Beranda blog Halaman 121

Membongkar Bias Pemahaman Barat dan Menjawab Tantangan Islamophobia Global

0

DR. MUHAMMAD Imarah, seorang pemikir Islam kontemporer, dalam karyanya, Perang Terminologi Islam versus Barat (Ma’rakatul Musthalahat bainal Gharbi wal Islami), menggarisbawahi perbedaan fundamental antara pemahaman Islam dan Barat tentang agama.

Di dunia Barat, agama sering kali diterjemahkan sebagai faith, yakni keyakinan pribadi yang bersifat individual dan terbatas pada aspek spiritualitas serta ritual keagamaan. Pemahaman ini telah memengaruhi bagaimana Islam didefinisikan dan diterima, bahkan di negara-negara Muslim sendiri.

Namun, Islam bukan sekadar faith. Islam adalah diin—sebuah sistem hidup yang mencakup semua dimensi termasuk spiritual, sosial, politik, dan ekonomi. Berbeda dari agama-agama dalam konsep Barat, Islam mencakup keseluruhan aspek kehidupan, menjadikannya tidak sekadar urusan pribadi, tetapi juga bagian integral dari tatanan sosial.

Sayangnya, reduksi Islam menjadi sekadar agama dalam pengertian Barat telah menjadi dasar berkembangnya stigma terhadap Islam, yang kini kita kenal sebagai Islamofobia.

Kolonialisasi Terminologi

Dalam situasi global, narasi Islamofobia tampak tidak hanya mencerminkan ketakutan terhadap Islam, tetapi juga upaya sistematis untuk membatasi peran Islam dalam kehidupan publik.

Ketika umat Islam mencoba menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan bernegara atau bermasyarakat, mereka sering dicap sebagai fundamentalis, radikalis, bahkan disebut teroris. Narasi ini diperkuat oleh banyak negara, termasuk negara-negara berpenduduk Muslim, yang mengadopsi bias Barat ini.

Pemahaman yang salah akibat kolonialisasi terminologi ini tidak hanya menghambat penerapan nilai-nilai Islam, tetapi juga menciptakan rasa takut kolektif terhadap komunitas Muslim.

Data terbaru dari Pew Research Center (2024) menunjukkan bahwa 73% warga di negara-negara Barat menganggap Islam sebagai ancaman potensial, sementara 68% mengaitkannya dengan ekstremisme. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islamofobia di dunia saat ini.

Di tengah gelombang Islamofobia global, komunitas internasional mulai mengambil langkah konkret untuk menanggulangi fenomena ini.

Salah satu upaya signifikan adalah keputusan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengadopsi resolusi yang disponsori oleh 60 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tahun 2022. Resolusi ini menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia.

Tanggal ini dipilih untuk memperingati serangan masjid Christchurch di Selandia Baru pada 15 Maret 2019, yang menewaskan 51 Muslim. Peringatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengenang korban, tetapi juga untuk menggalang solidaritas global dalam melawan segala bentuk diskriminasi terhadap umat Islam.

Resolusi tersebut menunjukkan bahwa Islamofobia tidak hanya masalah agama tertentu, tetapi pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ilmu dan Arah Baru

Dr. Imarah dengan tegas menyatakan bahwa pembenahan terminologi Islam dan penyelesaian masalah Islamofobia hanya dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Pendidikan yang tepat memainkan peran kunci dalam meluruskan pemahaman Islam sebagai diin.

Sayangnya, narasi Islamofobia sering kali diperkuat melalui media dan kurikulum pendidikan yang bias. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memasukkan kajian Islam yang komprehensif dalam sistem pendidikan, baik di dunia Muslim maupun Barat.

Selain itu, penguatan pemahaman internal di kalangan Muslim sendiri sangat penting. Muslim perlu memahami bahwa Islam bukan sekadar agama dalam pengertian Barat, tetapi sebuah sistem yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Pemahaman ini dapat menjadi dasar bagi komunitas Muslim untuk lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai stigma yang tidak berdasar.

Resolusi internasional untuk memerangi Islamofobia memberikan angin segar bagi upaya komunitas Muslim untuk membangun citra positif Islam di mata dunia. Namun, langkah ini harus diiringi dengan upaya internal untuk memperkuat pendidikan, meneguhkan nilai-nilai Islam, dan menggalang solidaritas lintas agama.

Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, umat Islam adalah khaira ummah (umat terbaik), yang ditugaskan untuk menegakkan keadilan dan menyampaikan kebenaran. Dengan memegang prinsip ini, umat Islam semakin meneguhkan eksistensinya untuk berperan aktif dalam menciptakan dunia yang lebih beradab dan adil, bebas dari prasangka dan diskriminasi.

Langkah ini menegaskan bahwa Islam bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan sistem universal yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan global. Sebuah diin yang tidak hanya memberikan makna, tetapi juga solusi bagi kehidupan umat manusia.[]

*) Adam Sukiman, penulis intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta.

Pengabdian Tak Kenal Lelah Hidupkan Cahaya Islam di Pelosok Kalimantan Barat

0

SINTANG (Hidayatullah.or.id) — Sejak 2011, Ustadz Arif Subagyo, seorang dai asal Jawa Tengah, mengabdikan hidupnya untuk berdakwah di pedalaman Kalimantan Barat. Ia menetap di Dusun Jemelak Hulu, Desa Kebong, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang—sebuah wilayah dengan penduduk Muslim sebagai minoritas.

Meskipun penuh tantangan, Ustadz Arif terus berjuang memperjuangkan nilai-nilai Islam dan pendidikan bagi masyarakat setempat.

