Beranda blog Halaman 166

Pentingnya Integrasi Intelektual dan Spiritual dalam Kepemimpinan Pendidikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI, memberi refleksi tentang pentingnya integrasi antara intelektual dan spiritual dalam kepemimpinan pendidikan.

“Saya sangat bangga karena pelatihan ini dirangkai dengan agenda shalat tahajjud berjamaah bagi seluruh peserta. Ini adalah cerminan dari budaya Hidayatullah yang selalu menekankan pentingnya berjamaah, bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Hal itu disampaikan beliau dalam pembukaan Pelatihan Kepala Sekolah Batch#4 Hidayatullah Institute (HI) bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) DPP Hidayatullah selama 5 hari di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, dibuka pada Senin, 28 Shafar 1446 (2/9/2024).

Menurutnya, seorang pendidik tidak hanya memerlukan pendekatan intelektual, tetapi juga harus dilengkapi dengan pendekatan spiritual.

“Sejatinya, kurikulum sekolah Hidayatullah ada di karakter kita masing-masing, baik lahiriyah maupun ukhrawi,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pendekatan ukhrawi (spiritual) di Hidayatullah menjadi fondasi penting yang diyakini dapat mengundang pertolongan Allah SWT dalam setiap usaha pendidikan yang dilakukan. Ia juga menekankan pentingnya meniatkan segala usaha dalam mengelola sekolah sebagai bentuk jihad fisabilillah, semata-mata untuk meraih ridho Allah SWT.

Pelatihan ini juga menjadi momentum bagi para peserta untuk merenungkan kembali tujuan mereka dalam dunia pendidikan. Ir. Abu A’la Abdullah menegaskan bahwa kepala sekolah Hidayatullah harus memiliki tujuan yang jelas dan mulia dalam setiap langkahnya.

“Mari kita niatkan dalam mengelola sekolah kita sebagai jihad fisabilillah, hanya semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT,” ujarnya.

Dia mengingatkan mereka bahwa tanggung jawab sebagai kepala sekolah tidak hanya terbatas pada tugas administratif, tetapi juga mencakup tanggung jawab spiritual yang besar.

Pelatihan ini bukan hanya sekadar program peningkatan kapasitas, jelasnya, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang memperkuat komitmen para peserta dalam menjalankan tugas mereka sebagai pemimpin di dunia pendidikan.

Dengan berbekal ilmu yang telah diperoleh, serta niat yang tulus untuk berkontribusi dalam membangun generasi masa depan, para peserta pelatihan ini diharapkan dapat membawa perubahan positif di sekolah-sekolah mereka masing-masing.

“Inilah harapan besar yang digantungkan kepada para peserta, bahwa para kepala sekolah ini akan menjadi pelopor dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan berorientasi pada ridha Allah,” imbuhnya.

Terus Belajar dan Berbenah

Sementara itu, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd.I, menekankan pentingnya motivasi dan kebanggaan di kalangan para senior atas kehadiran peserta yang beragam ini.

“Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang usia dan pengalaman ini menjadi pemacu bagi kita semua untuk terus belajar dan berbenah,” katanya.

Menurut Nanang, kepala sekolah harus memiliki visi yang manhaji berdasarkan metodologi Islam dan progresif, namun tetap disiplin dan mampu menjadi teladan bagi yang dipimpinnya.

Pelatihan Kepala Sekolah Batch#4 ini adalah awal dari perjalanan panjang para peserta dalam mengabdikan diri di dunia pendidikan.

Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat yang telah diperoleh, kata Nanang, mereka diharapkan mampu mengarungi tantangan yang ada dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa setiap langkah mereka akan membawa kebaikan bagi umat dan bangsa.

Nanang menjelaskan, pelatihan Kepala Sekolah Batch#4 ini sebuah inisiatif yang bertujuan untuk membekali para pemimpin pendidikan dengan keterampilan dan wawasan yang relevan dalam mengelola lembaga pendidikan Islam di era modern sebagai langkah strategis dalam mencetak kepala sekolah yang tidak hanya mumpuni dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter Islami yang kuat.

Keragaman Peserta

Dalam laporannya, Direktur Utama Hidayatullah Institute (HI), Muzakkir Usman, mengungkapkan bahwa pelatihan kali ini mencatatkan jumlah peserta terbanyak dibandingkan batch sebelumnya. Peserta berasal dari berbagai wilayah, dengan dominasi dari Jawa Timur yang mengirimkan 14 peserta.

“Ini menunjukkan peningkatan antusiasme dan kesadaran akan pentingnya pelatihan ini dalam membentuk kepala sekolah yang kompeten dan berkarakter,” ujar Muzakkir.

Dengan rentang usia yang bervariasi, rata-rata 37 tahun, pelatihan ini juga mencerminkan keberagaman pengalaman di antara para peserta. Usia termuda 24 tahun, sementara yang tertua 56 tahun, menunjukkan bahwa pelatihan ini menarik minat dari berbagai generasi, mulai dari yang masih baru dalam dunia pendidikan hingga mereka yang sudah berpengalaman.

