Beranda blog Halaman 167

Penguatan Dakwah Melalui Daurah Muallim Grand MBA di Kaltara

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Utara bekerjasama dengan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) dan didukung penuh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menyelenggarakan Daurah Muallim GranD MBA dalam upaya memperluas dan memperkuat program Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) serta menyiapkan Muallim Rumah Qur’an yang handal.

Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pada 29 Agustus hingga 1 September 2024.

Mazlis B Mustafa, Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Kalimantan Utara, menyatakan bahwa Daurah Muallim Grand MBA ini merupakan bentuk nyata komitmen DPW Hidayatullah Kaltara untuk membumikan Al-Qur’an dan memberantas buta baca Al-Qur’an di wilayah Bumi Benuanta.

“Dengan adanya Daurah Muallim GranD MBA ini, kami berharap dapat mencetak lebih banyak Muallim yang berkompeten dan berdedikasi dalam menyebarkan ajaran Al-Qur’an, khususnya di wilayah Kalimantan Utara,” ujar Mazlis, dalam keterangannya seperti dilansir laman Posdai.or.id, Jum’at, 25 Shafar 1446 (30/8/2024).

Kegiatan ini juga lanjut dia menjadi langkah lanjutan dari program Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an yang merupakan program nasional Hidayatullah.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Utara, Ust Muhammad Khirson Sulaiman, S.Pd.I, dalam sambutannya menekankan pentingnya setiap dai dan daiyah untuk menjadi sahabat Al-Qur’an serta pejuang dakwah Al-Qur’an.

Khirson menegaskan bahwa peran dai dan daiyah Hidayatullah Kaltara, terutama para muallim, adalah untuk selalu mendekatkan diri dan mengasosiasikan diri mereka dengan Al-Qur’an.

“Sebagai sahabat Al-Qur’an, para da’i dan da’iyah harus memosisikan dirinya sebagai muqarrabah (yang akrab) dan muqarranah (yang mengasosiasikan) diri mereka terhadap Al-Qur’an,” tutur Ust Khirson.

Apresiasi dan Inspirasi dari Tingkat Nasional

Pada kesempatan yang sama, Ustadz Muhdi Muhammad, Koordinator Rumah Qur’an Hidayatullah Nasional yang juga berperan sebagai Instruktur Nasional Grand MBA, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini.

Menurut Muhdi, Daurah Muallim Grand MBA di Pulau Sebatik ini merupakan wilayah yang pertama kali dilaksanakan secara nasional pada tahun 2024.

Dia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia untuk menyelenggarakan daurah serupa di masa mendatang.

“Acara ini merupakan tonggak penting dalam Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an di Indonesia. Semoga menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melaksanakan program yang sama,” lanjut Ustadz Muhdi.

Menurut data tahun 2022, Hidayatullah telah mendirikan sekitar 1.600 Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) di seluruh Indonesia. Gerakan mendakwahkan Al-Qur’an ini, lanjut Muhdi, menjadi bukti keseriusan Hidayatullah melalui para da’i, dalam upaya membumikan Al-Qur’an di masyarakat.

“Program ini tidak hanya menargetkan pengentasan buta baca Al-Qur’an tetapi juga berupaya memperkuat pemahaman dan pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Muhdi.

Ust Aray Ramli, Ketua Panitia Daurah Muallim GranD MBA, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta yang merupakan perwakilan dai dan daiyah Hidayatullah dari berbagai daerah di Kalimantan Utara.

Peserta yang hadir berasal dari Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan.

Dengan terlaksananya Daurah Muallim GranD MBA ini, kata Aray, diharapkan lahir muallim-muallim baru yang siap menjadi garda terdepan dalam penyebaran dan pengajaran Al-Qur’an di Kalimantan Utara, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam memajukan dakwah di Indonesia. (ybh/hidayatullah.or.id)

BMH Raih Predikat Sangat Baik dalam Audit Syariah Kementerian Agama

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) —Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) baru saja mencatatkan prestasi gemilang dalam audit syariah yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia.

Selama delapan hari audit yang ketat, mulai dari 20 hingga 28 Agustus 2024, BMH berhasil membuktikan komitmennya terhadap pengelolaan dana ZIS yang sesuai syariah dan transparan.

Proses audit ini mencakup berbagai aspek penilaian, seperti manajemen tata kelola, pengumpulan Dana Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS), serta penyaluran dan pendayagunaan dana tersebut.

Pelaksanaan audit ini merupakan amanah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014, yang mengharuskan pengelolaan dana zakat diaudit secara syariah dan diaudit secara keuangan.

Hasil audit menunjukkan BMH meraih predikat “Sangat Baik” dengan nilai mengesankan 89,71 dalam aspek kepatuhan syariah.