Pada 2015, Ustadz Arif mendirikan Panti Asuhan Insan Jemelak, yang saat ini menjadi rumah bagi 41 santri, termasuk anak-anak yatim piatu dan mualaf. Tempat ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah dan pendidikan agama.

“Alhamdulillah, keberadaan kami sudah diterima warga sekitar yang non-Muslim,” kata Ustadz Arif dengan syukur, meskipun tantangan besar masih membayangi.

Perjalanan menuju panti asuhan yang terletak di wilayah terpencil ini tidak mudah. Dari Pontianak, dibutuhkan waktu 8–10 jam perjalanan darat, dengan kondisi jalan yang cukup berat. Situasi geografis yang sulit kerap diperparah oleh ancaman banjir.

“Air hujan turun ke daerah rendah karena adanya peninggian jalan utama,” jelas Ustadz Arif seperti dalam keterangan diterima media ini, Sabtu, 5 Jumadil Akhir 1446 (7/12/2024), menggambarkan salah satu tantangan infrastruktur di wilayah tersebut.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Ustadz Arif terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari panti asuhan. Ia bahkan bekerja sampingan sebagai loper koran untuk mencukupi pengeluaran harian.

Panti Asuhan Insan Jemelak yang dia jalankan menjadi wadah pendidikan harapan di tengah keterbatasan. Anak-anak yang diasuh di sana mendapatkan pendidikan agama dan bimbingan moral yang kuat, meskipun fasilitas masih sangat sederhana.

Dengan upaya keras, Ustadz Arif dan istrinya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak, sambil terus memperkuat ikatan sosial dengan masyarakat sekitar yang sebagian besar non-Muslim.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Barat turut mendukung dakwah Ustadz Arif. “Kami rutin memberikan bantuan sembako, Al-Qur’an, dan hewan kurban setiap tahunnya,” ujar Anton Trimaryanto, Kadiv Prodaya BMH Kalbar.

Anton mengatakan, keteladanan Ustadz Arif dalam pengabdiannya untuk pembinaan masyarakat menggambarkan bahwa dakwah memerlukan pendekatan yang inklusif dan adaptif.

Kesuksesan Arif dalam membangun harmoni dengan warga non-Muslim menjadi pelajaran penting bahwa toleransi adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat multikultural.

Namun, perjalanan ini masih jauh dari kata selesai. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk memperbaiki fasilitas panti asuhan, mengatasi banjir yang sering terjadi, serta menyediakan akses pendidikan yang lebih baik bagi santri.

“Perjuangan beliau menjadi inspirasi untuk terus menghidupkan cahaya Islam di pelosok negeri, membawa harapan bagi generasi muda yang menjadi tumpuan masa depan,” kata Anton memungkasi.*/Herim

Menguatkan Transparansi dan Kepercayaan Melalui Jurnalisme Profesional

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar pelatihan menulis berita yang bertujuan meningkatkan kemampuan amil dalam menyampaikan informasi terkait kegiatan dan penyaluran zakat, infak, serta sedekah. Kegiatan ini berlangsung di kantor BMH di Tusam Timur Raya, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, pada Jum’at, 5 Jumadil Akhir 1446 (6/12/2024).

Pelatihan ini dipimpin oleh Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat. Dalam paparannya, Imam Nawawi menekankan bahwa kecepatan dan akurasi dalam menyampaikan berita merupakan kebutuhan mendesak di era digital.

“Masyarakat menginginkan informasi yang mudah diakses melalui internet,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya adaptasi lembaga filantropi terhadap ekspektasi publik yang kian menuntut transparansi.

Urgensi pelatihan ini terlihat jelas dalam konteks peran berita sebagai media membangun kepercayaan umat terhadap Laznas BMH. Imam Nawawi menjelaskan, berita adalah salah satu instrumen untuk membangun kepercayaan (trust). Hal ini merujuk pada fungsi berita sebagai sarana untuk menunjukkan akuntabilitas lembaga. Dengan transparansi yang disampaikan melalui laporan kegiatan, masyarakat dapat mengetahui bagaimana dana zakat, infak, dan sedekah dikelola dan disalurkan.

Pada sesi diskusi, seorang amil bernama Zulfan bertanya tentang cara efektif menarik minat donatur. Menjawab pertanyaan ini, Imam menegaskan bahwa kepercayaan adalah fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu. Ia menyatakan bahwa penyampaian berita yang kredibel dan relevan akan menjadi katalis utama dalam menarik dan mempertahankan dukungan masyarakat.

Kegiatan pelatihan ini dirancang untuk mempersiapkan amil menjadi komunikator yang andal dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan agar para amil mampu menyampaikan informasi secara efektif dan membangun kepercayaan umat.

Menurut Yusran, penyajian informasi yang jelas dan terstruktur tidak hanya membantu dalam pelaporan kegiatan, tetapi juga memperkuat citra profesional lembaga.

Pelatihan ini kata dia adalah langkah awal yang signifikan untuk memastikan bahwa seluruh amil BMH memiliki keterampilan dasar jurnalistik.

“Langkah berikutnya adalah memastikan implementasi dari keterampilan ini melalui pengawasan berkala terhadap berita yang diterbitkan. Transparansi dan konsistensi informasi adalah faktor kunci dalam menjaga kepercayaan publik,” katanya.*/Herim

Membaca Al-Qur’an sebagai Kurikulum Hidup, Hidupkan Jiwa dan Kuatkan Bangsa

0

AMALAN pagi selanjutnya setelah shalat shubuh berjamaah adalah membaca al-Qur’an. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk umatnya sebagai petunjuk dan mukjizat hingga akhir zaman. Alangkah bahagia bagi orang-orang yang telah menikmati pagi hari dengan bacaan al-Qur’an.