Pelatihan yang diselenggarakan selama lima hari ini dirancang dengan total durasi 40 jam, dimulai dari pukul 07.00 hingga 17.30 setiap harinya. Materi yang disajikan mencakup lima topik utama yang tidak hanya fokus pada aspek kepemimpinan konvensional, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islami dalam setiap sesinya.

Selain itu, berbagai simulasi dan studi kasus dihadirkan untuk memberikan gambaran konkret tentang tantangan yang mungkin dihadapi oleh seorang kepala sekolah. Peserta diajak untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mencari solusi, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islami.

Pelatihan ini juga memberikan ruang bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Diskusi kelompok yang intensif menjadi sarana bagi mereka untuk belajar dari satu sama lain, memperkaya wawasan dan perspektif yang mungkin belum pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Kata Muzakkir, salah satu aspek penting yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya membangun jaringan (networking) di antara para peserta. Kepala sekolah tidak bisa bekerja sendiri; mereka memerlukan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas baik di dalam lingkungan Hidayatullah maupun dengan lembaga pendidikan lain di tingkat nasional dan internasional.

Pembukaan pelatihan ini ditutup dengan doa oleh KH. Zainuddin Musaddad, yang mengajak seluruh peserta untuk memohon keberkahan dan kemudahan dalam mengemban tugas sebagai kepala sekolah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Upgrading Guru di Maluku Utara Dalami Implementasi Kurikulum Merdeka Berbasis PIBT

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara (Malut) dalam hal ini diinisiasi oleh Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan (Depdiktren) melakukan kegiatan Upgrading Guru se-Provinsi Maluku Utara dengan tema Implementasi Kurikulum Merdeka Berbasis PIBT, Jum’at, 24 Shafar 1446 (30/8/2024).

Kegiatan yang diselenggarakan di room meeting SMP Ulul Al Baab Hidayatullah Ternate ini diikuti oleh seluruh guru-guru dan pegelola pendidikan se-Maluku Utara serta menghadirkan Instruktur dari Dikjar, Dr. Iksan Gula, M.Pd sebagai Pengajar Praktik PGP A.8 Provinsi Maluku Utara sekaligus sebagai Kepala Sekolah SMA Al Izzah Hidayatullah Sofifi.

Kegiatan ini juga dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan utamanya para pendidik atau pengajar dalam proses pembelajaran dan pedagogi guru penggerak, sehingga mereka mampu menggerakan komunitas belajar di dalam dan di luar satuan pendidikan integral Hidayatullah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Ust. Nur Kholis, S.Pd.I. Dalam sambutannya ia menekankan pentingnya meningkatkan kualitas SDI (Sumberdaya Insani) atau pendidikan dari pada yang lain.

“Kita perlu tingkatkan kualitas SDI atau guru sebagai penggerak utama pendidikan di Hidayatullah yang merupakan program mainstrem organisasi dan amal usaha, selain perhatian kepada pembangunan infrastruktur lainnya, karenanya hari ini kita melakukan kegaitan Upgrading untuk semua guru se-Maluku Utara,” ujar Nur Kholis.

Workshop ini untuk mengenalkan Kurikulum Merdeka dan menyusun strategi pembelajaran yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kemampuan anak siswa/santri.

Kurikulum Merdeka

Instruktur IKM, Dr. Iksan Gula menjelaskan bahwa melalui pelaksanaan Kurikulum Merdeka ini, sekolah dapat menyesuaikan kebutuhan siswa, sehingga para siswa dalam proses pembelajarannya menggunakan pendekatan diferensiasi. Dan, lulusan bisa mendapat bekal yang cukup untuk terjun ke tengah masyarakat kelak.

Iksan Gula menjelaskan, implementasi Kurikulum Merdeka ini, untuk proses pembelajarannya menggunakan pendekatan diferensiasi.

“Dan, ada ciri khusus pada pendekatan diferensiasinya adalah ditekankan pada capaian pembelajaran siswa berdasaarkan fase pertumbuhan anak, sehingga tidak memaksakan kehendak guru atas siswa,” tegas Iksan.

Ia menambahkan bahwa pentingnya peran Guru Penggerak sebagai pemimpin pendidikan yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bahagia bagi peserta didik.

Iksan Gula membeberkan bahwa setiap guru itu harus punya konsep dan metode pembelajaran yang menarik perhatian anak didik, nyaman, dan bikin bahagia bagi mereka.

“Karenanya, para peserta didik itu harus didiagnosis atau perlu asesmen terlebih dahulu untuk mengetahui minat dan bakat mereka sebelum berjalannya kegiatan pembelajaran, sehingga tidak mematikan karakter mereka namun menumbuhkan potensi dalam diri mereka,” tutur Iksan.

Kegiatan selama dua hari ini bersambung dengan pembagian tugas praktik bagi peserta guru untuk mempresentasikan pembuatan portofolio digital. Kegiatan akan dilanjutkan pada Ahad (01/09/2024) di tempat yanh sama.*/Arief Ismail Hanafi

Hidayatullah dan RDC Kolaborasi Majukan Dakwah di Asia Tenggara dan Pasifik

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menerima tim Regional Dakwah Council (RDC) yang beranjangsana ke Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Senin, 28 Shafar 1446 (2/9/2024).

