Beranda blog Halaman 124

Rakerwil DIY-Jateng Bagsel Rajut Kehangatan Harmoni Kuatkan Gerakan Dakwah di Era Society 5.0

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana yang penuh kehangatan dan semangat kebersamaan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Istimewa Yogyakarta–Jawa Tengah Bagian Selatan (DIY-Jateng Bagsel) menggelar seminar peradaban bertema “Strategi Kaderisasi Gerakan Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di Era Society 5.0”.

Bertempat di Auditorium Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta pada Sabtu, 4 Rajab 1446 H (4/1/2025), acara ini menjadi ajang pertemuan inspiratif bagi tokoh-tokoh dari berbagai organisasi Islam.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagsel. Menghadirkan pembicara dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah, Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah DIY, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) DIY, acara ini sukses menarik lebih dari 500 peserta yang memenuhi auditorium.

Dr. Nashirul Haq, Lc. MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah, membuka diskusi dengan pemaparan yang menekankan bahwa kaderisasi dalam gerakan dakwah adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan pengorbanan besar.

Menurut Nashirul, kaderisasi gerakan dakwah tidak bisa dilakukan dengan singkat, tapi butuh proses panjang seperti halnya kaderisasi yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul.

“Saya sangat yakin, proses kaderisasi akan berjalan dan berhasil jika para pengkader memberikan pengarahan dan perhatian khusus kepada sasarannya,” tutur Nashirul.

Dr. Yayan Suryana, M.Ag., Wakil Ketua PW Muhammadiyah DIY, sebagai pembicara kedua, menyoroti pentingnya transformasi dakwah di era digital.

Menurut Yayan, hari ini keberadaan media sosial memberikan pengaruh sangat besar terhadap perubahan dan juga cara pandang masyarakat. “Maka dibutuhkan nilai-nilai kultural melalui rasionalisasi terhadap kader dakwah,” ujarnya.

Sementara itu, Drs. H. Masruri, Ketua DDII DIY, dalam paparannya yang filosofis, menyebutkan bahwa dakwah adalah naluri alami manusia.

“Dakwah itu naluri setiap manusia, karena hakikatnya manusia memiliki dorongan untuk menyampaikan gagasan apa yang menjadi pemikiran dan keyakinan dalam dirinya. Bisa berasal dari pemikiran positif maupun negatif. Sehingga hari ini ada pegiat dakwah yang saya pikir sudah keluar dari spirit kenabian,” urainya.

Sebagai pembicara pamungkas, Dr. Muhajir, M.Si., Sekretaris PWNU DIY, memaparkan pengalaman panjang NU dalam melibatkan kader untuk memperkuat persatuan umat.

“Menjadi kader itu harus totalitas dan harus bisa memperkuat persatuan, sehingga permasalahan yang ada dalam diri organisasi bisa segera terpecahkan, termasuk juga permasalahan yang ada di masyarakat. Itu sudah dilakukan oleh para kyai NU sejak sebelum Indonesia merdeka,” ujar Muhajir.

Muhajir juga menyoroti pentingnya silaturahmi dan solidaritas dalam menjaga keberlangsungan dakwah. “Silaturahmi dan perkuat solidaritas antar pengurus yang telah kami lakukan, hal ini memberikan spirit dan juga kekuatan tersendiri dalam dakwah,” katanya.

“Termasuk kami silaturahmi dengan Muhammadiyah. Coba cek di kampus-kampus milik Muhammadiyah, saya pastikan sebagian guru dan dosennya adalah warga NU,” ujarnya menambahkan, diselingi kelakar yang mengundang gelak tawa dan tepuk tangan dari peserta.

Dialog hangat yang terjadi sepanjang acara merefleksikan semangat persatuan yang tinggi, di mana setiap organisasi saling berbagi pengalaman, strategi, dan inspirasi untuk masa depan dakwah yang lebih baik.*/Haris Munandar

Kehadiran Pimpinan Ormas Islam Semarakkan Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta tidak hanya menjadi ajang pembahasan program kerja, tetapi juga mempertegas peran strategis ormas Islam dalam memperkuat persatuan dan kerukunan bangsa melalui sinergi yang kokoh.

Semangat kebersamaan ini ditandai dengan kehadiran para pimpinan organisasi Islam tingkat wilayah dalam pembukaan Rakerwil yang turut menyemarakkan acara ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Sabtu, 4 Rajab 1446 (4/1/2025).

Dibuka dengan seminar kebangsaan bertema “Merawat Persatuan dan Kerukunan Bangsa dalam Bingkai Dakwah Wasathiyah”, Rakerwil yang kelima ini dihadiri oleh jajaran pimpinan organisasi masyarakat Islam di Jakarta.

Turut hadir perwakilan dari Syarikat Islam, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Al-Jam’iyatul Washliyah, Persatuan Ummat Islam (PUI), Persatuan Islam (Persis), Mathla’ul Anwar, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Ittihadiyah, Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), dan Wahdah Islamiyah.

Kemudian hadir juga perwakilan Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ittihadul Muballighin Wal Muballighot, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Silaturahim Haji dan Umrah Indonesia (SAHI), Rabithah Alawiyah, dan Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCMI). Tidak ketinggalan, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah turut memberikan apresiasi dan ucapan selamat atas terselenggaranya Rakerwil ini.

Eratkan Silaturahim Antar Ormas

Ketua DPW Hidayatullah Jakarta, Muhammad Isnaini, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung acara ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh ormas Islam yang hadir dan memberikan dukungannya. Ini adalah simbol nyata dari kuatnya ukhuwah Islamiyah di Jakarta. Semoga jalinan silaturrahim ini terus terjaga dalam upaya kita bersama merawat persatuan dan kerukunan bangsa,” ujar Isnaini kepada media ini.

Isnaini juga menekankan pentingnya tema seminar kebangsaan yang dirangkai dalam pembukaan Rakerwil ini. Menurutnya, konsep dakwah wasathiyah menjadi kunci dalam membangun bangsa yang harmonis di tengah keberagaman.

“Dakwah wasathiyah adalah transformasi pesan jalan tengah yang menegaskan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Dalam bingkai ini, kita dapat menyatukan langkah untuk menjaga kebersamaan dalam dekapan ukhuwah Islamiyah,” tambahnya.

Seminar kebangsaan yang menjadi pembuka acara Rakerwil ini menghadirkan pembicara H. Anies Rasyid Baswedan, S. E., M. P. P., Ph. D (Gubernur DKI Jakarta 2017-2022), KH. Yusuf Aman, MA (Wakil Ketua MUI DKJ), Ust. Muzakkir Usman Asyari, M.Ed, Ph.D (Direktur Hidayatullah Institute), dan moderator Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah periode 2020-2023).

