Beranda blog Halaman 123

Seminar Rakerwil Hidayatullah Papua Tengah Soroti Tantangan Dakwah di Era Society 5.0

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Tengah menyelenggarakan pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Ballroom Hotel Grand Tembaga, Timika, pada Senin, 13 Rajab 1446 (13/1/2025).

Acara ini diawali dengan seminar kebangsaan bertema “Dakwah Wasathiyah Membina Umat dengan Pendekatan Ahlus Sunnah Wal Jamaah di Era Society 5.0.” Seminar ini menjadi penegasan komitmen Hidayatullah untuk menghadirkan dakwah yang relevan dan berkesinambungan di tengah perubahan zaman.

Acara tersebut dihadiri Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah Iwan Abdullah, Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hasanuddin Ali, Ketua DPW Hidayatullah Papua Tengah Haeranzi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika Muhammad Amin AR, Anggota DPRD Kabupaten Mimika, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika Ignatius Robertus Adii, serta para ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi Islam.

Ketua DPW Hidayatullah Papua Tengah, Haeranzi, dalam pidato pembukaan Rakerwil menyampaikan bahwa agenda ini bertujuan untuk menyatukan langkah dalam konsolidasi, koordinasi, sosialisasi, dan evaluasi program kerja tahun 2025.

“Kita ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas amal saleh secara kolektif dengan sistem kerja yang terukur,” ungkap Haeranzi.

Haeranzi juga mengucapkan terima kasih kepada DPD Hidayatullah Timika, yang dipimpin Abdul Syakir, atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam menjadi tuan rumah acara tersebut.

Haeranzi berharap Rakerwil Hidayatullah Papua Tengah ini mampu menghasilkan program-program strategis yang aplikatif dan berkelanjutan.

“Dengan kebersamaan dan semangat kolektif, kita yakin bisa memberikan kontribusi terbaik untuk umat di Papua Tengah,” katanya.

Dia menambahkan, acara ini tidak hanya menjadi momentum silaturrahim dan konsolidasi organisasi, tetapi juga wadah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan semangat dakwah di era modern.

“Dengan pendekatan dakwah wasathiyah sebagaimana tema seminar, Hidayatullah Papua Tengah siap menjawab tantangan zaman dan membawa perubahan positif bagi masyarakat,” tandasnya.

Dalam arahannya, Iwan Abdullah menyampaikan pentingnya memanfaatkan momentum Rakerwil untuk menggalakkan silaturahim dan pembinaan umat.

“Silaturahim adalah pintu utama dalam membangun dakwah dan menguatkan ukhuwah,” tegasnya. Ia juga menekankan perlunya standarisasi halaqah untuk meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal.

Iwan menambahkan, “Generasi muda, khususnya mahasiswa, profesional, dan cendekiawan, harus lebih diberdayakan untuk aktif dalam gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah. Mereka adalah ujung tombak keberlanjutan dakwah di masa depan.”

Pembukaan Rakerwil dilakukan dengan pembacaan basmalah secara bersama-sama oleh para tokoh dan tamu undangan. Tradisi lokal juga dihadirkan melalui pemukulan Tifa, alat musik tradisional Papua, sebagai simbolisasi dimulainya agenda besar ini.

Selain itu, terdapat momen pemberian cendera mata berupa kain batik Papua dan buku “50 Tahun Hidayatullah Mengabdi” kepada para tokoh dan donatur sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi.

KH. Muhammad Amin AR, Ketua MUI Kabupaten Mimika, menyampaikan bahwa kolaborasi yang kuat antarorganisasi Islam akan memperkuat dakwah di wilayah Papua Tengah. “Dengan dakwah wasathiyah yang inklusif, kita bisa membina umat secara menyeluruh di era digital ini,” ujarnya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan seminar yang menghadirkan pembicara-pembicara kompeten. Di antaranya adalah KH. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I, Ketua Pembina Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Timika, yang mengulas tentang peran dakwah dalam era Society 5.0.

“Era Society 5.0 menuntut kita untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan teknologi modern. Dakwah harus bisa menjangkau generasi digital tanpa kehilangan esensinya,” jelas Ustad Tasyrif Amin.

Tasyrif juga menyoroti pentingnya adaptasi pendekatan dakwah berbasis Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Sementara itu, Iwan Abdullah dalam paparannya menekankan perlunya sinergi antara dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. “Ini adalah tugas bersama kita untuk melahirkan generasi yang cerdas secara spiritual dan intelektual,” tegasnya.

KH. Muhammad Amin AR juga menambahkan bahwa masyarakat membutuhkan dakwah yang relevan dengan tantangan zaman. “Era Society 5.0 adalah peluang emas bagi umat Islam untuk memimpin perubahan menuju kebaikan,” katanya.*/Nur Lailatul Jannah

[KHUTBAH JUM’AT] Tidak Beriman di Tepian dan 3 Kiat dalam Memupuk Keimanan

0

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengatur segala urusan, dan menetapkan setiap takdir. Tiada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta ini kecuali atas kehendak-Nya.