Agenda ini tidak hanya menjadi ajang silaturrahim, namun juga membuka peluang kolaborasi yang lebih intensif antara Hidayatullah dan RDC.

Dalam pertemuan yang hangat dan penuh makna tersebut, dua perwakilan RDC, yaitu Presiden Dr. Nicholas Sylvester dan Ust. Kasim Ali, hadir dan diterima oleh Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa, Dzikrullah W. Pramudya yang didampingi Ust. Abdul Muin dari Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai).

Tema utama yang diangkat dalam pertemuan ini adalah program penguatan dakwah di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. RDC dan Hidayatullah berbagi pandangan mengenai pentingnya sinergi dalam menyebarkan dakwah di wilayah-wilayah ini.

Pada kesempatan tersebut RDC juga mengundang Hidayatullah mengirimkan delegasi ke tiga acara penting RDC selama bulan Oktober dan November mendatang.

Dalam pertemuan ini, kedua pihak juga membahas strategi-strategi untuk mengatasi tantangan dalam berdakwah di kawasan yang memiliki keragaman etnis dan budaya yang tinggi. Salah satu fokus utama adalah pentingnya pelatihan bagi para dai agar mereka dapat menyampaikan pesan Islam dengan baik.

Nicholas Sylvester menekankan bahwa dakwah di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik memerlukan pendekatan yang inklusif dan adaptif. Sementara itu, Ustaz Kasim Ali menambahkan bahwa sinergi antar organisasi dakwah di kawasan ini sangat penting untuk mencapai tujuan bersama.

Diskusi yang berlangsung juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi dalam dakwah di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Salah satunya adalah perlawanan dalam menghadapi arus informasi yang begitu cepat dan seringkali tidak terkendali di era digital ini. Untuk itu, para dai diharapkan dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak dan kreatif dalam menyampaikan pesan Islam.

Agenda RDC

Pada kesempatan tersebut, RDC pula menyampaikan sejumlah agenda acara-acara besar gelaran RDC selama Oktober dan November 2024 mendatang, yaitu Konferensi Dakwah Borneo dengan peserta delegasi dari zona Borneo meliputi Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Selatan Filipina.

Agenda kedua adalah Regional Dakwah Council Summit yang meliputi berbagai kegiatan yaitu RDCBiZ Conference, RDC Women Empowerment Conference, RDC Youth Conference, RDC Humanitarian Conference, dan RDC Education Conference.

Acara berikutnya adalah Regional Da’wah Conference 10 yang diagendakan diikuti peserta delegasi dari 31 negara Asia Pasifik melalui undangan.

Agenda-agenda besar yang akan digelar oleh RDC pada bulan Oktober dan November 2024 ini sebagai upaya untuk memperkuat jaringan dakwah di kawasan ini.

Para pemimpin dakwah di kawasan ini diharapkan dapat terus berkolaborasi dan berbagi pengalaman dalam menyebarkan pesan Islam yang penuh kedamaian.

Dalam konteks yang lebih luas, pertemuan ini juga menunjukkan pentingnya peran organisasi dakwah dalam menghadapi tantangan global saat ini, demikian dikatakan Abdul Muin.

“Dengan pendekatan yang inklusif, adaptif, dan berbasis pada nilai-nilai Islam, dakwah di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi umat manusia secara keseluruhan,” imbuh Muin. (ybh/hidayatullah.or.id)

Dari Lorong Sempit Lahirkan Generasi Qurani di Pesantren Lorong Raudah

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hiruk-pikuk kota Makassar, sebuah pesantren yang tak biasa menggelar wisuda yang mengharukan. Bukan hanya anak-anak muda yang mengenakan pakaian khusus, tetapi juga para ibu dan bapak, bahkan nenek dan kakek, turut serta dalam prosesi wisuda Pondok Pesantren Lorong Raudah Indonesia pada Ahad, 28 Shafar 1446 (1/9/2024).

Pesantren ini, yang dipimpin oleh Ustadz Rahim Mayau, lahir dari sebuah keinginan sederhana: memberikan kebaikan bagi masyarakat sekitar.

Berawal dari pengajian di pos ronda dan emper rumah, kini telah berdiri masjid dan pesantren yang melayani semangat belajar Al-Quran tanpa memandang usia.

“Pesantren ini adalah pesantren masyarakat,” ujar Ustadz Rahim dengan bangga.

“Semua unsur di kampung terlibat, dari anak-anak hingga lansia, semua punya kesempatan untuk belajar Al-Quran,” imbuhnya.

Kehadiran tokoh-tokoh agama seperti KH. Syam Amir Yunus, pendiri PPTQ Imam Ashim Makassar, semakin menguatkan semangat para wisudawan.

“Pesantren Lorong Raudah adalah model baru pendidikan, melibatkan semua komponen masyarakat,” puji beliau.

“Keikhlasanlah yang membuat pesantren ini tumbuh dan bertahan,” ungkapnya.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang sejak 2018 telah mendampingi pesantren ini, turut merasakan kebahagiaan para santri. Berbagai program kolaborasi telah dijalankan, memastikan Al-Quran semakin dekat dengan berbagai kalangan dan usia.