Narasumber mengupas relevansi dakwah wasathiyah dalam menjawab tantangan sosial dan kebangsaan. Para peserta yang hadir dari beragam ormas Islam menyepakati pentingnya kolaborasi strategis untuk menciptakan ruang dialog yang sehat dan produktif di tengah masyarakat.

Seminar ini juga menjadi ruang refleksi bagi peran ormas Islam dalam menjaga persatuan bangsa, terutama di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.

Pembicara menekankan bahwa dakwah dan peran ormas Islam harus mampu menjembatani perbedaan dengan menampilkan wajah Islam yang berakhlak, jujur, dan solutif terhadap permasalahan kebangsaan.

Lebih jauh Isnaini menyampaikan, selain sebagai forum silaturahim, Rakerwil ini juga menjadi momentum bagi DPW Hidayatullah Jakarta untuk merancang program kerja yang berorientasi pada penguatan ukhuwah Islamiyah dan pembangunan masyarakat yang berkeadaban.

“Program-program yang disusun dalam Rakerwil ini diharapkan mampu mengakomodasi berbagai tantangan sosial yang dihadapi oleh umat Islam di Jakarta, seperti pendidikan, ekonomi umat, dan penguatan moral generasi muda,” katanya.

Isnaini menegaskan bahwa kolaborasi antarormas adalah kunci keberhasilan program-program tersebut. “Kami percaya bahwa kolaborasi adalah langkah terbaik untuk memastikan program yang dirancang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas,” tegasnya.

Selain itu, Isnaini menambahkan, Rakerwil Hidayatullah Jakarta kelima ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Islam di Jakarta tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada kualitas sinergi dan kerjasama antarormas yang terjalin erat.

“Semoga semangat ini terus berlanjut, menjadi inspirasi bagi seluruh umat Islam di Indonesia untuk bersama-sama merawat persatuan dan kerukunan bangsa,” imbuh Isnaini memungkasi.*/Arbani Santoso

Bagaimana Idealnya Agility Organisasi Dakwah di Era Perubahan Cepat

0

BAGI pegiat bisnis dan organisasi, kata “agility” termasuk akrab dalam benak. Agility tidak saja soal ketangkasan individu semata, tetapi juga organisasi, termasuk yang bergerak di bidang dakwah.

Satu hal yang paling mudah kita cermati, organisasi dakwah harus mampu meresepon perubahan yang dinamis dengan cepat dan fleksibel. Organisasi dakwah tidak bisa bergerak “nyaman” dengan gaya lama.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, agility adalah kemampuan sebuah organisasi untuk beradaptasi secara cepat dan efisien terhadap perubahan, baik yang berasal dari dalam maupun luar organisasi.

Di era yang serba cepat ini, organisasi dakwah membutuhkan agility sebagai kemampuan utama untuk menghadapi isu-isu kontemporer yang kompleks seperti Islamofobia, pergeseran nilai sosial, dan tantangan media digital.

Isu-isu ini tidak hanya memengaruhi persepsi masyarakat tentang Islam tetapi juga memengaruhi pola pikir umat, terutama generasi muda yang sangat terpapar pada narasi global.

Jika organisasi dakwah tidak mampu bergerak dengan cepat dan responsif, mereka berisiko kehilangan relevansi dan gagal menjadi pembimbing yang dibutuhkan umat dalam menjawab berbagai tantangan ini. Dalam konteks ini, agility menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.

Dampak

Respons yang lambat dari organisasi dakwah terhadap perubahan sosial dan teknologi dapat berdampak pada hilangnya kepercayaan dan keterlibatan umat.

Sebagai contoh, ketika narasi islamofobia menyebar luas di media sosial, tidak adanya tanggapan yang cepat dan strategis dari organisasi dakwah memungkinkan narasi tersebut mengakar tanpa perlawanan yang berarti.

Di sisi lain, pergeseran nilai sosial yang mengarah pada individualisme dan materialisme membutuhkan pendekatan dakwah yang lebih relevan dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tanpa kemampuan beradaptasi, organisasi dakwah akan tertinggal, sementara umat mencari panduan dari sumber-sumber yang tidak selalu dapat dipercaya.

Dr. Aidh al-Qarni adalah contoh ulama kontemporer yang menggunakan agility dalam menyampaikan dakwah melalui berbagai medium modern.

Bukunya, La Tahzan, menjadi fenomena global karena berhasil merespons kebutuhan umat untuk mendapatkan inspirasi hidup yang relevan dengan tantangan modern.

Dengan agility, ia tidak hanya menyampaikan pesan dakwah tetapi juga menjawab keresahan umat di era modern.

Sekarang apa lagi produk dakwah yang relevan dan menjawab keresahan umat? Artinya, kita punya peluang sekaligus tantangan untuk memberikan jalan keluar.

Agility juga menjadi kunci untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai alat dakwah yang efektif.

Media digital kini menjadi ruang utama diskusi, informasi, dan edukasi bagi mayoritas umat, terutama generasi muda.

Momentum

Jika organisasi dakwah tidak mampu masuk ke ruang ini dengan strategi yang kreatif dan relevan, mereka akan kehilangan momentum dalam menjangkau audiens yang kritis dan dinamis.

Dalam kasus Hidayatullah, posisi majalah Suara Hidayatullah menarik untuk jadi tinjauan. Apakah akan terus bertahan dengan gaya cetak atau kita bertransformasi ke ranah digital. Kajian bisa segera diupayakan, plus langkah-langkah strategis yang relevan.

Dengan memiliki agility, organisasi dakwah dapat dengan cepat merancang program, merespons isu, dan membangun narasi positif yang tidak hanya memengaruhi umat tetapi juga masyarakat global.

Inilah saatnya organisasi dakwah bergerak cepat, terorganisasi, dan adaptif agar tetap menjadi mercusuar kebaikan di tengah dunia yang terus berubah.

Agility dalam konteks organisasi massa Islam atau dakwah bukan hanya tentang kecepatan adaptasi, tetapi juga tentang kemampuan untuk tetap relevan, progresif, dan memberikan dampak nyata di tengah tantangan zaman.

Sejarah membuktikan bahwa agility adalah elemen krusial bagi organisasi massa Islam untuk bertahan dan berkembang di tengah tantangan zaman.

Pada masa Rasulullah SAW, strategi dakwah menunjukkan fleksibilitas dan relevansi yang luar biasa. Ketika dakwah di Makkah menghadapi tekanan dari kaum Quraisy, Rasulullah SAW mengadaptasi pendekatannya dengan hijrah ke Madinah, membangun masyarakat berbasis nilai Islam, dan menyusun Piagam Madinah sebagai bentuk kerangka sosial-politik yang progresif.