Dialah yang melimpahkan nikmat-nikmat-Nya tanpa batas, meskipun kita sering lalai untuk mensyukurinya. Kepada-Nya kita memohon pertolongan, dan hanya kepada-Nya pula kita berserah diri.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah kebenaran yang mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Beliaulah suri teladan agung dalam akhlak dan ibadah, yang mengajarkan kita makna sejati dari keimanan dan ketakwaan. Semoga shalawat itu juga terlimpah kepada keluarga beliau, para sahabat yang mulia, serta seluruh pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullah, dalam kehidupan ini, iman kepada Allah dan Islam sebagai agama yang haq adalah modal utama yang tidak ternilai. Ia adalah pelita dalam kegelapan, pemandu di tengah kesesatan, serta bekal paling berharga dalam menghadapi kematian yang pasti akan datang.

Marilah kita renungkan bersama betapa pentingnya menjaga iman sebagai pedoman hidup, sebab tanpanya, jiwa akan gersang, dan perjalanan hidup kehilangan arah.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah

Setiap hari Jum’at, kita diingatkan dengan wasiat takwa, sebuah pesan abadi yang menjadi rukun khutbah, namun lebih dari itu, ia adalah inti dari hidup beriman. Takwa bukan sekadar kata; ia adalah sebaik-baik bekal untuk kehidupan di dunia dan di akhirat.

Tanpa takwa, kehidupan akan kehilangan arah, ibarat perahu yang terombang-ambing tanpa kompas. Iman adalah fondasinya. Ia bagaikan udara yang tidak bisa tergantikan; tanpa iman, jiwa manusia tercekik, kehilangan hidupnya yang sejati.

Iman adalah keyakinan yang menghujam ke dalam, kepercayaan yang kokoh kepada Allah, kepada Nabi-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Rasul, kepada hari akhir, dan kepada qadha serta qadar-Nya.

Iman menuntut totalitas. Ia memanggil kita untuk bersungguh-sungguh, tidak setengah hati, tidak pula ragu. Iman adalah keseriusan, usaha tanpa henti untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Allah memberikan informasi yang berisi sindiran dan peringatan kepada orang-orang yang beriman tapi tidak ikhlas, hanya beriman sekedarnya di “pinggiran”.

Mereka beribadah kepada Allah jika mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebaliknya, bila keinginannya tidak tercapai, ia pun menuding Islam sebagai penyebab dari kegagalannya. Hal itu tercantum dalam al-Qur’an surat al Hajj ayat 11:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al-Hajj [22]:11).

Mari kita renungkan asbabun nuzul firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 11 sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas ini, yang turun untuk memperingatkan manusia tentang keimanan yang rapuh, keimanan yang terombang-ambing oleh nikmat dan musibah.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Al-Bukhari, dahulu ada orang yang masuk Islam dengan harapan duniawi. Ketika ia diberi anak laki-laki dan hartanya bertambah, ia memuji agamanya. Tetapi, ketika ia diuji, ia berbalik mencela agama itu.

Begitu pula, mengenai kisah seorang Yahudi yang masuk Islam, tetapi ketika ia kehilangan penglihatannya, hartanya habis, dan anaknya meninggal, ia menyalahkan Islam atas musibah yang menimpanya. Demikian Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Athiyyah dari Ibnu Mas’ud.

Betapa sering manusia mengukur agama dengan timbangan duniawi! Mereka memuji Allah ketika diberikan nikmat, tetapi berbalik menyalahkan takdir ketika ujian datang.

Padahal, bukankah Allah telah menegaskan bahwa dunia adalah ladang ujian? Keimanan bukanlah transaksi untuk mengharap dunia, melainkan keyakinan yang kokoh pada ketetapan-Nya, baik dalam suka maupun duka.

Tidakkah kita malu kepada Allah? Nikmat yang kita terima begitu melimpah, tetapi sedikit saja ujian, kita berkeluh kesah.

Maka, jadilah hamba yang sabar, yang selalu bersyukur dalam nikmat dan berserah diri dalam musibah. Karena hanya mereka yang teguh, yang akan memperoleh kemenangan hakiki di akhirat kelak.

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Al-Qurtubi dan Ibn Al-Katsir menyampaikan bahwa yang dimaksud dari Surah Al-Hajj ayat 11 ini adalah orang-orang munafik. Merekalah orang-orang yang sangat merugi di dunia dan di akhirat.

Kerugian yang dimaksud orang yang beriman di pinggiran pada surat al Hajj ayat 11 adalah kerugian bagi orang-orang yang jika dia ditimpa oleh suatu bencana, berupa peristiwa yang tidak baik, atau lenyapnya sesuatu yang dicintai. Mereka “berbaliklah dia ke belakang,” maksudnya dia murtad (keluar) dari agamanya.

Jika murtad maka “Rugilah ia di dunia dan akhirat.” Tentang kerugian di dunia, maka usahanya gagal. Tidak ada yang berhasil ia rengkuh melainkan bagian yang telah ditetapkan baginya.

Adapun mengenai kerugian akhirat, maka sangat jelas. Ia terhalangi dari surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dan dia dipastikan masuk neraka. Maka itulah kerugian yang nyata dan jelas.

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Mengambil pelajaran dari Surah Al-Hajj ayat 11 ini bahwa dalam beriman tidak bisa hanya sekedarnya, setengah-setengah, asal-asalan atau ikut-ikutan. Posisi orang seperti itu ibarat di pinggiran atau tepian.

