Sebanyak 18 da’i dan pengurus Hidayatullah Jawa Timur mendapatkan penghargaan berupa umrah dalam “Hidayatullah Jatim Awards 2025”. Penghargaan ini diberikan pada acara penutupan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Jatim di Situbondo, Ahad (19/01/2024).
Apresiasi umrah ini diberikan kepada kader Hidayatullah yang dinilai memiliki peran luar biasa dalam dakwah dan pengelolaan organisasi. Penghargaan ini terbagi dalam tiga kategori, yakni Da’i Tangguh, Da’i Khusus, dan DPD Berprestasi.
Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muh Idris, menjelaskan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi organisasi terhadap kinerja pengurus dan kader dalam menjalankan program-program dakwah dan organisasi.
“Hidayatullah Jatim Award adalah upaya organisasi untuk memberikan penghargaan atas kinerja pengurus dan kader dalam melaksanakan program-program organisasi,” ujarnya.
Dalam kategori Da’i Tangguh, penghargaan diberikan kepada kader yang telah lama mengabdi dan berdakwah di masyarakat. Da’i Khusus diperuntukkan bagi mereka yang memiliki spesialisasi dalam berdakwah di wilayah yang lebih sulit, seperti daerah pelosok, dengan segala tantangan yang dihadapi.
Sedangkan DPD Berprestasi diberikan kepada Dewan Pengurus Daerah (DPD) yang dinilai berhasil meraih hasil evaluasi terbaik dalam menjalankan program dan kegiatan dakwah.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) sebagai gerakan swadaya dalam usaha pengembangan kapasitas dan kuantitas dai didodong untuk terus menghadirkan inovasi dalam menjawab tantangan kekinian. Demikian ditekankan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, saat menyampaikan arahan pada pembukaan Rapat Kerja Yayasan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) yang digelar di Jakarta, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).
Nursyamsa menyoroti berbagai tantangan dakwah Islam di era modern sekaligus menggarisbawahi pentingnya strategi inovatif untuk menghadapi perubahan zaman.
“Dakwah Islam saat ini menghadapi arus tantangan yang semakin kompleks. Di antaranya, digitalisasi, materialisme, sekularisme, serta pluralitas budaya dan agama. Semua ini menuntut pendekatan dakwah yang lebih strategis, inovatif, dan kontekstual,” ungkap Nursyamsa.
Digitalisasi dan maraknya penggunaan media sosial menjadi sorotan utama. Menurut Nursyamsa, meskipun media sosial memberikan peluang besar untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, platform ini juga membawa risiko besar. Penyebaran informasi yang salah atau tidak akurat tentang Islam sering kali memengaruhi persepsi masyarakat.
“Di tengah derasnya arus informasi, pesan dakwah sering tenggelam di antara konten-konten lain yang tidak relevan. Tantangan kita adalah bagaimana memastikan pesan Islam yang autentik mampu menjangkau audiens yang lebih luas,” katanya, seperti dikutip dari laman posdai.or.id.
Nursyamsa menambahkan, generasi muda yang akrab dengan teknologi membutuhkan jawaban cepat dan relevan dengan kehidupan mereka. Hal ini memerlukan metode dakwah yang lebih inovatif dan dinamis. “Para dai harus mendidik diri mereka sendiri untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan efektif,” ujarnya tegas.
Sekularisme dan Materialisme
Selain digitalisasi, Nursyamsa juga menyinggung ancaman sekularisme dan materialisme yang semakin merasuki kehidupan masyarakat. Nilai-nilai ini kerap kali bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan spiritualitas dan moralitas.
“Masyarakat kita mulai mengadopsi nilai-nilai yang memprioritaskan kebendaan dan mengesampingkan aspek-aspek spiritual. Karena itu, dakwah Islam harus berfungsi sebagai pengingat, bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada materi tetapi juga pada hubungan dengan Sang Pencipta,” jelasnya.
Konteks pluralitas dan multikulturalisme Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri dalam dakwah Islam. Menurut Nursyamsa, penyampaian dakwah harus dapat menyesuaikan diri dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensi ajaran Islam.
“Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Artinya, nilai-nilai Islam harus mampu merangkul semua kalangan, tanpa memandang latar belakang budaya atau agama. Namun, ini bukan tugas yang mudah. Para dai harus memahami konteks masyarakat mereka dengan baik,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya melawan stereotip negatif tentang Islam yang sering kali dikaitkan dengan radikalisme. “Tindakan radikal yang dikaitkan dengan Islam hanya memperburuk citra agama kita ini. Kita harus mengedukasi masyarakat tentang Islam yang memiliki jatidiri al wasathiyah,” tegasnya.
Nursyamsa juga mengingatkan bahwa dakwah yang efektif dimulai dari diri sendiri. Banyak umat Islam, menurutnya, yang masih belum memahami ajaran agama secara mendalam. Hal ini dapat menjadi hambatan besar dalam menyampaikan pesan Islam yang autentik.