Keputusan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap situasi, tetapi juga menghasilkan dampak nyata berupa stabilitas umat Islam yang berkontribusi pada perkembangan dakwah di masa selanjutnya.

Periode kejayaan peradaban Islam pada era Abbasiyah juga memberikan bukti pentingnya agility dalam organisasi Islam.

Dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat saat itu, umat Islam tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi pelopor kemajuan di berbagai bidang, termasuk kedokteran, matematika, dan filsafat.

Khalifah Abbasiyah menunjukkan kemampuan untuk tetap relevan dengan mendukung pengumpulan dan penerjemahan karya-karya besar dunia ke dalam bahasa Arab, yang menjadikan Islam sebagai pusat peradaban global.

Keberhasilan ini hanya mungkin dicapai dengan sikap progresif yang terorganisasi.

Catatan

Di era modern, agility tetap relevan untuk menjawab tantangan kontemporer.

Organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana agility memungkinkan mereka tetap relevan di tengah perubahan sosial, politik, dan teknologi.

Muhammadiyah, misalnya, tidak hanya bergerak di bidang dakwah, tetapi juga dalam pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, dengan memanfaatkan teknologi untuk memperluas dampaknya.

Sementara itu, NU menunjukkan adaptasi yang progresif dengan mengusung “Humanitarian Islam” sebagai respons terhadap kebutuhan menjaga tradisi lokal sekaligus relevan di tengah globalisasi.

Dalam konteks produktivitas publikasi, NU kini patut berbangga dengan adanya NU Online. Situs yang berdiri sejak 2003 itu terus bergerak maju. NU Online telah menggunakan big data, algoritma media sosial dan analisis tren digital dalam memahami kebutuhan audiens.

Secara berkelanjutan NU Online juga bergerak cepat mengembangkan kapasitas dai agar melek teknologi. Lebih jauh NU online terus berupaya menjadi web keislaman yang otoritatif.

Dengan demikian, jika relevansi sudah jadi kesadaran penggerak utama organisasi, maka kebijakan yang memungkinkan peningkatan eksponensial tentang kemampuan yang memberikan dampak nyata benar-benar akan diupayakan.

Mulai dari penguatan leadership kader, empati untuk mendukung budaya desain thinking, hingga kultur organisasi yang kian adaptif, progresif dan solutif.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Shalat Isyraq, Meraih Manfaat dan Berkah Pagi dalam Langkah Istiqamah

0

TENTU suatu amalan akan luar biasa keutamaannya jika dilaksanakan secara yakin, ikhlas, dan konsisten setiap hari. Semakin besar keutamaannya maka semakin berat godaan dan tantangan untuk melaksanakannya. Termasuk melaksanakan shalat Isyraq secara istiqamah setiap hari.

Arti Isyraq ialah “terbit” dan yang dimaksudkannya adalah terbitnya matahari. Namun shalat isyraq tidak boleh dilaksanakan bersamaan dengan terbit matahari. Karena karena menunaikan shalat pas matahari terbit hukumnya haram atau termasuk waktu yang haram untuk shalat. Rasulullah SAW bersabda terkait hal ini:

صَلِّ صَلاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيِ شَيْطَانِ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Laksanakan shalat subuh, kemudian berhentilah dari shalat sampai terbitnya matahari dan hingga matahari meninggi; karena ia terbit saat terbit di antara dua tanduk setan, dan saat itulah orang-orang kafir sujud kepadanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memberi pemahaman mendalam pada kita mengenai waktu-waktu yang dimakruhkan untuk beribadah, termasuk larangan melaksanakan shalat pada saat-saat tertentu, seperti saat matahari sedang terbit, berada di tengah langit, atau menjelang terbenam.

Larangan ini bertujuan untuk menghindari keserupaan dengan praktik ibadah kaum musyrik yang memuja matahari pada waktu-waktu tersebut, serta menjaga kemurnian akidah umat Islam.

Ibnu Rusyd mengatakan dalam kitab Bidayatul al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid bahwa jumhur ulama sepakat untuk tiga waktu yang dilarang salat, yakni ketika matahari sedang terbit, ketika matahari sedang terbenam, dan waktu setelah salat subuh sampai matahari terbit.

Adapun mengapa tiga waktu tersebut dilarang melaksanakan shalat, Ibnu Qudamah dalam kitab karyanya, Mukhtashar Minhajul Qashidin, disebutkan menyebutkan tiga rahasia larangan tersebut, yaitu:

Alasan pertama, menghindarkan dari menyerupai orang-orang yang menyembah matahari. Meskipun secara niat pasti berbeda, tapi sebagai bentuk kehati-hatian dari prasangka dan fitnah di kalangan masyarakat awam maka dilarang shalat saat matahari terbit.

Alasan kedua, sebagai bentuk peringatan keras untuk tidak sujud kepada tanduk setan. Sebab saat matahari terbit, di atas ufuk dan ketika akan terbenam selalu syetan mengiringinya dengan setia. Istilah anak sekarang syetan selalu “nebeng’ kepada matahari di tiga waktu tersebut. Shalat di tiga waktu tersebut dikhawatirkan menyembah syetan yang senantiasa mengiringi matahari.

Alasan ketiga, seperti dijelaskan Ibnu Qudamah, meskipun di tiga waktu tersebut dilarang untuk melaksanakan shalat tapi ibadah yang lain tidak larang. Seperti berdzikir, membaca al-Qur’an, bershadaqah, berdoa. Agar orang-orang beriman tidak bosan dengan ibadah shalat dan bisa beralih kepada bentuk ibadah yang lain.

Maka shalat Isyraq ditunaikan setelah matahari terbit ukuran satu tombak 2.5 meter jika dilihat dari kondisi matahari. Jika tidak memungkinkan melihat matahari maka bisa diperkirakan waktu antara 10-15 menit setelah matahari terbit.

Dalam tata cara shalat Isyraq atau disebut juga dengan shalat sunnah syuruq, itu sama saja seperti pelaksanaan shalat sunnah biasa. Perbedaannya hanya masalah niat saat takbiratul ihram.

Tidak mudah bisa bertahan duduk di masjid dari shalat Shubuh berjamaah hingga melaksanakan shalat Isyraq, jika bukan karena motivasi untuk mengikuti sunnah Rasulullah. Perlu ada tekat kuat untuk

Shalat Isyraq juga menjadi penanda untuk mengawali aktivitas pagi hari dengan kebaikan yang disempurnakan. Tidak semua orang bisa melaksanakannya, apalagi jika ada tuntutan masuk kerja atau sekolah masuk pagi-pagi, sehingga harus lebih cepat keluar dari masjid setelah shalat Shubuh berjamaah.