Wisuda ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang para santri dalam mengamalkan ilmu dan menyebarkan kebaikan.

“Dari lorong sempit, mereka melangkah dengan tegap, membawa cahaya Al-Quran ke tengah masyarakat. Sebuah bukti nyata bahwa semangat belajar tak mengenal batas usia, dan bahwa setiap individu, dari anak-anak hingga lansia, memiliki peran penting dalam membangun generasi Qurani yang berakhlak mulia,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulawesi Selatan, Basori Shobirin.*/Herim

Jalan Dakwah Giro Amrullah dari Transmigran hingga Tanah Suci

0

SENYUM lebar tak lepas dari wajah Ustaz Giro Amrullah saat mengenang momen tak terduga yang mengubah hidupnya. Di tengah kesibukannya mengajar di Pesantren Hidayatullah Kendari, ia menerima telepon yang mengabarkan bahwa dirinya terpilih untuk mengikuti program umroh dai dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

“Rasanya seperti mimpi,” ungkapnya dengan mata berbinar kepada Imam Nawawi, Humas BMH Pusat, dalam sesi podcast BMH TV.

“Kaget, sekaligus bersyukur. Ini benar-benar hadiah luar biasa,” ungkapnya pada Sabtu, 26 Shafar 1446 (31/8/2024)

Perjalanan hidup Ustaz Giro memang penuh kejutan. Lahir di Jember, ia kemudian dibawa orang tuanya ke Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, untuk mengikuti program transmigrasi.

Di sanalah, saat SMA, ia berkenalan dengan Pesantren Hidayatullah Kendari dan jatuh cinta pada suasana ibadah yang khusyuk, terutama shalat Tahajjud yang rutin dilaksanakan setiap malam.

Pengalaman itu menuntunnya untuk mendalami ilmu agama dan akhirnya memilih jalan dakwah.

Baginya, dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, tapi juga tentang memahami dan menghargai setiap individu yang didakwahi. “Butuh kearifan dan kebijaksanaan,” ujarnya bijak.

“Dakwah itu mengajak dengan hati,” tegasnya memberi tekanan.

Kini, Ustaz Giro akan menunaikan ibadah umroh, sebuah perjalanan spiritual yang ia impikan sejak lama. Kesempatan ini bukan hanya hadiah atas dedikasinya dalam berdakwah, tapi juga pengingat akan keajaiban hidup dan kuasa Allah SWT.

“Saya akan membawa doa dari seluruh santri dan masyarakat Konawe Selatan, Kendari dan seluruh donatur BMH,” ungkapnya penuh semangat.

“Semoga perjalanan ini semakin menguatkan iman dan semangat saya dalam berdakwah,” sambungnya.*/Herim

Kajian Peradaban Hidayatullah Depok Menggugah Semangat Kesuksesan Dunia Akhirat

0
Suasana kajian (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka membangkitkan semangat keagamaan dan spiritual para santri, mahasantri, ustadz, serta warga sekitar, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok mengadakan sebuah kajian peradaban dengan tema “Sukses Dunia Akhirat dengan Al-Qur’an”.

Acara yang berlangsung khidmat ini diadakan selepas salat Maghrib dan diikuti oleh jamaah yang terdiri dari santri, ustadz, dan warga sekitar pesantren, Sabtu malam, 26 Shafar 1446 (31/8/2024).

Acara ini digelar dengan tujuan untuk menggugah semangat para peserta dalam meraih kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat, dengan berlandaskan pada ajaran Al-Qur’an.

Kajian ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan pandangan baru kepada para peserta mengenai pentingnya keseimbangan antara usaha di dunia dan akhirat.

Ustadz Wahyu Rahman, M.E., yang merupakan Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah dan Anggota Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, menjadi narasumber utama dalam kajian ini.

Beliau menyampaikan pesan-pesan yang mendalam dan penuh inspirasi, mengingatkan para jamaah untuk tidak hanya terpaku pada kesuksesan duniawi, tetapi juga untuk selalu ingat dan berusaha untuk meraih kesuksesan di akhirat.

Dalam kajiannya, Ustadz Wahyu Rahman menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala nikmat yang diberikan.

Beliau mengingatkan para jamaah agar tidak terlalu mengagumi penemuan teknologi tanpa mengingat siapa yang menciptakan segala sesuatu, yaitu Allah SWT.

“Orang yang sukses adalah orang yang membayar zakat, yang mampu secara finansial dan mampu melaksanakan kewajiban yang diberikan kepadanya,” ujar Ustadz Wahyu.

Beliau juga menambahkan bahwa kesuksesan di dunia harus seimbang dengan kesuksesan di akhirat.

“Jika kita ingin sukses, berusahalah di dunia dan jangan melupakan akhirat. Karena jika di dunia sukses, maka di akhirat akan ikut sukses.”

Ustadz Wahyu juga menekankan pentingnya kerja keras dan tidak hanya bergantung pada doa semata. Menurutnya, kesuksesan tidak akan tercapai jika hanya berdoa tanpa usaha.