“Pemahaman mendalam tentang Islam adalah kunci. Kita para para dai harus terus belajar, mengasah kemampuan, dan memperkaya ilmu agar mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi umat,” tuturnya.
Langkah Strategis PosDai
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, Nursyamsa menguraikan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan PosDai dan para dai. Diantaranya dia mendorong adanya pemanfaatan teknologi secara bijak.
“Para dai harus dibekali dengan keterampilan memanfaatkan teknologi, sehingga pesan dakwah dapat menjangkau lebih banyak orang dan tetap nyambung di era digital,” katanya, seraya menekankan pentingnya penguasaan ilmu agama yang berkualitas.
Menurutnya, pendidikan agama harus dirancang untuk menghasilkan dai yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu memahami konteks sosial-budaya masyarakat.
“Metode dakwah harus fleksibel dan kontekstual, sesuai dengan karakteristik audiens yang beragam. Hal ini penting untuk memastikan pesan Islam dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan,” ujarnya.
Berikutnya, Nursyamsa melihat pentingnya kolaborasi dengan berbagai Komunitas. Dia menegaskan bahwa kolaborasi dengan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat merupakan cara efektif untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang Islam.
Di penghujung sambutannya, Nursyamsa menyerukan pentingnya semangat kolaborasi dan pembaruan di kalangan para dai.
“Kita semua adalah bagian dari perjuangan dakwah Islam. Mari terus bergerak bersama untuk membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” imbuhnya sambil mendorong agar Rapat Kerja Yayasan Persaudaraan Dai Indonesia semakin memantapkan arah dakwah Islam di masa depan dan mampu menjadi motor penggerak dakwah yang inklusif dan relevan di tengah dinamika zaman. (ybh/hidayatullah.or.id)
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat ke-V berlangsung meriah yang pembukaannya digelar di Aula Hotel Valdos, Manokwari, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).
Acara ini dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi provinsi, tokoh agama, dan organisasi masyarakat Islam se-Papua Barat, menandai pentingnya sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah dalam membangun Papua Barat.
Rakerwil kali ini menarik antusiasme luar biasa, terlihat dari penuhnya Aula Valdos oleh peserta dan undangan. Di antara tamu yang hadir adalah Gubernur Papua Barat terpilih, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si; Penjabat Gubernur Papua Barat Drs. Ali Baham Temongmere yang diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan, dr. Alwan Rimosan; serta Anggota DPD RI Lamek Dwansiba, A.Md.
Hadir pula Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat KH Ahmad Nausrau dan jajaran, wakil Pangdam XVIII Kasuari dan Kapolda, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Papua Barat Luksen Jems Mayor, Ketua Baznas Papua Barat Ali Mustofa, serta para alim ulama dan pimpinan organisasi masyarakat.
Kehadiran para peserta internal dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, perwakilan lima pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD), serta berbagai unsur pendukung Hidayatullah turut menyemarakkan acara.
Wakil Sekretaris Jenderal I DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.S.I, sebagai pendamping dari pusat memberikan arahan strategis, menegaskan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah dan swasta untuk menjalankan agenda-agenda keumatan.
Abdul Ghofar menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, tantangan keumatan di Papua Barat memerlukan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan organisasi masyarakat.
“Potensi dakwah dan pendidikan di Papua Barat ini luar biasa. Masih banyak ruang kosong untuk berkarya dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Namun, keberhasilan tidak mungkin dicapai sendirian. Sinergi dengan berbagai pihak adalah kunci,” ujar Ghofar.
Ia juga mengapresiasi DPW Hidayatullah Papua Barat yang tetap konsisten menjalankan program meskipun menghadapi tantangan, seperti pemekaran wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia.
“Pemekaran DPW Papua Barat Daya memang memberikan tantangan tersendiri, tetapi Hidayatullah Papua Barat mampu menjaga stabilitas program-programnya. Ini adalah bukti komitmen untuk terus berkontribusi kepada masyarakat,” tambahnya.
Apresiasi dan Harapan dari Pemerintah Papua Barat
Pj. Gubernur Papua Barat, melalui sambutan tertulis yang dibacakan oleh dr. Alwan Rimosan, menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah di Papua Barat. Menurutnya, Hidayatullah telah memberikan kontribusi signifikan dalam pendidikan, dakwah, dan pembangunan sosial.
“Kami berharap Hidayatullah terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Papua Barat yang unggul dan berdaya saing. Selain itu, Hidayatullah juga dapat menjadi benteng moral bagi generasi muda dari ancaman narkoba, radikalisme, LGBT, dan perilaku menyimpang lainnya,” ujar dr. Alwan.
Lebih lanjut, Alwan mengapresiasi keberhasilan Hidayatullah dalam mengelola pesantren dari jenjang pendidikan usia dini hingga SMA/MA, serta membangun Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang berperan penting dalam membantu anak-anak kurang mampu agar mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang layak.