Ada ulama Saudi menceritakan tentang anak muda mengadu kepada seorang syaikh, bahwa hidupnya selalu dirundung masalah. Tidak selesai-selesai masalah hidupnya, dari satu masalah selesai ke masalah yang lain, terus begitu.

Anak muda itu bertanya kepada syaikh, “Apa saran Syaikh untuk masalah yang saya hadapi?”

“Baca al-Qur’an, jangan lewati satu hari-pun kecuali membaca al-Qur’an,” jawab syaikh singkat dan jelas.

“Iya Syaikh, saya butuh bantuan Anda untuk menyelesaikan masalah saya, kok, hanya disuruh membaca al-Qur’an,” kata anak muda itu.

Dia menganggap membaca al-Qur’an tidak penting dan bukan prioritas.

“Coba ikuti saran saya, silahkan pulang membaca beberapa ayat saja Al-Qur’an dan rutinkan setiap hari. Setelah sepekan, silahkan hubungi saya lagi,” kata Syaikh, tidak mau panjang lebar memberi saran.

Akhirnya anak muda itu pulang, ia mencoba mengikuti saran syaikh tersebut. Dia membatin, tidak ada salahnya mencoba dan mempraktikan saran dari syaikh.

Satu pekan berikutnya, dia menghubungi syaikh.

“Saya merasa hati saya plong, perasaan saya tenang dan masalah menjadi kecil hanya dengan membaca al-Qur’an beberapa ayat setiap hari,” katanya dengan wajah ceria dan bahagia.

Pelajaran dari kisah di atas untuk tidak sekalipun meninggalkan dalam sehari untuk membaca al-Qur’an. Sebab, orang yang tidak membaca al-Qur’an akan lemah hatinya, rapuh jiwanya, tidak menentu perasaan dan pikirannya.

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Bacaan terbaik bagi orang beriman adalah al-Qur’an. Tidak ada satu pun buku di dunia ini, meski best seller internasional yang bisa mengalahkan best seller-nya al-Qur’an.

Ia dicetak ratusan jutaan kali, dihafalkan, dan dipelajari oleh jutaan orang, dibeli jutaan manusia, dibaca milyaran kali, disebarkan ke seluruh pelosok dunia, terjaga orisinalitasnya sepanjang masa.

Al-Qur’an bukan bacaan biasa, tujuan diturunkan untuk menjadi petunjuk manusia. Di dalamnya ada 30 juz, 114 surat, 6236 ayat itu kurikulum hidup orang berirman. Dari urusan mau tidur hingga tidur kembali, urusan dunia hingga akherat, semua ada dalam al-Qur’an.

Al-Qur’an atas ijin Allah di hari Kiamat akan memberikan syafaat bagi para pembacanya. Bagi orang yang mencintai atau suka tadarus, tilawah al-Qur’an. Ini belum menghafal, mentadabburi, dan mengamalkannya. Rasulullah memberikan kabar gembira tersebut dalam hadist:

        عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

Membaca al-Qur’an juga dijanjikan pahala yang melimpah bagi setiap hurufnya, entah paham atau belum memahami maknanya. Sebagaimana Rasulullah sabdakan:

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).

Hanya amal membaca kitab al-Qur’an yang pahalanya melimpah setiap hurufnya. Maka rugi sekali bagi orang-orang yang melewatkan kesempatan untuk membaca al-Qur’an. Sebenarnya yang Rasulullah harapkan dari umatnya adalah untuk mencintai al Qur’an dengan terus membaca dan membaca al-Qur’an, apapun kondisi dan keadaannya.

Bagi orang yang belum bisa lancar membaca al Qur’an, selalu ada kesempatan mendapatkan kemuliaan al-Qur’an. Bahkan mendapatkan dua pahala atas bacaan dan mujahadah dalam kesulitan membaca al-Qur’an. Sebagaimana Sabda Rasulullah:

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ »

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

Paradok Kondisi Umat Islam di Indonesia

Sejak tahun 1990-an sudah mulai marak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di hampir seluruh kampung dengan ditemukan metode Iqra’. Apalagi beberapa tahun terakhir ini semakin banyak methode cara cepat membaca al-Qur’an dengan aneka ragam caranya.

Pondok pesantren khusus penghafal al-Qur’an juga tumbuh berkembang di mana-mana dengan jumlah santri ada yang ratusan dan ribuan santrinya. Rumah Qur’an, Majelis Qur’an juga banyak berdiri di berbagai tempat.

Sekolah-sekolah umum dan instansi kantor juga memiliki program wajib membaca al-Qu’an. Beasiswa kuliah gratis juga dibuka di beberapa perguruan tinggi negeri.

Hampir setiap tahun ada wisuda ribuan penghafal al-Qur’an dan acara tasmi’ khataman al-Qur’an juga hampir setiap akhir pekan dilaksanakan secara online dan offline dengan peserta yang banyak.

Lomba-lomba membaca, menghafal, tafsir, cerdas cermat al-Qur’an hampir setiap tahun dilaksanakan di tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional.

Namun, ternyata, belum banyak berpengaruh terhadap program pemberantasan buta huruf al-Qur’an sebagai upaya mencerdaskan dan menguatkan bangsa. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komjen Pol (Purn) Syafruddin mengingatkan sebanyak 65 persen umat Islam di Tanah Air tidak bisa membaca Al-Qu’ran.

