampus tetap. Mu’tashim dan kawan kawan menempati rumah kontrakan di Jalan Karya III/08 Helvetia, Medan, sebelum akhirnya berpindah ke Jalan Bilal.

Perjuangan para santri muda, termasuk Mu’tashim, membuahkan hasil ketika pondok mendapatkan tanah wakaf seluas 3,5 hektar di Desa Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, dari Badan Kenadziran Wakaf Kabupaten Deli Serdang.

Mu’tasim Billah muda bersama santri di masa perintisan dakwah di Medan (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Perjalanan Pengabdian

Pada tahun 1996, Mu’tashim menikah dengan Rum’ati, seorang santriwati asal Bengkulu yang sebelumnya belajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Palembang.

Pernikahan mereka berlangsung bersamaan dengan dua pasangan lainnya, yaitu Muslihuddin Akbar dengan Linda Khoirunnisa’, serta Sulaiman dengan Nur. Pernikahan ini menjadi babak baru dalam hidupnya, membawa tanggung jawab lebih besar dalam mendidik dan berdakwah.

Tahun 2003, Mu’tashim diberi amanah untuk berdakwah ke Pulau Nias. Selama dua tahun di sana, ia menghadapi tantangan besar, termasuk gempa bumi dahsyat yang melanda Nias pada 2005.

Setelah itu, beliau kembali dipanggil bertugas ke Tanjung Morawa untuk mengemban tugas sebagai Kepala Kampus sekaligus Kepala Dapur Umum Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang bertanggung jawab memastikan ketersediaan sajian makanan para santri. Posisi ini dijalani dengan penuh dedikasi tinggi hingga akhirnya beliau fokus pada tugas sebagai Kepala Kampus.

Almarhum Ustadz Mu’tashim Billah semasa hidup berfoto bersama istri, anak dan ponakanya (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Keteguhan Hingga Akhir

Mu’tashim meninggalkan jejak yang luar biasa dalam pengabdian. Ia dikenal sebagai pribadi yang selalu ramah, sederhana, pekerja keras, dan penuh keikhlasan. Bangun malam menyerap energi Ilahi melalu tahajjud menjadi kebiasaan rutinnya, sementara doa dan usaha menyertai setiap langkah perjuangannya.

Di akhir hayatnya, beliau meninggalkan istri tercinta, tiga putri: Nur Hasanah, S.Ag, Faridah, S.Ag, Fauziyah, dan seorang putra, Muhammad Zuhri Fadhlullah, SE. Kebanggaan keluarga, Zuhri baru saja menyelesaikan pendidikannya dengan predikat lulusan terbaik di STIE Hidayatullah Depok pada awal Oktober 2024 lalu.

Jenazah Mu’tashim dimakamkan di pemakaman khusus Pondok Pesantren Hidayatullah, Raudhatut Tadzkiroh (Taman Mengingat Kematian). Pada Senin, 9 Desember 2024, pukul 9.00 WIB, shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Baitul Akbar, sebuah masjid yang diresmikan oleh tokoh politik nasional, Akbar Tanjung. Kehadiran jamaah, para santri, keluarga, rekan sejawat, dan warga menegaskan cinta dan hormat mereka kepada almarhum.

Selama lebih dari tiga dekade, Mu’tashim Billah menjadi teladan dalam pengabdian dan perjuangan di Hidayatullah. Ia turut membangun pondasi pondok dari masa perintisan hingga menjadi institusi pendidikan yang berdampak besar. Sosoknya yang bersahaja akan terus dikenang oleh setiap jiwa yang mengenalnya.

Semoga seluruh amal ibadah, pengorbanan, dan dedikasi beliau diterima Allah Ta’ala. Semoga Ustadz Mu’tashim Billah ditempatkan di surga-Nya, bersama para hamba yang teguh berpegang pada agama-Nya. Allahumma firlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

SD Integral Hidayatullah Tegal Resmi Dapatkan SK Izin Operasional dari Kemendikbud

0

TEGAL (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dasar (SD) Integral Hidayatullah Tegal, Jawa Tengah, resmi memperoleh Surat Keputusan (SK) Izin Operasional Sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Penyerahan SK ini dilakukan langsung oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Satiyo, S.Pd., M.Pd., di komplek SD Integral Hidayatullah, Jalan Surabayan, Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin, 7 Jumadil Akhir 1446 (9/12/2024).

