MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Prosesi pelepasan siswa kelas VI SD Integral Hidayatullah Malinau berlangsung khidmat dan penuh haru dalam kegiatan Haflah Akhirussanah yang digelar pada Senin (25/05/2026 bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh daerah, termasuk Camat Malinau Kota yang menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan pendidikan di wilayah Malinau.
Acara yang berlangsung penuh rasa syukur itu menjadi momentum penting bagi sekolah, para siswa, dan wali murid dalam menandai berakhirnya masa belajar angkatan kelas VI tahun ini. Kehadiran para pimpinan instansi dan tokoh masyarakat turut menambah kekhidmatan suasana kegiatan tahunan tersebut.
Selain Camat Malinau Kota, kegiatan juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Ketua Yayasan Hidayatullah Malinau, Pengawas SD, Ketua Gerai Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Malinau, serta Ketua RT setempat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan dan pembinaan generasi muda di Kabupaten Malinau.
Dalam sambutannya, Camat Malinau Kota menyampaikan apresiasi atas dedikasi SD Integral Hidayatullah dalam mendidik siswa tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman.
Ia mengungkapkan rasa bangga terhadap kontribusi lembaga pendidikan tersebut dalam mencetak generasi muda yang berakhlak dan memiliki kesiapan menghadapi masa depan.
“Kami akan terus mengawal dan memberikan layanan terbaik demi kemajuan pendidikan di Malinau, agar anak-anak kita mendapatkan fasilitas dan lingkungan belajar yang layak,” ujarnya di hadapan para siswa dan wali murid.
Sementara itu, para tamu undangan lainnya turut memberikan apresiasi atas capaian akademis maupun perkembangan karakter siswa selama menempuh pendidikan di SD Integral Hidayatullah Malinau. Menurut mereka, sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Rangkaian Haflah Akhirussanah kemudian ditutup dengan prosesi sungkeman kepada orang tua serta sesi foto bersama. Suasana haru dan kebersamaan tampak mewarnai penutupan kegiatan tersebut.
Melalui momentum ini, diharapkan SD Integral Hidayatullah Malinau terus memperkuat sinergi dengan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah dalam membangun pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan bermanfaat bagi bangsa di masa depan.
Aku berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab hanya dengan takwa, kehidupan akan menjadi mulia, hati menjadi tenang, dan akhir perjalanan akan berujung kebahagiaan.
Bapak-bapak, Saudara-saudara, Para Pemuda dan Remaja Kebanggaan Umat Islam, dan anak-anakku yang kucintai karena Allah, jama’ah solat Jum’at yang berbahagia.
Qurban Nabi Ibrahim صلى الله عليه وسلم adalah putranya sendiri, Ismail صلى الله عليه وسلم. Pelaksanaannya, telah mengalahkan telak tipuan licik Syaitan.
Kemenangannya, berbentuk tertariknya miliaran hati, serta ketaatan dan kerinduan miliaran umat manusia untuk berhaji ke Makkah, Ibukota Hidayah, Ibukota Aqidah Tauhid untuk alam semesta, sampai akhir zaman. Ini kemenangan yang hampir tiada bandingannya.
Kecuali jika dibandingkan dengan kemenangan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, pada saat telah sempurna menjalankan tugas kerasulan dan kenabiannya.
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Potongan Al-Quran surah Al-Māidah 3)
Selain kemenangan berupa sempurnanya Syariat Al-Quran dan As-Sunnah menjadi tuntunan hidup seluruh manusia sampai Hari Kiamat, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mendapatkan kemenangan berupa telaga dan sungai Al-Kautsar.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menundukkan kepala sejenak, lalu beliau mengangkat kepala seraya tersenyum. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau صلى الله عليه وسلم, “Mengapa engkau tersenyum?” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Sesungguhnya barusan diturunkan kepadaku suatu surah.”
Lalu beliau membaca firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar”, sampai akhir.
Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apakah kalian tahu, apakah Al-Kautsar itu?”
Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan kepadaku oleh Rabbku di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku akan mendatanginya pada hari kiamat, jumlah bejana-bejananya sama dengan jumlah bintang-bintang.”
Pertanyaan untuk kita hari ini, qurban yang telah kita sembelih kemarin, hari ini dan sampai besok selesai hari Tasyrik, telah mengantarkan kita pada kemenangan apa?
