Beranda blog Halaman 165

Meneguhkan Dakwah Pedalaman Menuju ‘Nusantara Baru Indonesia Maju’

0
Dai mengabdi menjadi guru dan pendidik di pedalaman Kampung Fatumarando, Dusun Woonsa, Kelurahan Salubiro, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

DALAM sebuah perjalanan menelusuri pelosok Indonesia, ada sekelompok orang yang dengan senyap namun pasti melangkah, menembus hutan belantara, mendaki bukit terjal, dan menyeberangi sungai-sungai yang deras.

Mereka adalah para da’i, para pembawa kabar gembira (basyiiran) dan penyampai peringatan (naziiran), yang tak kenal lelah menyebarkan cahaya ilmu dan akhlak mulia ke tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Misi mereka sederhana namun sangat bermakna: membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, di mana pun mereka berada, termasuk di pedalaman yang kerap terlupakan.

Semangat inilah yang mengakar kuat dalam tagline perayaan 79 tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang baru saja kita lewati pada Agustus lalu: ‘Nusantara Baru Indonesia Maju’.

Tema HUT kemerdekaan RI tahun 2024 ini sebuah panggilan bagi seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menorehkan jejak perubahan dan kemajuan, dari Sabang sampai Merauke, dari pusat kota hingga pedalaman yang terpencil.

Dalam semangat inilah, dakwah di pedalaman memainkan peran yang begitu krusial, menjadi jembatan yang menghubungkan bangsa ini dengan akar spiritualnya yang kokoh.

Lebih dari Sekadar Ritual

Ketika mendengar kata dakwah, mungkin sebagian besar dari kita membayangkan ceramah di masjid-masjid megah, khutbah Jumat di kota-kota besar, atau acara-acara keagamaan yang dihadiri oleh ribuan orang. Namun, dakwah di pedalaman adalah sebuah kisah yang jauh lebih kompleks, jauh lebih menantang, dan sering kali jauh dari sorotan media.

Di pedalaman, dakwah bukan sekadar ritual keagamaan. Ini adalah perjuangan untuk membawa harapan dan perubahan. Para da’i di pedalaman tidak hanya berbicara tentang iman dan ibadah, tetapi juga tentang bagaimana bertani dengan lebih baik, bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana mendidik anak-anak, dan bagaimana membangun komunitas yang kuat. Mereka adalah guru, konselor, dan pemimpin yang hadir di tengah masyarakat untuk memberi arah dan panduan dalam kehidupan sehari-hari.

Bayangkan sebuah desa terpencil di pedalaman Kampung Fatumarando, Dusun Woonsa, Kelurahan Salubiro, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang hanya bisa dicapai setelah berjam-jam menempuh perjalanan darat yang berat. Di sana, seorang da’i mungkin menjadi satu-satunya orang yang mampu membaca dan menulis.

Dia menjadi harapan bagi anak-anak desa untuk belajar, bagi orang tua untuk memahami pentingnya pendidikan, dan bagi seluruh komunitas untuk merasakan sentuhan peradaban. Dalam kondisi seperti ini, dakwah menjadi sebuah upaya integral untuk membangun bangsa dari akar rumput, sebuah upaya yang mengubah dakwah menjadi kekuatan transformasi sosial.

Namun, upaya mulia ini bukan tanpa tantangan. Daerah pedalaman Indonesia kerap dihadapkan pada berbagai rintangan yang tidak mudah dilalui. Mulai dari akses yang sulit, minimnya infrastruktur, hingga tantangan budaya yang beragam. Dalam beberapa kasus, ada masyarakat yang masih hidup dalam keterasingan, terisolasi dari dunia luar, dengan budaya dan tradisi yang jauh berbeda dari masyarakat pada umumnya.

Di sinilah dakwah di pedalaman membutuhkan pendekatan yang sangat hati-hati dan penuh kearifan. Para da’i harus mampu memahami dan menghormati budaya setempat, menyampaikan pesan agama dengan cara yang tidak menghakimi atau memaksakan, melainkan merangkul dan menyesuaikan dengan nilai-nilai lokal. Dakwah harus dilakukan dengan pendekatan inklusif, di mana dialog menjadi kunci untuk membuka hati dan pikiran masyarakat pedalaman.

