Beranda blog Halaman 17

Kualitas Bangsa dan Umat Islam Sangat Bergantung pada Kinerja Para Dai

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Departemen Dakwah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Agung Tranajaya menyampaikan pandangan mengenai tanggung jawab besar umat Islam dan para dai terhadap kondisi bangsa Indonesia. Dia menekankan bahwa baik buruknya kondisi negara ini sangat bergantung pada kualitas umat Islam dan kinerja para dainya.

Agung mengingatkan bahwa Indonesia adalah anugerah besar bagi umat Islam. Namun, ia juga memberikan catatan kritis mengenai korelasi antara kondisi masyarakat dengan peran para pendakwah. Menurutnya, jika kemaksiatan merajalela, hal tersebut menjadi indikator evaluasi bagi kinerja para dai.

“Dan, masyaallah, di Indonesia ini saya sering menyampaikan bahwa negeri ini adalah karunia bagi kita umat Islam. Baik dan buruknya negeri ini tergantung umat Islamnya. Karena mayoritas umat Islam. Baiknya negeri ini yang menikmati umat Islam, buruknya pun yang akan ditanya pasti umat Islam,” uja Agung.

Hal itu ditegaskan Agung dalam sambutannnya pada acara penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) kerjasama Hidayatullah, Kemenag, dan Laznas BMH yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Ia melanjutkan dengan penekanan yang kuat pada fungsi dai di tengah masyarakat. “Dan umat Islam ini tergantung dainya. Kalau masyarakat ini baik itu berarti menunjukkan dainya bekerja. Tapi kalau masyarakatnya buruk, kemaksiatan merajalela, berarti dainya tidak bekerja,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, yang turut dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Agung menyoroti pentingnya kolaborasi antara organisasi dakwah dan pemerintah. Ia menyambut baik kehadiran pihak direktorat sebagai momentum untuk memperkokoh dakwah di tanah air.

Agung memaparkan salah satu fokus utama dari organisasi Hidayatullah, yaitu gerakan memberantas buta huruf dan buta makna Al-Qur’an. Ia mengungkapkan bahwa saat ini infrastruktur dakwah berupa Rumah Quran sudah tersebar luas, namun masih memerlukan sinergi agar hasilnya lebih terukur dan masif.

“Hidayatullah punya konsen dakwah yaitu gerakan dakwah mengajar dan belajar Al-Qur’an (Grand MBA). Sudah lebih dari 1600 rumah Quran yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap Ustadz Agung.

Ia pun secara terbuka mengajak pemerintah untuk bersinergi lebih erat. “Kami berharap sebenarnya sudah lama ingin berkoordinasi ya, berkolaborasi bagaimana dakwah mengentaskan buta huruf dan buta makna Al-Qur’an ini menjadi lebih masif ya, lebih terukur supaya hasilnya itu semakin lama itu semakin bisa kita lihat ukurannya,” jelasnya.

Inti Dakwah adalah Interaksi dengan Al-Qur’an

Lebih jauh, Ustadz Agung mengingatkan para dai agar tidak terjebak pada retorika semata. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan dakwah yang sejati adalah seberapa dekat umat dengan kitab sucinya. Menurutnya, Al-Qur’an memiliki kekuatan yang melampaui kata-kata manusia karena ia adalah firman Allah yang menggenggam jiwa.

“Tugas kita adalah bagaimana mendekatkan umat ini kepada Al-Qur’an. Karena setinggi apapun dakwah kita, sehebat apapun retorika yang kita sampaikan, ujung-ujungnya bagaimana interaksi mereka dengan Al-Qur’an,” tegas Ustadz Agung.

Ia menambahkan, “Karena Al-Qur’an adalah sumber cahaya. Nasihat-nasihat dari ayat Al-Qur’an itu bukan kata-kata manusia tapi firman Allah yang menciptakan manusia yang menggenggam seluruh jiwa manusia.”

Menutup penyampaiannya, Ustadz Agung mengaitkan semangat dakwah ini dengan momentum bulan suci Ramadan sebagai Syahrul Qur’an. Ia mengajak para dai untuk bersyukur karena telah dipilih untuk menjalankan tugas mulia ini, tidak hanya di kota besar tetapi juga hingga ke pelosok negeri, termasuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

“Maka kita sangat beruntung, sangat berbahagia, sangat bersyukur menjadi bagian dari dai yang disiapkan oleh umat, oleh organisasi, oleh pemerintah untuk menyapa, menyampaikan secercah hidayah, menguatkan keimanan, mengokohkan keluhuran akhlak kita, keluhuran akhlak seluruh kaum muslimin termasuk di daerah 3T,” pungkasnya.

Sambut Ramadhan, Hidayatullah Gelar Penugasan 1500 Dai untuk Wilayah 3T dan Perbatasan Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, Hidayatullah menggelar pembekalan sekaligus penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid dan bertitik kordinat acara dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Program strategis ini merupakan buah kerja sama antara Hidayatullah, Kementerian Agama (Kemenag), dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Pelepasan dai bertajuk “Dai Tangguh Menyapa Negeri” ini dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Ketua Umum Dewan Pengurus Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc, dan jajaran pengurus Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Ribuan dai dari 38 provinsi mengikuti agenda ini, dengan lebih dari 500 titik pemantauan yang tersebar di berbagai daerah, baik secara mandiri maupun melalui kegiatan nonton bareng (nobar), mengingat sebagian wilayah binaan belum terjangkau jaringan internet.

Menariknya, dalam agenda ini juga dihadirkan tujuh imam dan dai asal Palestina yang akan turut menyapa jamaah masjid di sejumlah wilayah di Indonesia, menambah semangat ukhuwah dan solidaritas umat Islam lintas bangsa.