Pertama, insyaa Allah, kita yang mampu dan telah berqurban sudah menang atas sifat bakhil, pelit, kikir dan malas di dalam diri kita.
Kedua, insyaa Allah, kita telah menang atas rayuan syaitan yang berusaha mencegah kita menunaikan syariat qurban.
Ketiga, insyaa Allah, kita sudah menang atas bisikan syaitan yang telah berusaha agar hati dan niat ikhlas kita rusak pada saat melaksanakan qurban dengan menyelipkan riya’, bangga dilihat dan dipuji orang lain.
Keempat, insyaa Allah, kita sudah menang karena memperkuat hubungan persaudaraan kita dengan saudara-saudara kita para penerima daging qurban. Semoga semakin kuatlah barisan masyarakat Islam.
Kelima, insyaa Allah, karena melaksanakan qurban ini adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam surah Al-Kautsar, maka kemenangan tertinggi kita adalah berjumpa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menikmati telaga dan sungai Al-Kautsar di Akhirat.
Bapak-bapak, Saudara-saudara, Para Pemuda dan Remaja Kebanggaan Umat Islam, dan anak-anakku yang kucintai karena Allah, jama’ah solat Jum’at yang berbahagia.
Setiap orang di dalam masjid ini dan di seluruh dunia sedang berjuang hidup. Setiap perjuangan pasti mengharuskan pengorbanan. Insyaa Allah, setiap pengorbanan itu akan jadi langkah maju mendekati kemenangan.
Para Ayah dan Ibu mengorbankan tenaga, pikiran, waktunya, untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya.
Para Pemuda mengorbankan birahinya agar terjaga kesucian diri dan batinnya dari maksiat, sampai Allah tetapkan atasnya pernikahan yang halal dan berkah.
Para Remaja mengorbankan sifat kekanak-kanakannya untuk bersegera menjadi dewasa dan memikul tanggung jawab syariah sebagai Mukallif dunia Akhirat.
Dari atas mimbar yang mulia ini, izinkan khatib mendoakan agar Bapak-Bapak, Saudara-Saudara, Para Pemuda, Para Remaja, dan anak-anakku semua Allah anugerahkan kemenangan demi kemenangan pribadi sepanjang perjalanan hidup, sampai puncaknya kemenangan syahadah atau husnul khatimah di akhir umur kita semua kelak.
Dari sudut pandang yang lain, di zaman kita saat ini, ada kemenangan bersama, kemenangan Ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yaitu kembalinya Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis ke pangkuan umat Islam.
Kita berqurban setahun sekali, tapi kita tahu, ada diantara kita yang berqurban setiap hari, setiap jam, setiap detik di garis depan jihad. Yaitu keluarga-keluarga kita di garis depan jihad membebaskan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis.
Kita mengurbankan sapi, kambing dan domba untuk kemenangan pribadi kita. Sedangkan mereka mengorbankan nyawanya, suaminya, istrinya, anak-anaknya, ayahnya, ibunya, kerabatnya, rumahnya, sekolahnya, kendaraannya, kebunnya, hampir-hampir tak bersisa, untuk kemenangan kita bersama. Kemenangan Ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Setiap qurban adalah selangkah mendekati kemenangan.
“Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman.” (Potongan Al-Qurān surah Ash-Shaff 13)
Setelah selesai berqurban dalam syariat Dzulhijjah, mari kita lanjutkan perjuangan dan pengorbanan kita mendekati kemenangan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis Merdeka! Sampai Allah menetapkannya untuk kita di zaman kita.
Siapkanlah qurban kita untuk kemenangan besar ini. Semakin kuat iman kita, semakin nampak kemenangan itu di pelupuk mata, karena semakin kecil dan lemah nampak musuh-musuh itu.
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan perjuangan dan pengorbanan.
Namun seorang mukmin yakin bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Begitu pula qurban. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan membuat kita rugi. Justru Allah menggantinya dengan keberkahan hidup, ketenangan hati, dan pahala yang besar.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari jadikan momentum Idul Adha ini sebagai sarana memperbaiki diri.
Perkuat keikhlasan.
Perbanyak kepedulian.
Pererat persaudaraan.