Tak hanya itu, BMH juga mendapatkan predikat “Transparan” dengan nilai 83,75. Penilaian menyeluruh ini mencakup manajemen tata kelola, pengumpulan, penyaluran, dan pendayagunaan dana ZIS.

Tim auditor dari Kementerian Agama juga terjun langsung untuk mengevaluasi program-program BMH, terutama program pemberdayaan ekonomi berbasis Dai yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan umat.

Ketua Pengurus BMH, Firmanza, mengungkapkan rasa syukurnya atas hasil audit yang sangat baik ini.

“Alhamdulillah, proses audit telah berjalan lancar dan hasilnya sangat memuaskan. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja dan menjaga transparansi dalam pengelolaan dana ZIS,” ujarnya, dalam keterangannya diterima media ini, Rabu, 23 Shafar 1446 (28/8/2024).

Apresiasi juga datang dari Ketua Tim Auditor Syariah, Ali Efendi, yang memuji kerja sama BMH selama proses audit.

Dengan hasil audit yang cemerlang ini, BMH semakin memantapkan posisinya sebagai lembaga pengelola zakat yang terpercaya dan berkomitmen untuk terus memberikan manfaat bagi umat.*/Herim

Kang Maman Apresiasi Buku “Bahagia dengan Berqurban, Ibadah dan Kepedulian Sosial”

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar peluncuran buku terbaru berjudul “Bahagia dengan Berqurban, Ibadah dan Kepedulian Sosial”. Peluncuran buku ini berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Otista, Polonia, Jakarta, pada Rabu, 23 Shafar 1446 (28/8/2024).

Maman Suherman, penulis dan tokoh literasi nasional, mengapresiasi terhadap terbitnya buku ini. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa buku ini bukan sekadar bacaan biasa, melainkan sebuah wahana edukasi yang penting bagi masyarakat dalam memahami qurban sebagai sebuah ibadah dan bentuk kepedulian sosial.

Menurut Kang Maman, sapaan akrabnya, buku ini menghadirkan berbagai dimensi qurban yang sebelumnya tersebar dan kurang terdokumentasi dengan baik.

“Diplomasi kebudayaan qurban pun dibahas di buku ini. Betapa banyak dimensi yang ada di qurban tapi kemudian terserak di mana-mana, seharusnya kita bukukan,” ujar Kang Maman.

Sebagai seorang yang tekun menggeluti dan menggerakan budaya literasi, Kang Maman mengungkapkan harapannya agar buku ini dapat memperluas wawasan masyarakat tentang qurban yang memiliki makna luas dan mendalam.

Ia juga memuji kualitas penulisan buku yang dinilainya sangat memadai dan mampu mengemas informasi secara komprehensif.

“Ini hanya 116 halaman, tapi kita bisa dapat semua hal tentang qurban. Kalau dalam jurnalistik W5H1-nya dapat, so what-nya dapat, kemudian ada delapan fungsi jurnalismenya dapat,” kata Kang Maman.

Namun, dengan nada ringan, Kang Maman menambahkan bahwa ada satu aspek yang belum tercover dalam buku ini, yaitu qurban perasaan. “Bagaimana cinta bisa dikurbankan untuk orang tercinta, itu kan luar biasa,” ujarnya, menutup dengan senyum penuh arti.

Literasi dan Minat Baca

Dalam kesempatan yang sama, Kang Maman juga menyoroti isu literasi di Indonesia, terutama terkait dengan akses terhadap bahan bacaan. Menurutnya, minat baca masyarakat Indonesia sebenarnya tinggi, namun sayangnya tidak diimbangi dengan jumlah buku yang dapat diakses dengan mudah.

“Saya lagi lagi adalah orang yang tidak percaya bahwa kita adalah bangsa yang tidak suka baca. Saya ingin mengatakan ini hanya persoalan akses dan persoalan ekosistem perbukuan. Mau nggak negara mendukung gerakan perbukuan supaya perbukuan kita tidak terjebak dan dijepit oleh dua mahluk yang luar biasa, pajak dan bajak,” tegas Kang Maman.

Ia juga berbicara tentang tantangan yang dihadapi penulis dan penerbit dalam mempertahankan hak cipta karya mereka di tengah maraknya pembajakan.

“Buku saya yang 90.000 di toko buku, itu di media online ada yang jual 3.000 PDF-nya. Ini perang yang harus dilakukan bersama-sama,” tambahnya, menggarisbawahi pentingnya perlindungan hak cipta dan dukungan terhadap industri perbukuan.

Kembangkan Syiar Kebaikan

Sementara itu, Imam Nawawi, ketua tim penulis buku, menjelaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan bagian dari upaya Laznas BMH untuk terus mengembangkan syiar kebaikan, khususnya terkait zakat dan qurban.

Menurunya, sebagai ajaran Islam maka zakat dan qurban mestinya tidak hanya ramai dibahas atau dikaji di bulan Ramadhan atau momen Idul Adha. Hal ini sama dengan kita sebagai sebuah bangsa, maka semangat dari kemerdekaan Indonesia seharusnya tidak hanya ramai dikaji ketika Agustus saja.

“Buku ini adalah pengingat bahwa di waktu kapanpun kita harus sadar bahwa ada dimensi yang sangat dekat diri kita dengan Allah, itulah qurban. Dengan adanya buku ini, diharapkan kebaikan itu perlu dipicu dan dipacu,” ujarnya.

Imam Nawawi juga menekankan pentingnya literasi sebagai bagian dari peradaban bangsa. Ia percaya bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang banyak menghasilkan pemikiran, salah satunya dalam bentuk buku.

“Buku ini bukan ensiklopedia tentang qurban, tapi sampling tentang bagaimana kebaikan qurban itu berlangsung, khususnya yang menjadi komitmen dan kiprah BMH,” jelasnya.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan umat Islam, Imam Nawawi mengajak masyarakat untuk terus berpikir mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan demi kebaikan umat dan bangsa. Menurutnya, langkah baik yang telah diambil perlu dilipatgandakan melalui berbagai inisiatif, salah satunya dengan menerbitkan buku.

“Upaya menerbitkan buku ini harus menjadi kesadaran bersama untuk menjadikan literasi sebagai arus utama yang membawa umat dan bangsa Indonesia semakin mencintai kebaikan,” tandasnya.

Pada kesempatan ini, Direktur Utama Laznas BMH, Supendi, serta Direktur Program & Pemberdayaan BMH, Syamsuddin, turut memberikan sambutannya.

Mereka mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaan atas terbitnya buku ini, yang mereka harapkan dapat menjadi inspirasi dan panduan bagi masyarakat dalam melaksanakan ibadah qurban dengan penuh kesadaran dan kepedulian sosial. (ybh/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Menjadi Pribadi yang Istiqamah

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Menjadi pribadi yang istiqamah adalah capaian luar biasa. Hal itu karena jalannya tidak mudah dan tidak sedikit orang gagal menggapainya.

Tsa’labah misalnya, ia sahabat Nabi yang sadar menjadi kaya karena doa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam kepada dirinya. Namun, saat peternakan kambingnya melimpah, ia mulai memandang bahwa kekayaan itu adalah karena usahanya. Tsa’labah menolak membayar zakat.

Kemudian saat Tsa’labah mulai sadar dan ingin membayar zakat, namun Nabi menolaknya. Bahkan pada era kepemimpinan khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) zakat Tsa’labah tetap tidak diterima.

Tsa’labah akhirnya mengalami penderitaan, kekayaannya perlahan berkurang, hilang, dan bangkrut. Tsa’labah gagal menjadi pribadi yang istiqamah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar lebih memilih jalan istiqamah daripada jalan-jalan yang tampak menguntungkan namun hakikatnya merugikan?

Pertama, tentu saja belajar dari sejarah. Tsa’labah adalah satu kisah. Kisah yang lain masih ada dengan berbagai jenis persoalan hidup yang orang hadapi.

Kedua, meyakini janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sedalam-dalamnya.

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّٰتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 72).

Ibnu Katsir menerangkan makna ayat tersebut bahwa bagi orang yang benar imannya, lalu berupaya untuk istiqamah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah siapkan balasan berupa kebaikan dan kenikmatan yang kekal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam pendekatan logika, saat seseorang percaya masa depannya akan indah dengan komitmen pada keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia akan mendesain kehidupannya dari waktu ke waktu untuk terus menjaga keimanannya, senantiasa dalam kebaikan dan ketaatan. Dan, ia benar-benar berusaha menjauh dari dosa dan kemungkaran.

Hal itu sama dengan seseorang yang mendapat informasi bahwa dalam sebuah kawasan ada kebakaran lalu ia percaya, maka sesegera mungkin ia akan menyelamatkan diri dan keluarganya agar selamat dari musibah kebakaran.

Ketiga, mengingat pesan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata: “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku ungkapan tentang Islam, yang aku tidak akan lagi menanyakannya kepada seorang pun selain engkau.” Dengan singkat beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah’.” (HR Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya istiqamah dalam agama.

Istiqamah adalah perjalanan jiwa yang teguh di jalan kebenaran, menjaga keseimbangan antara ketaatan lahir dan batin. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali tentang makna hadits tersebut, ini adalah inti dari seluruh ajaran agama, mengajak kita untuk senantiasa berada di jalan yang lurus tanpa terombang-ambing oleh godaan duniawi.

Perhatikan, bagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tidak memberikan daftar panjang ritual atau hukum, melainkan menyoroti dua hal mendasar: iman kepada Allah dan istiqamah.