Beberapa Tips

Pagi hari adalah waktu yang penuh berkah, saat aktivitas kehidupan baru dimulai dengan harapan dan semangat. Di antara amal istimewa yang dapat mendatangkan keberkahan pagi adalah melaksanakan shalat Isyraq dengan keutamaannya yang besar, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah.

Namun, untuk melaksanakan shalat Isyraq dengan istiqamah tentu membutuhkan usaha dan persiapan. Sebelum masuk ke pembahasan tentang tips mudah melaksanakan shalat Isyraq, penting bagi kita untuk memahami betapa besar manfaat dan keutamaannya. Pemahaman ini menjadi dasar motivasi agar hati lebih tertarik dan bersemangat menjalankannya.

Langkah awal adalah dengan membaca dan memahami keutamaan serta tata cara shalat Isyraq. Bacalah literatur atau dengarkan kajian dari para ulama, ustadz, dan dai yang menjelaskan tentang shalat Isyraq. Pengetahuan ini akan menambah wawasan, juga menguatkan keyakinan akan keutamaannya.

Kedua, tumbuhkan motivasi diri. Ingatlah bahwa motivasi terbaik datang dari dalam diri sendiri. Renungkan, mengapa kita harus melaksanakan shalat Isyraq? Apa manfaatnya untuk kehidupan dunia dan akhirat? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu menumbuhkan semangat ibadah.

Selanjutnya, carilah lingkungan yang mendukung. Berada di tengah jamaah masjid atau komunitas yang memiliki kebiasaan baik dapat memotivasi kita untuk ikut melakukannya.

Biasanya, masjid yang aktif mengadakan kajian bakda Subuh atau halaqah akan membantu kita mengisi waktu hingga tiba waktu Isyraq. Hal ini penting agar waktu menunggu tidak terasa berat, sekaligus menjadi ladang amal tambahan dengan dzikir pagi, membaca Al-Qur’an, atau mengikuti majelis ilmu.

Tidak kalah penting, siapkan sarana pendukung seperti buku dzikir pagi dan mushaf Al-Qur’an untuk menemani waktu menunggu. Terakhir, libatkan keluarga dan sahabat dalam perjalanan ini.

Doa dan dukungan dari orang-orang terdekat kita dapat menjadi penguat langkah dalam melaksanakan shalat Isyraq secara konsisten. Dengan niat tulus dan usaha sungguh-sungguh, semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan berkah pagi melalui shalat Isyraq.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Meneladani Nabi Menggapai Keberkahan Pagi Melalui Shalat Isyraq

0

RANGKAIAN amalan yang memiliki keutamaan di pagi hari berikutnya adalah shalat isyraq. Sebelumnya, di awali shalat tahajjud, istighfar di waktu sahur, shalat sunnah sebelum shubuh. Lalu, shalat shubuh berjamaah di masjid, membaca al-Qur’an, wirid pagi, shadaqah shubuh kemudian disempurnakan dengan shalat isyraq’.

Memang sekilas berat dan harus lama duduk di masjid, tapi kalau sudah mencoba beberapa kali secara konsisten menjadi ringan bahkan berubah menjadi berat untuk meninggalkannya. Awalnya berat karena banyak godaan dan alasan, setelah shalat shubuh berjamaah di masjid.

Jika mengikuti nafsu, maunya kita melanjutkan mimpi dengan tidur pagi. Padahal secara dampak sebagaimana temuan para ahli, tidur pagi adalah waktu yang berbahaya bagi kesehatan, secara syariat juga termasuk yang dimakruhkan. Sekilas nikmat dan bisa menjadi kecanduan tidur pagi, namun dampak negatif tidak sederhana bagi kesehatan jasmani dan ruhani.

Tidur adalah salah satu kenikmatan yang besar, banyak manfaat dari tidur untuk mensegarkan tubuh. Tidur sebagai kebutuhan tubuh, jika tidak bisa tidur atau kesulitan tidur maka akan tersiksa dan mengundang penyakit lain.

Meski demikian tidur ada waktunya tersendiri untuk istirahat. Ada beberapa waktu yang dilarang untuk tidur, yaitu setelah shalat shubuh dan setelah shalat Ashar.

Mengenai mudharat tidur pagi, ulama dan pemikir Syaikh Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i al-Dimashqi, atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, mengatakan:

وَمِنَ المكْرُوْهِ عِنْدَهُمْ : النَّوْمُ بَيْنَ صَلاَةِ الصُّبْحِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ فَإِنَّهُ وَقْتٌ غَنِيْمَةٌ

“Di antara hal yang makruh menurut para ulama adalah tidur setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit karena waktu tersebut adalah waktu memanen ghonimah (waktu meraih kebaikan yang banyak)” (Madarijus Salikin, 1: 369)

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menekankan keutamaannya dengan mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi dengan sanad hasan)

Dari hadits ini sudah jelas bahwa hendaknya kita tidak kembali melanjutkan mimpi tidur di malam hari dengan tidur pagi. Bersiaplah menyambut hari yang Allah janjikan keberkahan di dalamnya. Secara hukum fiqih memang bukan haram, tapi bisa tergolong makruh karena merugikan dirinya sendiri.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan “Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan. Tidur pagi juga Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat.” (Zaadul Ma’ad, 4/222)

Beliau juga mengibaratkan bahwa pagi harinya seseorang itu diibaratkan seperti masa mudanya dan akhir hari seseorang itu diibaratkan seperti masa tuanya. Jika di masa muda, bermalasan-malasan, itu akan mempengaruhi masa tua.

Apalagi, tidur setelah shalat shubuh akan membuat badan lemas, tak bergairah, malas untuk melakukan hal-hal bermanfaat serta menyebabkan terbuangnya waktu di hari itu.

Hal yang pasti dari tidur pagi adalah menjauhkan dari umat yang didoakan oleh Rasulullah setiap pagi untuk mendapatkan berkah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dikemukakan sebelumnya.

Sebagian setelah shalat shubuh, ingin baring-baring bersama istri dan itu bagian dari waktu yang nikmat bersama pasangan. Sebagian ada yang buru-buru untuk berangkat kerja pagi-pagi karena jam kerjanya yang masuk pagi atau tempat kerjanya jauh sehingga menuntut berangkat lebih awal. Artinya banyak pilihan dan alasan untuk cepat keluar dari masjid setelah shalat shubuh berjamaah.