Dan teruslah berjuang menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Semoga Allah menerima amal qurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Muslim World League (Rabithah Al-Alam Al-Islami) menggelar program layanan kesehatan gratis bertajuk “Klinik Medis Bergerak” berskala besar di Kabupaten Sukabumi pada Ahad, 7 Dzulhijah 1447 (24/5/2026).
Program kemanusiaan internasional tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Mabda Islam, Desa Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, sebagai bagian dari upaya pemerataan akses kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan dua mitra utama, yakni Islamic Medical Service (IMS) dan PT Indofest Global Pratama, yang bertindak sebagai pelaksana operasional lapangan. Sementara Pondok Pesantren Mabda Islam berperan sebagai mitra strategis lokal dalam penyediaan fasilitas, dukungan infrastruktur, serta mobilisasi masyarakat di kawasan pedesaan Sukabumi.
Program Klinik Medis Bergerak merupakan layanan medis jemput bola guna menjawab persoalan keterbatasan akses layanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat desa yang selama ini harus menempuh perjalanan panjang menuju pusat layanan medis perkotaan. Kehadiran tenaga medis dan perangkat kesehatan langsung ke wilayah pedesaan dinilai mampu memangkas hambatan geografis sekaligus biaya transportasi masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 14.00 WIB tersebut dibuka langsung oleh Camat Nyalindung Antono bersama unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta pimpinan lembaga penyelenggara. Sebanyak 510 warga tercatat menerima layanan kesehatan gratis melalui tiga klaster utama pelayanan.
Pada layanan pengobatan umum, tercatat 352 warga mendapatkan pemeriksaan medis dan pengobatan atas berbagai keluhan kesehatan. Sementara layanan pemeriksaan kesehatan gigi menjangkau 103 warga. Adapun layanan antenatal care (ANC) dan pemeriksaan ultrasonografi (USG) melayani 55 ibu hamil dari wilayah sekitar.
Pimpinan Pondok Pesantren Mabda Islam Ustadz Abi Sandi Nopiandi dalam sambutannya menyampaikan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab sosial selain fungsi pendidikan keagamaan. Ia menilai program pelayanan kesehatan tersebut menjadi bentuk nyata penguatan kemaslahatan umat di wilayah pedesaan.
“Kegiatan ini adalah wujud nyata dari nilai-nilai kemanusiaan. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga harus menjadi pusat kemaslahatan umat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Muslim World League, IMS, dan PT Indofest Global Pratama yang telah menghadirkan layanan kesehatan langsung ke Desa Nyalindung.
“Atas nama keluarga besar pesantren dan seluruh warga, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Muslim World League, IMS, dan PT Indofest Global Pratama yang telah membawa berkah kesehatan ke kampung kami,” katanya.
Dalam konteks pengembangan kawasan pedesaan dan wilayah penyangga perkotaan, program seperti Klinik Medis Bergerak dinilai memiliki hubungan erat dengan penguatan kualitas pendidikan dan dakwah umat. Akses kesehatan yang memadai menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang produktif, stabil, dan siap menerima proses pembinaan pendidikan keislaman secara berkelanjutan.
Camat Nyalindung dalam sambutannya turut menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga sosial dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.
“Kehadiran layanan kesehatan gratis ini sangat membantu warga kami, terutama bagi ibu hamil yang kini bisa mendapatkan akses USG tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit kabupaten,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sinergi lintas sektor menjadi bagian penting dalam mempercepat pemerataan layanan dasar masyarakat, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses medis.
Dampak program tersebut dirasakan langsung warga penerima manfaat. Maryam, salah seorang ibu hamil peserta layanan ANC dan USG, mengaku terbantu dengan pelayanan yang diberikan secara gratis.
“Biasanya kalau mau USG harus ke kota dan biayanya lumayan besar bagi kami. Hari ini pemeriksaannya sangat detail dan dokternya ramah,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Ahmad, warga lansia yang mengikuti pemeriksaan kesehatan umum.
“Pelayanannya cepat dan kami langsung dapat obat. Sangat terbantu sekali karena semua dilakukan tanpa biaya,” katanya.
Keberhasilan pelaksanaan Klinik Medis Bergerak di Sukabumi disebut akan menjadi model pengembangan layanan serupa di berbagai daerah pelosok Indonesia.