Misalnya, di beberapa wilayah di Papua termasuk di daerah daerah suku terasing seperti Suku Togitul di Halmahera, para da’i menghadapi tantangan bahasa dan tradisi lokal yang sangat kental. Dalam situasi seperti ini, mereka harus belajar bahasa setempat, memahami adat-istiadat, dan mencari cara untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan dalam konteks yang dapat diterima oleh masyarakat. Ini bukanlah tugas yang mudah, namun sangat penting dalam upaya membangun ‘Nusantara Baru’ yang inklusif dan berdaya saing.

Dakwah Memajukan Nusantara

Dalam konteks ‘Nusantara Baru Indonesia Maju’, dakwah di pedalaman memiliki peran strategis dalam membangun bangsa yang kuat, tidak hanya dari segi moral dan spiritual, tetapi juga dari segi sosial dan ekonomi. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki landasan moral yang kokoh, dan dakwah memainkan peran kunci dalam membentuk landasan ini.

Ketika nilai-nilai moral dan spiritual ditanamkan dengan kuat, masyarakat akan memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar. Dakwah di pedalaman membantu memperkuat ikatan sosial, mengajarkan pentingnya gotong royong, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan dalam keberagaman. Semua ini adalah elemen penting dalam membangun ‘Nusantara Baru’ yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.

Selain itu, dakwah juga berperan dalam memajukan aspek ekonomi masyarakat pedalaman. Dengan menyebarkan pengetahuan tentang kewirausahaan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta pentingnya pendidikan, dakwah membantu masyarakat pedalaman untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi. Ini adalah langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berdaya saing, sebagaimana yang diinginkan dalam visi ‘Indonesia Maju’.

Dalam keberagaman yang begitu kaya, Indonesia adalah sebuah mosaik yang terdiri dari berbagai suku, budaya, dan agama. Dakwah di pedalaman, dalam semangat ‘Nusantara Baru’, juga berperan sebagai agen pemersatu yang menjembatani berbagai perbedaan ini.

Para da’i tidak hanya berbicara kepada sesama Muslim, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang kepercayaan dan budaya yang berbeda. Dalam situasi ini, dakwah menjadi sebuah upaya untuk menciptakan dialog antaragama dan antarbudaya, yang sangat penting dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah keberagaman.

Contoh nyata dapat dilihat di daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Timur, di mana masyarakat hidup dalam keberagaman agama yang sangat kuat. Di sini, para da’i tidak hanya berperan sebagai pembimbing spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebagai mediator dalam menjaga harmoni antara berbagai kelompok agama. Melalui pendekatan yang inklusif dan penuh empati, dakwah membantu memperkuat ikatan sosial yang ada, menciptakan rasa saling pengertian dan kebersamaan di antara masyarakat.

Dakwah Berkelanjutan

Untuk memaksimalkan peran dakwah dalam membangun bangsa, setidaknya ada beberapa langkah strategis yang perlu diambil. Pertama, pentingnya pelatihan dan pengembangan kapasitas para da’i. Mereka harus dibekali dengan pengetahuan yang luas tidak hanya tentang agama, tetapi juga tentang budaya, ekonomi, dan isu-isu sosial yang relevan dengan masyarakat pedalaman. Dengan demikian, mereka dapat menjalankan peran mereka dengan lebih efektif dan relevan.

Kedua, perlu adanya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan organisasi non-pemerintah dalam mendukung dakwah di pedalaman. Dukungan infrastruktur, akses pendidikan, dan layanan kesehatan adalah beberapa aspek yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedalaman, dan ini bisa dilakukan melalui kerjasama yang sinergis antara berbagai pihak.

Ketiga, perlu adanya pendekatan dakwah yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan lokal. Setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

Misalnya, di daerah dengan tingkat literasi yang rendah, dakwah bisa dilakukan melalui media visual atau audio yang lebih mudah dipahami. Di daerah dengan akses transportasi yang sulit, penggunaan teknologi seperti radio komunitas atau aplikasi digital bisa menjadi solusi yang efektif.