Namun ada sunnah shalat isyraq yang dituntunkan dan diteladankan oleh Rasulullah. Shalat sunnah hanya dua rakat, tapi waktunya harus menunggu di masjid setelah shalat shubuh berjamah.

Hadist dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Meskipun ada sebagian ulama yang memperdebatkan pahala dari shalat isyraq ini yang terlalu besar sebagai shalat sunnah. Namun tidak ada yang mempertanyakan bahwa shalat isyraq adalah bagian rangkaian ibadah sunnah yang dilakukan Rasulullah di waktu pagi setelah shalat shubuh berjamaah di masjid.

Motivasi mengikuti dan meneladani sunnah Rasulullah menjadi hal yang terpenting, tentang apapun pahala atau imbalannya menjadi bonus terbaik atas kecintaan kepada Rasulullah. Fokusnya pada meneladani, bukan kepada pahalanya maka Allah akan memberikan yang terbaik.

Dalam hadist di atas, juga harus dipahami bahwa shalat Isyraq adalah satu rangkaian dari shalat shubuh berjamaah di masjid. Artinya syarat pertama untuk shalat Isyraq adalah dimulai dengan shalat shubuh berjamaah di masjid bukan shalat shubuh sendirian, atau berjamaah tapi hanya bersama istri di rumah saja.

Selanjutnya syarat kedua shalat shubuh Isyraq, dalam hadist di atas adalah dzikir. Banyak amalan dzikir yang bisa dilakukan untuk menunggu waktu antara shalat shubuh dan shalat Isyraq, yaitu dzikir itu sendiri, bertasbih, beristighfar, bershalawat, membaca wirid pagi, berdoa, membaca, menghafal atau murajaah al-Qur’an, ikut kajian atau halaqah. Banyak pilihan dan amalan yang bisa dilakukan untuk menunggu waktu Isyraq.

Ada dua pilihan hidup di pagi hari setelah shalat shubuh berjamaah di masjid, kembali tidur untuk melanjutkan mimpi atau bangun tidur untuk mewujudkan mimpi. Yaitu memulai dengan ketaatan ibadah sunnah, amal ibadah dan amal sholeh.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Menapaki 50 Tahun Kedua Hidayatullah dan Semangat Rejuvenasi Perjuangan

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust. H. Drs Hamim Tohari, M.Si, menyampaikan tausyiah subuh pada ajang Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) di Palopo, Kamis, 24 Jumadil Akhir 1446 (26/12/2024).

Berikut petikan tausyiah Deputi Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah ini yang disarikan oleh Ketua DPD Hidayatullah Sidrap Ust Sarmadani Karani, dilansir laman Portalamanah.com:


Alhamdulillah, saya bersyukur baru bisa kali ini sampai di Palopo. Sesuatu yang patut untuk kita syukuri.

Rakerwil dan rapat-rapat di Hidayatullah adalah sebuah rangkaian acara yang sangat penting.

Sejak almarhum Abdullah Said, beliau memberikan penekanan yang luar biasa. Beliau menyarankan, jika perlu, hingga asset lembaga yang dimiliki perlu dikeluarkan untuk menghadiri acara-acara pertemuan di Hidayatullah.

Jika perlu jual asset, jual motor, jual tanah. Untuk menghadiri acara pertemuan tersebut.

Yang berharga dari pertemuan itu adalah penguatan ukhuwah, membangun persaudaraan dalam perjuangan itu, jauh lebih penting di atas materi-materi yang kita kumpulkan.

Kawan-kawan di Papua waktu itu, betapa berat nya untuk sampai ke Silatnas, tetapi semua tetap bisa hadir. Semua anggota syuro waktu itu nyaris tidak ada yang absen.

Di organisasi lain, mungkin syuro ini bisa dihadiri hanya sebagian, 50+1 itu sudah cukup. Tapi di Hidayatullah, tidak hadir satu itu dicari. Cacat itu sebuah syuro jika satu saja tidak hadir.

Kenapa demikian, karena kepemimpinan Hidayatullah adalah kepemimpinan syuro. Dan kepemimpinan syuro di Hidayatullah itu diperkuat saat beralih kepemimpinan dari Ustadz Abdullah Said ke Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Ustadz Abdurrahman tidak pernah memerintahkan sesuatu apapun kecuali dari rapat syuro. Dan syuro tertinggi di Hidayatullah adalah Musyawarah Majelis Syuro (MMS).

MMS yang berjumlah 30 ini, yang membuat keputusan-keputusan di Hidayatullah.

Adalah aneh dan menyalahi aturan, jika di DPD, di DPW tidak gemar melakukan syuro. Wa amruhum syụro bainahum.

Adalah sebuah salah besar, jika oknum-oknum, pemimpin Hidayatullah yang mengambil keputusan dilakukan sendiri tanpa syuro.

Hasil bicara dengan isteri di kamar, keluar dari kamar, hasil bicara itu jadi keputusan. Ada yang begitu. Dan itu tidak dibenarkan. Karena di Hidayatullah adalah keputusan syuro.

Di Hidayatullah tidak ada dinasti, tidak ada firkah-firkah.

30 orang MS di Hidayatullah utuh bekerja dengan efektif. Tapi dalam 2 tahun terakhir ini, Hidayatullah mengalami suatu massa, dimana 6 orang dari 30 penentu Hidayatullah itu absen, karena telah dipanggil Allah SWT.

Periode ini, di penghujung 50 tahun terakhir, kita mengalami masa tahun duka cita. Kenapa? 20% anggota syuro telah pergi duluan.

Dimulai Ustadz Mannan, disusul Ustadz Abdullah Ihsan, Ustadz Hasan Ibrahim, Ustadz Khairil Baits, dan terakhir Ustadz Asih Subagyo, semua telah mendahului kita.

Mereka telah tunai tugasnya. Kondisi ini sangat menyedihkan. Kesedihan mirip ketika istri rasulullah meninggal, terus pamannya, ditambah lagi saat beliau hijrah ke Thaif, beliau harus dapat lemparan batu. Itu berita dukanya.

Namun kemudian, berita baiknya, Allah ganti berita duka itu dengan isra’ mi’raj.

Kita yakin, di 50 tahun kedua nanti, ada kebaikan, ada ‘isra’ mi-raj’. Dibalik semua ini Allah akan menghadirkan kemudahan.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ يُجَاهِدُونَ وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ شُهَدَاءَ ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan demikianlah hari-hari (kekuasaan dan kejadian) yang Kami gilirkan di antara manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa-siapa yang berjuang (dengan sungguh-sungguh) di antara kamu, dan supaya Allah mengetahui pula orang-orang yang sabar. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Ini peristiwa yang perlu kita catat, 50 tahun pertama menuju 50 tahun kedua. Perlu dicatat baik-baik, sejarah Hidayatullah bergeser, dari generasi awal, kepada generasi pelanjut. Di sinilah perlunya Rejuvinasi.