“Pembangunan asrama putri yang dibantu oleh Dinas Pekerjaan Umum Pusat menjadi salah satu bukti nyata dukungan kami terhadap program-program Hidayatullah. Kami berharap hasil Rakerwil ini dapat disampaikan kepada pemerintah agar kerja sama yang lebih baik bisa terwujud,” tambahnya.
Rakerwil ini juga menjadi momentum untuk menggarisbawahi peran strategis generasi muda dalam pembangunan Papua Barat. Alwan Rimosan menyebutkan bahwa generasi muda harus dilindungi dari ancaman sosial yang kian kompleks.
“Hidayatullah dapat menjadi benteng moral yang melindungi anak-anak muda dari pengaruh negatif, seperti narkoba dan radikalisme. Ini adalah tugas mulia yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Selain itu, pembangunan SDM unggul melalui pendidikan berbasis pesantren yang dikelola Hidayatullah mendapat pujian khusus. Menurut Alwan, pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga mencetak individu-individu yang mampu bersaing secara global.
Acara pembukaan Rakerwil ditutup dengan harapan besar dari seluruh peserta agar Hidayatullah Papua Barat terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan perubahan positif.
Gubernur Papua Barat terpilih, Dominggus Mandacan, juga memberikan dorongan agar hasil Rakerwil ini dapat diimplementasikan secara nyata untuk kemaslahatan masyarakat Papua Barat.*/Miftahuddin
DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bali mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang diwarnai dengan sebuah momen pemberian apresiasi kepada lima Dai Tangguh terbaik di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Jl. Raya Pemogan Gang Taman, Sakah, Desa Pemogan , Kecamatan Denpasar Selatan, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).
Acara yang digelar dengan semangat kolaborasi ini menjadi panggung untuk mengapresiasi para da’i yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam tugas mereka di berbagai daerah di Provinsi Bali.
Sekretaris DPW Hidayatullah Bali, Pungki Humardani, menyampaikan apresiasi Mitra Kolaborator Kebaikan BMH Perwakilan Bali dengan kategori Dai Tangguh ini diberikan kepada dai yang loyal dan istiqamah menjalankan tugas di pelosok daerah Bali.
Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali KH. Mahrusun Hadyono, M.Pd.I,, Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, M.M., Ketua DPW Hidayatullah Bali Abdullah Salim, Lc, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A, serta Ketua Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Bali, Ustaz Ahmad Wandoyo.
Para dai yang menerima penghargaan telah menunjukkan keteguhan dalam menyampaikan pesan kebaikan dan membangun masyarakat di wilayah yang penuh tantangan.
Salah satu penerima apresiasi, Ustaz Amrozi, yang bertugas di Kabupaten Jembrana, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, semoga berkah dan bermanfaat. Terima kasih kepada BMH dan DPW,” tuturnya.
Penghargaan ini tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas kerja keras para dai, tetapi juga motivasi untuk terus berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun masyarakat yang lebih baik.
“Semoga penghargaan ini memberikan semangat baru bagi da’i lain untuk berlomba-lomba dalam menjalankan amanah lembaga,” tambah Pungki Humardani.
Sinergi dan Dedikasi di Tengah Tantangan
Sebagai salah satu amal usaha Hidayatullah, BMH memiliki peran penting dalam mendukung para da’i. Ketua BMH Perwakilan Bali, Ahmad Wandoyo, menjelaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen untuk memberdayakan dan mendukung para da’i yang bekerja di garis depan.
“Kami ingin memberikan apresiasi yang tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga menunjukkan bahwa perjuangan mereka dihargai dan mendapat dukungan penuh dari kami,” jelasnya.
Dr. H. Mahrusun, Ketua MUI Provinsi Bali, yang turut hadir dalam acara tersebut, juga memberikan apresiasi kepada BMH dan DPW Hidayatullah Bali atas inisiatif ini.
“Dalam Islam, penghargaan kepada mereka yang berjasa adalah bentuk penghormatan yang dianjurkan. Apa yang dilakukan BMH ini adalah contoh nyata dari implementasi ajaran tersebut,” ungkap KH Mahrusun.
Rakerwil DPW Hidayatullah Bali tahun ini mengusung semangat kolaborasi lintas sektor untuk mencapai visi besar organisasi. Drs. Wahyu Rahman yang mewakili DPP Hidayatullah, menekankan pentingnya sinergi dalam menjalankan misi dakwah.
“Keberhasilan program-program dakwah sangat bergantung pada kolaborasi yang solid antara berbagai elemen organisasi. Apresiasi ini adalah salah satu bentuk dari kolaborasi itu,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A, menyampaikan harapannya agar penghargaan ini menjadi pemacu semangat para da’i dalam menghadapi tantangan dakwah di lapangan.
“Tugas da’i tidaklah mudah, terutama di daerah yang membutuhkan perhatian khusus. Namun, dengan dukungan yang terus mengalir, kami optimis para da’i dapat menjalankan tugas mereka dengan baik,” ujarnya.
