Beranda blog Halaman 170

Tim Pendidikan Haluan Malaysia Bersilaturrahim ke Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tim Pendidikan Haluan Malaysia melakukan kunjungan resmi ke kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Pusat, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu, 12 Shafar 1446 (17/8/2024).

Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya mempererat tali silaturrahim antara kedua organisasi yang sama-sama bergerak dalam gerakan tarbiyah.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, para tokoh dari kedua belah pihak berbagi pandangan dan strategi untuk memperkuat sinergi dalam pendidikan dan dakwah di kawasan Asia Tenggara.

Naib Presiden Pendidikan Haluan, Prof. Ismail Ahmad, membuka sambutannya dengan nada penuh syukur. Beliau menyampaikan bahwa tujuan utama kunjungan ini adalah untuk mempererat silaturrahim dan menjajaki potensi sinergi antara Haluan dan Hidayatullah.

Kedua organisasi ini memiliki visi yang sama dalam gerakan tarbiyah, sebuah gerakan yang fokus pada pendidikan dan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai Islam.

Prof. Ismail Ahmad melanjutkan dengan memperkenalkan pencapaian Haluan di Malaysia. Beliau menyebutkan, Haluan saat ini telah hadir di seluruh negeri di Malaysia dengan memiliki 17 sekolah yang telah melahirkan lebih dari 30.000 alumni.

“Haluan memiliki komitmen dalam membina generasi muda yang berkualitas dan berakhlak mulia,” katanya.

Di akhir sambutannya, Prof. Ismail Ahmad mengutip ayat Al-Qur’an dari Surah An-Nisa ayat 9, yang berbunyi:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Ayat ini menjadi pengingat bagi kedua organisasi akan pentingnya pembinaan generasi muda yang kuat dan berakhlak, serta menjaga amanah dalam mendidik anak-anak bangsa.

Sesi kedua dari pertemuan ini diisi dengan perkenalan dari pihak Hidayatullah yang diwakili oleh Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi, Asih Subagyo.

Asih menjelaskan tentang jaringan Hidayatullah yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara lainnya. Hidayatullah, dengan gerakan tarbiyah dan dakwahnya, terang dia, telah menjadi salah satu organisasi yang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Asih Subagyo menekankan pentingnya tarbiyah dan dakwah sebagai inti dari gerakan Hidayatullah. Beliau menjelaskan bahwa tarbiyah yang dilakukan oleh Hidayatullah bukan hanya sekadar pendidikan formal, tetapi juga mencakup pembinaan karakter dan akhlak.

“Dalam gerakan mainstreamnya di bidang dakwah dan tarbiyah, Hidayatullah berusaha menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dengan tetap menjaga kekhasan manhaj dan jati diri organisasi,” ujarnya.

Silaturrahim dan dialog antara Tim Pendidikan Haluan Malaysia dan DPP Hidayatullah menjadi ajang pertukaran pandangan dan ide-ide baru. Diskusi ini tidak hanya berfokus pada pencapaian masing-masing organisasi, tetapi juga mencari peluang untuk berkolaborasi lebih lanjut.

Dengan latar belakang yang sama dalam gerakan tarbiyah, kedua organisasi ini optimis dapat bekerja sama dalam berbagai proyek pendidikan dan dakwah di masa depan.

Prof. Ismail Ahmad sendiri merupakan figur sentral dalam gerakan pendidikan Haluan di Malaysia. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas, beliau telah memimpin banyak inisiatif pendidikan yang berfokus pada pembinaan karakter dan spiritualitas generasi muda. Di bawah kepemimpinannya, Haluan terus berkembang dan menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi di dalam dan luar negeri.

Dialog persahabatan antara Haluan dan Hidayatullah ini juga momen untuk saling mengenal dan memahami lebih dalam. Kedua belah pihak menyadari bahwa sebagai negara serumpun dengan budaya dan nilai-nilai yang hampir sama, mereka memiliki potensi besar untuk saling mendukung dalam berbagai bidang, terutama pendidikan dan dakwah.

Pertemuan antara kedua lembaga bersepakat untuk terus membangun kerjasama dan berkomitmen dalam memajukan dunia tarbiyah dan dakwah. Pertemuan ini juga menjadi langkah awal untuk merajut lebih banyak kerjasama di masa depan.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh beberapa anggota Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, termasuk Wakil Sekretaris Jenderal I Dr. Abdul Ghofar Hadi dan Wakil Sekretaris Jenderal II Iwan Ruswanda. Serta hadir juga Direktur Hidayatullah Institute (HI) Muzakkir Usman, Ph.D, dan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy. MIRK. (ybh/hidayatullah.or.id)

Sinergi DPW DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten Gelar Jambore Santri Quran di Pulau Seribu

0

KEPSER (Hidayatullah.or.id) – Jambore Santri Quran atau Jasqu 2024 digelar di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta, yang resmi dibuka pada Kamis, 10 Shafar 1446 (15/8/2024).

Kegiatan ini diprakarsai tiga Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah, yaitu Daerah Khusus Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) mendukung seluruh rangkaian yang akan digelar selama 3 hari itu.

Upacara pembuka dipandu oleh SAR Hidayatullah. Diiringi dengan lagu Indonesia Raya, dan doa sebagai tanda mulainya.

Dalam sambutan, Ahmad Maghfur selaku pembina Jasqu sekaligus ketua DPW Hidayatullah Banten mengatakan momentum seperti ini luar biasa. Apalagi Agustus merupakan bulan kemerdekaan bagi Indonesia.

“Ingat puncak acara ini pada 17 Agustus. Insyaallah ada pengibaran bendera bersama santri penghafal Al-Quran. Tunggu aksinya, ” ucap Maghfur di arena Jambore Jasqu, Kamis.

Maghfur meneguhkan kegiatan Jasqu sebagai penguatan dalam segi ibadah dan mental di lapangan.

“Jadi tidak hanya santri-santri penghafal quran yang ada Al-Qur’an di dadanya, hatinya, pikirannya, yang hafalannyapun mutqin bersanad, akan tetapi yang tangguh, tidak cengeng, senantiasa semangat, kreatif, dan bergembira,” tambah Maghfur.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat, Hidayatullah Abu Anaya, menambahkan hari ini para santri penghafal quran benar-benar merasakan aktualisasi langsung bersentuhan dengan alam, merasakan nikmat kekayaan alam.