Kolaborasi antara Muslim World League, IMS, PT Indofest Global Pratama, dan Pondok Pesantren Mabda Islam diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat peran lembaga pendidikan Islam dalam pelayanan sosial umat.
IDUL Adha bukan sekadar momentum ibadah tahunan, melainkan ruang pendidikan iman yang melahirkan generasi terbaik dalam amal dan ketundukan kepada Allah SWT. Di balik syariat qurban, wukuf di Arafah, serta keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya, tersimpan pelajaran besar tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan keyakinan penuh kepada Allah SWT.
Khutbah Idul Adha 1447 Hijriah ini mengajak umat Islam memahami makna “ahsanu ‘amala”, yakni menjadi hamba yang paling baik amalnya, paling taat kepada Allah, dan paling cepat mencari keridaan-Nya. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s., Hajar, dan Nabi Ismail a.s. menjadi inspirasi dalam membangun generasi beriman yang kokoh menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Dapatkan teks lengkap Khutbah Idul Adha. Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh ust. Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D Ketua Bidang Pendidikan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Institute resmi menutup rangkaian kegiatan Pelatihan Kepemimpinan DPW se-Indonesia yang digelar di Aula Lobbies Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Jumat malam, 22 Mei 2026 bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Kegiatan tersebut ditutup langsung oleh Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H selaku Ketua Bidang Organisasi. Turut hadir dalam kesempatan itu Iwan Ruswanda, S.Pd., M.Pd Wakil Sekretaris Jenderal II DPP Hidayatullah, Dr. Arfan, S.S., M.Pd.I Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Balikpapan, Samsul Bahri Direktur Operasional Hidayatullah Institute, Sumaryadi Sumariadi, S.Pd.I Ketua Departemen Sumber Daya Insani, serta Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D Ketua Bidang Pendidikan.
Dalam sambutannya, Dr. Dudung Amadung Abdullah menegaskan bahwa kesempatan mengikuti pelatihan kepemimpinan merupakan bagian dari proses penyiapan kader terbaik umat dan organisasi. Menurutnya, keterlibatan peserta dalam pelatihan mencerminkan kecintaan terhadap perjuangan dan identitas organisasi.
“Kesempatan untuk kawan-kawan yang berada di depan, untuk kita sekalian yang memakai seragam organisasi, itu adalah bentuk kecintaan terhadap organisasi. Yang memakai jas tampak semakin gagah, dan yang memakai batik organisasi tampak semakin menawan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk bersyukur karena telah menyelesaikan rangkaian pembinaan yang dirancang sebagai sarana menempa diri sekaligus memperkuat kapasitas kepemimpinan.
“Ini merupakan bentuk sinergi dari DPP dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin muda serta bentuk konsistensi sejak organisasi ini dilahirkan hingga hari ini, yaitu menyiapkan kader-kader pemimpin yang berwawasan dan memiliki kemampuan membangun umat,” katanya.
Menurutnya, pola pembentukan kader di lingkungan Hidayatullah terus berkembang mengikuti tantangan zaman. Jika pada masa sebelumnya kader ditempa langsung di lapangan, maka saat ini proses pembinaan dilakukan secara lebih sistematis melalui penguatan karakter, penyucian jiwa, dan pembekalan kepemimpinan yang terarah.
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan perubahan nyata setelah para peserta kembali ke daerah masing-masing. Nilai, semangat, dan wawasan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan mampu diterapkan dalam berbagai proyek kepemimpinan dan pengabdian di tengah masyarakat.
“Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga istiqamah di atas manhaj yang benar. Kita dituntut tetap konsisten dengan nilai-nilai dan pelatihan yang sudah diterima dengan baik. Jangan sampai ketika pelatihan semuanya tepat waktu, tetapi setelah kembali justru tidak lagi disiplin,” tuturnya.
Dr. Dudung turut mengingatkan bahwa tantangan kepemimpinan di luar forum pelatihan jauh lebih besar sehingga seluruh peserta harus siap menghadapi amanah dan tanggung jawab organisasi dengan kesungguhan serta kedisiplinan.
Di akhir sambutannya, ia menyampaikan harapan agar melalui pelatihan tersebut lahir pemimpin-pemimpin yang mampu membahagiakan umat dan menghadirkan maslahat luas bagi masyarakat.