Acara penyerahan tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, di antaranya perwakilan KWK Kecamatan Kramat, Pengawas SD setempat, Kepala Kelurahan Dampyak, pengurus Yayasan Al Ishlah Hidayatullah Kabupaten Tegal, serta orang tua murid dan siswa-siswi SDI Hidayatullah Tegal.

Dalam sambutannya, Satiyo menyampaikan apresiasinya kepada SD Integral Hidayatullah Tegal sebagai salah satu sekolah yang diharapkan mampu menjadi pusat pembinaan dan pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

“SD Integral Hidayatullah Tegal adalah harapan masyarakat untuk memberikan pendidikan yang bermutu bagi generasi muda,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada para guru agar terus bersemangat dalam mendampingi siswa selama proses belajar mengajar.

“Tetap semangat dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak. Pastikan mereka belajar dengan pengawasan dan pendampingan yang maksimal dari pengawas SD setempat,” imbuhnya.

Selain itu, Satiyo mengingatkan pentingnya penyelesaian administrasi, khususnya terkait data siswa.

“Kami berharap para guru segera melengkapi persyaratan administrasi anak-anak ke Dinas Pendidikan,” tuturnya.

Penyerahan SK Izin Operasional ini menjadi tonggak penting bagi SDI Hidayatullah Tegal dalam memberikan layanan pendidikan berkualitas bagi masyarakat Kabupaten Tegal.*/Bagas Kurniawan

Pemimpin Umum Hidayatullah Ingatkan Jaga Isti’anah dalam Berkhidmat untuk Umat

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, mengingatkan bahwa semangat perjuangan dalam rangka berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa harus dilandasi dengan isti’anah, yaitu selalu memohon pertolongan kepada Allah, sebagaimana diajarkan dalam surah Al-Fatihah.

Ia menjelaskan, isti’anah ini menjadi landasan pembentukan worldview Islam, yang Hidayatullah wujudkan melalui pendekatan Sistematika Wahyu.

Pendekatan ini juga membangun metodologi gerakan yang kokoh dalam mengarahkan visi organisasi. Melalui landasan ini, tegasnya, Hidayatullah berusaha mencapai “kemenangan iman” dengan mengintegrasikan spirit berjamaah dalam setiap langkah perjuangan.

“Harus selalu isti’anah, selalu memohon pertolongan kepada Allah,” katanya, saat menghadiri Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) 2024 yang berlangsung di Hotel Harris, Samarinda, pada 6–7 Jumadil Akhir 1446 H (7–8/12/2024).

Kehadiran Pemimpin Umum memberi dorongan semangat bagi peserta rapat, mempertegas urgensi perjuangan tanpa lelah dalam menegakkan ilmu yang melahirkan adab.

Inspirasi ini ia ditanamkan melalui tafsir surah Almuzzammil, yang menggarisbawahi peran para nabi sebagai teladan ketabahan dalam menghadapi ujian terberat umat manusia.

Miniatur Peradaban

Rakeryas 2024 ini membahas peran strategis Kampus Utama Hidayatullah di Samarinda sebagai titik sentral pembangunan miniatur peradaban Islam. Pembina dan Pengawas Kampus Utama menekankan pentingnya langkah yang tepat dan cepat dalam mewujudkan cita-cita besar ini.

Strategi tersebut tidak hanya bertumpu pada upaya fisik, tetapi juga pada pengembangan sistematis yang mencakup aspek intelektual, spiritual, dan sosial. Rakeryas kali ini menegaskan bahwa membangun miniatur peradaban Islam adalah tugas monumental yang harus digarap dengan serius.

Seperti pesan yang diilhami oleh surah Almuzzammil, perjuangan besar menuntut persiapan yang matang, dedikasi, dan keimanan yang kokoh.

Dengan mengambil teladan dari para nabi, peserta Rakeryas dipacu untuk terus bergerak maju meskipun menghadapi dinamika dan tantangan yang tidak ringan.