Jadi, kalau 223 juta itu penduduk Indonesia adalah beragama Islam, maka sebanyak 145 juta umat Islam Indonesia tidak bisa membaca Al-Qu’ran dan buta secara umum.

Inilah kondisi yang masih paradok di Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Artinya masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) bagi umat Islam untuk bisa belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Lahan dakwah untuk mengajarkan al-Qur’an masih terbuka luas.

Beberapa tantangan umat Islam dalam mempelajari al-Qur’an. Pertama, terhantui stigma sulit membaca al-Qur’an karena bahasa dan huruf Arab. Kedua, malu atau gengsi jika sudah terlanjur remaja, dewasa atau tua untuk baru mulai belajar al-Qur’an dari nol atau huruf per huruf.

Lalu, Ketiga, sibuk atau tidak ada waktu luang untuk belajar karena mungkin pekerjaan atau aktivitas yang menyita waktunya. Keempat, bagi yang belajar al-Qur’an maindsetnya harus diluruskan bukan hanya untuk diri sendiri, mengejar kenikmatan pribadi tapi harus ada motivasi untuk mengajarkan kepada orang lain dan orang banyak tentang al-Qur’an.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Transformasi Iqra’ Bismirabbik, Meneguhkan Peran Islam dalam Pembangunan Manusia

0

WAHYU pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah yang sekilas mungkin terkesan sederhana namun sebenarnya memiliki makna mendalam: “Iqra’ Bismirabbik”—”Bacalah dengan nama Tuhanmu”.

Di tengah gemerlap peradaban Romawi yang mencapai puncak kejayaannya, Islam hadir bukan sekadar sebagai agama, tetapi sebagai sistem peradaban yang menempatkan pembangunan manusia sebagai inti kemajuan.

Bismirabbik menjadi pembeda dari cara-cara membaca konvensional, yang hanya mengutamakan aspek rasio tanpa bimbingan wahyu.

Membaca konvensional hanya mendorong manusia mengedepankan untung rugi secara materi, lalu melucuti kemanusiaannya sendiri.

Membaca dengan konsep Iqra’ Bismirabbik memajukan manusia untuk bisa berpikir bagiamana memberikan terang bagi alam, bagi seluruh umat manusia.

Islam punya metode yang sangat mendalam dan menyeluruh perihal membaca. Membaca yang tak mudah terkooptasi pretensi (hawa nafsu).

Momentum Transformasi Peradaban

Saat wahyu itu turun, dunia menyaksikan ketimpangan sosial yang mencolok. Peradaban besar seperti Romawi dan Persia memang maju dalam teknologi dan ilmu pengetahuan, namun banyak masyarakatnya terjebak dalam praktik ketidakadilan dan eksploitasi.

Islam datang sebagai koreksi sosial, menyelaraskan kembali settingan yang salah dalam tatanan masyarakat. Tujuannya jelas: membangun sumber daya manusia yang berkualitas, yang tidak hanya berilmu tetapi juga berakhlak mulia.

Jika kemudian lahir sosok seperti Ibn Mas’ud yang pakar dalam hal Alquran, maka itu bagian dari buah Iqra’ Bismirabbik.

Termasuk sosok yang begitu populer dalam hal ekonomi, Abdurrahman bin Auf. Ia mendapat tawaran kenikmatan materi luar biasa dari persaudaraan yang ditetapkan Nabi. Namun ia hanya meminta diberi tahu, pasar ada dimana.

Abdurrahman tampak sangat memahami bahwa dengan menjadi Muslim yang taat, dengan bekal Iqra’ Bismirabbik, dirinya akan memperoleh kejayaan yang mendorong dirinya bermanfaat bagi perjuangan umat.

Jangan lupa ada pula sosok muda bernama Zaid bin Tsabit. Dalam 14 hari ia berhasil menguasai bahasa Yahudi. Kemudian dalam tempo 28 hari ia menjadi ahli dalam bahasa Suryani. Betapa kesadaran Iqra’ Bismirabbik mampu melahirkan revolusi belajar yang sangat kuat, meski saat itu belum dikenal alat penerjemah bahasa seperti sekarang apalagi AI.

Membangun Sumber Daya Manusia

Dalam sejarah peradaban Islam, manusia menjadi fokus utama pembangunan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Demikianlah yang tercermin dalam wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad, “iqra’ bismirabbik” itu, yang menjadi landasan epistemologis dan spiritual bagi umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Peradaban Islam memahami ilmu sebagai anugerah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab. Di sini, pengetahuan bukan sekadar alat eksplorasi dunia materi, tetapi juga sarana mencapai kesadaran ilahi dan keseimbangan sosial.

Prinsip tersebut memastikan bahwa ilmu tidak hanya menciptakan kecerdasan teknis, tetapi juga membentuk manusia yang bermartabat dan beretika.

Sebagai contoh, era keemasan Islam pada abad ke-8 hingga ke-13 menunjukkan integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama. Para pemikir seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali menggambarkan bagaimana ilmu filsafat, kedokteran, dan teologi dapat berkembang berdampingan, menjawab kebutuhan spiritual dan praktis masyarakat.

Dengan demikian, spirit wahyu “iqra’ bismirabbik” tidak sekadar menjadi penanda dalam memahami tanda-tanda alam, merenungi ciptaan Tuhan, dan menggali hikmah di balik setiap peristiwa, tetapi sebuah panduan abadi bagi umat Islam untuk terus membangun peradaban yang menghormati hakikat kemanusiaan melalui ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Integrasi antara ilmu, moralitas, dan spiritualitas inilah yang menjadi keunikan serta kekuatan utama peradaban Islam. Saat Rasulullah SAW mendapat tawanan pasca perang Badar. Sebagian dari mereka ada yang ahli membaca dan menulis.