“Kita berharap dan terus memanjatkan doa-doa terbaik agar lahir pemimpin-pemimpin yang mampu membahagiakan umat dan membawa maslahat bagi masyarakat,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengelola, pendiri, dan kontributor Hidayatullah Institute yang selama ini membersamai proses pembinaan kader.
“Yang terbaik telah disiapkan untuk kawan-kawan sekalian. Maka berikan apresiasi terbaik untuk orang-orang yang telah membersamai perjuangan ini,” pungkasnya.
Aku berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab hanya dengan takwa hidup menjadi terarah, hati menjadi tenang, dan akhir perjalanan menjadi mulia.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita merenungkan sebuah tema penting dalam kehidupan umat Islam:
“Al-‘Alaq adalah nafas bagi jiwa, sebagaimana oksigen bagi tubuh.”
Allah ﷻ memulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan dengan perintah mencari harta, bukan pula perintah membangun kekuatan dunia, tetapi dengan satu kata agung:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Perintah pertama yang Allah turunkan adalah Iqra’ — bacalah. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan ilmu, bacaan, dan Al-Qur’an dalam Islam.
Namun jamaah sekalian,
Iqra’ bukan sekadar membaca tulisan dengan mata atau melafalkan huruf dengan lisan. Iqra’ adalah menyerap ayat-ayat Allah dengan hati, pikiran, dan kesadaran.
Ada dua ayat Allah yang harus dibaca manusia:
Pertama, ayat qauliyah, yaitu firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’anul Karim.
Kedua, ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta: langit, bumi, gunung, lautan, tumbuhan, hewan, hingga diri kita sendiri.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fussilat: 53)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengapa Al-Qur’an disebut sebagai nafas bagi jiwa?
Karena jiwa manusia tidak cukup hanya diberi makan jasadnya. Tubuh memang membutuhkan makanan dan oksigen, tetapi hati membutuhkan petunjuk Allah.
Tanpa Al-Qur’an, jiwa menjadi kering. Hati mudah gelisah. Pikiran kehilangan arah. Manusia hidup dalam kemewahan, tetapi batinnya kosong.
Sebaliknya, ketika manusia dekat dengan Al-Qur’an, hatinya hidup. Ia memiliki cahaya dalam berpikir, ketenangan dalam menghadapi masalah, dan arah dalam menjalani kehidupan.
Tubuh manusia akan mati jika beberapa menit saja tidak mendapatkan oksigen. Begitu pula ruh manusia. Jika terlalu lama jauh dari Al-Qur’an, ruh menjadi lemah bahkan mati secara spiritual.
Na’udzubillah…
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Rasulullah ﷺ sebelum menerima wahyu sering bertafakkur di Gua Hira. Beliau merenungi langit, memperhatikan alam, dan memikirkan keadaan manusia. Lalu Allah menurunkan perintah: Iqra’.
Artinya, seorang muslim sejati adalah orang yang hidup hatinya dengan Al-Qur’an dan hidup pikirannya dengan ilmu.
Ia membaca Al-Qur’an dengan tadabbur.
Ia membaca alam dengan keimanan.
Ia membaca kehidupan dengan hikmah.
Karena itu, kejayaan peradaban Islam dahulu lahir dari semangat Iqra’. Ketika umat Islam benar-benar membaca Al-Qur’an dan membaca alam semesta, lahirlah ilmuwan-ilmuwan besar dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan teknologi.
Namun ketika umat ini meninggalkan budaya membaca dan lebih sibuk dengan hal-hal yang sia-sia, maka peradaban pun melemah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Di zaman sekarang manusia membaca setiap hari. Namun seringkali yang dibaca hanyalah gosip, fitnah, hiburan tanpa batas, dan konten yang melalaikan.
Akibatnya, pikiran menjadi sempit, hati mudah gelisah, dan hidup kehilangan arah.
Karena itu mari kita kembali kepada Iqra’ yang sejati:
Membaca Al-Qur’an setiap hari dengan tadabbur.
Membaca ilmu-ilmu yang bermanfaat dengan pandangan Islam.
Membaca alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah.
