Beranda blog Halaman 169

Hadirkan Solusi untuk Warga Gunungkidul yang Alami Kelangkaan Air Bersih

0

GUNUNGKIDUNG (Hidayatullah.or.id) — Musim kemarau tiba, dan bagi sebagian warga Gunungkidul, itu berarti perjuangan berat untuk mendapatkan air bersih. Mobil tangki air menjadi solusi sementara, namun Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Yogyakarta hadir membawa harapan baru yaitu pembangunan jaringan pipanisasi.

BMH Yogyakarta memulai pembangunan pipanisasi di Padukuhan Sambi dan Mojing, desa Botodayakan, Rongkop, Gunungkidul, ini pada Senin, 19 Agustus 2024,

Syai’in Kodir, Kepala Divisi Program BMH Yogyakarta, mengatakan proyek ini bertujuan untuk memberikan solusi permanen bagi warga yang selama ini kesulitan mengakses air bersih.

“Kami biasa melakukan droping air bersih ke daerah terdampak kekeringan, tapi itu hanya solusi jangka pendek,” ujar Syai’in Kodir, dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 17 Shafar 1446 (22/8/2024).

“Dengan membangun pipanisasi, kami berharap bisa mengatasi masalah kekeringan secara lebih berkelanjutan,” tambahnya.

Warga menyambut proyek ini dengan antusiasme luar biasa. Mereka turut serta membantu proses pemasangan pipa sepanjang 800 meter, menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi.

“Warga merasa memiliki program ini karena mereka terlibat langsung dalam pembangunannya,” lanjut Syai’in.

Musiyar, tokoh masyarakat dusun Mojing, mengungkapkan rasa syukurnya. “Sudah lama saya memimpikan adanya pipanisasi. Alhamdulillah, BMH mewujudkan harapan kami. Semoga ini menjadi berkah bagi semua,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Jaringan pipanisasi ini bukan hanya mengalirkan air, tetapi juga harapan dan semangat baru bagi warga Gunungkidul.

BMH Yogyakarta telah membuktikan bahwa kepedulian dan tindakan nyata dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat yang membutuhkan. “Dan, inilah berkah dari zakat, infak dan sedekah umat melalui BMH,” tutup Syai’in.*/Herim

Sumbangan Ratusan Buku Nyalakan Semangat Membaca di Kebumen

0

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Kebumen menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan dengan menyumbangkan 180 buku bacaan ke Perpustakaan Manarul ‘Ilmi di Sekolah Integral Hidayatullah, Selasa, 15 Shafar 1446 (20/8/2024)

Sumbangan ini bertujuan untuk memperkaya koleksi buku dan mendorong minat baca para siswa, guru, dan staf sekolah.

Buku-buku yang disumbangkan berasal dari program Sedekah Buku BMH Kebumen, di mana para donatur dengan murah hati menyumbangkan buku-buku mereka untuk tujuan mulia ini.

Koleksi buku yang beragam, mulai dari buku pelajaran, ilmu kedokteran, tafsir Al-Quran, hingga buku cerita, akan memenuhi dahaga pengetahuan para siswa dari tingkat TK hingga SMP.

Ustaz Muji Haryono, Sekretaris Yayasan Al-Iman Kebumen, menyambut baik dukungan BMH ini.

“Kami sangat mengapresiasi BMH dan para donatur atas sumbangan buku ini. Perpustakaan Manarul ‘Ilmi sangat membutuhkan tambahan koleksi buku,” ungkapnya penuh syukur.

Ustaz Oki Hamdan, Kepala Sekolah SDIT Al-Madinah Kebumen, menambahkan bahwa buku-buku tersebut akan disortir terlebih dahulu agar memudahkan para siswa dan pembaca lainnya dalam mencari buku yang sesuai dengan minat mereka.

Ismoyo, Koordinator Gerai BMH Kebumen, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya BMH untuk mendorong Gerakan Membaca.

“Dengan menyediakan berbagai jenis buku di perpustakaan, kami berharap para siswa akan semakin tertarik untuk membaca dan menghabiskan waktu mereka dengan buku,” ujarnya.

BMH Kebumen percaya bahwa membaca adalah kunci untuk membuka pintu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui sumbangan buku ini, mereka berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan generasi penerus yang cerdas, berakhlak mulia, dan cinta ilmu.*/Herim

Robohnya Sebuah Organisasi

0

ORGANISASI, baik itu dalam bentuk sekuler maupun berbasis agama, memiliki tujuan untuk mencapai visi, misi dan tujuan mulia yang telah ditetapkan. Organisasi, bagaikan sebuah bangunan megah, membutuhkan pondasi yang kuat dan sistem yang kokoh untuk berdiri tegak. Sayangnya, banyak organisasi, termasuk organisasi Islam, yang tumbang bukan karena diterpa badai besar, melainkan karena pondasi dan sistemnya yang rapuh.

Hal ini tidak hanya terjdi pada organisasi baru, sebab tidak sedikit organisasi yang yang sudah eksis puluhan bahkan ratusan tahunpun, pada akhirnya mengalami keruntuhan. Hal ini tidak hanya karena adanya pengaruh dari faktor eksternal, tetapi justru seringkali karena dipicu oleh kelemahan internal yang dibiarkan tumbuh tanpa penanganan.

Ketika kita berbicara tentang runtuhnya sebuah organisasi, kita tidak hanya berbicara tentang kegagalan dalam mencapai tujuan, tetapi juga tentang hilangnya orientasi, kepercayaan, martabat, dan harapan yang seharusnya dibawa bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya organisasi tersebut.

Dalam konteks organisasi Islam, keruntuhan seperti ini lebih dari sekadar kegagalan manajemen; ia adalah kegagalan moral dan spiritual yang meruntuhkan fondasi yang seharusnya dibangun di atas nilai-nilai Islam. Fenomena ini sering terjadi, dan tidak jarang disebabkan oleh faktor-faktor internal yang sebenarnya dapat dihindari jika pengelolaan organisasi dilakukan dengan baik.

Beberapa poin yang menyebabkan robohnya sebuah organisasi, setidaknya dapat digambarkan dalam uraian berikut.

Pertama, Ketergantungan pada Figur, Bukan Sistem

Salah satu penyebab utama runtuhnya sebuah organisasi adalah ketergantungan yang berlebihan pada figur atau tokoh tertentu. Meskipun dalam perspektif Islam kepemimpinan adalah faktor utama dalam sebuah organisasi, akan tetapi kebijakan dan keputusannya tidak mutlak, sebab dibatasi oleh sistem yang mengikatnya. Sehingga setiap kebiujakan dan kepusannya berbasis pada sistem dan mekanisme yang ada dalam organisasi itu.

Dalam banyak kasus, organisasi menjadi sangat bergantung pada satu atau beberapa individu, sehingga seolah menjadi superman. Akibatnya, ketika figur tersebut tidak lagi ada atau bisa jadi mulai menyimpang dari prinsip-prinsip yang dipegang, organisasi pun ikut goyah. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tersebut tidak memiliki sistem yang kuat dan mandiri.