Maka, Nabi SAW memberi syarat pembebasan kepada tawanan itu dengan syarat, mampu mendidik anak-anak muda di Madinah membaca dan menulis. Dengan demikian, manusia diharapkan mampu berpikir kritis, visioner, dan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi.

Menegakkan Keadilan dan Kebenaran

Telaah makna iqra’ bismirabbik sejatinya juga menawarkan refleksi yang tajam mengenai ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang menjadi tantangan universal sepanjang sejarah manusia.

Islam, dengan visi keadilan yang inheren, hadir sebagai respons progresif terhadap realitas ini. Salah satu instrumen utamanya adalah konsep zakat, infak, dan sedekah, yang berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan yang berkeadilan.

Zakat, dalam kerangka Islam, bukan semata kewajiban ritual, melainkan sebuah sistem sosial yang dirancang untuk mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin. Dengan membebankan tanggung jawab kepada mereka yang memiliki kelebihan harta, zakat memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

Disinilah makna mendalam Iqra’ Bismirabbik merefleksikan pentingnya ilmu yang diaplikasikan untuk kebaikan. Dalam konteks zakat, ilmu tentang keuangan dan sosial diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk menciptakan kesejahteraan kolektif.

Dengan mengintegrasikan prinsip keadilan sosial ini, Islam menawarkan paradigma yang relevan untuk mengatasi ketimpangan global di era modern.

Demikian pula dalam aspek pendidikan, dimana hal ini merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang berkelanjutan dan progresif.

Dengan pendekatan yang terintegrasi, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika dan moral yang esensial untuk melahirkan individu yang cerdas secara intelektual sekaligus tangguh secara spiritual, siap menghadapi kompleksitas tantangan zaman.

Sebagai investasi strategis, pendidikan memberikan dampak jangka panjang yang signifikan pada kemajuan sosial dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Iqra’ Bismirabbik Solusi Global

Di tengah kompleksitas tantangan global seperti ketimpangan sosial, krisis moral, dan degradasi lingkungan, kembali pada semangat Iqra’ Bismirabbik—membaca dengan kesadaran ilahiah—adalah langkah esensial. Dengan memahami realitas melalui perspektif keimanan, solusi yang menyentuh akar masalah dapat ditemukan.

Konflik Ukraina-Rusia, misalnya, dapat diakhiri jika pemimpin dunia melampaui pretensi rasional dan membaca situasi dengan mendalam. Demikian pula, keadilan untuk Palestina tidak akan menjadi utopia jika dunia membaca dengan hati nurani yang bebas dari kebencian historis.

Pertanyaan yang mendesak sekarang adalah, siapa yang siap memimpin penerapan Iqra’ Bismirabbik untuk membawa umat manusia menuju harmoni yang penuh kasih sayang? Sebuah panggilan untuk pemimpin sejati yang berkomitmen pada solusi holistik.[]

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Kebijaksanaan Rasulullah Menimbang Saran dengan Hati Terbuka

0

DALAM kajian psikologi sosial dan budaya, sifat manusia untuk menerima atau menolak saran adalah fenomena yang kompleks. Secara umum, sulit menemukan individu yang sepenuhnya menolak saran. Namun, kecenderungan untuk bersikap defensif atau merasa diri lebih unggul dibandingkan orang lain tetap merupakan sifat yang sering muncul dalam interaksi sosial.

Menurut perspektif psikologi, sifat ini berakar pada ego manusia yang cenderung mempertahankan harga diri dan identitas diri. Carl Rogers, salah satu tokoh penting dalam psikologi humanistik, mengemukakan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mempertahankan konsep dirinya. Dalam situasi di mana saran dianggap sebagai ancaman terhadap konsep diri, respons defensif seperti penolakan saran menjadi mekanisme perlindungan.

Fenomena semacam ini juga dapat dilihat dalam konteks sosial. Dalam masyarakat yang semakin individualistik, penghargaan terhadap opini pribadi sering kali menjadi prioritas, bahkan melebihi nilai-nilai kolaborasi. Seseorang yang merasa dirinya “lebih” dibandingkan orang lain cenderung menunjukkan sikap superioritas untuk menutupi rasa tidak aman yang mendasarinya.

Kendati demikian, dalam era keterbukaan informasi saat ini, kebanyakan individu semakin menyadari pentingnya menerima perspektif yang beragam. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan untuk menerima saran dan kritik konstruktif berkorelasi positif dengan perkembangan pribadi dan profesional. Di sisi lain, penolakan terhadap saran sering kali membatasi peluang untuk tumbuh dan beradaptasi.

Kebijaksanaan

Nabi kita, Rasulullah Muhammad SAW telah banyak memberikan teladan yang menakjubkan dalam bagaimana menerima masukan dengan bijaksana. Diantaranya, dalam Kisah Perang Badar yang menjadi salah satu contoh nyata yang mencerminkan sifat terbuka beliau terhadap saran strategis.

Ketika Rasulullah SAW mengusulkan strategi menguasai sumur Badar, seorang sahabat, Khabab ibn Mundzir ra, dengan penuh hormat bertanya, “Apakah ide ini berasal dari wahyu atau strategi perang semata?”

Setelah dijelaskan bahwa itu adalah strategi, Khabab lantas memberikan masukan agar markas dipindah lebih dekat ke posisi musuh dengan taktik penutupan sumur untuk memonopoli air.