“Yang membuat orang itu miskin atau tidak sukses adalah cara pandangnya atau mindset-nya, dan yang kedua adalah malas. Jika kita ingin sukses maka kerja keraslah sebaik mungkin,” tegasnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan yang antusias dari para peserta. Salah satu santri, Khafid (17), yang merupakan siswa kelas 12 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, menyatakan bahwa acara ini sangat bermanfaat untuk memotivasi dan meningkatkan semangat belajar para santri. “Materi dan penyampaian sangat menarik,” ujarnya.

Dengan diadakannya kajian ini, diharapkan para peserta dapat mengambil hikmah dan semakin bersemangat dalam menjalani kehidupan dengan seimbang, menggapai kesuksesan dunia dan akhirat dengan penuh keyakinan dan usaha yang maksimal.

(Dilaporkan oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Khidmat dari Rawamangun dan Keteguhan Ustadz Ali Usman Menembus Keterbatasan

0

PADA usia 73 tahun sekarang, Ustadz Ali Usman masih tampak tangguh meski jenggot serta rambutnya telah memutih dan wajahnya dihiasi kerut-kerut pengalaman. Mengenang masa-masa ketika pertama kali ditugaskan ke Cilodong, sekarang Depok, pada tahun 1984, hati beliau dipenuhi oleh beragam emosi.

Keputusan besar itu diambil tanpa didampingi sang istri, Ummi Kalsum, yang saat itu tengah hamil tiga bulan dan terpaksa harus tetap tinggal di Balikpapan. Hanya setelah melahirkan, barulah Ummi Kalsum bisa menyusul Ali, dibantu oleh Maesarah, seorang sahabat setia.

Penugasan ini bukanlah perkara mudah bagi Ali Usman. Ketika perintah untuk pindah ke Jakarta datang, Ali merasa gentar. Jakarta, di benaknya, adalah tempat di mana orang-orang hebat dan cerdas berkumpul, bukan tempat bagi seseorang yang merasa dirinya biasa-biasa saja seperti dirinya. Rasa berat hati berangkat ke Jakarta ini pun ia sampaikan dengan jujur kepada Ustadz Abdullah Said, sosok guru yang amat dihormatinya.

“Jakarta ini bukan kelasnya saya,” ujarnya dengan rendah hati, “karena saya merasa tidak punya apa-apa.” Namun, jawaban yang diterimanya justru membakar semangat dalam dirinya.

“Justru karena itu saya tempatkan kamu di sini,” kata Ali mengutip pesan Abdullah Said itu kepadanya yang selalu diingatnya itu, seolah memahami lebih dalam potensi yang belum disadari oleh Ali sendiri.

Nasihat dari Ustadz Abdullah Said yang paling membekas di hati Ali adalah, “Manfaatkan kebodohanmu itu untuk lebih dekat kepada Allah.” Kalimat sederhana ini menjadi prinsip hidup yang terus ia pegang erat hingga saat ini. Pesan ini mengingatkannya untuk selalu merendahkan diri dan bersandar sepenuhnya pada kekuatan Sang Pencipta.

Peresmian Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok oleh Ketua Mahkamah Agung Republik (RI) Letnan Jenderal TNI Ali Said, SH, pada hari Jum’at, 18 Syawal 1411/ 3 Mei 1991 (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Panti Asuhan Muslimin Putra Mulia

Selama Ali Usman bertugas di Cilodong, ada satu sosok yang selalu diingatnya, yaitu sosok dermawan Haji Agus Soetomo dan istrinya Hj Koes Lawinningsih. Haji Agus bukan sekadar rekan, tapi lebih seperti seorang saudara bagi Ali. Dialah yang pertama kali memulai perintisan Hidayatullah Cilodong dan mewakafkan tanah miliknya untuk menjadi tempat berdirinya pesantren.

“Sebelum saya datang dengan teman-teman enam orang itu, sudah lebih dulu ada keluarga Pak Haji Agus yang diamanahkan menjaga dan tinggal mengurus panti asuhan,” katanya kepada media ini di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad pagi, 25 Agustus 2024.

Panti cikal bakal Kampus Hidayatullah Cilodong ini ini merupakan bagian dari rencana pengembangan Panti Asuhan Muslimin Putra Mulia di Rawamangun, tempat di mana kebutuhan logistik untuk kader-kader Hidayatullah didatangkan. “Makanya dulu orang orang sekitar mengenalnya pondok ini panti,” imbuhhnya.

Khidmat Panti Asuhan Muslimin Putra Mulia Rawamangun juga menjadi kantor pertama untuk kegiatan Hidayatullah di Jakarta, yang juga sekaligus sebagai rumah tempat tinggal Haji Agus Soetomo sekeluarga.

“Kalau tugas ke Jakarta menginapnya di Rawamangun, waktu itu sebagai kantor sekretariat Hidayatullah di Jakarta,” imbuhhnya.

Ali Usman kerap mengenang masa-masa awal itu sebagai saat-saat yang penuh tantangan, namun juga kaya akan pelajaran. “Kebutuhan seperti beras sering dikirim dari Rawamangun,” katanya dengan nada yang mengisyaratkan betapa berharganya setiap bantuan yang datang, sekecil apapun itu.