Dai memiliki peran strategis sebagai ujung tombak dakwah Islam di berbagai wilayah, termasuk di daerah-daerah yang minim fasilitas. Wahyu Rahman mengataka, loyalitas dan konsistensi mereka dalam menyampaikan pesan agama serta membangun komunitas yang harmonis menjadi kekuatan utama yang patut diapresiasi.
“Peran da’i tidak hanya terbatas pada ceramah, tetapi juga membina umat dalam berbagai aspek kehidupan,” kata Wahyu Rahman.
Wahyu menerangkan penghargaan yang diberikan dalam Rakerwil ini mengirimkan pesan yang kuat kepada generasi muda untuk terlibat aktif dalam dakwah sebagai sebuah gerakan yang berfokus pada pembinaan umat.
“Apa yang kita lakukan hari ini adalah langkah kecil yang akan berdampak besar di masa depan. Mari kita jadikan momentum ini sebagai inspirasi untuk terus bergerak maju meneguhkan dakwah membangun umat,” tutupnya. (ybh/hio)
DENPASAR (Hidayatullah.or.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali memberikan apresiasi kepada Hidayatullah atas perannya yang signifikan dalam mempererat kerukunan umat beragama dan membangun harmoni sosial di Pulau Dewata.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Bali, KH. Mahrusun Hadyono, M.Pd.I, dalam acara Pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dirangkai Seminar Peradaban di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Jl. Raya Pemogan Gang Taman, Sakah, Desa Pemogan , Kecamatan Denpasar Selatan, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).
“Hidayatullah turut serta menjaga kerukunan di Bali dan berkontribusi dalam dakwah dan sosial. Seperti Laznas BMH (Baitul Maal Hidayatullah) yang konsisten dalam program-program keummatan kepada masyarakat,” ujar KH. Mahrusun Hadyono.
Dalam seminar bertema Mewujudkan Peradaban Madani dengan Manhaj Nabawi, Hidayatullah menghadirkan sejumlah narasumber yaitu Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, dari Dewan Pertimbangan Hidayatullah Pusat, serta Drs. Muhammad Nur Fuad, M.A., anggota Dewan Murabbi Pusat. Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A., turut memberikan kontribusi pemikiran. Ketiga narasumber menyampaikan pandangan mereka secara bergantian selama 20 menit, diikuti sesi diskusi interaktif yang melibatkan para peserta.
Seminar ini menggarisbawahi pentingnya menerapkan manhaj nabawi atau metode kenabian sebagai dasar pembangunan peradaban yang berkeadilan, bermoral, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
“Kolaborasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan organisasi seperti Hidayatullah sangat penting dalam mewujudkan harmoni sosial,” ungkap Bambang Santoso, salah satu narasumber.
Evaluasi dan Visi Masa Depan
Ketua DPW Hidayatullah Bali, H. Abdullah Salim, M.Pd.I, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Rakerwil ini merupakan momen strategis untuk mengevaluasi kinerja selama setahun terakhir dan merancang program kerja untuk tahun mendatang.
Pembukaan acara ini dihadiri juga oleh Ketua Ormas Islam se-Bali, Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Kemenag Provinsi Bali Dr. Drs. Abu Siri, S.Ag., M.Pd.I, serta tokoh masyarakat Kampung Islam Kepaon.
“Kami menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan yang telah mendukung misi kami selama ini,” ujar Abdullah Salim. Ia juga menekankan pentingnya sinergi dalam mengatasi berbagai tantangan dakwah dan sosial di Bali.
Lebih lanjut Abdullah Salim menyampaikan dengan komitmen yang terus diperbarui melalui Rakerwil ini, Hidayatullah Bali berkomitmen untuk terus membuktikan perannya sebagai perekat kerukunan di tengah keberagaman Pulau Dewata.
“Harmoni sosial adalah fondasi utama untuk membangun peradaban yang berkeadilan. Hidayatullah akan terus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan hal ini,” tutup Abdullah Salim.
Dukungan terhadap Pemerintahan dan Kritik Konstruktif
Dalam arahannya, Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, menekankan perlunya kolaborasi erat antara Hidayatullah dan pemerintah untuk mendukung pembangunan nasional. Ia juga menyatakan komitmen Hidayatullah dalam memberikan masukan dan kritik konstruktif kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Hidayatullah siap berkontribusi dalam hal gagasan dan pemikiran yang dibutuhkan negara. Kami juga akan memberikan kritik jika pelaksanaan pemerintah tidak sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945,” tegas Wahyu Rahman.