Menariknya, Rasulullah SAW tidak merasa terhina. Beliau bahkan memuji saran itu, “Pendapatmu sungguh baik.” Masukan tersebut kemudian dilaksanakan, dan kaum Muslimin meraih kemenangan besar. Peristiwa ini mencerminkan sikap kepemimpinan yang tidak egois, melainkan mengedepankan rasionalitas dan manfaat kolektif.

Ilusi Superioritas

Sayangnya, sikap seperti Rasulullah SAW ini semakin jarang ditemui. Banyak individu atau pemimpin yang terjebak dalam cognitive bias atau ilusi superioritas. Mereka cenderung melebih-lebihkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, sehingga menutup diri terhadap masukan dari pihak lain.

Bias ini dapat berujung pada sikap arogan, reaktif, dan menolak gagasan tanpa mempertimbangkan relevansi atau validitasnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dalam komunitas atau organisasi, di mana hierarki sering kali menjadi penghambat pertukaran ide. Pendapat atasan atau pemimpin cenderung lebih dihargai, meskipun tidak selalu berdasarkan fakta atau keahlian.

Hal ini menjadi pengingat penting bahwa kesuksesan sebuah organisasi tidak bergantung pada satu individu, melainkan kolaborasi seluruh elemen yang mampu mendengar, berpikir kritis, dan memberikan solusi inovatif.

Sikap terbuka terhadap saran adalah langkah awal menuju perbaikan dan inovasi. Seperti yang dikatakan Albert Einstein, “The more I learn, the more I realize how much I don’t know”. Kutipan ini menekankan pentingnya kerendahan hati intelektual dalam menerima kritik dan memperluas wawasan.

Adam Grant dalam bukunya “Think Again” juga menyoroti perlunya berpikir seperti ilmuwan—mempertanyakan asumsi, menerima masukan sebagai data, dan terus memperbarui pemahaman. Sikap ini mengejawantah kecerdasan sejati dan kemampuan adaptasi yang menjadi kunci keberhasilan di dunia yang terus berubah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tidak ada ide yang sempurna tanpa diskusi. Dengan mendengar saran, bahkan dari pihak yang dianggap “lebih rendah” dalam hierarki, kita dapat menciptakan keputusan yang lebih bijaksana dan hasil yang lebih optimal.

Sarana Musyawarah

Pada akhirnya, penting untuk membangun budaya diskusi dan musyawarah sebagai sarana penting untuk memupuk keterbukaan pikiran. Bahkan, saran yang kurang relevan sekalipun harus dilihat sebagai peluang untuk memberikan bimbingan dan memperkaya perspektif.

Daripada menolak mentah-mentah, para pemimpin dan pakar sebaiknya memanfaatkan momen tersebut untuk menciptakan ruang pembelajaran bagi semua pihak.

Kisah Rasulullah SAW di Perang Badar memberikan pelajaran mendalam bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang mendengar, menghargai, dan melibatkan orang lain dalam proses pengambilan keputusan. Jika beliau dapat menerima kritik dengan senyuman, lalu mengapa kita harus merasa terhina?

Di masa kini, di mana dinamika perubahan sangat cepat, sikap keterbukaan terhadap saran menjadi kebutuhan mendesak. Membangun budaya diskusi yang sehat bukan hanya memperkuat hubungan interpersonal tetapi juga menciptakan komunitas yang hidup, penuh gairah, dan inovatif.

Sikap Rasulullah SAW yang menghargai masukan orang lain adalah cerminan visi kepemimpinan yang abadi. Dengan meneladani prinsip ini, kita dapat membangun kehidupan yang lebih baik, baik dalam lingkup individu, komunitas, maupun organisasi.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita siap untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam merangkul saran dengan hati yang terbuka?

*) Adam Sukiman, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta. Diserap dari serak risalah pengajian pekanan Prospect pada Sabtu, 23 November 2024.

Kolaborasi SAR Hidayatullah dan Perguruan Tinggi dalam Membangun Generasi Berdaya Saing

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, sebagai badan pendukung ormas Hidayatullah, terus menunjukkan komitmennya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini, dan rehabilitasi pasca-bencana.

Kini, SAR Hidayatullah memperluas dampaknya melalui kolaborasi strategis dengan Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) untuk mendukung proses pengkaderan mahasiswa.

Kerjasama ini diwujudkan melalui program Training Center 40 Hari (TC-40H), yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa sekaligus meningkatkan potensi kerelawanan mereka.

Nota kesepahaman kerjasama antara SAR Hidayatullah dan Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah resmi ditandatangani pada Rapat Koordinasi Nasional Perguruan Tinggi Hidayatullah (Rakornas PTH) 2025, di Bandung, Jawa Barat, Rabu, 4 Jumadil Akhir 1446 (5/12/2024).

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill dalam menjawab tantangan era modern yang kompleks.

Dia menjelaskan, hard skill merupakan elemen esensial dalam membangun kompetensi teknis yang mumpuni. Keterampilan ini melibatkan keahlian spesifik yang sering kali dapat diukur secara kuantitatif, seperti kemampuan analisis data, penguasaan perangkat lunak, atau keahlian teknis lainnya.

Idealnya, kata dia, mahasiswa dibekali dengan hard skill yang solid untuk menghadapi tantangan dunia profesional. Namun, realitas menunjukkan bahwa hard skill saja tidak cukup untuk memastikan keberhasilan di dunia kerja atau dalam kehidupan bermasyarakat.

Soft skill, yang mencakup kemampuan interpersonal, komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah, menjadi elemen penting yang melengkapi hard skill.

“Maka, bekal soft skill berupa kemampuan non-teknis menjadi bagian kepribadian mahasiswa agar dapat memimpin dengan efektif dan menyelesaikan masalah tanpa menciptakan masalah baru,” ujarnya.

Menurut Irwan, integrasi penguasaan hard skill dan soft skill merefleksikan pendekatan kepemimpinan holistik yang relevan dengan tantangan abad ke-21 dewasa ini.

Dia menambahkan, kemampuan untuk memahami dan beradaptasi terhadap situasi yang kompleks menjadi indikator keberhasilan mahasiswa di masa depan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi ahli dalam disiplin ilmu tertentu, tetapi juga pemimpin yang bijak, visioner, dan berempati.

Lebih jauh Harun menjelaskan, pendekatan TC-40H tidak hanya melibatkan penguasaan teknis, tetapi juga membangun kesadaran mahasiswa tentang urgensi manajemen waktu dan keberanian mengambil keputusan.

Program ini diharapkan dia melahirkan mahasiswa dengan kemampuan apresiatif, yakni mereka yang dapat menghargai setiap pencapaian meskipun itu bukan tujuan utama.

Sebelumnya, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidyatullah sebagai leading sektor gagasan TC-40H ini telah menyelenggarakan program selama 2 tahun terakhir ini yang dilaksanakan sebanyak 2 kali yaitu untuk mahasiswa baru dan mahasiswa calon sarjana yang akan dilepas di bursa kerja. “Terima kasih kepada STIEHidayatullah yang telah memberikan ruang terhadap pelaksanaan program ini dengan baik,” kata harun.

Ketua Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Siddiq, M.Pd, menyebut TC-40H sebagai inisiatif yang sangat relevan dan dibutuhkan untuk mendukung proses pengkaderan di perguruan tinggi. “Ini adalah program yang sangat dinantikan, terutama untuk memperkuat proses pembentukan karakter di masing-masing PTH,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan oleh Sumarno, M.Pd.I, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun Kepulauan Riau, yang melihat program ini sebagai elemen penting dalam proses akreditasi institusi.

Sementara itu, Moh. Idris, M.Pd.I, Ketua STAI Lukman Al Hakim Surabaya, berharap TC-40H dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Ketua Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Drs. Miftakhuddin, M.Si, juga memberikan apresiasi terhadap kerjasama ini.

“Jika program ini berhasil mencapai 30 persen targetnya saja, maka pendidikan dan pengkaderan di PTH sudah berada di jalur yang sangat baik,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, dia berharap, dapat semakin mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan akademik sekaligus menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Dengan perpaduan pendidikan, kerelawanan, dan karakter, mahasiswa PTH diharapkan menjadi generasi unggul yang mampu memberikan dampak positif di berbagai bidang,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Nenek Atikah, Mujahidah Daiyah Hidayatullah Berpulang ke Rahmatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keluarga besar Hidayatullah berduka. Salah satu kader putri seniornya, Ustadzah Atikah, berpulang ke Rahmatullah pada hari ini, Kamis, 3 Jumadil Akhir 1446/ 05 Desember 2024, di Rumah Sakit Umum Daerah Aji Batara Agung Dewa Sakti, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, setelah menjalani perawatan intensif.

Nenek Tika, begitu ia biasanya disapa, merupakan mujahidah daiyah Hidayatullah yang telah banyak menjalani tugas dakwah mendampingi sang suami, Ustadz Amin Bahrun, di berbagai daerah di Tanah Air.

Dari Gunung Tembak Balikpapan, tempat awal perjalanan dakwah mereka dimulai, hingga ke pelosok Berau, bahkan ke ujung Papua, Nenek Tika selalu berada di sisi suaminya. Bukan sekadar mendampingi, beliau juga menjadi pilar kokoh yang menopang setiap langkah dakwah dan menjadi penghibur hati di tengah segala ujian dan rintangan.

Ketika akhirnya mereka kembali ke Balikpapan, kota yang telah menjadi saksi awal perjuangan mereka, takdir Allah menentukan bahwa itulah tempat peristirahatan terakhirnya. Beliau wafat dengan meninggalkan jejak cinta, pengorbanan, dan keteladanan yang akan terus hidup dalam hati keluarga besar Hidayatullah.

Nenek Tika bukan sekadar nama di hati keluarga besar Hidayatullah; ia adalah lambang cinta dan dedikasi yang tiada tara.

Kesetiaan beliau tidak hanya tercermin dalam perjalanannya mendampingi sang suami, tetapi juga dalam pelayanannya kepada umat. Nenek Tika adalah sosok ibu yang hangat, nenek yang penuh cinta, dan sahabat yang tulus bagi siapa saja yang mengenalnya. Senyum ramah dan tutur kata lembutnya mampu menenangkan hati, bahkan di saat-saat sulit.

Sebagai upaya mengenang jasa dan menyerap spirit keteladanan yang telah ia tunjukkan dalam berkhidmat di jalan dakwah khususnya di Papua, pada tanggal 29 Januari 2022 diresmikan rumah susun santri Ponpes Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Arfai II Kelurahan Anday Distrik Manokwari Selatan Kabupaten Manokwari Papua Barat yang diresmikan oleh Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si.

Ketua Dewan Murobbi Wilayah Sultan, S.Pd.I sebagai moderator dalam acara peresmian ini menjelaskan rusun tersebut dinamai rusun “Ummu Atikah”. Dia menjelaskan, nama ini didedikasikan untuk istri dari pendiri Ponpes Hidayatullah Manokwari Ust Amin Bahrun almarhum.