Dalam sambutannya, Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama Dr. Muchlis M. Hanafi, menyampaikan bahwa Hidayatullah telah memberikan kontribusi nyata dalam pembinaan umat, mulai dari kawasan urban hingga pelosok negeri.

Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah DPP Hidayatullah Muhammad Agung Tranajaya dalam sambutannya melaporkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kemenag, khususnya Ditjen Bimas Islam, untuk memaksimalkan pembinaan umat melalui Gerakan Dakwah Belajar dan Mengajar Al-Qur’an (Grand MBA).

“Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Ini momentum strategis untuk memahamkan umat tentang Al-Qur’an, terlebih saat ini Hidayatullah telah memiliki sekitar 1.600 Rumah Qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, dalam arahannya, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad menegaskan bahwa kiprah dai Hidayatullah selama ini telah nyata dirasakan di wilayah 3T.

“Jumlah 1.500 itu sebenarnya masih sedikit. Karena itu, tampillah secara totalitas. Umat menunggu, umat butuh pencerahan. Rangkul mereka,” pesan Ketum kepada para dai.

Hidayatullah Tetapkan Sikap Resmi Terkait Penentuan Ramadhan 1447 Hijriah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menegaskan sikap resmi organisasi terkait penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi, menyusul pertanyaan yang muncul di kalangan warga Hidayatullah mengenai waktu dimulainya ibadah puasa. Penegasan ini merujuk pada keputusan organisasi yang telah ditetapkan melalui Majelis Mudzakarah Hidayatullah dan menjadi pedoman bagi seluruh anggota.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan bahwa penetapan awal Ramadhan merupakan bagian dari kesepakatan umat Islam yang harus disikapi dengan prinsip persatuan dan rujukan syariat.

“Kami mengajak seluruh umat Islam, khususnya warga Hidayatullah, untuk menjaga persatuan dan tidak membesar-besarkan perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, selama semuanya tetap mengacu pada landasan syariat dan mekanisme yang telah disepakati bersama,” ujar Naspi Arsyad dalam keterangannya kepada media ini di Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Sikap Hidayatullah terkait penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah telah ditetapkan secara resmi melalui Panduan Penetapan Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah dalam Perspektif Fikih Jamaah yang disusun oleh Majelis Mudzakarah Hidayatullah. Panduan tersebut diterbitkan pada tahun 1432 Hijriah atau 2011 Masehi dan menjadi acuan organisasi, sebagaimana tercantum pada halaman 30 hingga 41 dalam dokumen tersebut.

Dalam panduan tersebut, Hidayatullah menetapkan bahwa penentuan awal Ramadhan mengikuti hasil sidang itsbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sidang itsbat merupakan forum resmi yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama melalui Badan Hisab dan Rukyat, dengan melibatkan berbagai unsur umat Islam di Indonesia, termasuk organisasi keagamaan, ahli falak, dan lembaga terkait lainnya.

Keputusan Majelis Mudzakarah Hidayatullah tersebut menjadi landasan bagi seluruh warga Hidayatullah dalam menentukan awal ibadah puasa Ramadhan. Dengan adanya pedoman tersebut, organisasi telah menetapkan posisi yang jelas dan terstruktur dalam merespons dinamika penetapan awal bulan hijriah.

Hidayatullah juga menyatakan bahwa posisinya sebagai bagian dari umat Islam di Indonesia menempatkan organisasi dalam kerangka kesepakatan bersama yang dihasilkan melalui sidang itsbat.

“Oleh karena itu, sikap mengikuti ketetapan pemerintah melalui Kementerian Agama dipahami sebagai bagian dari keterlibatan dalam kesepakatan umat yang dihasilkan melalui mekanisme kolektif,” kata Naspi.

Dengan adanya panduan resmi yang telah ditetapkan sejak tahun 2011, warga Hidayatullah memiliki rujukan yang jelas dalam menyikapi penentuan awal Ramadhan. Keputusan tersebut merupakan hasil musyawarah Majelis Mudzakarah Hidayatullah yang dituangkan dalam bentuk panduan tertulis dan berlaku sebagai pedoman organisasi.

Kepingan Mata Uang Mahasiswa, Memadukan Intelektualitas dan Integritas

0

RUANG kuliah adalah rahim intelektual tempat logika diasah, namun organisasi adalah kawah candradimuka tempat kematangan diri ditempa. Seorang mahasiswa Muslim tidak sepatutnya terjebak dalam dikotomi semu antara prestasi akademik dan dedikasi berorganisasi. Keduanya bukanlah kutub yang saling meniadakan, melainkan ibarat dua sisi sekeping mata uang; ia hanya akan memiliki daya tukar dan nilai yang utuh jika kedua sisinya sempurna. Memilih salah satu dan menafikan yang lain hanya akan melahirkan sarjana yang gagap realitas atau aktivis yang kehilangan landasan ilmu.

Islam memandang menuntut ilmu sebagai ibadah, sementara berkhidmat bagi kemaslahatan melalui organisasi adalah manifestasi dari sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama juga bernilai ibadah. Di organisasi, mahasiswa belajar tentang etika kepemimpinan, kesabaran dalam perjuangan, dan seni mengelola perbedaan nilai-nilai luhur yang tidak ditemukan di balik lembar diktat kuliah.