Ini menunjukkan bahwa iman saja tidak cukup, melainkan harus disertai dengan keteguhan dan konsistensi dalam menjalankan ajaran agama.

Istiqamah ibarat pondasi yang kokoh bagi bangunan iman. Tanpa istiqamah, iman kita akan mudah goyah diterpa angin dan badai kehidupan.

Kita mungkin rajin beribadah di satu waktu, namun lalai di waktu lain. Kita mungkin semangat mempelajari agama di satu kesempatan, namun malas di kesempatan lain.

Istiqamah adalah kunci untuk menjaga agar semangat dan ketaatan kita tetap terjaga, sehingga iman kita terus bertumbuh dan berkembang sampai akhir hayat tiba.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’ (QS. Fushshilat: 30).

Ayat ini mengajarkan kita tentang pentingnya memiliki keimanan yang teguh kepada Allah, istiqamah dalam ketaatan, dan senantiasa berharap akan rahmat dan karunia-Nya.

Dengan demikian, kita akan mendapatkan ketenangan, kebahagiaan, dan balasan surga di akhirat kelak. Jadi, teruslah berupaya, bahkan berjuang untuk benar-benar menjadi pribadi yang istiqamah.

Oleh karena itu jika ada hal yang harus selalu kita perhatikan adalah keistiqamahan iman kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا

“Beristiqamahlah kalian meskipun kalian tidak dapat melakukannya dengan sempurna.” (HR. Tirmidzi)

Di tengah godaan dunia yang terus menari-nari, mengajak akal dan pikiran kita melupakan Allah, mendahulukan kesenangan sesaat dalam kehidupan dunia ini, mari berjuang untuk istiqamah. Jangan pernah memandang ada yang lebih mahal daripada keimanan kita. Jangan pula meletakkan iman pada level yang tidak seharusnya.

Perhatikanlah, iman itu bukan hasil usaha manusia, itu adalah hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang bersungguh-sungguh berpikir, membaca, merenungi kehidupan ini belum tentu dapat hidayah. Sedangkan kita atas nikmat Allah, lahir dari orang tua yang beragama Islam.

Maka mari syukuri ini dengan sekuat tenaga, jangan sampai iman melemah apalagi semakin disfungsi dalam kehidupan yang fana ini. Setelah dunia ada akhirat, sungguh nanti kita akan ada di alam akhirat. Bersabarlah sebentar, bersyukurlah selalu, dan istiqamahlah sepanjang waktu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Posdai Bekali Mahasiswa Calon Kader Dai dengan Materi Grand MBA

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah memberi pembekalan kepada para kader calon dai sarjana melalui program Daurah Muallim Grand MBA (Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al-Qur’an) selama empat hari yang dibuka pada Selasa, 22 Shafar 1446 (27/8/2024).

Kegiatan ini sendiri merupakan rangkaian kegiatan Pemusatan Pengaderan Mahasiswa Calon Dai dan Wisudawan STIE Hidayatullah Depok Tahun 2024 yang dibuka sejak Ahad malam lalu (26/8/2024) di Aula Abdullah Said, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Pada Daurah Muallim Grand MBA yang diikuti mahasiswa boarding Semester VIII STIE Hidayatullah ini menghadirkan langsung narasumber Koordinator Nasional Grand MBA Ust. Muhdi Muhammad, S.Ag.

Muhdi mengatakan topik utama yang disampaikan adalah bagaimana mendekatkan masyarakat kepada al Qur’an melalui metode pengajaran Grand MBA.

Muhdi menyampaikan bahwa untuk membangun ekonomi masyarakat perlu didasari dengan nilai-nilai yang berbasis Al-Qur’an.

“Karena program ekonomi sebaik apapun, jika pelakunya tidak jujur, tidak amanah, rakus, dan mementingkan diri sendiri maka program itu akan gagal total,” pesannya.

Dia menjelaskan, Grand MBA yang disyiarkan melalui Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an, tidak hanya memberikan bimbingan yang berkaitan dengan Al-Qur’an saja, tetapi bisa dikembangkan untuk menumbuhkan potensi masyarakat, termasuk potensi ekonomi.

Dia menyebutkan, sekarang ada 2000 lebih jaringan RQH dan MQH dan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya profesionalitas pengelolaannya dan pengembangannya.

“Ini merupakan peluang yang besar bagi sarjana ekonomi yang juga sebagai seorang da’i dan guru mengaji untuk beraktualisasi dan mengembangkan diri,” katanya.

Dia pun berpesan kepada mahasiswa agar menyelami kebutuhan mendasar masyarakat. Salah satu kebutuhan masyarakat, terangnya, adalah perlu bimbingan untuk menghadapi beratnya kehidupan ini.