Nusantara Baru Indonesia Maju Melalui Dakwah

Perjalanan dakwah di pedalaman adalah perjalanan yang penuh tantangan, namun juga penuh harapan. Dalam setiap langkah para da’i, tersimpan semangat untuk membangun bangsa yang beradab, sejahtera, dan berdaya saing. Tentu saja ‘Nusantara Baru Indonesia Maju’ bukanlah sekadar slogan, tetapi sebuah visi yang harus diwujudkan melalui kerja keras dan ketekunan dari seluruh elemen bangsa, termasuk mereka yang bekerja di balik layar, jauh dari sorotan, namun memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi masa depan Indonesia.

Dengan dakwah yang berakar kuat di pedalaman, kita sedang menanam benih-benih perubahan yang akan tumbuh menjadi pohon-pohon besar yang menaungi bangsa ini. Pohon-pohon yang akarnya menghunjam kuat ke bumi, menjulang tinggi ke langit, dan memberikan buah yang manis bagi generasi mendatang. Inilah esensi dari ‘Nusantara Baru Indonesia Maju’, sebuah impian yang sedang kita wujudkan bersama, dari pusat kota hingga pelosok pedalaman.

Dakwah di pedalaman adalah wujud nyata dari upaya membangun bangsa yang tidak hanya maju secara fisik dan ekonomi, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai moral dan spiritual.

Sebuah bangsa yang maju bukan hanya dilihat dari gedung-gedung tinggi atau jalan-jalan besar, tetapi dari masyarakatnya yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Dan untuk mencapai itu, dakwah di pedalaman adalah salah satu fondasi yang tidak boleh diabaikan.[]

*) Abdul Muin, Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai). Dikutip dari laman Posdai.or.id

Sinergi BMH Mushida Kuatkan Solidaritas untuk Muslimah Berhijab di Palu

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Di tengah perayaan Hari Hijab Internasional, semangat solidaritas dan dukungan bagi perempuan (Muslimah) yang menghadapi diskriminasi dan larangan berhijab menggema di seluruh dunia.

Di Palu, Sulawesi Tengah, kolaborasi indah antara Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Muslimat Hidayatullah (Mushida) kota Palu menghangatkan hati anak-anak Panti Asuhan Aisyiyah dan Panti Dhuafa.

Sukmawati Ukkas, Ketua PD Mushida Kota Palu, bersama Lasamuri, Kepala BMH Perwakilan Sulteng, memimpin langsung aksi berbagi kasih ini.

Mereka tak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga semangat dan dukungan moral kepada para perempuan tangguh yang teguh memegang keyakinan mereka.

“Hari ini, kita merayakan keberanian dan keteguhan perempuan Muslim yang memilih untuk berhijab,” ujar Sukmawati dengan penuh semangat, Kamis, 1 Rabi’ul Awal 1446 (5/9/2024).

“Kita ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Kita semua berdiri bersama mereka dalam memperjuangkan hak mereka untuk beribadah sesuai keyakinan,” tegasnya.

Lasamuri menambahkan, “Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghormati pilihan setiap individu, termasuk hak perempuan untuk berhijab. Semoga semangat solidaritas ini terus berlanjut dan menginspirasi kita semua untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif dan toleran.”

Senyum bahagia terpancar dari wajah anak-anak panti asuhan saat menerima bingkisan dan dukungan dari BMH dan Mushida. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai, terlepas dari segala keterbatasan yang mereka hadapi.

Hari Hijab Internasional bukan hanya tentang selembar kain yang menutupi kepala, tetapi juga tentang keberanian, keteguhan, dan semangat untuk memperjuangkan keyakinan.

Di Palu, semangat itu menyala terang, menerangi jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi semua perempuan Muslim.*/Herim

Mimpi Jadi Nyata, Gotong Royong Warga Ngawi Bangun Masjid di Pelosok Widodaren

0

NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Harapan akan kenyamanan beribadah di tempat yang layak kini semakin dekat bagi warga Dusun Kebon Agung, Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.

Berkat gotong royong warga dan dukungan dari segenap donatur Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), pembangunan Masjid Al-Ghuroba telah mencapai tahap pengerjaan atap.

“Kami sangat berterima kasih kepada BMH yang sudah memberikan dukungannya. Ini adalah impian kami selama bertahun-tahun, dan sekarang perlahan-lahan mulai terwujud,” ungkap Agus Sutomo, Ketua Takmir Masjid Al-Ghuroba, dengan penuh haru, Rabu, 30 Shafar 1446 (4/9/2024).

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, menegaskan komitmen BMH dalam mendukung pembangunan sarana ibadah di pelosok.

“Masjid ini tidak hanya akan menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang akan mempererat ukhuwah di antara warga,” tuturnya.

Pembangunan Masjid Al-Ghuroba menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong dalam mewujudkan impian.

“Semoga semangat kebersamaan ini terus berlanjut hingga masjid selesai dibangun dan dapat segera digunakan oleh warga Dusun Kebon Agung. Ini adalah kesempatan kita semua ikut menjadikan masjid semakin dekat bagi warga kian terbuka, mari bersinergi bersama BMH,” tutup Muslim.*/Herim

Upgrading Dai Muda Kepulauan Riau, Terus Berbenah Siap Membangun Peradaban

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Dalam pusaran perubahan zaman yang tak kenal henti, para dai muda di Kepulauan Riau pun tak mau mandek belajar. Mereka sadar, dakwah bukan hanya tentang semangat, tapi juga tentang ilmu dan keterampilan yang terus diasah.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), dengan program “Upgrading Dai”, hadir sebagai pendukung setia mereka.

Selama empat hari, dari 31 Agustus hingga 3 September 2024, para dai muda ini berkumpul di Kampus Utama Hidayatullah Batam, membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan baru.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengupgrade kemampuan para dai agar terus meningkat dalam memberikan pencerahan kepada umat,” ujar Fatahillah, Ketua BMH Kepri, dengan penuh semangat.

Tema yang diangkat kali ini adalah “Pembangun Peradaban di NKRI”. Sebuah tema yang relevan dengan peran mulia seorang dai sebagai pendidik dan pencerah umat.

Ketua Panitia, Darmansyah, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada BMH atas dukungan yang diberikan. “Semoga BMH semakin maju dan terus memberikan manfaat kepada umat,” ucapnya tulus.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat dakwah terus menyala di Kepulauan Riau. Para dai muda ini, dengan bekal ilmu dan keterampilan yang semakin terasah, siap menjadi agen perubahan, membangun peradaban yang lebih baik di bumi Indonesia.

BMH, sebagai lembaga amil zakat yang peduli terhadap perkembangan dakwah, akan terus mendukung upaya-upaya positif seperti ini.

“Kolaborasi antara BMH dan para dai muda ini adalah wujud nyata sinergi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih berilmu dan berakhlak mulia,” tutup Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Fatahillah.*/Herim

Solidaritas Hijab Tebar Inspirasi Berbusana Syar’i Jilbab Gratis di Tana Tidung

0

TANA TIDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hari Solidaritas Hijab Sedunia di Kabupaten Tana Tidung dirayakan dengan penuh makna oleh Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltara, Rabu, 30 Shafar 1446 (4/9/2024).

Bukan sekadar perayaan, mereka menggelar aksi nyata dengan membagikan jilbab, mukena, dan kaos kaki secara gratis kepada masyarakat, khususnya mereka yang baru memulai perjalanan hijrahnya.

Aksi ini disambut dengan haru dan antusiasme. Ustadzah Rahmawati Latif, Ketua PD Mushida Kab. Tana Tidung, berbagi cerita mengharukan, “Ada beberapa yang langsung memutuskan untuk berhijab saat itu juga. Semoga mereka istiqomah.”

Seorang mualaf yang menerima bantuan tak kuasa menahan rasa bahagianya.

“Terima kasih kepada Mushida, BMH, dan donatur. Kami sangat senang dan insya Allah akan terus mengenakannya,” ucapnya dengan mata berbinar.

Lebih dari sekadar kain, hijab adalah simbol kesopanan dan kehormatan, cerminan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Aksi ini bukan hanya tentang berbagi jilbab, tetapi juga tentang berbagi semangat, inspirasi, dan dukungan bagi para muslimah untuk tampil percaya diri dengan hijabnya.

BMH dan Mushida Tana Tidung telah membuktikan bahwa solidaritas hijab bukan hanya slogan, tapi aksi nyata yang menyentuh hati.