Artinya, iman yang belum teguh karena kurang yakin atau masih ada keraguan dalam beriman, pancaran imannya belum masuk di relung hati yang paling dalam. Mudah terombang-ambing dan bimbang saat menghadapi godaan dan tantangan dalam perjalanan imannya.

Di sinilah pentingnya selalu memupuk keimanan kepada Allah yang diawali ilmu dan dijaga dengan terus belajar atau memperdalam ilmu. Pertama, melalui membaca buku-buku, mengikuti majelis-majelis taklim, aktif di forum-forum diskusi yang membahas keimanan dan keislaman.

Perintah Allah yang pertama dalam al-Qur’an adalah iqra! “bacalah” sebagai pondasi dalam keimanan. Kunci dari memahami Islam dan beriman dengan baik adalah membaca atau terus belajar, upgrade pengetahuan.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (Q.S. Al’alaq [96]: 1)

Kedua, memiliki guru, murabbi, atau musyrif yang membimbing keimanannya. Lingkungan saat ini cukup sistematis yang menjadikan iman tidak tumbuh dengan baik.

Belum lagi sistem kehidupan, sistem pendidikan, sistem ekonomi dan budaya kurang mendukung pertumbuhan iman. Maka, penting adanya seorang guru atau murabbi yang menguatkan proses dan menempa iman secara intens.

Selama ini belum ada yang membina, mengurus, memantau, mengevaluasi dengan penuh tanggung jawab untuk pertumbuhan keimanan kita.

Ketiga, berteman dengan lingkungan pergaulan yang baik. Selama ini, banyak orang terjebak dalam pergaulan yang menggerus keimanannya. Terkadang teman-teman komunitasnya membuat lalai dari ibadah.

Istilah anak-anak sekarang memilih circel yang mendukung untuk menguatkan keimanan. Rasulullah dalam hadist telah memberikan nasehat terkait pertemanan dalam keimanan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Allah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang pertemanan sangat berpengaruh hingga kehidupan di akherat. Allah berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata: “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Di ayat ini, Allah menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Iman adalah barang yang mahal, tidak mudah untuk menjaga dan menumbuhkannya karena jaminannya surga. Maka tidak bisa hanya beriman di pinggiran tapi harus serius, kaffah, sungguh-sungguh dalam beriman.

Caranya, adalah dengan senantiasa memperdalam keilmuan, memiliki guru atau murabbi yang membimbing dan mencari lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Final HiFest di Kampus Ar Rohmah IIBS Uji Kemampuan Santri di Bidang Diniyah, Bahasa dan Sains

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Kampus Ar Rohmah International Islamic Boarding School (IIBS) Malang, Jawa Timur, menjadi saksi kemeriahan final HiFest se-Jawa pada Sabtu, 11 Rajab 1446 (11/1/2025).

Setelah melalui babak penyisihan yang digelar secara daring pada Oktober 2024, ajang kompetisi ini berhasil menghadirkan momen penuh semangat dan kompetisi sehat bagi ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan Hidayatullah.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan (Depdik) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur bekerja sama dengan Depdik DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Jawa Tengah Bagian Selatan, dan Jawa Barat ini menjadi ajang bergengsi bagi para santri untuk menunjukkan kemampuan mereka di berbagai bidang akademik.

Dengan total peserta babak final sebanyak 2.829 santri, HiFest musim ini menjadi yang terbesar. Para peserta terdiri dari 1.300 siswa jenjang SD, 889 siswa jenjang SMP, dan 640 siswa jenjang SMA, yang berlomba dalam bidang Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Dalam sambutannya, Ketua Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jawa Timur, Adi Purwanto, menyampaikan tujuan utama HiFest adalah untuk mengukur kemampuan santri Hidayatullah di bidang diniyah, bahasa, dan sains.

Selain itu, terang Purwanto, acara ini juga menjadi ajang untuk mengevaluasi kualitas pembelajaran di lembaga pendidikan jaringan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT).

“Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan akademik, tetapi juga membentuk dan melatih mental santri sejak dini. Sikap disiplin, percaya diri, kerja keras, tidak mudah putus asa, kompetitif, jujur, dan bertanggung jawab adalah nilai-nilai yang ingin kita tanamkan,” ujar Adi.

Dengan rencana ekspansi ke wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun depan, HiFest diharapkan mampu menjadi barometer kualitas pendidikan santri di Indonesia Timur.

“Ini bukan sekadar lomba, tetapi momentum untuk mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter,” tutur Adi.

Dia menambahkan, HiFest telah menjadi simbol kesungguhan Hidayatullah dalam membina santri berbakat menuju visi pendidikan integral yang mencerdaskan dan membentuk karakter. “Sampai jumpa di HiFest berikutnya,” tandas Adi.

Kompetisi Ketat di Setiap Jenjang

Kemeriahan final HiFest terasa sejak pagi hari, dengan kehadiran para peserta dan keluarga yang memberikan dukungan penuh.

Sorak-sorai dan semangat kompetitif terlihat di setiap sudut kampus Ar Rohmah IIBS Malang. Tak hanya meraih prestasi, kompetisi ini juga menjadi ajang silaturahmi antar-lembaga pendidikan Hidayatullah.