“Semoga dengan Jambore ini mereka tambah semangat menghafal Al-Quran. Semangat belajar Al-quran, dengan ceria, asyik dan menyenangkan,” ucap Ustadz Dayat, sapaan pria asal Bangka Belitung ini.

Diketahui, penggembira Jasqu kurang lebih 500 santri yang datang dari pesantren-pesantren di penjuru wilayah dan daerah.

Secara simbolis, Laznas BMH di lokasi juga memberi apresiasi kegiatan Jasqu. “Alhamdulillah BMH hadir di tengah kegiatan Jasqu, mulai dari menyediakan konsumsi, hadiah lomba seperti tahfidz, pidato, sampai outbond yang digelar selama 3 hari dua malam,” ujar Dhiyauddin Sugiono, perwakilan BMH.

Salah satu santri penghafal quran menyebut dirinya sangat antusias menyambut kegiatan Jasqu. “Alhamdulillah ini pengalaman yang sangat berharga, menyenangkan bisa ikut, semoga nanti jadi juara,” tutur Ahmad, santri SMP Marhamah Jakarta.

Sedangkan, Nazwa santri dari Hidayatullah Bekasi juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

“Senanglah, sekalian liburan. Ketemu teman baru, bisa saling sharing dan berbagi,” ucapnya lirih. (ybh/hidayatullah.or.id)

Merdeka untuk Siapa?

0

SETELAH 79 tahun merdeka, Indonesia seharusnya telah mencapai cita-cita luhur yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa. Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan tujuan kemerdekaan Indonesia: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Namun, dalam kenyataannya, tujuan-tujuan ini masih jauh dari tercapai. Pertanyaan yang muncul adalah: “Merdeka untuk siapa?” Apakah kemerdekaan ini benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, atau hanya oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan uang?

Realitas yang kita hadapi hari ini memperlihatkan ketimpangan yang mencolok. Disparitas kemiskinan terus membesar, pendidikan dan kesehatan yang layak sulit dijangkau oleh sebagian besar rakyat, pengangguran masih menjadi masalah serius, sementara korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan merajalela di berbagai lapisan pemerintahan. Fenomena politik transaksional menjadi budaya yang sulit dihilangkan, memperkuat kekuasaan mereka yang berkuasa dan menjauhkan tujuan kemerdekaan dari rakyat kebanyakan. Ironisnya, kemerdekaan ini justru lebih banyak dinikmati oleh segelintir elite yang mungkin nenek moyangnya tidak ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan.

Lalu, apa yang didapat oleh rakyat kebanyakan? Selain berbagai tekanan dan kesulitan yang semakin memperberat kehidupan sehari-hari, harapan akan masa depan yang lebih baik tampak semakin jauh dari jangkauan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini memerlukan refleksi mendalam, karena Islam mengajarkan keadilan, kesejahteraan, dan tanggung jawab sosial sebagai pilar utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kemerdekaan dalam Perspektif Islam: Antara Amanah dan Tanggung Jawab

Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah nikmat besar yang harus disyukuri dan dijaga. Kemerdekaan bukan sekadar kebebasan dari penjajahan fisik, tetapi juga kebebasan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Ayat ini menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dan sosial dalam kehidupan berbangsa. Kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan yang membawa umat kepada kebajikan, bukan kemerdekaan yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

Namun, apa yang kita saksikan hari ini seringkali bertentangan dengan nilai-nilai ini. Kemerdekaan yang seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, justru telah direnggut oleh mereka yang berkuasa untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Ini bertentangan dengan prinsip maslahah ammah (kesejahteraan umum) yang menjadi salah satu tujuan utama syariat Islam.

Dalam Islam, pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa setiap orang mendapatkan hak-haknya dengan adil. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin dalam Islam adalah pelayan bagi rakyatnya, bukan sebaliknya. Mereka diamanahkan untuk menegakkan keadilan, memberikan kesejahteraan, dan melindungi hak-hak rakyat. Jika kepemimpinan digunakan untuk keuntungan pribadi, maka itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan oleh Allah SWT dan rakyat.

Realitas Kemerdekaan yang Terabaikan

Tujuan kemerdekaan telah dengan jelas tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.”

Namun, realitas yang kita hadapi saat ini menunjukkan bahwa cita-cita luhur ini belum tercapai. Kemerdekaan seakan-akan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, sementara mayoritas rakyat masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan.

Disparitas Ekonomi dan Sosial

Indonesia merdeka bukan hanya untuk bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga untuk membangun sebuah bangsa yang adil dan makmur. Namun, setelah lebih dari tujuh dekade, tujuan-tujuan luhur tersebut masih tampak jauh dari kenyataan. Disparitas kemiskinan yang besar, pendidikan dan kesehatan yang tak terjangkau, pengangguran yang merajalela, serta korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa adalah kenyataan pahit yang harus kita hadapi setiap hari.

Salah satu indikator utama bahwa tujuan kemerdekaan belum tercapai adalah disparitas ekonomi yang semakin melebar. Data menunjukkan bahwa kesenjangan antara yang kaya dan miskin di Indonesia masih sangat tinggi. Segelintir orang menikmati kekayaan yang melimpah, sementara sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan. Akses terhadap pendidikan berkualitas dan layanan kesehatan yang layak juga menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki uang.

Kemerdekaan yang seharusnya membawa kesejahteraan bagi semua, justru kini hanya dinikmati oleh segelintir orang yang memiliki kuasa dan kekayaan. Ironisnya, banyak dari mereka yang menikmati hasil kemerdekaan ini adalah orang-orang yang mungkin tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh para pahlawan kita. Sementara itu, rakyat kebanyakan justru harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Dalam perspektif Islam, keadaan ini jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan sosial yang diajarkan oleh agama. Islam mengajarkan bahwa kekuasaan dan harta adalah amanah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ketidakadilan yang terjadi di negeri ini menunjukkan bahwa banyak dari para pemimpin kita telah mengkhianati amanah yang telah diberikan kepada mereka.

Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan

Masalah lain yang menjadi momok besar bagi bangsa ini adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Korupsi telah merajalela di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan hingga dunia usaha. Ironisnya, praktik ini sering kali dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindung dan pemimpin rakyat. Penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya menjadi contoh buruk yang ditunjukkan oleh para penguasa, yang seharusnya menjadi teladan moral dan etika bagi masyarakat.