“Ini wahana penyatuan visi dan aksi seluruh elemen yang ada untuk penguatan yang menyeluruh, mencakup pendidikan, dakwah, dan pembangunan sosial berbasis nilai-nilai Qur’ani,” terang Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, KH Hizbullah Abdullah Said.

Dia menambahkan, pesan dari Pemimpin Umum Hidayatullah dan penguatan dari para pengawas dan pembina menjadi pijakan bagi peserta Rakeryas untuk melangkah lebih terarah.

“Ini adalah panggilan untuk mewujudkan cita-cita besar. Semoga semangat ini terus menyala dalam langkah-langkah berikutnya,” imbuhnya memungkasi.*/Farid Ma’ruf

Seminar Kebangsaan Rakeryas Hidayatullah Samarinda Soroti Tantangan Era Global

0

SAMARINDA — Dalam upaya memajukan visi besar Hidayatullah sebagai organisasi yang memiliki mainstream gerakan pendidikan dan dakwah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda menggelar Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) 2024 di Hotel Harris, Samarinda, pada 6-7 Jumadil Akhir 1446 (7-8/12/2024).

Agenda ini merupakan tindak lanjut dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2024 yang digelar empat hari sebelumnya di Kota Bandung.

Rakeryas tersebut dirangkai dengan Seminar Kebangsaan bertemakan kolaborasi dan wawasan kebangsaan, bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Timur.

Tema besar Rakernas 2024, yaitu Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Standarisasi dan Integrasi Sistemik, menjadi landasan strategis bagi jejaring Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Di Samarinda, hal ini diterjemahkan melalui seminar yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk mengadirkan narasumber perwakilan Kesbangpol Eko Susanto, Ketua Fraksi PDIP DPRD Kaltim H. Samsun, dan Ust. Drs. H. Nursyamsa Hadis dari Badan Pembina Hidayatullah Samarinda.

Seminar ini dihadiri oleh para guru Yayasan Pesantren Hidayatullah Samarinda, yang mendapatkan materi tentang merawat kebhinekaan, menjaga kesetaraan sosial, dan menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai ideologis bangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Dalam paparannya, H. Samsun menekankan bahwa kolaborasi antara organisasi dan komunitas termasuk pesantren dan pemerintah adalah kemitraan strategis dalam menjaga keutuhan bangsa.

Menurut Samsun, dalam era kecerdasan buatan (AI) yang berkembang pesat, penyaringan informasi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga moralitas generasi muda. Pesantren, sebagai entitas sosial yang kokoh, berperan strategis sebagai “swaka generasi” dalam menghadapi tantangan itu.

Melalui disiplin nilai-nilai luhur dan aturan yang membangun, pesantren menciptakan kesadaran mendalam bagi santri terhadap eksistensi mereka sebagai manusia yang berintegritas.

Dengan landasan agama dan pendidikan karakter, imbuh Samsun, pesantren menawarkan solusi konkret untuk menghadapi tantangan moral yang muncul akibat paparan informasi yang tidak terfilter.

“Pesantren adalah benteng moral di tengah arus deras informasi digital yang sering melupakan nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Sementara itu, Nursyamsa Hadis menggarisbawahi bahwa keberagaman harus dilihat sebagai kekuatan, bukan ancaman. Ia menambahkan, pesantren bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga center of excellence dalam membangun karakter bangsa.

“Dengan pijakan nilai Islam yang washatiyah sebagaimana dalam jatidiri Hidayatullah, kita dapat memadukan wawasan nilai-nilai kejuangan Negara Republik Indonesia dan ajaran Islam secara harmonis,” katanya.

Sementara itu, Eko Susanto menguraikan bahwa di tengah derasnya arus informasi akibat perkembangan teknologi, peran lembaga pendidikan menjadi krusial dalam membentengi bangsa dari ancaman disintegrasi. Pesantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan berbasis tradisi Islam, memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan global ini.