Dua tahun menjelang kepergian Abdullah Said, para petinggi Hidayatullah gelisah. Sudah ada tanda-tanda.

Saya diminta menyampaikan ke Ustad Abdullah Said, SW waktu itu konsep yang masih berada di pemikiran beliau. Disitu lah saatnya ada alih konsepsi.

Saat ini pun demikian, mau tidak mau, rela atau terpaksa, kita butuh alih generasi. Dan tentu juga alih konsepsi.

Meskipun saya, dan ustad Majid sudah tua, tidak ada istilah pensiun. Hanya memang sudah harus sadar diri, sudah waktunya undur diri. Bahwa kita sudah udzur.

Saya kadang menyampaikan ke kawan-kawan yang seusia. Ayo kita belajar ke Burung Elang. Burung yang paling panjang usianya. Bisa sampai 70 tahun.

Ketika Elang itu memasuki massa 30 tahun, bulu-bulunya sudah mulai rontok. Paruhnya sudah panjang, dia kesulitan untuk mencari mangsa.

Dalam keadaan seperti ada 2 pilihan. Apakah dia berani melakukan rejuvinasi, atau mati.

Kekuatan burung Elang itu, perlu disatukan dengan Kekuatan singa-singa yang ada.

Alhamdulillah, Allah berkehendak kepada saya, untuk melalui proses-proses ini. Bersama kawan-kawan yang lain, kita mencoba merumuskan Hidayatullah, dan Alhamdulillah, bisa berjalan dan berkembang.

Grand design Hidayatullah juga telah kita rumuskan, buku sejarah 50 tahun Hidayatullah telah saya buat.

Kita jangan hanya jadi pembaca, tapi hendaknya jadi pelaku sejarah. Kita diberi kesempatan untuk membuat sejarah 50 tahun akan datang.

Pada rakerwil ini, perlu mencanangkan hal hal yang besar, karena di tempat ini ada wajah wajah yang prospektif. Saya yakin, Hidayatullah di Sulsel ini bisa terus berkembang.

Di Hidayatullah, saya selalu optimis, selalu tersenyum. Di Hidayatullah ini, kita sudah pada jalur yang benar. On the track. Kita hanya perlu memperbaiki kecepatan, akselerasi.

Lima puluh tahun kedua nanti, landasan itu sudah kuat, jati diri sudah kokoh, sehingga perlu ada percepatan.

Juara itu selain tepat, juga harus cepat. Tepat di tujuan dan cepat sampai. Disitulah perlombaan. Fastabiqul khairat.

Lima puluh tahun kedua ini harus ada semangat Al Adiyat. Sampai sampai lari nya itu, di kakinya mengeluarkan api.

Ayo kita buka diri, kuntum khaira ummah, uhrijatlinnas. Ayo kita keluar. Jangan jadi katak dalam rempurung. Keluar, cari tantangan baru. Jangan cepat merasa puas.

Mari kita ubah mindset berfikir kita, jangan hanya diri kita masuk surga, ajak orang lain, secara bersama masuk surga.

Ayo, kita lakukan alih generasi, alih pemikiran, untuk Hidayatullah kedepan, dan inilah yang namanya Transformasi.[]

23 Tahun Mengabdi, BMH Teguhkan Komitmen Wujudkan Peradaban Mulia untuk Indonesia dan Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tepat hari ini Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merayakan milad ke-23 di Kantor BMH, Grand Depok City, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat, 25 Jumadil Akhir 1446 (27/12/2024).

Selama lebih dari dua dekade, BMH telah berkiprah, menebar kebaikan, dan menjadi jembatan harapan bagi masyarakat Indonesia, bahkan hingga ke dunia Islam.

Momen bersejarah ini menjadi penegasan komitmen BMH untuk terus berkontribusi dalam mewujudkan peradaban mulia.

Sekretaris Lembaga BMH, Tri Winarno, dalam sambutannya, menekankan pentingnya milad ini sebagai momentum untuk meningkatkan semangat dan memperkuat dedikasi.

“Kehadiran BMH dan juga amil merupakan satu kesatuan gerakan dari organisasi Hidayatullah. Kita memiliki satu cita-cita, satu visi besar, yaitu membangun peradaban Islam. Dalam perspektif ini, sebagai amil yang bergerak di lembaga zakat, kita harus mengorientasikan semua cita-cita kehidupan kita agar selaras dengan misi organisasi tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tri Winarno menyatakan bahwa milad ke-23 ini menjadi panggilan untuk seluruh elemen BMH agar semakin solid dan bersemangat dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Selama 23 tahun berkiprah, BMH telah membuktikan diri sebagai lembaga yang amanah, profesional, dan inklusif, menjangkau berbagai lapisan masyarakat melalui program-program yang menyentuh langsung kebutuhan umat.

Dengan semangat baru di usia ke-23, BMH berkomitmen untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas jangkauan manfaat, demi terwujudnya peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, baik di Indonesia maupun di kancah global.

Perjalanan panjang BMH selama ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan, yang disalurkan melalui zakat, infak, dan sedekah, mampu menghadirkan perubahan positif dan membangun peradaban yang lebih bermartabat.*/Herim

Keutamaan Shadaqah Shubuh Membuka Pintu Berkah Setiap Hari

0

MASYARAKAT Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia dalam World Giving Index 2021. Pada tahun sebelumnya, Indonesia juga menempati peringkat pertama dari 140 negara dalam ajang yang sama. Entah bagaimana penelitian, penilaian, dan indikatornya, namun yang jelas sebagian besar masyarakat muslim terkenal sejak dulu suka berbagi.

Saat haji atau umroh, jamaah dari Indonesia paling disenangi karena ramah, sopan, dan suka berbagi dengan jamaah yang lain. Tentu ini menjadi karakter yang baik, harus senantiasa dijaga dan diwariskan kepada generasi pelanjut.

Shadaqah shubuh juga menjadi trending di masyarakat Indonesia, dengan banyaknya penggiat, komunitas dan gerakan melaksanakan shadaqah shubuh. Sebagian melalui masjid-masjid, sebagian di jalan-jalan, ada yang mengantarkan ke pesantren, panti asuhan dan tempat-tempat orang yang membutuhkan.

Rasulullah SAW berulang kali mengungkapkan kepada umat Islam manfaat sedekah dan beliau terkenal sebagai orang yang paling dermawan. Bukan sekedar berwacana dan memotivasi tapi memberikan teladan dalam giat bershadaqah.