Namun, hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika pada akhirnya ia harus meninggalkan Cilodong, Ustadz Ali terus membawa spirit yang sama dalam penugasan-penugasan berikutnya. Dari Grogot hingga Tanjung Balai Karimun, prinsip hidupnya tak pernah berubah.

“Saya hanya ingin memahami Islam dengan baik, itu saja, tidak ada kepentingan lain sama sekali,” ungkapnya, menjelaskan motto hidup yang selalu membuatnya tenang dalam menjalankan setiap tugas.

Pengalaman Ali Usman di Tawau, Sabah, Malaysia, pada tahun 70-an juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Di usia yang masih belia, ia berkesempatan bertemu dengan Prof Buya Hamka, seorang tokoh besar yang selalu ia kagumi.

Dia berusaha merangsek dan berhasil menembus kepadatan jamaah di dalam masjid di Sabah pada pertemuan Buya Hamka dengan Tuan Abu Bakar Titingan, Presiden MUIS (Majelis Ulama Islam Sabah) yang pertama kala itu. Disinilah dia berhasil meraih tangan Buya Hamka dan menyalami tangan sang ulama.

“Saya tidak bisa lupa kejadian ini, sejak saat itu saya semakin cinta dan selalu semakin suka dengan buku buku beliau,” ungkap Ali dengan senyum penuh kenangan.

Di lain waktu, di tahun 90-an, ketika Ali membawa sebanyak 80 anak-anak dari Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk belajar di Hidayatullah Balikpapan, ia memberikan pesan yang menjadi bekal hidup bagi mereka. “Ibadah keras, belajar keras, berpikir keras, makan sedikit,” itulah empat hal yang dipesankannya.

Pesan ini ia sampaikan dengan harapan anak-anak itu siap menghadapi kehidupan baru di Gunung Tembak, tempat yang penuh tantangan namun kaya akan peluang belajar.

Dengan menggunakan kapal laut, puluhan anak itu tidak semua dapat melanjutkan perjalanan sampai ke Balikpapan. Sebagian dari mereka turun di pelabuhan pelabuhan Soekarno-Hatta dan dibawa ke Al Bayan Hidayatullah Makassar.

“Tahun 90-an santri Al Bayan banyak santrinya memang dari Flores,” kata Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, dalam obrolan pagi di payungan Guest House Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Senin, 26 Agustus 2024.

Umroh ke Baitullah

Kehidupan Ali Usman adalah serangkaian perjuangan yang tak kenal lelah, penuh pengabdian, dan selalu diselimuti ketegaran. Hingga di usianya yang senja, Allah menghadiahkan umroh baginya, melalui program yang diselenggarakan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

“Ini adalah hadiah terindah dari Allah,” ucapnya dengan suara bergetar saat diwawancarai dalam sesi podcast bersama Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi.

Umroh bagi Ustadz Ali bukan sekadar perjalanan spiritual, tapi juga momen untuk memperkuat tekad dalam berdakwah. “Saya akan kembali dengan semangat baru, untuk terus menyebarkan kebaikan dan menebar cinta kasih,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Kisah hidup Ustadz Ali Usman adalah bukti nyata bahwa pengabdian yang tulus tak pernah sia-sia. Di setiap langkahnya, ia membawa pesan bahwa mendekatkan diri kepada Allah adalah jalan terbaik dalam menjalani hidup.

Perjalanan umroh ini hanyalah salah satu episode dari banyaknya kisah inspiratif yang akan terus diukir oleh seorang dai yang tak kenal lelah berjuang di jalan-Nya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Aliran Air Jernih Harapan Baru Menyirami Hati Santri Yatim di Labuhan Batu

0

LABUBA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah perkebunan sawit yang luas di Ujung Bandar, Kabupaten Labuhan Batu (Labuba), Sumatera Utara, Panti Asuhan Tunas Bangsa berdiri sebagai tempat berlindung bagi 55 santri yatim.

Namun, di balik tembok panti asuhan yang tenang, terdapat perjuangan panjang yang tak banyak diketahui. Kesulitan air bersih telah menjadi bagian dari keseharian mereka, membatasi aktivitas dan menyulitkan kehidupan sehari-hari.

Dan, hari ini, suasana berubah. Air yang jernih dan deras memancar dari sumur bor baru, membawa kebahagiaan yang tak terkira bagi seluruh penghuni panti asuhan.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara, melalui program kemanusiaannya, telah mewujudkan mimpi mereka akan akses air bersih yang layak.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mandi dan mencuci dengan tenang,” ujar Darmawan Hasibuan, salah satu santri, dengan senyum lebar.

“Tidak perlu lagi antri panjang atau menunggu berjam-jam sampai bak air terisi. Airnya pun jernih dan segar,” sambungnya, seperti keterangan yang diterima media ini, Ahad, 28 Shafar 1446 (1/9/2024).

Nuzul Fauzan Sinaga, pengurus panti asuhan, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

“Lokasi panti asuhan ini dulunya sawah, diapit bukit. Kalau hujan, sering banjir. Sumur lama kami hanya 10 meter, airnya sedikit, berminyak, dan keruh kalau hujan. Kini, berkat BMH, masalah itu teratasi.”