“Kita berikan nama rusun ini dengan nama rusun ‘Ummu Atikah’ ini kami dedikasikan untuk ibu Atikah istri dari almarhum Ust Amin Bahrun,” kata Sultan.

Sultan menambahkan, sebelumnya Aula pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari kami namai “Aula Amin Bahrun”. Menurut dia, nama-nama ini merupakan hasil musyawarah para pengurus untuk mengenang jasa pendiri yang tidak bisa dibalas dengan apapun.

“Kami pengurus sudah sepakat untum memberikan nama-nama ini untuk mengenang kebaikan-kebaikan pendiri dan menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ungkap Sultan.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhumah, melipatgandakan pahala atas semua amal kebaikannya, dan menempatkan beliau di surga-Nya yang terbaik, bersanding kembali dengan suaminya tercinta.*/Muhammad Anzar

Hidayatullah Sampaikan Selamat Tanwir dan Milad ke-112 Muhammadiyah

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah melalui Ketua Bidang Tarbiyah, Ir. H.M. Abu A’la Abdullah, MHI, menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya peringatan Milad ke-112 Muhammadiyah dan pelaksanaan Sidang Tanwir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlangsung pada 4-6 Desember 2024.

Abu A’la Abdullah menegaskan pentingnya peran Muhammadiyah sebagai salah satu pilar utama umat Islam di Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.

“Semoga Muhammadiyah dan Hidayatullah bersama ormas Islam lainnya terus mengawal dan menjaga arah Bangsa dan NKRI,” kata Abu A’la Abdullah kepada media ini, Kamis, 3 Jumadil Akhir 1446 (5/12/2024).

Sejak didirikan pada tahun 1912, Muhammadiyah telah menjadi organisasi keagamaan terbesar yang memberi perhatian besar pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Langkah konkret Muhammadiyah terlihat dari pendirian ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga panti asuhan yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. “Semua itu dibangun atas semangat pengabdian kepada Allah SWT dan untuk memajukan kehidupan bangsa yang menginspirasi kita semua,” katanya.

Abu A’la Abdullah mengapresiasi khusus pada upaya Muhammadiyah yang tetap konsisten menjaga arah pendidikan nasional melalui pendekatan holistik yang bukan sekadar proses transfer ilmu tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter yang relevan untuk mendorong Indonesia menjadi bangsa unggul dan mampu bersaing dalam dunia modern tanpa kehilangan identitas keislamannya.

“Pendidikan integral berbasis Tauhid, sebagaimana ditekankan Hidayatullah, adalah konsep yang menyatukan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial dalam membangun manusia yang berakhlak mulia. Pendekatan ini tidak hanya relevan dalam memperkuat jati diri bangsa, tetapi juga menjadi landasan kokoh bagi kemajuan yang berperadaban,” kata Abu A’la Abdullah.

Lebih jauh Abu A’la mengemukakan bahwa kolaborasi Muhammadiyah, Hidayatullah, dan organisasi Islam lainnya menjadi kekuatan yang strategis untuk mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Abu A’la Abdullah menekankan pentingnya sinergi ini dalam menghadapi tantangan globalisasi yang kerap menggoyahkan nilai-nilai kebangsaan.

“Pendidikan bermakna adalah kunci untuk menghasilkan generasi unggul yang mampu mengemban amanah dalam membangun bangsa yang maju dan jaya,” katanya.

Dia berharap semoga semangat kolaborasi ini terus menguat, sehingga umat Islam dapat terus menguatkan perannya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan menjadikan Tauhid sebagai pijakan utama, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya diharapkan dapat terus membawa Indonesia menuju peradaban yang mulia dan menjadi bangsa teladan di dunia internasional.

“Selamat dan sukses untuk Muhammadiyah di usianya yang ke-112. Semoga senantiasa menjadi cahaya pembaruan dan pengabdian bagi umat dan bangsa,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakernas BMH 2025 Kukuhkan Inovasi untuk Transparansi dan Akuntabilitas

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2025 selama 2 hari yang mengusung tema “Inovasi Layanan Berbasis Data untuk Mewujudkan Transparansi & Akuntabilitas” di Banten dibuka pada Rabu, 4 Jumadil Akhir 1446 (5/12/2024).

Dalam sambutannya, Bati Andalo, Ketua Panitia sekaligus Kepala Perwakilan BMH Banten, menegaskan makna strategis penyelenggaraan Rakernas yang kali ini digelar di Banten.

“Dipilihnya Banten sebagai tuan rumah menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar,” ungkapnya, seraya mengajak peserta memanfaatkan momentum ini untuk mendukung program strategis BMH ke depan.

Ketua Pengurus BMH Pusat, Firmanza, menyoroti esensi inovasi berbasis data dalam meningkatkan kepercayaan publik. “2025 adalah momentum untuk menjadikan BMH sebagai Laznas terdepan dalam transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya penuh tekad.

Dia menekankan, transparansi selalu menjadi kebutuhan utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Karena itu, Rakernas 2025 menjadi langkah awal dalam menghadapi tantangan baru, mempertegas komitmen BMH sebagai Laznas unggul yang amanah dan profesional.

Senada dengan itu, Nashirul Haq, Ketua Pembina BMH, menekankan pentingnya perpaduan profesionalisme dan spiritualitas dalam kinerja amil. “Amil harus amanah, kerja tuntas, dan rutin qiyamullail. Kita harus jadi Laznas yang berbeda,” pesannya.

Dengan dihadiri perwakilan BMH dari seluruh Indonesia, Rakernas ini dirancang untuk memperkuat sinergi dan inovasi pengelolaan dana umat berbasis teknologi.*/Herim