Pada babak final ini, sebanyak 48 medali emas, 72 medali perak, dan 120 medali perunggu diperebutkan. Persaingan sengit terlihat di semua jenjang.

SD Integral Luqman Al Hakim Surabaya berhasil keluar sebagai juara umum untuk jenjang SD setelah memperoleh 31 emas, 25 perak, dan 20 perunggu.

Berikutnya, ada SMP Ar Rohmah Boarding School Malang menjadi yang terbaik di jenjang SMP dengan koleksi 12 emas, 9 perak, dan 15 perunggu. Sementara SMA Integral Luqman Al Hakim Surabaya yang meraih 15 emas, 11 perak, dan 12 perunggu menjadi juara umum jenjang SMA.

Ketua panitia, Akhwan Khumaidi, ungkapkan kebanggaannya atas kesuksesan acara ini. Ia menegaskan, HiFest tahun ini mencatatkan sejarah baru dengan mencakup wilayah se-Jawa, dan tahun depan akan diperluas hingga Bali dan Nusa Tenggara, bila memungkinkan se-Indonesia.

“Harapan kami, kompetisi ini melahirkan generasi emas yang tidak hanya berdaya saing global tetapi juga memiliki karakter unggul. Santri Hidayatullah harus menjadi teladan dalam ilmu pengetahuan dan akhlak,” imbuh Akhwan. (red/hio)

Khitan Berkah Gratis untuk Santri Yatim Dhuafa di Nunukan Kaltara

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar khitan berkah gratis untuk santri yatim dhuafa di Nunukan, Kalimantan Utara, Sabtu, 11 Rajab 1446 (11/1/2025).

Acara berlangsung di aula gedung SD Nur Islam Pesantren Hindayatullah Nunukan, Selisun, Nunukan Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh anak-anak yang penuh haru dan sukacita.

“Alhamdulillah hari ini di Nunukan BMH menggelar khitan gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak santri yatim dan dhuafa,” ujar Safriadi, Kepala ULZ BMH Nunukan.

Kata-katanya mengandung rasa syukur dan kebanggaan atas terselenggaranya acara tersebut.

Imam Tabrani, orangtua dari Hafidz, turut menyampaikan rasa terima kasih.

“Alhamdulillah terima kasih banyak kepada Laznas BMH yang telah menyelenggarakan kegiatan khitan berkah gratis, ini sangat membantu sekali bagi kami dan yang lainnya,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Acara khitan ini berjalan lancar dan penuh hikmah. Anak-anak santri terlihat antusias menjalani prosesi khitan dengan tenang dan senyum ceria. Para donatur BMH, Puskesmas Nunukan, Wildan Collection, dan Pendidikan Integral Hidayatullah Nunukan turut berperan penting dalam kesuksesan acara ini.

Keberhasilan acara ini tak lepas dari dukungan para donatur yang tulus. Bantuan mereka memberikan harapan baru bagi keluarga santri yatim dhuafa. Khitan berkah ini bukan hanya ritual, tetapi juga simbol kasih sayang dan perhatian terhadap masa depan anak-anak.

Khitan berkah memiliki makna mendalam bagi masyarakat. Bagi anak-anak, ini adalah langkah penting dalam kehidupan mereka.

Bagi keluarga, khitan berkah membawa kebahagiaan dan rasa lega. Program ini mencerminkan kepedulian BMH terhadap kebahagiaan sesama yang membutuhkan, terutama anak yatim dan janda.

Dengan hadirnya program ini, BMH menunjukkan komitmennya dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Kepedulian ini memperkuat ikatan sosial dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih.

“BMH terus berupaya memberikan berkah dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan, menjadikan dunia lebih harmonis dan penuh harapan,” sambung Safriadi.

Melalui khitan berkah ini, BMH mengajak semua pihak untuk terus berbagi dan peduli. Kebahagiaan anak yatim dan janda adalah prioritas utama, mencerminkan nilai kemanusiaan yang luhur.

“Dengan langkah nyata ini, BMH membawa perubahan positif bagi komunitas Nunukan. Kebahagiaan dan kesejahteraan mereka adalah cermin dari keberhasilan program pemberdayaan sosial BMH,” tutup Safriadi penuh syukur.*/Herim

Pelatihan Customer Relation Management BMH Sulsel untuk Layanan yang Lebih Baik

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulawesi Selatan menggelar sosialisasi dan pelatihan Customer Relation Management (CRM) pada Selasa, 14 Rajab 1446 (14/1/2025).

Kegiatan ini menunjukkan komitmen Laznas BMH dalam mengembangkan layanan berbasis data. Tujuannya adalah meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana zakat.

Acara ini diikuti oleh seluruh jaringan Laznas BMH se-Sulawesi Selatan. “Pada tahun 2024, sistem CRM diterapkan di kantor Perwakilan, Luwu Timur, dan Parepare,” ujar Rizki Dacosta, Kepala Divisi Marketing Laznas BMH Sulawesi Selatan.

“Tahun ini, kami terapkan di seluruh jaringan, termasuk gerai Maros, Luwu Utara, Bone, Bulukumba, dan mitra Zakat Al Bayan. Ini bentuk komitmen kami terhadap transparansi,” lanjut Dacosta.