Osman Ali, Kadiv Prodaya BMH Sumut, yang menempuh perjalanan 6 jam dari Medan untuk meresmikan sumur bor ini, menegaskan komitmen BMH dalam menghadirkan generasi yang sehat jasmani dan rohani.

“Fasilitas air bersih ini adalah bentuk kepedulian kami. Kami ingin memastikan setiap rupiah yang dititipkan melalui BMH benar-benar membawa manfaat nyata,” ujarnya (30/8/24).

Sumur bor sedalam 60 meter ini bukan sekadar sumber air, tapi juga sumber harapan. Air yang mengalir deras ini akan mengairi bukan hanya tanaman di kebun panti asuhan, tapi juga mimpi dan cita-cita anak-anak yatim yang tinggal di sana. Mereka kini dapat belajar, beribadah, dan bermain dengan lebih nyaman, tanpa lagi dihantui kecemasan akan keterbatasan air bersih.

Kisah dari Panti Asuhan Tunas Bangsa ini mengingatkan kita akan betapa berharganya air bersih, sesuatu yang sering kita anggap remeh. Bagi mereka yang kesulitan mendapatkannya, air bersih adalah anugerah yang tak ternilai.*/Herim

Dari Tanah Papua ke Tanah Suci, Doa Mus Mulyadi Terkabul

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Di tengah keindahan alam Papua yang memukau, Ust. Mus Mulyadi, seorang dai Hidayatullah, memanjatkan doa syukur. Setelah dua dekade mengabdikan diri untuk berdakwah di pelosok Papua, dari Jayapura hingga Wamena, impiannya untuk menunaikan ibadah umroh akhirnya terwujud.

“Setiap selesai shalat, dalam sujud saya selalu berdoa untuk bisa umroh,” ungkapnya haru kepada Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, di Pesantren Hidayatullah Depok, dalam acara Bincang Mulia yang akan ditayangkan di kanal Youtube BMH TV.

“Alhamdulillah, melalui program umroh dai BMH, saya bisa berangkat tahun ini,” sambungnya.

Pria asal NTB ini telah menjadi sosok inspiratif bagi masyarakat Papua. Dengan penuh semangat, ia menyebarkan ajaran Islam, membimbing umat, dan membangun jembatan kebaikan di tengah keberagaman.

“Papua itu indah dan aman,” ujarnya dengan penuh keyakinan, mengajak anak muda Indonesia untuk turut serta dalam misi dakwah di tanah ini.

Keberangkatan Ustaz Mus Mulyadi ke Tanah Suci yang merupakan program Dai Tangguh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bukan hanya sebuah perjalanan spiritual, tetapi juga bukti nyata bahwa doa dan keikhlasan dalam berjuang di jalan Allah akan selalu dibalas dengan kebaikan.

“KIta berharap pengalaman umroh ini semakin menguatkan semangatnya dalam berdakwah, menginspirasi lebih banyak orang untuk menebar kebaikan, dan membawa berkah bagi seluruh umat,” tutup Imam Nawawi.*/Herim

Berteriak dari Atas Dipan

0

Oleh Asih Subagyo (Peneliti senior Hidayatullah Institute (HI) dan Ketua Bidang Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah)

LIMA TAHUN terakhir adalah sebuah perjalanan yang penuh liku, sebuah fase kehidupan yang mengajarkan banyak hal tentang keteguhan, kesabaran, dan kekuatan yang mungkin tak pernah saya sadari sebelumnya. Tubuh ini, yang dulu begitu lincah dan aktif, kini lebih banyak berbaring di atas dipan, terkurung oleh berbagai jenis penyakit yang datang silih berganti. Namun, meski fisik saya terbatas, semangat untuk terus berkarya dan berkontribusi tidak pernah padam.

Setiap hari adalah perjuangan baru. Ada hari-hari di mana rasa sakit begitu menguasai, seolah menguji batas kesabaran dan ketabahan. Tapi, di sela-sela rasa sakit yang terperi, ada dorongan kuat untuk tetap menulis. Ketika kondisi kesehatan memungkinkan, saya segera menulis, mencurahkan segala pemikiran dan perasaan dalam kata-kata yang kemudian saya bagikan di media sosial. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar ungkapan diri, tetapi sebuah cara untuk memberikan semangat kepada orang lain, perlawanan dan sekaligus sebuah pengingat bahwa perjuangan kita semua belum berakhir.

Di tengah keterbatasan fisik, saya belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah hanya berasal dari tubuh yang kuat, tetapi juga berasal dari jiwa yang tidak pernah menyerah. Saya mungkin tidak bisa lagi berlari, tidak bisa lagi melakukan banyak hal yang dulu begitu mudah saya lakukan. Tapi selama saya masih bisa menulis, masih bisa berbagi semangat dan harapan, saya merasa perjuangan ini belum selesai, meski fisik saya terbatas, semangat untuk terus berkarya dan berkontribusi tidak akan pernah padam.