Dengan mengedepankan pendekatan pendidikan berbasis nilai dan moral, jelas Eko, pesantren menjadi benteng dalam membentuk karakter generasi yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga memiliki integritas dan wawasan kebangsaan yang kuat. Model pendidikan seperti ini diharapkan mampu menjaga kohesi sosial, mempererat persatuan, dan memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

“Pendidikan yang berbasis nilai adalah pondasi kokoh untuk menjawab tantangan global dan menjaga identitas bangsa di tengah era digital,” tandasnya.*/Farid Ma’ruf

Banjir Bandang Sukabumi Akses Terputus, SAR Hidayatullah Berjibaku Salurkan Bantuan

0

SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Hujan deras selama dua hari berturut-turut telah menyebabkan banjir bandang di Sukabumi pada 4 Desember 2024. Salah satu wilayah terdampak terparah adalah Desa Curugluhur, Kecamatan Sagaranten, di mana ratusan rumah warga rusak, akses jalan terputus, dan jembatan utama hancur. Kondisi ini menyulitkan distribusi bantuan kepada warga yang membutuhkan.

Merespon bencana ini, SAR Hidayatullah, dengan dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), segera bergerak menuju lokasi pada Sabtu, 7 Desember 2024.

Posko utama didirikan di Desa Curugluhur sebagai pusat koordinasi bantuan. Dalam kolaborasi dengan Mako Brimob, tim gabungan ini berfokus pada evakuasi warga, distribusi logistik, serta penanganan darurat lainnya.

“Kami harus menggunakan motor untuk menjangkau desa-desa terpencil karena jalan yang rusak parah,” ujar M. Fajar, Koordinator Lapangan tim tersebut, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 7 Jumadil Akhir 1446 (9/12/2024).

Meskipun tantangan medan sangat berat, semangat para relawan tidak surut. Mereka terus berupaya menyalurkan bantuan kepada warga yang masih terisolasi.

Laznas BMH memainkan peran yang sangat strategis dalam situasi seperti ini. Tidak hanya sebagai penyalur bantuan logistik, lembaga ini juga menyediakan dukungan psikososial bagi penyintas bencana.

Dalam jangka panjang, BMH berkomitmen memberikan pemberdayaan ekonomi untuk membantu para korban bangkit dari keterpurukan. Keberhasilan ini dicapai berkat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang profesional dan transparan, sehingga bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran dan memberikan dampak optimal.

“Semoga dengan bantuan ini, warga dapat segera bangkit dan memulihkan kehidupan mereka,” kata Fajar, seraya menambahkan kolaborasi ini merupakan cerminan dari pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menangani bencana alam.

Di tengah bencana yang melanda Sukabumi, kehadiran para relawan menjadi harapan bagi para korban. Kehadiran mereka memberikan pesan kuat bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada peluang untuk bangkit dan melanjutkan hidup. Upaya kolektif ini, Fajar menambahkan, tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga semangat untuk bertahan dalam menghadapi ujian kehidupan.*/Herim

Hadiri Forum ‘Ngopi’ Hidayatullah, Walikota Andi Harun Paparkan Visi Samarinda Beradab

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Walikota Samarinda Dr H Andi Harun meluangkan waktu hadir sebagai narasumber dalam forum Ngopi (Ngobrolin Peradaban Islam) yang digelar disela Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda di Terrace Cafe, Hotel Harris, Sabtu, 6 Jumadil Akhir 1446 (07/12/2024) malam.

Dalam obrolan serius namun santai tersebut Walikota Andi memaparkan ide kepemimpinannya di Kota Samarinda dengan tagline Samarinda Beradab.

Menurutnya, visi Samarinda Beradab merepresentasikan pendekatan pembangunan kota yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menekankan pentingnya keberlanjutan serta kesejahteraan masyarakat secara holistik.

“Konsep ini mengintegrasikan berbagai dimensi pembangunan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga lingkungan, dan tentu saja aspek spiritual, sebagai satu kesatuan yang saling mendukung,” katanya.

Dalam pada itu, Andi juga melihat isu perubahan iklim sebagai salah satu perhatian utama. Sebagai kota yang memiliki tantangan ekosistem khas, jelas Andi, Samarinda dituntut untuk mengadopsi strategi pembangunan yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap dampak perubahan iklim yang bertujuan lestarikan lingkungan dan menjaga kualitas hidup generasi mendatang.