“Dekatkan mereka dengan Al-Qur’an, karena hanya Al-Qur’an yang paling sefrekuensi dengan jiwa manusia,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan harapan untuk peserta, semoga ilmu yang sudah dipelajari pada pembekalan ini dapat diamalkan dengan istiqamah.

Daurah Muallim Grand MBA yang berlangsung intensif selama empat hari ini membahas dan melakukan simulasi mengenai metode pembelajaran Grand MBA sebagai bekal bagi mahasiswa.

Rangkaian TC 40 hari ini dirancang untuk menantang mahasiswa calon dai sarjana dalam berbagai aspek, baik secara individu maupun dalam konteks masyarakat.

Calon dai yang akan ditugaskan ini diajak untuk menghadapi diri sendiri, mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, serta bagaimana mereka dapat berkontribusi secara positif di masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Semangat Pengabdian dan Kepemimpinan Profetik dari DMW STAIL 2024

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pelatihan Kader Inti Hidayatullah melalui Daurah Marhalah Wustho (DMW) telah menjadi wadah bagi para kader untuk memperdalam semangat pengabdian dan kepemimpinan profetik. Beberapa tokoh penting Hidayatullah menyampaikan pesan-pesan inspiratif yang menggugah semangat para kader.

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ust. Syamsuddin menekankan pentingnya mentalitas pengorbanan dan kesiapan untuk ditugaskan.

“Kader tidak mengenal keluh kesah. Tidak mudah mencari alasan. Jangan pernah merasa dikorbankan dengan sebuah dikorbankan, tapi, sebuah pengorbanan,” tegasnya, Selasa, 22 Shafar 1446 (27/8/2024).

Ia juga mengingatkan bahwa “Marhalah wustho itu kader inti Hidayatullah, maka siaplah untuk ditugaskan.”

Ust. Ali menyoroti kebutuhan dunia akan pemimpin profetik yang fokus pada umat. “Yang dibutuhkan oleh dunia sekarang ini, adalah pemimpin yang prophetic leader,” katanya.

Fokus berbuat untuk umat, maka Allah akan memberikan pertolongan. Tapi, ketika ada interest terhadap pengabdian, maka, akan menghasilkan kesebalikannya,” jelasnya.

Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Ust. Shaleh Usman mengajak para kader untuk melampaui prestasi para perintis.

“Para kader sekarang, harus mampu membuat karya lebih besar, dengan modal yang telah ada saat ini. Para perintis mampu membuat karya hebat, dengan modal 0,0,” ujarnya penuh semangat. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kepada Allah sebagai spirit utama.

“Sistematika Wahyu adalah spirit gerak mereka. Pendekatan kepada Allah, itulah yg utama,” tegasnya.

Pelatihan ini diharapkan dapat membentuk kader-kader Hidayatullah yang siap memimpin dan mengabdi untuk umat dengan semangat pengorbanan dan kepemimpinan profetik.*/Herim

Sinergi BMH-KUA, Pelaku Usaha di Balikpapan Dapat Pelatihan Bisnis Gratis

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kementerian Agama (Kemenag), BMH Kaltim, dan KUA Balikpapan Timur baru-baru ini mengadakan pelatihan bisnis keren bagi 15 pelaku usaha di Balikpapan Timur. Acara ini diadakan di gedung KUA Balikpapan Timur, Gg. Sumber Rejeki RT. 21, No.54 Kel, Lamaru, Senin, 21 Shafar 1446 (26/8/24).

Pelatihan ini bertujuan untuk membantu para pelaku usaha, terutama yang masih merintis, untuk mengembangkan bisnis mereka. Para peserta dapat belajar banyak hal, mulai dari cara mengelola keuangan sampai tips memasarkan produk.

Workshop ini menghadirkan sejumlah sesi berharga, termasuk pendampingan pengembangan usaha di mana peserta menerima asistensi langsung untuk usaha mereka, mulai dari bantuan teknis hingga nasihat bisnis.

Dengan fokus utama pada pemberdayaan ekonomi umat, terutama mereka yang berada di kelompok masyarakat pinggiran, program ini tak hanya membekali peserta dengan keterampilan praktis, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dengan menciptakan peluang dan meningkatkan pendapatan bagi mereka yang seringkali terpinggirkan.

“Insya Allah program ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam setiap langkah usaha yang mereka rintis. Kami percaya dengan pendampingan yang berkelanjutan, peserta dapat berkembang lebih mandiri secara ekonomi dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka,” ungkap Fajar dari Kemenag.

Kemenag dan BMH berharap program ini bisa membantu mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat. Selain itu, mereka juga ingin memastikan bahwa nilai-nilai agama tetap menjadi bagian penting dalam setiap usaha yang dijalankan.