Dalam perspektif Islam, korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang diemban. Islam menekankan pentingnya integritas dan tanggung jawab dalam memegang amanah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58). Setiap penyalahgunaan kekuasaan adalah bentuk ketidakadilan yang mengorbankan hak-hak rakyat.

Politik Transaksional dan Kekuasaan Oligarki

Politik transaksional dan dominasi oligarki semakin memperburuk keadaan. Kekuasaan sering kali dipertukarkan dengan uang, dan keputusan-keputusan politik diambil berdasarkan kepentingan segelintir orang, bukan atas dasar kepentingan rakyat. Transaksi politik menjadi budaya yang merusak sendi-sendi demokrasi dan menjauhkan bangsa ini dari cita-cita kemerdekaan yang hakiki.

Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keadilan. Pemimpin dalam Islam bukanlah mereka yang mengutamakan keuntungan pribadi atau kelompok, melainkan mereka yang mampu memimpin dengan adil dan bijaksana. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhari).

Lalu, Rakyat Mendapat Apa?

Jika kita merenungkan kondisi ini, muncul pertanyaan besar: “Apa yang didapat oleh rakyat kebanyakan dari kemerdekaan ini?” Selain kemiskinan, pengangguran, korupsi, ketidakadilan, dan ketidakpastian masa depan, rakyat tampaknya hanya mendapat sedikit dari kemerdekaan yang sudah diraih dengan darah dan air mata oleh para pendahulu kita.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa negara seharusnya menjadi pelindung dan pelayan rakyatnya. Negara yang merdeka sejatinya adalah negara yang mampu melindungi hak-hak rakyatnya, memberikan kesejahteraan, dan menciptakan keadilan bagi semua warganya. Prinsip-prinsip ini sangat jelas dalam ajaran Islam dan sejalan dengan tujuan kemerdekaan yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pertanyaan besar yang perlu kita renungkan adalah: Apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan makna kemerdekaan kepada seluruh rakyat Indonesia? Bagaimana kita bisa mewujudkan tujuan kemerdekaan yang sesungguhnya, sebagaimana yang telah diamanatkan oleh para pendiri bangsa?

Dalam Islam, perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan komunitas terkecil. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya memulai perubahan dari yang paling dekat dengan kita:

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Mengubah sistem yang korup dan tidak adil memerlukan upaya kolektif dari seluruh elemen bangsa. Umat Islam, dengan prinsip keadilan dan kepedulian sosial yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan ini. Melalui dakwah, pendidikan, dan aksi nyata, umat Islam dapat menjadi motor penggerak untuk mengembalikan kemerdekaan kepada rakyat.

Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali, dapat menikmati hasil dari kemerdekaan tersebut. Kita harus berkomitmen untuk terus berjuang demi mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemaslahatan bagi semua, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dan diajarkan oleh Islam.

Kesimpulan

Merdeka bukan hanya soal terbebas dari penjajahan, tetapi juga soal menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga dan diisi dengan tindakan nyata untuk mencapai tujuan bersama. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kemerdekaan ini bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dengan mengedepankan prinsip keadilan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab, kita dapat mengembalikan makna sejati kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa, sehingga seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan manfaatnya. Merdeka untuk siapa? Merdeka untuk semua, sebagaimana yang dicita-citakan dalam Pembukaan UUD 1945 dan diajarkan oleh Islam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Upacara 17 Agustusan Bersama Suku Tobelo Dalam di Hutan Halmahera

0

MALUT (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku Utara yanh didukung Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Maluku Utara mengadakan kegiatan 17 Agustusan bersama masyarakat pedalaman Halmahera. Mereka sering disebut dengan Suku Tobelo Dalam atau juga ada yang menyebut Suku Togutil Pedalaman Halmahera.

Kegiatan ini berlangsung 2 hari pada tanggal 16 dan 17 Agustus. Tanggal 16 Agustus ada lomba-lomba bersama masyarakat suku Togutil dan masyarakat lokal di Desa Woda Kec. Oba Kab Tidore Kepulauan. Dilanjutkan upacara sederhana untuk mengenalkan Suku Tobelo Dalam ini tentang NKRI.

Suku Togutil sebelumnya sudah datang ke lokasi kegiatan dengan berjalan kaki dan bermalam 3 hari lamanya sebelum hari H. Mereka menanti kegiatan pas di tanggal 17 Agustus ini.

Upacara 17 Agustus bersama suku Togutil pun berjalan lancar. Mereka sendiri yang mengerek dan mengibarkan bendera merah putih untuk naik ke atas tiang. Sementara sekitar 150 lebih masyarakat ikut jadi peserta upacara dalam kegiatan upacara ini.

Dalam hal ini yang bertindak sebagai Inspektur upacara adalah Bripka M. Hamka Sukiman (Bhabinkamtibmas Desa Woda) dan sebagai Komandan adalah Serma Habibi (Babinsa Desa Woda)

Setelah kegiatan Upacara, kegiatan dilanjut dengan lomba-lomba lagi dan setelahnya ada Bantuan Sembako untuk Masyarakat Suku Pedalaman Halmahera.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan orang Suku Tobelo Dalam/Togutil tentang NKRI dan memeriahkan HUT RI yang ke 79 th ini. Selain itu juga untuk mengakrabkan orang suku dan masyarakat lokal agar bisa sama-sama bersatu dalam bingkai NKRI.

Harapannya kami dari Laznas BMH bisa memberikan kebaikan-kebaikan di HUT RI yang ke 79 khususnya suku Togutil/Tobelo Dalam.*/Herim

Santri Hidayatullah Gorontalo Gelar Upacara Kemerdekaan HUT ke-79 RI

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Santri Pondok Pesantren Hidayatullah menggelar Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia dengan penuh khidmat di lingkungan pesantren, Molosipat, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Sabtu, 12 Shafar 1446 (17/8/2024). Kegiatan ini didukung penuh oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Dengan Ust. Baharuddin Majid sebagai pembina upacara, semangat merawat kemerdekaan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas perjuangan para pahlawan terasa begitu kuat.

“Santri harus berperan di dalam kemerdekaan ini, siapkan diri menjadi pemimpin di masanya nanti,” pesan amanat pembina upacara (17/8/24).

Upacara yang dipimpin oleh Ust. Syaiful Yusuf (Wakil SAR Hidayatullah) ini diikuti oleh ratusan santri dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga MA.

Mereka berasal dari Pesantreen Hidayatullah Al Amin, Rumah Quran Hidayatullah Al Furqon Gorontalo, dan Pesantren Tahfizh Putri Ar Rohmah Gorontalo, serta pengurus DPW, DPD, dan DPD Hidayatullah.

Semangat juang para santri ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda siap meneruskan perjuangan bangsa. Kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga dan diisi dengan karya nyata.*/Herim

Ketua Umum Tutup Pelatihan Hidayatullah Institute DPD se-Indonesia Batch #4

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pelatihan Kepemimpinan Batch #4 yang didiikuti oleh ketua-ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Indonesia ditutup pukul 20:00 WIB di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada Jum’at malam, 11 Shafar 1446 (16/8/2024).

Penutupan acara ini menjadi istimewa dengan kehadiran langsung Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, yang memberikan taujih manhaji sekaligus menutup secara resmi kegiatan yang berlangsung intens selama lima hari tersebut.

Dalam sambutannya, Ust. Dr. H. Nashirul Haq menegaskan bahwa salah satu tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan integritas, kapabilitas, dan kompetensi para pemimpin dalam mengembangkan DPD masing-masing.

“Salah satu tujuan pelatihan yang diselenggarakan Hidayatullah Institute ini adalah meningkatkan integritas, kapabilitas, kompetensi untuk mengembangkan DPD-nya masing-masing,” ujarnya, menekankan pentingnya peran pemimpin yang berintegritas dalam membawa perubahan positif di masyarakat.

Nashirul Haq menjelaskan bahwa manhaji secara global adalah manhaj rabbani yang visional, yaitu metodologi nabawi yang merujuk pada sistematika turunnya wahyu.

“Visioner ini gerakan yang bersifat jangka panjang yang bersifat sistematis dan tidak sporadis. Pemimpin harus mewariskan nilai ini,” tegasnya.

Ia menekankan setiap kader dan leader perlu merenungkan mengenai pentingnya pemahaman yang mendalam tentang metodologi Islam dalam membentuk kepemimpinan yang kokoh dan berkelanjutan seraya mengajak para peserta untuk mencontoh Allahyarham KH. Abdullah Said dalam setiap narasi yang disampaikan yang melampaui zamannya.

“Dan terbukti, apa yang beliau tinggalkan menjadi sebuah karya yang menjadi nilai untuk dijadikan inspirasi oleh generasi yang akan datang,” imbuhnya, sambil menegaskan pemimpin hendaknya mampu menciptakan legacy yang terus menginspirasi generasi selanjutnya.

Ust. Nashirul menekankan bahwa pribadi yang visioner tidak pernah futur dalam berjuang dan ketika ada salah maka segera diperbaiki karena pemimpin yang baik selalu berpegang pada prinsip dan siap melakukan koreksi diri demi mencapai tujuan yang mulia. “Karena sudah ada manhaj. Kalau melenceng, kita kembali ke koridor manhaj kita,” terangnya.

Selain itu, Ust. Nashirul juga menekankan bahwa pemimpin harus kreatif dan inovatif dalam menjadi problem solving di tempat tugasnya.

“Pemimpin seperti ini tidak akan menemukan jalan buntu karena selalu ada kreativitas,” tuturnya seraya menegaskan bahwa kepemimpinan Islam yang utuh adalah pemimpin yang memiliki kecerdasan akal, hati yang tulus, dan keberanian.

Sebagaimana analogi air yang selalu menemukan jalannya meski terhalang batu, pemimpin yang kreatif akan selalu menemukan solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Dengan landasan manhaj rabbani dan semangat perjuangan yang tak pernah pudar, Nashirul yakin bahwa Hidayatullah akan terus melahirkan pemimpin-pemimpin unggul yang siap menghadapi tantangan zaman.

Karenanya, ia mengajak peserta pelatihan ketua-ketua Dewan Pengurus Daerah Batch #4 ini untuk terus bergerak maju, mengembangkan potensi diri, dan berkontribusi nyata bagi kemaslahatan umat, yang harapan dan semangatnya terus bersinar menerangi jalan kebaikan.

Laporan Pelaksanaan

Direktur Hidayatullah Institute, Muzakkir Usman Asyari, dalam sambutannya melaporkan bahwa pelatihan ini berlangsung selama 5 hari dari jam 07.00-17.30 atau total 40 jam.

Peserta ketua ketua DPD ini berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta – Jawa Tengah bagian selatan (DIY – Jatengbagsel), Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur, Papua, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Riau.

Adapun materi pelatihan yang disajikan mulau dari hari pertama hingga akhir baik indoor maupun outdoor meliputi tema Kepemimpinan Islam, Desain, Perencanaan Strategis, dan Transformasi Organisasi, Mapping Potensi Wilayah dan Proposal Proyek, Benchmarking dengan tema Komunikasi & Networking secara outing di Rumah Qur’an Violet Indonesia & Jakarta Creative Hub, dan Manajemen Tim Kerja.

“Rangkaian materi ini dirancang secara komprehensif untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan tugas kepemimpinan mereka di daerah,” imbuhnya.

Adapun profil pendidikan peserta adalah sebagai berikut. Ada sebanyak 50% peserta yang berpendidikan S1, sebanyak 25% yang berpendidikan S2, 5% yang berpendidikan S3, dan 20% yang belum mencapai S1.

Sementara itu, 88% peserta sudah pernah mengikuti Marhalah Wustho, hal ini menunjukkan tingkat pengalaman yang cukup dalam bidang kepemimpinan. Sementara itu, hasil Post Test menunjukkan nilai rata-rata 53 dengan nilai tertinggi 70.

Muzakkir menyampaikan penutupan pelatihan ini bukanlah akhir dari perjalanan tetapi menjadi awal dari langkah baru yang lebih besar, dimana ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama pelatihan akan menjadi bekal berharga bagi para pemimpin dalam menjalankan amanah mereka di daerah masing-masing serta mengukuhkan komitmen untuk menjadi pribadi yang visioner, progresif, kreatif, dan inovatif.

Acara penutupan ini dihadiri oleh unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah lainnya yaitu Wakil Sekretaris Jenderal I Dr. Abdul Ghofar Hadi dan Wakil Sekretaris Jenderal II Iwan Ruswanda. Hadir juga Direktur Program HI Ade Syariful Allam.

Selain itu, Pengurus Pertubuhan Himpunan Lepasan Institusi Pendidikan (HALUAN) Malaysia juga turut menyaksikan acara penutupan ini.

Selain menjadi penanda jalinan kerjasama dan persaudaraan yang erat antara Hidayatullah dengan organisasi Islam di negara tetangga, kehadiran Haluan di Jakarta ini dalam rangka silaturrahim dan studi banding dengan sejumlah institusi pendidikan dan lembaga. Rombongan akan menginap beberapa hari di Wisma Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kolaborasi sebagai Mata Uang Baru dalam Perspektif Islam: Ta’awun sebagai Kunci Ketangguhan Organisasi di Era Kontemporer

0

DALAM era modern yang dipenuhi dengan perubahan cepat dan kompleksitas yang meningkat, konsep kolaborasi telah berkembang menjadi elemen yang sangat penting bagi keberhasilan organisasi. Kolaborasi tidak lagi dianggap sebagai opsi sekunder, melainkan sebagai “mata uang baru” dalam menciptakan nilai, inovasi, dan keberlanjutan.

Konsep ini telah diulas dalam berbagai buku dan artikel, seperti Collaboration Is the New Currency karya Robert P. Miles dan The Collaboration Economy oleh Eric Lowitt, yang menekankan bahwa kekuatan organisasi modern tidak lagi hanya didasarkan pada kompetisi, tetapi pada kolaborasi yang strategis.

Namun, konsep kolaborasi ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing dalam ajaran Islam. Sebaliknya, kolaborasi atau ta’awun—yang berarti saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan—adalah prinsip dasar yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam surat Al-Ma’idah ayat 2, Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Ayat ini menekankan pentingnya ta’awun sebagai cara untuk mencapai tujuan yang lebih besar, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun dalam konteks organisasi.

Kolaborasi: Dari Kompetisi ke Kooperasi

Dalam perspektif modern, banyak penulis dan pemikir bisnis serta organisasi berpendapat bahwa pendekatan kompetitif tradisional telah mengalami pergeseran menuju kolaborasi. Misalnya, dalam buku “Collaboration: How Leaders Avoid the Traps, Build Common Ground, and Reap Big Results”, Hansen menyoroti bagaimana kolaborasi lintas tim dan organisasi dapat menciptakan nilai yang lebih besar daripada kompetisi internal.

Kompetisi yang tidak sehat sering kali menghasilkan konflik, pemborosan sumber daya, dan terhambatnya inovasi. Sebaliknya, kolaborasi memungkinkan organisasi untuk menggabungkan sumber daya, ide, dan keahlian, sehingga menghasilkan solusi yang lebih kreatif dan efisien.

Dalam Islam, konsep ini telah lama tertanam melalui ta’awun. Di mana, ta’awun menekankan pentingnya bekerja sama demi kebaikan bersama, bukan saling menjatuhkan atau mengunggulkan diri sendiri. Pendekatan ini mencerminkan prinsip ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) di mana setiap Muslim diajak untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dengan demikian, kolaborasi bukan hanya tentang menghindari kompetisi yang tidak sehat, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan di mana semua pihak dapat berkembang bersama-sama.

Kolaborasi untuk Ketangguhan dan Relevansi Organisasi

Kolaborasi atau ta’awun bukan hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi bagi ketangguhan dan relevansi organisasi sepanjang zaman. Organisasi yang mengedepankan kolaborasi cenderung lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Ini karena kolaborasi memungkinkan adanya pertukaran ide, inovasi, dan solusi kreatif yang muncul dari berbagai perspektif.

Selain itu, dalam konteks Islam, ta’awun memperkuat ikatan sosial dan spiritual di dalam organisasi. Ketika anggota organisasi bekerja sama dengan semangat ukhuwah (persaudaraan), mereka lebih mungkin untuk merasa terhubung secara emosional dan moral terhadap misi organisasi. Ini meningkatkan loyalitas, komitmen, dan semangat kolektif, yang semuanya berkontribusi pada stabilitas dan kesuksesan jangka panjang.

Dalam buku The Fifth Discipline oleh Peter Senge, penulis menekankan pentingnya pembelajaran organisasi dan bagaimana kolaborasi mendorong organisasi untuk terus belajar dan berkembang. Senge menyebut konsep ini sebagai “learning organization”, di mana kolaborasi menjadi kunci untuk menciptakan budaya pembelajaran berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, pembelajaran dan pengembangan adalah bagian dari ihtisab—upaya terus-menerus untuk memperbaiki diri dan masyarakat dalam kerangka keimanan.

Kolaborasi dan Ta’awan dalam Konteks Organisasi

Pertama, Meningkatkan Ketahanan Organisasi

Kolaborasi yang diterapkan dengan prinsip ta’awun dapat meningkatkan ketahanan organisasi. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, organisasi yang mengadopsi prinsip kolaborasi akan lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan dan tantangan. Misalnya, aliansi strategis dan kemitraan yang berbasis pada saling percaya dan tujuan bersama dapat memperkuat posisi organisasi dalam pasar yang kompetitif.

Kedua, Membuka Peluang Inovasi

Kolaborasi memungkinkan berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan dan sumber daya, yang dapat memicu inovasi. Dengan bekerja sama, organisasi dapat memanfaatkan keahlian yang berbeda yang dimiliki oleh anggotanya dan menciptakan solusi yang lebih kreatif dan efektif. Konsep ta’awun dalam Islam mengajarkan bahwa kolaborasi yang baik akan menghasilkan kebaikan yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat, selaras dengan prinsip inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Ketiga, Menciptakan Keadilan dan Kesejahteraan

Kolaborasi yang berlandaskan pada prinsip ta’awun mendukung terciptanya keadilan dan kesejahteraan. Dalam konteks Organisasi, hal ini berarti membangun hubungan yang adil dan saling mendukun dan menguntungkan antara berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan ini dapat mengurangi ketimpangan dan meningkatkan kepercayaan, yang pada akhirnya memperkuat reputasi dan keberlanjutan organisasi.

Keempat, Memperkuat Hubungan Sosial dan Komunitas

Kolaborasi yang berbasis pada ta’awun juga memperkuat hubungan sosial dan komunitas. Dalam masyarakat Muslim, prinsip ta’awun mendorong individu dan organisasi untuk berkontribusi pada kebaikan bersama. Hal ini dapat diterjemahkan ke dalam praktik bisnis dengan membangun jaringan yang saling mendukung dan berkontribusi pada kesejahteraan bersama.

Perspektif Islam tentang Kolaborasi di Masa Depan

Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kolaborasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Perspektif Islam tentang ta’awun memberikan landasan yang kuat untuk menjadikan kolaborasi sebagai fondasi utama dalam setiap upaya pembangunan dan pertumbuhan, baik dalam bisnis, pendidikan, maupun sosial. Dengan mempraktikkan ta’awun, kita tidak hanya membangun hubungan yang lebih harmonis dan saling menguntungkan, tetapi juga mewujudkan prinsip-prinsip keadilan, kesejahteraan bersama, dan keberlanjutan, yang merupakan inti dari ajaran Islam.

Seperti yang dikatakan oleh John C. Maxwell dalam bukunya “The 17 Indisputable Laws of Teamwork”, “One is too small a number to achieve greatness.”. Hal ini semakin memperjelas bahwa kolaborasi itu menjadi sebuah keniscayaan. Dalam konteks ini, kolaborasi—atau ta’awun dalam istilah Islam—menjadi kunci untuk mencapai tujuan-tujuan besar, baik secara individu maupun organisasi. Kolaborasi memungkinkan kita untuk mengatasi keterbatasan pribadi dan menciptakan dampak yang lebih besar melalui kerja sama yang terorganisir.

Penutup

Kolaborasi sebagai mata uang baru, sebagaimana diuraikan dalam karya-karya kontemporer seperti Collaboration Is the New Currency oleh Robert P. Miles dan lainnya, memiliki resonansi yang mendalam dengan prinsip Islam tentang ta’awan. Dalam era digital yang semakin kompleks, prinsip kolaborasi yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam dapat memberikan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan menciptakan organisasi yang tangguh serta relevan sepanjang zaman. Dengan menerapkan prinsip ta’awan dalam kolaborasi, organisasi tidak hanya dapat mencapai tujuan bisnis mereka tetapi juga berkontribusi pada kebaikan bersama, sesuai dengan ajaran Islam.

Kolaborasi atau ta’awun tidak hanya relevan, tetapi juga esensial bagi organisasi Islam di era modern. Ini adalah cara untuk menyatukan nilai-nilai Islam dengan kebutuhan kontemporer, memastikan bahwa organisasi tetap tangguh dan relevan di tengah tantangan zaman. Dalam pandangan Islam, keberhasilan sejati adalah ketika kita mampu mencapai keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, antara tujuan individu dan kolektif.

Dengan mengedepankan kolaborasi, organisasi tidak hanya menciptakan nilai lebih bagi dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada kebaikan yang lebih besar bagi umat dan masyarakat secara keseluruhan. Sebagaimana diajarkan dalam Islam, ta’awun adalah jalan menuju kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan bersama—nilai-nilai yang menjadi mata uang sejati bagi kesuksesan organisasi di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

[KHUTBAH JUM’AT] Tiga Cara Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Republik Indonesia

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang sangat banyak. Allah memberikan kita kesehatan, umur panjang, kesempatan waktu, dan yang paling utama adalah nikmat iman dan Islam.

Termasuk nikmat yang besar, adalah kita hidup di alam kemerdekaan negara Indonesia yang kita cintai ini. Kini, 79 tahun sudah kita merdeka dari penjajahan.

Nikmat kemerdekaan ini wajib untuk kita syukuri. Sebab dengan syukur itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan keberkahan dan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, jika kita kufur (ingkar) akan nikmat ini maka Allah akan mendatangkan azab, musibah, fitnah, dan bencana.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Lantas, bagaimana cara kita mensyukuri nikmat kemerdekaan ini?

Menurut para ulama, cara bersyukur minimal ada tiga, yaitu: Bersyukur dengan hati (Asy-Syukru bil Qalb), Bersyukur dengan lisan (Asy-Syukru bil lisan), dan Bersyukur dengan perbuatan atau amal shaleh (Asy syukru bil af’al).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pertama, As- Syukru bil Qalb (Menyadari kemerdekaan adalah nikmat dari Allah)

Kita perlu menyadari bahwa kemerdekaan ini adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ini termasuk nikmat yang besar. Para ulama, pejuang kemerdekaan, dan pendiri bangsa ini menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan ini adalah nikmat dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengakuan ini tercantum jelas dalam pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Para ulama, pejuang kemerdekaan, dan pendiri bangsa ini menyadari sepenuhnya, memang mereka berjuang bahkan mengorbankan nyawa, tetapi yang kuasa menganugerahkan kemerdekaan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka menyadari bahwa kemerdekaan adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sudah selayaknya kita untuk mensyukurinya. Sebagaimana Nabi Sulaiman memandang kekuasaan yang Allah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Ini termasuk karunia dari Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An Naml: 40)

Kedua, Asy Syukru bil lisan (bersyukur dengan lisan)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah, bagaimana bersyukur dengan lisan ini? Bersyukur dengan lisan adalah bersyukur dengan perkataan atau lisan.

Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa memuji kepada Tuhannya sepenuh hati dengan melafazkan bacaan tahmid, memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mendapatkan nikmat, beristighfar apabila melakukan kesalahan, dan lain sebagainya.

Sehingga tanda tanda seseorang itu bersyukur dengan lisan yaitu lisannya selalu bersyukur apabila mendapat nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dengan mengucap Alhamdulillahirabbil alamiin.

Lidah orang-orang yang bersyukur akan selalu dibasahi dengan dzikrullah, takbir, tahmid, tahlil yang selalu mengiringi dalam setiap hembusan nafas seseorang.

Memberikan nasihat atau taushiah serta saling mengingatkan ketika ada yang melakukan kesalahan dan kekhilafan adalah juga merupakan bagian dari cara bersyukur dengan lisan.

Ketiga, Asyukru bil Af‘al (Bersyukur dengan amal shaleh atau perbutatan baik)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah. Mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan perbuatan baik adalah perwujudan dari syukur dengan hati dan syukur dengan lisan, yaitu dengan cara meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Setiap muslim harus berupaya selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat, masyarakat akan selamat dari berbagai tipuan dunia yang menghancurkan.

Dengan keimanan dan ketakwaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan keberkahan di negeri kita. Ini merupakan janji Allah yang pasti dan menjadi keniscayaan.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Bentuk syukur dengan amal shaleh lainnya adalah mengisi kemerdekaan ini dengan amal makruf nahi mungkar. Sebagai bentuk mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, maka hendaklah setiap muslim memiliki jiwa amar ma’ruf nahi munkar.

Mari kita mengisi kemerdekaan ini untuk menciptakan sebuah kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan semaksimal mungkin menekan kemungkaran agar masyarakat damai, penuh nilai-nilai kebaikan, dan dengan begitu semakin memperindah persaudaraan.

Jangan membiarkan munculnya kemudharatan, kesiasiaan, dan kemungkaran yang menentang fitrah dan menjatuhkan derajat kemanusiaan, menzalimi orang lain, dan mendatangkan kemurkaan Allah, Sang Pemberi kemerdekaan.

Bangsa yang merdeka, haruslah menebarkan kebaikan untuk seluruh rakyatnya. Bukan sebaliknya, mengekang kebebasan masyarakat dalam melaksanakan syariat agama, seperti melarang penggunaan jilbab bagi muslimah yang sempat viral beberapa hari ini.

Bangsa yang merdeka adalah negeri yang masyarakatnya merasa aman dan merdeka menjalankan kebenaran. Bangsa yang merdeka, juga harus memiliki kekuatan untuk mencegah terjadinya kezaliman dan kemungkaran.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (QS. Al Hajj: 41)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Semoga dengan mengamalkan tiga poin mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan Rahmat dan Berkah-Nya untuk negeri kita. Bangsa Indonesia. Menjadikan negeri ini penuh kebaikan dan keberkahan, serta kita semua mendapat ampunan-Nya. Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

Dan, perlu bangsa Indonesia waspada, jika tak pandai bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini, Maka Alla Subhanahu wa Ta’ala telah memberi peringatan dalam Al Qur an surah An-Nahl ayat 112:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ

“Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram yang rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan karena apa yang selalu mereka perbuat” (An-Nahl ayat 112)

Maka marilah di akhir khutbah kedua ini kita berdoa memohon ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita meratap kepada Allah agar hidup kita diliputi keberkahan dan kebaikan dunia serta kemuliaan di akhirat.[]

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Silaturrahim dan Temu Ukhuwah Ormas Islam dengan MUI Hadapi Polemik Kebangsaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Nursyamsa Hadis bersama dengan tokoh dari berbagai elemen organisasi Islam tingkat pusat mengikuti pertemuan silaturrahim dan dialog bertajuk “Silaturahmi Forum Ukhuwah Islamiyah Ormas Islanm Tingkat Pusat” digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)” di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 10 Shafar 1446 (16/8/2024).

Nursyamsa Hadis dalam keterangannya menyampaikan, ditengah suasana kebangsaan hari hari ini akibat mencuatnya berbagai polemik, pertemuan ini menjadi wadah refleksi bersama untuk mencari solusi yang dapat memberikan dampak positif bagi persatuan umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Kehadiran dalam silaturrahim dan dialog bersama para tokoh dan ulama ini menjadi simbol komitmen Hidayatullah dalam memperkuat dakwah Islam dan pelayanan umat di tengah dinamika kebangsaan yang kompleks,” katanya.

Hidayatullah, sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia, jelas Nursyamsa, memiliki visi yang kuat dalam mengembangkan dakwah dan pelayanan umat. Karenanya, Hidayatullah terus berupaya untuk memastikan bahwa dakwah yang dilakukan selalu relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.

Soroti Polemik Penggunaan Hijab Paskibraka

Dalam acara yang dihadiri oleh tokoh-tokoh dari berbagai organisasi Islam ini, forum silaturrahim ini menekankan pentingnya semangat kebersamaan dan keinginan untuk membangun sinergi dalam menghadapi isu-isu kebangsaan.

Pada kesempatan tersebut Ketua MUI Bidang Ukhwah, KH. Cholil Nafis, menyampaikan pandangan mengenai tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, terutama terkait polemik penggunaan hijab oleh Paskibraka yang tengah ramai diperbincangkan.

Kyai Cholil dalam sambutannya menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi polemik kebangsaan, terutama terkait isu hijab Paskibraka yang menurutnya sebagai desain yang tampaknya terencana oleh BPIP.

“BPIP ini tak patuh, melanggar aturan konstitusi dan Pancasila. Buat apa bikin aturan melepas jilbab saat upacara saja. Sungguh ini aturan dan kebijakan yang tak bijak, tak adil dan tak beradab,” tegasnya.

MUI, sebagai lembaga yang menjadi tempat berkumpulnya ulama dari berbagai organisasi Islam, terang Kyai Cholil Nafis, memainkan peran penting dalam memberikan panduan bagi umat Islam termasuk dalam masalah yang sekarang menjadi polemik luas.

Acara ini juga menjadi ajang bagi berbagai ormas Islam untuk saling berbagi pandangan dan strategi dalam menghadapi isu-isu kebangsaan.

Berbagai perwakilan dari organisasi seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Al-Khairat, Serikat Islam, dan lainnya turut menyuarakan pandangan mereka terkait polemik yang dihadapi bangsa.

Di tengah diskusi, para peserta sepakat bahwa polemik kebangsaan ini harus disikapi dengan bijaksana. Kebersamaan dan persatuan umat Islam menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada. “Semoga dengan diskusi kita hari ini memberi masukan dan jawaban,” kata Kyai Cholil Nafis.

Lima Poin Tausiyah

Forum pertemuan ini menghasilkan beberapa rekomendasi berupa tausiyah yang berisikan lima poin, salah satu poinnya meminta Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk mengganti Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Wahyudi.

Tausiyah ini merupakan hasil kesepakatan antara Forum Ukhuwah Islamiyah, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) dan Ketua Umum Ormas Islam.

Pertama, bunyi kesepakatan tersebut, meminta pemerintah dalam hal ini BPIP untuk konsisten dan konsekuen terhadap pelaksanaan Peraturan BPIP RI Nomor 3 Tahun 2022 tentang Peraturan Pelaksanaan Perpres Nomor 51 Tahun 2022 tentang Program Pasukan Pengibar Bendera Pusaka secara utuh.