Selain itu, aspek geopolitik dan geoekonomi turut menjadi pertimbangan dalam visi ini. Sebagai bagian dari rantai ekonomi global, Samarinda diharapkan mampu mengoptimalkan posisinya melalui pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana serta penguatan konektivitas perdagangan.

Dengan landasan nilai beradab, dia menegaskan, Samarinda mengusung cita-cita sebagai kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga berkarakter, berwawasan keberlanjutan, dan peduli terhadap dinamika global maupun lokal.

“Isu perubahan iklim, geopolitik, dan geoekonomi, menjadi tantangan kedepan yang juga harus dipersiapkan oleh teman-teman di Hidayatullah,” ungkap walikota petahana yang kembali terpilih dengan raihan suara mayoritas ini.

Andi Harun menyebut acara ini selain mempererat silaturahmi juga mendiskusikan sinergi untuk membangun masa depan Kota Samarinda, terutama melalui peran strategis pondok pesantren.

Ia menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berbudaya, dan berdaya saing. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan misi pembangunan Kota Samarinda ke depan.

“Pesantren adalah salah satu kawah candradimuka lembaga pendidikan kita. Selain fokus pada pendidikan agama, pesantren juga harus memperkuat literasi dalam bidang bahasa serta produktivitas di sektor ekonomi dan sosial. Tantangan pembangunan ke depan melingkupi semua aspek tersebut,” ujar Andi Harun.

Andi Harun menambahkan, santri yang memiliki dasar agama yang kuat sekaligus cakap dalam urusan sosial dan ekonomi akan menjadi generasi yang diidamkan. Generasi tersebut tidak hanya ahli dalam ibadah, tetapi juga mampu bersaing secara global.

“Kita semua tentu berharap agar apa yang kita cita-citakan bersama, yaitu mencetak generasi unggul yang berbudaya dan berdaya saing, bisa terwujud melalui peran pesantren,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Andi Harun menyoroti pentingnya penguasaan bahasa bagi generasi muda, terutama para santri. Menurutnya, di era globalisasi, kemampuan bahasa asing seperti Inggris, Arab, dan bahkan Mandarin, sangat penting.

Andi Harun menjelaskan bahwa kemajuan Tiongkok sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar dunia tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, ia menganjurkan agar generasi muda Samarinda, termasuk para santri, dapat mempelajari bahasa Mandarin untuk memperluas wawasan dan memperkuat daya saing global.

Di kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, KH Hizbullah Abdullah Said, menyampaikan visi pembangunan kota yang diinisiasi pemerintah relevan dengan kebutuhan zaman dan menjadi irisan strategi visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang luhur.

Pihaknya pun menyambut baik harapan pemerintah kota yang mendorong Hidayatullah untuk terus memainkan perannya dalam mencetak generasi unggul dan berpengaruh dengan memiliki basis iman, taqwa, dan memiliki kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci menjadi pemenang di masa yang akan datang.

Forum Ngopi ini turut dihadiri Ust. Drs. Nursyamsa Hadis sekalu Badan Pembina Hidayatullah Samarinda yang juga Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Hadir pula unsur organisasi pendukung Pemuda Hidayatullah serta badan dan amal usaha Hidayatullah Samarinda.*/Farid Ma’ruf

Membuka Gerbang Keberkahan dengan Bacaan Al Qur’an Setiap Pagi

0

SETELAH melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid, meluangkan waktu sejenak untuk duduk dan membaca Al-Qur’an adalah aktivitas yang mulia dan penuh keberkahan.

Meski sederhana, amalan ini sering kali diabaikan karena berbagai alasan seperti rasa kantuk, persiapan berangkat kerja, kewajiban membangunkan anak, atau membantu urusan rumah tangga. Semua hal tersebut tentu dapat dimaklumi, namun dapat me-manage beragam tantangan ini memberikan nilai tambah yang besar.