Dunia mahasiswa terbelah ke dalam empat kuadran yang menentukan masa depan. Mereka yang hanya terpaku pada bangku kuliah tanpa menyentuh organisasi sering kali berakhir sebagai sarjana kertas yang gagap saat berbenturan dengan realitas sosial. Sebaliknya, mereka yang terjebak dalam romantisme pergerakan hingga abai pada tugas akademik justru melahirkan idealisme yang rapuh; semangatnya membara namun pondasi intelektualnya keropos. Bahkan, ada golongan yang tidak aktif di keduanya, mereka hanyalah “karyawan kampus” yang kehilangan ruh mahasiswa karena sekadar menumpang lewat tanpa meninggalkan jejak pemikiran maupun kontribusi nyata.

Di puncak kuadran, berdirilah para mahasiswa pilihan yang mampu menyeimbangkan ketajaman akademis dengan kematangan organisatoris. Menjalani keduanya memang bukan perkara mudah, namun dari kawah candradimuka inilah lahir para penggerak perubahan dan pemimpin masa depan. Maka, mahasiswa yang paripurna: yang sujudnya di atas sajadah diiringi dengan kening yang tegak di hadapan ketidakadilan, dan yang kecemerlangan otaknya di dalam kelas berbanding lurus dengan kepekaan nuraninya di tengah masyarakat. Mereka yang sanggup menjadi kontrol sosial di tengah masyarakat sekaligus menjadi pakar di bidang keilmuannya, menjadi motor penggerak peradaban pasca-lulus kuliah.

Berikut ini manfaat berorganisasi bagi mahasiswa

Pertama, organisasi adalah laboratorium komunikasi yang menempa mahasiswa untuk berani bersuara di bawah tekanan. Melalui dialektika rapat dan adu argumentasi, kegugupan mental perlahan bertransformasi menjadi kematangan berpendapat. Di sinilah mereka belajar bahwa suara bukan sekadar bunyi, melainkan instrumen pengaruh yang harus memiliki bobot dan logika.

Outputnya, aktivis organisasi memiliki kemampuan storytelling dan narasi di atas rata-rata. Karena terbiasa mendiskusikan realitas dari teknis program hingga isu kenegaraan. Mereka tumbuh menjadi orator yang tangkas dan negosiator yang luwes. Kematangan verbal ini adalah keunggulan kompetitif yang tidak tertulis dalam ijazah, namun menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan di dunia nyata.

Kedua, berorganisasi adalah seni menaklukkan keterbatasan waktu. Mahasiswa aktivis dipaksa sadar bahwa 24 jam adalah ruang sempit yang harus memuat kepadatan kuliah, tumpukan tugas, hingga agenda sosial kemasyarakatan. Tekanan inilah yang membentuk kedisiplinan tingkat tinggi; di mana setiap menit dihitung sebagai investasi, bukan sekadar durasi yang dibuang percuma.

Kesibukan yang terukur mengantarkan mahasiswa pada kematangan tanggung jawab dan ketajaman skala prioritas. Dengan terbiasa mengelola jadwal yang tumpang tindih, mereka tumbuh menjadi pribadi yang menghargai waktu dan secara otomatis menjauhi kesia-siaan. Inilah karakter profesional sejati: mampu tetap produktif di bawah tekanan dan menyelesaikan amanah tepat pada waktunya.

Ketiga, organisasi adalah inkubasi kepemimpinan dan kolaborasi. Di sini, mahasiswa belajar menanggalkan ego untuk bekerja sama dengan individu yang memiliki keberagaman pemikiran, kepentingan, hingga latar belakang suku. Kecakapan menggerakkan orang lain demi mencapai tujuan bersama inilah yang melahirkan jiwa leadership sejati: sebuah kemampuan untuk mengubah perbedaan menjadi kekuatan, dan masalah bersama menjadi solusi nyata.

Pasca-kuliah, mereka yang tertempa di organisasi akan tampil sebagai sosok yang menonjol dan berani mengambil tanggung jawab. Ada insting keterpanggilan dan keberanian yang kuat untuk hadir sebagai penyelesai masalah (problem solver). Pengalaman memimpin tim di kampus menjadi modal utama yang membuat mereka selalu siap berdiri di barisan depan saat masyarakat dan dunia profesional membutuhkan arah perubahan.

Keempat, organisasi adalah jembatan emas menuju jaringan strategis yang melampaui sekat ruang kelas. Di sini, mahasiswa meluaskan lingkar pergaulan, membangun relasi dengan senior, alumni, hingga jejaring lintas kampus yang menjadi modal sosial tak ternilai. Koneksi ini bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan akses menuju ekosistem profesional yang lebih luas.

Sebagai insan cendekia, mahasiswa membutuhkan relasi untuk mengakselerasi potensi diri. Berorganisasi menyediakan wadah aktualisasi yang menghubungkan kemampuan pribadi dengan jaringan media dan kemitraan strategis. Pada akhirnya, mereka yang berorganisasi tidak hanya memiliki ijazah di tangan, tetapi juga memiliki “pintu-pintu peluang” yang terbuka lebar berkat investasi relasi yang dibangun sejak bangku kuliah.

Kelima, organisasi adalah sekolah kehidupan yang menempa mentalitas baja melalui kegagalan program, ancaman pembatalan acara, hingga pahitnya konflik internal. Di sinilah mahasiswa belajar untuk tidak tumbang saat ditekan dan tidak lari saat keadaan rumit. Tempaan masalah ini mengubah kerapuhan menjadi kematangan, menjadikan ketangguhan bukan sekadar jargon, melainkan karakter yang melekat kuat.

Pada akhirnya, berorganisasi bukanlah penghambat kuliah, melainkan pelengkap esensial bagi proses belajar yang utuh. Mahasiswa yang berorganisasi secara bertanggung jawab akan jauh lebih siap menghadapi dinamika akademik yang padat serta realitas pasca-kuliah yang sering kali lebih pelik dan tak terduga. Mereka tidak hanya lulus membawa gelar, tetapi juga membawa nyali dan kesiapan untuk menaklukkan setiap tantangan hidup.

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Abdul Ghofar Hadi Tekankan Peran Strategis Mahasiswa, Serukan Penguatan Kader dan Kepedulian Publik

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd., menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara Grand Launching Lembaga Bantuan Hukum (LBH), website, serta logo baru Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (14/2/2026).

Dalam sambutannya, Abdul Ghofar Hadi menegaskan kapasitas mahasiswa sebagai unsur sentral dalam sejarah pertumbuhan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa sejak fase awal berdirinya, pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, telah menjadikan mahasiswa sebagai sasaran utama pembinaan. Pendekatan tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa mahasiswa memiliki kapasitas intelektual dan potensi kepemimpinan yang kuat dalam membangun masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pola pembinaan yang dilakukan Abdullah Said berfokus pada lingkungan kampus, yang pada akhirnya menjadi titik awal berkembangnya jaringan Hidayatullah di berbagai daerah. Kehadiran organisasi ini di kota-kota besar, menurutnya, tidak terlepas dari basis kader yang berasal dari komunitas mahasiswa.

“Ustadz Abdullah Said selalu memberikan perhatian lebih kepada mahasiswa, makanya Hidayatullah berkembang di daerah di daerah yang ada kampusnya seperti Surabaya dan Makassar,” katanya.

Ghofar menegaskan bahwa mahasiswa memiliki karakter progresif yang menjadikan mereka sebagai elemen strategis dalam pergerakan sosial dan intelektual. Ia menyebut bahwa kesadaran intelektual yang dimiliki mahasiswa harus diarahkan pada pengabdian yang berdampak bagi masyarakat luas.

Menurutnya, posisi mahasiswa tidak hanya sebagai peserta pendidikan formal, tetapi juga sebagai bagian dari struktur sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap pembangunan masyarakat.

“Mahasiswa harus ada rasa keterpanggilan untuk membangun masyarakat,” katanya.

Kesadaran dan Tanggung Jawab Sosial

Untuk menggambarkan makna keterpanggilan tersebut, Ghofar menceritakan pengalamannya sendiri ketika menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya pada masa reformasi 1998. Ia menjelaskan bahwa pada saat itu terjadi gelombang perubahan politik besar yang melibatkan mahasiswa di berbagai daerah, termasuk Surabaya.

Sebagai mahasiswa, ia merasakan dorongan kuat untuk terlibat dalam dinamika sejarah tersebut. Namun, kebijakan kampus saat itu membatasi keterlibatan mahasiswa dalam aksi demonstrasi. Dalam situasi tersebut, ia menyalurkan aspirasi melalui tulisan reflektif yang menggambarkan dialog imajiner tentang tanggung jawab generasi terhadap perubahan sejarah.

“Saya membuat tulisan imajiner kilas balik tentang peristiwa tahun 1998 itu karena ada rasa keterpanggilan sebagai seorang mahasiswa,” katanya, yang saat itu memimpin pers kampus bernama Buletin Nurani.

Tulisan tersebut kemudian sampai kepada pengurus yayasan dan menjadi salah satu faktor yang membuka ruang partisipasi mahasiswa dalam peristiwa reformasi. Ghofar menjelaskan bahwa keterlibatannya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi juga meluas hingga ke Jakarta.

Ia menuturkan bahwa dirinya menjadi saksi langsung salah satu peristiwa penting dalam perjalanan reformasi nasional. “Saat peristiwa Semanggi, saya hadir di situ,” katanya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk kesadaran kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks masa kini, ia menegaskan bahwa mahasiswa tetap memiliki peran penting dalam menyuarakan kepentingan publik dan menjaga keberpihakan terhadap masyarakat.

Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara aspirasi masyarakat dan ruang publik yang lebih luas.

“Mahasiswa harus hadir menyuarakan isu kepentingan publik karena mahasiswa adalah corong masyarakat,” kata Ghofar.

Pada bagian akhir sambutannya, Ghofar mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan waktu secara optimal dalam menjalankan peran pengabdian. Ia menekankan pentingnya kesadaran waktu sebagai faktor penting dalam proses perjuangan dan kontribusi sosial.

“Kita harus gerak cepet, nanti keburu kiamat. Kita punya waktu 365 hari untuk berjuang,” katanya.

Acara Grand Launching tersebut juga menandai penguatan infrastruktur kelembagaan GMH melalui pembentukan LBH, peluncuran website resmi, serta pengenalan logo baru sebagai bagian dari konsolidasi identitas organisasi mahasiswa Hidayatullah. Langkah tersebut diharapkan memperkuat peran GMH dalam kaderisasi, advokasi, serta pelayanan kepada masyarakat dan mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Tokoh Muslimah Ajak Jadikan Ramadhan Momentum Penguatan Daya dan Produktivitas

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Tokoh nasional muslimah inspiratif, Bunda Aisah, mengatakan bahwa momentum suci bulan Ramadhan harus menjadi titik perubahan bagi Muslimah untuk meninggalkan sikap pasif dan bertransformasi menjadi pribadi yang lebih berdaya dalam berbagai dimensi kehidupan.

Pengawas Vanilla Hijab ini menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan penting untuk memperkuat kualitas diri, baik dalam lingkup keluarga, peran sosial, maupun penguatan spiritualitas.