Lily Handayani, salah satu pembicara di acara tersebut, mengaku kagum dengan semangat para peserta. Ia yakin bahwa dengan pelatihan ini, masyarakat Balikpapan Timur punya peluang besar untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

“Saya sangat terkesan dengan antusiasme dan semangat para peserta dalam menggali pengetahuan baru dan mengembangkan usaha mereka. Melalui program ini, saya melihat potensi besar yang dimiliki masyarakat Balikpapan Timur untuk meningkatkan taraf hidup mereka melalui pemberdayaan ekonomi,” ungkap Lily.

Achmad Rifai dari BMH Kaltim juga merasa senang bisa ikut berkontribusi dalam acara ini. Ia berharap pelatihan ini bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha.

“Kolaborasi ini memberikan manfaat nyata bagi peserta, terutama dalam meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha. Semoga ini jadi langkah awal perubahan positif. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi,” ungkap Rifai.*/Herim

Mahasiswa Sekolah Dai Ciomas Angkatan ke-10 Ikuti Masa Pengenalan Kampus

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Masa Pengenalan Lingkungan Kampus (MPLK) menandai dimulainya program kuliah intensif Sekolah Dai Ciomas Bogor Angkatan ke-10 Tahun Ajaran 2024-2025 di kawasan Sekolah Dai Ciomas Jl Pasir Peundey, RT/RW 04/01, Kampung Cibinong, Desa Sukharja, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, dimulai pada Rabu, 21 Shafar 1446 (26/8/2024).

MPLK merupakan sebuah tradisi yang selalu hadir di setiap awal tahun ajaran baru di Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Bogor. Pada tahun ajaran 2024-2025, MPLK diselenggarakan selama tujuh hari dari tanggal 26 Agustus hingga 1 September 2024, diikuti oleh 21 calon mahasiswa yang siap memulai perjalanan akademis mereka.

Menurut Waka Kurikulum Sekolah Dai Ciomas, Ust. Ahmad Zainuddin, Lc, M.A, MPLK bisa diibaratkan sebagai masa “ta’aruf”, sebuah proses pengenalan yang esensial sebelum para calon peserta program kuliah dai ini memasuki kehidupan lingkungan pendidikan yang sesungguhnya.

“Di sinilah mereka mulai mengenal lingkungan kampus, aturan-aturan, serta materi-materi yang akan menjadi teman setia selama satu tahun ke depan,” kata Zainuddin, seperti dilansir laman Posdai.or.id.

Lebih dari itu, terang Zainuddin, MPLK juga bertujuan untuk mengenalkan materi-materi yang akan diajarkan seperti bahasa Arab, sirah nabawiyah, dan ilmu-ilmu lain yang relevan.

Pengenalan Dakwah

Sebagai calon dai, pengenalan tentang dakwah juga menjadi materi yang sangat penting dalam MPLK Sekolah Dai. Dalam sesi ini, mahasiswa diajak memahami konsep dakwah yang benar serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Grand MBA adalah salah satu kurikulum andalan di Sekolah Dai yang menggabungkan ilmu manajemen dan skil. Dalam MPLK, mahasiswa diperkenalkan dengan konsep dasar Grand MBA yang akan mereka pelajari lebih lanjut di waktu waktu mendatang.

“Tidak ada kesuksesan sejati tanpa kedekatan dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, MPLK menekankan pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Mereka diajak untuk lebih dekat dengan kitab suci ini, memahami makna-maknanya, dan menjadikannya sebagai pedoman hidup,” katanya.

Untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan komprehensif, MPLK menghadirkan beberapa pemateri yang ahli di bidangnya seperti Ust. Muhdi Muhammad, S.Sos.I, Ust. Saepuddin, Lc, Ust. Samani Harjo, S.Ag, dan lainnya.

MPLK sendiri merupakan masa transisi yang menjembatani kehidupan peserta dari jenjang sekolah menengah menuju kehidupan kampus yang lebih mandiri dan penuh tanggung jawab. Masa ini ibarat jembatan yang menghubungkan dua dunia, di mana mahasiswa harus melangkah dengan hati-hati dan bijak.

Selain pengenalan materi akademis selama setahun program Sekolah Dai, MPLK ini juga bertujuan untuk membangun kebersamaan dan rasa kekeluargaan di antara mahasiswa baru.

Dalam rangka membangun kebersamaan tersebut, MPLK menyertakan berbagai kegiatan outdoor dan indoor yang melibatkan kerjasama tim, seperti permainan-permainan yang menuntut kekompakan, diskusi kelompok, dan lain sebagainya. (ybh/pos)

Ejawantah Spirit Surah Al ‘Alaq Ayat 1-5 dan Korelasinya dalam Kehidupan Sehari-Hari

0

SURAH Al ‘Alaq adalah salah satu surah dalam Al Qur’an yang memuat energi spiritual mendalam yang menuntun kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayat pertama hingga kelima dari surah ini tidak hanya mengandung perintah untuk membaca dan belajar, tetapi juga menggambarkan prinsip-prinsip mendasar yang dapat kita terapkan dalam setiap aspek kehidupan.