Membaca Al-Qur’an di pagi hari tidak hanya sebagai gerbang mendatangkan ketenangan jiwa, tetapi juga menjadi langkah awal yang baik untuk mengawali hari dengan penuh keberkahan dan semangat yang lebih terarah.

Keutamaan dan kemuliaan memang seringkali berbanding lurus dengan godaan dan beratnya dalam prosesnya. Karena mengatasi godaan dan menjalani proses adalah bagian dari nilai kemulian yang mengantar kepada kenikmatan.

Amalan yang mudah dan ringan biasanya cenderung dapat dilakukan oleh banyak orang, karena tidak membutuhkan usaha besar untuk melaksanakannya. Namun, keutamaan amalan semacam itu tidak sebanding dengan amalan yang memerlukan perjuangan lebih. Salah satu contohnya adalah membaca al-Qur’an di pagi hari.

Aktivitas ini menuntut ketekunan dan komitmen, terutama di tengah godaan rasa malas atau kesibukan pagi. Justru, inilah yang membuat amalan tersebut memiliki nilai lebih tinggi, karena menguji kesungguhan seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, kesulitan yang dihadapi menjadi ladang pahala dan pembuktian ketulusan iman.

Mengawali hari dengan membaca Al-Qur’an merupakan langkah luar biasa untuk memulai kehidupan baru setiap pagi. Aktivitas ini tidak hanya mendatangkan ketenangan jiwa tetapi juga menjadi amalan yang mulia, karena dipersaksikan oleh para malaikat. Selain menyaksikan, para malaikat juga mencatat dan melaporkan kebaikan tersebut kepada Allah SWT.

Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala yang akan menjadi tabungan amal di akhirat kelak. Membaca Al-Qur’an di awal hari adalah bentuk kesadaran akan pentingnya menjadikan waktu pagi sebagai momen terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Membaca Al-Qur’an di pagi hari merupakan bentuk kesungguhan pengutamaan kitab suci ini di atas berbagai bacaan atau aktivitas lain. Dalam dinamika kehidupan modern, banyak orang lebih sering teralihkan oleh scrolling media sosial atau berbincang tanpa tujuan yang jelas.

Pilihan kegiatan di pagi hari memang beragam, namun memulai hari dengan membaca Al-Qur’an menjadi praktik yang jarang dilakukan meski memiliki nilai keagungan yang tinggi, tenangkan batin, dan sarat inspirasi untuk menjalani hari.

Hikmah terbesar yang membuat hari penuh berkah adalah dengan memulainya dengan al-Qur’an. Jika serius dan konsisten membaca al-Qur’an setiap pagi maka keberkahan dengan sendirinya dinikmati. Maka penting memulai aktivitas di pagi hari dengan membaca al-Qur’an.

Membaca al-Qur’an yang terbaik adalah di waktu shubuh sebagaimana Allah firmankan dalam surat al -Isra’ ayat 78:

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوۡكِ الشَّمۡسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيۡلِ وَقُرۡاٰنَ الۡـفَجۡرِ‌ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ الۡـفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُوۡدًا

“Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) subuh. Sungguh, shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS al-Isra: 78)

Ketika ada terlintas dalam hati di pagi hari ingin membaca al-Qur’an maka segera ambil mushaf, karena itu nikmat yang luar biasa yang tidak diberikan kepada semua hamba.

Atau, ketika muncul rasa penasaran ingin tahu arti atau tafsir suatu ayat, maka segera buka terjemah atau tafsir al-Qur’an karena itu anugerah dari Allah yang tidak diberikan kepada semua orang. Atau tiba-tiba ada keinginan untuk menghafal al-Qur’an maka segera duduk tenang dan jangan ditunda karena itu pemberian Allah.

Jika terpaksa di pagi hari tidak sempat membuka mushaf atau membaca al-Qur’an maka harus berusaha di siang, sore, atau malam hari untuk meluangkan waktu. Tidak melewatkan waktu seharipun tanpa membaca Al-Qur’an.

Ahlul Qur’an itu orang yang mencintai dan senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an. Memprioritaskan al-Qur’an menjadi yang utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama pagi hari sebelum melaksanakan aktivitas yang lain.