“Momentum suci bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi titik balik untuk meninggalkan kebiasaan pasif dan beralih menjadi pribadi yang lebih berdaya, baik dalam ranah domestik, sosial, maupun spiritual,” ujar Bunda Aisah dalam kegiatan Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Depok, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan peserta, khususnya kalangan Muslimah, yang mengikuti rangkaian acara dengan antusias. Dalam kesempatan tersebut, Bunda Aisah menyampaikan bahwa Ramadhan tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual seperti menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan sarana pendidikan yang membentuk kedisiplinan dan meningkatkan kapasitas individu.

Bunda Aisah menjelaskan bahwa bulan Ramadhan berfungsi sebagai madrasah kehidupan yang memberikan ruang bagi Muslimah untuk mengembangkan potensi diri secara optimal.

Dalam pemaparannya, Bunda Aisah juga menyinggung tentang peran Muslimah dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, termasuk dalam aspek ekonomi. Ia menjelaskan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi secara produktif selama tetap memenuhi ketentuan syariat.

“Islam memperbolehkan wanita bekerja membantu suami, bahkan dianggap mulia, asalkan mendapat izin dari suami, halal dan tidak melalaikan kewajiban utama,” katanya, sembari menegaskan bahwa aktivitas produktif yang dilakukan Muslimah dapat berjalan selaras dengan tanggung jawab keluarga dan nilai-nilai agama.

Salah satu bentuk aktivitas produktif yang disampaikan dalam forum tersebut adalah keterlibatan dalam bidang usaha atau bisnis. Bunda Aisah menjelaskan bahwa kegiatan usaha dapat dijalankan dengan prinsip yang sederhana dan terencana. Ia menyebutkan empat unsur utama yang perlu diperhatikan dalam memulai usaha, yaitu niat yang kuat, penentuan produk yang jelas, pemanfaatan teknologi digital, serta pembangunan jaringan kerja yang luas.

“Bisnis itu tidak ribet. Syaratnya ada empat. Pertama, niat dan tekad yang kuat. Kedua menentukan produk. Ketiga, melek dengan teknologi dan dunia digital. Keempat, bangun jaringan, networking,” katanya.

Owner VH Tour ini mendorong Muslimah untuk memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif. Ia menegaskan bahwa penggunaan media sosial dapat diarahkan untuk aktivitas yang memberikan manfaat nyata, termasuk dalam mendukung ekonomi keluarga. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dapat membuka peluang yang luas bagi Muslimah untuk berkarya tanpa harus meninggalkan peran domestik.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka Muslimah kalau main medsos, dia tidak sekadar scrolling. Tapi juga menghasilkan income bagi keluarga, dari rumah bisa meraih banyak berkah,” tukasnya.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini menjadi ruang pembelajaran yang memberikan penguatan pemahaman tentang peran Ramadhan sebagai sarana pembinaan diri. Selain menyampaikan materi tentang pemberdayaan Muslimah, kegiatan tersebut juga menjadi sarana silaturahmi dan penguatan semangat kebersamaan di antara para peserta.

Acara tersebut terselenggara melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk dukungan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Muliamart Swalayan. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menghadirkan kegiatan edukatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan.

Tarhib Ramadhan, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ingatkan Visi Ruhani dan Penguatan Ukhuwah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., mengatakan bahwa bulan suci Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat hubungan persaudaraan, tidak hanya di antara umat Islam, tetapi juga dalam lingkup kehidupan kebangsaan yang lebih luas.

Hal tersebut disampaikan dalam kajian Tarhib Ramadhan yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Muslimat Hidayatullah Depok sebagai bagian dari persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Dalam tausiyahnya di hadapan jamaah, KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa Ramadhan tidak dapat dipandang semata sebagai siklus ibadah tahunan yang berlangsung secara rutin. Ia menegaskan bahwa bulan Ramadhan memiliki kedudukan strategis dalam membentuk kekuatan spiritual individu sekaligus memperkokoh relasi sosial yang dilandasi nilai-nilai keimanan.

Ia menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum yang memiliki dimensi pembinaan iman dan penguatan ukhuwah yang melampaui batas-batas identitas kelompok, sehingga menjadi ruang pembentukan solidaritas yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua individu yang menjalani ibadah Ramadhan secara otomatis memperoleh manfaat spiritual yang dijanjikan Allah di dalamnya. “Tidak sedikit di antara umat Islam yang memasuki bulan Ramadhan tanpa memiliki visi yang jelas. Boleh jadi mereka hanya mendapatkan pengalaman lapar dan haus,” katanya.

Naspi menekankan pentingnya orientasi spiritual yang terarah agar ibadah yang dijalankan tidak berhenti pada aspek fisik semata, tetapi memberikan dampak nyata dalam pembentukan karakter dan kehidupan setelah Ramadhan.

Menurut KH Naspi Arsyad, keberadaan visi yang jelas menjadi unsur penting dalam memastikan bahwa ibadah Ramadhan berjalan sesuai dengan tujuan pembinaan ruhani. Ia menjelaskan bahwa ibadah yang dijalankan tanpa orientasi yang benar berpotensi kehilangan makna transformasionalnya. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana memperjelas arah kehidupan spiritual, sehingga setiap amal ibadah yang dilakukan memiliki keterkaitan langsung dengan penguatan iman dan perbaikan kualitas diri secara menyeluruh.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan refleksi historis mengenai perjalanan para pendiri Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama yang dimiliki oleh para perintis organisasi tersebut terletak pada kejelasan visi dan komitmen dalam mewujudkannya.