Setelah sesi pembukaan dan seminar, Rakerwil dilanjutkan di Hotel Kayfa, Denpasar, selama tiga hari ke depan. Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dari sembilan kabupaten dan satu kota madya di Bali, serta perwakilan dari badan usaha dan organisasi pendukung seperti Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah. Sebanyak 50 peserta berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini.*/Pungki Hurmadani
MANADO (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Seminar Nasional Pendidikan Islam bertajuk “Pendidikan Islam Menjawab Tantangan Abad 21” sebagai bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulut. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dibuka di Ballroom Hotel Sahid Kawanua, Manado, Sabtu, 17 Rajab 1446 H (18/1/2025).
Ketua DPW Hidayatullah Sulut, Samsul Arifin, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan program Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, serta merancang program kerja wilayah yang fokus pada bidang pendidikan dan dakwah.
Samsul juga menegaskan pentingnya sinergi dengan berbagai elemen masyarakat, baik organisasi Islam, pemerintah, maupun komunitas lainnya, untuk mendukung pelaksanaan program-program yang bermanfaat.
“Alhamdulillah selama ini sinergi dan kolaborasi Hidayatullah telah terjalin dan terlaksana dengan semua elemen keumatan. Baik dengan MUI dibuktikan dengan beberapa pengurus DPD Hidayatullah telah masuk jajaran pengurus MUI di daerah, dan ormas-ormas lain serta komunitas-komunitas yang peduli dengan keumatan di Sulut,” ujarnya.
Lanjut Samsul, Hidayatullah juga telah menjalin sinergitas dan kolaborasi dengan Kementrian Agama dan Pemerintah daerah yang sejak bertahun-tahun telah membantu perkembangan Hidayatullah.
Dia menyebut kini Hidayatullah Sulut telah hadir 9 pesantren, 5 Madrasah Ibtidaiyah, 4 Madrasah Tsanawiyah, 3 Madrasah Aliyah, dan 1 Ma’had Haji yang ada di sulawesi Utara merupakan salah satu kolaborasi Hidayatullah dengan pemerintah daerah.
“Ini merupakan peran partisipasi Hidayatullah untuk mensukseskan program-program pemerintah sekaligus menjalankan amanah konstitusi yakni mencerdaskan kehidupan bangsa,” imbuhnya.
Aktualisasi Nilai Tauhid dalam Pendidikan Islam
Salah satu panelis dalam seminar, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, menyampaikan gagasan penting tentang pendidikan integral berbasis Tauhid. Ia menekankan bahwa pendidikan Islam harus mampu membangun sumber daya insani yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan, serta mampu menguasai teknologi yang memberikan maslahat bagi kehidupan.
“Pendidikan Islam berbasis Tauhid bukan hanya soal pembentukan akhlak mulia, tetapi juga menjawab kebutuhan zaman dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan teknologi. Kita harus melahirkan generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global,” tegas Nanang.
Dalam seminar ini, Nanang menggarisbawahi pentingnya transformasi pendidikan Islam agar relevan dengan era globalisasi dan disrupsi teknologi. Menurutnya, pendekatan integral ini akan menghasilkan generasi muda yang berkepribadian Islami, kreatif, dan kompetitif.
“Membangun pendidikan berbasis Tauhid berarti menanamkan nilai-nilai keimanan sebagai fondasi, yang kemudian diperkuat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan seperti ini akan melahirkan generasi yang mampu menghadirkan solusi untuk peradaban manusia,” tambahnya.
Nanang juga menyampaikan salam hormat dari Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, MA, kepada seluruh peserta Rakerwil. Ia mengungkapkan apresiasinya atas perhatian besar yang diberikan oleh berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Kementerian Agama, dalam mendukung kegiatan ini.
Pendidikan Islam sebagai Pilar
Seminar ini turut menghadirkan Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Prof. Dr. Moh. Idris, M.Pd, dan Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, H. Ahmad Sholeh, M.Pd.
Keduanya sepakat bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlak mulia.
Prof. Idris menyoroti tantangan besar yang dihadapi pendidikan Islam di era digital. Menurutnya, distraksi teknologi dan perubahan pola hidup memerlukan pendekatan pendidikan yang adaptif tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Islam.
“Kita harus memastikan pendidikan Islam tetap relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sarana membentuk karakter Islami,” ungkapnya.
Sementara itu, H. Ahmad Sholeh menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam memajukan pendidikan Islam.
“Kerja sama yang solid adalah kunci untuk mencetak generasi unggul yang kompeten secara intelektual dan memiliki akhlak mulia. Ini adalah tantangan bersama yang harus kita jawab,” ujarnya.
Sinergi untuk Masa Depan
Pembukaan Rakerwil DPW Hidayatullah Sulut dilakukan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Utara, H. Arfani Basuki, MH, yang mewakili Gubernur Sulawesi Utara. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga Islam untuk memajukan pendidikan di wilayah tersebut.
“Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan sinergi yang baik, visi membangun generasi yang unggul dapat tercapai,” kata Basuki.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Utara, Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd.