Di antara manfaat itu yakni dapat menolak bencana, memadamkan murka Allah, dan mencegah dari kematian yang buruk. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ

Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.” (HR Tirmidzi).

Maksud hadist di atas, menurut penjelasan para ulama adalah bahwa sedekah itu merupakan benteng yang kokoh dan kuat atau pencegah dari datangnya musibah (bala’). Musibah tidak akan dapat menerjangnya bagi orang-orang yang gemar bershadaqah.

Imam Jalaludin As Suyuthi menyebutkan begitu banyaknya faedah shadaqah, di antaranya menjadi salah satu pintu dari pintu-pintu surga karena sebagai sebaik-baik amal shaleh, menghindarkan dari dari adzab neraka, memadamkan kemurkaan Allah dan panasnya kubur.

Shadaqah satu penyucian harta dan jiwa dapat menggandakan kebaikan dan menjadikan wajahnya bercahaya di hari kiamat.

Dalam masalah sedekah, Nabi SAW juga bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه على مسلمٍ ، تَكشِفُ عنه كُربةً ، أو تقضِي عنه دَيْنًا ، أو تَطرُدُ عنه جوعًا ، ولأَنْ أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ ؛ أَحَبُّ إليَّ من أن اعتكِفَ في هذا المسجدِ يعني مسجدَ المدينةِ شهرًا

Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kebahagiaan kepada sesama Muslim dan menghiburnya saat dia dilanda kesusahan, atau meringankannya saat dia dililit utang, atau memberinya makanan saat dia merasakan lapar. Karena, aku lebih menyukai berjalan bersama seorang Muslim yang berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan, daripada melakukan iktikaf di masjid selama satu bulan penuh.” (HR Ath Thabrani).

Shadaqah adalah perwujudan tauhid, keyakinan terhadap janji-janji Allah dan Rasulullah, percaya adanya pahala dan surga dan memberikan ketenangan yang luar biasa bisa berbagi dengan orang lain. Secara sosial, shadaqah menjadi solusi atau jembatan hubungan kesenjangan antara orang-orang kaya dan kalangan miskin papa.

Kiat Kiat

Shadaqah shubuh merupakan amalan mulia yang membawa keberkahan luar biasa dalam hidup. Dengan berbagi di waktu subuh, kita memulai hari dengan niat baik, membuka pintu rezeki, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, melakukannya secara konsisten bisa menjadi tantangan tersendiri di tengah kesibukan dan godaan sehari-hari. Bagaimana agar kita mampu menjadikan shadaqah shubuh sebagai kebiasaan yang tak terputus?

Berikut beberapa tips praktis untuk dapat melaksanakan shadaqah shubuh dengan konsisten, sehingga manfaatnya bisa dirasakan, baik di dunia maupun di akhirat.

Pertama, menumbuhkan niat kuat untuk konsisten shadaqah shubuh dengan membaca buku, tulisan, kisah-kisah tentang fadhilah shadaqah. Banyak orang yang sudah membuktikan keutamaan dari shadaqah shubuh ini.

Kedua, malam hari atau sebelum shubuh sudah menyiapkan uang, kalau orang dulu uangnya diselipkan di songkok hitamnya, kalau ibu-ibu di dompet kecilnya. Setelah menunaikan salat subuh di masjid, bisa mengisi kotak amal yang tersedia. Berapa pun sedekah diberikan, akan sangat berarti dan memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Ketiga, cara yang lebih praktis zaman sekarang tidak dengan uang cas tapi dengan Qris tahu transfer mobile banking. Asal ada saldo dan alamat rekeningnya maka mudah untuk bershadaqah.

Keempat, menyiapkan sarapan bersama bagi jamaah masjid setelah shalat shubuh. Atau setelah shalat shubuh, mengantarkan sumbangan berupa bantuan kepada mereka yang membutuhkannya. Bisa kepada tetangga, panti asuhan, atau pondok pesantren selepas shalat shubuh. Waktunya sangatlah tepat karena untuk sarapan pagi yang sebagian orang membutuhkan makan.

Kelima, menabung koin atau uang recehan di tabungan-tabungan kotak kecil setiap subuh kemudian jika dirasa sudah cukup banyak, maka bisa menyalurkannya di saat shubuh. Meski dipandang sepele seperti ini akan sangat besar artinya jika melakukannya secara ikhlas dan konsisten.

Sudahkan kita bersedekah shubuh hari ini?

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Indonesia sebagai Darul Dakwah dan Darul Tarbiyah Menuju Bangsa Berdaya Saing

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Selatan, berlangsung seminar peradaban bertema “Urgensi Membangun Masyarakat Religius di Era Disrupsi Digital”, Rabu, 23 Jumadil Akhir 1446 (25/12/2024).

Acara ini diselenggarakan di Aula Rumah Jabatan Walikota Palopo dan menghadirkan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Drs. H. Hamim Thohari, M.Si.

Turut pula bersamanya sebagai narasumber yaitu mantan Rektor IAIN Palopo, Prof Dr Abdul Pirol MAg, dan Ketua Departemen Kepesantrenan (Kadeptren) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafi’i.

Dalam paparannya yang bertajuk Pembangunan Sumber Daya Insani Berbasis Imtaq dan Iptek, Hamim Thohari menekankan pentingnya integrasi iman dan takwa (imtaq) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai landasan membangun masyarakat di tengah tantangan masa kini.

Hamim menekankan posisi strategis Hidayatullah dalam mengartikulasikan visi Indonesia sebagai darul dakwah dan darul tarbiyah. Perspektif ini menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang menjadi ladang dakwah sekaligus pusat pembelajaran.

Ia menegaskan, bagi Hidayatullah, Indonesia adalah darul dakwah dan darul tarbiyah seraya menggarisbawahi visi Hidayatullah tentang peran strategis Indonesia sebagai medan dakwah dan pendidikan untuk mencetak generasi unggul.

Menurut Hamim, semangat religiusitas telah menjadi bagian integral dari sejarah Indonesia, sebagaimana digariskan oleh para pendiri bangsa yang berasal dari kalangan nasionalis dan agamis.

“Salah satu dari empat tujuan pendirian bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelasnya.

Visi mencerdaskan bangsa, sambungnya, bukan hanya soal peningkatan intelektualitas, tetapi juga melibatkan transformasi nilai-nilai moral dan spiritual. Hal ini relevan dalam konteks pendidikan saat ini, di mana perkembangan teknologi informasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru.