Sosialisasi dan pelatihan ini memperkuat kemampuan semua stakeholder. Menurut Dacosta, hal ini meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana dari muzakki. Dengan sistem CRM, pengelolaan donasi menjadi lebih terstruktur dan data lebih akurat.

Dalam sambutannya, Kadir, Ketua Perwakilan Laznas BMH Sulsel, menyampaikan pentingnya digitalisasi layanan.

“Sistem yang kami sosialisasikan adalah langkah menuju digitalisasi layanan. Penerapannya wajib bagi seluruh jaringan untuk meningkatkan kualitas layanan,” ujarnya.

Implementasi CRM diharapkan meningkatkan pelayanan kepada para muzakki. Laznas BMH ingin memaksimalkan manfaat dana zakat, infak, dan sedekah yang diamanahkan. CRM adalah bagian dari penguatan sistem dan digitalisasi setelah Human Resources Management (HRM) dan Management Relationship Management (MRM).

Dengan CRM, Laznas BMH dapat memberikan layanan terbaik kepada para muzakki. Data yang akurat membantu dalam pengelolaan dana yang lebih efisien dan transparan. Program ini mencerminkan dedikasi Laznas BMH dalam membangun kepercayaan dan meningkatkan kualitas layanan.

Laznas BMH Sulawesi Selatan terang Kadir terus berinovasi untuk memberikan layanan yang lebih baik. Sosialisasi dan pelatihan CRM ini adalah langkah penting menuju layanan yang lebih profesional dan terpercaya. Melalui program ini, Laznas BMH berharap dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan para donatur.

“Dengan sistem CRM, Laznas BMH semakin siap memenuhi kebutuhan muzakki. Transparansi dan akuntabilitas menjadi prioritas utama dalam pengelolaan dana. Program ini mendukung visi Laznas BMH untuk menjadi lembaga zakat yang terpercaya dan berdaya saing tinggi,” imbuh Kadir.

Kadir mengajak mendukung Laznas BMH dalam upaya meningkatkan layanan zakat. Dengan dukungan semua pihak, Laznas BMH dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci keberhasilan pengelolaan dana zakat yang berdampak positif.*/Herim

Meraih Bahagia dengan Memaafkan dan Hati yang Bebas dari Kebencian

0

HIDUP ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membenci. Waktu terus berjalan, detik demi detik usia kita berkurang, dan setiap napas yang kita hirup membawa kita lebih dekat kepada ajal.

Lantas, mengapa kita harus mempersulit diri dengan membebani hati dengan kebencian?

Benci, iri, dan dengki adalah beban yang tak terlihat namun memiliki dampak luar biasa terhadap jiwa dan raga kita.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa sifat iri dan dengki hanyalah merusak hati serta hubungan antarsesama. Rasulullah SAW juga bersabda:

لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Kebencian bukan hanya menyakitkan bagi mereka yang menjadi sasaran, tetapi lebih dari itu, ia merusak kedamaian dalam diri kita sendiri.

Para peneliti dari Columbia University Irving Medical Center menemukan bahwa memendam perasaan marah dan benci secara terus-menerus memiliki dampak signifikan pada pembuluh darah, yang menjadikannya ‘kardiotoksik’.

Gangguan kesehatan akibat marah ini terjadi karena stres emosional yang ditimbulkan oleh kebencian memicu peningkatan hormon kortisol, yang jika dibiarkan dapat merusak sistem kekebalan tubuh.

Jangan Memperburuk Keadaan

Sebagai manusia, kita tentu pernah merasa sakit hati, kecewa, atau terluka oleh perbuatan orang lain. Namun, apakah menyimpan dendam akan mengobati luka itu? Nyatanya, tidak.

Justru, kebencian hanya memperburuk keadaan. Saat kita menyimpan benci, pikiran kita menjadi terfokus pada hal-hal negatif, sehingga menghalangi langkah kita menuju kebahagiaan dan ketenangan batin.

Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam gelapnya kebencian. Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri, mencintai, dan berbuat baik.

Jika kita menghabiskan waktu kita dengan rasa iri dan benci, maka kita melewatkan kesempatan berharga untuk merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Bukankah lebih indah jika sisa umur kita digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan menyenangkan hati?

Maafkanlah, bahkan jika sulit. Melepaskan kebencian bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tetapi karena kita memilih untuk membebaskan diri dari beban yang tidak perlu.

Saat kita memaafkan, kita membuka pintu kedamaian dalam hati dan memberi ruang bagi kebahagiaan untuk tumbuh. Penelitian oleh Tyler Vanderweele, profesor di Harvard T.H. Chan School of Public Health (2021), mengungkapkan dampak positif dari pemaafan terhadap kesehatan mental.

Temuan ini menegaskan bahwa praktik pemaafan, sebagaimana dianjurkan dalam Islam, dapat secara signifikan mengurangi tingkat kecemasan dan depresi. Lebih jauh, tindakan ini juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan mental secara keseluruhan.

Dalam konteks psikologi dan kesehatan masyarakat, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pemaafan (al ‘afwu) sebagai strategi efektif untuk mendukung kesehatan emosional dan memperkuat kualitas hidup.

Penemuan ini memberikan landasan ilmiah bagi intervensi berbasis pemaafan, yang dapat dimanfaatkan dalam terapi atau program kesehatan untuk mengatasi masalah psikologis yang umum terjadi.