Mencintai al-Qur’an berarti mendapatkan salah satu tanda dicintai oleh Allah dan Rasulullah. Tidak banyak dan tidak mudah untuk bisa mencintai al-Qur’an dengan berusaha belajar dan interaksi bersama al-Qur’an.

Menyibukkan diri dengan al-Qur’an menjadikan waktunya penuh makna dan umurnya menjadi berkah. Tujuan membaca al-Qur’an bukan hanya membaca tapi untuk mendapatkan petunjuk dari Allah.

Banyak yang merasa kesibukan sehari-hari menghalangi mereka untuk membaca al-Qur’an. Ironisnya, di tengah kesibukan tersebut, waktu untuk berbincang santai, menonton, bermain gim, atau memperbarui media sosial tetap tersedia. Hal ini menandai adanya persepsi keliru bahwa membaca al-Qur’an membutuhkan waktu yang berlebihan.

Padahal, mengawali hari dengan membaca al-Qur’an tidak hanya mendatangkan ketenangan jiwa, tetapi juga menghadirkan keberkahan waktu sepanjang hari untuk memperoleh rahmat Allah SWT.

Tips Betah dan Istiqomah Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah amalan mulia yang mendekatkan kita kepada Allah SWT, namun menjaga konsistensi dan kenyamanan dalam melakukannya sering kali menjadi tantangan.

Agar aktivitas ini tetap menjadi rutinitas yang penuh keberkahan dan terasa menyenangkan, diperlukan strategi khusus untuk membantu kita betah dan istiqomah membaca Al-Qur’an setiap hari. Beikut beberapa tips agar bisa istiqomah untuk senantiasa membaca al-Qur’an.

Pertama, ketika hendak membaca al-Qur’an, tidak langsung membacanya tapi berusahalah untuk sejenak memandangi mushaf al-Qur’an sambil berniat dengan berharap kepada Allah. “Yaa Allah saya membaca al-Qur’an ini berharap bisa melihat wajah-Mu ya Allah, meminta ridho-Mu dan syafaat al-Qur’an. Dari setiap huruf dan ayat al-Qur’an yang aku baca menjadi pahala, keberkahan hidup, buanglah semua penyakit hati, penyakit jasad yang membuat aku lemah.”

Kedua, membaca al-Qur’an dengan niat yang disengaja artinya sengaja meluangkan waktu untuk menjadwalkan atau memprioritaskannya. Membaca penuh keyakinan akan menjadi energi dan gairah yang luar biasa. Jika sudah dekat dengan al-Qur’an maka insya Allah terjaga dari keburukan.

Ketiga, mempertebal keyakinan al-Qur’an dengan senantiasa membaca hadist-hadist, kisah-kisah ahlul Qur’an, mendengar ceramah atau tausyiah tentang al-Qur’an. Sejarah dan hikmah dari para sahabat, tabiin, sholihin dalam interaksi bersama al-Qur’an menjadi spirit tersendiri. Banyak kisah-kisah para pecinta al-Qur’an yang luar biasa dan memberikan inspirasi dan motivasi bagi generasi akhir zaman.

Keempat, jika merasa belum lancar atau masih terbata-bata dalam membaca al-Qur’an maka harus menghilangkan rasa malu, gengsi atau takut untuk belajar al-Qur’an kepada orang yang berkompetan dalam memperbaiki al-Qur’an. Meskipun sudah umur tua, dewasa, berkedudukan atau terhormat kedudukannya.

Kelima, dengan mujahadah dan ikhtiar yang kuat, maka al-Qur’an terasa nikmat jika dibaca, dipahami, ditadabburi, berusaha dicintai dan diamalkan.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Gerak Cepat Menuju Rakerwil, DPW Hidayatullah Jakarta Adakan Forum Harmonisasi dan Integrasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dua hari setelah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah pada 31 November 2024 – 2 Desember 2024 di Bandung, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ) langsung gerak cepat dengan melaksanakan rapat persiapan pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).

Sebagaimana himbauan Rakernas Hidayatullah di Bandung, bahwa pelaksanaan Rakerwil DPW Hidayatullah se Indonesia tenggang akhir waktu pelaksanaannya pada pertengahan Januari 2025.