Kedua, meminta BPIP untuk merevisi Surat Keputusan Kepala BPIP No. 35 Tahun 2024 tentang Standar Pakaian, Atribut, dan Sikap Tampang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan mencantumkan aturan penggunaan Ciput bagi petugas Paskibraka muslimah sebagaimana amanat dalam Peraturan BPIP RI Nomor 3 Tahun 2022 sehingga dilaksanakan pada upacara pengibaran bendera Pusaka pada tanggal 17 Agustus 2024 dan pada masa-masa berikutnya, ” ungkap Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud membacakan poin tersebut.

Ketiga, ujar Kiai Marsudi, meminta Presiden untuk mengevaluasi kinerja Kepala BPIP dan menggantinya serta menyampaikannya kepada rakyat secara transparan.

“Keempat, meminta kepada BPIP agar membersihkan institusinya dari kepentingan-kepentingan politis dan penafsiran yang menyimpang dan bertentangan dengan Pancasila dan UUD NRI 1945, ” imbuh dia membacakan tausyiah tersebut seperti dilansir laman resmi MUI.

“Kelima, meminta kepada seluruh komponen bangsa khususnya pemerintah untuk konsisten dalam terjaminnya hak asasi pelaksanaan beragama dalam ruang kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana amanat konstitusi dan perundang-undangan. Sehingga antara kebangsaan dan keagamaan tidak dipertentangkan namun saling menguatkan sebagai kekuatan kebhinekaan bangsa Indonesia,” bunyi poin terakhir tausiyah tersebut.

Para peserta sepakat sinergi antar ormas Islam harus terus ditingkatkan demi menjaga persatuan umat dan keutuhan bangsa. Selain ormas Islam, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan Organisasi Kepemudaan tingkat pusat.*/Mhd Zuhri Fadhlullah

Safari Dakwah Hidayatullah Cirebon Jalin Silaturahim dan Bangun Sinergi Kebaikan

0

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Cirebon menyelenggarakan Safari Dakwah edisi spesial. Kegiatan ini dihadiri oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Hidayatullah Cirebon serta Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Cirebon, Selasa, 8 Shafar 1446 (13/8/2024).

Safari Dakwah ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Harlah ke-31 Yayasan Manarussalam Hidayatullah Cirebon.

Safari dakwah ini terasa istimewa karena kegiatan ini bukan hanya sekadar ceramah atau tausiyah biasa, tetapi juga sebagai bentuk nyata dari upaya penguatan silaturahim antara Hidayatullah Cirebon dan masyarakat setempat melalui masjid-masjid.

“Silaturahim merupakan anjuran Nabi yang sangat ditekankan dalam Islam. Melalui silaturahim, kita membangun hubungan sosial yang lebih baik, memperkuat rasa peduli, cinta, dan kasih antar sesama muslim,” kata Ketua Gerai Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah Cirebon Asep Juhana

“Sesama muslim itu bersaudara,” tambahnya menegaskan. Safari dakwah ini menjadi wujud dari nilai-nilai silaturahim tersebut. Dengan menyambangi warga dan jama’ah Masjid Nur-Rokhim, Hidayatullah Cirebon berusaha mempererat hubungan antar umat, mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Kali ini Masjid Nur-Rokhim yang terletak di Jalan Sekar Kemuning, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, dipilih sebagai lokasi safari dakwah. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Masjid ini tidak jauh dari Kampus 1 Pondok Pesantren Hidayatullah, yang merupakan pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan di wilayah tersebut.

“Safari dakwah ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak warga, serta memperkuat kehadiran Hidayatullah di tengah-tengah masyarakat. Masjid, sebagai tempat berkumpulnya umat, menjadi instrumen dari berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mempererat ukhuwah islamiyah,” jelasnya.

Kota Cirebon dikenal sebagai “Kota Wali,” sebuah julukan yang menggambarkan kentalnya nuansa keagamaan di daerah ini. Hidayatullah Cirebon, sebagai salah satu elemen dalam masyarakat, memiliki peran strategis dalam menjaga dan memperkuat identitas ini.

Menurut Juhana, dengan program safari dakwah, Hidayatullah Cirebon berusaha untuk terus bergerak bersama elemen umat Islam lainnya dalam membangun Kota Wali sebagai daerah yang sejuk, mempersatukan, dan penuh dengan nilai-nilai keagamaan yang kental.

“Program ini juga sebagai ajang untuk memperkuat sinergi kebaikan yang mampu meningkatkan kekuatan umat di wilayah Kota Cirebon,” imbuh Juhana,

Ketua Yayasan Manarussalam Hidayatullah Kota Cirebon, Ust. Qomaruddin, M.Pd, menambahkan, safari dakwah Hidayatullah Cirebon ini merupakan sebuah upaya nyata dalam mengikat silaturahim dan menguatkan sinergi kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, Hidayatullah Cirebon berusaha untuk terus menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat, serta meningkatkan kesadaran beragama di tengah umat.

“Dengan harapan besar untuk masa depan, kami berharap bahwa safari dakwah ini dapat terus berjalan dan memberikan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat Kota Cirebon,” katanya.

Dengan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, ia yakin dakwah Islamiyah dapat menjadi salah satu pilar penting dalam membangun Kota Wali yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.

Dia menyebutkan, salah satu tujuan utama dari safari dakwah ini, kata Qomaruddin, adalah meningkatkan kesadaran beragama di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Hidayatullah Cirebon berusaha untuk mengajak umat Islam agar lebih mendalami ajaran agama, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain meningkatkan kesadaran beragama, safari dakwah ini juga bertujuan untuk menjalin kebersamaan antar umat. Kebersamaan adalah fondasi dari kekuatan umat.

“Kita harapkan umat Islam di Kota Cirebon dapat semakin bersatu, saling mendukung, dan bekerja sama dalam membangun masyarakat yang lebih baik,” imbuhnya.

Deden, selaku Pengurus DKM dan Tokoh Masyarakat setempat, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Menurutnya, gerakan Hidayatullah sangat bermanfaat bagi umat, terutama dalam meningkatkan semangat kolaborasi dan sinergi kebaikan.

Melalui kehadiran Hidayatullah dalam setiap sesi safari dakwah semakin meneguhkan komitmen kuat dari Hidayatullah Cirebon untuk terus menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat. (ajd/hidayatullah.or.id)