Disinilah istimewanya ajaran Islam yang memerintahkan untuk memberi maaf. Waktu adalah anugerah yang tidak bisa kita putar kembali. Jangan sia-siakan dengan membenci. Isi hari-harimu dengan cinta, pengertian, dan keikhlasan.

Jadikan setiap momen sebagai ladang amal dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ingatlah firman-Nya:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ

“Barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Hati yang bersih dari iri dan benci adalah hati yang siap menerima limpahan rahmat dan karunia-Nya. Dalam kehidupan ini, tak ada yang lebih berharga daripada hidup dalam ketenangan batin.

Mulailah dari sekarang untuk melepaskan rasa benci yang membebani hatimu. Mulailah dari doa, introspeksi, dan usaha untuk memahami bahwa setiap manusia memiliki kelemahan, termasuk kita sendiri.

Hidup ini adalah perjalanan yang singkat dan penuh misteri. Maka, marilah kita jadikan perjalanan ini bermakna dengan menciptakan harmoni, menyebarkan kebaikan, dan menghindari segala sesuatu yang bisa merusak jiwa. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati terletak pada hati yang ikhlas dan bebas dari kebencian.*/Muhammad Anzar

Shalat Dhuha, Sunnah yang Sarat Keutamaan

0

SHALAT Dhuha, yang menjadi bagian akhir dari rangkaian tulisan Serial Hikmah Amalan Subuh, memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Namun, ada sedikit perbedaan pandangan mengenai hubungannya dengan shalat Isyraq.

Sebagian ulama, seperti Imam Al-Ghazali, memandang keduanya sebagai amalan yang berbeda. Menurutnya, shalat Isyraq adalah kesunnahan tersendiri yang tidak sama dengan shalat Dhuha. Sebaliknya, Imam Hakim dalam kitab Al-Mustadrak menyatakan bahwa keduanya merupakan shalat yang sama.

Perbedaan utama antara shalat Isyraq dan shalat Dhuha terletak pada jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan niatnya. Shalat Isyraq umumnya dilakukan dua rakaat, sementara shalat Dhuha dapat dilakukan mulai dari dua hingga dua belas rakaat.

Selain itu, shalat Isyraq dilakukan segera setelah shalat Subuh berjamaah dan dzikir, sedangkan shalat Dhuha tidak berkaitan langsung dengan shalat Subuh atau dzikir sebelumnya. Persamaannya adalah waktu pelaksanaan, yakni setelah matahari terbit hingga sebelum waktu Zuhur.

Makna dan Hukum Shalat Dhuha

Secara bahasa, “Dhuha” berarti awal siang hari atau pagi. Dalam istilah syariah, shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu tersebut.

Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan dan sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun hukumnya tidak wajib, shalat Dhuha memberikan keutamaan luar biasa bagi siapa saja yang melaksanakannya secara konsisten.

Pelaksanaan shalat Dhuha sangat fleksibel. Bisa dilakukan sebelum memulai aktivitas harian, di tempat kerja, sekolah, atau di sela-sela waktu luang.

Namun, bagi sebagian orang, menyempatkan waktu untuk melaksanakan shalat Dhuha di tengah kesibukan bukanlah hal mudah. Oleh karena itu, melaksanakannya merupakan sebuah anugerah dan kenikmatan tersendiri.

Keutamaan Shalat Dhuha

Ibadah sunnah ini tidak hanya menawarkan ketenangan jiwa, tetapi juga membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahan dalam hidup.

Sebagai amalan yang ringan namun kaya akan manfaat, shalat Dhuha memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam, yang sering kali dipandang sebagai cara untuk mengharmoniskan antara kebutuhan spiritual dan material.

Mengapa shalat Dhuha begitu istimewa? Apa saja hikmah yang terkandung di dalamnya? Dengan mengkaji dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, kita akan menggali lebih dalam tentang keutamaan shalat Dhuha, sekaligus memahami bagaimana ibadah ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan dengan Sang Pencipta di tengah ritme kehidupan yang penuh tantangan. Mari kita telusuri bersama!

1. Sebagai Pengganti Sedekah untuk Persendian

Shalat Dhuha berfungsi menggantikan kewajiban bersedekah untuk setiap persendian manusia yang berjumlah 360. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subḥānallāh) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan taḥmīd (alḥamdulillāh) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlīl (lā ilāha illallāh) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbīr (allāhu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma‘ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no. 720).

2. Mendapat Jaminan Kecukupan Rezeki

Keistimewaan lain shalat Dhuha adalah sebagai sarana untuk memperoleh kecukupan rezeki setiap hari. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghothofaniy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi).

Banyak kisah nyata menceritakan pengalaman ruhani orang-orang yang istiqamah melaksanakan shalat Dhuha. Mereka kerap mendapatkan kemudahan rezeki atau pertolongan yang tak terduga.

3. Sebagai Shalat Awwabin

Melaksanakan shalat Dhuha secara konsisten menjadikan seseorang tergolong sebagai awwabin, yaitu orang yang kembali taat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa awwab berarti orang yang taat, atau kembali kepada ketaatan. Oleh karena itu, shalat Dhuha menjadi identitas bagi hamba yang istiqamah dalam ibadahnya.