Jika itu kita lakukan, maka jiwa kita akan hidup, keluarga kita akan hidup, dan insya Allah umat ini akan kembali bangkit.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai nafas utama dalam kehidupan kita. Jangan sampai tubuh kita sehat, tetapi ruh kita sakit. Jangan sampai kita hidup di dunia, tetapi hati kita mati karena jauh dari petunjuk Allah.
Dalam perjalanan dakwah dan perjuangan, kader bukan sekadar anggota organisasi. Ia adalah jiwa yang bergerak, yang terus bertumbuh di tengah arus zaman yang tak pernah berhenti berubah. Setidaknya ada tiga kemampuan mendasar yang harus dibangun oleh setiap kader agar dapat mengemban amanah dengan paripurna.
Kemampuan Menghadapi Tantangan
Tantangan adalah keniscayaan dalam setiap perjuangan. Tidak ada jalan dakwah yang lurus tanpa rintangan, dan tidak ada kader yang matang tanpa melewati ujian. Kemampuan menghadapi tantangan bukan berarti bebas dari rasa takut atau ragu, melainkan keteguhan untuk tetap melangkah meskipun medan terasa berat.
Kader yang memiliki kemampuan ini tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Ia menjadikan setiap rintangan sebagai batu loncatan, bukan batu sandungan. Mentalitas ini lahir dari keimanan yang kokoh dan pemahaman bahwa perjuangan sejati selalu menuntut pengorbanan.
Kemampuan Memanfaatkan Kesempatan Kesempatan hadir bagai angin, ia datang tanpa diundang dan pergi tanpa berpamit. Kader yang cerdas adalah ia yang peka terhadap setiap peluang yang terbuka: peluang untuk berdakwah, untuk belajar, untuk berkolaborasi, dan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada umat.
Memanfaatkan kesempatan membutuhkan kesiapan yang terus diasah. Kader tidak boleh menunggu kondisi sempurna untuk bertindak. Ia harus hadir dengan kapasitas terbaik di setiap momen, sehingga ketika pintu peluang terbuka, ia sudah siap melangkah masuk dengan langkah yang terencana dan penuh keyakinan.
Kemampuan Menyikapi Perubahan Zaman terus bergerak. Teknologi, sosial, budaya, dan politik, semuanya bertransformasi dengan kecepatan yang semakin tinggi. Kader yang tidak mampu menyikapi perubahan akan tertinggal, bahkan menjadi tidak relevan di tengah masyarakat yang terus berkembang.
Menyikapi perubahan bukan berarti terbawa arus tanpa nilai dan prinsip. Justru sebaliknya: kader yang baik mampu membaca perubahan dengan jernih, memilah mana yang harus diadaptasi dan mana yang harus dipertahankan. Prinsip-prinsip Islam yang agung tetap menjadi kompas, sementara cara dan metode dakwah terus diperbarui sesuai tuntutan zaman.
Kader sejati adalah mereka yang tidak gentar menghadapi tantangan, tidak lalai terhadap kesempatan, dan tidak buta terhadap perubahan. Semua itu dijalani dengan akar aqidah yang kuat dan akhlak yang mulia.
Ketiga kemampuan ini bukanlah bakat bawaan, melainkan kompetensi yang dapat dan harus diasah secara terus-menerus. Proses pengkaderan di dalam organisasi Hidayatullah dan pada setiap lembaga dakwah yang serius, semestinya diarahkan untuk membentuk individu-individu yang memiliki ketiga pilar ini sekaligus.
Kader yang hanya kuat menghadapi tantangan namun tidak peka terhadap kesempatan akan terkesan keras tanpa strategi. Sebaliknya, kader yang piawai memanfaatkan peluang namun tidak siap menghadapi tantangan akan rapuh ketika badai datang. Dan tanpa kemampuan menyikapi perubahan, baik keteguhan maupun kepiawaian itu pun bisa menjadi basi di hadapan realitas yang terus bergerak.
Maka, menjadi kader sejati adalah sebuah perjalanan panjang yang menuntut kedisiplinan, kerendahan hati untuk terus belajar, dan keberanian untuk terus bertumbuh. Itulah amanah yang diemban, dan itulah warisan yang kelak diteruskan kepada generasi dakwah berikutnya.