Dengan gelaran seminar pendidikan ini, diharapkan pendidikan Islam di Sulawesi Utara dapat menjadi motor penggerak dalam membangun daerah dan menumbuhkan generasi muda yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan.*/Muhamad Taufikurrahman
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Hari Jum’at ini, 17 Rajab 1446 (17/1/2025) menjadi hari yang istimewa dengan Grand Opening Griya Sehat Hiplus dan Apotek Hiplus, yang berlokasi strategis di Jalan Raya Kalimulya, tak jauh dari Ponpes Hidayatullah Depok.
Peresmian dilakukan oleh Drs. Nursyamsa Hadis, Ketua Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, yang berharap kehadiran layanan kesehatan ini mampu memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Nursyamsa menekankan pentingnya kesehatan sebagai kebutuhan dasar masyarakat. “Semoga layanan ini dapat memastikan kesehatan yang prima bagi masyarakat sekitar dan menjadi sarana ibadah dalam memberikan maslahat yang luas,” ujarnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Imron Faizin, Ketua Departemen Kesehatan (DPP) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, yang menyampaikan optimisme dan doa agar Griya Sehat Hiplus dan Apotek Hiplus mampu menjadi solusi kesehatan Islami yang holistik. Dalam keteranganya, Imron menekankan visi besar di balik pendirian dua unit layanan ini.
“Mohon doanya dari semua agar aktivitas layanan ini berjalan dengan baik, lancar, dan sukses. Insya Allah akan menyusul apotek-apotek dan klinik Griya Sehat lainnya di tempat lain,” kata Imron.
Hadirkan Layanan Kesehatan Islami yang Profesional
Griya Sehat Hiplus tidak hanya hadir sebagai klinik kesehatan biasa. Salah satu keunggulannya adalah mengintegrasikan metode pengobatan modern dengan pendekatan thibbun nabawi atau pengobatan berbasis sunnah. Hal ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat yang mencari layanan kesehatan yang mengedepankan nilai-nilai Islami.
Selain itu, Griya Sehat Hiplus juga memiliki visi jangka panjang untuk menjadi lembaga pendidikan kesehatan. Imron Faizin menjelaskan bahwa ke depan, tempat ini akan mencetak kader-kader terapis yang tersertifikasi secara nasional.
“Kami ingin tidak hanya melayani, tetapi juga mendidik. Dengan mencetak terapis bersertifikat, Griya Sehat Hiplus dapat memperluas manfaatnya bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Apotek Hiplus telah menyelesaikan seluruh proses perizinan dan saat ini hanya menunggu penerbitan resmi izin operasionalnya. Langkah ini menunjukkan komitmen manajemen dalam menjalankan layanan yang sesuai dengan regulasi, sekaligus memberikan jaminan kepercayaan kepada masyarakat.
Imron Faizin menyampaikan harapannya agar keberadaan Griya Sehat Hiplus dan Apotek Hiplus tidak hanya membawa kesehatan fisik tetapi juga keberkahan untuk semua pihak yang terlibat. “Kami berharap semoga klinik dan apotek ini membawa kebaikan, sehat, dan berkah selalu untuk semuanya,” ucapnya.
Optimisme ini juga sejalan dengan rencana ekspansi layanan serupa ke berbagai lokasi lainnya di masa mendatang. Imron mengungkapkan bahwa IMS berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan kesehatan Islami, dengan harapan dapat menjadi pionir dalam menghadirkan layanan yang berkualitas dan sesuai dengan syariat.
Peresmian ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak, mulai dari pengurus DPP Hidayatullah hingga komunitas lokal di sekitar Cilodong. Lokasi strategis di samping kedai kopi Warngop Kalimulya, tidak jauh dari SMP PGRI dan dekat dengan Ponpes Hidayatullah diharapkan semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan ini.
Selain layanan pengobatan, kehadiran Griya Sehat Hiplus juga diharapkan dapat memberikan dampak sosial yang positif, termasuk membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar, baik sebagai tenaga kesehatan maupun staf administrasi.
“Insya Allah, ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk memberikan pelayanan terbaik. Kami berharap apa yang dirintis ini dapat menjadi bagian dari solusi kesehatan Islami di Indonesia,” tutup Imron Faizin.*/Adam Sukiman
SITUBONDO (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur secara resmi meluncurkan program inovatif bernama Pos Dai Digital. Peluncuran ini berlangsung pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Jawa Timur yang diselenggarakan di Situbondo, pada Jum’at, 17 Rajab 1446 (17/1/2025).
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh termasuk Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Candra Kurnianto, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, serta seluruh peserta Rakerwil.
PosDai Digital yang diinisiasi Posdai Jawa Timur ini diharapkan mampu memperkuat jalinan sinergi dakwah di wilayah yang memiliki luas total 47.922 km² ini dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.
Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Idris, mengungkapkan bahwa PosDai Digital merupakan langkah strategis dalam menyeimbangkan dakwah secara daring dan luring di tengah derasnya arus digitalisasi.