Dengan demikian, shalat Dhuha bukan hanya sekadar ibadah sunnah, tetapi juga menjadi manifestasi ketaatan yang memberikan berbagai keutamaan duniawi dan ukhrawi. Mari kita jadikan shalat Dhuha sebagai bagian dari rutinitas harian kita untuk meraih ridha Allah dan keberkahan hidup.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Raker Gabungan 3 Daerah di Belopa Jaga Amanah dan Lanjutkan Perjuangan

0

LUWU (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pratama Pondok Pesantren Hidayatullah Belopa menjadi tuan rumah gelaran Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan DPD Hidayatullah Luwu, Palopo, dan Toraja Utara, digelar selama 2 hari yang dibuka pada Kamis, 9 Rajab 1446 (9/1/2025).

Acara ini momentum strategis untuk menyatukan visi dan merumuskan langkah-langkah nyata untuk masa kerja satu tahun kedepan demi memperkuat peran organisasi dalam dakwah dan pendidikan di Sulawesi Selatan.

Dalam pembukaan acara, Kepala Departemen Ekonomi dan Aset DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Imran Djufri, menyampaikan bahwa setiap program kerja yang dirumuskan bukanlah sekadar formalitas, melainkan amanah besar yang harus diwujudkan dengan komitmen dan kerja nyata.

“Rakerda ini dilaksanakan tentu karena kita akan bekerja. Ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dan melalui kerja-kerja itu, tentu kita akan menghasilkan karya,” tegasnya.

Imran juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan organisasi. Sebagai lembaga yang telah lama berkhidmat dalam dakwah dan pendidikan, terang dia, Hidayatullah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap kader dapat melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh pendahulu.

Hal ini, menurutnya, hanya dapat tercapai melalui kerja sama, konsolidasi jati diri, dan kesediaan setiap individu untuk mengambil peran aktif dalam organisasi.

Imran menekankan visi tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh organisasi modern, terutama yang berorientasi pada dakwah dan pendidikan. Baginya, keberlanjutan organisasi bukan hanya soal mempertahankan eksistensi, tetapi juga memastikan visi dan misi lembaga tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

“Dalam agenda Rakerda, keberlanjutan ini diwujudkan melalui perencanaan strategis yang matang, didukung oleh komitmen kuat dari seluruh kader,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at.

Sebagai kader yang telah mengabdikan diri selama lebih dari dua dekade, termasuk masa baktinya di Kalimantan Tengah pada periode 1997-2004, Imran Djufri memiliki pengalaman panjang dalam memimpin dan menggerakkan roda organisasi. Ia mengingatkan bahwa Rakerda adalah momen penting untuk menyusun program kerja yang realistis dan dapat diimplementasikan.

“Rakerda bukan sekadar rutinitas tahunan biasa. Di dalamnya menyiratkan harapan agar kader mau berkarya dengan segenap program kerja yang diamanahkan,” ujarnya, sambil menegaskan pentingnya transisi dari tahap perencanaan ke pelaksanaan.

Ide-ide cemerlang yang dirumuskan dalam forum Rakerda hanya akan menjadi wacana jika tidak ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret. Oleh karena itu, tegas dia, setiap peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam memastikan program kerja yang disusun benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Konsolidasi Jati Diri

Rakerda Gabungan ini juga menjadi ajang konsolidasi bagi para kader Hidayatullah di Luwu, Palopo, dan Toraja Utara. Dengan semangat persatuan dan kebersamaan, forum ini diharapkan mampu merumuskan langkah strategis untuk memperkuat dakwah dan pendidikan di wilayah tersebut.

Konsolidasi ini tidak hanya penting untuk menyatukan visi, tetapi juga untuk memperkuat hubungan antar-kader dan membangun sinergi yang lebih solid.

Kesuksesan acara ini juga tidak lepas dari peran tuan rumah, Kampus Pratama Pesantren Hidayatullah Belopa. Dalam apresiasinya, Ustadz Imran memuji pelayanan luar biasa yang diberikan tuan rumah.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Pesantren Hidayatullah Belopa, Abdullah, mengatakan komitmen untuk menjadi tuan rumah yang baik adalah cerminan dari semangat kebersamaan yang menjadi inti dari kegiatan ini. “Kami berusaha maksimal untuk memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.*/Ian Kassa

Beasiswa BMH Bengkulu Dukung Jalan Generasi Menuju Masa Depan Cemerlang

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) – Pendidikan adalah salah satu kunci utama untuk menciptakan generasi masa depan yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Sayangnya, akses terhadap pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga dhuafa di Indonesia.

Di tengah kenyataan tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) hadir sebagai salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan mendesak akan pendidikan berkualitas melalui program beasiswanya.

Pada tanggal 7 Januari 2025, BMH kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan bagi kalangan dhuafa dengan mengadakan acara bertajuk Berkah Beasiswa, Langkah Cemerlang Menuju Masa Depan di Bengkulu. Program ini sebuah langkah untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita mereka.

Hendrianto, Kepala Perwakilan Baitulmaal Hidayatullah Bengkulu, menjelaskan pentingnya program ini dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. “Berkah beasiswa langkah cemerlang menuju masa depan ini merupakan program BMH dalam mendukung pendidikan sumber daya insani menjadi generasi yang kuat dan mandiri,” ujar Hendrianto.