Allahu a’lam bish-shawab
*) K.H. Naspi Arsyad, Lc / penulis adalah Ketua Umum DPP Hidayatullah
TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Jarak ribuan kilometer antara pusat ibu kota dan Mimika tidak menyurutkan semangat para santri Madrasah Aliyah (MA) Kampus Utama Hidayatullah Timika untuk memperluas wawasan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Melalui ruang digital, para santri menggelar Hidayatullah Student Forum (HISUF) 2026 pada Rabu-Kamis, 20-21 Mei 2026 bertepatan dengan 3 Dzulhijjah 1447 H. Forum yang berlangsung secara hibrida (hybrid) tersebut menjadi ruang pembinaan sekaligus akselerasi potensi generasi muda Papua dalam membangun peradaban masa depan.
Meskipun berlangsung melalui layar virtual, suasana aula pertemuan di Timika tetap terasa hidup. Antusiasme ratusan santri putra dan putri tampak begitu kuat saat mereka menyimak pemaparan materi secara tertib, lalu bergantian menyampaikan gagasan kritis dan pertanyaan kepada para narasumber di pusat.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, Ustadz Imam Nawawi. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa HISUF bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wadah percepatan pengembangan potensi kader muda.
“Forum ini adalah ruang percepatan potensi bagi para santri agar mereka siap menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat,” ujarnya.
Ketua DPD Hidayatullah Mimika, Ustadz Indra Rizki, turut memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, HISUF menjadi sarana penting untuk memperkuat wawasan kelembagaan sekaligus membangun kesiapan kader masa depan.
“Alhamdulillah, kami mengapresiasi kegigihan para santri dan pengurus lapangan yang berhasil menyukseskan acara ini,” tuturnya.
Melalui diskusi yang berlangsung mendalam, para santri memahami bahwa Hidayatullah bukan hanya lembaga pendidikan formal yang berorientasi pada capaian akademik semata, tetapi juga gerakan peradaban (harakah tamaddun) yang berkomitmen menghadirkan kemajuan masyarakat serta mendukung pembangunan umat, bangsa, dan negara.
Salah seorang peserta forum mengungkapkan bahwa pembinaan di Hidayatullah memberikan pengalaman berbeda dibanding sekolah pada umumnya, terutama dalam penguatan nilai keislaman dan pembiasaan ibadah.
“Hidayatullah memiliki keunggulan dibanding sekolah luar karena pembinaan ilmu agama yang menjiwai ilmu umum dilakukan lebih mendalam. Kami juga merasakan adanya pembiasaan ibadah yang kuat, seperti pelaksanaan shalat lail dan pembinaan ruhiyah lainnya. Ini menjadi bekal saya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat ke depannya,” ungkapnya.
Keberhasilan pelaksanaan HISUF 2026 yang berlangsung tertib dan lancar dinilai mencerminkan kematangan berpikir generasi muda pesantren. Dari ufuk timur Indonesia, para santri menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan lagi penghalang untuk tumbuh menjadi generasi pembangun peradaban masa depan. */Jaelani
KUTAI KARTANEGARA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur melakukan safari dakwah untuk penguatan jaringan tingkat cabang dan ranting melalui rangkaian kunjungan ke kawasan Aglomerasi Samarinda Raya yang menghubungkan Kota Samarinda dengan wilayah penyangga di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Salah satu titik kunjungan berlangsung di Dusun Kampung Masjid, Desa Santan Tengah, Kecamatan Marangkayu, pada Rabu, 4 Dzulhijjah 1447 (21/5/2026). Dalam kegiatan itu, Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur, Abu A’la Al Maududi, menyampaikan pentingnya memperluas jangkauan dakwah dan pendidikan umat di kawasan aglomerasi yang terus berkembang secara sosial dan ekonomi.
Menurutnya, kawasan penyangga perkotaan membutuhkan penguatan pembinaan masyarakat agar pertumbuhan wilayah tetap berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia dan pendidikan keumatan.
“Hidayatullah tidak saja hadir di kota, tetapi juga mesti hadir sampai ke tingkat kecamatan, cabang, hingga kelurahan dan desa melalui ranting-ranting dakwah,” ujar Abu A’la Al Maududi.
Ia menegaskan bahwa jaringan dakwah yang menjangkau desa-desa akan memperkuat khidmat Hidayatullah dalam bidang pendidikan, pembinaan masyarakat, dan pelayanan umat. Menurutnya, pengembangan kawasan aglomerasi tidak cukup hanya ditopang pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan penguatan nilai keislaman, pendidikan keluarga, dan pembinaan generasi.