“PosDai Digital adalah sebuah upaya untuk menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Melalui inisiatif ini, kami berharap dakwah dapat terlaksana dengan lebih harmonis, seimbang antara offline dan online,” jelas Muh Idris saat memberikan penjelasan kepada para peserta.
Idris juga menambahkan bahwa DPW Hidayatullah Jawa Timur menjalin kemitraan erat dengan Lentera Jaya Abadi (LJA), yang dikenal sebagai penerbit Majalah Hidayatullah, untuk memaksimalkan implementasi program tersebut. LJA, menurutnya, memiliki kompetensi dan sumber daya manusia yang sangat relevan dalam mendukung perluasan dakwah digital.
“Kerja sama antara DPW Hidayatullah Jawa Timur dan LJA, yang berlokasi di tempat yang sama, adalah sebuah kolaborasi yang strategis. Melalui sinergi ini, kami bertujuan untuk mengangkat potensi internal Hidayatullah agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” tegas Idris.
Dengan diluncurkannya Pos Dai Digital, DPW Hidayatullah Jawa Timur berharap dapat memberikan solusi atas tantangan dakwah di era teknologi informasi yang semakin maju.
Menggunakan kekuatan platform digital, tambah Idris, mereka berharap dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, menyampaikan pesan-pesan dakwah yang relevan, dan menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi yang mendalam dan bermanfaat.*/Muhammad Hidayat
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upayanya mempercepat akselerasi dakwah, pendidikan, dan peran sosial-ekonomi, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq Hidayatullah Medan resmi memulai langkah pembentukan Lembaga Kajian Bahasa Arab dan Tahsin Al-Qur’an (LKATA).
Pembentukan ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan zaman serta memperkokoh kontribusi STIQ dalam memajukan masyarakat, bangsa, dan umat Islam.
Ketua STIQ Ash-Shiddiq, Drs. Darmawan Sriyanto, MA, menegaskan pentingnya pembentukan LKATA dalam mendukung misi besar STIQ sebagai institusi pendidikan berbasis Al-Qur’an.
“STIQ Ash-Shiddiq harus melakukan akselerasi seiring dengan kian melajunya tantangan gerakan dakwah, sosial, pendidikan, dan ekonomi,” ujar Darmawan dalam diskusi terbatas di Studio Dakwah Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre, Medan, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).
Diskusi ini dihadiri oleh jajaran petinggi STIQ, termasuk Pembina Drs. Khoirul Anam, Anggota Senat Ali Akbar Ibrahim, M.Pd, serta Dosen Bahasa Arab Isa Abdul Bary, Lc. Agenda utama adalah merancang pembentukan LKATA yang diharapkan dapat menjadi pusat kajian unggulan di bidang bahasa Arab dan tahsin Al-Qur’an.
Bidik Kompetensi Akademik dan Kontribusi Sosial
Darmawan menjelaskan bahwa LKATA dirancang untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa STIQ dalam penguasaan bahasa Arab dan tahsin Al-Qur’an.
“Dengan penguasaan bahasa Arab yang baik, mahasiswa akan lebih mudah mengikuti dan memahami mata kuliah seperti Tafsir, Hadits, Fiqih, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya yang berbasis Al-Qur’an dan bahasa Arab,” paparnya.
Lebih dari itu, LKATA juga membuka peluang bagi masyarakat umum untuk belajar bahasa Arab dan tahsin Al-Qur’an.
“Begitu pula masyarakat dapat belajar di lembaga ini, sehingga mereka lebih mudah memahami dan menguasai kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai panduan hidup mereka,” lanjut Darmawan.
Dengan hadirnya LKATA, STIQ Ash-Shiddiq juga menargetkan peningkatan kualitas alumninya.
Darmawan optimis, lulusan STIQ akan memiliki kompetensi unggul di bidang Al-Qur’an, tafsir, dan bahasa Arab, sehingga dapat menjadi pembina umat yang percaya diri dan berperan aktif di tengah masyarakat.
“Alumni STIQ Ash-Shiddiq harus mampu memberikan suluh penerangan kepada masyarakat, memandu mereka menuju masa depan yang berperadaban,” tegasnya.
Darmawan menekankan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa utama Islam dan memiliki peran strategis sebagai bahasa internasional.
“Bahasa Arab adalah kunci utama untuk memahami ajaran Islam melalui sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah,” jelasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya penguasaan bahasa Arab untuk mendalami kitab-kitab karya para ulama besar yang menjadi rujukan umat Islam. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memahami Islam secara tekstual, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Bahasa Arab juga membuka peluang untuk menciptakan inovasi pembelajaran yang lebih menarik sehingga masyarakat semakin menyukai mempelajarinya,” tambah Darmawan.
Khoirul Anam selaku pembina menambahkan pembentukan LKATA merupakan bagian dari upaya strategis STIQ Ash-Shiddiq dalam merespons kebutuhan masyarakat akan pendidikan Islam yang berkualitas.