Menulis di Tengah Derita

Menulis bagi saya adalah cara untuk tetap berkomunikasi dengan dunia luar, meski tubuh ini terbatasi oleh ruang dan waktu. Di atas dipan inilah, saya menemukan kembali kekuatan dalam diri, sebuah semangat yang tak pernah benar-benar pudar. Setiap kata yang tertuang adalah refleksi dari keteguhan hati, sebuah perlawanan terhadap rasa sakit yang mencoba menguasai. Melalui tulisan, saya ingin menyampaikan pesan bahwa meskipun tubuh ini mungkin tidak sekuat dulu, jiwa saya tetap hidup dan berjuang.

Tentu saja, ada momen-momen di mana rasa sakit itu tak tertahankan. Ada saat-saat di mana menulis terasa sangat sulit, bahkan sekadar memikirkan kata-kata pun terasa begitu berat. Tapi saya percaya, setiap kata yang berhasil saya tulis adalah bentuk lain dari kemenangan, sebuah pencapaian yang mungkin terlihat kecil, tapi sangat berarti dalam kondisi seperti ini.

Semangat Berbalut dengan Canda

Bagi banyak orang yang mengenl saya selama ini, mungkin masih terlihat saya ceria dan penuh semangat. Namun, mereka tidak selalu dapat melihat apa yang terjadi di balik layar. Setiap kali rasa sakit itu datang, saya mencoba menutupinya dengan canda dan tawa, selain tentu berdo’a kepada Allah ta’ala, hal ini bukan untuk lari dari kenyataan ataupun berpura-pura kuat, akan tetapi sebagai salah satu cara untuk tetap mempertahankan semangat hidup. Candaan itu adalah bentuk lain dari perlawanan, sebuah pelarian yang memberi jeda dari kenyataan yang pahit.

Tulisan-tulisan ini adalah cara saya untuk tetap terhubung dengan dunia, sebuah bentuk eksistensi yang tak terbatas oleh ruang dan waktu dan ini adalah cara saya untuk tetap terhubung dengan dunia, sebuah bentuk eksistensi yang tak terbatas oleh ruang dan waktusemangat, meskipun tubuh ini sering kali menjerit karena rasa sakit.

Ikhtiar dan Tawakal

Di tengah semua ini, ikhtiar medis dan non-medis tetap menjadi bagian penting dari perjalanan saya. Saya terus berusaha mencari pengobatan yang terbaik, mencoba berbagai terapi, dan selalu berdoa agar Allah memberikan kesembuhan. Namun, saya juga menyadari bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali saya, dan di situlah pentingnya tawakal. Saya serahkan semua hasilnya kepada Allah, yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Tawakal bagi saya bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, ia adalah bentuk kepasrahan setelah segala upaya maksimal telah dilakukan. Saya percaya bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini, termasuk sakit yang saya alami, adalah bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Mungkin saya tidak selalu mengerti mengapa harus mengalami ini semua, tapi saya yakin, di balik semua ini ada hikmah yang luar biasa.

Tulisan-tulisan ini adalah cara saya untuk tetap terhubungjiwa ini tetap hidup. Saya bisa terus menyuarakan pemikiran, berbagi pengalaman, dan memberikan semangat kepada mereka yang membacanya. Tulisan-tulisan ini adalah cara saya untuk tetap terhubung dengan dunia, sebuah bentuk eksistensi yang tak terbatas oleh ruang dan waktusan ini adalah cara saya untuk tetap terhubung dengan dunia, sebuah bentuk eksistensi yang tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Mungkin tidak semua tulisan saya memberikan dampak yang besar, mungkin hanya sedikit yang merasa terinspirasi. Tapi jika ada satu saja orang yang merasa dikuatkan, merasa tidak sendirian dalam perjuangan hidupnya, maka saya merasa apa yang saya lakukan tidak sia-sia. Resonansi dari tulisan-tulisan ini adalah bonus, tetapi intinya adalah pesan bahwa meski fisik saya tidak bisa hadir, jiwa saya tetap ada, tetap berjuang, dan tetap hidup melalui kata-kata.

Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Berteriak dari atas dipan adalah refleksi dari sebuah perjuangan yang tak pernah padam. Semoga tulisan-tulisan ini bisa menjadi saksi dari perjalanan hidup saya, sebuah bukti bahwa meski tubuh ini mungkin tak lagi mampu, semangat dan jiwa ini akan terus hidup, berjuang, dan memberikan yang terbaik hingga akhir hayatku kelak mudah saya lakukan. Tapi selama saya masih bisa menulis, masih bisa berbagi semangat dan harapan, saya merasa perjuangan ini belum selesai.

Inilah cara saya bertahan, inilah cara saya tetap berjuang. Fisik saya mungkin terbatasi, tetapi jiwa saya terus berteriak, menyuarakan bahwa saya masih di sini, masih hidup, dan masih berjuang melalui setiap kata yang saya tuliskan. Semoga tulisan-tulisan ini bisa menjadi saksi dari perjalanan hidup saya, sebuah bukti bahwa meski tubuh ini mungkin tak lagi mampu, semangat dan jiwa ini akan terus hidup, berjuang, dan memberikan yang terbaik hingga akhir hayat. Wallahu a’lam.