Melalui konsep Sistematika Wahyu, kita dapat memahami bagaimana wahyu tersebut menjadi landasan dalam menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, Surah Al ‘Alaq ayat 1-5 menjadi penuntun yang penuh hikmah. Kita diajak untuk merenungi betapa pentingnya ilmu pengetahuan, kesadaran diri, dan hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Mengapa kita harus mempelajari dan menyerap hikmah dari surah ini lebih dalam? Pertama, untuk kesadaran diri. Bahwa membaca adalah langkah pertama untuk mengenal diri sendiri dan memahami posisi kita di alam semesta.

Kedua, hubungan dengan Pencipta. Ayat-ayat ini menegaskan pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu.

Konsep Sistematis dalam Wahyu

Sistematika Wahyu adalah pendekatan yang memungkinkan kita untuk mengkaji wahyu secara menyeluruh dan sistematis. Ini berarti kita tidak hanya membaca teks secara harfiah, tetapi juga mencari makna mendalam yang terkandung di dalamnya.

Wahyu diturunkan dalam beberapa tahap, sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi umat pada saat itu dan setiap wahyu memiliki relevansi dengan konteks sosial dan budaya pada saat penurunannya, namun tetap berlaku universal.

Ayat Pertama: Membaca sebagai Titik Awal (ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ)

Pada ayat pertama, kita diperintahkan untuk “membaca” dalam nama Tuhan. Membaca di sini bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi sebuah proses spiritual yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya.

Dalam kehidupan modern, membaca tidak hanya terbatas pada teks. Kita juga membaca alam semesta, fenomena sosial, dan perkembangan teknologi sebagai wujud kebesaran Tuhan. Perintah untuk membaca juga mengajarkan kita untuk terus belajar, tidak terbatas pada usia atau waktu tertentu.

Membaca dalam Al Qur’an tidak hanya tentang memahami teks, tetapi juga melibatkan hati dan pikiran. Ini adalah kombinasi antara kecerdasan intelektual dan emosional.

Dengan hati yang terbuka, kita dapat merasakan kedalaman makna yang ada dalam setiap ayat. Dengan pikiran yang cerdas, kita dapat menganalisis dan menginterpretasikan ayat-ayat tersebut secara logis.

Ayat Kedua: Penciptaan Manusia Cerminan Ilahi (خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ)

Ayat kedua dari Surah Al ‘Alaq mengingatkan kita akan asal-usul kita, yaitu dari segumpal darah. Ini adalah refleksi bahwa kita semua berasal dari satu sumber yang sama dan memiliki tanggung jawab yang besar sebagai makhluk yang diciptakan.

Meskipun manusia diciptakan dari sesuatu yang sederhana, kita diberi potensi besar untuk mengubah dunia. Menyadari asal-usul kita membantu kita untuk tetap rendah hati dan tidak sombong.

Sebagai makhluk yang diciptakan, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga bumi dan semua isinya. Penciptaan manusia menuntut kita untuk menjadi pemakmur bumi yang bertanggung jawab. Kita juga bertanggung jawab untuk menciptakan masyarakat yang adil dan harmonis.

Ayat Ketiga: Kemuliaan Ilmu Pengetahuan (ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ)

Ayat ketiga menegaskan bahwa Allah adalah Pengajar yang paling utama. Ilmu yang kita miliki adalah anugerah dari-Nya. Ilmu pengetahuan adalah cahaya yang menerangi jalan kita dalam menjalani kehidupan dan ilmu yang benar adalah ilmu yang mendekatkan kita kepada Tuhan.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Dengan ilmu, kita dapat memahami wahyu dengan lebih baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus menuntut ilmu yang bermanfaat baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat karena ilmu adalah bekal yang akan kita bawa hingga ke akhirat.

Ayat Keempat: Menulis sebagai Media Penyebaran Ilmu (ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ)

Sejak zaman Rasulullah, menulis telah menjadi sarana utama dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan wahyu. Ini menunjukkan pentingnya menulis dalam kehidupan seorang Muslim.

Al Qur’an sendiri dikumpulkan dalam bentuk tulisan untuk memastikan keasliannya terjaga. Hadis-hadis Rasulullah juga ditulis dan dikumpulkan untuk dijadikan pedoman hidup.

Menulis bukan hanya sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sarana dakwah yang efektif. Dengan menulis, kita dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik dan menjalani hidup sesuai dengan ajaran Islam. Melalui tulisan pula, kita dapat mencatat sejarah dan menyebarkan ilmu kepada generasi berikutnya.