“Inisiatif ini juga sejalan dengan visi STIQ Ash-Shiddiq untuk memperluas kontribusi dalam memajukan umat melalui pengembangan intelektual, spiritual, dan sosial,” kata Khoirul.
Langkah konkret STIQ Ash-Shiddiq lainnya adalah dengan menugaskan para alumni 60 orang mahasiswa angkatan 2023/2024 ke berbagai daerah, khususnya di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
Upaya ini, terang Khoirul, diharapkan dapat memperkuat peran STIQ Ash-Shiddiq di tengah masyarakat sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa.
Dengan dibentuknya LKATA, STIQ Ash-Shiddiq Hidayatullah Medan tidak hanya mempertegas perannya sebagai institusi pendidikan Islam, tetapi juga menciptakan dampak positif yang lebih luas bagi umat.
“Kami ingin STIQ Ash-Shiddiq menjadi garda terdepan dalam memajukan pendidikan Islam dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara,” tutup Khoirul. (ybh/hidayatullah.or.id)
DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Pusat, Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si menyampaikan taushiyah kelembagaan tentang pentingnya memahami dan menguasai jatidiri Hidayatullah sebagai modal utama menghadapi tantangan perubahan zaman.
“Penguatan jatidiri Hidayatullah ini sangat penting dipahami dan dikuasai oleh kader. Siapa lagi kalau bukan antum semua yang akan meneruskan perjuangan Hidayatullah ke depan,” katanya.
Hal itu disampaikan Aziz dalam acara Lailatul Ijtima’ Hidayatullah Bali yang dihadiri peserta terdiri atas para pengurus DPW, DPD se-Bali, DMW, hingga kader pemuda berlangsung di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Jl. Raya Pemogan Gang Taman, Sakah, Desa Pemogan , Kecamatan Denpasar Selatan, Jumat malam, 17 Rajab 1446 (17/1/2025).
Aziz mengingatkan bahwa warisan dari pendiri Hidayatullah, Almarhum Ustadz Abdullah Said, adalah salah satu fondasi kokoh yang harus senantiasa dijaga.
Dia menyebutkan, sistem berkampus atau pesantren, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat pendidikan formal, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter kader, pengasahan keilmuan, dan pelatihan kepemimpinan.
“Pesantren adalah tempat membentuk karakter kader, mengasah keilmuan, dan melatih kepemimpinan,” tegasnya.
Lebih jauh, Abdul Aziz mengupas dua dimensi penting yang harus dikuasai oleh setiap kader, yaitu konsepsi dan aplikasi, sebagaimana terkandung dalam spirit sistematika wahyu.
Dimensi konsepsi mengacu pada muatan hujjah yang komprehensif sebagai manhaj gerakan, sementara dimensi aplikasi adalah bagaimana nilai-nilai itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam ibadah dan muamalah.
“Ada dua dimensi yang hendaknya kita serap dari spirit sistematika wahyu, yaitu konsepsi dan aplikasi. Dimensi konsepsi adalah muatan hujjahnya yang komprehensif, sementara dimensi aplikasi adalah praktik dalam beribadah. Dimensi ini bergantung kepada kekuatan konsepsi yang kita miliki,” jelasnya.
Lebih jauh ia menerangkan dalam era yang penuh tantangan, jatidiri Hidayatullah harus menjadi pemandu bagi setiap kader. Abdul Aziz menekankan bahwa tantangan perubahan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri.
Oleh karena itu, tegasnya, setiap kader dituntut untuk memiliki keteguhan dalam prinsip dan kemampuan adaptasi yang tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
“Ketika kita berbicara tentang pembangunan umat, bangsa, dan negara, kita tidak hanya berbicara tentang fisik atau infrastruktur. Kita berbicara tentang membangun manusia, membangun jiwa,” tegasnya. “Dan itu semua dimulai dari jatidiri yang kokoh.”
Dalam pandangannya, penguatan jatidiri Hidayatullah akan membekali para kader dengan daya tahan spiritual, intelektual, dan emosional. Menurutnya, ini amat penting agar mereka tidak hanya menjadi pengikut arus, tetapi mampu menjadi pemimpin perubahan.
Momentum Istimewa
Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Bali, Mohammad Saknan, Lc, dalam sambutannya, menggarisbawahi pentingnya acara ini sebagai momentum yang amat istimewa.
“Hari ini merupakan hari yang istimewa, karena kedatangan orang-orang yang istimewa, baik dari DPP, Dewan Pertimbangan, dan DMP serta kader dari sembilan DPD se-Bali,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa Lailatul Ijtima’ menjadi momen reflektif dan sarana pencerahan bagi para peserta, agar setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka lebih termotivasi untuk mengembangkan wilayah mereka.
“Acara lailatul Ijtima’ ini momen refleksi bagi kita untuk menggugah kesadaran meneguhkan jatidiri bahwa perjuangan membangun umat adalah tugas besar yang membutuhkan sinergi dan keteguhan hati,” katanya memungkasi.*/Pungki Hurmadani