“BMH berharap semoga semangat ini terus menyebar, menginspirasi lebih banyak muslimah untuk mengenakan hijab dengan penuh kebanggaan,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara.*/Herim

Ibnu Rushdi Yakin Dakwah Bikin Bahagia dan Membahagiakan

0

USTADZ Ibnu Rushdi mengenal dakwah melalui Pesantren Hidayatullah. Ketika muda ia bergabung dengan Pesantren Hidayatullah Depok. Dai yang kini tugas di Deli Serdang Sumatera Utara itu pun menceritakan secuil dari perjalanan dakwahnya.

“Waktu itu setiap santri termasuk saya tidak ada yang lama-lama belajar. Kalau sudah dinilai pantas, maka ditugaskan. Nah begitulah saya, dari Depok saya ditugaskan dakwah ke Payakumbuh, menguatkan perintisan Hidayatullah di Sumatera Barat,” ucapnya kepada Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi dalam Podcast BMH TV pada 31 Agustus 2024.

Selepas dari Payakumbuh, Rushdi mendapat tugas ke Tanjung Balai Karimun. Kini, pria murah senyum itu tugas dakwah di Deli Serdang. Pengalamannya dakwah di Sumatera Utara pun menjadi hal yang menarik kita perhatikan.

“Jadi kalau menurut amatan saya, terutama di Sumatera Utara, sekarang itu saya kerap menemukan mushala atau masjid tidak makmur. Karena memang tidak ada dai. Akhirnya kegiatan mengaji bahkan ibadah menjadi sangat minim. Beberapa saya menemukan mushola dan masjid mangkrak. Jadi kita butuh tenaga baru, dai-dai muda yang siap dan mampu berdakwah di pedalaman-pedalaman,” ujarnya.

Saat ditanya tentang mengapa teguh dalam jalan dakwah, Ust. Rushdi menuturkan bahwa dengan berdakwah bahagia itu akan hadir.

“Memang berdakwah tidak sepi dari rintangan, tapi kebahagiaan hati itu tidak perlu kita cari-cari lagi. Karena semua Allah yang memperhatikan urusan kita. Kita tinggal fokus mengurus agama Allah,” tutupnya sembari tersenyum bahagia.

Berangkat Umroh

Kini, Ust. Ibnu Rushdi tengah menjalankan ibadah umroh dalam program umroh dai Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

“Sebelum ini saya tiga kali mau berangkat umroh dan semua gagal. Pertama, saya mendapat kesempatan umroh seperti dari BMH, tetapi kriterianya pedalaman. Saya tugas di Deli Serdang, saya kira ada saudara yang lebih berhak, maka saya lepas kesemaptan itu untuk saudara dai yang lebih tepat,” tuturnya.

“Kedua, saya tidak bisa berangkat. Dan, ketiga, saya sudah siap semua, kemudian kita dilanda Covid-19. Alhamdulillah kesempatan itu jadi kenyataan saat ini,” tutupnya sumringah.*/Herim

Secercah Harapan di Balik 50 Sak Semen, Wujudkan Asrama Santri Yatim Dhuafa di Soreang

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Secercah harapan yang terpancar kembali menjadi kenyataan. Hal itu terjadi di sebuah pesantren yatim dan dhuafa di Jalan Legok Kaso Slawi, Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Ahad lalu, 27 Shafar 1446 (1/9/2024).

Mimpi untuk memiliki asrama yang layak bagi para santri kini semakin dekat berkat uluran tangan para dermawan dan donatur melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Saat itu menjadi momeni yang istimewa bagi pesantren ini. Sebanyak 50 sak semen dari BMH tiba, disambut dengan senyum penuh syukur oleh Ust. Hendra Permana, pengurus pesantren, dan para santri.

Hendra menyampaikan, bantuan ini bukanlah yang pertama, melainkan bagian dari komitmen BMH untuk terus mendukung pembangunan asrama yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian.

“Alhamdulillah, kehadiran BMH terus memberikan semangat bagi kami,” ungkap Ust. Hendra dengan mata berbinar.

“Semoga dengan bantuan ini, asrama santri bisa segera selesai, sehingga mereka tidak lagi harus tinggal di masjid,” sambungnya.

Yusep Suhendar, Kadiv Prodaya BMH Jabar, menegaskan bahwa BMH akan terus berupaya membantu pesantren ini hingga asrama santri benar-benar rampung.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi para santri, sehingga mereka bisa belajar dan beribadah dengan lebih nyaman,” ujarnya.