Hamim mengidentifikasi salah satu isu utama yang dihadapi bangsa, yakni fenomena generasi muda yang ia sebut sebagai generasi strawberry. Generasi ini digambarkan sebagai kelompok yang tampak mengesankan di luar, tetapi rentan menghadapi tekanan.

“Sayangnya, sekarang ini generasi muda bisa dikatakan generasi strawberry yang dianggap tidak kuat menerima tantangan,” ujar Hamim Thohari.

Namun, di tengah pandangan kritis tersebut, Hamim menyuarakan optimisme terhadap kader Hidayatullah. “Insya Allah, generasi Hidayatullah tidak seperti itu. Mereka adalah generasi tahan banting,” tegasnya. Optimisme ini didasarkan pada pendekatan unik Hidayatullah yang mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Insya Allah generasi Hidayatullah tidak seperti itu. Generasi Hidayatullah harus selalu melek dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki iman dan ketakwaan,” tegasnya optimis.

Keseimbangan antara imtaq dan iptek menjadi isu sentral dalam paparan Hamim Thohari. Ia menekankan bahwa dalam membangun masyarakat religius, iman dan takwa harus menjadi pondasi yang kokoh, sementara ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi alat untuk mencapai kemajuan.

Hal ini tegas dia sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi pendidikan dan pengetahuan sebagai jalan menuju kemaslahatan umat.

Disamping itu, dia menilai kebutuhan akan keseimbangan ini semakin relevan di era disrupsi digital, di mana kemajuan teknologi kerapkali membawa tantangan yang tak sederhana. Misalnya, akses tanpa batas ke informasi digital dapat menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi, teknologi memudahkan umat manusia dalam mencari ilmu. Namun di sisi lain, tanpa landasan iman yang kuat, teknologi juga dapat menjadi sumber distraksi dan kerusakan moral.

Di era ini, transformasi sosial dan budaya terjadi dengan sangat cepat, memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi generasi muda. Istilah “generasi strawberry” mencerminkan fenomena di mana generasi muda terlihat mengilap di permukaan tetapi mudah hancur ketika menghadapi tekanan.

Hamim Thohari menilai bahwa solusi untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan membangun generasi yang kuat secara spiritual dan intelektual.

Ia menekankan bahwa generasi Hidayatullah harus mampu bersaing di berbagai bidang tanpa kehilangan jati diri sebagai insan muslim. “Generasi Hidayatullah harus tahan banting,” tegasnya.*/Ian Kassa

Momen Rakerwil Sulsel Komitmen Perteguh Sinergi Atasi Tantangan Sosial

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Pj Wali Kota Palopo, Firmanza, SH, M.Si, secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Selatan di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Palopo pada Rabu, 23 Jumadil Akhir 1446 (25/12/2024).

Dalam sambutannya, Firmanza menyampaikan apresiasi dan harapan besar terhadap peran Hidayatullah dalam mendukung pembangunan sosial di kawasan terutama di kota idaman itu.

“Kita tahu kiprah Hidayatullah ini merupakan organisasi pelayanan umat di bidang pendidikan dan dakwah. Ketika disampaikan niat menjadikan Palopo sebagai tuan rumah, tentu langsung saya apresiasi,” ujar Firmanza di hadapan ratusan peserta, yang terdiri dari elemen masyarakat, organisasi Islam, dan kelompok pemuda.

Firmanza melihat Hidayatullah sebagai organisasi yang memiliki akar kuat dalam pendidikan dan dakwah, memiliki potensi besar untuk mendukung agenda sosial pemerintah.

Apresiasi Firmanza juga membuka peluang kolaborasi strategis dalam menangani berbagai isu krusial di Kota Palopo, seperti penyalahgunaan narkotika dan judi online.

Dalam pidatonya, Firmanza menyoroti dua masalah sosial utama yang tengah meresahkan masyarakat Palopo yakni penyalahgunaan narkotika dan maraknya judi online.

“Sekarang ini di Kota Palopo marak penyalahgunaan narkotika. Demikian juga dengan maraknya judi online. Gara-gara judi online ini, uang rakyat kecil mengalir ke luar dari negara kita sekitar seribu triliun. Dan itu uang rakyat kecil karena pemainnya masyarakat menengah ke bawah,” tegasnya, dilansir laman Portal Amanah.

Pemerintah terangnya memiliki kepedulian terhadap dampak destruktif dari dua isu tersebut. Narkotika merusak generasi muda, sementara judi online menguras sumber daya ekonomi masyarakat kecil.

Sebagai organisasi berbasis keumatan, Hidayatullah memiliki peluang besar untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya kedua isu ini.

Firmanza secara eksplisit mengundang Hidayatullah untuk bekerjasama dengan pemerintah Kota Palopo dalam mengatasi permasalahan sosial.

“Kepada teman-teman Hidayatullah, ayo kita bekerjasama,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam menangani isu-isu yang kompleks.

Pemerintah, dengan otoritas dan sumber daya yang dimilikinya, dapat menjadi fasilitator kebijakan. Di sisi lain, Hidayatullah, dengan pendekatan dakwahnya, mampu menyentuh masyarakat secara langsung melalui pendidikan dan penyadaran. Kombinasi ini berpotensi menciptakan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Hidayatullah menurutnya telah lama dikenal sebagai organisasi yang fokus pada pendidikan dan dakwah. Di tengah tantangan globalisasi, peran organisasi semacam ini menjadi semakin relevan. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, Hidayatullah tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membangun kesadaran sosial yang kritis.

Di akhir sambutannya, Firmanza mengungkapkan kedekatannya dengan Hidayatullah. Sebagai mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palopo, ia menyebutkan bahwa dirinya bukanlah orang baru di lingkungan Hidayatullah.

“Saya ini bukan orang baru di Hidayatullah. Dulu, kalau pikiran lagi kurang tenang atau pusing-pusing, saya itu ke Hidayatullah,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust Nasri Bohari, dalam keterangannya menyampaikan Rakerwil V Hidayatullah Sulsel ini bukan sekadar agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, terang dia, acara ini menjadi momentum penting untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam menghadapi tantangan sosial.

“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Hidayatullah, harapan untuk membangun wilayah khususnya Palopo yang lebih baik menjadi semakin nyata,” katanya.

Nasri menegaskan, kolaborasi adalah kunci. Masalah narkotika dan judi online seperti dikemukakan Pj Wali Kota membutuhkan pendekatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Dalam kerangka itu, dia menjelaskan, Hidayatullah dapat menjadi motor penggerak untuk menciptakan perubahan yang positif.

“Dengan komitmen bersama, Palopo dan Sulsel secara umum dapat menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi keumatan dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya dan bermartabat,” tandasnya.*/Ian Kassa