Ananda Ahmad Fauzan, salah satu penerima manfaat beasiswa ini, adalah contoh nyata bagaimana program ini mampu mengubah hidup seseorang.

“Saya ingin mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah dan ucapan terimakasih yang mendalam kepada kakak-kakak BMH atas dipilihnya saya sebagai penerima beasiswa. Saya merasa sangat beruntung dan senang sekali mendapatkan kesempatan ini. Semoga bantuan yang diberikan tidak hanya bermanfaat untuk saya dan teman-teman, tetapi juga menjadi pahala yang berlimpah bagi semuanya,” katanya.

Penyaluran beasiswa pendidikan adalah salah satu pilar utama yang terus digalakkan untuk memberikan dampak jangka panjang. Program ini tidak hanya memberikan bantuan finansial tetapi juga membangun kepercayaan diri para penerima manfaat untuk terus melangkah maju meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dengan menyasar anak-anak dari keluarga dhuafa, BMH ingin memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan memberikan dampak yang signifikan. Selain itu, program ini juga melibatkan masyarakat luas untuk berpartisipasi, baik melalui donasi maupun dukungan moral, sehingga tercipta ekosistem yang mendukung pendidikan inklusif.

Sebagai lembaga yang memiliki visi besar, kata Hendrianto, BMH memahami bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan hasil berlipat ganda di masa depan.

Hendrianto menambahkan bahwa BMH ingin memastikan para penerima beasiswa ini tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. Dengan demikian, efek dari program ini akan dirasakan lebih luas, tidak hanya oleh penerima manfaat tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.*/Novar Mandahari

Rakerwil Hidayatullah Sumut Garisbawahi Pentingnya Sinergi Antar Elemen Umat

0

DAIRI (Hidayatullah.or.id) — Di tengah sejuknya udara Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, berlangsung acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara yang dibuka pada Ahad, 5 Rajab 1446 (5/1/2025).

Acara ini sebagai momentum strategis untuk merumuskan langkah bersama menuju visi besar dan sebuah langkah konkret untuk menguatkan sinergi dan menyusun program strategis.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abu A’la Abdullah, M.HI, selaku pendamping Rakerwil utusan DPP Hidayatullah.

Dalam arahannya dalam pembukaan acara ini, Abu A’la menyampaikan pentingnya sinergi antar elemen umat dan menekankan bahwa visi organisasi Hidayatullah adalah terbangunnya peradaban Islam yang agung.

Ia menjelaskan bahwa visi ini hanya dapat diwujudkan dengan kehadiran Hidayatullah sebagai wadah berjamaah untuk amal saleh, pendidikan untuk generasi unggul, dakwah sebagai rahmatan lil ‘alamin, serta pelayanan dan pemberdayaan umat.

Dalam sambutannya, Abu A’la juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara Hidayatullah dengan pemerintah dan masyarakat.

“Kami menyadari bahwa visi, misi, dan berbagai program Hidayatullah hanya dapat diwujudkan dengan sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, Hidayatullah mendukung visi misi pemerintahan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, dengan pembangunan berkelanjutan,” ujar beliau.

Tema yang diusung dalam Rakerwil kali ini, “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Sentralisasi, Standardisasi, dan Integrasi Sistemik,” mencerminkan semangat bersama untuk memperkuat tata kelola organisasi.

Melalui tema ini, terang dia, Hidayatullah berkomitmen untuk menciptakan sistem yang lebih terstandar, tersentralisasi, dan terintegrasi hingga tahun 2025.

Peluncuran Program Dai Berdaya

Salah satu momen penting dalam Rakerwil ini adalah peluncuran Program Dai Berdaya oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH). Program ini bertujuan mendukung kiprah dai yang bertugas di pedalaman dengan memberikan tambahan modal usaha untuk meningkatkan kemandirian mereka.

Sebagai langkah awal, bantuan modal usaha diserahkan kepada lima dai di berbagai wilayah Sumatera Utara, termasuk usaha ternak ayam kampung, kebun jagung, cabe hijau, kedai gorengan, dan tanaman kopi.

Kepala Perwakilan BMH Sumut, Muhammad Nuh, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menguatkan usaha dai sekaligus mendukung kemandirian mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Kami yakin dukungan ini sangat bermanfaat bagi para dai untuk menghidupkan dakwah di daerahnya masing-masing. Ini adalah upaya kami memaksimalkan dana zakat dan sedekah agar menjadi instrumen kemandirian,” ujar Nuh.

Program Dai Berdaya mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kasi Bimas Islam Kemenag Dairi, H. Lindung Kaloko, S.Ag., MM, menyebutnya sebagai langkah bijak yang menjadi teladan.

Para penerima manfaat program juga mengungkapkan rasa syukur mereka. Zulfan Zebua, salah satu penerima manfaat, mengatakan, “Melalui BMH, Allah kirim bantuan. Semoga menjadi wasilah berkah bagi para donatur.”

Program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membangun optimisme dan semangat baru di kalangan dai. Taklim Nasution, penerima bantuan untuk usaha kedai gorengan, menyatakan bahwa bantuan tersebut menjadi motivasi untuk meningkatkan kemandirian pesantren di daerahnya.*/Herim