Ust. Hendra pun optimis, “Terima kasih kepada BMH dan para donatur yang telah mendukung kami. Semoga bantuan ini menjadi pahala jariyah bagi semuanya.”

Di balik 50 sak semen ini, tersimpan harapan besar akan masa depan yang lebih baik bagi para santri yatim dan dhuafa. Semoga dengan adanya asrama yang layak, mereka dapat lebih fokus dalam belajar dan meraih cita-cita, menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia.

BMH terus mengajak masyarakat untuk turut serta dalam mewujudkan mimpi para santri ini. Setiap bantuan, sekecil apapun, akan sangat berarti bagi mereka. Mari bersama kita bangun masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak yatim dan dhuafa.*/Herim

Diklat Pengelola Lembaga Keuangan Hidayatullah Perkuat Fondasi Ekonomi Syariah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sebuah langkah signifikan diambil oleh Departemen Keuangan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dalam upayanya memperkuat perekonomian berbasis syariah di Indonesia. Bersama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah, mereka menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi calon pengelola Lembaga Keuangan Hidayatullah (LKH).

Acara ini berlangsung di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat, dan berhasil menarik perhatian para peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, Rabu, 30 Shafar 1446 (4/9/2024).

Acara ini dirancang dengan konsep hybrid, memungkinkan partisipasi peserta baik secara offline maupun online. Dari total 47 peserta, 27 hadir secara langsung di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah di Depok, sementara 20 peserta lainnya mengikuti pelatihan secara daring.

Diklat ini diisi oleh para pegiat di bidang ekonomi syariah dan telah berkontribusi dalam berbagai inisiatif pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Mereka adalah Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. H. Wahyu Rahman, ME, Ketua Ketua Departemen Keuangan DPP Hidayatullah Saiful Anwar, ME, dan Sekretaris Pengurus Pusat Baituttamwil Hidayatullah (BTH) Suryanto Sarjodiningrat, SE, ME.

Dalam kesempatan tersebut Saiful Anwar menekankan pentingnya peran alumni STIE Hidayatullah dalam menggerakkan perekonomian di lingkungan Hidayatullah. “Alumni STIE harus menjadi garda terdepan bagi pengembangan perekonomian Hidayatullah,” ujarnya.

Saiful juga menggarisbawahi bahwa dengan adanya badan usaha milik organisasi yang dikelola oleh para sarjana ekonomi dari STIE Hidayatullah, masa depan ekonomi Hidayatullah akan semakin cerah.

Acara diklat ini jelas Saiful adalah bagian dari upaya strategis Hidayatullah untuk mencetak generasi pengelola lembaga keuangan syariah yang siap menghadapi tantangan masa depan. Dalam dunia yang semakin kompleks dan dinamis, LKH membutuhkan pengelola yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan praktis dan inovatif dalam mengelola lembaga keuangan.

Lebih lanjut Saiful menjelaskan, diklat ini memiliki beberapa tujuan utama yang sejalan dengan visi besar Hidayatullah dalam memperkuat posisi ekonomi syariah di Indonesia. Pertama, acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang mendalam kepada peserta mengenai manajemen LKH. Peserta diberikan pemahaman komprehensif mengenai manajemen lembaga keuangan syariah, mencakup berbagai aspek penting mulai dari akad-akad syariah hingga manajemen dana dan pembiayaan di LKH.

Kedua, diklat ini juga dirancang untuk menyiapkan sebanyak mungkin Sumber Daya Insani (SDI) yang akan menjadi calon pengelola LKH di masa depan. Mereka yang terpilih diharapkan dapat mengemban tugas di berbagai LKH di seluruh Indonesia, baik di tingkat BTH maupun BPRS.

Selain itu, acara ini juga menjadi ajang penjaringan peserta berpotensi yang nantinya akan ditempatkan di berbagai lembaga keuangan Hidayatullah. Peserta yang terpilih dalam diklat ini diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap untuk langsung terjun ke lapangan dan mengelola lembaga keuangan dengan keahlian yang telah diperoleh.

“Peserta mendapat pengantar tentang ekonomi syariah, termasuk prinsip-prinsip dasar yang mendasari sistem keuangan. Selain itu, peserta juga dibekali dengan pengetahuan tentang akad-akad syariah dan implementasinya di LKH sebagai aspek penting, mengingat akad-akad syariah menjadi dasar bagi setiap transaksi dalam lembaga keuangan syariah,” jelasnya.