“Kelebihan para pendiri Hidayatullah ada pada kekuatan visinya. Mereka kuat dalam upaya mengokohkan iman dan ukhuwah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kekuatan visi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan, tetapi juga berhubungan langsung dengan pembentukan karakter individu dan komunitas. Menurutnya, visi yang kokoh memungkinkan lahirnya konsistensi dalam menjalankan misi dakwah dan pembinaan umat. Dalam konteks Ramadhan, visi spiritual yang jelas menjadi landasan dalam mengoptimalkan seluruh potensi ibadah yang tersedia selama bulan suci.

KH Naspi Arsyad juga mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembaruan komitmen dalam kehidupan keagamaan. Ia menekankan pentingnya memperkuat kembali orientasi keislaman yang berlandaskan iman, sekaligus mempererat hubungan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan sosial.

“Mari kita menjadikan Ramadhan sebagai titik awal penguatan integritas spiritual dan solidaritas sosial,” katanya menekankan.

PP GMH Luncurkan LBH, Website, dan Logo Baru sebagai Bagian Transformasi Organisasi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) secara resmi meluncurkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), website resmi organisasi gmh.or.id, serta logo baru dalam sebuah agenda yang berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh semangat pembaruan.

Peluncuran yang berlangsung di Kota Depok pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026) ini menjadi bagian dari langkah organisasi dalam memperkuat peran advokasi hukum, meningkatkan kapasitas intelektual kader, serta memperluas jangkauan komunikasi organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Direktur LBH PP GMH, Syarif Hidayatullah, yang juga bertindak sebagai Ketua Penyelenggara kegiatan launching, menyampaikan bahwa pembentukan LBH merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menghadirkan layanan advokasi hukum yang sistematis dan terarah.

Ia menjelaskan bahwa lembaga tersebut didirikan dengan tujuan memberikan kontribusi nyata dalam bidang advokasi hukum sekaligus pengembangan kapasitas intelektual di bidang hukum.

Syarif menyatakan bahwa LBH Gerakan Mahasiswa Hidayatullah hadir sebagai pusat advokasi hukum dan pengembangan intelektual hukum yang progresif serta berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan perlindungan hukum.

Syarif menjelaskan bahwa lembaga tersebut memiliki visi untuk menjadi pusat advokasi hukum dan pengembangan intelektual hukum yang progresif serta berpihak pada masyarakat tertindas.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Syarif menyebutkan LBH PP GMH menetapkan sejumlah misi utama yang menjadi landasan operasional lembaga. Di antaranya adalah memberikan bantuan hukum secara konsisten kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap layanan hukum.

Selain itu, LBH PP GMH juga menetapkan fokus pada advokasi hukum yang berorientasi pada perlindungan hak-hak masyarakat, termasuk perempuan dan anak. Lembaga ini juga berkomitmen menyelenggarakan edukasi dan pelatihan hukum sebagai bagian dari upaya mencetak kader intelektual yang memiliki kapasitas dalam advokasi masyarakat.

Kegiatan lain yang menjadi bagian dari misi LBH adalah melakukan kajian dan analisis hukum serta membangun jaringan kerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat sipil.

Dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan logo baru LBH PP GMH yang dirancang untuk merepresentasikan nilai keadilan. Logo tersebut mencerminkan prinsip equality before the law, yaitu prinsip yang menegaskan bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang setara di hadapan hukum tanpa perbedaan.

Sebagai bagian dari implementasi program kerja, LBH PP GMH menetapkan dua program prioritas yang akan dijalankan secara berkelanjutan. Program tersebut adalah “Goes to Campus” dan “Bincang Hukum”. Kedua program ini dirancang untuk meningkatkan literasi hukum di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum, sekaligus membangun kesadaran hukum yang lebih luas di lingkungan akademik dan masyarakat.

Transformasi Digital Organisasi

Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran LBH dan website organisasi merupakan bagian dari upaya memperkuat peran Gerakan Mahasiswa Hidayatullah dalam merespons kebutuhan zaman.

Rizki menjelaskan bahwa kehadiran website resmi GMH menjadi bagian dari transformasi digital organisasi yang bertujuan meningkatkan efektivitas komunikasi, koordinasi, dan penyebaran informasi organisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Rizki juga memaparkan perkembangan organisasi selama satu tahun masa kepengurusan. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini enam pengurus daerah telah terbentuk dan dilantik secara resmi.

Selain itu, sejumlah wilayah lainnya tengah berada dalam proses pembentukan kepengurusan yang direncanakan akan dilantik secara serentak di seluruh Indonesia.

Rizki menegaskan bahwa Gerakan Mahasiswa Hidayatullah berkomitmen untuk menghadirkan program yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi mahasiswa dan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa organisasi terus berupaya menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa, sekaligus menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Agenda launching tersebut turut dihadiri oleh Ketua Bidang Pengkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghaffar Hadi, yang menyampaikan apresiasi terhadap berbagai capaian organisasi.

Ia menyatakan bahwa aktivitas GMH menunjukkan tingkat produktivitas yang tinggi dan memberikan kontribusi nyata, seraya mendorong terus mendalami biografi dan pikiran pikiran sosok KH Abdullah Said agar gerakan GMH senantiasa setarikan nafas dengan cita cita pendiri Hidayatullah itu.

“Kami mengapresiasi produktivitas Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Berbagai program yang dilaksanakan menunjukkan komitmen dalam membangun kader yang berdaya dan berkontribusi bagi umat, bangsa, dan negara” katanya.

Ia mengapresiasi inisiatif tersebut yang menegaskan komitmen organisasi dalam menghadirkan kontribusi nyata melalui pendidikan hukum, advokasi masyarakat, serta penguatan kapasitas mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Mahasiswa dan Daya Iqra’

0

ADA semacam magis yang terpancar dari sebuah jaket almamater dengan logo universitas meski tidak ternama. Sebuah simbol yang sering kali menjadi muara impian bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

Dalam strata akademik, status mahasiswa adalah kasta yang diidamkan, di mana gengsi dan ekspektasi berpadu dalam satu warna kain jaket.

Namun, di balik kebanggaan yang terpampang nyata itu, tersimpan tanggung jawab besar: apakah jaket tersebut hanya akan menjadi hiasan raga, ataukah menjadi zirah bagi pemikiran yang merdeka?

Tak banyak yang menyadari bahwa kursi di ruang kuliah adalah sebuah privilese yang mahal. Namun sayangnya, kemewahan itu sering kali diringkas menjadi sekadar perburuan indeks prestasi yang melangit untuk cumlaude. Mahasiswa-mahasiswa ini terjebak dalam obsesi angka, atau lebih parah lagi, terjebak dalam impian pragmatis tentang kenyamanan hidup setelah wisuda.

Perjalanan hidup sebagian mahasiswa hanya mengalir dalam garis lurus yang membosankan: dari kos ke kampus, mampir sejenak di perpustakaan, lalu berakhir di kantin. Sebuah perjalanan yang begitu mekanis, tanpa pernah benar-benar menyentuh debu jalanan atau keresahan rakyat di luar pagar kampus.

Mahasiswa sering kali lupa bahwa ijazah hanyalah artefak administratif, bukan jimat sakti untuk menaklukkan realitas. Hidup ini memiliki logikanya sendiri, sebuah teka-teki yang tak sanggup dijawab oleh indeks prestasi terbaik sekalipun.

Kewajiban belajar adalah komitmen seumur hidup, namun mereduksinya hanya sebatas duduk manis di balik meja kelas yang sempit adalah sebuah tragedi intelektual. Ruang kuliah ukuran enam kali delapan meter itu terlalu kecil untuk menampung luasnya samudera kehidupan yang sesungguhnya menanti untuk mahasiswa arungi.

Ada beban sejarah yang melekat pada pundak tiap mahasiswa, sebuah privilese yang tak sempat dicicipi oleh banyak anak bangsa. Namun, sering kali kemewahan ini disalahartikan sebagai tiket untuk sekadar bersantai dalam zona nyaman. Sebagian mahasiswa terjebak dalam ritus ‘kongkow’ yang repetitif, menghabiskan waktu dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya seolah hidup tak memiliki urgensi. Di sana, kopi hanya menjadi kawan bicara yang hambar, diminum tanpa ada ide yang lahir, dan habis tanpa menyisakan jejak perubahan bagi bangsa yang sedang menanti di luar sana.

Eksistensi mahasiswa hari ini adalah determinan utama bagi wajah Indonesia dua dekade mendatang. Masa depan Indonesia emas tahun 2045 tidak akan dikonstruksi oleh kebetulan, melainkan oleh kualitas intelektual dan integritas mahasiswa yang diasah hari ini. Pertanyaannya bukan lagi kapan perubahan itu datang, melainkan kontribusi strategis apa yang telah disiapkan untuk mengisi ruang-ruang kepemimpinan di masa depan tersebut.

Padahal, mahasiswa memiliki peran yang strategis yaitu, pertama, sebagai agent of change yang memegang mandat sebagai katalisator perubahan sosial. Peran ini menuntut keberanian moral untuk melakukan intervensi inovatif yang mendisrupsi status quo.

Gerakan mahasiswa tidak dirancang untuk mengakomodasi zona nyaman, melainkan sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan stagnasi dan mengonstruksi tatanan masyarakat yang lebih berkeadilan.

Kedua, sebagai social control. Mahasiswa mengartikulasikan fungsi kontrol sosial melalui keberanian dalam mengonfrontasi kebijakan publik yang teralienasi dari kebutuhan rakyat. Sebagai pemegang otoritas moral (moral force), mahasiswa mentransformasikan keresahan kolektif menjadi narasi kritis yang cerdas—baik melalui orasi demonstrasi di ruang jalanan maupun diskursus digital melalui media sosial. Intervensi ini bukan sekadar oposisi, melainkan upaya intelektual untuk memastikan suara masyarakat marjinal tetap menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan negara.

Ketiga, mahasiswa sebagai iron stock yang merupakan manifestasi dari regenerasi intelektual yang tidak boleh terputus. Efektivitas perkaderan dalam membentuk karakter pemimpin masa depan sangat bergantung pada dinamika kemahasiswaan; sebuah ruang dialektika yang tidak ditemukan di dalam ruang kelas formal.

Melalui aktivitas organisatoris, mahasiswa mengalami proses pengkristalan mental dan pematangan ideologi, yang menjadikannya kader bangsa yang kokoh, tangguh, dan tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan sesaat

Masa kuliah adalah momentum emas yang tidak pernah berulang. Jangan sia-siakan predikat ‘maha’ yang tersemat di depan status. Kata itu bermakna agung karena adanya daya pikir yang kritis, kepekaan sosial yang tajam, dan keberanian untuk berdiri tegak di atas kebenaran. Tanpa peran-peran tersebut, mahasiswa hanyalah ‘siswa’ yang berpindah gedung; memiliki kartu mahasiswa namun kehilangan nyawa intelektualitasnya.

Segala bentuk perjuangan mahasiswa, pada hakikatnya, harus bermuara pada satu hulu: daya Iqra’. Ia adalah sebuah ziarah ganda; membaca teks yang tersurat di atas lembaran buku untuk menimba kebijakan masa lalu dan prediksi masa depan, sekaligus membaca konteks yang tersirat dalam peristiwa sosial untuk menangkap kegelisahan masa kini.

Tanpa kekuatan membaca yang paripurna ini, mahasiswa hanyalah raga yang hampa. Mereka akan gagap saat hendak menggerakkan perubahan, kehilangan kompas moral saat mencoba mengontrol kuasa, dan terlampau rapuh untuk memikul beban estafet kepemimpinan di pundak mereka.

Daya baca mahasiswa saat ini sebagian tergerus dengan gadget, game online bahkan ironis ada yang terseret kepada judi online dan pinjaman online. Maka rendahnya literasi menyebabkan peran mahasiswa tidak lagi memiliki daya dobrak untuk menyuarakan kritik sosial dan membawa arus perubahan.

Menjadi mahasiswa adalah tentang melampaui batas diri. Mahasiswa dituntut punya otak ‘Profesor’ yang mampu berpikir strategis, namun punya otot ‘Kuli’ yang tak kenal lelah bekerja di akar rumput.

Bagi mahasiswa Muslim, perjuangan ini disempurnakan dengan napas ibadah seorang ‘Kyai’. Inilah profil mahasiswa paripurna: nalar yang cerdas, raga yang tangguh, dan jiwa yang tunduk pada Sang Pencipta. Jika salah satunya hilang, integritas mahasiswa sebagai agen perubahan akan rapuh.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Distribusi Buku dan Al-Qur’an Perkuat Akses Ilmu dan Nilai Keislaman di Berbagai Daerah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pegiat literasi nasional Maman Suherman, yang dikenal sebagai Kang Maman, menyampaikan bahwa menjelang bulan suci Ramadhan pihaknya kembali melaksanakan pengiriman buku dan Al-Qur’an ke berbagai wilayah di Indonesia.

Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas akses literasi sekaligus mendukung pembinaan nilai keilmuan dan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama antara Kang Maman, perusahaan logistik JNE, dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026).

Kolaborasi ini difokuskan pada distribusi bahan bacaan berupa buku dan Al-Qur’an ke sejumlah daerah penerima manfaat. Inisiatif tersebut bertujuan menyediakan sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya di wilayah yang membutuhkan dukungan akses literasi.

Sinergi antara pegiat literasi, sektor dunia usaha, dan lembaga filantropi ini menjadi bagian dari upaya bersama menghadirkan akses ilmu pengetahuan serta memperkuat nilai keagamaan melalui penyediaan Al-Qur’an dan buku bacaan. Selain itu, program ini dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen bersama untuk mendukung penguatan literasi dan pendidikan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam keterangannya di sela-sela proses pengiriman, Kang Maman menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin yang dilaksanakan setiap menjelang Ramadhan.

Ia menyampaikan bahwa pengiriman kali ini mencakup sejumlah wilayah strategis serta institusi pendidikan yang membutuhkan tambahan koleksi bacaan.

“Seperti biasa, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ketika menjelang Ramadhan, kami akan berkirim buku-buku dan Al-Qur’an ke berbagai tempat di Indonesia. Pengiriman kali ini kita akan ke Kalimantan dan Sulawesi, kemudian ratusan buku dan Al-Qur’an untuk perpustakaan Untirta, di Serang, Banten,” katanya.

Program distribusi literasi ini tidak hanya menjangkau wilayah tertentu seperti Kalimantan dan Sulawesi, tetapi juga menyasar berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, dukungan terhadap perpustakaan perguruan tinggi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses bacaan bagi kalangan akademik dan masyarakat luas.

Kang Maman juga menyampaikan harapannya agar program distribusi literasi ini dapat terus berlangsung secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kegiatan berbagi bahan bacaan merupakan bagian dari upaya memperluas akses ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

“Semoga kegiatan ini terus berlanjut, kita berbagi bacaan, berbagi Iqra’, Read, Buku, ke saudara-saudara kita di seluruh Indonesia,” katanya, seraya menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan dukungan literasi kepada masyarakat di berbagai wilayah.

Perluas Akses Literasi dan Pendidikan
Dari pihak Baitul Maal Hidayatullah, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen memperluas akses literasi dan pendidikan.

Imam menyampaikan bahwa distribusi buku dan Al-Qur’an memiliki tujuan untuk memberikan dukungan pembelajaran bagi masyarakat penerima manfaat.

“Pengiriman buku dan Al-Qur’an bukan sekadar distribusi bantuan, tetapi ikhtiar membangun generasi yang berilmu dan berakhlak,” katanya.

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa kerja sama dengan Kang Maman dan JNE memberikan dukungan penting dalam memperluas jangkauan distribusi. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses pengiriman menjangkau wilayah yang lebih luas dan memberikan manfaat kepada lebih banyak penerima.

Ia menegaskan bahwa literasi memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan masyarakat. “Kami meyakini bahwa literasi adalah pintu perubahan. Ketika buku dan Al-Qur’an sampai ke tangan para penerima manfaat, di situlah harapan baru mulai tumbuh,” tukasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya berkaitan dengan distribusi fisik bahan bacaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat belajar dan pengembangan nilai-nilai keilmuan di tengah masyarakat.

“Sinergi bersama Kang Maman dan JNE ini bukan hanya pengiriman, tetapi juga menghadirkan ilmu, menyalakan semangat belajar, dan memperkuat nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat,” imbuh dai muda ini.

Imam berharap dengan keterlibatan lintas sektor dalam mendukung penguatan pendidikan dan literasi ini masyarakat di berbagai wilayah memperoleh akses terhadap bahan bacaan yang dapat mendukung proses pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.