DPW Hidayatullah DKJ melalui rapat persiapan Rakerwil (5/12/2024), menetapkan beberapa persiapan. Pertama, Rakerwil ke-V dijadwalkan pada tanggal 4-6 Januari 2025.

Ketua DPW Hidayatullah DKJ, Muhammad Isnaeni, mengatakan bahwa ada beberapa kegiatan dalam rangka menuju Rakerwil. Diantaranya, dia menyebutkan, pihaknya akan melaksanakan kegiatan Forum Harmonisasi dan Integrasi (FHI) dengan semua elemen Hidayatullah yang ada di DKJ.

Isnaini menyebutkan, helatan FHH akan melibatkan semua unsur tingkat wilayah yaitu Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-DKJ, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Islamic Medical Servis (IMS), Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPH), Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), PosDai, Pemuda Hidayatullah, dan Muslimat Hidayatullah.

Selain itu, juga ada SAR Hidayatullah, Majalah Suara Hidayatullah (Sahid), Sahabat Anak Indonesia (SAI), Ponpes Tahfidz Global DKJ (PPTG), Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ), dan lainnya.

“Dengan demikian kita punya harapan satu tahun terakhir masa kepengurusan kita di DPW Hidayatullah DKJ bisa memberi capain program yang membanggakan sebagai wujud pengabdian Hidayatullah kepada umat di daerah khusus Jakarta,” kata Isnaini, dalam keterangan tertulis diterima media ini, Ahad, 6 Jumadil Akhir 1446 (8/12/2024).

Dengan adanya kegiatan tersebut, lanjut dia, DPW Hidayatullah dalam penyusunan program kerja tahun 2025 mendapatkan berbagai saran dan masukan dari semua elemen Hidayatullah tingkat wilayah.

“Sekaligus merajut pesan bahwa program yang nanti dicanangkan oleh DPW Hidayatullah 2025 sejatinya adalah program bersama yang kita wajib saling berkolaborasi,” terang pria enerjik ini.

Dia mengatakan, Rakerwil Hidayatullah DKJ akan mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan”. Hal ini, terang dia, merupakan tema yang diharapkan menjadi modal dasar yang semakin membangun budaya kepada semua pengurus Hidayatullah dalam memajukan organisasi di masa yang akan datang.

Sementara untuk Kepanitiaan Rakerwil DPW Hidayatullah DKJ akan diemban oleh DPD Hidayatullah DKJ sebagai bagian dalam melakukan transformasi sekaligus transmisi kepada semua tingkatan di organisasi.

“Di pembukaan Rakerwil, diharapkan semua pengurus dan kader serta guru-guru Rumah Qur’an Hidayatullah bisa ikut serta sebagai bagian dari eksistensi Hidayatullah di DKJ. ini penting dilakukan agar semua bisa merasakan semarak dan semangat pergerakan organisasi Hidayatullah di DKJ,” imbuhnya.

Rakerwil V Hidayatullah DKJ juga secara internal akan dihadiri unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP) sebagai pendamping, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW), Pengurus Harian Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-DKJ, Pengurus Harian Organisasi Pendukung Hidayatullah (Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah), serta undangan amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah.

Tidak kalah pentingnya, kata Isnaini, panitia juga akan mengundang kehadiran berbagai narasumber eksternal baik dari kalangan pejabat daerah dan kalangan profesional dalam rangkaian acara Rakerwil ini sebagai bentuk keinginan Hidayatullah Jakarta untuk berinteraksi langsung serta berharap mendapatkan kontribusi moral dan pemikiran dari parah tokoh.

“Kami berharap mulai dari pejabat di tingkat provinsi, seperti DPR, pejabat pemerintah, serta lembaga keagamaan MUI, DMI, dan ormas Islam lainnya berkenan hadir untuk kita menyerap pemikiran dari parah tokoh yang hadir untuk kita menjalankan program satu tahu ke depan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Rakerwil ini akan menjadi momentum yang sangat baik untuk semua pihak bisa bersilaturahim serta mengenal lebih dekat dengan Hidayatullah. (ybh/hidayatullah.or.id)