Lebih lanjut, materi diklat juga mencakup manajemen operasional LKH, yang meliputi berbagai aspek teknis dalam pengelolaan lembaga keuangan. Peserta diajarkan tentang manajemen dana LKH, mulai dari pengelolaan sumber daya keuangan hingga strategi investasi yang sesuai dengan prinsip syariah.

Tak kalah pentingnya, peserta juga mempelajari manajemen pembiayaan di LKH, yang mencakup bagaimana mengelola portofolio pembiayaan dengan baik untuk meminimalkan risiko dan memastikan keberlanjutan lembaga.*/Sabih Hurairah

Sosialisasi Jadwal Bayani DMW DIY – Jateng Perkokoh Ikatan dan Nilai Perjuangan

0

KARANGANYAR (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan “Upgrading Murobbi” yang berlangsung di Kampus Menara Qur’an Hidayatullah, Karanganyar, belum lama ini pada 25-26 Shafar 1446 (30-31/8/2024), menjadi momen penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan kemampuan para Murabbi Halaqah di wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Acara yang dihadiri oleh lebih dari 80 peserta ini bertujuan untuk mensosialisasikan revisi terbaru dari 60 Jadwal Bayani, panduan fundamental bagi para murobbi dalam menjalankan tugas pembimbingan di halaqah.

Dalam suasana yang penuh semangat, acara ini menghadirkan beberapa pemateri dari Dewan Murabbi Pusat (DMP) yang terdiri dari Ust. Sholih Hasyim, S.Sos.I, Ust. M. Nur Fuad, M.Pd, dan Ust. Dr. H. Zainuddin Musaddad, MA.

Kehadiran mereka menjadi nilai tambah bagi para peserta, memberikan wawasan mendalam mengenai peran dan tanggung jawab murobbi dalam menjalankan amanah keislaman di Hidayatullah.

Dr. H. Zainuddin Musaddad, MA, dalam sesi pengantarnya menekankan bahwa sosialisasi ini tidak hanya sekadar penyampaian materi.

“Ini adalah kesempatan yang berharga untuk mempererat silaturrahmi di antara para murobbi,” ujarnya dengan penuh harap.

Menurutnya, halaqah memiliki peran yang sangat vital dalam memperkuat ikatan di antara anggota komunitas Hidayatullah.

“Halaqah ini ibarat taman surga, tempat kita bisa merasakan kenikmatan ibadah yang harus selalu ditingkatkan,” lanjut Zainuddin, menekankan pentingnya upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas spiritual dan solidaritas di antara para murobbi.

Ia juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai perjuangan (al jihadiyah) yang harus dimiliki setiap anggota Hidayatullah dalam setiap aktivitas keislaman, disamping harus terus merawat kebersamaan dan persaudaraan dengan kaum muslimin seluruhnya.

“Jamaatun minal muslimin adalah sebuah konsekuensi dalam keberagaman,” tambahnya, mengingatkan para peserta akan tanggung jawab besar yang mereka emban.

Dengan sosialisasi revisi 60 Jadwal Bayani ini, diharapkan para murabbi dapat semakin memahami dan menerapkan panduan tersebut secara efektif dalam pembinaan halaqah, sehingga tercipta generasi penerus yang solid dan berintegritas tinggi dalam bingkai keislaman.*/M. Dwi Eviq Erwiandy

Villa Qur’an Al Fatih Merajut Generasi Qur’ani Ditengah Dinamika Dakwah Jawa Barat

0

CIANJUR (Hidayatullah.or.id) – Sebuah langkah penting dalam upaya menanamkan nilai-nilai Qur’ani kepada generasi muda telah diambil oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat.

Pada Sabtu, 26 Shafar 1446 (31/8/2024) lalu, secara resmi diluncurkan Villa Qur’an Al Fatih di Villa Permata, Cipanas, Desa Cikarenye, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur. Peresmian yang disambut dengan antusias ini sebagai komitmen Hidayatullah dalam mengokohkan fondasi dakwah, khususnya di wilayah Jawa Barat.

Acara peresmian yang dimulai pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh pengurus DPW Hidayatullah Jawa Barat. Ustadz Budiman, Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Cianjur, tampil sebagai perwakilan yang menyampaikan sambutan.

Dalam pidatonya, Budiman tidak hanya menyampaikan rasa syukur atas berdirinya Villa Qur’an Al Fatih, tetapi juga mengisahkan berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah di Jawa Barat.

Memulai sebuah gerakan dakwah di wilayah yang luas dan beragam seperti Jawa Barat bukanlah perkara mudah. Dalam sambutannya, Budiman menguraikan suka duka yang dialami selama proses perintisan.

“Pengalaman kami dalam memulai dakwah atau perintisan, banyak sekali suka duka yang kami rasakan,” ujarnya, menggambarkan berbagai rintangan yang dihadapi, mulai dari sulitnya mencari lahan untuk mendirikan pondok hingga keterbatasan dana yang menjadi penghalang utama.

Namun, di tengah segala keterbatasan itu, ada satu hal yang tak pernah pudar, yaitu keyakinan akan pertolongan Allah. “Tapi dengan kesabaran dan keyakinan akan pertolongan Allah, akhirnya kami bertemu dengan orang-orang baik yang rela membantu untuk membangun pondok,” lanjutnya.

Villa Qur’an Al Fatih, meski baru saja diresmikan, sudah mulai merasakan berbagai tantangan. Namun, Ustadz Budiman menegaskan bahwa tantangan tersebut seharusnya tidak melemahkan semangat, melainkan justru menjadi pemicu untuk terus berjuang.

“Tak terkecuali Villa Qur’an Al Fatih, akan ada saja tantangan dalam menjalani programnya, sehingga kita berharap para pengurus bisa tetap solid dan saling menguatkan,” harap Ustadz Budiman.

Spirit Muhammad Al Fatih

Nama Al Fatih yang disematkan pada villa ini bukanlah tanpa alasan. Ustadz Arbani Budi Santoso, S.E, Ketua Villa Qur’an Al Fatih, menjelaskan bahwa nama ini diambil dari spirit Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II, sosok pemimpin yang dikenal karena keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel dari Kekaisaran Romawi Timur.

Sosok Al Fatih dipilih sebagai simbol semangat dan keteguhan yang diharapkan dapat tertanam dalam jiwa para santri yang kelak akan belajar di villa ini.

“Kondisi bangsa kita hari ini begitu memprihatinkan,” kata Ustadz Arbani dengan nada serius. “Sehingga dibutuhkan generasi yang kuat, baik dari sisi agama, ilmu pengetahuan, serta fisik yang kuat.”

Al Fatih, bagi Ustadz Arbani, bukan sekadar nama, tetapi sebuah cita-cita besar. “Nama ini untuk mengambil spirit dari Muhammad Al Fatih, agar kelak para santri mampu tampil sebagai generasi unggul dan terdepan dalam membebaskan umat dari kejahilan, kebodohan, dan juga keterbelakangan,” tegasnya.

Spirit ini, menurut Ustadz Arbani, adalah yang paling dibutuhkan oleh generasi muda Indonesia saat ini, terutama di tengah kondisi bangsa yang dihadapkan pada berbagai tantangan globalisasi dan modernisasi yang sering kali melunturkan nilai-nilai moral dan spiritual.

Arbani tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi, baik dalam bentuk materi maupun tenaga. “Kami sampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut mendukung dan membantu acara launching ini, terkhusus kepada Pengurus DPW Hidayatullah Jawa Barat, BMH, dan para donatur,” ungkapnya.

Keberadaan Villa Qur’an Al Fatih tidak hanya menjadi harapan bagi para pengurus, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk mendekatkan anak-anak mereka pada nilai-nilai Qur’ani sejak dini.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Sekretaris dan Bendahara Villa Qur’an Al Fatih, Pak Hamdani, Ketua Paguyuban Villa Mutiara, Pak Jajang, Ketua RT 03/04, serta para musyrif (guru Qur’an) dan pengurus masjid Villa Mutiara.

Villa Qur’an Al Fatih diharapkan mampu melahirkan generasi emas di masa depan. Dengan mengusung semangat Al Fatih, villa ini diharapkan dapat menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengasah keterampilan hidup para santri sehingga mereka siap menghadapi tantangan zaman.*/Adam Sukiman