Ayat Kelima: Keajaiban Ilmu dan Pengetahuan (عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ)

Ayat kelima mengajak kita untuk menggali hikmah dari setiap ilmu yang kita pelajari. Pengetahuan dan kebenaran (Islam) yang diberikan Tuhan bukan hanya untuk disimpan, tetapi untuk diaplikasikan dan disebarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap ilmu, dalam hal ini ajaran Islam, yang kita pelajari harus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan dan ilmu yang baik adalah ilmu yang disertai dengan akhlak yang mulia.

Ilmu yang kita miliki harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah wujud dari ibadah kita kepada Allah. Demikian pula, menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah.

Dan kita harus ingat bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Pengabdian Kepada Allah

Mengamalkan Surah Al ‘Alaq dalam kehidupan sehari-hari berarti kita harus membaca, memahami, dan menerapkan setiap ajaran yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Ini adalah bentuk nyata dari pengabdian kita kepada Allah.

Membaca di sini maknanya adalah membaca dengan penuh kesadaran akan membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Dalam Islam, menulis adalah salah satu cara untuk menyebarkan ilmu dan ajaran Islam kepada orang lain. Ini penting, karena setiap ilmu yang kita pelajari harus menggali hikmah dan membawa manfaat bagi kehidupan kita.

Sebagai manusia yang diberi akal dan ilmu, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dunia ini sesuai dengan ajaran Allah. Dengan memahami Surah Al ‘Alaq, kita dapat menjadi hamba yang lebih baik dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

*) Adam Sukiman, penulis adalah aktifis komunitas Edukator Masyarakat Muda Jakarta (EMJ), Ketua Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Jakarta, dan intern researcher di Progressive Studies and Empowerment Center (Prospect)

Fasilitas Air Bersih dan MCK, Asa Anak-Anak TBM Nurus Sibyan Menyala

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Tawa riang anak-anak di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nurus Sibyan memecah keheningan Desa Pasilian, Kronjo, Tangerang, Provinsi Banten, Senin, 21 Shafar 1446 (26/8/2024).

Di Taman Bacaan Masyarakat Nurus Sibyan itu, keceriaan terpancar dari wajah-wajah mungil yang kini memiliki akses air bersih dan fasilitas MCK berkat uluran tangan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Banten.

“Saya Yusuf. Saya Adi,” ucap anak-anak itu memperkenalkan diri kepada tim BMH dengan senyum maksimal yang bisa mereka berikan.

Ustadzah Muflihah, penggerak TBM, dengan mata berkaca-kaca, mengatakn peresmian ini hari ini adalah awal dari kebahagiaan dan syukur mereka selamanya.

“Telah 20 tahun TBM ini hadir dan baru tahun 2024 ini bisa punya sumur bor plus MCK. Alhamdulillah airnya jernih dan bisa kami konsumsi,” ujar Ustadzah Muflihah.

“Terima kasih BMH, telah membantu mewujudkan mimpi kami,” ungkapnya lirih.

Bukan hanya sekadar fasilitas fisik, kehadiran air bersih dan MCK di TBM Nurus Sibyan adalah simbol harapan akan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di desa ini.

Mereka kini dapat belajar dengan nyaman, beribadah dengan khusyuk, tanpa lagi terkendala masalah sanitasi yang kerap menghambat proses belajar mengajar yang sebelum ini mereka hadapi.

“Ini adalah investasi untuk generasi penerus bangsa,” tutur Roni Hayani, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten.

“Dengan lingkungan yang bersih dan sehat, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang pembelajar, religius, dan bertanggung jawab. Insha Allah ini adalah amal jariyah para donatur yang semoga Allah berkahi sampai kapan pun juga,” jelasnya menegaskan.

Air bersih yang mengalir deras, fasilitas MCK yang layak, semua itu adalah bukti nyata bahwa kepedulian dapat melahirkan perubahan. TBM Nurus Sibyan, yang dulu mungkin hanya sebuah bangunan sederhana, kini menjelma menjadi oase ilmu dan iman, tempat anak-anak desa menggali potensi diri dan menumbuhkan karakter mulia.

Senyum cerah anak-anak TBM Nurus Sibyan adalah cerminan harapan akan Indonesia yang lebih baik. Di tangan mereka, masa depan bangsa tergenggam erat. Semoga semangat belajar dan beribadah mereka terus berkobar, menjadi inspirasi bagi generasi penerus lainnya.

BMH, dengan program-programnya yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, kata Roni Hayani, telah membuktikan bahwa perubahan positif bisa dimulai dari langkah kecil.

“Semoga semakin banyak pihak tergerak untuk bersama-sama membangun generasi bangsa yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tandas Roni Hayani.*/Herim