Dalam Islam, pentingnya sistem yang kuat dan adil ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, seperti dalam QS. Al-Maidah [5]:8 yang mengajarkan pentingnya berlaku adil: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…”

Ketika sebuah organisasi lebih bergantung pada sistem yang adil daripada figur, maka organisasi tersebut memiliki fondasi yang lebih kuat dan tidak mudah runtuh meskipun terjadi pergantian pemimpin kapanpun juga. Hal ini juga berpulang kembali kepada sistem dan mekanisme yang ada dalam setiap organisasi Islam.

Kedua, Rapat dan Syura yang Hanya Formalitas

Syura atau musyawarah adalah prinsip dasar dalam pengambilan keputusan dalam Islam, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Asy-Syura [42]:38: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…”

Rapat dan syura seharusnya menjadi wadah untuk melahirkan keputusan kolektif yang bijaksana dibawah sebuah kepemimpinan. Namun, jika rapat dan syura hanya menjadi ajang formalitas, tanpa adanya diskusi yang mendalam dan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat, maka organisasi akan sulit berkembang.

Apalagi jika dalam Syura, tidak berusaha untuk mendengarkan berbagai pandangan dan masukan, maka keputusan yang diambil cenderung bersifat subjektif dan tidak mewakili kepentingan bersama. Rapat-rapat yang hanya menjadi ajang formalitas ini menghilangkan esensi dari syura itu sendiri, yakni mencari solusi terbaik melalui pendapat kolektif yang dilandasi keikhlasan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman : “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Hal yang lebih parah lagi, ketika pengambilan keputusan tidak lagi berdasarkan syura yang benar, tetapi lebih karena desakan atau bisikan dari orang-orang terdekat, maka organisasi tersebut akan kehilangan arah dan mudah terjebak dalam keputusan yang tidak bijaksana.

Sebab, salah satu tanda bahaya terbesar bagi sebuah organisasi adalah ketika ia lebih bergantung pada figur daripada sistem. Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan bagaimana membangun sistem yang kuat, bukan kultus individu. Beliau bersabda: “Aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa. Maka jika aku lupa, ingatkanlah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Penyalahgunaan Wewenang dan Amanah

Penyalahgunaan wewenang adalah salah satu bentuk penghianatan terhadap amanah yang diberikan. Dalam Islam, amanah adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kejujuran dan integritas. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).

Ketika amanah disalahgunakan, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka kepercayaan yang menjadi landasan utama dalam sebuah organisasi akan hancur. Penyalahgunaan wewenang ini bisa berupa pengambilan keputusan yang tidak transparan, korupsi, atau nepotisme yang merusak integritas organisasi.

Salah satu penyalahgunaan amanah yang seringkali tidak dirasakan oeleh yang melakukan adalah jika pemegang struktural dalam organisasi lebih banyak menuntut haknya, dari pada menjalankan kewajibannya. Bahkan, tidak merasa bahwa hal demikian termasuk perbuatan bersalah/khianat jika tidak menjalankan kewajiban secara sadar, akan tetapi tetap menuntut hak-haknya untuk terpenuhi. Pada sisi lain hal ini cepat atau lambat akan diketahui oleh struktur dibawahnya atau anggotanya dan akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan bagi struktur dibawahnya dan juga menurunkan kepercayaan bahkan muru’ah-nya dihadapan anggota Organisasi.

Keempat, Regulasi Tanpa Implementasi dan Pemberian Sanksi

Regulasi dan kebijakan dalam organisasi seharusnya menjadi pedoman yang jelas dalam beroperasi. Namun, ketika aturan-aturan ini hanya sebatas kata-kata di atas kertas dan tidak diterapkan secara konsisten, maka otoritas dan kredibilitas organisasi akan merosot. Membuat aturan tanpa penegakan adalah seperti membangun rumah di atas pasir.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (terhormat) di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun jika ada orang yang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukum atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Setiap organisasi memiliki aturan dan regulasi yang seharusnya menjadi panduan dalam beroperasi. Namun, ketika regulasi tersebut hanya sebatas aturan yang tertulis tanpa ada penegakan saat terjadi pelanggaran, maka organisasi akan kehilangan otoritasnya dan akan menciptakan budaya pembangkangan.

Di mana pembangkangan dari struktur bawah terhadap struktur atas akan semakin sering terjadi, dan tanpa adanya sanksi atau tindakan tegas, organisasi akan kehilangan kendali dan akhirnya runtuh. Ketidakadilan dalam penegakan aturan tidak hanya merusak sistem, tetapi juga menghancurkan rasa keadilan dan kepercayaan anggota organisasi.

Kelima, Krisis Keteladanan

Salah satu aspek penting dalam kepemimpinan adalah teladan. Pemimpin yang hanya memberikan perintah tanpa menunjukkan contoh nyata akan kehilangan otoritas moral di hadapan pengikutnya. Pemimpin yang tidak memberikan teladan adalah seperti penunjuk jalan yang tidak pernah melakukan perjalanan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)

Disisi ayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah contoh teladan terbaik, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahzab [33]:21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ketika pemimpin tidak mampu menjadi contoh yang baik, bahkan malah melanggar aturan organisasi, maka anggota organisasi akan kehilangan arahan dan motivasi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kehilangan kepercayaan dan disintegrasi dalam organisasi.

Keenam, Pembangkangan Struktural

Ketika struktur bawah membangkang terhadap struktur atas, ini adalah tanda bahwa rantai komando telah rusak. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)

Meskipun ayat ini berbicara dalam konteks yang lebih luas, prinsip ketaatan terhadap kepemimpinan yang sah juga berlaku dalam organisasi, selama kepemimpinan tersebut tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Dalam sebuah organisasi, hierarki dan rantai komando sangat penting. Namun, ketika pembangkangan terjadi dari struktur bawah terhadap struktur atas, tanpa adanya resolusi yang tepat, hal ini menjadi pertanda buruk bagi keberlangsungan organisasi. Pembangkangan ini sering kali terjadi karena ketidakpuasan terhadap kepemimpinan atau kebijakan yang dianggap tidak adil. Ketika pembangkangan dibiarkan tanpa penyelesaian, itu akan memicu keretakan lebih lanjut dalam organisasi, yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran total.

Ketujuh, Transparansi dan Akuntabilitas yang Lemah

Transparansi dan akuntabilitas adalah dua pilar penting dalam manajemen organisasi yang sehat. Tanpa transparansi, keputusan-keputusan yang diambil akan selalu dipertanyakan oleh anggota organisasi, sementara ketiadaan akuntabilitas akan memicu perilaku koruptif dan penyalahgunaan wewenang.

Islam sangat menekankan pentingnya akuntabilitas, sebagaimana Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang memegang amanat dari urusan kaum Muslimin, lalu ia tidak berusaha semampunya untuk kebaikan mereka, maka ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR. Muslim).

Jika organisasi tidak memiliki mekanisme yang jelas untuk memastikan bahwa setiap tindakan dan keputusan dipertanggungjawabkan, maka kepercayaan dari anggota dan publik akan hilang, dan ini adalah awal dari runtuhnya sebuah organisasi. Sehingga tidak adaa sepeserpun dana yang dipergunakan untuk tidak dipoertanggungjawabkan dihadapan public, sebagai impkementaasi dari transparansi dan akuntabilitas disisi manusia, dan sekaligus pertanggung jawaban dihadapan Allah ta’ala di yaumil hisab kelak.

Tantangan bagi Organisasi Islam

Untuk mencegah kehancuran organisasi Islam, kita harus kembali kepada prinsip-prinsip dasar Islam. Syura harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menjadi landasan pengambilan keputusan. Sistem dalam organisasi harus dibangun dengan kuat, di mana peran individu hanyalah bagian dari keseluruhan mekanisme. Transparansi dan akuntabilitas harus dijaga dengan ketat, dan setiap pelanggaran terhadap amanah harus ditindak dengan tegas sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku.

Selain itu, keteladanan dari pemimpin sangat penting. Pemimpin yang baik bukan hanya seorang yang cakap dalam mengelola organisasi, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi. Mereka harus menjadi contoh bagi yang lain, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan rasa takut kepada Allah ta’ala.

Organisasi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan yang membawa perubahan positif bagi umat manusia. Namun, potensi ini hanya bisa terwujud jika organisasi tersebut dibangun di atas dasar sistem yang kuat, dijalankan dengan prinsip syura yang benar, dan dipimpin oleh individu-individu yang memiliki keteladanan yang baik. Jika tidak, organisasi tersebut hanya akan menjadi bangunan yang rapuh, yang suatu hari akan roboh dan hilang dari sejarah.

Penutup

Robohnya sebuah organisasi seringkali dimulai dari kelalaian dalam hal-hal kecil yang kemudian berkembang menjadi masalah besar. Ketergantungan pada figur, rapat yang hanya formalitas, penyalahgunaan wewenang, pelanggaran tanpa konsekuensi, ketiadaan teladan, dan kurangnya transparansi serta akuntabilitas adalah tanda-tanda jelas dari sebuah organisasi yang sedang menuju kehancuran.

Sebagai umat Islam, kita harus senantiasa mengingatkan diri kita tentang pentingnya menjalankan amanah dengan baik, berpegang pada prinsip syura, dan menegakkan keadilan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam organisasi. Dengan demikian, kita dapat membangun kembali organisasi yang kuat, kokoh, dan berlandaskan pada nilai-nilai yang benar, sehingga dapat bertahan dan relevan sepanjang zaman.

Akhirnya Robohnya sebuah organisasi Islam bukan hanya tragedi bagi organisasi itu sendiri, tetapi juga bagi umat Islam secara keseluruhan. Ini adalah peringatan bagi kita semua untuk selalu menjaga integritas, sistem, dan nilai-nilai Islam dalam berorganisasi. Allah ta’ala berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan integritas dalam organisasi Islam. Hanya dengan kembali kepada prinsip-prinsip dasar Islam dan menerapkannya dengan sungguh-sungguh dalam berorganisasi, kita dapat membangun organisasi yang kokoh, bermanfaat bagi umat, dan mendapat ridha Allah SWT. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Kolaborasi Laznas BMH dan YBM BRILiaN di Ponpes Hidayatullah Putri Konawe

0

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan YBM BRILiaN kian membuktikan komitmen dalam mendukung pendidikan agama di Indonesia. Kali ini, keduanya berkolaborasi menyalurkan Al-Qur’an kepada para santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Putri, Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin, 14 Shafar 1446 (19/8/24).

Sebanyak 35 mushaf Al-Qur’an diserahkan untuk memenuhi kebutuhan para santri yang sedang menimba ilmu di pesantren tersebut. Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, Armin, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada YBM BRILiaN atas amanah yang diberikan.

“Kerja sama ini adalah wujud nyata kepedulian kami terhadap pengembangan pendidikan agama di daerah-daerah yang membutuhkan,” ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kedua lembaga dalam mendukung pendidikan agama, khususnya di wilayah-wilayah yang membutuhkan.

“Kami berharap Al-Qur’an ini dapat menjadi bekal bagi para santri dalam mendalami ilmu agama dan membentuk mereka menjadi generasi yang Qur’ani,” tambah Armin.

Ustadz Hanif, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Konawe, menyambut baik bantuan ini dengan penuh syukur.

“Al-Qur’an ini sangat berarti bagi kami, terutama bagi para santri yang sangat membutuhkan,” ungkap Hanif.

Hanif juga mendoakan agar amal baik Laznas BMH dan YBM BRILiaN mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Kolaborasi ini tidak hanya mempererat hubungan antara lembaga sosial dan pendidikan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mencerdaskan generasi muda melalui pendidikan agama.

“Kita semua berharap kerja sama Laznas BMH dan YBM BRILiaN terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tutup Armin.*/Herim

Langkah langkah Praktis Menuju Organisasi yang Kolaboratif

0

DALAM tulisan berjudul Kolaborasi sebagai Mata Uang Baru dalam Perspektif Islam: Ta’awun sebagai Kunci Ketangguhan Organisasi di Era Kontemporer, Asih Subagyo memaparkan urgensi kolaborasi bagi organisasi. Bahwa kolaborasi akan memberikan banyak manfaat, salah satunya efisiensi sumber daya.

Biasanya organisasi mengorbankan banyak sumber daya untuk kompetisi satu sama lain. Sementara dalam kolaborasi, sumber daya organisasi disalurkan untuk memperkuat satu sama lain. Sehingga organisasi-organisasi yang terlibat dalam suatu kolaborasi dapat mengharapkan benefit yang lebih besar.

Sisi menarik lainnya Asih Subagyo memaparkan landasan keislaman, semoga semakin memberikan motivasi agar organisasi-organisasi Islam meningkatkan kolaborasi yang telah terjalin. Bahwa kolaborasi bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam.

Bahkan, dalam banyak ritual, kolaborasi menjadi sesuatu yang menyatu. Semisal dalam shalat jama’ah, akan sangat sulit terlaksana jika tidak ada kolaborasi. Semuanya ingin menjadi imam, atau sebaliknya menjadi makmum.

Di sisi lain masih banyak ditemukan organisasi yang sulit berkolaborasi. Ada semacam penghalang mental untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, tulisan Asih Subagyo belum menguraikannya.

Tulisan ini diikhtiarkan untuk melengkapi apa yang belum diuraikan oleh Asih Subagyo, berisi langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan organisasi untuk memiliki karakter kolaboratif. Framework yang digunakan adalah 7 Habits of Highly Effective People dari Stephen Covey. Modifikasi dari konteks personal ke komunal sedikit diperlukan, namun bukanlah perkara rumit, relatif mudah untuk dipahami.

Sebelumnya diperlukan pengantar untuk menyegarkan kembali memori publik terhadap 7 Habits of Highly Effective People. Ini konsep lama tapi relevansinya masih sangat tinggi hingga saat ini.

Dalam perkembangannya, konsep ini menjadi 8 Habits, ditambahkan greatness (keagungan). Selain itu, sejumlah penyesuaian material dilakukan, mengikuti sasarannya. Misalkan 7 Habits for Teenager.

Hal lain yang perlu disampaikan juga adalah kerangka konsep 7 Habits. Terdapat dua bagian penting di dalamnya, yakni kepemimpinan individual dan sosial. Kemudian kedua kepemimpinan tersebut dibalut dalam semangat belajar berkelanjutan.

Kepemimpinan individual dan sosial tersebut merupakan perjenjangan. Artinya seseorang atau entitas organisasi sulit untuk memimpin komunitas sekitarnya jika belum selesai di tahap kepemimpinan pribadinya. Dalam redaksi yang biasa didengar, seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya sendiri sebelum kepada orang lain.

Dalam kepemimpinan individual ada tiga tahap: Menjadi proaktif, memulai dari akhir, dan mendahulukan yang perlu didahulukan. Dalam kepemimpinan sosial juga ada tiga tahap: Memahami sebelum dipahami, berpikir menang-menang, dan membangun kolaborasi.

Sebagaimana telah disampaikan, ada semangat belajar berkelanjutan yang membalut kedua model kepemimpinan. Mari memulai langkah-langkah praktisnya.

1. Menjadi Proaktif

Covey mendefinisikan proaktif dengan kuatnya nilai yang dimiliki. Sehingga seseorang memiliki minimal dua corak perilaku khas, gerak aktif dan respon khas. Kebalikan aktif, yakni pasif, hanya menunggu. Sementara respon khas didasarkan pada nilai yang diyakini, bukan respon sebagaimana kebanyakan orang alias sekedar ikut-ikutan.

Dalam konteks organisasi, proaktif diwujudkan dengan kepemilikan nilai-nilai yang kuat. Sang pendiri atau pemimpin merumuskan seperangkat nilai, lalu mengajak staf-stafnya untuk mewujudkannya dalam aktivitas berorganisasi. Tidak sekedar mengajak, sang pemimpin juga memberikan teladan. Pelayanan juga diberikannya kepada para staf agar semakin memahami dan menginternalisasi nilai-nilai organisasi.

2. Memulai dari Akhir

Kemana arah yang hendak dituju? Inilah sebuah pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh seseorang yang ingin menjadi efektif. Sehingga hal-hal derivatif bisa dirumuskan semisal langkah dan alat apa yang digunakan.

Dalam konteks organisasi, seluruh personalnya perlu merumuskan bersama tujuan organisasi. Bentuknya bermacam-macam. Ada visi, misi, tujuan, sasaran, dan rencana jangka panjang. Selanjutnya kesemua itu dirumuskan dalam rencana-rencana jangka pendek. Keberhasilan merumuskan perencanaan-perencanaan diharapkan memperkuat soliditas organisasi. Sehingga gerakannya terarah. Target yang ingin dicapai semoga lebih mudah dicapai.

Problemnya kerja perencanaan kadang disepelekan, diabaikan, dan dianggap formalitas. Sehingga dampaknya tidak terasa. Organisasi bergerak ke arah yang tidak jelas. Para staf akhirnya tidak memiliki semangat yang cukup untuk mengantarkan organisasi menuju target.

3. Mendahulukan yang Perlu Didahulukan

Covey membagi empat jenis aktivitas organisasi: Penting dan mendesak, tidak penting dan mendesak, penting dan tidak mendesak, tidak penting dan tidak mendesak.

Menurut Covey, seseorang yang efektif seharusnya fokus pada aktivitas penting dan tidak mendesak. Karena aktivitas ini bersifat membangun dan antisipatif. Bukan berarti aktivitas lainnya tidak perlu diberi porsi tapi bukan porsi energi terbesar. Semisal aktivitas penting dan mendesak, terlalu banyak memberikan porsi enegi ke aktivitas tipe ini membuat seseorang akan kelelahan. Karena ia tidak sempat membangun dan mengantisipasi.

Salah satu aktivitas penting dan tidak mendesak adalah membangun hubungan-hubungan produktif dengan berbagai pihak. Sehingga hasil dari hubungan-hubungan tersebut lebih mudah dihasilkan. Permisalan yang digunakan Covey, “Anda tidak bisa menghasilkan terlur dengan memotong bebek, tapi anda harus memeliharanya dengan baik.”

Dalam konteks organisasi, hendaklah dilakukan pembagian tugas. Ada personal yang bertugas di bagian strategis, ada di taktis, dan ada pula di teknis. Jika semua personal terjun pada hal-hal teknis, pembangunan organisasi bisa berhenti, terutama pada ketahanan serta pengembangan mindset. Hal ini berbahaya. Karena organisasi akan berubah menjadi mesin, terus-menerus beraktivitas berulang. Tak beda dengan robot, tak ada kehidupan mental dan ruhani di dalamnya. Akhirnya organisasi dan personalnya lemah.

Berbeda dengan organisasi yang memiliki area kerja terstruktur. Dinamika bisa terus terjadi. Kehidupan mental ruhani dapat dirasakan. Organisasi dan personalnya menjadi kuat, interaksi dengan organisasi lain menjadi sangat mungkin.

4. Berpikir Menang-menang

Saat suatu organisasi berinteraksi dengan organisasi lainnya, pikiran apa yang paling mendominasi? Apakah pemikiran, satu pihak harus menang dan untung sementara pihak lainnya boleh kalah? Atau bahkan harus kalah? Ataukah kedua pihak harus menang dan untung?

Tentu jawaban terbaik, kedua atau seluruh pihak menang, mendapatkan keuntungan. Tidak boleh ada yang dirugikan. Walaupun keuntungan para pihak bisa berbeda. Bisa jadi ada pihak yang mendapatkan keuntungan di aspek finansial, ada di aspek sumber daya insani. Tidak masalah, tergantung inventarisasi situasi para pihak.

Satu landasan penting dalam berpikir menang-menang adalah mental berkelimpahan. Bahwa alam semesta ini sudah diciptakan oleh Sang Pencipta dengan sumber daya yang melimpah. Saling berebut bukanlah tindakan bijaksana. Saling berbagi didasari empati dan kerjasama itu paling utama. Sehingga keamanan dan kenyamanan dapat dirasakan.

5. Memahami Sebelum Dipahami

Satu entitas seperti katakanlah gajah memiliki banyak sisi. Sedangkan banyak sisi ini mengakibatkan penafsiran dan pemahaman yang bisa jadi sangat berbeda satu sama lain. Akibatnya perbedaan bahkan konflik dapat terjadi.

Ilustrasi ini menggambarkan betapa seseorang perlu memahami terlebih dahulu orang lain, baru minta dipahami. Perspektif yang digunakan perlu diperjelas dulu. Baru perspektif lain dijelaskan.

Adapun dalam konteks organisasi, perlu kiranya mempersilakan organisasi lain memaparkan perspektif dan pemahamannya. Lalu diskusi dilakukan untuk mencari titik temu. Setelah itu, titik temu ini diperlebar untuk dijadikan area kolaborasi antarorganisasi.

6. Membangun Kolaborasi

Para pihak yang sudah memiliki peta diri dan rekannya kemudian saling memetakan sumber daya apa yang bisa diberikan dalam kolaborasi. Proporsinya bisa berbeda bagi para pihak, tergantung peta yang sudah dibuat dan disepakati. Ini berkemungkinan mudah karena berbagai tahap telah dilalui.

Pembelajaran Berkelanjutan

Kolaborasi akan terus berjalan bahkan menguat manakala ada pembelajaran yang berkelanjutan. Para pihak meng-upgrade dirinya masing-masing untuk terus berkontribusi dalam kolaborasi.

Manakala satu pihak berhenti belajar, maka kolaborasi menjadi sulit bertahan. Karena ada pihak yang menguat tapi ada pihak yang melemah. Terjadi ketidakseimbangan kolaborasi. Ibarat empat kaki kursi, ada kaki yang kokoh dan ada yang lemah. Akhirnya kaki yang kokoh rapuh dan hancur. Kursi tidak lagi bisa digunakan semestinya bahkan mungkin sudah tidak bisa digunakan.

Peta jalan kolaborasi perlu memasukkan pembelajaran berkelanjutan sebagai klausul. Agar kolaborasi seimbang terus berjalan. Agar hidup terus meningkat kualitasnya. Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis alumni Pelatihan Kepemimpinan Hidayatullah Institute (HI) angkatan ke-10.

HUT ke-79 RI, Posdai Berharap Pemerintah Berikan Perhatian Lebih Kepada Para Dai

0
Pasangan dai/daiyah Ustadz Deprin Lindo dan istri, Titin Evanda, mengabdi mendidik anak anak pedalaman Suku Ta Wana di Kampung Fatumarando, Dusun Woonsa, Kelurahan Salubiro, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Ust. Abdul Muin, menyampaikan harapan besar agar pemerintah semakin memberikan perhatian kepada para dai. Harapan ini disampaikan dia dalam pesan dakwah dan keindonesiaan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia.

Menurutnya, tema besar HUT ke-79 RI yang diusung tahun ini, “Nusantara Baru Indonesia Maju,” relevan dengan perjuangan para dai di daerah pedalaman, terpencil, terluar, terdepan, di tapal batas, dan kawasan rentan.

Abdul menekankan pentingnya dedikasi para dai dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun manusia Indonesia yang berperadaban, sebagaimana semangat yang terkandung di dalam tema besar HUT RI ke-79 yang menyatu dengan motto Posdai, “Bersama Dai Membangun Negeri”.

“Motto ini menggambarkan komitmen Posdai untuk terus mendukung dedikasi para dai yang mengabdikan diri di daerah-daerah pedalaman, terpencil, terluar, terdepan, di tapal batas, dan kawasan rentan, demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Abdul seperti dikutip dari laman Posdai.or.id, Senin, 14 Shafar 1446 (19/8/2024).

Abdul menjelaskan, dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, dai memegang peran penting sebagai pemimpin informal (informal leader) di lingkungan masyarakat. Mereka adalah sosok yang mampu menggerakkan pembangunan, menyulut semangat umat, dan mendidik generasi muda, terutama di daerah yang jauh dari akses pendidikan formal.

Terlebih lagi di tengah tantangan geografis dan sosial, para dai tetap teguh menjalankan tugasnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi agen perubahan yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Dai adalah pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang maju dan berperadaban,” terangnya.

Karena itu, Abdul Muin berharap bahwa peringatan kemerdekaan ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk memberikan perhatian lebih kepada para dai. Sebagai suluh bangsa, jelas Abdul, dai membutuhkan dukungan yang lebih nyata dalam menjalankan misi mencerdaskan bangsa, khususnya di wilayah-wilayah yang masih tertinggal.

Dia menekankan bahwa para dai memiliki peran penting dalam mendidik muallaf dan anak-anak suku pedalaman. Mereka berupaya agar masyarakat di daerah-daerah tersebut tidak hanya merasakan keberkahan iman Islam, tetapi juga dapat merasakan buah dari kemerdekaan yang telah diraih selama 79 tahun ini.

“Meskipun peran para dai sangat vital, mereka kerap menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Mulai dari keterbatasan sarana, prasarana, hingga minimnya dukungan dari berbagai pihak. Namun, dedikasi dan ketulusan hati mereka tetap menjadi kekuatan utama dalam menjalankan tugas mulia ini,” katanya.

Integrasi Islam dan Keindonesiaan

Lebih jauh, Abdu menjelaskan tema “Nusantara Baru Indonesia Maju” sejatinya merefleksikan semangat integrasi antara nilai-nilai keislaman dengan upaya pembangunan bangsa. Dalam perspektif dakwah, jelas dia, hal ini berarti bahwa dai tidak hanya bertugas menyebarkan ajaran agama, tetapi juga berperan aktif dalam pembangunan karakter bangsa yang unggul dan berperadaban.

Abdul menyoroti pentingnya menguatkan identitas keislaman dalam bingkai kebangsaan. Dai diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan semangat wawasan kenusantaraan dengan nilai-nilai agama, sehingga tercipta harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dalam konteks kemerdekaan, dakwah memiliki peran penting sebagai sarana pembangunan manusia yang beradab. Dakwah tidak hanya berkaitan dengan penyebaran ajaran agama, tetapi juga dengan upaya menciptakan manusia Indonesia yang berakhlak mulia, cerdas, dan berperadaban,” jelasnya.

Dia berharap, eksistensi dai sebagai agen perubahan sosial yang berperan aktif dalam membina masyarakat agar tetap teguh pada nilai-nilai keislaman sambil terus beradaptasi dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks.

Disamping itu, Abdul menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan dai. Pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan lebih, baik dari segi kebijakan, anggaran, maupun fasilitas, untuk menunjang tugas dakwah yang dilakukan para dai di seluruh pelosok negeri.

“Semoga semangat kemerdekaan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa yang lebih maju dan berperadaban,” imbuhnya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Khidmat Peringati Kemerdekaan, Santri Hidayatullah Kibarkan Merah Putih Gapai Cita dalam Syukur

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Para santri Hidayatullah Kota Ternate menggelar upacara bendera dengan penuh khidmat di lingkungan pondok pesantren yang berlokasi di Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Sabtu, 12 Shafar 1446 (17/8/2024), sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepala Departemen Tarbiyah/Kepesantrenan, Ust. Rusli A. Trafannur, S.Pd, bertindak sebagai inspektur upacara dengan mengenakan pakaian batik korpri. Puluhan guru dan ratusan santri mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusiasme.

Dalam sambutannya, Rusli mengingatkan para santri untuk bersyukur atas rahmat Allah yang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Rusli juga menekankan pentingnya belajar sungguh-sungguh agar bisa menjadi individu yang bermanfaat bagi daerah dan bangsa.

“Kita harus bersyukur atas rahmat Allah dengan diberinya Kemerdekaan RI ini, karena ada negara lain yang hingga saat ini belum menikmati kemerdekaan. Tanda syukurnya dengan sungguh-sungguh belajar agar bisa menjadi orang yang berguna bagi daerah dan bangsa ini,” ungkap Rusli.

Danira Cahyani, salah seorang santri, mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya bisa mengikuti upacara peringatan kemerdekaan ini.

“Alhamdulillah, saya sangat bahagia bisa mengikuti upacara di Pondok ini, karena selain melatih kami dalam persiapan latihan baris-berbaris (PBB) Pengibar Bendera, kebersamaan, dan kekompakan tim, saya juga merasa terharu dan bangga sebagai anak bangsa besar yang bisa memberi sumbangsih tenaga melalui upacara ini,” jelas Cahyani.

Upacara ini terselenggara berkat kerjasama Panitia Tim Kepengasuhan dan Guru-Guru di Unit reguler Yayasan Hidayatullah Kota Ternate.

Acara dilanjutkan dengan jamuan makan bersama seluruh peserta upacara, para guru, pengasuh, dan santri di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Kalumata, Kota Ternate.*/Arief Ismail Hanafi

Membangun Masa Depan Generasi Qur’ani di Pondok Pesantren Hidayatullah Beselutu

0

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan Al-Qur’an di pelosok negeri.

Kali ini, BMH menyalurkan Al-Qur’an dan Iqro untuk Pondok Pesantren Hidayatullah Beselutu di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Jum’at, 11 Shafar 1446 (16/8/2024). Dan, itu adalah sebuah pondok pesantren baru yang dirintis oleh Ustadz Syarif.

Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari program BMH yang bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan Al-Qur’an, terutama di daerah yang sulit dijangkau.

Pondok Pesantren Hidayatullah Beselutu, yang baru beberapa bulan berdiri, sangat membutuhkan dukungan, terutama kitab suci Al-Qur’an dan Iqro untuk proses belajar mengajar para santrinya.

Ustadz Syarif menyambut bantuan ini dengan penuh syukur.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh BMH. Al-Qur’an dan Iqro ini akan sangat membantu para santri dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an. Semoga BMH selalu diberkahi dan dapat terus membantu umat,” ungkapnya.

BMH mengapresiasi upaya Ustadz Syarif dalam merintis pondok tahfidz di wilayah Beselutu. Langkah yang diambil Ustadz Syarif merupakan bentuk perjuangan mulia dalam menyebarkan cahaya Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Ketua Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, Armin, menyatakan harapannya, “Kami berharap, bantuan ini dapat menjadi awal dari kerjasama yang baik antara BMH dan Pondok Pesantren Hidayatullah Beselutu,” katanya.

“Semoga dengan dukungan ini, pondok pesantren yang baru dirintis ini dapat berkembang dan mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berkualitas,” tambahnya.

Penyaluran Al-Qur’an dan Iqro ini disambut antusias oleh para santri dan masyarakat sekitar. Mereka berharap, dengan adanya pondok pesantren ini, akan lahir generasi muda yang kuat dalam iman dan berakhlak mulia.

Armin menyebutkan, riset menunjukkan bahwa akses terhadap Al-Qur’an dan pendidikan agama sejak dini memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan karakter dan moral anak.

“Dengan memberikan Al-Qur’an dan Iqro, BMH tidak hanya membantu para santri dalam belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga turut membangun fondasi yang kuat bagi masa depan mereka,” jelas Armin.

Pondok Pesantren Hidayatullah Beselutu masih terus berbenah dan memerlukan dukungan dari berbagai pihak. BMH mengajak masyarakat luas untuk turut serta dalam mendukung pondok-pondok pesantren seperti ini agar misi mencetak generasi Qur’ani dapat terwujud dengan lebih optimal.

Dengan semangat gotong royong dan dukungan yang berkelanjutan, BMH berharap Pondok Pesantren Hidayatullah Beselutu dapat menjadi salah satu pondok yang berperan penting dalam membangun masyarakat yang cinta Al-Qur’an di wilayah tersebut.*/Herim

Merdekanya Indonesia dan Selanjutnya Nanti Palestina Diilhami Oleh Dua Hal yang Sama

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hari Konstitusi Indonesia yang jatuh pada tanggal 18 Agustus 2024 diperingati oleh para tokoh bersama koalisi aliansi masyarakat sipil dengan melakukan aksi damai bersama yang menyuarakan pentingnya Indonesia kembali berdaulat berdasarkan UUD 1945 dan juga pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina, Ahad, 13 Shafar 1446 (18/8/2024).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, memberikan pernyataannya terkait Aksi Bela Bangsa dan Aksi Bela Palestina yang berlangsung bilangan Monas, Jakarta, itu.

Pria yang karib disapa UNH ini menegaskan, aksi bersama tersebut merupakan wujud solidaritas dan sebuah simbol dari perjuangan panjang yang diilhami oleh semangat kemerdekaan Indonesia.

Melalui pernyataannya, Nashirul Haq menggugah kesadaran bahwa kemerdekaan, baik bagi Indonesia maupun selanjutnya nanti Palestina, terwujud karena diilhami oleh dua hal yang sama.

“Pertama, atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Maksudnya kemerdekaan adalah anugerah, karunia dan pertolongan Allah,” katanya di lokasi aksi.

Nashirul Haq menjelaskan bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang besar dari Allah SWT. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, perjuangan untuk meraih kebebasan hanya akan menjadi usaha sia-sia.

Dia mengingatkan, bahwa kemerdekaan negara Republik Indonesia, yang kini kita nikmati, adalah hasil dari campur tangan Ilahi yang penuh berkah.

Maka, terang dia, untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina, kita harus selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah agar rakyat Palestina bisa terbebas dari penjajahan zionis Israel.

Ilham kemerdekaan yang kedua, adalah karena didorong oleh keinginan luhur. Yaitu niat dan tekad kuat, perjuangan sungguh-sungguh dan pengorbanan besar.

“Kedua, karena didorong oleh keinginan luhur. Yaitu niat dan tekad kuat, perjuangan sungguh-sungguh dan pengorbanan besar,” sebutnya.

Selain rahmat Allah SWT, kemerdekaan juga terwujud karena adanya keinginan luhur dari para pejuang bangsa. Niat yang tulus, tekad yang kuat, serta pengorbanan besar, tegas Nashirul, menjadi kunci utama dalam merebut kemerdekaan. “Kemerdekaan menuntut adanya perjuangan fisik dan perjuangan mental yang terus menyala,” imbuhnya.

Nashirul Haq menekankan bahwa semangat ini harus terus dipupuk, tidak hanya dalam konteks kemerdekaan Indonesia, tetapi juga dalam perjuangan membela Palestina.

Aksi Bela Palestina menurutntya menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat perjuangan yang tak kenal lelah. Nashirul Haq menyampaikan bahwa perjuangan untuk Palestina harus terus digelorakan dalam berbagai bentuk, mulai dari militer, diplomasi, hingga misi kemanusiaan. Setiap tindakan, besar atau kecil, menjadi bagian dari mozaik perjuangan yang utuh.

“Kita harus tetap konsisten dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan menentang segala bentuk kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza,” terangnya.

Dalam konteks ini, Nashirul memandang, dukungan internasional dan solidaritas global juga menjadi elemen penting seperti Aksi Bela Palestina yang tidak hanya melibatkan rakyat Indonesia, tetapi juga seluruh umat Islam dan masyarakat dunia yang peduli terhadap nasib Palestina yang dijajah.

Nashirul Haq mengajak seluruh elemen bangsa untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina, karena ini bukan hanya soal kemerdekaan, tetapi juga soal kemanusiaan.

Masih dalam pernyataannya, Nashirul Haq mengajak semua untuk membangun kembali jembatan solidaritas yang telah dibangun oleh para pendahulu bangsa guna meneruskan perjuangan yang belum selesai. “Solidaritas yang kita bangun hari ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” imbuhnya.

Dia menegaskan, Palestina adalah simbol dari perlawanan terhadap ketidakadilan, dan membela mereka berarti membela nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Nashirul Haq menegaskan bahwa sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia, kita memiliki kewajiban untuk membela saudara-saudara kita di Palestina.

Disamping itu, dia menambakan, bahwa Aksi Bela Palestina yang bertepatan dengan Hari Konstitusi ini menjadi sebuah refleksi dan harapan bagi masa depan yang lebih baik.

Ia pun mengajak pada semua untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa, dan bagaimana menerapkannya dalam konteks perjuangan Palestina.*/Adam Sukiman, Mhd Zuhri Fadhlullah

Kita Melawan, Bukan Dijajah!

0

SETIAP kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan untuk membentuk realitas. Dalam konteks sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pemilihan diksi “dijajah” yang selama ini kita gunakan secara luas, telah tanpa sadar menanamkan benih inferioritas dalam sanubari bangsa. Sudah saatnya kita mengubah narasi ini dan membangun kembali jati diri Indonesia sebagai bangsa pejuang. Tujuh puluh sembilan tahun bangsa ini telah merdeka, namun hingga saat ini masih terpuruk diberbagai aspek.

Kenyataan tersebut di atas, bisa jadi disebabkan oleh selama bertahun-tahun, kita terbiasa mendengar dan mengucapkan frasa “Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang, termasuk dijajah oleh Inggris, Portugis dan Spanyol”. Kalimat ini terdengar nyaring di ruang-ruang kelas, pidato-pidato kenegaraan, dan tertulis dalam berbagai literatur sejarah. Namun, tanpa kita sadari, penggunaan kata “dijajah” telah menciptakan persepsi bahwa bangsa kita adalah korban pasif, bukannya pejuang aktif yang gigih melawan penindasan.

Kata “dijajah” menempatkan kita sebagai korban yang pasif, yang hanya menerima nasib dan keadaan tanpa ada perlawanan. Penggunaan istilah ini, secara tidak sadar, bisa menanamkan sifat inferior dalam diri kita sebagai bangsa. Kita mungkin menganggap bangsa lain lebih hebat, lebih kuat, dan lebih berkuasa. Efeknya, pola pikir ini dapat membentuk karakter nasional yang minder dan inferior. Kita menjadi bangsa yang selalu melihat ke belakang, kepada masa-masa sulit, tanpa melihat bahwa kita adalah bangsa yang juga penuh semangat juang dan perlawanan.

Psikolog sosial, Albert Bandura, dalam teori kognitif sosialnya menjelaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan dan peniruan. Ketika generasi muda Indonesia terus-menerus dipaparkan pada narasi “dijajah”, mereka secara tidak langsung mengadopsi pola pikir inferior. Hal ini dapat berkembang menjadi apa yang disebut oleh Frantz Fanon sebagai “colonialism inferior complex” – kondisi psikologis di mana masyarakat bekas jajahan merasa lebih rendah dibandingkan bekas penjajahnya.

Menggubah Narasi Dari “Dijajah” Menjadi “Melawan”

Membentuk ulang narasi sejarah kita bukan berarti menyangkal kenyataan pahit masa lalu. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih memberdayakan. Alih-alih “dijajah selama 350 tahun”, kita bisa mengatakan “berjuang melawan kolonialisme selama 350 tahun”. Perubahan sederhana ini menggeser fokus dari pasivitas menjadi aktivitas, dari kekalahan menjadi perlawanan.

Sudah saatnya kita menggubah narasi ini. Konsekwensi logisnya adalah, kita harus berhenti melihat diri kita sebagai bangsa yang “dijajah” dan mulai melihat diri kita sebagai bangsa yang “melawan”. Perubahan kecil dalam pemilihan kata ini bisa berdampak besar pada cara kita memandang diri sendiri dan masa depan bangsa. Dengan membangun narasi sebagai bangsa pejuang, kita akan membentuk karakter bangsa yang tangguh, berani, dan percaya diri.

Istilah “berjuang” atau “melawan” menggambarkan semangat para pejuang dan para pahlawan serta para ulama yang tidak mau tunduk pada keadaan dan keuasaan penjajah. Kata ini menunjukkan bahwa kita bukan korban yang pasrah, tetapi pejuang yang aktif berusaha merebut kembali hak dan martabat yang sejatinya milik kita. Dengan mengubah narasi, kita menanamkan dalam diri kita bahwa nenek moyang kita bukan hanya dijajah, tetapi mereka melawan dengan gigih hingga titik darah penghabisan. Mereka adalah pahlawan, bukan korban.

Pentingnya bahasa dalam membentuk realitas sosial telah lama diakui oleh para ahli linguistik. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa struktur bahasa seseorang mempengaruhi cara mereka memahami dan berinteraksi dengan dunia. Dengan mengubah diksi dari “dijajah” menjadi “melawan” atau “berjuang”, kita tidak hanya mengubah cara kita berbicara tentang sejarah, tetapi juga cara kita memahami identitas nasional kita, dan pada saatnya menjadi bagian dari bagaimana kita merekonstruksi peradaban.

Hal yang sama juga di terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (HR: al-Bukhari dan Muslim). Artinya pemilihan diksi pada saatnya akan membentuk karakter seseorang atau sebuah bangsa.

Fakta Sejarah

Oleh karenanya diperlukan perubahan narasi yang dikaitkan dengan fakta sejarah bangsa Indonesia. Di mana selama periode kolonial, rakyat Indonesia tidak pernah berhenti berjuang melakukan perlawanan. Dari Perang Aceh, Teuku Umar, Cut Nya Dien yang berlangsung selama puluhan tahun, di Sumatra Barat ada Tuanku Imam Bonjol, Sisingamangaraja XII dlsb, sementara itu Sultan Agung, Perang Diponegoro di Jawa dlsb, di Kalimantan ada Pengeran Antasari dlsb, di Sulawesi adan Sultan Hasanudin dlsb, hingga perlawanan Pattimura di Maluku, belum lagi perlawanan masyarakat lokal yang banyak dipimpin oleh ulama dan tokoh masyarakat lainnya, sangat banyak jumlahnya dan tersebr di berbagai wilayah.

Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa sejarah Indonesia dipenuhi dengan kisah-kisah heroik perlawanan terhadap kolonialisme. Sehingga, menggunakan diksi “melawan” atau “berjuang” lebih akurat menggambarkan semangat pantang menyerah leluhur kita, dan realitas ini sesungguhnya menggambarkan karakter bangsa Indonesia, bahkan sejak masa kerajaan, dan kesultanan yang mewarnai semanagt petarung dan ekspansif.

Dalam Islam, perjuangan melawan ketidakadilan adalah salah satu prinsip utama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kata “jihad” dalam Islam berarti berjuang di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Jihad ini tidak selalu berarti perang fisik, tetapi juga bisa berarti perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, baik secara moral, sosial, maupun ekonomi. Prinsip ini relevan dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Nenek moyang kita bukanlah bangsa yang menyerah pada nasib, tetapi mereka berjuang, berkorban, dan melawan penindasan kolonial.

Diksi dan Pembentukan Karakter Bangsa

Pemilihan diksi dalam narasi sejarah bukanlah hal sepele. Kata-kata memiliki kekuatan yang besar dalam membentuk pikiran, sikap, dan perilaku. Dalam jangka panjang, pilihan kata yang kita gunakan bisa membentuk DNA karakter bangsa. Jika kita terus-menerus menginternalisasi kata “dijajah,” maka kita akan terbiasa melihat diri kita sebagai bangsa yang lemah, yang hanya menerima nasib.

Sebaliknya, jika kita memilih kata “berjuang” atau “melawan,” kita membangun karakter bangsa yang tangguh, optimis, dan penuh semangat juang. Kita tidak lagi melihat diri kita sebagai bangsa yang kalah, tetapi sebagai bangsa yang terus berusaha, berjuang, dan melawan hingga meraih kemerdekaan. Ini adalah cara pandang yang penting untuk ditanamkan dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter bangsa.

Nelson Mandela pernah berkata, “Bahasa adalah senjata paling kuat yang bisa digunakan untuk mengubah dunia.” Jika kita terus-menerus menggunakan kata-kata yang menggambarkan diri kita sebagai korban, maka itulah yang akan kita yakini dan terima sebagai kebenaran. Sebaliknya, jika kita menggunakan kata-kata yang menggambarkan kita sebagai pejuang, maka itulah yang akan kita yakini dan perjuangkan.

Lebih jauh lagi, perubahan narasi ini dapat membantu membentuk karakter bangsa yang lebih tangguh dan percaya diri. Konsep “national character building” yang diperkenalkan oleh Soekarno menekankan pentingnya membangun identitas nasional yang kuat . Dengan mengubah cara kita berbicara tentang sejarah, kita juga mengubah cara kita memandang diri sendiri sebagai bangsa.

Membangun Mindset Pejuang: Dari Inferior ke Superior

Mengubah narasi dari “dijajah” menjadi “melawan” akan membawa perubahan signifikan dalam mindset kita sebagai bangsa. Dari yang sebelumnya merasa inferior, kita dapat bertransformasi menjadi bangsa yang superior, yang percaya diri dan bangga dengan warisan sejarah kita. Perjuangan melawan penjajah bukanlah tanda kelemahan, tetapi bukti kekuatan dan ketangguhan kita sebagai bangsa.

Mindset ini sangat penting untuk masa depan Indonesia. Bangsa yang percaya pada dirinya sendiri akan lebih mampu menghadapi tantangan global dan tidak mudah menyerah pada tekanan dari luar. Kita harus membangun karakter bangsa yang siap bersaing, bukan dengan mentalitas korban, tetapi dengan mentalitas pejuang. Sehingga bangsa ini dapat melakukan perlawanan atas ketimpngan dalam  aspek ekonomi, politik, militer, ekonomi, sosial budaya, teknologi, lingkungan dan lain sebagainya

Namun, mengubah narasi yang telah mengakar selama bertahun-tahun bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan upaya sistematis dan konsisten dari berbagai pihak. Para pendidik, sejarawan, pemimpin masyarakat, dan media massa memiliki peran krusial dalam menyebarkan narasi baru ini. Revisi buku teks sejarah, pelatihan guru, dan kampanye publik dapat menjadi langkah awal dalam proses transformasi ini.

 

Perubahan Diksi untuk Perubahan Bangsa

Pada akhirnya, mengubah diksi dari “dijajah” menjadi “melawan” atau “berjuang” bukan sekadar permainan kata-kata. Ini adalah langkah fundamental dalam membentuk ulang identitas nasional kita. Dengan narasi baru ini, kita membangun fondasi untuk generasi Indonesia yang lebih percaya diri, bangga akan sejarahnya, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sebab, tidak ada kata yang netral. Setiap kata membawa makna dan dampak psikologis yang berbeda. Oleh karena itu, perubahan diksi dari “dijajah” menjadi “melawan” adalah langkah penting untuk membangun karakter bangsa yang lebih kuat. Ini bukan sekadar soal sejarah, tetapi soal bagaimana kita ingin membentuk masa depan Indonesia.

Sudah saatnya kita mengubah cara kita bercerita tentang sejarah bangsa ini. Kita bukan bangsa yang dijajah, kita adalah bangsa yang melawan penjajahan. Narasi ini harus menjadi bagian dari setiap pelajaran sejarah, setiap pidato, dan setiap percakapan tentang masa lalu kita. Kita mesti membudayakan story telling  dengan narasi baru tersebut, dengan memperbanyak story teller, yang memiliki pehaman positifme dengan mengubah diksi dari “dijajah”, menjadi “melawan” atau “berjuang”. Hal ini dapat dilakukan diberbagi aktitas termasuk pemanfaatan  media sosial, maupun platform digital lainnya. Dengan demikian, kita dapat membentuk generasi yang memiliki mentalitas pejuang, bukan mentalitas korban.

Dengan demikian maka, marilah kita mulai hari ini, dengan memperbaiki setiap kata yang kita ucapkan, untuk menanamkan dalam diri kita dan generasi mendatang bahwa kita adalah bangsa pejuang, bukan bangsa yang dijajah. Kita melawan, bukan dijajah. Ini adalah narasi baru yang membangkitkan dan menggerakkan yang harus kita bangun untuk masa depan yang lebih superior dan hegemonik. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)