Al Maududi menekankan bahwa dakwah harus hadir sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Ia menyebut penguatan cabang dan ranting menjadi instrumen penting untuk menjaga kesinambungan pendidikan umat hingga lapisan terbawah masyarakat.
“Ketika jaringan dakwah hadir sampai desa, maka pembinaan umat, pendidikan anak, dan penguatan masyarakat akan lebih mudah dijalankan secara berkelanjutan,” katanya.
Dia menambahkan seraya menegaskan pentingnya dakwah sebagai proses membangun masyarakat melalui pendidikan dan pembinaan berkelanjutan. “Perubahan masyarakat tidak lahir hanya dari kekuatan politik, tetapi dari proses pendidikan dan pembinaan manusia secara terus-menerus,” ujarnya.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Bontang Syaifuddin Ansari, Ketua Dewan Pengurus Ranting Hidayatullah Bontang Selatan Syafruddin, serta Marzuki Mustafa dan Rozikin dari Kampus Hidayatullah Bontang. Dalam safari dakwah ini, Abu A’la Al Maududi juga didampingi jajaran DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, yakni Carles Yusuf dan Muhammad Farid.
Rangkaian safari dakwah DPW Hidayatullah Kalimantan Timur selanjutnya dijadwalkan berlanjut ke wilayah Bontang dan Kutai Timur sebagai bagian dari penguatan jaringan pelayanan umat di kawasan Kalimantan Timur.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menerima kunjungan silaturahmi dari Pelajar Islam Indonesia di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa (19/5/2026) bertepatan dengan 3 Dzulhijjah 1447 H. Pertemuan tersebut menjadi momentum mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membuka peluang sinergi dalam gerakan dakwah dan pengembangan karakter generasi muda Indonesia.
Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi, Dudung Amadung Abdullah menyambut langsung rombongan PB PII yang dipimpin Ketua Umum PB PII, Kevin Prayoga. Turut mendampingi dalam pertemuan tersebut Wasekjend DPP Hidayatullah, Muhammad Isnaini dan Muhammad Chofadz, Ketua Departemen PPO.
Dalam sambutannya, Dudung Amadung Abdullah atau yang akrab disapa Abah Dudung menyampaikan bahwa perjalanan Hidayatullah tidak lepas dari peran dan semangat generasi muda yang menjadi pelopor lahirnya gerakan dakwah dan pendidikan tersebut.
“Hidayatullah yang kawan-kawan saksikan hari ini adalah buah pikiran dari anak-anak muda. Mereka berpikir keras dan bekerja keras demi melahirkan sebuah wadah pendidikan umat yang berfokus pada gerakan dakwah dan tarbiyah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semangat kepeloporan generasi muda itu terus dilanjutkan melalui berbagai program kaderisasi dan penempaan kepemimpinan yang disiapkan Hidayatullah pada periode saat ini. Menurutnya, generasi muda merupakan investasi masa depan bangsa yang harus dipersiapkan secara serius dan berkelanjutan.
“Pemuda adalah investasi masa depan, sehingga harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Organisasi pendukung seperti Pemuda Hidayatullah dan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah akan menjadi leading sector dalam mewadahi para generasi muda bangsa untuk menjadi unggul dan berpengaruh di masa yang akan datang,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PB PII, Kevin Prayoga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan jajaran DPP Hidayatullah kepada kepengurusan PB PII periode 2026–2028 yang baru saja dilantik.
“Kami sangat bahagia dengan sambutan hangat dari para senior di Hidayatullah yang sudah berkenan menerima kunjungan kami,” ungkap Kevin.
Ia menambahkan, silaturahmi tersebut menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih erat sekaligus menjajaki peluang kolaborasi dalam gerakan dakwah dan penguatan karakter pemuda Indonesia yang moderat dan berakhlak.
“Kami berharap PB PII dan Hidayatullah dapat menjalin sinergi, khususnya dalam pengiriman da’i muda ke pelosok negeri, terutama di wilayah 3T, yaitu tertinggal, terdepan, dan terluar,” katanya.
Dalam agenda silaturahmi tersebut turut hadir jajaran Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah serta Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah.